PT Best Profit Futures Jambi

Category Archives: Artikel

PT Bestprofit – Yusuf Mansur Dituduh Menebar Kisah Fiktif untuk Pikat Jemaah

Yusuf Mansur Dituduh Menebar Kisah Fiktif untuk Pikat JemaahPT Bestprofit – Jam’an Nurchotib Mansur alias Yusuf Mansur Alias Yusuf Mansur dianggap bermasalah dalam hal metode dakwahnya. Untuk memancing jemaah bersedekah, ia membangun narasi “dramatik” yang diduga fiktif.

Hal ini diungkapkan Darso Arief Bakuama, penulis Yusuf Mansur Menebar Cerita Fiktif, Menjaring Harta Umat dan Banyak Orang Bilang: Yusuf Mansur Menipu. Kedua buku itu diterbitkan Teras Publishing pada 2016.

Darso menganalisis ceramah Yusuf Mansur secara langsung maupun lewat video yang diunggah di YouTube.

“Saya berkesimpulan ada pola Yusuf Mansur dalam pengumpulan sedekah. Itu dalam setiap ceramah dia, memotivasi orang untuk mengeluarkan uang, harta, asetnya untuk diserahkan ke dia dengan judul sedekah. Itu dibangun dengan cerita-cerita yang menurut saya fiktif,” kata Darso kepada reporter Tirto, 2 Juli lalu.

“Sedekah dia bermasalah, orang yang mengadu ke dia (tentang) masalah kehidupan, dimintanya sedekah,” lanjut Darso. “Sampai-sampai ada yang datang bawa mobil suruh tinggalin mobilnya. Ada yang bawa motor butut sekalipun diminta motornya.”

Darso mencotohkan salah satu kisah yang diduga fiktif dalam ceramah Yusuf Mansur di Masjid Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada 2 Mei 2013.

Kala itu Yusuf Mansur bercerita bahwa ia bertemu teman perempuannya yang sudah rampung sarjana strata satu di Amerika Serikat dan pascasarjana di Perancis. Perempuan itu kaya raya dan cantik tetapi mau menikah seorang laki-laki miskin yang badannya hanya separuh. Alasannya, kata Mansur, si perempuan ingin ibadah dan yang dilakukannya itu kehendak Allah.

Mansur lalu mengunggah laki-laki yang badannya separuh itu melalui akun Instagramnya (per 17 Juli memiliki 1,6 juta pengikut). Darso menemui laki-laki yang bernama Muhammad Wahyono itu.

Wahyono membantah dilamar oleh wanita cantik, kaya, dan terpelajar seperti yang diceritakan Mansur. “Cerita itu tidak benar. Enggak ada itu. Lha, wong saya tahun ini saja baru 18 tahun. Kalau normal sekalipun saya belum pantas kawin,” kata Wahyono, seperti dikutip dalam buku Darso.

Dalam acara yang lain, bertajuk Kuliah Tauhid bersama Yusuf Mansur, di Gedung Islamic Center, Bojonegoro pada Senin 9 Juli 2012, Mansur bercerita tentang teori The Power of Believe. Menurut Mansur, teori tersebut dari “Barat”—tak jelas teori dari siapa—tetapi yang ingin ditekankannya kita tak perlu bantuan Tuhan dan kerja keras untuk mendapatkan barang impian.

Ia mencontohkan soal motor, yang bila kita elus-elus terus tiap hari dengan harapan berubah jadi mobil, motor itu akan berubah jadi mobil. Kisah ini untuk meyakinkan pendengarnya—jemaah dalam acara tersebut—bahwa umat muslim bisa mendapatkan lebih dari itu bila mau bersedekah.

Kemudian Yusuf Mansur membeberkan cerita tentang seorang perempuan yang ingin menikah. Si perempuan ini datang sebelum pesta pernikahan lalu duduk di kursi pelaminan seolah ia yang akan dinikahkan.

Dengan begitu ia akan enteng jodoh. Tentu, katanya, harus dengan diiringi salat duha dan doa bahwa dialah yang berada di pelaminan tersebut. Sebagai pelengkap, si perempuan yang dikisahkan Mansur tersebut mencopot cincin dan gelang, “Rab, ini buatmu, ganti saya dengan jodoh yang saleh,” kata Mansur dengan nada yang dibuat dramatis.

Secara ajaib, si keluarga laki-laki tak melihat kedatangan keluarga perempuan. Tiba-tiba terdengar informasi ternyata keluarga perempuan membatalkan. Sementara undangan sudah tersebar.

