PT Best Profit Futures Jambi

Category Archives: AGAMA

Bestprofit – ISI Yogyakarta Cegah Pengaruh HTI ke Mahasiswa

ISI Yogyakarta Cegah Pengaruh HTI ke Mahasiswa Bestprofit – Dalam dua tahun terakhir, seiring menguat dan meluas pengaruh Hizbut Tahrir Indonesia ke kampus, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta membuat aksi kecaman terhadap HTI.

Pada 17 Juni 2016, ratusan mahasiswa dan alumni kampus ini menggelar aksi menolak keberadaan HTI di sana. Aksi di depan Rektorat ISI itu didukung oleh petinggi kampus.

Aksi serupa muncul pada 22 Mei 2017. Kelompok atas nama Kesatuan Aksi Alumni-Mahasiswa Institut Seni Indonesia mendeklarasikan petisi yang mendesak pemecatan dosen, karyawan, dan mahasiswa ISI Yogyakarta yang menjadi simpatisan, anggota, dan pengurus HTI. Aksi ini juga mendukung rencana pemerintah membubarkan HTI.

Tindakan ini sebagian didorong rasa terkejut bahwa bahkan di kampus yang didominasi komunitas seniman dan tak punya kedekatan dengan sejarah panjang tradisi gerakan Islam kampus, bisa “disusupi” oleh organisasi politik yang mengusung ide khilafah.

Meski demikian, Pembantu Rektor ISI Bidang Kemahasiswaan, Anusapati, mengatakan tipis kemungkinan Rektorat ISI menuruti desakan tersebut. Langkah itu, katanya, terlalu jauh.

“Mereka juga, kan, teman-teman kita sendiri. Kalau statusnya PNS juga jadi urusan pemerintah pusat,” ujarnya di Gedung Rektorat ISI Yogyakarta, Kamis kemarin.

Anusapati menegaskan Rektorat ISI lebih berfokus membatasi kegiatan HTI agar pengaruh pahamnya tidak meluas di kalangan mahasiswa.

“Sebenarnya, setelah ada keputusan pemerintah, langkah kami pada 2016 mendapatkan dasar lebih kuat. Tapi, sampai sekarang, kami belum membahas rencana baru terkait HTI di ISI,” katanya.

Anusapati membenarkan sejumlah dosen ISI menjadi anggota HTI. Sebagiannya menjadi pengurus lembaga seni bernama Khilafah Arts Network (KHAT), yang berdiri di Yogyakarta pada medio 2016.

Deni Junaedi, yang menolak diwawancara, adalah ketua Khilafah Arts Network. Dalam satu tulisan yang membahas retrospeksi karyanya lewat KHAT, Deni berkata ia aktif dalam organisasi politik HTI sejak 2008.

Anusapati menjelaskan, sebelum ada aksi penolakan HTI pada 2016, Rektorat ISI telah menerbitkan Surat Keputusan (SK) Rektor tentang larangan organisasi masyarakat “berpaham radikal” dan partai politik masuk ke kampus. SK Rektor itu terbit pada 16 Juni 2017.

“Kami tidak secara khusus menyebut melarang HTI, sebab tak ada dasarnya. SK Rektor itu secara umum melarang semua ormas berpaham radikal masuk ke kampus kami,” kata Anusapati.

Namun, Anusapati membenarkan sasaran SK Rektor itu mengarah pada HTI. Aturan ini muncul sebab pimpinan kampus ISI mengklaim telah menerima “banyak laporan” yang mengeluhkan aktivitas HTI.

“Mereka menjaring banyak mahasiswa baru. Kami tak mau mahasiswa baru terkena brain wash paham mereka,” ujarnya.

Anusapati menambahkan, setelah SK Rektor itu terbit, Rektorat ISI merombak kepengurusan masjid kampus. Ini lantaran mereka menerima “banyak keluhan” soal masjid kampus ISI menjadi markas kegiatan HTI.

Selain kerap menjadi lokasi penyebaran buletin dan diskusi soal gagasan HTI, para khatib Jumat di masjid kampus ISI terindikasi berafiliasi dengan organisasi politik tersebut.

“Setelah kepengurusan masjid dirombak, tak ada lagi selebaran, diskusi, dan materi khotbah berisi gagasan mereka. Kami membatasi kegiatannya saja. Kalau pemikiran, tak mungkin dibatasi,” katanya.

Anusapati mengatakan Rektorat ISI berupaya hati-hati dalam membatasi pengaruh HTI agar “tidak mengarah pada upaya memberangus kebebasan.” Karena itu, mayoritas bentuk pembatasan kegiatan disandarkan dari adanya laporan.

Misalnya, pada 2016, Rektorat ISI menyadari basis HTI di kampus berakar pada organisasi intrakampus bernama Keluarga Mahasiswa Islam (KMI) ISI. Tahun lalu, organisasi itu mengalami pergantian pengurus. Hingga sekarang, Rektorat ISI menolak mengesahkan kepengurusan baru ini.

“Soalnya ada masalah. Pemilihan kepengurusan baru itu diprotes mahasiswa lain, BEM juga menolaknya. Jadi kepengurusan baru tidak kami sahkan dulu,” kata Anusapati.

