PT Best Profit Futures Jambi

BRI Bidik Rp20 Triliun

briobPT Bestprofit – PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. berencana menerbitkan surat utang atau obligasi senilai Rp20 triliun melalui skema penawaran umum berkelanjutan.

Direktur Keuangan Bank Rakyat Indonesia Haru Koesmahargyo mengatakan rencananya obligasi tersebut akan ditawarkan dalam dua tahap, yakni tahap pertama pada kuartal akhir 2016 dan tahap kedua pada kuartal II tahun depan.

“Ada Rp20 triliun, yang Rp10 triliun pada semester II atau kuartal IV, dan Rp10 triliun lagi pada kuartal II/2017,” ujarnya di Jakarta, Selasa (12/7).

Rencana penawaran obligasi ini di luar penawaran umum berkelanjutan (PUB) I perseroan yang telah diterbitkan sebelumnya senilai total Rp12 triliun. Haru menyatakan pihaknya mencari dana di luar himpunan dana pihak ketiga (DPK) untuk menambah likuiditas bank.

Saat ini, katanya, banyak dana yang terserap di pasar modal sehingga mau tidak mau emiten dengan kode saham BBRI ini juga mencari dana di pasar modal melalui penerbitan obligasi.

Haru menyebutkan gap antara himpunan DPK dengan penyaluran kredit perseroan dinilai cukup lebar. Dengan pertumbuhan penyaluran pinjaman sekitar 17% secara tahunan (year on year/y-o-y), DPK hanya tumbuh sekitar 7% pada saat yang sama. Penurunan suku bunga deposito disebut sebagai salah satu faktor melambatnya pertumbuhan DPK perseroan.

Perlambatan tersebut pada akhirnya menyebabkan rasio pinjaman terhadap simpanan (loan to deposit ratio/LDR) BRI naik dari 88,81% per Maret 2016 menjadi sekitar 95% pada kuartal II/2016.

“Sekarang kan ada rumus loan to funding ratio/LFR yang memasukkan surat berharga dalam perhitungan. Nah, ini juga dapat memperbaiki LFR kami, terutama untuk pendanaan jangka panjang,” kata Haru.

Terkait dengan obligasi yang akan diterbitkan secara bertahap, pada tahap pertama nanti akan ditawarkan dalam tiga tenor, yakni 1, 3, dan 5 tahun.

Selain rencana penerbitan obligasi melalui skema PUB, bank spesialis kredit mikro ini juga berencana menerbitkan surat utang jangka menengah atau medium term notes pada tahun ini. Haru menyebutkan perseroan berencana menerbitkan MTN senilai Rp3 triliun hingga Rp5 triliun pada kuartal III atau kuartal IV/2016.

“MTN jumlahnya tidak banyak. Penerbitan ini sifatnya terbatas, lebih ditujukan kepada investor tertentu,” katanya.

 

PERTUMBUHAN KREDIT

Adapun, rencana penerbitan obligasi ini sejalan dengan perubahan target pertumbuhan kredit perseroan. Pada awal tahun, BRI menargetkan pertumbuhan kredit sebesar 13% hingga 15% secara tahunan.  Sedangkan pada tengah tahun, bank spesialis kredit mikro ini merubah target kredit menjadi 1%—2% di atas target awal.

Haru juga mengungkapkan pada kuartal II, penyaluran kredit perseroan masih tumbuh double digit seperti kuartal sebelumnya.

“Untuk kuartal II, kredit kami tumbuh sekitar 16%—17%. Kami sedang susun angka pastinya untuk laporan keuangan Juni 2016,” ujarnya.

Pada kuartal I/2016, total penyaluran kredit BRI tercatat senilai Rp561,11 triliun atau tumbuh 18,65% secara tahunan, di mana kenaikan penyaluran kredit terjadi di semua segmen bisnis.  Segmen mikro yang menjadi fokus utama perseroan tumbuh 20,45% y-o-y menjadi Rp189,65 triliun.

Dari sisi profitabilitas, BRI meraih laba bersih senilai Rp6,14 triliun pada 3 bulan pertama tahun ini. Dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, raihan laba setelah pajak ini naik tipis sebesar 0,65% dari Rp6,10 triliun.

Direktur Utama BRI Asmawi Syam menuturkan raihan laba tersebut berasal dari meningkatnya total pendapatan perseroan yang tumbuh sebesar 11,46% y-o-y menjadi Rp25,75 triliun. Pendapatan bunga masih menjadi penyumbang utama sebesar 80% dari total pendapatan.

Sejalan dengan raihan laba ini, Asmawi menuturkan aset perseroan tumbuh 6,52% atau Rp51 triliun menjadi Rp832 triliun. Dengan nilai aset tersebut, BRI masih merupakan bank dengan aset terbesar dalam kategori bank only. – PT Bestprofit