PT Best Profit Futures Jambi

^N225 14283.72-112.32 – -0.78% ^FTSE 6725.82+4.48 – +0.07% ^HSI 22775.971-30.609 – -0.13% ^KS11 2042.32-5.82 – -0.28% ^IXIC 3940.129-3.232 – -0.08% ^JKSE 4555.492-35.046 – -0.76% ^JKLQ45 764.511-8.308 – -1.08% CLK12.NYM N/A – N/A PAL 1.07+0.0015 – +0.16% PLG 2.00-0.02 – -1.74% COCO 2.64-0.025 – -1.00% GCJ12.CMX N/A – N/A WP Stock Ticker

 

Best Profit : Tentu Saya Tahu dan Respek kepada Bobotoh dan Persib

"Tentu Saya Tahu dan Respek kepada Bobotoh dan Persib" Best Profit – Persib Bandung sedang dalam kondisi yang tidak ideal. Sebagai tim besar dengan dana melimpah, pemain mentereng dan berstatus sebagai jawara bertahan, Persib nyatanya kini malah terseok-seok di papan tengah.

Kondisi ini membuat bobotoh murka. Puncaknya, ketika laga melawan Bhayangkara FC pekan lalu, laga sempat tertunda beberapa menit akibat bobotoh yang merangsek ke lapangan dan memarahi pemain Persib.

Dalam setiap kegagalan sebuah tim, maka telunjuk akan selalu mengarah pada pelatih. Dan kali ini Djadjang Nurdjaman yang menjadi korban dan kambing hitam.

Tidak tahan menerima tekanan, Djadjang pun menyatakan mundur dari jabatan pelatih kepala. Namun pernyataan itu belum diiyakan oleh manajemen. Alhasil nasib Djadjang pun masih abu-abu.

Manajemen Persib masih kebingungan siapa yang akan mengisi posisi pelatih jika betul Djadjang pergi. Di media sosial, bobotoh memunculkan satu nama pelatih yang dinilai layak menukangi ke Persib. Sosok itu adalah Kiatisuk Senamuang.

Sejak sebulan lalu, akun instagram Kiatisuk, @coach_zico, diserbu bobotoh. Mereka memenuhi tiap postingan Kiatisuk dengan komentar rayuan agar dia mau melatih Persib. Manajemen Persib menampik upaya pendekatan kepada sosok yang akrab disapa Coach Zico ini.

“Saya belum dengar itu (Kiatisuk) dan saya rasa kami belum mengarah ke sana,” kata Umuh dikutip dari Pikiran Rakyat.

Penggemar sepakbola di Indonesia kenal betul siapa Kiatisuk. Dia adalah momok menakutkan yang kerap mengganjal perjalanan tim nasional Indonesia, entah saat dia jadi pemain atau pelatih.

Indonesia selalu keok ketika bertemu Kiatisuk di laga final. Ketika jadi pemain, dia menggagalkan Indonesia juara Sea Games 1997 dan AFF Cup pada 2000 serta 2002. Saat menjadi pelatih, Kiatisuk pun mengalahkan Indonesia pada Sea Games 2013 dan AFF Cup 2016 lalu.

Kiatisuk adalah pemain dan pelatih asal Asia Tenggara tersukses. Saat jadi pemain dia membawa Thailand dua kali juara empat di Asian Games 1998 dan 2002. Di kancah regional, ia meraih 3 gelar Piala AFF dan 4 medali emas Sea Games.

Konsistensi ini dia juga berikan saat menjadi pelatih. Sepanjang melatih Timnas Thailand sejak 2013 dia sukses memberikan  2 gelar AFF Cup, 1 medali emas Sea Games dan lolos ke semifinal Asian Games.

Namun pada 31 Maret lalu, Kiatisuk dipecat oleh federasi sepakbola Thailand (TFA) karena gagal membawa negeri gajah putih itu lolos ke Piala Dunia 2018. Status Kiatisuk kini menganggur.

Tirto berhasil mewawancarai Kiatisuk di tengah aktivitas padatnya mengikuti kursus lisensi Pro AFC di Korea Selatan. Wawancara ini dilakukan lewat surat elektronik. Dia bercerita soal aktivitasnya saat ini dan kariernya ke depan termasuk kemungkinan melatih Persib.

Setelah mundur dari Timnas Thailand, aktivitas apa yang sekarang Anda lakukan? Di instagram, Anda nampaknya begitu senang mengejar  lisensi kepelatihan di AFC.

Setelah saya mengundurkan diri dari tugas sebagai pelatih kepala (di Timnas Thailand), saya masih belum memiliki rencana untuk kembali menjadi pelatih.  Saya saat ini sedang menekuni lisensi pembinaan profesional AFC Professional yang telah dilakukan sejak  tahun lalu. Ini adalah kesempatan bagus bagi saya.

