PT Best Profit Futures Jambi

Category Archives: Artikel

Elegi Pencarian Keadilan Asih Widodo

PT BESTPROFIT – Sebelum saya berkalang tanah, saya akan terus berjuang. Semoga saya nggak sakit-sakit. Kalau mati pasti mati, tapi sebelum saya mati, saya ingin Wiranto dan Habibie dipenjara,” ujar Asih Widodo.

Keberanian Widodo, kini berusia 66 tahun, tak berasal dari kebencian, melainkan cinta. Justru cintalah yang membuatnya betah menuntut. Sigit Prasetyo, putranya, mati ditembak tentara dalam peristiwa Semanggi I dan negara berutang penjelasan kepadanya. Usia anaknya saat itu 18 tahun, mahasiswa teknik sipil Universitas Persada Indonesia.BEST PROFIT

Kamis, 13 November 1998, magrib, Widodo menerima kabar dari seorang pegawai Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) bahwa Sigit sedang dirawat. Ia ingat orang itu bicara dengan tergesa-gesa, seakan-akan hendak menghindari pertanyaan. Ia juga ingat apa yang kemudian ia katakan kepada  peneleponnya: “Mati anak saya! Kalau dirawat, pasti ibunya yang ditelepon.”BESTPROFIT

Kata Widodo, ia bicara demikian karena telah punya firasat buruk saat Sigit meninggalkan rumah. Menurut perhitungan kalender Jawa yang ia yakini, hari itu ialah hari apes. Namun, si anak, yang sebelumnya telah dua hari tak pulang ke rumah demi demonstrasi menentang Sidang Istimewa MPR 1998 dan Dwifungsi ABRI, mengacuhkan larangannya. (Baca laporan Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan, “Kasus Trisakti, Semanggi I dan II: Penantian dalam Ketidakpastian.”)PT BEST PROFIT 

Seorang opsir polisi di kawasan pembangunan Proyek Tendean mencegah Widodo berangkat mengendarai sepeda motor. Polisi itu khawatir ia tak dapat berkonsentrasi dan malah memperpanjang daftar kenahasannya sendiri. Maka, Widodo berjalan kaki, dengan lengan menggenggam sebutir batu. Ia bertekad menimpuk siapa saja yang coba-coba menghalau jalannya.PT BESTPROFIT FUTURES

Di jalan, ia melihat mahasiswa berdesak-desakan dan para tentara berjaga. Ia sadar itu situasi mencekam, tetapi gejolak perasaan dalam dirinya mengenyahkan rasa takut. Lebih dari itu, ia bahkan menyempatkan diri mampir di kantor Koramil Tebet hanya buat memaki para tentara di sana.

Tiba di RSCM, pukul 22.15, Widodo tak dapat masuk, terhalang mahasiswa dan aparat yang memenuhi jalan. Ia berteriak-teriak, “Anak saya mati! Anak saya mati!” Tentara mengabaikannya, tetapi sejumlah mahasiswa UI membukakan jalan dan mengawalnya ke kamar mayat.PT BEST PROFIT FUTURES

Istri Widodo telah sampai lebih dulu. Tangis perempuan itu menyambut dan melengkapi lelahnya setelah berjalan kaki selama empat jam.

“Mati, Bu? Sudah, kamu cari tenda sama kursi di rumah,” katanya kepada istrinya.

Widodo menemukan putranya, yang masih mengenakan almamater tetapi sudah tak bernyawa. Ia memeluk jasad itu sambil menangis, lalu memandikannya. BESTPROFIT FUTURES

Ia menemukan lubang kecil hitam di dada, tepatnya di area jantung Sigit. Petugas medis kemudian menunjukkan peluru yang menembus jantung Sigit kepadanya.

“Pelurunya pecah jadi tiga,” kata Widodo, dengan keyakinan yang entah datang dari mana, mengingat peristiwa 19 tahun lalu.BEST PROFIT FUTURES

Bersama keluarga korban-korban pelanggaran hak asasi mausia lain, Widodo telah mendatangi para politisi di Senayan, pengadilan negeri, hingga Mahkamah Konstitusi buat menuntut keadilan.

Jalan itu jelas sukar, dan kadang bisa bertambah buruk. Dalam satu demonstrasi, sekitar setahun setelah kematian Sigit, kepala Widodo kena gempur popor tentara.

Sejak 2000, Asih Widodo menemukan cara baru buat menyuarakan tuntutannya. Ia menuliskan pikiran-pikirannya di papan kayu, menjahitkan kata-kata dan gambar wajah putranya di jaket, helm, dan bahkan pada sepeda motornya.BPF

“Awalnya, saya mau cetak tulisan saya di kayu itu enggak ada yang berani menerima, baru ada yang mau di Bogor, itu pun setelah saya menjamin: Kalau ada apa-apa, saya yang bertanggung jawab,” katanya.

Widodo memasang perangkat bahana kecil di bagasi motor. Lagu-lagu yang ia setel biasanya lagu-lagu dangdut berirama rancak, buat menarik perhatian orang kepada pesan pada jaket, helm, dan sepeda motornya saat ia berkeliling Jakarta. Lagu-lagu itu seolah menjadi elegi buat kematian Sigit dan kejahatan negara terhadap rakyatnya sendiri.BESTPRO

Sembilan belas tahun bukan waktu yang singkat, tetapi tentu tak cukup buat menghapuskan kenangan Widodo tentang putranya dan hasratnya mendapatkan keadilan.

Ia ingat, Sigit pernah berkata ingin membeli sepeda motor dengan uangnya sendiri dan tak akan menjalin hubungan asmara sebelum membiayai ibunya berhaji.

“Kematian Sigit sudah risiko. Jadi aktivis itu satu: digebukin, duadisel, tiga: mati. Kalau selamat, jadi menteri,” ujar Asih dengan nada tinggi.

Agus Marto Bicara Pemanfaatan Big Data & Transformasi Kebijakan Moneter BI

BEST PROFIT – JAKARTA – Perkembangan Internet yang pesat menjadi tantangan tersendiri bagi semua pihak, termasuk bagi para pengambil kebijakan dalam mengelola data dan informasi di era Big Data saat ini.