Ia menduga KMI ISI sejak lama menjadi alat HTI membangun basis simpatisan di ISI. “Sepertinya sudah mengakar, dari angkatan-angkatan sebelumnya,” tambahnya.

SK badan hukum HTI dicabut oleh Kementerian Hukum dan HAM pada Rabu lalu, 19 Juli, menyusul terbitnya Perppu Ormas 2/2017 pada pertengahan pekan lalu. Kepolisian mengatakan melarang kegiatan dakwah HTI, termasuk aktivisnya tidak boleh lagi memakai nama, lambang, bendera atau atribut HTI.

“Kalau dakwahnya jelas-jelas anti-Pancasila, anti-NKRI, akan kami tertibkan dan amankan,” kata Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Setyo Wasisto.

Pihak HTI tengah menimbang untuk melakukan gugatan hukum setelah organisasinya dibubarkan.

Menjelang dan setelah HTI dibekukan, beredar dokumen yang belum sepenuhnya terverifikasi yang memuat daftar nama pengurus, anggota, dan simpatisan HTI dari kalangan aparatur sipil negara, termasuk dari akademisi, di 34 provinsi. Dokumen itu salah satunya mencantumkan dua nama dosen dari ISI Yogyakarta. Bestprofit, PT Bestprofit.

PT Bestprofit – Yusuf Mansur Dituduh Menebar Kisah Fiktif untuk Pikat Jemaah

Yusuf Mansur Dituduh Menebar Kisah Fiktif untuk Pikat JemaahPT Bestprofit – Jam’an Nurchotib Mansur alias Yusuf Mansur Alias Yusuf Mansur dianggap bermasalah dalam hal metode dakwahnya. Untuk memancing jemaah bersedekah, ia membangun narasi “dramatik” yang diduga fiktif.

Hal ini diungkapkan Darso Arief Bakuama, penulis Yusuf Mansur Menebar Cerita Fiktif, Menjaring Harta Umat dan Banyak Orang Bilang: Yusuf Mansur Menipu. Kedua buku itu diterbitkan Teras Publishing pada 2016.

Darso menganalisis ceramah Yusuf Mansur secara langsung maupun lewat video yang diunggah di YouTube.

“Saya berkesimpulan ada pola Yusuf Mansur dalam pengumpulan sedekah. Itu dalam setiap ceramah dia, memotivasi orang untuk mengeluarkan uang, harta, asetnya untuk diserahkan ke dia dengan judul sedekah. Itu dibangun dengan cerita-cerita yang menurut saya fiktif,” kata Darso kepada reporter Tirto, 2 Juli lalu.

“Sedekah dia bermasalah, orang yang mengadu ke dia (tentang) masalah kehidupan, dimintanya sedekah,” lanjut Darso. “Sampai-sampai ada yang datang bawa mobil suruh tinggalin mobilnya. Ada yang bawa motor butut sekalipun diminta motornya.”

Darso mencotohkan salah satu kisah yang diduga fiktif dalam ceramah Yusuf Mansur di Masjid Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada 2 Mei 2013.

Kala itu Yusuf Mansur bercerita bahwa ia bertemu teman perempuannya yang sudah rampung sarjana strata satu di Amerika Serikat dan pascasarjana di Perancis. Perempuan itu kaya raya dan cantik tetapi mau menikah seorang laki-laki miskin yang badannya hanya separuh. Alasannya, kata Mansur, si perempuan ingin ibadah dan yang dilakukannya itu kehendak Allah.

Mansur lalu mengunggah laki-laki yang badannya separuh itu melalui akun Instagramnya (per 17 Juli memiliki 1,6 juta pengikut). Darso menemui laki-laki yang bernama Muhammad Wahyono itu.

Wahyono membantah dilamar oleh wanita cantik, kaya, dan terpelajar seperti yang diceritakan Mansur. “Cerita itu tidak benar. Enggak ada itu. Lha, wong saya tahun ini saja baru 18 tahun. Kalau normal sekalipun saya belum pantas kawin,” kata Wahyono, seperti dikutip dalam buku Darso.

Dalam acara yang lain, bertajuk Kuliah Tauhid bersama Yusuf Mansur, di Gedung Islamic Center, Bojonegoro pada Senin 9 Juli 2012, Mansur bercerita tentang teori The Power of Believe. Menurut Mansur, teori tersebut dari “Barat”—tak jelas teori dari siapa—tetapi yang ingin ditekankannya kita tak perlu bantuan Tuhan dan kerja keras untuk mendapatkan barang impian.

Ia mencontohkan soal motor, yang bila kita elus-elus terus tiap hari dengan harapan berubah jadi mobil, motor itu akan berubah jadi mobil. Kisah ini untuk meyakinkan pendengarnya—jemaah dalam acara tersebut—bahwa umat muslim bisa mendapatkan lebih dari itu bila mau bersedekah.

Kemudian Yusuf Mansur membeberkan cerita tentang seorang perempuan yang ingin menikah. Si perempuan ini datang sebelum pesta pernikahan lalu duduk di kursi pelaminan seolah ia yang akan dinikahkan.