Diumumkanlah di masjid tersebut, bagi siapa yang belum menikah, dipersilakan maju untuk dinikahkan.

“Demi Allah, cerita semacam ini banyak,” kata Mansur, bersemangat. “Saya enggak mau bohong, Pak, Bu. Banyak sekali. Oh, benar, Pak. Saya enggak mau bohong urusan begini. Setidak-tidaknya teman saya pribadi, (ada) dua yang begini, kejatuhan semangka banget!

“Tinggal masuk, semua sudah jadi, sudah disewain segala macam. Subhanallah. Bahkan salah satu pasangan yang seperti itu barusan berangkat umrah bersama saya. Dia sudah punya anak 3,” terang Yusuf Mansur.

Cerita itu tak terdengar rancu karena disampaikan secara lisan dan diiringi sumpah Yusuf Mansur untuk meyakinkan pendengarnya. Tetapi, bila kita agak kritis, ada sejumlah bolong cerita di sana.

Misalnya, di tempat mana si perempuan itu harus berdoa: di lokasi pernikahan atau di masjid? Kedua, soal latar cerita: kejadiannya di mana?

Hal begitu agaknya tidak membuat jemaah Yusuf Mansur meragukan. Jemaahnya terbuai.

Tak lama, seorang perempuan maju. Perempuan itu memberikan cincinnya dan minta dia didoakan agar anaknya menjadi pribadi yang saleh.

Sambil memberikan cincin, si perempuan itu bercerita anaknya bekerja di Pontianak. Perempuan itu mengambil uang Rp500 ribu lalu menyerahkan kepada Mansur.

Mansur berkata, “Ayo, Ibu-ibu, siap-siap. Bapak-bapak, siap-siap. Sudah dibawa, kan?”

Setelah itu ada sebentuk ancaman atau memojokkan jemaah. “Yang punya cincin, gelang, dan belum tergerak buat disedekahin, saya bilang, ‘Enggak usah.’ Tapi nanti Asar, lihatin lagi tangannya, cincin itu tetap segitu, kalung itu tetap segitu? Itulah yang terjadi gara-gara kita tidak sedekahin, 10 tahun lagi pun segitu?” kata Yusuf Mansur.

Ia melanjutkan, “Tapi kalau kita sedekahin—masyaallah—Asar nanti lihat, pasti enggak ada karena sudah disedekahin. Tapi 2, 3, 4 tahun kemudian, saudara beli berapa gram pun bisa. Sebab cabang soto-nya sudah 20 cabang, punya laundry sudah 17 cabang, punya showroom motor sudah 3-4 cabang. Subhanallah!”

Acara itu diselenggarakan Program Pembibitan Penghafal Al-Qur’an (PPPA) Darul Qu’ran Bojonegoro bekerjasama dengan PPPA Darul Qur’an Surabaya dan Toko Buku Togamas Bojonegoro. Usai Mansur dan panitia menutup acara itu, tiada penjelasan berapa total uang dan barang berharga yang diserahkan jemaah dan digunakan untuk apa “sedekah” tersebut.

Pembukuan Sedekah Tanpa Transparansi

PPPA Darul Qur’an membuka banyak rekening dengan beragam bentuk sedekah. Dari untuk sedekah wakaf, untuk kemanusiaan, kegiatan, untuk makan santri, cetak Alquran hingga sawah. Bahkan ada juga program bernama jemput sedekah.

Dalam laporan keuangan PPPA Daarul Qur’an, pada 2015 terkumpul sedekah sekitar Rp24,8 miliar. Pada 2016 sebanyak Rp38,3 miliar. Namun, tidak ada rincian dana itu dari mana dan siapa saja serta dialokasikan ke mana atau untuk apa saja.

Ismail, yang tinggal di Klaten, Jawa Tengah, berkata terpaksa memberikan harta senilai Rp5 juta kepada Yusuf Mansur. Itu sesudah ia mengikuti agenda dakwah dan terpikat oleh jurus kisah sukses bersedekah ala Yusuf Mansur yang membius jemaah rela memberikan harta.

“Saya merasa terpaksa saja. Karena saat itu saya di depan umum,” kata Ismail, 12 Juli lalu.

Ismail dijanjikan bahwa apa yang ia sedekahkan akan berlipat ganda. Ismail saat itu sangat percaya jika Mansur mampu menunaikan amanat. Tapi dugaannya tak sepenuhnya benar.

“Ada janji yang tidak ditepati. Intinya, tidak sesuai dengan akad semula. Makanya saya minta (harta saya) kembali,” ungkap Ismail.

