PT Best Profit Futures Jambi

Category Archives: Artikel

PNS Sujud Syukur, THR Bakal Dibayar Full Tahun Ini!


5b48e1fd-0145-4b21-bea9-2b673b5defd3_169

jambi- Tahun ini Pegawai Negeri Sipil (PNS) atau Aparatur Sipil Negara (ASN)  dipastikan akan mendapatkan tunjangan hari raya (THR) secara penuh atau full. Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan Isa Rachmatarwata mengatakan, saat ini pihaknya sedang membahas skema pemberian THR PNS.

“RPP (rancangan Peraturan Pemerintah) nya sedang dibahas,” ujarnya kepada CNBC Indonesia, dikutip Senin (5/4/2021).

Oleh karenanya ia menjelaskan saat ini belum bisa memberikan keterangan lebih detail. Saat ini Pemerintah juga masih fokus dalam pemulihan ekonomi akibat dampak Covid-19.

“Nanti kalau sudah siap, akan dijelaskan oleh Menteri (Sri Mulyani),” jelasnya.

Sebelumnya, Kementerian Keuangan memang menjelaskan ini beberapa waktu lalu. Bahkan anggaran THR sudah masuk dalam APBN 2021.

Setelah tahun lalu THR PNS dipangkas karena pemerintah melakukan penghematan anggaran demi penanganan Covid-19, tahun ini dijanjikan akan kembali diberikan secara penuh. Kendati demikian, sebelum memutuskan skema pemberian THR ini, pemerintah akan terus meliat kondisi keuangan negara.

Pencairan THR umumnya dilakukan Kementerian Keuangan 10 hari kerja atau 14 hari sebelum Hari Raya Idul Fitri. Jika hari Raya jatuh pada 13-14 Mei, maka THR diberikan paling lambat di awal Mei membuahkan hasil.

 

Alamak! Trio Saham HMSP-UNVR-ASII Kembali Bonyok

c848fa12-13fd-49d5-8524-33e59d298121_169

Jambi– Harga saham tiga emiten big cap atau saham dengan kapitalisasi pasar di atas Rp 100 triliun ambles pada sesi I perdagangan hari ini, Rabu (24/3/2021). Penurunan ketiga saham tersebut dibayangi aksi jual bersih oleh asing.

Ketiga saham tersebut, yakni PT HM Sampoerna Tbk (HMSP), PT Astra Internasional (ASII) dan Unilever Indonesia (UNVR).

Mengacu data BEI, berikut gerak ketiga saham tersebut pada sesi I siang ini:

 

  1. HM Sampoerna (HMSP), saham -2,11%, ke Rp 1.395, transaksi Rp 54 M, net sell asing Rp 2,09 M
  2. Unilever Indonesia (UNVR), -1,85%, ke Rp 6.625, transaksi Rp 27 M, net sell asing Rp 13,01 M
  3. Astra International (ASII), -0,90%, ke Rp 5.525, transaksi Rp 67 M, net sell asing Rp 18,61 M

Saham emiten rokok HMSP tercatat yang paling anjlok di antara dua saham lainnya, yakni 2,11% ke Rp 1.395/saham. Nilai transaksi saham produsen kretek Dji Sam Soe ini sebesar Rp 54 miliar.

Dengan demikian, seusai data BEI, sudah 3 hari saham anak usaha Philip Morris Indonesia ini berkubang di zona merah.

Asing juga tercatat keluar dari HMSP dengan catatan jual bersih Rp 2,09 miliar.

Dalam sepekan, saham perusahaan yang berdiri pada 1913 ini terkoreksi 1,76%, sementara dalam sebulan naik 2,20%. Adapun secara year to date (YTD) anjlok 26,77%.

Sebelumnya, pada Rabu (23/3), dalam laporan keuangan yang diterbitkan di website BEI, manajemen HMSP melaporkan laba bersih yang diatribusikan kepada pemilik entitas induk sepanjang tahun 2020 sebesar Rp 8,58 triliun.

Nilai tersebut turun sebesar 37,95% dibanding periode yang sama pada tahun sebelumnya Rp 13,72 triliun. Penurunan laba bersih menyebabkan laba per saham dasar perseroan turun menjadi Rp 74 per saham dari sebelumnya Rp 118 per saham.

Penyebab penurunan laba bersih tersebut adalah menurunnya penjualan bersih HMSP sebesar 13,2% menjadi Rp 92,42 triliun dari sebelumnya Rp 106,55 triliun.