Dengan begitu ia akan enteng jodoh. Tentu, katanya, harus dengan diiringi salat duha dan doa bahwa dialah yang berada di pelaminan tersebut. Sebagai pelengkap, si perempuan yang dikisahkan Mansur tersebut mencopot cincin dan gelang, “Rab, ini buatmu, ganti saya dengan jodoh yang saleh,” kata Mansur dengan nada yang dibuat dramatis.

Secara ajaib, si keluarga laki-laki tak melihat kedatangan keluarga perempuan. Tiba-tiba terdengar informasi ternyata keluarga perempuan membatalkan. Sementara undangan sudah tersebar.

Diumumkanlah di masjid tersebut, bagi siapa yang belum menikah, dipersilakan maju untuk dinikahkan.

“Demi Allah, cerita semacam ini banyak,” kata Mansur, bersemangat. “Saya enggak mau bohong, Pak, Bu. Banyak sekali. Oh, benar, Pak. Saya enggak mau bohong urusan begini. Setidak-tidaknya teman saya pribadi, (ada) dua yang begini, kejatuhan semangka banget!

“Tinggal masuk, semua sudah jadi, sudah disewain segala macam. Subhanallah. Bahkan salah satu pasangan yang seperti itu barusan berangkat umrah bersama saya. Dia sudah punya anak 3,” terang Yusuf Mansur.

Cerita itu tak terdengar rancu karena disampaikan secara lisan dan diiringi sumpah Yusuf Mansur untuk meyakinkan pendengarnya. Tetapi, bila kita agak kritis, ada sejumlah bolong cerita di sana.

Misalnya, di tempat mana si perempuan itu harus berdoa: di lokasi pernikahan atau di masjid? Kedua, soal latar cerita: kejadiannya di mana?

Hal begitu agaknya tidak membuat jemaah Yusuf Mansur meragukan. Jemaahnya terbuai.

Tak lama, seorang perempuan maju. Perempuan itu memberikan cincinnya dan minta dia didoakan agar anaknya menjadi pribadi yang saleh.

Sambil memberikan cincin, si perempuan itu bercerita anaknya bekerja di Pontianak. Perempuan itu mengambil uang Rp500 ribu lalu menyerahkan kepada Mansur.

Mansur berkata, “Ayo, Ibu-ibu, siap-siap. Bapak-bapak, siap-siap. Sudah dibawa, kan?”

Setelah itu ada sebentuk ancaman atau memojokkan jemaah. “Yang punya cincin, gelang, dan belum tergerak buat disedekahin, saya bilang, ‘Enggak usah.’ Tapi nanti Asar, lihatin lagi tangannya, cincin itu tetap segitu, kalung itu tetap segitu? Itulah yang terjadi gara-gara kita tidak sedekahin, 10 tahun lagi pun segitu?” kata Yusuf Mansur.

Ia melanjutkan, “Tapi kalau kita sedekahin—masyaallah—Asar nanti lihat, pasti enggak ada karena sudah disedekahin. Tapi 2, 3, 4 tahun kemudian, saudara beli berapa gram pun bisa. Sebab cabang soto-nya sudah 20 cabang, punya laundry sudah 17 cabang, punya showroom motor sudah 3-4 cabang. Subhanallah!”

Acara itu diselenggarakan Program Pembibitan Penghafal Al-Qur’an (PPPA) Darul Qu’ran Bojonegoro bekerjasama dengan PPPA Darul Qur’an Surabaya dan Toko Buku Togamas Bojonegoro. Usai Mansur dan panitia menutup acara itu, tiada penjelasan berapa total uang dan barang berharga yang diserahkan jemaah dan digunakan untuk apa “sedekah” tersebut.

Pembukuan Sedekah Tanpa Transparansi

PPPA Darul Qur’an membuka banyak rekening dengan beragam bentuk sedekah. Dari untuk sedekah wakaf, untuk kemanusiaan, kegiatan, untuk makan santri, cetak Alquran hingga sawah. Bahkan ada juga program bernama jemput sedekah.

Dalam laporan keuangan PPPA Daarul Qur’an, pada 2015 terkumpul sedekah sekitar Rp24,8 miliar. Pada 2016 sebanyak Rp38,3 miliar. Namun, tidak ada rincian dana itu dari mana dan siapa saja serta dialokasikan ke mana atau untuk apa saja.

Ismail, yang tinggal di Klaten, Jawa Tengah, berkata terpaksa memberikan harta senilai Rp5 juta kepada Yusuf Mansur. Itu sesudah ia mengikuti agenda dakwah dan terpikat oleh jurus kisah sukses bersedekah ala Yusuf Mansur yang membius jemaah rela memberikan harta.

“Saya merasa terpaksa saja. Karena saat itu saya di depan umum,” kata Ismail, 12 Juli lalu.

Ismail dijanjikan bahwa apa yang ia sedekahkan akan berlipat ganda. Ismail saat itu sangat percaya jika Mansur mampu menunaikan amanat. Tapi dugaannya tak sepenuhnya benar.

“Ada janji yang tidak ditepati. Intinya, tidak sesuai dengan akad semula. Makanya saya minta (harta saya) kembali,” ungkap Ismail.