Saat menganggur seperti ini, saya dapat melakukan apa yang saya mau. Selain fokus menjalani kursus, saya pun semakin sibuk menjalani kehidupan berkeluarga. Saya bisa mengantar anak-anak saya ke sekolah dan melakukan hal yang biasa dilakukan seorang ayah.

Apa rencana selanjutnya terkait karier Anda? Apakah akan tetap di Thailand, melatih klub Thai Premier League, atau pergi ke luar negeri dan mencari tantangan baru?

Tentu, saya sangat mencintai sepakbola hingga sekarang. Saya telah terjun dalam sepakbola sepanjang hidup saya. Namun terus terang saya belum merencanakan karier saya (selanjutnya).

Saat ini saya kadang-kadang perlu keluar dari sana (sepakbola) untuk menengok ke belakang dan melihat apa dan bagaimana capaian yang telah saya lakukan, dan bagaimana caranya agar saya bisa lebih baik lagi. Jika saya tidak bisa berbuat lebih baik, tidak ada gunanya saya menjadi pelatih.

Terkait rencana pergi ke luar negeri kadang muncul dalam pikiran saya. Keluarga pun tidak memiliki masalah tentang itu. Namun, saya perlu memikirkan rencana ini secara matang.

Terkait melatih di luar Thailand, adakah tim yang pernah menghubungi Anda? Dikabarkan Timnas Malaysia begitu menginginkan Anda. Sudahkah mereka melakukan kontak?

Saya tidak bisa membicarakan hal ini sekarang, karena banyak teman baik saya di Malaysia, Vietnam, dan Indonesia. Mereka semua baik. Dan saya hanya seorang pelatih Thailand yang kebetulan menganggur. Jadi saya akan berterima kasih kepada semua orang yang sedang mencoba untuk membantu saya.

Bagaimana dengan Indonesia? Apa pendapatnya tentang sepakbola indonesia? Terutama klub dan kompetisi liganya?

Sepakbola Indonesia semakin baik dan lebih baik, kompetisinya pun begitu menarik.

Apakah Anda tertarik untuk melatih di indonesia?

Seperti yang saya katakan, saya ingin menyelesaikan lisensi pelatih AFC terlebih dahulu. Saya akan mencari pekerjaan di luar negeri jika ada sesuatu hal yang menarik dalam diri saya untuk diimplementasikan di luar negeri.

Banyak bobotoh (penggemar Persib) menyerbu akun Istagram Anda, meminta Anda melatih Persib. Pernahkah Anda tahu dan mendengar apa itu Persib?

Tentu, saya tahu dan respect kepada bobotoh dan Persib. Saya respect atas semua komentar (yang menginginkan melatih Persib).

Persib adalah tim yang juga dimiliki Erick Tohir. Mereka pun memiliki pemain bintang yaitu Michael Essien. Apakah ini cukup membuat Anda tertarik melatih Persib?

Saya sangat yakin bahwa saat ini Persib sudah memiliki seseorang yang cukup baik untuk mereka. Best Profit

Bestprofit : Mengurai Benang Kusut Kemacetan Tol Jakarta-Cikampek

Mengurai Benang Kusut Kemacetan Tol Jakarta-CikampekBestprofit –  Ahmad, 44 tahun, bergegas ke arah pintu kemudi bus. Sesudah merokok sembari menunggu penumpang, menjelang petang di mulut Terminal Cikarang, Bekasi, ia bersiap tancap gas, mengarungi rutinitas harian sebagai sopir bus Mayasari Bakti jurusan Kalideres-Cikarang. Ia harus melewati “jalur neraka” Tol Jakarta-Cikampek saban hari tanpa ada pilihan, terlebih saat jam-jam puncak kemacetan pada sore hari.

“Kalau macet parah, bisa berhenti satu jam lebih di Bekasi,” keluh Ahmad.

“Di Bekasi selalu padat. Apalagi kalau pas jam-jam berangkat dan pulang kantor. Karena banyak yang bawa mobil pribadi,” tambahnya.

Ahmad sudah kenyang dengan kepadatan jalur Tol Jakarta-Cikampek. Begitu pula Bagas, seorang pegawai swasta yang tinggal di Lemah Abang, Cikarang Utara, yang harus melewati jalur tersebut. Bila beruntung, waktu tempuh ke tempat kerjanya di Blok M, Jakarta Selatan, hanya satu jam dengan bus umum.

“Tapi kalau lagi macet parah di Bekasi, bisa 2-3 jam,” ujar Bagas.

Jalur Tol Jakarta-Cikampek memang tak hanya padat. Di atas kertas, salah satu jalur tol tertua di Indonesia ini memang sudah memprihatinkan. Pada 2015 saja, tol ini dilewati kurang lebih 214 juta kendaraan dari dan menuju Jakarta. Artinya, rata-rata ada 590.000 kendaraan per hari. Volume ini melebihi kapasitas. Efeknya adalah macet parah yang sudah jadi pemandangan sehari-hari. Tol ini sudah lama menyandang predikat sebagai ruas terpadat dari jaringan jalan Tol Trans Jawa.

