PT Best Profit Futures Jambi

Category Archives: AGAMA

Habib Bahar Emosi Saat Sidang Kasus Penganiayaan

Habib Bahar Emosi Saat Sidang Kasus Penganiayaan

 PT BESTPROFIT FUTURES JAMBI – Tim jaksa penuntut umum (JPU) dari Kejaksaan Tinggi (Kejati) Jawa Barat menghadirkan saksi saat sidang lanjutan kasus penganiayaan, yang dilakukan Habib Bahar Smith.

Sidang Habib Bahar sendiri dilaksanakan secara online yang berlangsung di Pengadilan Negeri Bandung, Selasa (14/4/2021).

Jaksa Penuntut Umum menghadirkan sejumlah warga untuk memberi kesaksian atas peristiwa penganiayaan terhadap supir taksi online yang terjadi pada tanggal 4 September 2018. PT BESTPROFIT

Pada saat sidang berlangsung, Habib Bahar berada di Lapas Gunung Sindur, Bogor. Sementara itu, Majelis Hakim dan Jaksa Penuntut berada di PN Bandung di Jalan LL. RE. Martadinata. PT BESTPROFIT FUTURES

Bahar sempat tidak bisa menahan emosi saat salah satu saksi menyebut Bahar telah mencekik, menginjak, dan bahkan sempat mengancam akan membunuh korban.

Bahar pun membantah kesaksian mengenai posisi korban yang telungkup di dalam mobil. Menurut pembelaan Bahar, korban pada saat itu berada di kursi mobil.

“Bohong kamu, saksi. Saya tidak berkata demikian. Tidak benar, yang mulia (mengenai pencekikan itu). Yang benar itu, saya pukul korban di dalam mobil. Saya tidak menginjak. Yang benar itu, saya memukul,” ujar Habib Bahar dilansir dari Ayobandung.com -jaringan Suara.com. BEST PROFIT

Menanggapi keterangan saksi dan bantahan Bahar, hakim pun menegaskan pihaknya akan tetap mencatat keterangan saksi untuk dijadikan sebagai pertimbangan pada sidang berikutnya. BESTPROFIT

“Karena para saksi ini tetap pada keterangannya, berarti ada yang tidak benar. Kita catat dulu. Tentu semua bahannya akan kami pertimbangkan,” ujar Ketua Majelis Hakim.

Sumber : SuaraBogor.id

Saat Pernikahan Jadi ‘Barang Dagangan’

BESTPROFIT – Pernikahan merupakan salah satu momen besar dalam kehidupan mayoritas masyarakat. Dalam momen resepsi, orang-orang ingin menjadi ratu dan raja sehari. Sudah bukan rahasia bila macam-macam hal yang berkaitan dengan pernikahan seseorang potensial jadi bahan perbincangan para undangan.

Mulai dari foto pra-pernikahan dan foto mempelai saat resepsi, pakaian pengantin, makanan, lokasi acara, sampai dekorasi bisa saja mendatangkan komentar positif maupun cibiran. Terlebih di era media sosial seperti sekarang ini, bisik-bisik soal pernikahan seseorang tak memakan waktu lama untuk sampai di telinga kolega dan keluarga, bahkan si empunya hajatan sendiri.

Pernikahan selebritas adalah salah satu yang paling menonjol dalam eksposur di media sosial maupun media konvensional. Minggu (3/9) lalu, Raisa Andriana dan Hamish Daud Wyllie menggelar akad dan pesta pernikahan di Ayana Midplaza, Sudirman, Jakarta. Kabar pernikahan penyanyi muda ini memang sudah menyebar jauh sebelum pesta digelar dan menarik perhatian publik, khususnya mereka yang mengidolakan kedua selebritas ini. Sampai-sampai, tagar #haripatahhatinasional menjadi populer di media sosial seiring dengan pernikahan Raisa-Hamish.

Serba-serbi sudut pandang pemberitaan sejoli ini segera mengekor. Ada yang menyoroti pose-pose mesra Raisa-Hamish, antrean undangan resepsi, busana yang dikenakan Raisa, ada pula yang lebih berfokus pada lokasi dan dekorasi yang dipilih keduanya. Bridestory yang digandeng sebagai konsultan pernikahan Raisa-Hamish bahkan secara khusus menyajikan foto-foto dan tayangan khusus berisi cuplikan suasana pernikahan selebritas-selebritas ini.