Saat reporter Tirto mengonfirmasikan soal metode dakwahnya, terutama lagi soal pembukuan sedekah jemaah tanpa transparansi, Yusuf Mansur enggan memberi penjelasan.

“Enggak usah diluruskan. Saya salah. Insyaallah saya perbaiki. Saya penuh dengan tidak ketidaktahuan,” kata Mansur, 7 Juli lalu. “Insyaaallah saya akan belajar terus. Jadi, saya tidak akan bela diri. Saya minta maaf saja. Sebagai ustaz, sudah banyak menyusahkan.”

Mansur juga enggan merespons pertanyaan yang bisa berdampak pidana terhadapnya. Misalnya, kami bertanya bagaimana ia dapat menjamin bahwa dana yang disedekahkan itu tak bermasalah di kemudian hari. Misalnya, ternyata uang atau harta sedekah jemaah berasal dari keuangan negara.

Hal semacam itu memungkinkan sebab pihak Yusuf Mansur minim merinci sumber dana yang diperolehnya. Indonesia mengenal UU Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. Pasal 3 dan Pasal 5 menyebutkan ancaman pidana penjara paling lama 20 tahun dan 5 tahun.

Lagi-lagi Yusuf Mansur enggan menanggapi lebih lanjut perkara tersebut. PT Bestprofit, Bestprofit

Best Profit – Malim, Agama Lokal Suku Batak dari Huta Tinggi

Malim, Agama Lokal Suku Batak dari Huta TinggiBest Profit – Manusia pertama di dunia bukanlah Adam dan Hawa. Tapi bernama Si Raja Ihat Manisia dan istrinya Si Boru Ihat Manisia. Tak seperti Adam dan Hawa, yang tempatnya turun pertama kali di Bumi masih diperdebatkan, Raja Ihat dan Boru—tanpa ragu—dikisahkan lahir di Pusuk Buhit, sebuah gunung kecil yang terletak di sebelah barat Pulau Samosir.

Pada pulau vulkanik di tengah Danau Toba, Sumatera Utara, Raja Ihat dan Boru kemudian membangun perkampungan pertama di kaki gunung Pusuk Buhit. Ia diberi nama Sianjurmula-mula. Perkawinan keduanya menghasilkan tiga anak: Raja Miokmiok, Patundal Nibegu, dan Aji Lapaslapas.

Kecuali Raja Miokmiok, dua anak Raja Ihat dan Boru tak diketahui apakah mempunyai keturunan atau tidak. Raja Miokmiok kemudian punya anak bernama Eng Banua, yang punya tiga anak bernama Raja Aceh, Raja Bonangbonang, dan Raja Jau.

Dalam salah satu kisah, Aceh diceritakan sebagai nenek moyang semua suku Aceh, sementara kisah lain meyakini kalau Aceh dan Jau tidak diketahui rimbanya. Sementara Raja Bonangbonang punya anak tunggal bernama Guru Tantan Debata, yang kemudian memiliki putra tunggal bernama Siraja Batak.

Dalam kajian sejarah, Siraja Batak dianggap sebagai nenek moyang orang Batak. Ia dikenal sebagai permulaan catatan tarombo (silsilah), yang dalam budaya Batak kemudian membentuk marga-marga.

Bagi kebanyakan orang Batak masa kini, kisah di atas mitos belaka. Raja Ihat hingga Tatea Bulan—salah seorang dari dua anak Siraja Batak—dianggap sebagai nama-nama fiktif yang memulai keturunan bangsa Batak. Tapi, tidak demikian bagi penganut Ugamo Malim alias agama Malim. Raja Ihat tak hanya dianggap manusia pertama bangsa Batak, ia juga diyakini manusia pertama yang diturunkan di dunia ini.

Malim adalah agama asli dari Tanah Batak. Sebagaimana Adam dan Hawa diyakini sebagai manusia pertama dalam Islam ataupun Kristen, kisah Raja Ihat dan Boru serta keturunan-keturunannya adalah bagian dari ajaran dan keyakinan yang dianut Malim.

Para pengikut agama ini disebut parugamo Malim atau biasa disingkat Parmalim. Jumlah mereka memang sangat kecil. Ibrahim Gultom dalam Agama Malim di Batak (2010) menyebut angkanya cuma berkisar 5 ribu orang atau 1.127 kepala keluarga. Nama Malim atau Parmalim masih jarang didengar, bahkan oleh orang-orang yang tinggal di Sumatera Utara, tempat asal agama ini berkembang.

Belum lagi ia hanya diakui negara sebagai “aliran kepercayaan”, ketimbang agama sebagaimana Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu.

Bagi Malim, Tanah Batak adalah tanah suci. Kawasan ini melingkupi daerah sekitar Danau Toba dan Pulau Samosir, yang menyimpan nilai magis dan ajarannya. Pusat administrasi mereka juga didirikan di sana, tepatnya di Huta Tinggi, Laguboti, Kabupaten Toba Samosir, sekitar 7 hingga 8 jam dari Medan dengan perjalanan darat.