“Karena V/C Ratio (perbandingan kapasitas jalan dan volume kendaraan) di jalan Tol Jakarta-Cikampek sekarang ini mencapai 1,3. Itu sudah overload, karena rasio maksimal adalah 0,75,” kata Iwan Dewantoro, pimpinan proyek PT Jasamarga Jalanlayang Cikampek, kepada Tirto.

Kepadatan kendaraan memang tak terjadi pada seluruh jalan tol sepanjang 73 km ini. Ruas yang paling menjadi momok para pengendara antara lain simpang Cikunir. Di area ini ada pertemuan arus kendaraan dari Tol Jakarta Outer Ring Road (JORR), Tanjung Priok, dan Tol Dalam Kota. Apa yang lazim disebut “penyempitan leher botol” pun tak terhindarkan. Pintu Gerbang Tol Cikarang Utama sudah jadi langganan penyumbat arus kendaraan dari dan menuju Jakarta.

Merespons kemacetan akut ini, pada November 2016, PT Jasa Marga (Persero) Tbk sebagai operator tol menginisiasi pembangunan tol layang sepanjang 36,84 km yang mampu menampung 41.000 kendaraan per hari. Jalurnya membentang dari simpang Cikunir sampai simpang Karawang Barat. Tol layang ini bisa memecah volume kendaraan yang melintasi trayek jarak pendek antara Bekasi, Karawang, dan sekitarnya, dan kendaraan menuju Cikampek maupun Bandung.

PT Jasa Marga membentuk perusahaan PT Jasamarga Jalanlayang Cikampek sebagai konsorsium antara PT Ranggi Sugiron Perkasa untuk proyek senilai Rp16,23 triliun tersebut. Skema pembiayaannya lewat Contractor Pre Financing (CPF)—artinya, kontraktor mendanai lebih dulu, lalu operator (Jasa Marga) wajib membayar ke kontraktor setelah tol beroperasi. Kontraktor pelaksana untuk Kerja Sama Operasi (KSO) proyek ini adalah PT Waskita Karya (Persero) Tbk (WSKT) dan PT Acset Indonusa Tbk.

Gayung bersambut. Badan Pengatur Jalan Tol (BPJT) Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) setuju dengan proyek yang ditargetkan tuntas pada April 2019 tersebut.

Proyek ini terlihat meyakinkan. Dua lajur di sisi kanan dan kiri jalan layang bisa menambah 4 lajur baru dari 6 lajur selama ini. Bila beroperasi nanti, perkiraan tarif tol layang sebesar Rp1.250/km. Dengan asumsi 36 km, tarifnya Rp45 ribu. Tarif tol saat ini sebesar Rp15 ribu. Hitungan-hitungan praktis dan bisnis terlihat klop. Maka, jadilah proyek tol layang yang kini dalam tahap perluasan lajur di bahu jalan tol.

“Setidaknya 40 persen lalu lintas di (jalan tol) bawah diprediksi akan berkurang karena volumenya terpecah dengan adanya jalan tol layang,” kata Iwan.

Namun, jalur layang pun pada akhirnya akan memiliki keterbatasan, apalagi arus kendaraan dari dan menuju Bandung semakin intens dan bertambah. Dari sanalah gagasan meringankan Tol Jakarta-Cikampek kembali bergulir. Sebuah proyek di sisi selatan jalur tol sedang disiapkan oleh pemerintahan Joko Widodo.

Membangun Ruas Tol di Sisi Selatan

Proyek itu disebut Tol Jakarta-Cikampek II, duplikasi dari tol serupa dengan mengeksploitasi sisi selatan. Tujuannya pun sama: memecah arus kendaraan di sisi timur Jakarta, plus embel-embel “membangun pusat pertumbuhan baru di selatan Tol Jakarta-Cikampek.”

Dalam dokumen pengumuman prakualifikasi pengusahaan jalan tol oleh BPJT Kementerian PU dan Perumahan Rakyat, lelang proyek jalur tol baru ini dibuka sejak 20 Juni lalu hingga 28 Juli mendatang. Tol ini akan menghubungkan wilayah Jatiasih (Kota Bekasi) dengan Tol Cipularang hingga Sadang (Purwakarta). Tol sepanjang 64 km ini membelah perkampungan hingga perkebunan di selatan jalur tol lama. Tujuannya, memecah kendaraan dari JORR menuju Bandung, Purwakarta, dan sekitarnya tanpa harus melewati simpang Cikunir serta mengurai kepadatan kendaraan yang melintasi tol di Bekasi.

“Yang (ruas tol) selatan baru kita lelang, sementara yang elevated (layang) sudah konstruksi (pelebaran jalan),” kata Kepala BPJT Herry Trisaputra Zuna kepada Tirto.

Namun, proyek ini susah dieksekusi. Selain masih mencari investor yang berminat, persoalan pembebasan lahan siap menanti. Jalur Tol Jatiasih-Sadang harus melewati perumahan padat penduduk di Bekasi, kecuali di Karawang yang relatif hamparan lahan kosong.

