PT Best Profit Futures Jambi

Category Archives: Artikel

Wahai Ditjen Pajak, Begini Tips Memata-matai Orang Kaya Kekinian

Warga memasukkan formulir SPT Pajak mereka para kotak yang tersedia di Kantor Pelayanan Pajak Pratama Bandung Cibeunying, beberapa waktu lalu.

BEST PROFIT – Imbauan Ditjen Pajak agar masyarakat memasukkan smartphone ke dalam Surat Pemberitahuan Tahunan (SPT) pajak memunculkan beragam reaksi dari masyarakat. Bahkan mantan Menteri Koordinator Kemaritiman, Rizal Ramli ikut bercuap-cuap.

Bagi Ditjen Pajak, memasukkan smartphone dalam SPT pajak memiliki alasan tersendiri. Dengan melaporkannya ke SPT pajak, bisa diketahui sinkronisasi antara besarnya penghasilan dengan penambahan harta wajib pajak.

Sementara itu, masyarakat dan para pemilik smartphone menganggap aturan itu dibuat-buat. Bahkan Rizal Ramli menuding kebijakan tersebut merupakan bentuk kepanikan otoritas pajak yang terbebani oleh target tinggi.

Terlepas dari perdebatan tersebut, Ditjen Pajak memang mengangap smartphone sebagai indikator naiknya kekayaan atau aset seseorang. Hal ini semakin ditegaskan oleh admin medsos Ditjen Pajak yang mengingatkan para pemilik iPhone X  untuk melaporkan gadget itu dalam SPT pajak. BESTPROFIT

Saya tidak bermaksud berdebat mengenai peraturan soal hal ini, karena aturan sudah cukup jelas.

Namun pertanyaannya, apakah masih relevan menilai smartphonemenjadi indikator bertambahnya kekayaan wajib pajak sehingga harus dilaporkan dalam SPT pajak?

Orang Kaya Kekinian

Tahun 1899, sosiolog AS Thorstein Veblen memublikasikan buku yang berjudul The Theory of the Leisure Class. Dalam buku tersebut, Veblen memotret kondisi sosial orang-orang berduit di AS seputar bagaimana mereka membelanjakan uangnya.

Pada buku itu, Veblen menyatakan bahwa industri telah membagi masyarakat menjadi dua bagian. Pertama adalah karyawan dan kedua adalah pemilik modal. PT BESTPROFIT

Pemilik modal adalah mereka yang memiliki uang berlimpah dan waktu luang yang banyak. Mereka tak memiliki kewajiban untuk bekerja setiap saat, karena semua pekerjaan dilakukan oleh karyawannya.

Lainnya, para pemilik harta itu juga gemar mengenakan barang-barang mahal. Veblen menggunakan istilah conspicuous consumptionatau “konsumsi terang-terangan” untuk menggambarkan kebiasaan para pemilik modal di AS pada waktu itu.

Terminologi itu merujuk pada tren bahwa orang berduit di AS di akhir abad ke-19 cenderung membeli barang-barang yang mencolok untuk memamerkan status sosial mereka.

Dengan barang-barang tersebut, orang kaya di AS saat itu ingin menyampaikan pesan bahwa mereka adalah kelompok elit. Status mereka berbeda dengan kebanyakan orang yang hanya sebagai karyawan.

Sumber: kompas.com

Saat Pernikahan Jadi ‘Barang Dagangan’

BESTPROFIT – Pernikahan merupakan salah satu momen besar dalam kehidupan mayoritas masyarakat. Dalam momen resepsi, orang-orang ingin menjadi ratu dan raja sehari. Sudah bukan rahasia bila macam-macam hal yang berkaitan dengan pernikahan seseorang potensial jadi bahan perbincangan para undangan.

Mulai dari foto pra-pernikahan dan foto mempelai saat resepsi, pakaian pengantin, makanan, lokasi acara, sampai dekorasi bisa saja mendatangkan komentar positif maupun cibiran. Terlebih di era media sosial seperti sekarang ini, bisik-bisik soal pernikahan seseorang tak memakan waktu lama untuk sampai di telinga kolega dan keluarga, bahkan si empunya hajatan sendiri.

Pernikahan selebritas adalah salah satu yang paling menonjol dalam eksposur di media sosial maupun media konvensional. Minggu (3/9) lalu, Raisa Andriana dan Hamish Daud Wyllie menggelar akad dan pesta pernikahan di Ayana Midplaza, Sudirman, Jakarta. Kabar pernikahan penyanyi muda ini memang sudah menyebar jauh sebelum pesta digelar dan menarik perhatian publik, khususnya mereka yang mengidolakan kedua selebritas ini. Sampai-sampai, tagar #haripatahhatinasional menjadi populer di media sosial seiring dengan pernikahan Raisa-Hamish.