Ibrahim Gultom pernah dua tahun tinggal di sana guna menyelesaikan disertasi tentang agama Malim. Saat Gultom memulai penelitiannya, hanya ada dua kajian terdahulu yang mengupas tentang Malim, yakni tesis yang ditulis oleh Sihombing (1994) dan Siregar (1996). Keduanya tidak mengulik Malim dengan pendekatan antropologi, melainkan teologi dan sosiologi politik. Kajian Gultom menjadi adalah studi akademis paling komprehensif tentang agama ini.

Raja Marnangkok Naipospos, pemimpin pusat agama Malim (1981–2016), mengakui hal itu. Dalam satu pertemuan kami pada Mei 2015, ia menyarankan saya untuk mengobrol dengan Gultom bila ingin mengetahui Malim secara komprehensif.

“Dia itu orang (pendatang) yang paling bagus dan paling mengerti tentang Malim. Dia di sini betul-betul belajar tentang Malim,” kata Raja Marnangkok.

Bagi Parmalim, Raja Marnangkok dikenal sebagai ihutan alias pemimpin tertinggi dalam agama Malim. Ihutan artinya “yang ikuti atau ikutan.” Dalam silsilahnya, Raja Marnangkok adalah Ihutan ketiga, setelah ayahnya, Raja Ungkap Naipospos, dan kakeknya, Raja Mulia Naipospos.

Generasi Ihutan tergolong sedikit tapi bukan berarti Malim adalah ajaran yang baru. Bangsa Batak sendiri, dalam kajian antropologi, diperkirakan sudah ada sejak 1.500 hingga 2.000 tahun lalu. Bahkan menurut Parlindungan(1964), bangsa Batak pertama di Tanah Batak sudah ada sejak 3.000 tahun Sebelum Masehi. Sementara Malim memang baru dideklarasikan sebagai sebuah agama oleh Raja Nasiakbagi dan penerusnya, Raja Mulia Naipospos, pada masa awal kemerdekaan Indonesia.

Sebelumnya, ajaran-ajaran Malim yang belum dilembagakan sudah ada sejak bangsa Batak hadir. Menurut Gultom, penyampaian ajaran agama Malim semula lebih kerap dilakukan secara lisan, dalam bentuk turi-turian (dongeng). Hampir tak ada peninggalan tulisan—semacam kitab suci—yang mengemas cerita asal mula munculnya Malim.

Baru pada masa hidup Siraja Batak, diketahui ada dua surat yang diberikannya kepada kedua anaknya dalam aksara Batak. Surat pertama bernama agong dan diserahkan kepada Guru Tatea Bulan. Isinya tentang ilmu hadatuon (ketabiban), keperwiraan, kependekaran, dan kesaktian.

Sementara surat kedua yang diberikan kepada Raja Isumbaon, disebut surat tombaga holing, isinya mengenai ajaran-ajaran kerajaan, hukum peradilan, persawahan, perniagaan, dan kesenian. Surat lain yang belakangan muncul adalah pustaha habonoron yang konon ditulis langsung oleh Sisingamangaraja XII, salah satu orang suci (nabi) dalam ajaran Malim.

Bagi Parmalim, yang dijadikan sumber hukum adalah tona (pesan), poda (sabda), patik (peraturan), dan uhum (hukum).

Lahirnya Malim sebagai Agama

Syahdan, kabar kematian Sisingamangaraja tersebar ke seantero Tanah Batak dan sekitarnya. Itu terjadi pada 1907. Saat itu belum ada agama bernama Malim. Masyarakat Batak saat itu masih meyakini iman mereka kepada Debata  Mulajadi Nabolon, nama Tuhan mereka, dan Sisingamaraja XII sebagai salah satu orang suci. Tapi belum ada yang menamai keyakinan itu.

Kabar kematian ini disebarkan oleh pemerintahan Hindia Belanda dengan menyatakan Sisingamagaraja XII, sang pemimpin pemberontak, ditembak dalam persembunyian. Kabar itu sontak membuat ciut nyali raja-raja kecil di Tanah Batak. Mereka sudah banyak terkena politik pecah belah Belanda sehingga loyalitasnya terhadap Sisingamangaraja XII dan Tanah Batak sendiri sudah tergerus.

Namun, ada satu orang yang tetap setia pada imannya dan Sisingamangaraja XII. Namanya Lanja Naipospos, kelak berkat kebaikan hatinya, ia berganti nama jadi Raja Mulia Naipospos. Sebelum dikabarkan mati, Sisingamangaraja XII pernah berpesan kepada Lanja untuk terus menyebarkan kepercayaan orang Batak pada Debata Mulajadi Nabolon.

Alai pos roham, ro ma ama na tau haposan ni roham. Alai dang pola ajaranghu ho di si. Ai tibu hian do ho diajari tondinghi,” tulis Sisingamangaraja XII di ujung suratnya pada Lanja. Artinya, “Percayalah engkau, akan datang seorang ‘bapak’ kepercayaan dan kesayanganmu. Saya agaknya tidak perlu mengajarimu lagi mengenai hal ini. Sudah sejak dulu engkau diajarai rohku (tondi-ku).”

Waktu itu ia mengganti namanya sebagai Raja Tubu agar tak terlacak oleh otoritas pemerintah kolonial Belanda. Di saat yang sama, gerakan misionaris yang dipimpin Nommensen—pekabar Injil berkebangsaan Jerman yang kelak mendirikan Huria Kristen Protestan Batak—menguat di Tanah Batak. Penginjilan menanggalkan kepercayaan lokal.