Upaya lain mengurai ratusan ribu kendaraan di Tol Jakarta-Cikampek adalah membangun Tol Cawang-Bekasi-Kampung Melayu, biasa disingkat Becakayu, sepanjang 21,042 km. Sebagian ruas tol ini bersiap dioperasikan; sepanjang 4,5 km dari RS Harum (Jakarta Timur) hingga Pasar Sumber Artha (Kota Bekasi). Posisi Tol Becakayu sejajar Tol Jakarta-Cikampek di sisi utara.

Segala rencana proyek tol di jalur Jakarta-Cikampek tentu tujuan akhirnya bisa mengurai kemacetan. Persoalannya, apakah jalur-jalur tol baru ini efektif mengurai kemacetan yang sudah parah? Bestprofit

PT Bestprofit – Hikayat Apotek dari Baghdad

Hikayat Apotek dari BaghdadPT Bestprofit – Pengetahuan tentang obat dan pengobatan sudah berusia sangat tua, sejarahnya merentang hingga ribuan tahun sebelum kelahiran Isa atau Sebelum Masehi. Orang-orang Sumeria (3000-2400 SM) di Mesopotamia — daerah antara sungai Tigris dan Eufrat di wilayah Irak saat ini — dipercaya sebagai masyarakat pertama yang mengembangkan pengetahuan pengobatan secara lebih modern.

Stuart Anderson (ed) dalam Making Medicines: A Brief History of Pharmacy and Pharmaceuticals menjelaskan masyarakat Sumeria ketika itu diketahui telah menggunakan tanaman obat, mengenal pencucian luka, plester dan pembalut dalam pengobatan.

“Bahkan di awal peradaban Sumeria, obat telah berkembang pesat. Sebagian besar pengetahuan kita tentang praktik medis (dikembangkan) berasal dari manuskrip kuno Sumeria, yang banyak di antaranya berisi tentang resep untuk pengobatan,” tulis John K. Borchardtd dalam ringkasan jurnal The Beginnings of Drug Therapy: Ancient Mesopotamian Medicine (2002).

Selain di Mesopotamia, ilmu obat dan pengobatan berkembang di Mesir. Papyrus Ebers — diperkirakan dibuat pada 1500 SM — yang ditemukan di Mesir menunjukkan sebuah risalah farmasi-medis dengan panjang sekitar 4,5 meter berisi sekitar 875 resep dan sekitar 700 obat dari sumber sayuran, hewan, dan mineral.

Sementara di Yunani, menurut Stuart Anderson, para filsuf seperti Aristoteles dan Theophrastus, seorang murid dari Plato, merintis pendekatan empiris dan bukti eksperimental dalam pengobatan.

Dasar-dasar ilmiah pengobatan asal Yunani ini kemudian menyebar di zaman Aleksander Agung (356-323 SM) melakukan ekspansi ke Asia Kecil, termasuk ke India hingga Mesir. Murid Aristoteles ini mendirikan perpustakaan Alexandria di Mesir. Dari perpustakaan, pengetahuan-pengetahuan itu diserap orang-orang Mesir.

Ketika Romawi melakukan ke ekspansi ke dunia Arab dan mendirikan Kekaisaran Romawi Timur di Konstantinopel—Istanbul Turki—pengetahuan obat dan pengobatan turut menyebar. Naskah-naskah ilmu pengetahuan dari Yunani yang dibawa kekaisaran Romawi diterjemahkan ke dalam bahasa Suriah dan Arab. Hal ini memungkinkan bagi orang-orang Arab untuk menyerap pengetahuan Barat.

Obat-Obatan di Peradaban Islam

Sampai zaman Nabi Muhammad SAW (570-632) mendakwahkan Islam, apotek belum berkembang namun pengetahuan akan obat-obatan telah ada di masyarakat Arab ketika itu. Kebudayaan tersebut merupakan hasil dari percampuran warisan pengetahuan dari Yunani, Mesir, Persia dan Romawi.

Dosen Sejarah dan Peradaban Islam dari Universitas IAIN Palangkaraya, Muhammad Iqbal, menyebut untuk mengembangkan paradigma baru dalam dunia kesehatan, orang-orang Arab tidak membuat dari nol tetapi belajar dari model-model medis yang ada di kebudayaan lain.

Iqbal mencontohkan Nabi Muhammad SAW., yang menganjurkan penggunaan obat herbal dalam pengobatan medis.

“Obat favorit Nabi Muhammad adalah madu. Namun, madu itu pun dianjurkan Nabi untuk menggunakannya dalam pelbagai kondisi,” kata Iqbal kepada Tirto, awal Juni lalu.