Tantangan pada era Big Data ini meliputi pemerolehan, kurasi, penyimpanan, penelusuran (search), pembagian, pemindahan, analisis, dan visualisasi data. Tren kian membesarnya himpunan data terjadi akibat bertambahnya informasi dari himpunan-himpunan besar yang saling terkait, dibandingkan dengan himpunan-himpunan kecil lain dengan jumlah total data yang sama.

Korelasi baru dapat ditemukan dalam analisis himpunan data guna “mencermati tren bisnis, menentukan kualitas penelitian, mencegah penyakit, melawan tindak pidana, dan mengetahui kondisi lalu lintas jalan raya secara waktu nyata (Wikipedia).BESTPROFIT

Pada hari ini, Rabu 9 Agustus 2017, dilaksanakan Seminar Nasional Big Data yang dalam kesempatan itu, Gubernur Bank Indonesia Agus D.W Martowardojo hadir secara khusus menyampaikan Keynote Speech dalam seminar yang bertajuk “Globalisasi Digital: Optimalisasi Pemanfaatan Big Data untuk Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi”

Dalam pemaparannya, Agus Marto menyoroti era revolusi digital dewasa ini menurutnya terdapat 3 faktor utama pendorong dari gelombang revolusi industri keempat itu. Pertama, perkembangan telepon seluler.. Kedua, Internet of Things (IoT). Ketiga, Big Data yang didukung oleh kemampuan komputer melakukan analisis yang kompleks (advance analytics).

Untuk mengetahui lebih jauh tentang pemaparan Gubernur BI tentang tantangan dan pemanfaatan Big Data bagi otoritas moneter dalam menentukan arah kebijakannya, Bisnis.com menyajikan khusus materi Keynote Speech tersebut secara lengkap berikut ini. Selamat menyimak.

Yang kami hormati:

– Para Anggota Dewan Gubernur Bank Indonesia – Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan
– Ketua dan anggota Badan Supervisi Bank Indonesia (BSBI)
– Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Bpk. Djarot Saiful Hidayat
– Walikota Makassar, Bpk. M. Ramdhan Pomanto
– Para Panelis dan Moderator Seminar
– Bapak/Ibu, Hadirin sekalian yang berbahagia

Assalamu’alaikum Wr Wb
Selamat Pagi dan Salam Sejahtera bagi kita semua,

Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, karena hanya atas perkenan-Nya kita semua dapat hadir dalam keadaan sehat dan baik untuk bersama-sama mengikuti Seminar Nasional Big Data dengan tema “Globalisasi Digital: Optimalisasi Pemanfatan Big Data untuk Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi”PT BESTPROFIT

Bapak/Ibu, hadirin yang kami hormati,
Saat ini kita memasuki era revolusi digital, yang juga disebut sebagai revolusi industri keempat. Jika revolusi industri pertama ditandai dengan lahirnya mesin uap, revolusi industri kedua dengan munculnya elektrifikasi dan produksi massal, dan revolusi industri ketiga ditandai dengan munculnya teknologi internet, maka revolusi industri keempat adalah fase dimana hampir semua sendi kehidupan kita telah tersentuh layanan digital. Pada fase ini layanan digital telah mempengaruhi cara kita membuat keputusan, cara kita berinteraksi dengan orang lain, dan sekaligus telah mendorong munculnya model-model bisnis baru yang jauh lebih efisien dan inovatif.

Kami mencermati paling tidak terdapat 3 faktor utama pendorong gelombang revolusi digital. Pertama, perkembangan telepon seluler. Dewasa ini, telepon seluler telah menjadi perangkat utama untuk mengakses internet. Mayoritas lalu lintas online dunia saat ini berasal dari perangkat telepon seluler.

Kedua, Internet of Things (IoT). Di 2016, mengutip data Statista, perusahaan penyedia data statistik online berpusat di Jerman, hampir 18 miliar piranti berbasis internet telah saling terkoneksi yang mengakibatkan terciptanya konsep-konsep inovatif seperti smart homes.PT BESTPROFIT FUTURES

Ketiga, Big Data yang didukung oleh kemampuan komputer melakukan analisis yang kompleks (advance analytics). Di 2016, lalu lintas internet global setidaknya telah mencapai 1,2 zetabyte atau 1,2 triliun gigabytes (Cisco 2016),yang terutama dipicu oleh peningkatan tren penggunaan media sosial melalui perangkat gawai (gadget). Pada 2013 saja terdapat setidaknya 1,85 miliar pengguna aktif media sosial, yang kemudian meningkat menjadi 2,8 miliar pada 2016, mengutip We are Social (2017) sebuah global agency di bidang sosial media, berpusat di New York.

Aktivitas media sosial dan layanan digital yang makin meluas tersebut telah mendorong terciptanya data baru secara masif. Data yang berjumlah sangat besar, bervariasi dan dihasilkan secara sangat cepat (real time) inilah yang dikenal sebagai Big Data. Seiring dengan perkembangan teknologi komputasi yang pesat, saat ini kita telah dapat menyaring informasi dan melakukan analisa yang mendalam (advance analytics) terhadap data tersebut, sehingga dapat digunakan untuk keperluan yang produktif.

Ketiga faktor di atas merupakan bagian dari fenomena terobosan teknologi yang dikenal dengan nama disruptive technologies. Fenomena ini menggambarkan bagaimana terobosan teknologi mampu merubah banyak hal dalam kehidupan masyarakat.BEST PROFIT FUTURES

Munculnya berbagai aplikasi sosial media misalnya, telah menyebabkan perubahan dalam cara manusia berinteraksi, e-commerce telah menggeser preferensi masyarakat dari berbelanja di pusat perbelanjaan menjadi belanja secara online, teknologi cloud computing telah merubah metode penyimpanan data secara konvensional, dan lain sebagainya. Secara bersama-sama, disruptive technologies inilah yang menjadi motor penggerak utama bergulirnya revolusi digital secara global.