Menurut catatan atas laporan keuangan perusahaan, dampak negatif ekonomi akibat dari Covid-19 dan adanya kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) dari pemerintah telah menyebabkan penurunan daya beli masyarakat dan perubahan prioritas belanja konsumen.

“…[Sehingga] juga berdampak pada penurunan volume industri rokok dan perubahan preferensi konsumen rokok ke produk-produk yang lebih terjangkau harganya di Indonesia,” jelas manajemen HMSP.

Saham produsen bahan konsumer raksasa UNVR juga merosot 1,85% ke Rp 6.625/saham. Pelemahan ini diwarnai aksi jual bersih asing sebesar Rp 13,01 miliar.

Adapun dalam sepekan saham produsen brand sampo Clear ini menguat 2,32%, sementara dalam sebulan masih memerah 3,28%. Selanjutnya, secara YTD, saham UNVR sudah terkoreksi 8,30%.

Di tempat ketiga, saham emiten ‘raja otomotif’ ASII tercatat turun 0,90% ke Rp 5.525/saham dengan nilai transaksi sebesar 67 miliar.

Sama seperti kedua saham di atas, asing juga ramai-ramai melego saham perusahaan yang juga bergerak di bidang tambang dan agribisnis ini sebesar Rp 18,61 miliar.

Dalam sepekan saham ASII sudah terkoreksi 0,90%. Sementara, dalam sebulan saham perusahaan yang berdiri pada 1957 ini sudah merosot 3,49% dan secara YTD anjlok 9,43%.

PT. BESTPROFIT FUTURES

Wahai Ditjen Pajak, Begini Tips Memata-matai Orang Kaya Kekinian

Warga memasukkan formulir SPT Pajak mereka para kotak yang tersedia di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bandung Cibeunying, beberapa waktu lalu.

BEST PROFIT – Imbauan Ditjen Pajak agar masyarakat memasukkan smartphone ke dalam Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) pajak memunculkan beragam reaksi dari masyarakat. Bahkan mantan Menteri Koordinator Kemaritiman, Rizal Ramli ikut bercuap-cuap.

Bagi Ditjen Pajak, memasukkan smartphone dalam SPT pajak memiliki alasan tersendiri. Dengan melaporkannya ke SPT pajak, bisa diketahui sinkronisasi antara besarnya penghasilan dengan penambahan harta wajib pajak.

Sementara itu, masyarakat dan para pemilik smartphone menganggap aturan itu dibuat-buat. Bahkan Rizal Ramli menuding kebijakan tersebut merupakan bentuk kepanikan otoritas pajak yang terbebani oleh target tinggi.

Terlepas dari perdebatan tersebut, Ditjen Pajak memang mengangap smartphone sebagai indikator naiknya kekayaan atau aset seseorang. Hal ini semakin ditegaskan oleh admin medsos Ditjen Pajak yang mengingatkan para pemilik iPhone X  untuk melaporkan gadget itu dalam SPT pajak. BESTPROFIT

Saya tidak bermaksud berdebat mengenai peraturan soal hal ini, karena aturan sudah cukup jelas.

Namun pertanyaannya, apakah masih relevan menilai smartphonemenjadi indikator bertambahnya kekayaan wajib pajak sehingga harus dilaporkan dalam SPT pajak?

Orang Kaya Kekinian

Tahun 1899, sosiolog AS Thorstein Veblen memublikasikan buku yang berjudul The Theory of the Leisure Class. Dalam buku tersebut, Veblen memotret kondisi sosial orang-orang berduit di AS seputar bagaimana mereka membelanjakan uangnya.

Pada buku itu, Veblen menyatakan bahwa industri telah membagi masyarakat menjadi dua bagian. Pertama adalah karyawan dan kedua adalah pemilik modal. PT BESTPROFIT

Pemilik modal adalah mereka yang memiliki uang berlimpah dan waktu luang yang banyak. Mereka tak memiliki kewajiban untuk bekerja setiap saat, karena semua pekerjaan dilakukan oleh karyawannya.

Lainnya, para pemilik harta itu juga gemar mengenakan barang-barang mahal. Veblen menggunakan istilah conspicuous consumptionatau “konsumsi terang-terangan” untuk menggambarkan kebiasaan para pemilik modal di AS pada waktu itu.

Terminologi itu merujuk pada tren bahwa orang berduit di AS di akhir abad ke-19 cenderung membeli barang-barang yang mencolok untuk memamerkan status sosial mereka.

Dengan barang-barang tersebut, orang kaya di AS saat itu ingin menyampaikan pesan bahwa mereka adalah kelompok elit. Status mereka berbeda dengan kebanyakan orang yang hanya sebagai karyawan.