Namun, bagi Parmalim, Sisingamangaraja XII adalah utusan Debata (Malim Debata), yang kedudukannya serupa nabi. Ia juga dikenal punya mukjizat: bisa muncul di pelbagai tempat yang diinginkannya dan dapat mengubah wujudnya jadi siapa saja.

Hingga muncullah Raja Nasiakbagi, penerus Sisingamangaraja XII yang dimaksudkannya dalam surat tersebut. Ia dikenal sebagai Malim Debata yang kali pertama mencetuskan agar Malim dilembagakan sebagai agama. “Malim ma hamu (malimlah kalian)” diingat sebagai kalimat bersejarah Nasiakbagi kepada murid-muridnya—tonggak awal lahirnya agama Malim.

Ia kemudian menganjurkan didirikannya suatu tempat peribadatan yang disebut Bale Pasogit Patonggoan di kampung Raja Mulia, yaitu di Huta Tinggi, Laguboti.

Di tempat itu pula saya terakhir kali bertemu Raja Marnangkok dan melihatnya memimpin mararisabtu, ibadah mingguan Parmalim yang diadakan setiap hari Sabtu, sebagaimana umat Kristen ke gereja pada hari Minggu dan salat Jumat bagi umat muslim.

Waktu itu Raja Marnangkok sudah diserang penyakit komplikasi, di antaranya diabetes dan asam urat. Jalannya memang pendek-pendek. Di hari peribadatan, dari rumahnya, ia melangkah keluar dengan dandanan lengkap, masih menunjukkan karisma tanpa cela, dan berdiri tepat di pelataran Bale Pasogit.

Ibadah itu dimulai tepat pukul 11. Persis seperti janji Raja Marnangkok, “Orang Malim tidak pernah telat.”

Sekumpulan orang berbondong-bondong memasuki sebuah balai persegi, tempat bersejarah yang disebut Bale Pasogit, yang puncak atapnya terdapat tiga hiasan berbentuk ayam jago. Mereka masuk berbaris sesuai jenis kelamin, pria dari sebelah kiri dan perempuan dari sebelah kanan.

Para pria dari kalangan orang dewasa mengenakan pakaian rapi, kemeja, jas, celana keper, ulos, dan tali-tali—semacam serban putih yang dililit di kepala. Sementara para wanita memakai kebaya, sarung, dan ulos. Di jalan menanjak, tempat gerbang kecil terpacak di depan balai, semua orang harus melepaskan alas kaki. Ini bagian dari keyakinan Malim.

Di dalam ibadah itu, semua perkataan dalam bahasa Batak. Di pertengahan, ada remaja laki-laki yang berdiri membacakan patik atau aturan-aturan yang jadi pedoman Parmalim dalam menjalankan kehidupan.

Seluruh penduduk beragama Malim di sekitaran Balige bahkan Parapat—sekitar 60 km dari Balige—akan datang ke Huta Tinggi untuk menunaikan ibadah ini. Balai tempat ibadah  ini adalah satu-satunya di kawasan Toba Samosir.

Sayang, sejak Mei tahun ini, Bale Pasogit resmi ditutup polisi resort Toba Samosir. Ihwalnya, setelah Raja Marnangkok meninggal pada September 2016, Parmalim terpecah jadi dua kubu.

Ada dua orang yang mengaku sebagai penerus tahta. Kelompok pertama dipimpin Monang Naipospos, adik kandung almarhum Raja Marnangkok. Sementara kelompok kedua dipimpin Poltak Naipospos, anak keempat almarhum Raja Marnangkok. Masing-masing membawa pengikut yang meyakini mereka sebagai Ihutan.

Tak hanya selisih paham tentang klaim sebagai Ihutan, Parmalim juga berselisih paham soal Bale Pasogit. Sejak tempat itu ditutup, beberapa pengikut Monang Naipospos yang saya jumpai berkata tak boleh merayakan ritual agama Malim di tempat lain. Sementara pengikut Poltak Naipospos memilih memindahkan perayaan itu ke balai lain. Misalnya acara Sipaha Lima, 5–7 Juli kemarin, yang diadakan di Bale Persantian, Medan Denai.

Menurut Poltak Simanjuntak, humas Parmalim dari kelompok Raja Poltak Naipospos, kegiatan itu tetap diadakan “bagian dari ajaran Malim yang tak bisa dielakkan.” Keputusan menyelenggarakan Sipaha Lima di luar Huta Tinggi untuk kali pertama, katanya, diharapkan menjadi yang terakhir karena mereka tengah membangun Bale Pasogit baru di daerah dekat Laguboti.

“Semoga tahun depan sudah tidak di sini lagi. Karena menurut keyakinan Malim, acara ini harusnya diadakan di Tanah Batak. Medan ini kan bukan (Tanah) Batak. Ini Tanah Deli,” katanya.