Serba-serbi sudut pandang pemberitaan sejoli ini segera mengekor. Ada yang menyoroti pose-pose mesra Raisa-Hamish, antrean undangan resepsi, busana yang dikenakan Raisa, ada pula yang lebih berfokus pada lokasi dan dekorasi yang dipilih keduanya. Bridestory yang digandeng sebagai konsultan pernikahan Raisa-Hamish bahkan secara khusus menyajikan foto-foto dan tayangan khusus berisi cuplikan suasana pernikahan selebritas-selebritas ini.

Pernikahan Selebritas: Inspirasi Sekaligus Dicaci

Eksposur pernikahan selebritas membuat publik pecah menjadi dua kubu: yang mengagumi sampai beritikad mengimitasi model pernikahan mereka, dan yang mengkritik pesta yang digambarkan di media-media massa. Ambil contoh pernikahan Kate Middleton-Pangeran William pada 29 April 2011 silam. Tak lama setelah royal wedding digelar, gaun pengantin Middleton menjadi tren.

Penjualan produk Alexander McQueen—rumah busana yang memproduksi gaun pengantin untuk Middleton—pun melonjak hingga 27 persen pasca-pernikahan Kate-William. Ini mengindikasikan citra sang mempelai perempuan yang positif sehingga sebagian publik tertarik untuk mencontoh apa pun yang melekat pada dirinya.

Sementara kubu yang mengkritik pesta pernikahan selebritas terlihat dari bagaimana sejumlah media menghakimi gaun-gaun yang mereka pakai saat menikah. Tengok saja kolom fashion The Telegraph atau situs MTVIndia ketika merilis kabar tentang pakaian-pakaian pengantin paling buruk. Sementara di Indonesia, kritik terkait pernikahan selebritas datang dari perspektif lain. Sorotan berlebihan pernikahan Raffi-Nagita di stasiun TV lokal memicu protes sebagian khalayak, hingga keberatan ini disampaikan ke KPI. PT BESTPROFIT

Masih terkait kritik pernikahan selebritas, bagi sebagian orang, pernikahan mereka juga dilihat sebagai ajang promosi diri. Sharon Boden, penulis Consumerism, Romance and the Wedding Experience (2003), mengambil contoh pernikahan Liza Minnelli. Ada yang memandang bahwa pernikahan selebritas ini tak ubahnya pertunjukan ‘kabaret’ yang bertujuan meneguhkan posisinya dalam dunia hiburan.

Dijual: Memorabilia Pernikahan Selebritas

Setelah berbagai media internasional mewartakan royal wedding, berbagai pelaku usaha segera memanfaatkan hal tersebut untuk mendulang untung. Dikabarkan The New York Timesmemorabiliaterkait pernikahan Kate-William dipasarkan ke publik, mulai dari cangkir, sendok, perangko, koin, hingga boneka teddy bear. Replika cincin tunangan Middleton pun sempat dijual dengan menggadang-gadang pesan “manifestasi fisik dari cinta absolut”.

Dalam pernikahan Raisa-Hamish pun, logo konsultan pernikahan selebritas tersebut dicantumkan dalam publikasi seputar hajatan yang diselenggarakan. Juga jangan lupakan siapa perancang pakaian, siapa merias sang pengantin, atau di mana tempat pernikahan digelar. Kesemuanya disebut dan akan mendapatkan publisitas. Banyak yang tidak menghiraukannya, tapi tidak sedikit juga yang mencermati ini adalah bentuk promosi jasa perusahaan terkait.

Kenapa pernikahan bisa memicu konsumerisme?

Aneka gambaran yang dipaparkan media massa menumbuhsuburkan fantasi calon-calon pengantin, terlepas dari kemampuan finansial mereka sebenarnya. Makin megah, makin tergiur sebagian calon pengantin untuk mewujudkannya. Pernikahan tak lagi merupakan institusi sakral semata. Perlahan tetapi pasti, hal ini menjelma menjadi suatu industri yang berupaya jor-joran membuat calon-calon pengantin kian ‘haus’ dan (mau tak mau) memuaskan hasratnya dengan produk dan jasa yang disuguhkan produsen. BEST PROFIT

Gambaran pernikahan selebritas yang megah menciptakan suatu hiperealitas di masyarakat. Sesuatu yang dicitrakan secara berlebihan, berulang kali, sampai pada akhirnya melekat di benak masyarakat. Seperti ide bahwa pernikahan cuma (harapannya) dilakukan sekali seumur hidup, maka totallah dalam menyelenggarakannya.