Bapak/Ibu, hadirin yang kami hormati,
Revolusi digital tak dapat dihindari juga telah melanda Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, kita melihat pertumbuhan perusahaan-perusahaan start-ups berbasis digital yang luar biasa, baik di perdagangan barang dan jasa (e-commerce), moda pembayaran, maupun pembiayaan. Jumlah pengguna internet yang berbelanja secara online di tanah air pada 2016 telah mencapai 24,74 juta orang (Statista 2016).BPF

Selama setahun terakhir, para pengguna internet tersebut telah membelanjakan uang sekitar USD5,6 miliar (sekitar Rp75 triliun) di berbagai e-commerce. Dengan kata lain, setiap pengguna e-commerce di Indonesia rata-rata membelanjakan Rp3 juta per tahun. Aktivitas belanja online yang tinggi ini sejalan dengan keaktifan orang Indonesia di berbagai media sosial. Jakarta bahkan dikenal sebagai “Twitter capital of the world”.

Selain e-commerce, revolusi digital di Indonesia juga telah menyentuh sektor keuangan. Hal ini antara lain terlihat dari jumlah fintech player di Indonesia yang dalam 2 tahun terakhir (2015-2016) tumbuh pesat sebesar 78%.

Bapak/Ibu, hadirin yang kami hormati,
Potensi besar Indonesia dalam memanfaatkan era digital ini sayangnya masih belum kita optimalkan. Hal ini mengingat penetrasi internet/rasio antara jumlah pengguna internet dan jumlah penduduk di Indonesia tergolong masih cukup rendah, yaitu sekitar 51% pada 2016 (sumber We are Social 2017). Angka ini masih relatif jauh dibawah negara-negara tetangga kita, seperti Malaysia (71%) dan Thailand (67%). Sebagai perbandingan, angka penetrasi internet di negara seperti Inggris dan Jepang sudah mencapai di atas 90%.

Persoalan utama yang menyebabkan belum optimalnya pemanfaatan teknologi digital di Indonesia berasal dari kualitas layanan internet yang relatif masih tertinggal dibandingkan negara lain. Hambatan lain adalah pengeluaran investasi di bidang teknologi informasi (TI) yang juga relatif tertinggal dibanding negara lain.

Investasi TI di sektor-sektor utama pemberi kontribusi ke pertumbuhan ekonomi seperti manufaktur dan pertambangan relatif masih rendah, bahkan cenderung lebih rendah dibandingkan negara-negara dalam kelompok yang sama. Namun investasi yang cukup tinggi tercatat di sektor tersier seperti e-commerce dan fintech yang pada 2016 diperkirakan mencapai sebesar USD1,7 miliar.PT BEST PROFIT FUTURES

Apabila hambatan-hambatan dalam pemanfaatan teknologi digital tersebut dapat diatasi, maka diperkirakan bahwa digitalisasi ekonomi mampu memberikan nilai tambah sebesar USD150 miliar terhadap PDB Indonesia pada 2025 (sekitar 10% terhadap PDB), yang dibarengi dengan peningkatan penyerapan tenaga kerja mencapai hampir 4 juta orang (Studi Mc Kinsey Indonesia: McKinsey Indonesia-2016, Unlocking Indonesia’s Digital Opportunity)

Revolusi digital yang memicu aktivitas berbasis digital yang makin meluas telah menciptakan ledakan informasi maupun banjir data. Selain jumlahnya yang sangat besar dan dihasilkan dengan sangat cepat, variasi data yang tercipta juga sangat beragam, sehingga Big Data memiliki karakteristik yang dikenal dengan 3V, yaitu : volume, variety, dan velocity. Karakteristik ini kemudian berkembang menjadi 5V, dengan tambahan value dan veracity (keyakinan terhadap kebenaran data).

Data yang berjumlah sangat besar ini sayangnya masih sangat sedikit yang telah termanfaatkan. Studi oleh IBM menunjukkan bahwa 80% dari semua data di dunia baik yang berupa teks, gambar, video ataupun suara, belum dapat dimanfaatkan, terutama karena sifatnya yang tidak terstruktur. Di sisi lain, disadari bahwa data yang sangat besar tersebut sesungguhnya menyimpan begitu banyak informasi dan pengetahuan yang lebih dalam, yang apabila diolah dengan baik, dapat memberikan manfaat yang luar biasa.

Mencermati fenomena, ini maka seminar kali ini secara khusus mengangkat tema: “Globalisasi Digital: Optimalisasi Pemanfaatan Big Data untuk Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi”.

Dalam pengamatan kami, pemanfaatan Big Data di Tanah Air dalam 5 tahun terakhir telah semakin meluas. Industri komersial, termasuk di dalamnya industri sektor keuangan, relatif telah lebih dahulu memanfaatkan Big Data guna mendukung aktivitas bisnisnya, antara lain untuk meningkatkan pelayanan kepada pelanggan secara lebih efisien dan efektif, mengurangi biaya distribusi serta memperkuat analisis risiko bisnis di sektor keuangan.

Beberapa instansi pemerintah/otoritas di Indonesia juga sudah mulai menggunakan Big Data dalam pengambilan kebijakan ataupun mendukung proses kerjanya. Pemerintah daerah melalui aplikasi smart city juga secara proaktif telah mulai memanfaatkan Big Data bagi peningkatan kualitas layanan publik seperti pendidikan, kesehatan, transportasi dan keamanan kota.

Maraknya pengembangan smart city di berbagai kota memunculkan pula sumber data yang potensial dimanfaatkan lebih lanjut. Apabila data yang tersimpan pada setiap smart city dapat saling terhubung, bisa jadi persoalan di satu kota ditemukan solusinya di kota lain. Contohnya, pemetaan secara cermat mengenai data surplus atau defisit komoditas antar kota dapat disinergikan untuk mengurangi volatilitas pasokan dan ketimpangan harga.

Sementara itu, kalangan Bank Sentral, termasuk Bank Indonesia, dalam beberapa tahun terakhir juga sudah mulai memanfaatkan Big Data guna mendukung proses pengambilan keputusan.

 

Bapak/Ibu, hadirin yang kami hormati,
Pemanfaatan Big Data di Bank Indonesia dimulai pada bulan Oktober 2014, sejalan dengan dicanangkannya Program Transformasi Menuju Bank Indonesia 2024. Salah satu tema transformasi tersebut adalah state of the art technology, yang pada intinya adalah mendorong Bank Indonesia untuk memanfaatkan teknologi dan pendekatan mutakhir yang akan membantu Bank Indonesia dalam mencapai visi dan misinya secara efektif dan efisien.