Best Profit, PT Bestprofit

PT Bestprofit : Mencari Berkah dengan Berziarah ke Makam Habib

Mencari Berkah dengan Berziarah ke Makam HabibPT Bestprofit – Sebelum direlokasi, Kawasan Kwitang terkenal sebagai pusat penjualan buku-buku tua di Jakarta. Pamornya kian menanjak setelah film Ada Apa Dengan Cinta? mengambil salah satu adegan di kawasan Senen tersebut. Tapi Kwitang bukan cuma tentang buku loak dan film remaja. Salah satu kawasan di Jakarta Pusat ini juga dikenal sebagai tujuan wisata religius penting bagi para peziarah.

Reputasi Kwitang sebagai kawasan religius tak terlepas dari keberadaan makam Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi. Terletak di lingkungan Masjid Al-Riyadh, Jalan Kembang VI, makam tersebut telah menjadi magnet beragam orang dari pelbagai daerah untuk bertandang ke sana selama puluhan tahun.

“Di Jakarta yang mesti diziarahi di sini,” kata Nasrun, seorang peziarah asal Banjarmasin, Kalimantan Barat, akhir Mei lalu.

Malam telah melipat petang saat Nasrun datang. Bersama 12 saudara dan tetangganya, Nasrun khusyuk berdoa di makam Habib Ali. Ia mengecup nisan saat hendak meninggalkan makam. Nasrun berkata ia sudah berulangkali berziarah ke sini.

“Beliau ulama yang disegani. Beliau punya kasih sayang terhadap sesama muslim,” ujarnya.

Bagi Nasrun, Habib Ali adalah panutan. Nasrun berharap, dengan berziarah, ia bisa mengikuti jejak dakwah Habib Ali.

“Kami datang ke sini mudah-mudahan bisa mengikuti jejak beliau,” ujarnya, menambahkan bahwa ia selalu merasa kangen untuk kembali.

Habib Ali lahir di Jakarta pada 20 April 1879. Ia adalah salah satu tokoh penting dalam siar Islam di Jakarta pada abad 20. Salah satu peran Habib Ali adalah mendirikan Masjid Al-Riyadh. Di masjid ini Habib Ali menggelar majelis taklim atau tempat mengaji bagi murid-muridnya maupun penduduk sekitar.

Sejumlah murid Habib Ali kelak menjadi ulama kharismatik di tanah Betawi seperti K.H Abdullah Syafi’i (pendiri Majelis Taklim As Syafi’iyah), K.H Thahir Rohili (pendiri Majelis Taklim Attahiriyah), dan K.H Fathullah Harun (Melis Taklim Daarussalafie). Ia juga berdakwah hingga ke Brunei Darussalam, India, Malaysia, Pakistan, Singapura, dan Sri Lanka.

Ketika perang kemerdekaan berkecamuk, Masjid Al-Riyadh sempat digunakan sebagai tempat pertemuan para pejuang kemerdekaan. Hal ini tidak mengherankan. Sebab, selain dikenal sebagai juru dakwah, Habib Ali juga pejuang yang tergabung dalam tentara Hizbullah, Suara Jakarta, dan teman dekat Sukarno. Presiden pertama Indonesia itu bahkan turut meresmikan Islamic Center yang didirikan Habib Ali di dekat lokasi masjid pada 1960-an.

Pada 1968, Habib Ali meninggal dan dimakamkan di area Masjid Ar-Riyadh. Majelis taklim yang ia inisiasi masih bertahan sampai sekarang. Ribuan orang datang untuk mengikuti pengajian tersebut saban Ahad.

Makam Habib Ali juga tidak pernah sepi peziarah. Saban hari, tak peduli pagi, siang, sore, dan malam, ada saja peziarah datang silih berganti. Salah satu yang membuat sosok Habib Ali begitu dicintai adalah siar ceramahnya mengenai ketauhidan serta menekankan tingkah laku yang terpuji dan solidaritas sosial.

Seorang penjaga makam, yang enggan disebutkan namanya, mengatakan peziarah tidak hanya datang dari Jakarta dan sekitarnya, tapi juga dari mancanegara. “Ada yang datang dari Malaysia, Singapura, Brunei, India, Timur Tengah,” katanya.

Saat ini makam dan majelis taklim Habib Ali dikelola oleh cucunya, yakni Habib Abdurrahman bin Muhammad bin Ali Al Habsyi. Susilo Bambang Yudhoyono diketahui bersahabat dan senang berkunjung ke kediaman Habib Abdurrahman persis di sisi masjid.

Keluarga Habib Abdurrahman mempersilahkan peziarah berdoa di makam. Tapi melarang mereka membakar kemenyan, menyiram makam dengan air, dan meletakkan uang di makam. Segala hal tersebut menurut penjaga makam dilakukan guna mencegah kesyirikan terhadap makam.

Habib Kuncung

Bergeser ke kawasan Jakarta Selatan ada kompleks pemakaman keramat Habib Ahmad bin Alwi Al Haddad alias Habib Kuncung. Kompleks pemakaman ini merupakan tanah milik Habib Abdullah bin Ja’far Al Haddad, kolega Habib Kuncung. Tidak diketahui pasti kapan area pemakaman di sini mulai ada. Tapi sejumlah catatan menyebut Habib Kuncung meninggal pada 1926 dalam usia 90-an.