Namun, setidaknya butuh 100 tahun bagi peradaban Islam untuk mencapai puncak kemajuan dalam bidang pengobatan seiring dengan penyebaran Islam di bawah dinasti Umayyah di Damaskus. Ketika dinasti Abbasiyah mengambil alih pada tahun 750-1258, pusat kebudayaan berpindah dari Suriah ke Irak sekaligus menandai dimulainya era baru kemajuan peradaban Islam, salah satunya apotek.

“Apotek Islam (Saydanah), seni menyiapkan dan mengeluarkan obat, diakui secara terpisah dari profesi kedokteran pada abad ke-8,” tulis Zakaria Virk dalam Muslim Contribution to Pharmacy.

Menurut Zakaria Virk, masyarakat Arab ketika itu menggunakan cendana atau dalam bahasa Arab disebut sebagai as-Saydanah sebagai bahan utama farmasi. Nama ini kemudian dikaitkan dengan profesi apoteker, yang dalam bahasa Arab disebut sebagai as-saydanani atau as-saydalani. Sedangkan orang yang ahli dalam bidang apotek diberi gelar Saydalani

Zakaria menambahkan, orang pertama yang mendapat gelar al al-Saydalani adalah penduduk Baghdad bernama Abu Quraysh al-Saydalani.

Apotik Islam saat itu, kata Zakaria, melibatkan para tabib, kolektor dan penjual ramuan obat-obatan dan rempah-rempah, pabrikan, penjual sirup, kosmetik, parfum, dan penulis apoteker.

Apotek pertama kali didirikan di Baghdad pada 754. Apotek-apotek tersebut diperiksa dan diawasi oleh Mohtasibs (inspektur) yang bertanggung jawab untuk memeriksa kebersihan wadah, persiapan obat-obatan terlarang dan pengeluarannya. Selain itu, para apoteker dan dokter harus lulus pemeriksaan untuk mendapatkan lisensi dari semacam departemen perizinan sebelum mengeluarkan obat kepada masyarakat.

Masih menurut Zakaria, apotek Islam memperkenalkan lebih dari 2000 zat baru termasuk adas manis, kayu manis, cengkeh, senna, kamper, kayu cendana, musk, mur, cassia, asam jawa, pala, ambergris, dan merkuri. Selain itu, poteker Muslim saat itu telah mengenal komposisi, dosis, kegunaan, dan efek terapeutik dari obat.

“Mereka juga mengenalkan ganja sebagai obat bius,” tulis Zakaria.

Bagaimana Apotek Berkembang di Baghdad?

Sami Hamarneh dari The Institute of Ismaili Studies, dalam The Rise of Professional Pharmacy in Islam menyebutkan, di bawah khalifah kedua Dinasti Abbasiyah, Al-Mansur (754-775), obat-obatan dan ilmu pengetahuan lain di Baghdad didorong untuk berkembang.

Tanpa diskriminasi karena alasan ras atau iman, Khalifah Al-Mansur mendorong para dokter, astronom, matematikawan, arsitek dan orang terpelajar lain untuk menumbuhkan talenta mereka dan membantu memajukan pendidikan dan pengetahuan, sebut Sami Hamarneh.

Kota kosmopolitan Baghdad tersebut makin berkembang di zaman Khalifah ketiga, Al Mahdi (775-785). Sumbangan terbesar Al Mahdi bagi pengetahuan adalah mempopulerkan penggunaan kertas sehingga memacu industri buku dan sekaligus berpengaruh terhadap bidang medis dan obat-obatan, termasuk apotek.

Stuart Anderson menjelaskan sekitar 850 apotek khas muslim di Baghdad berkembang. Ketika itu apotek khas muslim memiliki tiga karakteristik utama. Pertama, ada pembedaan antara ilmu obat dan farmasi. Kedua, toko obat dikelola para terpelajar yang patuh pada kode etik tertentu. Ketiga, ada pendidikan khusus bagi apoteker yang mempersiapkan mereka untuk pengetahuan tentang obat-obatan kuno, baik dari Persia dan India.

Sementara di bagian utara Baghdad telah memiliki pengetahuan lokal materia medica (tata cara penyembuhan penyakit), yang dipengaruhi oleh pengetahuan Romawi. Pengetahuan itu menyediakan daftar mengenai obat-obatan dan sekaligus teknis penggunaannya.

Untuk selanjutnya Baghdad mencapai puncak kejayaan pada khalifah, Harun Al Rasyid (786-803). Di zaman Harun Al Rasyid, muncul tokoh Abu bakr ibn Sakariya al Razi yang mendirikan rumah sakit terbesar di Baghdad. Al Razi mempublikasikan secara komprehensif ilmu pengetahuan kedokteran dalam bentuk ensiklopedia yang berasal dari Yunani, Suriah, Arab, Persia dan India yang dimodifikasi dengan pengalamannya. Dia mendorong penggunaan pil dan penyebutan merk. Selain itu, dia juga mempelopori petunjuk teknis pengujian kimia secara sistematis.