Saking totalnya, tak jarang orang bekerja keras mengumpulkan biaya nikah, kadang ada yang meminjam sana sini, juga untuk memuaskan ekspektasi (konsumerisme) pihak keluarga atau berdasarkan tekanan teman-teman sepergaulan. Atau demi memenuhi keinginan pasangan misalnya, mengimitasi pilihan selebritas pun akan diusahakan.

Fenomena publik yang mengimitasi pilihan-pilihan selebritas dalam pesta pernikahan terjadi bukan tanpa alasan. Daniel Kruger, psikolog evolusi dari University of Michigan menyampaikan argumennya tentang motivasi orang senang mengamati kehidupan selebritas.

Pertama, dengan mempelajari apa yang dilakukan orang-orang berstatus tinggi macam selebritas, seseorang dapat menirunya supaya bisa menjadi sosok serupa di kemudian hari. Kedua, dengan mengetahui apa yang terjadi dalam kehidupan selebritas, seseorang bisa lebih gampang membawakan diri atau berinteraksi dalam kehidupan sosial.

Bukan hal yang tak lazim jika ditemukan percakapan-percakapan kasual—mulai dari anak-anak sampai orang-orang usia senja—yang melibatkan rumor seputar kehidupan para selebritas, bukan? Malah kadang, hal ini menjadi topik awal pemecah kebekuan bagi sebagian orang.

Sebuah seloroh terdengar di radio lokal siang ini. Si penyiar mewartakan soal mas kawin Hamish, yakni 500 gram emas. Mahalnya mas kawin ini berpotensi membikin perempuan lain mengidamkan hal serupa dan kian sulit laki-laki untuk mengejar ‘prestasi’ Hamish, demikian kira-kira ungkapan si penyiar. Pernikahan jadi ditakar dengan nominal, karena dokumentasinya akan disebar kemudian ke orang-orang yang dikenal.

Selama selebritas berada di posisi aman di ranah hiburan, semakin besar potensi produsen untuk menggaet mereka dan memanfaatkan citra mereka untuk dijual, demikian pendapat Susan Krauss Whitbourne, Ph.D., Professor Emerita of Psychological and Brain Sciences di University of Massachusetts Amherst.

Dalam Psychology Today, ia juga memaparkan sejumlah saran bagi khalayak supaya tidak terjebak dalam keinginan membeli produk atau menggunakan jasa sebagaimana dilakukan selebritas yang disokong industri. Menyadari bahwa diri sedang dibujuk pengiklan menggunakan selebritas adalah langkah awal menurut Whitbourne. Berikutnya, banyak-banyak meriset opsi lain sebelum membuat keputusan adalah PR berikutnya khalayak bila tidak ingin termakan rayuan tak langsung si selebritas dalam konten iklan.

Memutuskan pembelian tentunya tak baik bila dilakukan secara impulsif. Karenanya, Whitbourne menyugesti untuk tidak memilih dalam kondisi emosional. Pertimbangan rasional soal untung-rugi memilih sesuatu adalah hal yang tidak boleh terabaikan.

Sumber: tirto.id

Elegi Pencarian Keadilan Asih Widodo

PT BESTPROFIT – Sebelum saya berkalang tanah, saya akan terus berjuang. Semoga saya nggak sakit-sakit. Kalau mati pasti mati, tapi sebelum saya mati, saya ingin Wiranto dan Habibie dipenjara,” ujar Asih Widodo.

Keberanian Widodo, kini berusia 66 tahun, tak berasal dari kebencian, melainkan cinta. Justru cintalah yang membuatnya betah menuntut. Sigit Prasetyo, putranya, mati ditembak tentara dalam peristiwa Semanggi I dan negara berutang penjelasan kepadanya. Usia anaknya saat itu 18 tahun, mahasiswa teknik sipil Universitas Persada Indonesia.BEST PROFIT

Kamis, 13 November 1998, magrib, Widodo menerima kabar dari seorang pegawai Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) bahwa Sigit sedang dirawat. Ia ingat orang itu bicara dengan tergesa-gesa, seakan-akan hendak menghindari pertanyaan. Ia juga ingat apa yang kemudian ia katakan kepada  peneleponnya: “Mati anak saya! Kalau dirawat, pasti ibunya yang ditelepon.”BESTPROFIT

Kata Widodo, ia bicara demikian karena telah punya firasat buruk saat Sigit meninggalkan rumah. Menurut perhitungan kalender Jawa yang ia yakini, hari itu ialah hari apes. Namun, si anak, yang sebelumnya telah dua hari tak pulang ke rumah demi demonstrasi menentang Sidang Istimewa MPR 1998 dan Dwifungsi ABRI, mengacuhkan larangannya. (Baca laporan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan, “Kasus Trisakti, Semanggi I dan II: Penantian dalam Ketidakpastian.”)PT BEST PROFIT 