Berbeda dengan Habib Ali, sosok Habib Kuncung lebih banyak diselubungi cerita mitos. Reputasinya dibentuk lewat cerita tentang kesederhanaan, kedermawanan, dan kesaktian.

Meski cerita tentang kesaktian Habib Kuncung sukar dibuktikan kebenarannya, tetapi hal itulah yang justru membuat para peziarah meyakini bahwa Habib Kuncung ialah Waliyullah. Sejumlah peziarah bahkan rela mengeluarkan biaya ekstra demi bisa datang ke sini.

“Saya dari Tambun Rengas, Cakung, Jakarta Timur, datang ke sini pakai mobil sewaan,” kata Jadidah, seorang peziarah.

Jadidah berkata sudah berziarah ke makam Habib Kuncung sejak masih kecil. Tradisi ziarah sudah diajarkan oleh orangtua dan para guru mengajinya. Bagi Jadidah, cerita kesaktian Habib Kuncung ialah berkah yang dimilikinya sebagai Wali Allah sekaligus keturunan Nabi Muhammad.

Salah satu alasan utama mengapa seseorang berziarah adalah untuk berdoa. Jadidah dan peziarah lain yang saya temui meyakini berdoa di makam seorang habib, wali, atau orang yang memiliki reputasi kesalehan, dapat membuat doa lebih mudah terkabul.

“Wali Allah itu, kan, setitik pun tidak ada dosa. Surganya sudah dijamin sama Allah. Makanya kita deketin, tuh. Nanti dengan doa beliau, (doa kita) diijabah langsung,” kata Jadidah.

Meski begitu, Jadidah dan peziarah lain mengatakan mereka tidak pernah berdoa atau memohon kepada makam. Menurutnya makam sebatas perantara. “Semua kita sih mintanya kepada Allah. Kita, kan, orang yang maha kotor. Dia, kan, bersih,” tambah Jadidah.

Di makam Habib Kuncung, para peziarah biasanya tidak hanya berdoa. Kebanyakan juga mencari air minum yang disimpan di dalam tiga buah gentong. Meski air yang diminum sebenarnya hanya air biasa, tetapi peziarah percaya air itu mengandung berkah karena disimpan di dalam gentong yang telah ada sejak area pemakaman Habib Kuncung berdiri. Pemakaman yang selalu ramai peziarah ini sekarang dikelola oleh keturunan Habib Abdullah bin Ja’far Al Haddad.

Habib Muhsin Condet

Di kawasan Condet, Cililitan, ada kompleks pemakaman Al-Hawi. Sejumlah habib kharismatik dimakamkan di sini seperti Habib Muhsin bin Muhammad Alatas, Habib Zain bin Abdullah Alaydrus, Habib Salim bin Jindan, Habib Ali bin Husein Alatas, dan Habib Umar bin Hud Alatas.

Kompleks pemakaman Al-Hawi selalu ramai pada bulan Syakban. Orang Betawi menyebutnya bulan ruwah. Orang-orang dari pelbagai daerah datang untuk berziarah. “Ada dari Kalimantan, Malaysia, Singapura,” kata Muhsin Alatas, cicit Habib Muhsin.

Muhsin berkata bahwa kakek buyutnya bukanlah seorang juru dakwah dan tidak memiliki satu pun majelis taklim. Namun, sang kakek diketahui senang mengaji agama kepada sejumlah habib tenar di Jakarta dan sekitarnya. Salah satunya kepada Habib Abdullah bin Muhsin Alatas di bilangan Empang, Bogor.

Semasa hidupnya Habib Muhsin dikenal dengan kesalehan sosial yang mau membantu siapa pun. Muhsin mengatakan, biasanya orang-orang datang kepada kakek buyutnya untuk berobat. Meski tidak memiliki rekam jejak ilmu pengobatan, orang-orang percaya bahwa air pemberian Habib Muhsin menyembuhkan penyakit. Tidak diketahui pasti kapan kompleks pemakaman Al-Hawi di Jakarta Timur ini berdiri. Namun Muhsin mengatakan kakek buyutnya adalah orang pertama yang dimakamkan di sini.

“Meninggalnya 1938. Saya belum lahir,” katanya.

Abdul Azis, peziarah asal Sukabumi, berkata sudah berziarah ke Kompleks Makam Al-Hawi sejak kecil. “Kalau ke Jakarta diajak ziarah ke sini. Kadang ke Kalibata (makam Habib Kuncung), Kwitang (makam Habib Ali), Kampung Banda, dan Luar Batang,” katanya.

Azis tidak memiliki hari atau alasan khusus untuk berziarah. Kapan hati memanggil saat itulah kakinya akan melangkah. Ia bisa menghabiskan tiga jam untuk berdoa di tempat ziarah. Biasanya Aziz banyak membaca istigfar dan salawat.

Seperti kebanyakan peziarah lain, Aziz percaya bahwa orang-orang saleh meski telah meninggal masih bisa memberi manfaat kepada mereka yang masih hidup. Salah satu manfaat itu adalah keberkahan.

“Pada dasarnya kita mengambil berkah saja. Orang saleh walau meninggal sebenarnya tidak meninggal,” katanya.  PT Bestprofit