Pernikahan Selebritas: Inspirasi Sekaligus Dicaci

Eksposur pernikahan selebritas membuat publik pecah menjadi dua kubu: yang mengagumi sampai beritikad mengimitasi model pernikahan mereka, dan yang mengkritik pesta yang digambarkan di media-media massa. Ambil contoh pernikahan Kate Middleton-Pangeran William pada 29 April 2011 silam. Tak lama setelah royal wedding digelar, gaun pengantin Middleton menjadi tren.

Penjualan produk Alexander McQueen—rumah busana yang memproduksi gaun pengantin untuk Middleton—pun melonjak hingga 27 persen pasca-pernikahan Kate-William. Ini mengindikasikan citra sang mempelai perempuan yang positif sehingga sebagian publik tertarik untuk mencontoh apa pun yang melekat pada dirinya.

Sementara kubu yang mengkritik pesta pernikahan selebritas terlihat dari bagaimana sejumlah media menghakimi gaun-gaun yang mereka pakai saat menikah. Tengok saja kolom fashion The Telegraph atau situs MTVIndia ketika merilis kabar tentang pakaian-pakaian pengantin paling buruk. Sementara di Indonesia, kritik terkait pernikahan selebritas datang dari perspektif lain. Sorotan berlebihan pernikahan Raffi-Nagita di stasiun TV lokal memicu protes sebagian khalayak, hingga keberatan ini disampaikan ke KPI. PT BESTPROFIT

Masih terkait kritik pernikahan selebritas, bagi sebagian orang, pernikahan mereka juga dilihat sebagai ajang promosi diri. Sharon Boden, penulis Consumerism, Romance and the Wedding Experience (2003), mengambil contoh pernikahan Liza Minnelli. Ada yang memandang bahwa pernikahan selebritas ini tak ubahnya pertunjukan ‘kabaret’ yang bertujuan meneguhkan posisinya dalam dunia hiburan.

Dijual: Memorabilia Pernikahan Selebritas

Setelah berbagai media internasional mewartakan royal wedding, berbagai pelaku usaha segera memanfaatkan hal tersebut untuk mendulang untung. Dikabarkan The New York Timesmemorabiliaterkait pernikahan Kate-William dipasarkan ke publik, mulai dari cangkir, sendok, perangko, koin, hingga boneka teddy bear. Replika cincin tunangan Middleton pun sempat dijual dengan menggadang-gadang pesan “manifestasi fisik dari cinta absolut”.

Dalam pernikahan Raisa-Hamish pun, logo konsultan pernikahan selebritas tersebut dicantumkan dalam publikasi seputar hajatan yang diselenggarakan. Juga jangan lupakan siapa perancang pakaian, siapa merias sang pengantin, atau di mana tempat pernikahan digelar. Kesemuanya disebut dan akan mendapatkan publisitas. Banyak yang tidak menghiraukannya, tapi tidak sedikit juga yang mencermati ini adalah bentuk promosi jasa perusahaan terkait.

Kenapa pernikahan bisa memicu konsumerisme?

Aneka gambaran yang dipaparkan media massa menumbuhsuburkan fantasi calon-calon pengantin, terlepas dari kemampuan finansial mereka sebenarnya. Makin megah, makin tergiur sebagian calon pengantin untuk mewujudkannya. Pernikahan tak lagi merupakan institusi sakral semata. Perlahan tetapi pasti, hal ini menjelma menjadi suatu industri yang berupaya jor-joran membuat calon-calon pengantin kian ‘haus’ dan (mau tak mau) memuaskan hasratnya dengan produk dan jasa yang disuguhkan produsen. BEST PROFIT

Gambaran pernikahan selebritas yang megah menciptakan suatu hiperealitas di masyarakat. Sesuatu yang dicitrakan secara berlebihan, berulang kali, sampai pada akhirnya melekat di benak masyarakat. Seperti ide bahwa pernikahan cuma (harapannya) dilakukan sekali seumur hidup, maka totallah dalam menyelenggarakannya.

Saking totalnya, tak jarang orang bekerja keras mengumpulkan biaya nikah, kadang ada yang meminjam sana sini, juga untuk memuaskan ekspektasi (konsumerisme) pihak keluarga atau berdasarkan tekanan teman-teman sepergaulan. Atau demi memenuhi keinginan pasangan misalnya, mengimitasi pilihan selebritas pun akan diusahakan.

Fenomena publik yang mengimitasi pilihan-pilihan selebritas dalam pesta pernikahan terjadi bukan tanpa alasan. Daniel Kruger, psikolog evolusi dari University of Michigan menyampaikan argumennya tentang motivasi orang senang mengamati kehidupan selebritas.