Di masa satu abad selanjutnya muncul tokoh penting lain dari dunia Arab yakni Ibn Sina (980-1037). Dia lahir di Afaana, kota kecil di Bukhara, sekarang di Uzbekistan. Dia menulis Al Qanum, buku babon obat-obatan yang sangar populer di Barat. Buku ini menjelaskan keterkaitan antara gagasan Hipokrates dan Galen dengan biologi Aristoteles.

Al Qanum diterjemahkan ke dalam bahasa Latin pada abad ke-12 oleh Gerard dari Cremona dan menjadi sumber utama penelitian kedokteran dalam beberapa abad setelahnya. Di dalamnya termasuk 760 jenis obat dan penawar, dan berbagai macam pil.

Tapi pada akhirnya peradaban di Baghdad itu hancur pada 1258. Pasukan dari Mongol menghancurkan masjid, istana, perpustakaan, dan rumah sakit. Bangunan-bangunan besar yang merupakan hasil karya beberapa generasi dibakar sampai habis. PT Bestprofit

Best Profit : Sukarno dalam Polemik Piagam Jakarta

Sukarno dalam Polemik Piagam JakartaBest Profit : Sebagian umat Islam sulit menerima bahwa rumusan yang dihasilkan lewat rapat alot Panitia Sembilan selama 21 hari, dan diperdebatkan selama sepekan dalam sidang BPUPKI, bisa diubah hanya dalam belasan menit.

“Kejadian yang mencolok mata itu, dirasakan oleh umat Islam sebagai suatu permainan sulap yang masih diliputi oleh kabut rahasia sebagai permainan politik pat gulipat terhadap golongannya, akan tetapi mereka (umat Islam) diam, tidak mengadakan tantangan dan perlawanan karena jiwa toleransi mereka,” ujar tokoh Masyumi, M. Isa Anshari dalam sidang Konstituante 1957, seperti dikutip dalam Piagam Jakarta 22 Juni 1945 (1981).

Kekecewaan Isa tertuju kepada Sukarno. Ia mempertanyakan peran Sukarno yang terkesan inkonsisten. Sebab, menurut Isa, Sukarno lah yang semula gigih mempertahankan Piagam Jakarta di sidang BPUPKI, tetapi Sukarno jugalah yang dianggapnya berkontribusi mengganti isi Piagam Jakarta.

“Apakah sebabnya Ir. Soekarno yang selama sidang-sidang Badan Penyelidik dengan mati-matian mempertahankan Piagam Jakarta, kemudian justru memelopori usaha untuk mengubahnya? Penulis tidak tahu,” ujar Isa.

Peran Sukarno dalam sejarah Piagam Jakarta barangkali menempati posisi paling ambigu dibanding para pendiri negara-bangsa lain. Sebagai Ketua Panitia Sembilan, ia berhasil membangun kompromi yang menjembatani perbedaan antara golongan nasionalis-sekuler dan golongan nasionalis-Islam tentang pembukaan dasar negara.

Kompromi yang dihasilkan pada 22 Juni 1945 ini, oleh M. Yamin, diberi nama Piagam Jakarta. Prinsip komprominya adalah Islam tidak menjadi dasar negara, tetapi umat Islam wajib menjalankan syariat Islam yang akan diatur dalam konstitusi. Hal itu tertuang dalam kalimat: “Ketuhanan dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya.”

Pada 10 Juli 1945, Sukarno menyampaikan rumusan Piagam Jakarta dalam sidang BPUPKI. Saat itu ia bersungguh-sungguh meyakinkan anggota sidang untuk menerima Piagam Jakarta sebagai rumusan terbaik pembukaan UUD 1945.

“Panitia kecil penyelidik […] berkeyakinan bahwa inilah preambule yang bisa menghubungkan mempersatukan segenap aliran yang ada di kalangan anggota-anggota Dokuritsu Zyunbi Tyoosakai,” kata Sukarno, seperti dilansir dari Risalah BPUPKI-PPKI karya M. Yamin.

Saat Johannes Latuharhary, wakil dari Ambon, menyatakan keberatan terhadap Piagam Jakarta pada 11 Juli 1945, Sukarno jugalah yang tampil membela. Ia membantah kekhawatiran Latuharhary bahwa kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluknya akan menciptakan benturan dengan hukum adat di masyarakat.

“Jadi, manakala kalimat ini tidak dimasukkan, saya yakin bahwa pihak Islam tidak bisa menerima preambule ini: jadi perselisihan terus nanti,” ujar Sukarno.

“Saya ulangi lagi bahwa ini satu kompromis untuk menyudahi kesulitan antara kita bersama. Kompromis itu pun terdapat sesudah keringat kita menetes.”

Pernyataan Sukarno pun didukung oleh Agus Salim dan Wahid Hasyim.

Setelah dibahas secara maraton selama sepekan dari 10 Juli hingga 16 Juli 1945, Piagam Jakarta akhirnya disahkan sebagai Mukadimah UUD 1945. Para founding fathers sepakat mempertahankan kalimat: “Ketuhanan Dengan Kewajiban Menjalankan Syariat Islam bagi Pemeluk-Pemeluknya.”