Saat reporter Tirto mengonfirmasikan soal metode dakwahnya, terutama lagi soal pembukuan sedekah jemaah tanpa transparansi, Yusuf Mansur enggan memberi penjelasan.

“Enggak usah diluruskan. Saya salah. Insyaallah saya perbaiki. Saya penuh dengan tidak ketidaktahuan,” kata Mansur, 7 Juli lalu. “Insyaaallah saya akan belajar terus. Jadi, saya tidak akan bela diri. Saya minta maaf saja. Sebagai ustaz, sudah banyak menyusahkan.”

Mansur juga enggan merespons pertanyaan yang bisa berdampak pidana terhadapnya. Misalnya, kami bertanya bagaimana ia dapat menjamin bahwa dana yang disedekahkan itu tak bermasalah di kemudian hari. Misalnya, ternyata uang atau harta sedekah jemaah berasal dari keuangan negara.

Hal semacam itu memungkinkan sebab pihak Yusuf Mansur minim merinci sumber dana yang diperolehnya. Indonesia mengenal UU Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. Pasal 3 dan Pasal 5 menyebutkan ancaman pidana penjara paling lama 20 tahun dan 5 tahun.

Lagi-lagi Yusuf Mansur enggan menanggapi lebih lanjut perkara tersebut. PT Bestprofit, Bestprofit

Best Profit – Malim, Agama Lokal Suku Batak dari Huta Tinggi

Malim, Agama Lokal Suku Batak dari Huta TinggiBest Profit – Manusia pertama di dunia bukanlah Adam dan Hawa. Tapi bernama Si Raja Ihat Manisia dan istrinya Si Boru Ihat Manisia. Tak seperti Adam dan Hawa, yang tempatnya turun pertama kali di Bumi masih diperdebatkan, Raja Ihat dan Boru—tanpa ragu—dikisahkan lahir di Pusuk Buhit, sebuah gunung kecil yang terletak di sebelah barat Pulau Samosir.

Pada pulau vulkanik di tengah Danau Toba, Sumatera Utara, Raja Ihat dan Boru kemudian membangun perkampungan pertama di kaki gunung Pusuk Buhit. Ia diberi nama Sianjurmula-mula. Perkawinan keduanya menghasilkan tiga anak: Raja Miokmiok, Patundal Nibegu, dan Aji Lapaslapas.

Kecuali Raja Miokmiok, dua anak Raja Ihat dan Boru tak diketahui apakah mempunyai keturunan atau tidak. Raja Miokmiok kemudian punya anak bernama Eng Banua, yang punya tiga anak bernama Raja Aceh, Raja Bonangbonang, dan Raja Jau.

Dalam salah satu kisah, Aceh diceritakan sebagai nenek moyang semua suku Aceh, sementara kisah lain meyakini kalau Aceh dan Jau tidak diketahui rimbanya. Sementara Raja Bonangbonang punya anak tunggal bernama Guru Tantan Debata, yang kemudian memiliki putra tunggal bernama Siraja Batak.

Dalam kajian sejarah, Siraja Batak dianggap sebagai nenek moyang orang Batak. Ia dikenal sebagai permulaan catatan tarombo (silsilah), yang dalam budaya Batak kemudian membentuk marga-marga.

Bagi kebanyakan orang Batak masa kini, kisah di atas mitos belaka. Raja Ihat hingga Tatea Bulan—salah seorang dari dua anak Siraja Batak—dianggap sebagai nama-nama fiktif yang memulai keturunan bangsa Batak. Tapi, tidak demikian bagi penganut Ugamo Malim alias agama Malim. Raja Ihat tak hanya dianggap manusia pertama bangsa Batak, ia juga diyakini manusia pertama yang diturunkan di dunia ini.

Malim adalah agama asli dari Tanah Batak. Sebagaimana Adam dan Hawa diyakini sebagai manusia pertama dalam Islam ataupun Kristen, kisah Raja Ihat dan Boru serta keturunan-keturunannya adalah bagian dari ajaran dan keyakinan yang dianut Malim.

Para pengikut agama ini disebut parugamo Malim atau biasa disingkat Parmalim. Jumlah mereka memang sangat kecil. Ibrahim Gultom dalam Agama Malim di Batak (2010) menyebut angkanya cuma berkisar 5 ribu orang atau 1.127 kepala keluarga. Nama Malim atau Parmalim masih jarang didengar, bahkan oleh orang-orang yang tinggal di Sumatera Utara, tempat asal agama ini berkembang.

Belum lagi ia hanya diakui negara sebagai “aliran kepercayaan”, ketimbang agama sebagaimana Islam, Kristen Protestan, Katolik, Hindu, Buddha, dan Konghucu.