Seorang opsir polisi di kawasan pembangunan Proyek Tendean mencegah Widodo berangkat mengendarai sepeda motor. Polisi itu khawatir ia tak dapat berkonsentrasi dan malah memperpanjang daftar kenahasannya sendiri. Maka, Widodo berjalan kaki, dengan lengan menggenggam sebutir batu. Ia bertekad menimpuk siapa saja yang coba-coba menghalau jalannya.PT BESTPROFIT FUTURES

Di jalan, ia melihat mahasiswa berdesak-desakan dan para tentara berjaga. Ia sadar itu situasi mencekam, tetapi gejolak perasaan dalam dirinya mengenyahkan rasa takut. Lebih dari itu, ia bahkan menyempatkan diri mampir di kantor Koramil Tebet hanya buat memaki para tentara di sana.

Tiba di RSCM, pukul 22.15, Widodo tak dapat masuk, terhalang mahasiswa dan aparat yang memenuhi jalan. Ia berteriak-teriak, “Anak saya mati! Anak saya mati!” Tentara mengabaikannya, tetapi sejumlah mahasiswa UI membukakan jalan dan mengawalnya ke kamar mayat.PT BEST PROFIT FUTURES

Istri Widodo telah sampai lebih dulu. Tangis perempuan itu menyambut dan melengkapi lelahnya setelah berjalan kaki selama empat jam.

“Mati, Bu? Sudah, kamu cari tenda sama kursi di rumah,” katanya kepada istrinya.

Widodo menemukan putranya, yang masih mengenakan almamater tetapi sudah tak bernyawa. Ia memeluk jasad itu sambil menangis, lalu memandikannya. BESTPROFIT FUTURES

Ia menemukan lubang kecil hitam di dada, tepatnya di area jantung Sigit. Petugas medis kemudian menunjukkan peluru yang menembus jantung Sigit kepadanya.

“Pelurunya pecah jadi tiga,” kata Widodo, dengan keyakinan yang entah datang dari mana, mengingat peristiwa 19 tahun lalu.BEST PROFIT FUTURES

Bersama keluarga korban-korban pelanggaran hak asasi mausia lain, Widodo telah mendatangi para politisi di Senayan, pengadilan negeri, hingga Mahkamah Konstitusi buat menuntut keadilan.

Jalan itu jelas sukar, dan kadang bisa bertambah buruk. Dalam satu demonstrasi, sekitar setahun setelah kematian Sigit, kepala Widodo kena gempur popor tentara.

Sejak 2000, Asih Widodo menemukan cara baru buat menyuarakan tuntutannya. Ia menuliskan pikiran-pikirannya di papan kayu, menjahitkan kata-kata dan gambar wajah putranya di jaket, helm, dan bahkan pada sepeda motornya.BPF

“Awalnya, saya mau cetak tulisan saya di kayu itu enggak ada yang berani menerima, baru ada yang mau di Bogor, itu pun setelah saya menjamin: Kalau ada apa-apa, saya yang bertanggung jawab,” katanya.

Widodo memasang perangkat bahana kecil di bagasi motor. Lagu-lagu yang ia setel biasanya lagu-lagu dangdut berirama rancak, buat menarik perhatian orang kepada pesan pada jaket, helm, dan sepeda motornya saat ia berkeliling Jakarta. Lagu-lagu itu seolah menjadi elegi buat kematian Sigit dan kejahatan negara terhadap rakyatnya sendiri.BESTPRO

Sembilan belas tahun bukan waktu yang singkat, tetapi tentu tak cukup buat menghapuskan kenangan Widodo tentang putranya dan hasratnya mendapatkan keadilan.

Ia ingat, Sigit pernah berkata ingin membeli sepeda motor dengan uangnya sendiri dan tak akan menjalin hubungan asmara sebelum membiayai ibunya berhaji.

“Kematian Sigit sudah risiko. Jadi aktivis itu satu: digebukin, duadisel, tiga: mati. Kalau selamat, jadi menteri,” ujar Asih dengan nada tinggi.

Agus Marto Bicara Pemanfaatan Big Data & Transformasi Kebijakan Moneter BI

BEST PROFIT – JAKARTA – Perkembangan Internet yang pesat menjadi tantangan tersendiri bagi semua pihak, termasuk bagi para pengambil kebijakan dalam mengelola data dan informasi di era Big Data saat ini.