Sumber: kompas.com

Saat Pernikahan Jadi ‘Barang Dagangan’

BESTPROFIT – Pernikahan merupakan salah satu momen besar dalam kehidupan mayoritas masyarakat. Dalam momen resepsi, orang-orang ingin menjadi ratu dan raja sehari. Sudah bukan rahasia bila macam-macam hal yang berkaitan dengan pernikahan seseorang potensial jadi bahan perbincangan para undangan.

Mulai dari foto pra-pernikahan dan foto mempelai saat resepsi, pakaian pengantin, makanan, lokasi acara, sampai dekorasi bisa saja mendatangkan komentar positif maupun cibiran. Terlebih di era media sosial seperti sekarang ini, bisik-bisik soal pernikahan seseorang tak memakan waktu lama untuk sampai di telinga kolega dan keluarga, bahkan si empunya hajatan sendiri.

Pernikahan selebritas adalah salah satu yang paling menonjol dalam eksposur di media sosial maupun media konvensional. Minggu (3/9) lalu, Raisa Andriana dan Hamish Daud Wyllie menggelar akad dan pesta pernikahan di Ayana Midplaza, Sudirman, Jakarta. Kabar pernikahan penyanyi muda ini memang sudah menyebar jauh sebelum pesta digelar dan menarik perhatian publik, khususnya mereka yang mengidolakan kedua selebritas ini. Sampai-sampai, tagar #haripatahhatinasional menjadi populer di media sosial seiring dengan pernikahan Raisa-Hamish.

Serba-serbi sudut pandang pemberitaan sejoli ini segera mengekor. Ada yang menyoroti pose-pose mesra Raisa-Hamish, antrean undangan resepsi, busana yang dikenakan Raisa, ada pula yang lebih berfokus pada lokasi dan dekorasi yang dipilih keduanya. Bridestory yang digandeng sebagai konsultan pernikahan Raisa-Hamish bahkan secara khusus menyajikan foto-foto dan tayangan khusus berisi cuplikan suasana pernikahan selebritas-selebritas ini.

Pernikahan Selebritas: Inspirasi Sekaligus Dicaci

Eksposur pernikahan selebritas membuat publik pecah menjadi dua kubu: yang mengagumi sampai beritikad mengimitasi model pernikahan mereka, dan yang mengkritik pesta yang digambarkan di media-media massa. Ambil contoh pernikahan Kate Middleton-Pangeran William pada 29 April 2011 silam. Tak lama setelah royal wedding digelar, gaun pengantin Middleton menjadi tren.

Penjualan produk Alexander McQueen—rumah busana yang memproduksi gaun pengantin untuk Middleton—pun melonjak hingga 27 persen pasca-pernikahan Kate-William. Ini mengindikasikan citra sang mempelai perempuan yang positif sehingga sebagian publik tertarik untuk mencontoh apa pun yang melekat pada dirinya.

Sementara kubu yang mengkritik pesta pernikahan selebritas terlihat dari bagaimana sejumlah media menghakimi gaun-gaun yang mereka pakai saat menikah. Tengok saja kolom fashion The Telegraph atau situs MTVIndia ketika merilis kabar tentang pakaian-pakaian pengantin paling buruk. Sementara di Indonesia, kritik terkait pernikahan selebritas datang dari perspektif lain. Sorotan berlebihan pernikahan Raffi-Nagita di stasiun TV lokal memicu protes sebagian khalayak, hingga keberatan ini disampaikan ke KPI. PT BESTPROFIT

Masih terkait kritik pernikahan selebritas, bagi sebagian orang, pernikahan mereka juga dilihat sebagai ajang promosi diri. Sharon Boden, penulis Consumerism, Romance and the Wedding Experience (2003), mengambil contoh pernikahan Liza Minnelli. Ada yang memandang bahwa pernikahan selebritas ini tak ubahnya pertunjukan ‘kabaret’ yang bertujuan meneguhkan posisinya dalam dunia hiburan.

Dijual: Memorabilia Pernikahan Selebritas

Setelah berbagai media internasional mewartakan royal wedding, berbagai pelaku usaha segera memanfaatkan hal tersebut untuk mendulang untung. Dikabarkan The New York Timesmemorabiliaterkait pernikahan Kate-William dipasarkan ke publik, mulai dari cangkir, sendok, perangko, koin, hingga boneka teddy bear. Replika cincin tunangan Middleton pun sempat dijual dengan menggadang-gadang pesan “manifestasi fisik dari cinta absolut”.