Pertama, dengan mempelajari apa yang dilakukan orang-orang berstatus tinggi macam selebritas, seseorang dapat menirunya supaya bisa menjadi sosok serupa di kemudian hari. Kedua, dengan mengetahui apa yang terjadi dalam kehidupan selebritas, seseorang bisa lebih gampang membawakan diri atau berinteraksi dalam kehidupan sosial.

Bukan hal yang tak lazim jika ditemukan percakapan-percakapan kasual—mulai dari anak-anak sampai orang-orang usia senja—yang melibatkan rumor seputar kehidupan para selebritas, bukan? Malah kadang, hal ini menjadi topik awal pemecah kebekuan bagi sebagian orang.

Sebuah seloroh terdengar di radio lokal siang ini. Si penyiar mewartakan soal mas kawin Hamish, yakni 500 gram emas. Mahalnya mas kawin ini berpotensi membikin perempuan lain mengidamkan hal serupa dan kian sulit laki-laki untuk mengejar ‘prestasi’ Hamish, demikian kira-kira ungkapan si penyiar. Pernikahan jadi ditakar dengan nominal, karena dokumentasinya akan disebar kemudian ke orang-orang yang dikenal.

Selama selebritas berada di posisi aman di ranah hiburan, semakin besar potensi produsen untuk menggaet mereka dan memanfaatkan citra mereka untuk dijual, demikian pendapat Susan Krauss Whitbourne, Ph.D., Professor Emerita of Psychological and Brain Sciences di University of Massachusetts Amherst.

Dalam Psychology Today, ia juga memaparkan sejumlah saran bagi khalayak supaya tidak terjebak dalam keinginan membeli produk atau menggunakan jasa sebagaimana dilakukan selebritas yang disokong industri. Menyadari bahwa diri sedang dibujuk pengiklan menggunakan selebritas adalah langkah awal menurut Whitbourne. Berikutnya, banyak-banyak meriset opsi lain sebelum membuat keputusan adalah PR berikutnya khalayak bila tidak ingin termakan rayuan tak langsung si selebritas dalam konten iklan.

Memutuskan pembelian tentunya tak baik bila dilakukan secara impulsif. Karenanya, Whitbourne menyugesti untuk tidak memilih dalam kondisi emosional. Pertimbangan rasional soal untung-rugi memilih sesuatu adalah hal yang tidak boleh terabaikan.

Sumber: tirto.id

PT. BESTPROFIT FUTURES JAMBI Qurban Sapi pada Idul Adha 1438 H

IMG-20170901-WA0233BEST PROFIT, Jambi – PT. Bestprofit Futures Jambi selalu memiliki tradisi setiap menjelang hari raya Idul Adha 1438 H. Penyembelihan hewan kurban dilakukan setelah shalat jum’at  (1/9/2017).

Ibadah kurban hukumnya sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan). Bagi orang yang mampu melakukannya lalu ia meninggalkan hal itu, maka ia dihukumi makruh. Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bahwa Nabi saw pernah berkurban dengan dua kambing kibasy yang sama-sama berwarna putih kehitam-hitaman dan bertanduk. Beliau sendiri yang menyembelih kurban tersebut, dan membacakan nama Allah serta bertakbir (waktu memotongnya).

Dari Ummu Salamah ra, Nabi saw bersabda, “Dan jika kalian telah melihat hilal (tanggal) masuknya bulan Dzul Hijjah, dan salah seorang di antara kamu ingin berkurban, maka hendaklah ia membiarkan rambut dan kukunya.” HR Muslim

Arti sabda Nabi saw, ” ingin berkorban” adalah dalil bahwa ibadah kurban ini sunnah, bukan wajib.

Diriwayatkan dari Abu Bakar dan Umar ra bahwa mereka berdua belum pernah melakukan kurban untuk keluarga mereka berdua, lantaran keduanya takut jika perihal kurban itu dianggap wajib.

Sapi yang disembelih merupakan sapi yang sudah disiapkan dari pihak Bestprofit, karena kegiatan pemotongan hewan qurban nerupakan agenda tahunan di BPF yang selalu dilakukan dalam memperingati hari raya Idul Adha.

Pemotongan hewan qurban dilaksanakan di halaman depan PT. Bestprofit futures jambi yang diahadiri Atasan, Karyawan serta disaksikan oleh Masyarakat sekitar.