Bagi Malim, Tanah Batak adalah tanah suci. Kawasan ini melingkupi daerah sekitar Danau Toba dan Pulau Samosir, yang menyimpan nilai magis dan ajarannya. Pusat administrasi mereka juga didirikan di sana, tepatnya di Huta Tinggi, Laguboti, Kabupaten Toba Samosir, sekitar 7 hingga 8 jam dari Medan dengan perjalanan darat.

Ibrahim Gultom pernah dua tahun tinggal di sana guna menyelesaikan disertasi tentang agama Malim. Saat Gultom memulai penelitiannya, hanya ada dua kajian terdahulu yang mengupas tentang Malim, yakni tesis yang ditulis oleh Sihombing (1994) dan Siregar (1996). Keduanya tidak mengulik Malim dengan pendekatan antropologi, melainkan teologi dan sosiologi politik. Kajian Gultom menjadi adalah studi akademis paling komprehensif tentang agama ini.

Raja Marnangkok Naipospos, pemimpin pusat agama Malim (1981–2016), mengakui hal itu. Dalam satu pertemuan kami pada Mei 2015, ia menyarankan saya untuk mengobrol dengan Gultom bila ingin mengetahui Malim secara komprehensif.

“Dia itu orang (pendatang) yang paling bagus dan paling mengerti tentang Malim. Dia di sini betul-betul belajar tentang Malim,” kata Raja Marnangkok.

Bagi Parmalim, Raja Marnangkok dikenal sebagai ihutan alias pemimpin tertinggi dalam agama Malim. Ihutan artinya “yang ikuti atau ikutan.” Dalam silsilahnya, Raja Marnangkok adalah Ihutan ketiga, setelah ayahnya, Raja Ungkap Naipospos, dan kakeknya, Raja Mulia Naipospos.

Generasi Ihutan tergolong sedikit tapi bukan berarti Malim adalah ajaran yang baru. Bangsa Batak sendiri, dalam kajian antropologi, diperkirakan sudah ada sejak 1.500 hingga 2.000 tahun lalu. Bahkan menurut Parlindungan(1964), bangsa Batak pertama di Tanah Batak sudah ada sejak 3.000 tahun Sebelum Masehi. Sementara Malim memang baru dideklarasikan sebagai sebuah agama oleh Raja Nasiakbagi dan penerusnya, Raja Mulia Naipospos, pada masa awal kemerdekaan Indonesia.

Sebelumnya, ajaran-ajaran Malim yang belum dilembagakan sudah ada sejak bangsa Batak hadir. Menurut Gultom, penyampaian ajaran agama Malim semula lebih kerap dilakukan secara lisan, dalam bentuk turi-turian (dongeng). Hampir tak ada peninggalan tulisan—semacam kitab suci—yang mengemas cerita asal mula munculnya Malim.

Baru pada masa hidup Siraja Batak, diketahui ada dua surat yang diberikannya kepada kedua anaknya dalam aksara Batak. Surat pertama bernama agong dan diserahkan kepada Guru Tatea Bulan. Isinya tentang ilmu hadatuon (ketabiban), keperwiraan, kependekaran, dan kesaktian.

Sementara surat kedua yang diberikan kepada Raja Isumbaon, disebut surat tombaga holing, isinya mengenai ajaran-ajaran kerajaan, hukum peradilan, persawahan, perniagaan, dan kesenian. Surat lain yang belakangan muncul adalah pustaha habonoron yang konon ditulis langsung oleh Sisingamangaraja XII, salah satu orang suci (nabi) dalam ajaran Malim.

Bagi Parmalim, yang dijadikan sumber hukum adalah tona (pesan), poda (sabda), patik (peraturan), dan uhum (hukum).

Lahirnya Malim sebagai Agama

Syahdan, kabar kematian Sisingamangaraja tersebar ke seantero Tanah Batak dan sekitarnya. Itu terjadi pada 1907. Saat itu belum ada agama bernama Malim. Masyarakat Batak saat itu masih meyakini iman mereka kepada Debata  Mulajadi Nabolon, nama Tuhan mereka, dan Sisingamaraja XII sebagai salah satu orang suci. Tapi belum ada yang menamai keyakinan itu.

Kabar kematian ini disebarkan oleh pemerintahan Hindia Belanda dengan menyatakan Sisingamagaraja XII, sang pemimpin pemberontak, ditembak dalam persembunyian. Kabar itu sontak membuat ciut nyali raja-raja kecil di Tanah Batak. Mereka sudah banyak terkena politik pecah belah Belanda sehingga loyalitasnya terhadap Sisingamangaraja XII dan Tanah Batak sendiri sudah tergerus.