Tantangan pada era Big Data ini meliputi pemerolehan, kurasi, penyimpanan, penelusuran (search), pembagian, pemindahan, analisis, dan visualisasi data. Tren kian membesarnya himpunan data terjadi akibat bertambahnya informasi dari himpunan-himpunan besar yang saling terkait, dibandingkan dengan himpunan-himpunan kecil lain dengan jumlah total data yang sama.

Korelasi baru dapat ditemukan dalam analisis himpunan data guna “mencermati tren bisnis, menentukan kualitas penelitian, mencegah penyakit, melawan tindak pidana, dan mengetahui kondisi lalu lintas jalan raya secara waktu nyata (Wikipedia).BESTPROFIT

Pada hari ini, Rabu 9 Agustus 2017, dilaksanakan Seminar Nasional Big Data yang dalam kesempatan itu, Gubernur Bank Indonesia Agus D.W Martowardojo hadir secara khusus menyampaikan Keynote Speech dalam seminar yang bertajuk “Globalisasi Digital: Optimalisasi Pemanfaatan Big Data untuk Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi”

Dalam pemaparannya, Agus Marto menyoroti era revolusi digital dewasa ini menurutnya terdapat 3 faktor utama pendorong dari gelombang revolusi industri keempat itu. Pertama, perkembangan telepon seluler.. Kedua, Internet of Things (IoT). Ketiga, Big Data yang didukung oleh kemampuan komputer melakukan analisis yang kompleks (advance analytics).

Untuk mengetahui lebih jauh tentang pemaparan Gubernur BI tentang tantangan dan pemanfaatan Big Data bagi otoritas moneter dalam menentukan arah kebijakannya, Bisnis.com menyajikan khusus materi Keynote Speech tersebut secara lengkap berikut ini. Selamat menyimak.

Yang kami hormati:

– Para Anggota Dewan Gubernur Bank Indonesia – Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan
– Ketua dan anggota Badan Supervisi Bank Indonesia (BSBI)
– Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Bpk. Djarot Saiful Hidayat
– Walikota Makassar, Bpk. M. Ramdhan Pomanto
– Para Panelis dan Moderator Seminar
– Bapak/Ibu, Hadirin sekalian yang berbahagia

Assalamu’alaikum Wr Wb
Selamat Pagi dan Salam Sejahtera bagi kita semua,

Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, karena hanya atas perkenan-Nya kita semua dapat hadir dalam keadaan sehat dan baik untuk bersama-sama mengikuti Seminar Nasional Big Data dengan tema “Globalisasi Digital: Optimalisasi Pemanfatan Big Data untuk Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi”PT BESTPROFIT

Bapak/Ibu, hadirin yang kami hormati,
Saat ini kita memasuki era revolusi digital, yang juga disebut sebagai revolusi industri keempat. Jika revolusi industri pertama ditandai dengan lahirnya mesin uap, revolusi industri kedua dengan munculnya elektrifikasi dan produksi massal, dan revolusi industri ketiga ditandai dengan munculnya teknologi internet, maka revolusi industri keempat adalah fase dimana hampir semua sendi kehidupan kita telah tersentuh layanan digital. Pada fase ini layanan digital telah mempengaruhi cara kita membuat keputusan, cara kita berinteraksi dengan orang lain, dan sekaligus telah mendorong munculnya model-model bisnis baru yang jauh lebih efisien dan inovatif.

Kami mencermati paling tidak terdapat 3 faktor utama pendorong gelombang revolusi digital. Pertama, perkembangan telepon seluler. Dewasa ini, telepon seluler telah menjadi perangkat utama untuk mengakses internet. Mayoritas lalu lintas online dunia saat ini berasal dari perangkat telepon seluler.

Kedua, Internet of Things (IoT). Di 2016, mengutip data Statista, perusahaan penyedia data statistik online berpusat di Jerman, hampir 18 miliar piranti berbasis internet telah saling terkoneksi yang mengakibatkan terciptanya konsep-konsep inovatif seperti smart homes.PT BESTPROFIT FUTURES

Ketiga, Big Data yang didukung oleh kemampuan komputer melakukan analisis yang kompleks (advance analytics). Di 2016, lalu lintas internet global setidaknya telah mencapai 1,2 zetabyte atau 1,2 triliun gigabytes (Cisco 2016),yang terutama dipicu oleh peningkatan tren penggunaan media sosial melalui perangkat gawai (gadget). Pada 2013 saja terdapat setidaknya 1,85 miliar pengguna aktif media sosial, yang kemudian meningkat menjadi 2,8 miliar pada 2016, mengutip We are Social (2017) sebuah global agency di bidang sosial media, berpusat di New York.