“seluruh daging hasil Qurban dibagikan secara langsung kepada masyarakat sekitar dan Alhamdulillah, kami sekeluarga bisa kurban sapi pada tahun ini. Semoga, kegiatan berqurban selalu tetap dilaksanakan dan dapat berjalan dengan baik dan semoga hewan qurban yang dikurbankan bisa bertambah .” ujar Tri Noprianto selaku koordinator penyelenggara qurban. BESTPROFIT

Dari hasil wawancara kepada masyarakat sekitar, mereka mengatakan merasa senang sekali dan merasa terbantu dengan adanya kegiatan rutin ber-Qurban yang dilakukan oleh PT. Bestprofit Futures Jambi.

Penyaluran daging hewan Qurban ini tak lain sebagai bentuk syukur dari Bestprofit Futures Jambi kepada Allah SWT. atas tumpahan rahmat dan karunia yang terus diberikan, sehingga berbagai kegiatan yang dilaksanakan di PT. Bestprofit Futures Jambi  dapat berjalan dengan baik dan lancar.

Selain itu, hal ini dilakukan untuk menciptakan silaturahmi antar pihak Bestprofit Futures Jambi dengan masyarakat bisa berjalan dengan baik dan semoga pada hari raya Idul Adha  berikutnya BPF tetap menjalankan agenda rutin yang dilakukan setiap tahunnya dalam memperingati hari raya Idul Adha dan menambah jumlah hewan kurban yang akan dikurbankan. PT BESTPROFIT

Kontroversi Makam Haji dan Destruksi Ajaran Wahabi

BESTPROFIT – Tiap tahun, ribuan jemaah haji dari seluruh dunia meninggal di Tanah Suci. Pemerintah Arab Saudi mengharuskan jenazah dimakamkan di sana dan tidak boleh dibawa pulang ke negara asal. Peraturan ini merujuk keyakinan bahwa muslim sebaiknya dimakamkan di tempatnya meninggal. Jarak yang jauh dari tanah asal dikhawatirkan bisa merusak kondisi jenazah jika nekat dibawa pulang.

Selalu ada pengecualian, terutama jika yang meninggal adalah tokoh atau pembesar. Jenazah Bung Tomo, misalnya, yang meninggal di Mekkah pada 1981, berhasil dibawa pulang lewat serangkaian lobi antarpemerintah.

Pengurusan pemakaman jemaah haji yang meninggal sesungguhnya mudah. Tinggal melapor kepada ketua kloter, lalu ketua kloter mengurusnya ke Maktab. Setelah itu, petugas pemulasaran jenazah datang menjemput. Jenazah kemudian dibawa ke tempat reservasi pemakaman. Dari situ, jenazah dimandikan di gedung khusus pemandian. Lalu disalati di Masjidil Haram atau Masjid Nabawi.

Bagi seorang muslim, meninggal di Tanah Suci adalah kehormatan. Apalagi jika bisa dimakamkan bersama sahabat dan keluarga terdekat Nabi.

Hampir semua Muslim yang menunaikan ibadah haji memang biasanya sudah “mempersiapkan diri” untuk meninggal di sana. Tak heran, jika keberangkatan jemaah haji di Indonesia diupacarakan seperti hendak melepas kepergian seseorang untuk selamanya.

Masalahnya bagi para peziarah, tak ada nisan atau penanda yang jelas tentang siapa yang dimakamkan di liang itu. Susah sekali untuk menemukan makam sanak-kerabat mereka. PT BESTPROFIT

Apalagi, pemerintah Arab Saudi mengeluarkan peraturan bahwa tiap tiga tahun sekali, jenazah baru akan menempati liang yang sama dengan jenazah-jenazah lama. Itu artinya, setelah sekian tahun, satu liang bisa dihuni puluhan jenazah.

Penghancuran Makam oleh Rezim Wahabi

Di Mekkah, ada dua kompleks pemakaman yang disediakan khusus untuk jemaah haji: Jannatul Mu’alla (Taman Mu’alla, biasa disebut “al-Ma’la”) dan Tsurayya. Yang disebut pertama adalah pemakaman tua yang sudah ada sebelum Islam datang.

Tidak ada sumber memadai yang menerangkan pada tahun berapa al-Ma’la mulai digunakan sebagai tempat pemakaman. Diperkirakan, pemakaman itu sudah ada sejak awal abad ke-6 ketika suku Quraisy mulai menguasai Mekkah.

Tapi, jika dilihat dari sosok yang dimakamkan, bisa disimpulkan bahwa al-Ma’la adalah kuburan para pembesar. Beberapa elite suku Quraisy dari Bani Hasyim, klan asal Nabi Muhammad, dimakamkan di sini.