Pengubahan secara Tiba-tiba

Sabtu pagi, 18 Agustus 1945, sebelum sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dimulai, Hatta dan Sukarno menggelar rapat nonformal bersama sejumlah tokoh Islam, di antaranya Ki Bagus Hadikusumo, Wahid Hasyim, dan Teuku Mohammad Hasan. Rapat membahas permintaan perwakilan Indonesia timur untuk menghapus kalimat yang mewajibkan syariat Islam bagi pemeluknya dalam Piagam Jakarta. Jika permintaan itu tidak dipenuhi, perwakilan Indonesia timur mengacam akan memisahkan diri dari Indonesia.

Bagi sejumlah tokoh Islam, permintaan itu sulit diterima. Sebab, bagi sebagian mereka, menerapkan syariat Islam merupakan salah satu alasan mengapa perjuangan memerdekakan Indonesia dilakukan. Namun para tokoh Islam juga sadar membiarkan Indonesia timur berpisah akan melemahkan posisi diplomasi Indonesia di mata dunia. Sehingga Belanda bisa dengan mudah kembali menjajah.

Akhirnya, satu persatu para tokoh Islam melunak, kecuali Ketua Umum Muhammadiyah Ki Bagus Hadikusumo. Ia bersikeras mempertahankan isi Piagam Jakarta.

Di sinilah kemudian Sukarno memainkan peran dengan meminta Kasman Singodimedjo menjadi anggota tambahan PPKI bersama Wiranata Kusumah, Ki Hadjar Dewantara, Sayuti Melik, Iwa Kusumasumantri, dan Ahmad Subarjo. Alhasil, jumlah anggota PPKI menjadi 27 orang dari semula 21 orang.

Sukarno menugaskan Kasman membujuk Ki Bagus lantaran lobi Wahid Hasyim, Teuku M. Hasan, hingga Bung Hatta tidak mampu melunakan pendiriannya. Sukarno tahu Kasman memiliki kedekatan emosional dengan Ki Bagus karena sesama Muhammadiyah. Namun Sukarno sendiri, seperti dalam kesaksian Kasman, tampak tidak ingin terlibat lebih dalam proses lobi menghapus tujuh kata Piagam Jakarta.

“Mungkin karena beliau sebagai Ketua Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia dan terutama sebagai peserta dari Panitia Sembilan mengenai pembuatan Piagam Jakarta merasa agak kagok untuk menghadapi Ki Bagus Hadikusumo dan kawan-kawannya,” kata Kasman dalam Hidup Itu Berjuang: Kasman Singodimedjo 75 Tahun.

Meski semula menolak, Kasman akhirnya melunak mengingat situasi sulit yang dihadapi Indonesia. Dengan bahasa Jawa halus, Kasman membujuk Ki Bagus. Ia menerangkan dalam Undang-Undang Dasar yang akan disahkan hari itu terdapat satu pasal yang menyatakan bahwa enam bulan setelah Majelis Permusyawaratan Rakyat dibentuk, akan dilakukan sidang penyempurnaan Undang-Undang Dasar. Di saat itulah golongan Islam bisa kembali memperjuangakan isi Piagam Jakarta.

Mendengar penjelasan Kasman, Ki Bagus akhirnya luluh. Ia setuju tujuh kata dalam Piagam Jakarta dihilangkan dalam sidang resmi PPKI.

Perubahan tersebut mengubah batang tubuh UUD 1945. Dalam rapat resmi PPKI, yang dipimpin Sukarno, disepakati sejumlah hal seperti: mengubah kata “Mukaddimah” dalam pembukaan UUD 1945 menjadi “Pembukaan”. Kemudian mencoret kalimat “beragama Islam” dalam Pasal 6 ayat 1 UUD 1945 dari semula berbunyi: “Presiden ialah orang Indonesia asli dan beragama Islam” menjadi “Presiden ialah orang Indonesia asli”.

Selanjutnya, Pasal 29 ayat 1 diubah dari “Negara berdasarkan atas Ketuhanan, dengan kewajiban menjalankan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya” menjadi “Negara yang berdasarkan atas Ketuhanan yang Maha Esa.”

Belakangan Kasman berkata “menyesal” dengan perannya membujuk Ki Bagus. Airmatanya menetes saban mengingat perannya menyetujui penghapusan tujuh kata dalam Piagam Jakarta pada pagi 18 Agustus 1945. “Sayalah yang ikut bertanggung jawab dalam masalah ini, dan semoga Allah mengampuni dosa saya,” ujar Kasman.

Sikap Sukarno yang ambigu tak pelak jadi pusat kritik oleh sejumlah tokoh Islam.