Secara khusus, pemanfaatan Big Data di Bank Indonesia diharapkan dapat memperkuat proses pengambilan keputusan di sektor Moneter, Pasar Keuangan, Stabilitas Sistem Keuangan (SSK), Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah (SP-PUR).

Melalui pengamatan yang mendalam, manfaat Big Data bagi Bank Indonesia setidaknya akan diperoleh dari beberapa area sebagai berikut:

Tersedianya indikator-indikator baru secara lebih cepat dan lebih sering (high frequency) untuk mengatasi isu data lag yang seringkali dihadapi dalam perumusan kebijakan.
Keterkaitan antar pelaku keuangan (termasuk di dalamnya bank, lembaga keuangan non bank, maupun korporasi) dapat dipetakan secara lebih baik melalui penguatan network analytics guna memitigasi risiko sistemik.

Persepsi publik atas kebijakan Bank Indonesia dapat dipantau secara lebih akurat melalui sentiment analysis guna perbaikan strategi komunikasi kebijakan Bank Indonesia. Kami merumuskan pengembangan Big Data di Bank Indonesia menjadi tiga fase, yaitu (i) establishing foundation 2015-2018, (ii) empowering 2019-2021 dan (iii) executing innovative use 2022 – dst.

Dalam proses membangun pondasi yang kokoh untuk pemanfaatan Big Data, Bank Indonesia telah melaksanakan sejumlah pilot projects yang menghasilkan sejumlah indikator baru yang bersumber dari berbagai portal online, seperti indeks job vacancy dan indeks harga properti.

Selain itu, Big Data analytics mulai digunakan secara rutin sebagai bagian dari asesmen framework pengawasan sistem pembayaran. Untuk mendukung itu semua, terus dibangun kapabilitas baru untuk mengolah dan menganalisis Big Data.BESTPRO

Pada fase terakhir (mulai 2022), pemanfaatan Big Data di Bank Indonesia diharapkan telah bersifat real time sehingga dapat mendukung terciptanya inovasi penyediaan data/indikator baru dengan memanfaatkan sumber data yang lebih bervariasi sehingga dapat mendukung proses pengambilan keputusan yang berkualitas tinggi.

Apabila hambatan-hambatan dalam pemanfaatan teknologi digital tersebut dapat diatasi, maka diperkirakan bahwa digitalisasi ekonomi mampu memberikan nilai tambah sebesar USD150 miliar terhadap PDB Indonesia pada 2025

Bapak/Ibu, hadirin yang kami hormati,
Kami memandang bahwa secara umum terdapat 3 tantangan utama yang dihadapi dalam pemanfaatan Big Data. Pertama, ketersediaan dan akses terhadap sumber data. Ketersediaan akses data secara real-time merupakan basis bagi perumusan kebijakan yang mampu menjawab situasi terkini.

Di sisi lain, aksesibilitas data juga sering berbenturan dengan aspek kerahasiaan data. Oleh karena itu, perlu dibangun sebuah mekanisme yang dapat menjembatani kepentingan pemilik data agar bersedia untuk sharing data tanpa menimbulkan kekuatiran akan aspek kerahasiaannya.

Tantangan kedua adalah kualitas data. Salah satu karakteristik Big Data yaitu veracity (keyakinan akan kebenaran data), mengingat informasi yang terkandung dalam Big Data adalah data mentah yang masih banyak mengandung “noise”. Proses data cleansing dengan demikian menjadi hal yang kritikal guna memastikan data yang diperoleh bernilai untuk dianalisis lebih lanjut.

Tantangan selanjutnya adalah keterbatasan SDM dengan kualifikasi data scientist. Revolusi digital ternyata belum diimbangi dengan kecukupan keluaran perguruan tinggi yang memiliki keahlian memroses Big Data. Untuk itu, diperlukan kolaborasi erat dengan dunia akademisi agar kapabilitas Big Data dapat juga dibangun secara bertahap di internal institusi.

Kami meyakini bahwa revolusi digital yang tengah berlangsung ini, apabila dapat dimanfaatkan dengan baik, akan mampu membawa Indonesia pada lintasan pertumbuhan ekonomi sekitar 7% per tahun. World Bank (2016) menggambarkan hal ini dengan menggunakan terminologi digital dividens, di mana digitalisasi perekonomian diyakini mampu memberikan terobosan dalam bentuk peningkatan efisiensi di berbagai sektor ekonomi yang lahir dari target maupun keputusan-keputusan bisnis yang lebih akurat, mendorong terciptanya inovasi-inovasi baru, sembari menciptakan ekosistem perekonomian yang lebih inklusif.

Kesemuanya ini pada akhirnya akan meningkatan produktivitas perekonomian secara signifikan, yang pada gilirannya akan membawa perekonomian kepada lintasan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan berkesinambungan, yang diiringi dengan peningkatan kesempatan kerja dan pelayanan publik yang lebih baik.

Terobosan ekonomi digital guna peningkatan kesempatan kerja dan produktivitas merupakan pekerjaan rumah bersama. Dalam hal ini, pengampu kebijakan publik, pelaku usaha, dan akademisi sangat penting untuk saling berkolaborasi.

Sebagai penutup, melalui seminar ini kami ingin mengajak semua elemen masyarakat untuk saling berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam hal pemanfaatan Big Data yang merupakan fenomena tak terpisahkan dari perekonomian digital, sekaligus mendorong terciptanya kolaborasi antar institusi guna mendorong pemanfaatan Big Data secara lebih optimal.

Seminar nasional ini juga merupakan persembahan “Karya Nyata BI di Setiap Makna Indonesia” dalam rangka menggelorakan semangat gotong royong untuk membangun Indonesia yang lebih baik ke depan, sejalan dengan tema peringatan Hari Ulang Tahun ke-72 Kemerdekaan RI yaitu “Indonesia Kerja Bersama”.