Namun, ada satu orang yang tetap setia pada imannya dan Sisingamangaraja XII. Namanya Lanja Naipospos, kelak berkat kebaikan hatinya, ia berganti nama jadi Raja Mulia Naipospos. Sebelum dikabarkan mati, Sisingamangaraja XII pernah berpesan kepada Lanja untuk terus menyebarkan kepercayaan orang Batak pada Debata Mulajadi Nabolon.

Alai pos roham, ro ma ama na tau haposan ni roham. Alai dang pola ajaranghu ho di si. Ai tibu hian do ho diajari tondinghi,” tulis Sisingamangaraja XII di ujung suratnya pada Lanja. Artinya, “Percayalah engkau, akan datang seorang ‘bapak’ kepercayaan dan kesayanganmu. Saya agaknya tidak perlu mengajarimu lagi mengenai hal ini. Sudah sejak dulu engkau diajarai rohku (tondi-ku).”

Waktu itu ia mengganti namanya sebagai Raja Tubu agar tak terlacak oleh otoritas pemerintah kolonial Belanda. Di saat yang sama, gerakan misionaris yang dipimpin Nommensen—pekabar Injil berkebangsaan Jerman yang kelak mendirikan Huria Kristen Protestan Batak—menguat di Tanah Batak. Penginjilan menanggalkan kepercayaan lokal.

Namun, bagi Parmalim, Sisingamangaraja XII adalah utusan Debata (Malim Debata), yang kedudukannya serupa nabi. Ia juga dikenal punya mukjizat: bisa muncul di pelbagai tempat yang diinginkannya dan dapat mengubah wujudnya jadi siapa saja.

Hingga muncullah Raja Nasiakbagi, penerus Sisingamangaraja XII yang dimaksudkannya dalam surat tersebut. Ia dikenal sebagai Malim Debata yang kali pertama mencetuskan agar Malim dilembagakan sebagai agama. “Malim ma hamu (malimlah kalian)” diingat sebagai kalimat bersejarah Nasiakbagi kepada murid-muridnya—tonggak awal lahirnya agama Malim.

Ia kemudian menganjurkan didirikannya suatu tempat peribadatan yang disebut Bale Pasogit Patonggoan di kampung Raja Mulia, yaitu di Huta Tinggi, Laguboti.

Di tempat itu pula saya terakhir kali bertemu Raja Marnangkok dan melihatnya memimpin mararisabtu, ibadah mingguan Parmalim yang diadakan setiap hari Sabtu, sebagaimana umat Kristen ke gereja pada hari Minggu dan salat Jumat bagi umat muslim.

Waktu itu Raja Marnangkok sudah diserang penyakit komplikasi, di antaranya diabetes dan asam urat. Jalannya memang pendek-pendek. Di hari peribadatan, dari rumahnya, ia melangkah keluar dengan dandanan lengkap, masih menunjukkan karisma tanpa cela, dan berdiri tepat di pelataran Bale Pasogit.

Ibadah itu dimulai tepat pukul 11. Persis seperti janji Raja Marnangkok, “Orang Malim tidak pernah telat.”

Sekumpulan orang berbondong-bondong memasuki sebuah balai persegi, tempat bersejarah yang disebut Bale Pasogit, yang puncak atapnya terdapat tiga hiasan berbentuk ayam jago. Mereka masuk berbaris sesuai jenis kelamin, pria dari sebelah kiri dan perempuan dari sebelah kanan.

Para pria dari kalangan orang dewasa mengenakan pakaian rapi, kemeja, jas, celana keper, ulos, dan tali-tali—semacam serban putih yang dililit di kepala. Sementara para wanita memakai kebaya, sarung, dan ulos. Di jalan menanjak, tempat gerbang kecil terpacak di depan balai, semua orang harus melepaskan alas kaki. Ini bagian dari keyakinan Malim.

Di dalam ibadah itu, semua perkataan dalam bahasa Batak. Di pertengahan, ada remaja laki-laki yang berdiri membacakan patik atau aturan-aturan yang jadi pedoman Parmalim dalam menjalankan kehidupan.

Seluruh penduduk beragama Malim di sekitaran Balige bahkan Parapat—sekitar 60 km dari Balige—akan datang ke Huta Tinggi untuk menunaikan ibadah ini. Balai tempat ibadah  ini adalah satu-satunya di kawasan Toba Samosir.