“Apa sebab rumus Piagam Jakarta yang didapat dengan susah payah, dengan memeras otak dan tenaga berhari-hari oleh tokoh-tokoh terkemuka dari bangsa kita, kemudian di dalam rapat “Panitia Persiapan Kemerdekaan” pada 18 Agustus 1945, di dalam beberapa menit saja, dapat diubah? Apa, apa, apa sebabnya?” kata Ketua Umum Masyumi Prawoto Mangkusasmito.

Piagam Jakarta dan Demokrasi Terpimpin

Wacana mengembalikan Piagam Jakarta kembali jadi pokok bahasan politik pada Januari 1959. Saat itu kabinet secara bulat meloloskan resolusi Sukarno untuk menerapkan Demokrasi Terpimpin dalam kerangka kembali ke UUD 1945.

Dari 24 poin resolusi, poin kesembilan menyatakan keberpihakan Sukarno terhadap aspirasi umat Islam yang ingin Piagam Jakarta dikembalikan: “Demi memenuhi harapan-harapan kelompok Islam dalam kaitannya dengan upaya memulihkan dan menjamin keamanan umum, keberadaan Piagam Jakarta 22 Juni 1945 diakui.”

Pada 22 April 1959, Sukarno menyampaikan gagasan tersebut di depan Konstituante. Debat sengit terjadi. Kelompok non-Islam menganggap Piagam Jakarta hanyalah salah satu dokumen menuju kemerdekaan yang tidak bisa dijadikan sumber hukum. Sebaliknya, kubu Islam menganggap Piagam Jakarta bukan hanya memengaruhi pembukaan UUD 1945 tapi juga seluruh batang tubuh UUD 1945. Dengan demikian, ia tetap memiliki makna hukum dan bisa dipakai sebagai sumber hukum untuk menerapkan aturan-aturan Islam bagi umat Islam.

Sementara itu Kahar Muzakkir, seorang tokoh Muhammadiyah, mempertanyakan maksud pemerintah menghidupkan kembali Piagam Jakarta. Kahar curiga Sukarno hanya ingin “memperalat” umat Islam untuk memuluskan kepentingannya melaksanakan demokrasi terpimpin.

“Oleh karena itu ia mengusulkan agar Konstituante melanjutkan tugasnya sampai dapat diperoleh suatu hasil yang bisa diterima umat Islam dan dapat dipertanggungjawabkannya,” tulis Jan S. Aritonang dalam Sejarah Perjumpaan Kristen dan Islam di Indonesia (2004).

Perdebatan tak kunjung usai mengenai status Piagam Jakarta akhirnya mendorong Sukarno mengeluarkan Dekrit pada 5 Juli 1959. Melalui dekrit yang didukung penuh kelompok militer tersebut, ia membubarkan Konstituante dan menyatakan kembali ke UUD 1945. Pembukaan dekrit ini menyatakan Piagam Jakarta menjiwai UUD 1945 dan merupakan bagian integral dari UUD 1945.

“Meski demikian status “tujuh kata” tetap tidak jelas dan terus menjadi persoalan kontroversoal. Persoalan ini pada akhirnya tenggelam dalam hiruk-pikuk Manipol Usdek dan Nasakom yang digelorakan Sukarno sendiri,” tulis Yudi Latif dalam Inteligensia Muslim dan Kuasa (2012).

Ahmad Syafii Ma’rif dalam Islam dan Politik: Teori Belah Bambu, Masa Demokrasi Terpimpin (1996)secara tersirat menilai hilangnya tujuh kata Piagam Jakarta disebabkan kurangnya kegigihan wakil-wakil Islam dalam menguasai komposisi kursi di PPKI.

Menurutnya, dari 27 anggota PPKI, hanya ada tiga perwakilan organsiasi Islam, yakni Wahid Hasyim (NU) serta Ki Bagus dan Kasman (Muhammadiyah).

“Tampaknya pada waktu itu, wakil-wakil golongan Islam terlalu rendah hati untuk berebut menguasai PPKI, hingga jelas wakil nasionalis menjadi sangat dominan dalam badan itu,” tulis Ma’arif.

Hingga medio 1965, Sukarno tampaknya sadar bahwa Islam masih merupakan kunci bagi langkah-langkah politiknya. Ia terus memainkan isu Piagam Jakarta untuk menarik simpati tokoh dan politisi Islam yang kecewa.

“Nah Jakarta Charter ini, saudara-saudara, sebagai dikatakan dalam Dekrit, menjiwai UUD 1945, dan merupakan satu rangkaian kesatuan dengan Konstitusi tersebut. Jakarta Charter ini saudara-saudara, ditandatangani 22 Juni 1945. Waktu itu jaman Jepang … Ditandatangani oleh –saya bacakan, ya– Ir. Soekarno, Drs Mohammad Hatta, Mr AA Maramis, Abikusno Cokrosuyoso, Abdul Kahar Muzakkir, Haji Agus Salim, Mr. Achmad Subardjo, Wahid Hasyim, dan Mr. Mohammad Yamin, 9 orang,” ujar Sukarno dalam peringatan lahirnya Piagam Jakarta 22 Juni 1965.

Best Profit