Hal ini untuk memastikan potensi digital Indonesia yang sangat besar dapat ditransformasikan untuk pada akhirnya berkontribusi secara konkrit dalam akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional.PT BEST PROFIT

Sekian dan terima kasih
Wassalamu’alaikum Wr Wb

Agus D.W. Martowardojo
Gubernur Bank Indonesia

 

PT Bestprofit – Yusuf Mansur Dituduh Menebar Kisah Fiktif untuk Pikat Jemaah

Yusuf Mansur Dituduh Menebar Kisah Fiktif untuk Pikat JemaahPT Bestprofit – Jam’an Nurchotib Mansur alias Yusuf Mansur Alias Yusuf Mansur dianggap bermasalah dalam hal metode dakwahnya. Untuk memancing jemaah bersedekah, ia membangun narasi “dramatik” yang diduga fiktif.

Hal ini diungkapkan Darso Arief Bakuama, penulis Yusuf Mansur Menebar Cerita Fiktif, Menjaring Harta Umat dan Banyak Orang Bilang: Yusuf Mansur Menipu. Kedua buku itu diterbitkan Teras Publishing pada 2016.

Darso menganalisis ceramah Yusuf Mansur secara langsung maupun lewat video yang diunggah di YouTube.

“Saya berkesimpulan ada pola Yusuf Mansur dalam pengumpulan sedekah. Itu dalam setiap ceramah dia, memotivasi orang untuk mengeluarkan uang, harta, asetnya untuk diserahkan ke dia dengan judul sedekah. Itu dibangun dengan cerita-cerita yang menurut saya fiktif,” kata Darso kepada reporter Tirto, 2 Juli lalu.

“Sedekah dia bermasalah, orang yang mengadu ke dia (tentang) masalah kehidupan, dimintanya sedekah,” lanjut Darso. “Sampai-sampai ada yang datang bawa mobil suruh tinggalin mobilnya. Ada yang bawa motor butut sekalipun diminta motornya.”

Darso mencotohkan salah satu kisah yang diduga fiktif dalam ceramah Yusuf Mansur di Masjid Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada 2 Mei 2013.

Kala itu Yusuf Mansur bercerita bahwa ia bertemu teman perempuannya yang sudah rampung sarjana strata satu di Amerika Serikat dan pascasarjana di Perancis. Perempuan itu kaya raya dan cantik tetapi mau menikah seorang laki-laki miskin yang badannya hanya separuh. Alasannya, kata Mansur, si perempuan ingin ibadah dan yang dilakukannya itu kehendak Allah.

Mansur lalu mengunggah laki-laki yang badannya separuh itu melalui akun Instagramnya (per 17 Juli memiliki 1,6 juta pengikut). Darso menemui laki-laki yang bernama Muhammad Wahyono itu.

Wahyono membantah dilamar oleh wanita cantik, kaya, dan terpelajar seperti yang diceritakan Mansur. “Cerita itu tidak benar. Enggak ada itu. Lha, wong saya tahun ini saja baru 18 tahun. Kalau normal sekalipun saya belum pantas kawin,” kata Wahyono, seperti dikutip dalam buku Darso.

Dalam acara yang lain, bertajuk Kuliah Tauhid bersama Yusuf Mansur, di Gedung Islamic Center, Bojonegoro pada Senin 9 Juli 2012, Mansur bercerita tentang teori The Power of Believe. Menurut Mansur, teori tersebut dari “Barat”—tak jelas teori dari siapa—tetapi yang ingin ditekankannya kita tak perlu bantuan Tuhan dan kerja keras untuk mendapatkan barang impian.

Ia mencontohkan soal motor, yang bila kita elus-elus terus tiap hari dengan harapan berubah jadi mobil, motor itu akan berubah jadi mobil. Kisah ini untuk meyakinkan pendengarnya—jemaah dalam acara tersebut—bahwa umat muslim bisa mendapatkan lebih dari itu bila mau bersedekah.

Kemudian Yusuf Mansur membeberkan cerita tentang seorang perempuan yang ingin menikah. Si perempuan ini datang sebelum pesta pernikahan lalu duduk di kursi pelaminan seolah ia yang akan dinikahkan.

Dengan begitu ia akan enteng jodoh. Tentu, katanya, harus dengan diiringi salat duha dan doa bahwa dialah yang berada di pelaminan tersebut. Sebagai pelengkap, si perempuan yang dikisahkan Mansur tersebut mencopot cincin dan gelang, “Rab, ini buatmu, ganti saya dengan jodoh yang saleh,” kata Mansur dengan nada yang dibuat dramatis.

Secara ajaib, si keluarga laki-laki tak melihat kedatangan keluarga perempuan. Tiba-tiba terdengar informasi ternyata keluarga perempuan membatalkan. Sementara undangan sudah tersebar.

Diumumkanlah di masjid tersebut, bagi siapa yang belum menikah, dipersilakan maju untuk dinikahkan.

“Demi Allah, cerita semacam ini banyak,” kata Mansur, bersemangat. “Saya enggak mau bohong, Pak, Bu. Banyak sekali. Oh, benar, Pak. Saya enggak mau bohong urusan begini. Setidak-tidaknya teman saya pribadi, (ada) dua yang begini, kejatuhan semangka banget!

“Tinggal masuk, semua sudah jadi, sudah disewain segala macam. Subhanallah. Bahkan salah satu pasangan yang seperti itu barusan berangkat umrah bersama saya. Dia sudah punya anak 3,” terang Yusuf Mansur.

Cerita itu tak terdengar rancu karena disampaikan secara lisan dan diiringi sumpah Yusuf Mansur untuk meyakinkan pendengarnya. Tetapi, bila kita agak kritis, ada sejumlah bolong cerita di sana.

Misalnya, di tempat mana si perempuan itu harus berdoa: di lokasi pernikahan atau di masjid? Kedua, soal latar cerita: kejadiannya di mana?

Hal begitu agaknya tidak membuat jemaah Yusuf Mansur meragukan. Jemaahnya terbuai.

Tak lama, seorang perempuan maju. Perempuan itu memberikan cincinnya dan minta dia didoakan agar anaknya menjadi pribadi yang saleh.