Sayang, sejak Mei tahun ini, Bale Pasogit resmi ditutup polisi resort Toba Samosir. Ihwalnya, setelah Raja Marnangkok meninggal pada September 2016, Parmalim terpecah jadi dua kubu.

Ada dua orang yang mengaku sebagai penerus tahta. Kelompok pertama dipimpin Monang Naipospos, adik kandung almarhum Raja Marnangkok. Sementara kelompok kedua dipimpin Poltak Naipospos, anak keempat almarhum Raja Marnangkok. Masing-masing membawa pengikut yang meyakini mereka sebagai Ihutan.

Tak hanya selisih paham tentang klaim sebagai Ihutan, Parmalim juga berselisih paham soal Bale Pasogit. Sejak tempat itu ditutup, beberapa pengikut Monang Naipospos yang saya jumpai berkata tak boleh merayakan ritual agama Malim di tempat lain. Sementara pengikut Poltak Naipospos memilih memindahkan perayaan itu ke balai lain. Misalnya acara Sipaha Lima, 5–7 Juli kemarin, yang diadakan di Bale Persantian, Medan Denai.

Menurut Poltak Simanjuntak, humas Parmalim dari kelompok Raja Poltak Naipospos, kegiatan itu tetap diadakan “bagian dari ajaran Malim yang tak bisa dielakkan.” Keputusan menyelenggarakan Sipaha Lima di luar Huta Tinggi untuk kali pertama, katanya, diharapkan menjadi yang terakhir karena mereka tengah membangun Bale Pasogit baru di daerah dekat Laguboti.

“Semoga tahun depan sudah tidak di sini lagi. Karena menurut keyakinan Malim, acara ini harusnya diadakan di Tanah Batak. Medan ini kan bukan (Tanah) Batak. Ini Tanah Deli,” katanya.

Best Profit, PT Bestprofit

Bestprofit – Jalan Perlawanan Mantan Pentolan PDRI

Jalan Perlawanan Mantan Pentolan PDRIBestprofit –  Sebetulnya sah-sah saja jika Syafruddin Prawiranegara berani mengklaim dirinya sebagai Presiden Indonesia. Ia memang pernah menjadi orang nomor satu di negara ini setelah para petinggi pemerintahan RI macam Sukarno, Mohammad Hatta, atau Sutan Sjahrir ditahan Belanda pada akhir 1948.

Syafruddin dan sejumlah tokoh bangsa lainnya membentuk Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) di Bukittinggi, Sumatera Barat, untuk menunjukkan kepada dunia internasional bahwa Indonesia masih ada. Tindakan darurat itulah yang menyelamatkan negara hingga Belanda akhirnya mengakui kedaulatan RI secara penuh melalui Konferensi Meja Bundar di penghujung tahun 1949.

Namun, Syafruddin enggan menyebut dirinya presiden, dan namanya pun tidak tercatat secara resmi sebagai salah satu Presiden Indonesia. Presiden RI ke-2 setelah Sukarno adalah Soeharto, bukan Syafruddin Prawiranegara meskipun ia punya kabinet beserta susunan menterinya, para panglima militer, juga wilayah-wilayah pemerintahan, selama memimpin PDRI.

Presiden Syafruddin Prawiranegara?

Akmal Nasery Basral (2011) dalam buku berjudul Presiden Prawiranegara: Kisah 207 Hari Syafruddin Prawiranegara Memimpin Indonesia pernah mengulik tentang hal ini. Dituliskan dalam buku tersebut percakapan antara Kamil Koto dengan Syafruddin Prawiranegara. Kamil Koto saat itu ingin bergabung dengan PDRI dan penasaran dengan status Syafruddin selaku pemimpin pemerintahan darurat itu.

“Jadi, Pak Syaf adalah presiden yang menggantikan Bung Karno?” tanya Kamil Koto.

Syafruddin menjawab, “Tidak persis begitu. Saya lebih suka menyebutnya sebagai Ketua PDRI, bukan Presiden PDRI.”

Kamil Koto rupanya belum puas. Ia bertanya sekali lagi, “Jadi, di bawah Pak Syaf sekarang ini ada banyak menteri dan panglima perang?”

“Ya, betul sekali,” balas Syafruddin yang kemudian terdiam sejenak sebelum berbalik bertanya kepada Kamil Koto, ”Apa maksudmu dengan menanyakan ini, Kamil?”

“Maafkan saya yang bodoh ini, Pak Syaf,” ucap Kamil Koto. “Kalau kejadiannya seperti yang Bapak jelaskan itu, maka menurut saya yang tidak mengerti politik ini, Bapak adalah Presiden Syafruddin Prawiranegara.”