Dalam pernikahan Raisa-Hamish pun, logo konsultan pernikahan selebritas tersebut dicantumkan dalam publikasi seputar hajatan yang diselenggarakan. Juga jangan lupakan siapa perancang pakaian, siapa merias sang pengantin, atau di mana tempat pernikahan digelar. Kesemuanya disebut dan akan mendapatkan publisitas. Banyak yang tidak menghiraukannya, tapi tidak sedikit juga yang mencermati ini adalah bentuk promosi jasa perusahaan terkait.

Kenapa pernikahan bisa memicu konsumerisme?

Aneka gambaran yang dipaparkan media massa menumbuhsuburkan fantasi calon-calon pengantin, terlepas dari kemampuan finansial mereka sebenarnya. Makin megah, makin tergiur sebagian calon pengantin untuk mewujudkannya. Pernikahan tak lagi merupakan institusi sakral semata. Perlahan tetapi pasti, hal ini menjelma menjadi suatu industri yang berupaya jor-joran membuat calon-calon pengantin kian ‘haus’ dan (mau tak mau) memuaskan hasratnya dengan produk dan jasa yang disuguhkan produsen. BEST PROFIT

Gambaran pernikahan selebritas yang megah menciptakan suatu hiperealitas di masyarakat. Sesuatu yang dicitrakan secara berlebihan, berulang kali, sampai pada akhirnya melekat di benak masyarakat. Seperti ide bahwa pernikahan cuma (harapannya) dilakukan sekali seumur hidup, maka totallah dalam menyelenggarakannya.

Saking totalnya, tak jarang orang bekerja keras mengumpulkan biaya nikah, kadang ada yang meminjam sana sini, juga untuk memuaskan ekspektasi (konsumerisme) pihak keluarga atau berdasarkan tekanan teman-teman sepergaulan. Atau demi memenuhi keinginan pasangan misalnya, mengimitasi pilihan selebritas pun akan diusahakan.

Fenomena publik yang mengimitasi pilihan-pilihan selebritas dalam pesta pernikahan terjadi bukan tanpa alasan. Daniel Kruger, psikolog evolusi dari University of Michigan menyampaikan argumennya tentang motivasi orang senang mengamati kehidupan selebritas.

Pertama, dengan mempelajari apa yang dilakukan orang-orang berstatus tinggi macam selebritas, seseorang dapat menirunya supaya bisa menjadi sosok serupa di kemudian hari. Kedua, dengan mengetahui apa yang terjadi dalam kehidupan selebritas, seseorang bisa lebih gampang membawakan diri atau berinteraksi dalam kehidupan sosial.

Bukan hal yang tak lazim jika ditemukan percakapan-percakapan kasual—mulai dari anak-anak sampai orang-orang usia senja—yang melibatkan rumor seputar kehidupan para selebritas, bukan? Malah kadang, hal ini menjadi topik awal pemecah kebekuan bagi sebagian orang.

Sebuah seloroh terdengar di radio lokal siang ini. Si penyiar mewartakan soal mas kawin Hamish, yakni 500 gram emas. Mahalnya mas kawin ini berpotensi membikin perempuan lain mengidamkan hal serupa dan kian sulit laki-laki untuk mengejar ‘prestasi’ Hamish, demikian kira-kira ungkapan si penyiar. Pernikahan jadi ditakar dengan nominal, karena dokumentasinya akan disebar kemudian ke orang-orang yang dikenal.

Selama selebritas berada di posisi aman di ranah hiburan, semakin besar potensi produsen untuk menggaet mereka dan memanfaatkan citra mereka untuk dijual, demikian pendapat Susan Krauss Whitbourne, Ph.D., Professor Emerita of Psychological and Brain Sciences di University of Massachusetts Amherst.

Dalam Psychology Today, ia juga memaparkan sejumlah saran bagi khalayak supaya tidak terjebak dalam keinginan membeli produk atau menggunakan jasa sebagaimana dilakukan selebritas yang disokong industri. Menyadari bahwa diri sedang dibujuk pengiklan menggunakan selebritas adalah langkah awal menurut Whitbourne. Berikutnya, banyak-banyak meriset opsi lain sebelum membuat keputusan adalah PR berikutnya khalayak bila tidak ingin termakan rayuan tak langsung si selebritas dalam konten iklan.

Memutuskan pembelian tentunya tak baik bila dilakukan secara impulsif. Karenanya, Whitbourne menyugesti untuk tidak memilih dalam kondisi emosional. Pertimbangan rasional soal untung-rugi memilih sesuatu adalah hal yang tidak boleh terabaikan.

Sumber: tirto.id