Sambil memberikan cincin, si perempuan itu bercerita anaknya bekerja di Pontianak. Perempuan itu mengambil uang Rp500 ribu lalu menyerahkan kepada Mansur.

Mansur berkata, “Ayo, Ibu-ibu, siap-siap. Bapak-bapak, siap-siap. Sudah dibawa, kan?”

Setelah itu ada sebentuk ancaman atau memojokkan jemaah. “Yang punya cincin, gelang, dan belum tergerak buat disedekahin, saya bilang, ‘Enggak usah.’ Tapi nanti Asar, lihatin lagi tangannya, cincin itu tetap segitu, kalung itu tetap segitu? Itulah yang terjadi gara-gara kita tidak sedekahin, 10 tahun lagi pun segitu?” kata Yusuf Mansur.

Ia melanjutkan, “Tapi kalau kita sedekahin—masyaallah—Asar nanti lihat, pasti enggak ada karena sudah disedekahin. Tapi 2, 3, 4 tahun kemudian, saudara beli berapa gram pun bisa. Sebab cabang soto-nya sudah 20 cabang, punya laundry sudah 17 cabang, punya showroom motor sudah 3-4 cabang. Subhanallah!”

Acara itu diselenggarakan Program Pembibitan Penghafal Al-Qur’an (PPPA) Darul Qu’ran Bojonegoro bekerjasama dengan PPPA Darul Qur’an Surabaya dan Toko Buku Togamas Bojonegoro. Usai Mansur dan panitia menutup acara itu, tiada penjelasan berapa total uang dan barang berharga yang diserahkan jemaah dan digunakan untuk apa “sedekah” tersebut.

Pembukuan Sedekah Tanpa Transparansi

PPPA Darul Qur’an membuka banyak rekening dengan beragam bentuk sedekah. Dari untuk sedekah wakaf, untuk kemanusiaan, kegiatan, untuk makan santri, cetak Alquran hingga sawah. Bahkan ada juga program bernama jemput sedekah.

Dalam laporan keuangan PPPA Daarul Qur’an, pada 2015 terkumpul sedekah sekitar Rp24,8 miliar. Pada 2016 sebanyak Rp38,3 miliar. Namun, tidak ada rincian dana itu dari mana dan siapa saja serta dialokasikan ke mana atau untuk apa saja.

Ismail, yang tinggal di Klaten, Jawa Tengah, berkata terpaksa memberikan harta senilai Rp5 juta kepada Yusuf Mansur. Itu sesudah ia mengikuti agenda dakwah dan terpikat oleh jurus kisah sukses bersedekah ala Yusuf Mansur yang membius jemaah rela memberikan harta.

“Saya merasa terpaksa saja. Karena saat itu saya di depan umum,” kata Ismail, 12 Juli lalu.

Ismail dijanjikan bahwa apa yang ia sedekahkan akan berlipat ganda. Ismail saat itu sangat percaya jika Mansur mampu menunaikan amanat. Tapi dugaannya tak sepenuhnya benar.

“Ada janji yang tidak ditepati. Intinya, tidak sesuai dengan akad semula. Makanya saya minta (harta saya) kembali,” ungkap Ismail.

Saat reporter Tirto mengonfirmasikan soal metode dakwahnya, terutama lagi soal pembukuan sedekah jemaah tanpa transparansi, Yusuf Mansur enggan memberi penjelasan.

“Enggak usah diluruskan. Saya salah. Insyaallah saya perbaiki. Saya penuh dengan tidak ketidaktahuan,” kata Mansur, 7 Juli lalu. “Insyaaallah saya akan belajar terus. Jadi, saya tidak akan bela diri. Saya minta maaf saja. Sebagai ustaz, sudah banyak menyusahkan.”

Mansur juga enggan merespons pertanyaan yang bisa berdampak pidana terhadapnya. Misalnya, kami bertanya bagaimana ia dapat menjamin bahwa dana yang disedekahkan itu tak bermasalah di kemudian hari. Misalnya, ternyata uang atau harta sedekah jemaah berasal dari keuangan negara.

Hal semacam itu memungkinkan sebab pihak Yusuf Mansur minim merinci sumber dana yang diperolehnya. Indonesia mengenal UU Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. Pasal 3 dan Pasal 5 menyebutkan ancaman pidana penjara paling lama 20 tahun dan 5 tahun.

Lagi-lagi Yusuf Mansur enggan menanggapi lebih lanjut perkara tersebut. PT Bestprofit, Bestprofit

Best Profit – Malim, Agama Lokal Suku Batak dari Huta Tinggi

Malim, Agama Lokal Suku Batak dari Huta TinggiBest Profit – Manusia pertama di dunia bukanlah Adam dan Hawa. Tapi bernama Si Raja Ihat Manisia dan istrinya Si Boru Ihat Manisia. Tak seperti Adam dan Hawa, yang tempatnya turun pertama kali di Bumi masih diperdebatkan, Raja Ihat dan Boru—tanpa ragu—dikisahkan lahir di Pusuk Buhit, sebuah gunung kecil yang terletak di sebelah barat Pulau Samosir.

Pada pulau vulkanik di tengah Danau Toba, Sumatera Utara, Raja Ihat dan Boru kemudian membangun perkampungan pertama di kaki gunung Pusuk Buhit. Ia diberi nama Sianjurmula-mula. Perkawinan keduanya menghasilkan tiga anak: Raja Miokmiok, Patundal Nibegu, dan Aji Lapaslapas.

Kecuali Raja Miokmiok, dua anak Raja Ihat dan Boru tak diketahui apakah mempunyai keturunan atau tidak. Raja Miokmiok kemudian punya anak bernama Eng Banua, yang punya tiga anak bernama Raja Aceh, Raja Bonangbonang, dan Raja Jau.

Dalam salah satu kisah, Aceh diceritakan sebagai nenek moyang semua suku Aceh, sementara kisah lain meyakini kalau Aceh dan Jau tidak diketahui rimbanya. Sementara Raja Bonangbonang punya anak tunggal bernama Guru Tantan Debata, yang kemudian memiliki putra tunggal bernama Siraja Batak.