Aktivitas media sosial dan layanan digital yang makin meluas tersebut telah mendorong terciptanya data baru secara masif. Data yang berjumlah sangat besar, bervariasi dan dihasilkan secara sangat cepat (real time) inilah yang dikenal sebagai Big Data. Seiring dengan perkembangan teknologi komputasi yang pesat, saat ini kita telah dapat menyaring informasi dan melakukan analisa yang mendalam (advance analytics) terhadap data tersebut, sehingga dapat digunakan untuk keperluan yang produktif.

Ketiga faktor di atas merupakan bagian dari fenomena terobosan teknologi yang dikenal dengan nama disruptive technologies. Fenomena ini menggambarkan bagaimana terobosan teknologi mampu merubah banyak hal dalam kehidupan masyarakat.BEST PROFIT FUTURES

Munculnya berbagai aplikasi sosial media misalnya, telah menyebabkan perubahan dalam cara manusia berinteraksi, e-commerce telah menggeser preferensi masyarakat dari berbelanja di pusat perbelanjaan menjadi belanja secara online, teknologi cloud computing telah merubah metode penyimpanan data secara konvensional, dan lain sebagainya. Secara bersama-sama, disruptive technologies inilah yang menjadi motor penggerak utama bergulirnya revolusi digital secara global.

Bapak/Ibu, hadirin yang kami hormati,
Revolusi digital tak dapat dihindari juga telah melanda Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, kita melihat pertumbuhan perusahaan-perusahaan start-ups berbasis digital yang luar biasa, baik di perdagangan barang dan jasa (e-commerce), moda pembayaran, maupun pembiayaan. Jumlah pengguna internet yang berbelanja secara online di tanah air pada 2016 telah mencapai 24,74 juta orang (Statista 2016).BPF

Selama setahun terakhir, para pengguna internet tersebut telah membelanjakan uang sekitar USD5,6 miliar (sekitar Rp75 triliun) di berbagai e-commerce. Dengan kata lain, setiap pengguna e-commerce di Indonesia rata-rata membelanjakan Rp3 juta per tahun. Aktivitas belanja online yang tinggi ini sejalan dengan keaktifan orang Indonesia di berbagai media sosial. Jakarta bahkan dikenal sebagai “Twitter capital of the world”.

Selain e-commerce, revolusi digital di Indonesia juga telah menyentuh sektor keuangan. Hal ini antara lain terlihat dari jumlah fintech player di Indonesia yang dalam 2 tahun terakhir (2015-2016) tumbuh pesat sebesar 78%.

Bapak/Ibu, hadirin yang kami hormati,
Potensi besar Indonesia dalam memanfaatkan era digital ini sayangnya masih belum kita optimalkan. Hal ini mengingat penetrasi internet/rasio antara jumlah pengguna internet dan jumlah penduduk di Indonesia tergolong masih cukup rendah, yaitu sekitar 51% pada 2016 (sumber We are Social 2017). Angka ini masih relatif jauh dibawah negara-negara tetangga kita, seperti Malaysia (71%) dan Thailand (67%). Sebagai perbandingan, angka penetrasi internet di negara seperti Inggris dan Jepang sudah mencapai di atas 90%.

Persoalan utama yang menyebabkan belum optimalnya pemanfaatan teknologi digital di Indonesia berasal dari kualitas layanan internet yang relatif masih tertinggal dibandingkan negara lain. Hambatan lain adalah pengeluaran investasi di bidang teknologi informasi (TI) yang juga relatif tertinggal dibanding negara lain.

Investasi TI di sektor-sektor utama pemberi kontribusi ke pertumbuhan ekonomi seperti manufaktur dan pertambangan relatif masih rendah, bahkan cenderung lebih rendah dibandingkan negara-negara dalam kelompok yang sama. Namun investasi yang cukup tinggi tercatat di sektor tersier seperti e-commerce dan fintech yang pada 2016 diperkirakan mencapai sebesar USD1,7 miliar.PT BEST PROFIT FUTURES

Apabila hambatan-hambatan dalam pemanfaatan teknologi digital tersebut dapat diatasi, maka diperkirakan bahwa digitalisasi ekonomi mampu memberikan nilai tambah sebesar USD150 miliar terhadap PDB Indonesia pada 2025 (sekitar 10% terhadap PDB), yang dibarengi dengan peningkatan penyerapan tenaga kerja mencapai hampir 4 juta orang (Studi Mc Kinsey Indonesia: McKinsey Indonesia-2016, Unlocking Indonesia’s Digital Opportunity)

Revolusi digital yang memicu aktivitas berbasis digital yang makin meluas telah menciptakan ledakan informasi maupun banjir data. Selain jumlahnya yang sangat besar dan dihasilkan dengan sangat cepat, variasi data yang tercipta juga sangat beragam, sehingga Big Data memiliki karakteristik yang dikenal dengan 3V, yaitu : volume, variety, dan velocity. Karakteristik ini kemudian berkembang menjadi 5V, dengan tambahan value dan veracity (keyakinan terhadap kebenaran data).