Beberapa sahabat dan keluarga terdekat Nabi, termasuk istri pertamanya, Siti Khadijah, dimakamkan di al-Ma’la. Aminah (ibunda Nabi) dan Abdul Muthalib, kakek yang mengasuh Nabi sejak bayi, dimakamkan di situ. Begitu pula paman kesayangannya, Abu Thalib.

Sejak Mekkah mulai menjadi tujuan jemaah haji umat Islam di seluruh dunia, penguasa-penguasa yang memerintah Mekkah, dari Bani Umayyah sampai Bani Saud, selalu menggunakan al-Ma’la sebagai tempat pemakaman haji. Sebelum Islam datang pun, al-Ma’la sudah dianggap sebagai tempat keramat karena lokasinya begitu dekat dengan bangunan suci di kota Mekkah: Kabah.

Bagi umat Islam, di situ pula letak keistimewaan al-Ma’la. Hanya perlu berjalan beberapa ratus meter dari Masjidil Haram ke arah timur, maka sampailah di kompleks pemakaman.

Kompleks al-Ma’la tampak seperti pemakaman lain di Arab Saudi. Terlihat sebongkah-dua bongkah batu di setiap liang. Semuanya tanpa nama. Agaknya sudah ada ratusan ribu bahkan jutaan jenazah yang dimakamkan di sana. Sudah 15 abad lebih makam ini menyaksikan bagaimana Mekkah berkembang dari sebuah kota kecil yang tak berarti menjadi pusat spiritual orang-orang Islam di seluruh dunia.

Lantaran lahan al-Ma’la sudah tidak sanggup lagi menampung jenazah, pemerintah Saudi membangun kompleks pemakaman baru di pinggiran kota Mekkah, sekitar 20 kilometer ke arah utara. Pada 2002, komplek pemakaman ini diresmikan dengan nama Tsurayya. BEST PROFIT

Saat ini, semua jemaah haji yang wafat, yang berasal dari luar Arab Saudi, dimakamkan di Tsurayya. Al-Ma’la hanya menerima jemaah haji berkewarganegaraan Saudi Arabia.

Sementara itu, jemaah haji yang meninggal di Madinah dimakamkan di kompleks pemakaman al-Baqi. Kompleks ini sangat terkenal karena sangat dekat dengan makam Nabi Muhammad.

Al-Baqi adalah kompleks pemakaman istimewa karena Nabi sendirilah yang pertama kali membukanya. Pada 622, ketika Masjid Nabawi masih dalam proses pembangunan, salah seorang sahabatnya, As’ad Bin Zararah, meninggal dunia. Nabi menunjuk sebuah titik di lahan dekat Masjid Nabawi sebagai tempat pemakaman bagi salah satu sahabatnya yang setia itu. Lahan itu dibeli dari sepasang anak yatim ketika Nabi baru tiba di Madinah. As’ad Bin Zararah menjadi orang pertama yang dimakamkan di al-Baqi.

Dua tahun kemudian, saat Nabi melaksanakan Perang Badar, anak perempuannya yang bernama Ruqayyah meninggal dunia dan dimakamkan di situ.

Sejak itu, al-Baqi menjadi kompleks pemakaman bagi seluruh orang Islam di Madinah. Ketika agama Islam mulai menyebar ke seluruh dunia dan kota Madinah semakin ramai dikunjungi, al-Baqi mulai dibuka untuk pemakaman haji hingga hari ini.

Selama berabad-abad, dua makam itu ramai dikunjungi orang-orang yang hendak berziarah. Makam para keluarga terdekat Nabi dipercantik penguasa-penguasa dua Tanah Suci itu dengan bangunan dan ornamen indah. Tujuannya mulia: menampung para peziarah yang hendak memanjatkan doa bagi arwah para kekasih Nabi.

Lalu, bencana pun melanda dua kompleks makam keramat itu.

Pada awal Bani Saud yang berhaluan Wahabi berkuasa atas Mekkah dan Madinah pada 1806, mereka menghancurkan banyak sekali bangunan keagamaan. Tidak terkecuali makam dan masjid, baik di Madinah maupun di Mekkah.

Di Madinah, mereka menghancurkan makam-makam para sahabat Nabi di al-Baqi. Bangunan-bangunan yang menaungi makam tak luput dari tangan-tangan Bani Saud. Di waktu hampir bersamaan, mereka juga meluluhlantakkan kompleks pemakaman al-Ma’la.