Dalam kajian sejarah, Siraja Batak dianggap sebagai nenek moyang orang Batak. Ia dikenal sebagai permulaan catatan tarombo (silsilah), yang dalam budaya Batak kemudian membentuk marga-marga.

Bagi kebanyakan orang Batak masa kini, kisah di atas mitos belaka. Raja Ihat hingga Tatea Bulan—salah seorang dari dua anak Siraja Batak—dianggap sebagai nama-nama fiktif yang memulai keturunan bangsa Batak. Tapi, tidak demikian bagi penganut Ugamo Malim alias agama Malim. Raja Ihat tak hanya dianggap manusia pertama bangsa Batak, ia juga diyakini manusia pertama yang diturunkan di dunia ini.

Malim adalah agama asli dari Tanah Batak. Sebagaimana Adam dan Hawa diyakini sebagai manusia pertama dalam Islam ataupun Kristen, kisah Raja Ihat dan Boru serta keturunan-keturunannya adalah bagian dari ajaran dan keyakinan yang dianut Malim.

Para pengikut agama ini disebut parugamo Malim atau biasa disingkat Parmalim. Jumlah mereka memang sangat kecil. Ibrahim Gultom dalam Agama Malim di Batak (2010) menyebut angkanya cuma berkisar 5 ribu orang atau 1.127 kepala keluarga. Nama Malim atau Parmalim masih jarang didengar, bahkan oleh orang-orang yang tinggal di Sumatera Utara, tempat asal agama ini berkembang.

Belum lagi ia hanya diakui negara sebagai “aliran kepercayaan”, ketimbang agama sebagaimana Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu.

Bagi Malim, Tanah Batak adalah tanah suci. Kawasan ini melingkupi daerah sekitar Danau Toba dan Pulau Samosir, yang menyimpan nilai magis dan ajarannya. Pusat administrasi mereka juga didirikan di sana, tepatnya di Huta Tinggi, Laguboti, Kabupaten Toba Samosir, sekitar 7 hingga 8 jam dari Medan dengan perjalanan darat.

Ibrahim Gultom pernah dua tahun tinggal di sana guna menyelesaikan disertasi tentang agama Malim. Saat Gultom memulai penelitiannya, hanya ada dua kajian terdahulu yang mengupas tentang Malim, yakni tesis yang ditulis oleh Sihombing (1994) dan Siregar (1996). Keduanya tidak mengulik Malim dengan pendekatan antropologi, melainkan teologi dan sosiologi politik. Kajian Gultom menjadi adalah studi akademis paling komprehensif tentang agama ini.

Raja Marnangkok Naipospos, pemimpin pusat agama Malim (1981–2016), mengakui hal itu. Dalam satu pertemuan kami pada Mei 2015, ia menyarankan saya untuk mengobrol dengan Gultom bila ingin mengetahui Malim secara komprehensif.

“Dia itu orang (pendatang) yang paling bagus dan paling mengerti tentang Malim. Dia di sini betul-betul belajar tentang Malim,” kata Raja Marnangkok.

Bagi Parmalim, Raja Marnangkok dikenal sebagai ihutan alias pemimpin tertinggi dalam agama Malim. Ihutan artinya “yang ikuti atau ikutan.” Dalam silsilahnya, Raja Marnangkok adalah Ihutan ketiga, setelah ayahnya, Raja Ungkap Naipospos, dan kakeknya, Raja Mulia Naipospos.

Generasi Ihutan tergolong sedikit tapi bukan berarti Malim adalah ajaran yang baru. Bangsa Batak sendiri, dalam kajian antropologi, diperkirakan sudah ada sejak 1.500 hingga 2.000 tahun lalu. Bahkan menurut Parlindungan(1964), bangsa Batak pertama di Tanah Batak sudah ada sejak 3.000 tahun Sebelum Masehi. Sementara Malim memang baru dideklarasikan sebagai sebuah agama oleh Raja Nasiakbagi dan penerusnya, Raja Mulia Naipospos, pada masa awal kemerdekaan Indonesia.

Sebelumnya, ajaran-ajaran Malim yang belum dilembagakan sudah ada sejak bangsa Batak hadir. Menurut Gultom, penyampaian ajaran agama Malim semula lebih kerap dilakukan secara lisan, dalam bentuk turi-turian (dongeng). Hampir tak ada peninggalan tulisan—semacam kitab suci—yang mengemas cerita asal mula munculnya Malim.

Baru pada masa hidup Siraja Batak, diketahui ada dua surat yang diberikannya kepada kedua anaknya dalam aksara Batak. Surat pertama bernama agong dan diserahkan kepada Guru Tatea Bulan. Isinya tentang ilmu hadatuon (ketabiban), keperwiraan, kependekaran, dan kesaktian.

Sementara surat kedua yang diberikan kepada Raja Isumbaon, disebut surat tombaga holing, isinya mengenai ajaran-ajaran kerajaan, hukum peradilan, persawahan, perniagaan, dan kesenian. Surat lain yang belakangan muncul adalah pustaha habonoron yang konon ditulis langsung oleh Sisingamangaraja XII, salah satu orang suci (nabi) dalam ajaran Malim.

Bagi Parmalim, yang dijadikan sumber hukum adalah tona (pesan), poda (sabda), patik (peraturan), dan uhum (hukum).

Lahirnya Malim sebagai Agama

Syahdan, kabar kematian Sisingamangaraja tersebar ke seantero Tanah Batak dan sekitarnya. Itu terjadi pada 1907. Saat itu belum ada agama bernama Malim. Masyarakat Batak saat itu masih meyakini iman mereka kepada Debata  Mulajadi Nabolon, nama Tuhan mereka, dan Sisingamaraja XII sebagai salah satu orang suci. Tapi belum ada yang menamai keyakinan itu.

Kabar kematian ini disebarkan oleh pemerintahan Hindia Belanda dengan menyatakan Sisingamagaraja XII, sang pemimpin pemberontak, ditembak dalam persembunyian. Kabar itu sontak membuat ciut nyali raja-raja kecil di Tanah Batak. Mereka sudah banyak terkena politik pecah belah Belanda sehingga loyalitasnya terhadap Sisingamangaraja XII dan Tanah Batak sendiri sudah tergerus.

