PT Best Profit Futures Jambi

Bestprofit : Menakar Peluang MU Lolos ke Final Liga Eropa

Bestprofit : Manchester United akhirnya lolos ke final Liga Eropa setelah mendepak Celta Vigo. Di leg kedua semifinal yang digelar di Old Trafford, semalam The Red Devils bermain imbang 1-1 dengan wakil Spanyol itu.

United unggul agregrat karena pada leg pertama, mereka menang 2-1 di kandang Celta Vigo. United akan menantang Ajax Amsterdam pada laga final Liga Eropa yang digelar di Friends Arena, Stockholm, Swedia, 24 Mei nanti. Ajax lolos ke final berkat mengandaskan Olympique Lyon. Pada laga semalam, Ajax memang kalah 3-1, akan tetapi mereka unggul agreggrat karena pada leg pertama Lyon dihajar 3-0 di Amsterdam Arena.

Pertemuan antara Ajax dan MU di final nanti adalah laga kelima kedua tim pada kompetisi resmi. Sepanjang sejarah Ajax dan MU baru bersua empat kali, dan pertemuan keempatnya itu semua terjadi di Liga Eropa. Head to head MU dan Ajax relatif imbang, mereka sama-sama pernah mengalahkan 2 kali.

Pertama kali MU dan Ajax bertemu pada babak pertama UEFA Cup musim 1976-77. Di era itu, sistem gugur memang sudah berlaku sejak babak-babak awal. Pada leg pertama 15 September 1976, Ajax menang 1-0 lewat gol tunggal Rudolf Jozef Krol. MU sukses membalas kekalahan ini dengan skor 2-0 pada leg kedua di Old Trafford. Alhasil MU pun yang lolos ke babak selanjutnya karena menang agregrat 2-1.

Keapesan Ajax terulang lagi 35 tahun kemudian, ketika mereka harus kembali berjumpa MU di babak 16 besar Piala Eropa. Di Amsterdam, MU yang kala itu masih dilatih Sir Alex Ferguson sukses menang 2-0 lewat gol Ashley Young and Javier Hernández. Ketika di Manchester, giliran MU yang ditekuk Ajax.

Toby Alderweireld bintang Tottenham Spurs saat inilah yang jadi penentu kemenangan Ajax. Dia mencetak gol pada menit 87.Sayangnya kemenangan ini tak diiringi dengan kelolosan Ajax ke perempatfinal karena skor akhir 1-2 bagi kemenangan Ajax sama saja dengan membuat mereka kalah agregrat 2-3.

Jika menilik dari rekor pertemuan sejara, mungkinkah Ajax mengalami nasib serupa dikandaskan MU seperti di masa silam? Catatan sejarah bukanlah jaminan bisa meraih kemenangan. Bagi Mourinho, laga final nanti akan jadi pengingat euforia lamanya bersama FC Porto pada 2003 silam. Hasil baik bersama Porto pada 2003 itu yang jadi pintu kesuksesan karier kepelatihannya.

Pada 2003, Mourinho sukses menjuarai Liga Eropa yang kala itu masih bertajuk UEFA Cup. Selang setahun kemudian Porto juara Liga Champions, Mou lalu hijrah ke Chelsea dan mengawali karier gemilangnya di Inggris.

Tanpa melalui fase juara UEFA Cup, nama Mou belum tentu akan sementereng sekarang. Musim 2003 adalah kali terakhir Mou melatih klub yang bertarung di Liga Eropa. Selama 14 tahun terakhir dia lebih sering bertanding di kasta yang lebih tinggi yakni Liga Champions. Keberuntungan bersama Porto diharapkan akan terulang bersama MU pada laga final nanti.

MU punya rekor bagus di Liga Eropa, mereka belum terkalahkan dalam 10 laga terakhir. Jika didetailkan lagi dari 14 laga, MU sukses menang 9 kali, seri 3 kali dan kalah 2 kali. Ini jadi modal bagus untuk menekuk Ajax yang dari 6 laga terakhir mereka menelan 3 kekalahan.

Sudah jauh-jauh hari, Mourinho menetapkan timnya kini fokus total ke Liga Eropa. Dengan juara di Liga Eropa otomatis mereka bisa mendapatkan satu kursi di Liga Champions musim depan tanpa harus bersusah payah berjuang di kompetisi domestik berebutan dengan Manchester City atau Arsenal.

Meski sempat dikritik karena fokus ke Eropa, Mou mengabaikan itu. “Kami berada dalam situasi ini sekarang dan kami harus berjuang untuk itu dan kami harus melihat apakah kami bisa melakukannya dan menjadi juara,” ucap Mourinho.

“Tidak ada penyesalan (fokus ke Eropa), kami memberikan segalanya, diri saya sendiri, para pemain, dan semua orang yang bekerja di sekitar kami, dan saat Anda memberikan segalanya, tidak ada masalah,” ujarnya.

Bestprofit