Penghancuran bangunan makam adalah salah satu wujud paling nyata dari doktrin ikonoklastik Wahabi. Bangunan-bangunan dan dekorasi penuh keindahan dianggap berhala yang bisa mereduksi makna keimanan seorang muslim dan mengarah kepada sikap syirik (menyekutukan Tuhan). Mereka tak hanya menghancurkan, tapi juga menjarah barang-barang berharga di sekitar makam.

Seorang pengelana dan ahli geografi asal Swiss, Johann Ludwig Burckhardt, tiba di Madinah setahun setelah destruksi terjadi. Ia menggambarkan betapa parah kerusakan makam al-Baqi yang ditimbulkan kaum Wahabi itu. Seperti diceritakan Adeel Mohammadi dalam “The Destruction of Jannat al-Baqi”, Burckhardt juga mengisahkan tentang reruntuhan bangunan yang masih berserakan di sekitar makam.

Melihat keganasan pasukan Bani Saud, penguasa Ottoman Sultan Mahmud II memerintahkan Gubernur Mesir Muhammad Ali Pasha untuk mengambil alih dua Tanah Suci dari tangan mereka. Lewat peperangan panjang selama lebih dari 10 tahun (Perang Ottoman-Wahabi), akhirnya Mekkah dan Madinah berhasil direbut lagi oleh Ottoman. Pembangunan kembali makam al-Baqi dan al-Ma’la dilaksanakan atas perintah Sultan Mahmud II. Sejak itu, kedamaian bersemi lagi di Tanah Suci. Tapi itu tidak lama.

Satu abad kemudian, Bani Saud kembali ke jazirah Hijaz. Pada 1924, mereka berhasil menguasai lagi Mekkah dan Madinah. Tahun berikutnya, Abdul Aziz bin Saud, pendiri negara Saudi Arabia, mengeluarkan izin resmi menghancurkan dua kompleks pemakaman di Mekkah dan Madinah. Izin resmi ini mendapatkan legitimasi dari fatwa yang dikeluarkan Abdullah Bin Bulayhid, seorang ahli hukum Islam terkemuka.

Penghancuran dimulai pada 21 April 1926 oleh pasukan Wahabi yang menamakan diri sebagai “Ikhwan” (saudara). Destruksi ini begitu ganas: dari nisan yang kecil sampai cungkup makam dirubuhkan tanpa sisa. Pasukan yang terlibat dalam penghancuran menerima upah yang besar dari Abdul Aziz.

Makam orang-orang terdekat Nabi yang dihancurkan antara lain Abdullah (bapak), Aminah (ibu), Abbas dan Hamzah bin Abdul Mutalib (paman), Ibrahim (anak), dan Usman bin Affan (sahabat). Diperkirakan, lebih dari 7.000 makam keluarga dan sahabat Nabi lain luluh lantak dalam hitungan hari.

Seperti dikutip dalam Encyclopedia Islamica terbitan Brill (2016), Eldon Rutter, mualaf asal Inggris yang mengunjungi al-Ma’la pada 1926, mendeskripsikan kerusakan tersebut dalam gambaran yang mirip suasana pasca-gempa bumi:

“Semua yang ada di pemakaman tak terlihat seperti apa pun kecuali gundukan tanah dan kerikil yang tak berhingga, potongan kayu, batangan besi, bongkahan batu, marmer dan batu bata yang hancur, berserakan di mana-mana.”

Meski protes terdengar dari mana-mana, rezim Wahabi seakan-akan menutup telinga. Hingga saat ini, penghancuran situs dan makam bersejarah masih berlangsung. Tapi di balik motif agama, ada motif lain yang lebih utama: uang.

Redaksi Tirto pernah menurunkan wawancara dengan Irfan al-Alawi, peneliti dari Islamic Heritage Research Foundation, soal perusakan situs-situs bersejarah di Arab Saudi. Ia mengkritik pembangunan hotel dan mal di sekitar tempat-tempat suci umat Islam.

Katanya: “Mereka (pemerintah Saudi) tahu akan mendapatkan uang yang lebih banyak karena banyak orang yang ingin melihat Ka’bah atau Masjid Nabawi dari kamar hotel. Banyak orang dari Afrika Selatan, atau orang kaya dari Qatar, Bahrain, Dubai, akan sengaja datang dan rela membayar untuk fasilitas ini.”

Al-Baqi dan Al-Ma’la menjadi saksi bisu bagaimana Bani Saud dan para pengikutnya menghancurkan warisan nenek moyang mereka sendiri.

Sumber: tirto.id