Namun, ada satu orang yang tetap setia pada imannya dan Sisingamangaraja XII. Namanya Lanja Naipospos, kelak berkat kebaikan hatinya, ia berganti nama jadi Raja Mulia Naipospos. Sebelum dikabarkan mati, Sisingamangaraja XII pernah berpesan kepada Lanja untuk terus menyebarkan kepercayaan orang Batak pada Debata Mulajadi Nabolon.

Alai pos roham, ro ma ama na tau haposan ni roham. Alai dang pola ajaranghu ho di si. Ai tibu hian do ho diajari tondinghi,” tulis Sisingamangaraja XII di ujung suratnya pada Lanja. Artinya, “Percayalah engkau, akan datang seorang ‘bapak’ kepercayaan dan kesayanganmu. Saya agaknya tidak perlu mengajarimu lagi mengenai hal ini. Sudah sejak dulu engkau diajarai rohku (tondi-ku).”

Waktu itu ia mengganti namanya sebagai Raja Tubu agar tak terlacak oleh otoritas pemerintah kolonial Belanda. Di saat yang sama, gerakan misionaris yang dipimpin Nommensen—pekabar Injil berkebangsaan Jerman yang kelak mendirikan Huria Kristen Protestan Batak—menguat di Tanah Batak. Penginjilan menanggalkan kepercayaan lokal.

Namun, bagi Parmalim, Sisingamangaraja XII adalah utusan Debata (Malim Debata), yang kedudukannya serupa nabi. Ia juga dikenal punya mukjizat: bisa muncul di pelbagai tempat yang diinginkannya dan dapat mengubah wujudnya jadi siapa saja.

Hingga muncullah Raja Nasiakbagi, penerus Sisingamangaraja XII yang dimaksudkannya dalam surat tersebut. Ia dikenal sebagai Malim Debata yang kali pertama mencetuskan agar Malim dilembagakan sebagai agama. “Malim ma hamu (malimlah kalian)” diingat sebagai kalimat bersejarah Nasiakbagi kepada murid-muridnya—tonggak awal lahirnya agama Malim.

Ia kemudian menganjurkan didirikannya suatu tempat peribadatan yang disebut Bale Pasogit Patonggoan di kampung Raja Mulia, yaitu di Huta Tinggi, Laguboti.

Di tempat itu pula saya terakhir kali bertemu Raja Marnangkok dan melihatnya memimpin mararisabtu, ibadah mingguan Parmalim yang diadakan setiap hari Sabtu, sebagaimana umat Kristen ke gereja pada hari Minggu dan salat Jumat bagi umat muslim.

Waktu itu Raja Marnangkok sudah diserang penyakit komplikasi, di antaranya diabetes dan asam urat. Jalannya memang pendek-pendek. Di hari peribadatan, dari rumahnya, ia melangkah keluar dengan dandanan lengkap, masih menunjukkan karisma tanpa cela, dan berdiri tepat di pelataran Bale Pasogit.

Ibadah itu dimulai tepat pukul 11. Persis seperti janji Raja Marnangkok, “Orang Malim tidak pernah telat.”

Sekumpulan orang berbondong-bondong memasuki sebuah balai persegi, tempat bersejarah yang disebut Bale Pasogit, yang puncak atapnya terdapat tiga hiasan berbentuk ayam jago. Mereka masuk berbaris sesuai jenis kelamin, pria dari sebelah kiri dan perempuan dari sebelah kanan.

Para pria dari kalangan orang dewasa mengenakan pakaian rapi, kemeja, jas, celana keper, ulos, dan tali-tali—semacam serban putih yang dililit di kepala. Sementara para wanita memakai kebaya, sarung, dan ulos. Di jalan menanjak, tempat gerbang kecil terpacak di depan balai, semua orang harus melepaskan alas kaki. Ini bagian dari keyakinan Malim.

Di dalam ibadah itu, semua perkataan dalam bahasa Batak. Di pertengahan, ada remaja laki-laki yang berdiri membacakan patik atau aturan-aturan yang jadi pedoman Parmalim dalam menjalankan kehidupan.

Seluruh penduduk beragama Malim di sekitaran Balige bahkan Parapat—sekitar 60 km dari Balige—akan datang ke Huta Tinggi untuk menunaikan ibadah ini. Balai tempat ibadah  ini adalah satu-satunya di kawasan Toba Samosir.

Sayang, sejak Mei tahun ini, Bale Pasogit resmi ditutup polisi resort Toba Samosir. Ihwalnya, setelah Raja Marnangkok meninggal pada September 2016, Parmalim terpecah jadi dua kubu.

Ada dua orang yang mengaku sebagai penerus tahta. Kelompok pertama dipimpin Monang Naipospos, adik kandung almarhum Raja Marnangkok. Sementara kelompok kedua dipimpin Poltak Naipospos, anak keempat almarhum Raja Marnangkok. Masing-masing membawa pengikut yang meyakini mereka sebagai Ihutan.

Tak hanya selisih paham tentang klaim sebagai Ihutan, Parmalim juga berselisih paham soal Bale Pasogit. Sejak tempat itu ditutup, beberapa pengikut Monang Naipospos yang saya jumpai berkata tak boleh merayakan ritual agama Malim di tempat lain. Sementara pengikut Poltak Naipospos memilih memindahkan perayaan itu ke balai lain. Misalnya acara Sipaha Lima, 5–7 Juli kemarin, yang diadakan di Bale Persantian, Medan Denai.

Menurut Poltak Simanjuntak, humas Parmalim dari kelompok Raja Poltak Naipospos, kegiatan itu tetap diadakan “bagian dari ajaran Malim yang tak bisa dielakkan.” Keputusan menyelenggarakan Sipaha Lima di luar Huta Tinggi untuk kali pertama, katanya, diharapkan menjadi yang terakhir karena mereka tengah membangun Bale Pasogit baru di daerah dekat Laguboti.

“Semoga tahun depan sudah tidak di sini lagi. Karena menurut keyakinan Malim, acara ini harusnya diadakan di Tanah Batak. Medan ini kan bukan (Tanah) Batak. Ini Tanah Deli,” katanya.

Best Profit, PT Bestprofit