Mendengar ucapan lugas dari Kamil Koto itu, Syafruddin Prawiranegara tampak sedikit kaget dan terlihat memikirkan jawabannya. Namun, akhirnya ia memilih mengelak dan mengalihkan topik pembicaraan.

Kamil Koto belum menyerah. Sekali lagi, ia mendesak, “ Jadi betul kesimpulan saya… Pak Presiden?”

Syafruddin mengubah posisi duduknya, memejamkan mata, dan menjawab, “Dalam politik itu sama sekali tidak mudah sekadar untuk mengatakan betul atau salah, Kamil. Kalau memang niatmu sangat kuat untuk membantu perjuangan PDRI ini, semoga suatu saat nanti kau akan temukan jawaban atas pertanyaanmu sendiri.”

Dari PDRI ke PRRI

Kurang lebih 8 tahun setelah mengembalikan mandat pemerintahan kepada pemerintah RI pimpinan Sukarno, nama Syafruddin Prawiranegara muncul lagi. Hampir mirip dengan sewaktu ia memimpin PDRI, kali ini Syafruddin menjadi perdana menteri, tapi bukan pemimpin pemerintahan RI yang sah, melainkan Perdana Menteri PRRI atau Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia.

PRRI mengumumkan kabinet tandingan pada 15 Februari 1958 pukul 22.30 WIB dengan menempatkan nama Syafruddin Prawiranegara di posisi tertinggi sebagai perdana menteri (Syamdani, PRRI Pemberontakan Atau Bukan, 2009). PRRI dideklarasikan di Bukittinggi, tempat yang sama saat PDRI dibentuk 10 tahun silam.

Meskipun masih mengakui Sukarno sebagai presiden, namun PRRI sering disebut memberontak karena membentuk kabinet tandingan beserta segenap perlengkapannya. Munculnya PRRI beriringan dengan pembentukan Permesta (Perjuangan Rakyat Semesta) di Indonesia bagian timur, tepatnya di Sulawesi, pada 2 Maret 1957.

PRRI dan Permesta bertujuan sama, yakni menuntut otonomi daerah yang lebih luas demi keadilan yang lebih merata, namun disikapi oleh pemerintah RI dengan tegas. PRRI, juga Permesta, dianggap sebagai gerakan separatis, memisahkan diri dari negara kesatuan, dan akhirnya dituntaskan dengan cara militer alias perang fisik (Marthias Dusky Pandoe, Jernih Melihat Cermat Mencatat, 2010).

Setelah gerakan yang disebut separatis itu ditumpas, pemerintah melalui Surat Keputusan Presiden No. 449/1961 tertanggal 17 Agustus 1961, memberikan amnesti dan abolisi kepada para tokoh PRRI, termasuk Syafruddin Prawiranegara. Bahkan, Syafruddin Prawiranegara kemudian ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada 7 November 2011.

Melawan Demi Keadilan

Selain Syafruddin Prawiranegara, ada pula mantan tokoh PDRI lainnya yang memilih jalan serupa, yakni “melawan” pemerintah yang sah melalui PRRI. Orang itu adalah Sutan Mohammad Rasjid yang menjabat sebagai Menteri Perburuhan dan Sosial di Kabinet PDRI.

Setelah pengembalian mandat PDRI kepada pemerintah pada 1949, Sutan Mohammad Rasjid ditunjuk oleh Presiden Sukarno menjadi Duta Besar RI di Italia. Selain itu, Rasjid juga tercatat sebagai anggota Konstituante, lembaga negara pembuat undang-undang.

Ketika PRRI dideklarasikan pada 1958, Rasjid tentunya mengharapkan hubungan antara pemerintah pusat dengan rekan-rekannya di Sumatera segera membaik. Namun, harapan itu tidak terwujud karena Presiden Sukarno justru menggerakkan kekuatan militer untuk membasmi PRRI (R. Z. Leirissa, PRRI-Permesta: Strategi Membangun Indonesia Tanpa Komunis, 1991).

Rasjid yang kecewa atas reaksi keras pemerintah kemudian dengan tegas mengambil keputusan bergabung dengan PRRI (Marah Joenoes, Mr. H. Sutan Mohammad Rasjid, 1991). Mantan Gubernur Militer Sumatera Barat dan Tengah ini bahkan memegang peran penting sebagai Duta Besar PRRI di Eropa.