Data yang berjumlah sangat besar ini sayangnya masih sangat sedikit yang telah termanfaatkan. Studi oleh IBM menunjukkan bahwa 80% dari semua data di dunia baik yang berupa teks, gambar, video ataupun suara, belum dapat dimanfaatkan, terutama karena sifatnya yang tidak terstruktur. Di sisi lain, disadari bahwa data yang sangat besar tersebut sesungguhnya menyimpan begitu banyak informasi dan pengetahuan yang lebih dalam, yang apabila diolah dengan baik, dapat memberikan manfaat yang luar biasa.

Mencermati fenomena, ini maka seminar kali ini secara khusus mengangkat tema: “Globalisasi Digital: Optimalisasi Pemanfaatan Big Data untuk Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi”.

Dalam pengamatan kami, pemanfaatan Big Data di Tanah Air dalam 5 tahun terakhir telah semakin meluas. Industri komersial, termasuk di dalamnya industri sektor keuangan, relatif telah lebih dahulu memanfaatkan Big Data guna mendukung aktivitas bisnisnya, antara lain untuk meningkatkan pelayanan kepada pelanggan secara lebih efisien dan efektif, mengurangi biaya distribusi serta memperkuat analisis risiko bisnis di sektor keuangan.

Beberapa instansi pemerintah/otoritas di Indonesia juga sudah mulai menggunakan Big Data dalam pengambilan kebijakan ataupun mendukung proses kerjanya. Pemerintah daerah melalui aplikasi smart city juga secara proaktif telah mulai memanfaatkan Big Data bagi peningkatan kualitas layanan publik seperti pendidikan, kesehatan, transportasi dan keamanan kota.

Maraknya pengembangan smart city di berbagai kota memunculkan pula sumber data yang potensial dimanfaatkan lebih lanjut. Apabila data yang tersimpan pada setiap smart city dapat saling terhubung, bisa jadi persoalan di satu kota ditemukan solusinya di kota lain. Contohnya, pemetaan secara cermat mengenai data surplus atau defisit komoditas antar kota dapat disinergikan untuk mengurangi volatilitas pasokan dan ketimpangan harga.

Sementara itu, kalangan Bank Sentral, termasuk Bank Indonesia, dalam beberapa tahun terakhir juga sudah mulai memanfaatkan Big Data guna mendukung proses pengambilan keputusan.

 

Bapak/Ibu, hadirin yang kami hormati,
Pemanfaatan Big Data di Bank Indonesia dimulai pada bulan Oktober 2014, sejalan dengan dicanangkannya Program Transformasi Menuju Bank Indonesia 2024. Salah satu tema transformasi tersebut adalah state of the art technology, yang pada intinya adalah mendorong Bank Indonesia untuk memanfaatkan teknologi dan pendekatan mutakhir yang akan membantu Bank Indonesia dalam mencapai visi dan misinya secara efektif dan efisien.

Secara khusus, pemanfaatan Big Data di Bank Indonesia diharapkan dapat memperkuat proses pengambilan keputusan di sektor Moneter, Pasar Keuangan, Stabilitas Sistem Keuangan (SSK), Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah (SP-PUR).

Melalui pengamatan yang mendalam, manfaat Big Data bagi Bank Indonesia setidaknya akan diperoleh dari beberapa area sebagai berikut:

Tersedianya indikator-indikator baru secara lebih cepat dan lebih sering (high frequency) untuk mengatasi isu data lag yang seringkali dihadapi dalam perumusan kebijakan.
Keterkaitan antar pelaku keuangan (termasuk di dalamnya bank, lembaga keuangan non bank, maupun korporasi) dapat dipetakan secara lebih baik melalui penguatan network analytics guna memitigasi risiko sistemik.

Persepsi publik atas kebijakan Bank Indonesia dapat dipantau secara lebih akurat melalui sentiment analysis guna perbaikan strategi komunikasi kebijakan Bank Indonesia. Kami merumuskan pengembangan Big Data di Bank Indonesia menjadi tiga fase, yaitu (i) establishing foundation 2015-2018, (ii) empowering 2019-2021 dan (iii) executing innovative use 2022 – dst.

Dalam proses membangun pondasi yang kokoh untuk pemanfaatan Big Data, Bank Indonesia telah melaksanakan sejumlah pilot projects yang menghasilkan sejumlah indikator baru yang bersumber dari berbagai portal online, seperti indeks job vacancy dan indeks harga properti.

