90% Proyek PLTU Batu Bara Dunia Didanai Perusahaan Asia

BEST PROFIT BEST PROFIT FUTURES BESTPRO news
Aktivitas bongkar muat batubara di Terminal  Tanjung Priok TO 1, Jakarta Utara, Senin (19/10/2020). Dalam satu kali bongkar muat ada 7300 ton  yang di angkut dari kapal tongkang yang berasal dari Sungai Puting, Banjarmasin, Kalimantan. (CNBC Indonesia/Tri Susilo)  

Aktivitas dalam negeri di Pelabuhan Tanjung Priok terus berjalan meskipun pemerintan telah mengeluarkan aturan Pembatasan Sosial Bersekala Besar (PSBB) transisi secara ketat di DKI Jakarta untuk mempercepat penanganan wabah virus Covid-19. 

Pantauan CNBC Indonesia ada sekitar 55 truk yang hilir mudik mengangkut batubara ini dari kapal tongkang. 

Batubara yang diangkut truk akan dikirim ke berbagai daerah terutama ke Gunung Putri, Bogor. 

Ada 20 pekerja yang melakukan bongkar muat dan pengerjaannya selama 35 jam untuk memindahkan batubara ke truk. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)
Foto: Bongkar Muat Batu bara di Terminal Tanjung Priok TO 1, Jakarta Utara. (CNBC Indonesia/ Tri Susilo)

PT BESTPROFIT FUTURES JAMBI  Entitas pembiayaan publik Asia menyediakan lebih dari 90% pendanaan untuk semua proyek pembangkit listrik tenaga batu bara di seluruh dunia, tidak termasuk China, pada periode 2013-2018.

Hal tersebut berdasarkan sebuah laporan penelitian baru yang dirilis Pusat Kebijakan Pengembangan Global Universitas Boston, dikutip dari Reuters, Kamis (08/07/2021).

Laporan tersebut juga menyatakan bahwa pemodal asal China saja menyediakan pendanaan setengahnya. PT BESTPROFIT
BEST PROFIT

Hasil penelitian ini juga memperkirakan bahwa selain US$ 15,6 miliar yang didanai entitas China untuk Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) batu bara selama periode tersebut, Jepang mendanai sekitar US$ 9,4 miliar atau 30% dari total pendanaan publik global, dan Korea Selatan sekitar US$ 3,4 miliar atau 11%. BESTPROFIT

Pada bulan Juni, para pemimpin dari G7 setuju untuk meningkatkan pendanaan ramah iklim dan mengisyaratkan keinginan untuk membangun saingan bagi BRI China, meskipun rinciannya sedikit dan jarang.Program Belt and Road Initiative (BRI) andalan China, merupakan dorongan internasional utama untuk mengembangkan infrastruktur di seluruh Asia dan ke Eropa tengah, telah dikritik karena menggunakan dana pemerintah untuk mendukung pembangkit listrik tenaga batu bara internasional yang tidak ramah lingkungan sejak diluncurkan pada 2013.

Namun, sementara pendanaan batu bara internasional non-China saat ini berkurang, laporan penelitian ini juga menunjukkan bahwa pendanaan swasta non-China juga memainkan peran besar dalam mendanai proyek pembangkit listrik tenaga batu bara di Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. PT BESTPROFIT FUTURES

Diperkirakan bahwa dengan menggabungkan semua entitas pembiayaan global, termasuk bank dan perusahaan komersial milik negara dan swasta, modal China hanya menyediakan 17% dari pembiayaan untuk penambahan kapasitas pembangkit listrik tenaga batu bara di seluruh dunia, tidak termasuk China, selama periode dari 2013 hingga pertengahan tahun 2019.

“Daripada menunjuk jari, G7 harus bekerja di dalam G20, yang mencakup China, dan forum lain untuk memerintah bersama dalam pembiayaan publik dan swasta untuk batu bara,” kata laporan itu. BPF

Sumber : Jakarta, CNBC Indonesia