Selain itu, Big Data analytics mulai digunakan secara rutin sebagai bagian dari asesmen framework pengawasan sistem pembayaran. Untuk mendukung itu semua, terus dibangun kapabilitas baru untuk mengolah dan menganalisis Big Data.BESTPRO

Pada fase terakhir (mulai 2022), pemanfaatan Big Data di Bank Indonesia diharapkan telah bersifat real time sehingga dapat mendukung terciptanya inovasi penyediaan data/indikator baru dengan memanfaatkan sumber data yang lebih bervariasi sehingga dapat mendukung proses pengambilan keputusan yang berkualitas tinggi.

Apabila hambatan-hambatan dalam pemanfaatan teknologi digital tersebut dapat diatasi, maka diperkirakan bahwa digitalisasi ekonomi mampu memberikan nilai tambah sebesar USD150 miliar terhadap PDB Indonesia pada 2025

Bapak/Ibu, hadirin yang kami hormati,
Kami memandang bahwa secara umum terdapat 3 tantangan utama yang dihadapi dalam pemanfaatan Big Data. Pertama, ketersediaan dan akses terhadap sumber data. Ketersediaan akses data secara real-time merupakan basis bagi perumusan kebijakan yang mampu menjawab situasi terkini.

Di sisi lain, aksesibilitas data juga sering berbenturan dengan aspek kerahasiaan data. Oleh karena itu, perlu dibangun sebuah mekanisme yang dapat menjembatani kepentingan pemilik data agar bersedia untuk sharing data tanpa menimbulkan kekuatiran akan aspek kerahasiaannya.

Tantangan kedua adalah kualitas data. Salah satu karakteristik Big Data yaitu veracity (keyakinan akan kebenaran data), mengingat informasi yang terkandung dalam Big Data adalah data mentah yang masih banyak mengandung “noise”. Proses data cleansing dengan demikian menjadi hal yang kritikal guna memastikan data yang diperoleh bernilai untuk dianalisis lebih lanjut.

Tantangan selanjutnya adalah keterbatasan SDM dengan kualifikasi data scientist. Revolusi digital ternyata belum diimbangi dengan kecukupan keluaran perguruan tinggi yang memiliki keahlian memroses Big Data. Untuk itu, diperlukan kolaborasi erat dengan dunia akademisi agar kapabilitas Big Data dapat juga dibangun secara bertahap di internal institusi.

Kami meyakini bahwa revolusi digital yang tengah berlangsung ini, apabila dapat dimanfaatkan dengan baik, akan mampu membawa Indonesia pada lintasan pertumbuhan ekonomi sekitar 7% per tahun. World Bank (2016) menggambarkan hal ini dengan menggunakan terminologi digital dividens, di mana digitalisasi perekonomian diyakini mampu memberikan terobosan dalam bentuk peningkatan efisiensi di berbagai sektor ekonomi yang lahir dari target maupun keputusan-keputusan bisnis yang lebih akurat, mendorong terciptanya inovasi-inovasi baru, sembari menciptakan ekosistem perekonomian yang lebih inklusif.

Kesemuanya ini pada akhirnya akan meningkatan produktivitas perekonomian secara signifikan, yang pada gilirannya akan membawa perekonomian kepada lintasan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan berkesinambungan, yang diiringi dengan peningkatan kesempatan kerja dan pelayanan publik yang lebih baik.

Terobosan ekonomi digital guna peningkatan kesempatan kerja dan produktivitas merupakan pekerjaan rumah bersama. Dalam hal ini, pengampu kebijakan publik, pelaku usaha, dan akademisi sangat penting untuk saling berkolaborasi.

Sebagai penutup, melalui seminar ini kami ingin mengajak semua elemen masyarakat untuk saling berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam hal pemanfaatan Big Data yang merupakan fenomena tak terpisahkan dari perekonomian digital, sekaligus mendorong terciptanya kolaborasi antar institusi guna mendorong pemanfaatan Big Data secara lebih optimal.

Seminar nasional ini juga merupakan persembahan “Karya Nyata BI di Setiap Makna Indonesia” dalam rangka menggelorakan semangat gotong royong untuk membangun Indonesia yang lebih baik ke depan, sejalan dengan tema peringatan Hari Ulang Tahun ke-72 Kemerdekaan RI yaitu “Indonesia Kerja Bersama”.

Hal ini untuk memastikan potensi digital Indonesia yang sangat besar dapat ditransformasikan untuk pada akhirnya berkontribusi secara konkrit dalam akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional.PT BEST PROFIT

Sekian dan terima kasih
Wassalamu’alaikum Wr Wb

Agus D.W. Martowardojo
Gubernur Bank Indonesia