Kasimo tidak setuju dengan gagasan Nasakom yang dicetuskan Sukarno. Ia juga menolak kabinet yang terdiri dari 4 partai pemenang Pemilu 1955, yakni PNI, Masyumi, NU dan PKI. Bersama Partai Katolik Indonesia, Kasimo tidak sudi bekerjasama dengan PKI di kabinet tersebut (J.B. Sudarmanto, Politik Bermartabat: Biografi I.J. Kasimo, 2011:243).

Namun, tidak semua alumni PDRI memilih jalan perlawanan, banyak pula yang baik-baik saja dan tetap “setia” kepada pemerintah RI meskipun dengan cara yang berbeda-beda, sebutlah Soesanto Tirtoprodjo, A.A. Maramis, Lukman Hakim, Teuku Muhammad Hasan, dan lainnya.

Mereka yang sempat “memberontak” pun sebenarnya tidak benar-benar bermaksud mengkhianati negara dan bangsa Indonesia. Jalan perlawanan mereka pilih hanya karena ingin keadilan yang lebih baik, atau sekadar perbedaan pandangan politik semata. Bestprofit , PT Bestprofit

Best Profit : Menemukan Jam-jam Terbaik Meminum Kopi

Menemukan Jam-jam Terbaik Meminum KopiBest Profit : Bagi seorang pecinta kopi ucapan pesohor Napoleon Bonaparte ini menjadi ungkapan rasa terhadap kecanduan pada minuman kopi. Beberapa orang merasa kurang bergairah bila belum menyeruput kopi pagi. Bagi mereka tak ada kopi maka tak ada semangat pagi. Ini bukan mengada-ada tapi benar adanya setidaknya menurut sebuah survei.

Survei yang dilakukan oleh Dunkin ‘Donuts and CareerBuilder menunjukkan bahwa kopi punya peran utama dalam membantu para pekerja mendapatkan semangat pagi di tempat kerja. Secara keseluruhan, sebanyak 43 persen responden peminum kopi mengaku kurang produktif bila tak meminum “cup of Joe” nama lain secangkir kopi bagi orang-orang Amerika.

Survei ini dilakukan secara online di Amerika Serikat pada 2012 terhadap 4.152 pekerja penuh waktu, berusia di atas 17 tahun. Proporsi pekerja paling tinggi yang merasa hari-harinya kurang produktif tanpa kopi dimulai dari pekerja bidang pelayanan, seperti pramusaji. Selanjutnya ada ilmuwan, sales representatives, marketing/public relations professionals, pekerja di bidang kesehatan, editor/penulis/pekerja media, business executives, guru, teknisi, dan terakhir adalah manajer TI/administrator jaringan.

Dari survei tersebut diketahui, sebanyak 63 persen pekerja rata-rata meminum kopi sebanyak dua cangkir per hari. Sedangkan sebanyak 28 persen dari mereka meminum tiga gelas atau lebih. Mayoritas, para pekerja muda dengan rentang umur 18-24 tahun mengatakan kurang produktif tanpa kopi. Klaim yang sama diungkapkan 58 persen pekerja berusia 25-34 tahun. Namun selain persoalan pengakuan para pekerja ini, adakah hubungan meminum kopi dengan pilihan waktu yang tepat saat mengonsumsinya?

Waktu Terbaik Minum Kopi

Sudah rahasia umum kafein adalah zat di dalam kopi yang membuat seseorang bisa tetap terjaga. Ia merupakan senyawa alkaloid, bersifat pahit dan bekerja sebagai obat perangsang psikoaktif serta diuretik ringan. Banyak orang kemudian mencandu kopi karena popularitasnya berefek pada sistem saraf, termasuk meningkatkan pelepasan dopamin.

Zat ini berinteraksi pada hormon kortisol dan meningkatkan sekresi pada orang yang beristirahat atau mengalami stres mental. Interaksi kafein dan kortisol akan membantu meregulasi jam internal tubuh serta meningkatkan kewaspadaan.  Kortisol merupakan hormon yang diproduksi oleh kelenjar adrenal dan memengaruhi berbagai organ seperti jantung, sistem saraf pusat, ginjal, dan kondisi kehamilan.

Di saat stres, tubuh memproduksi hormon kortisol sebagai bentuk kompensasi. Hormon ini membantu mengubah cadangan energi menjadi gula, sehingga dapat digunakan oleh sel-sel tubuh sebagai bahan bakar. Secara alami, hormon kortisol dalam tubuh normalnya berada pada titik yang tinggi sesaat setelah bangun tidur. Puncaknya terjadi beberapa kali dalam sehari, yakni sekitar pukul 8–9 pagi, pukul 12–13 siang, dan terakhir pada pukul 18–19 sore.

Bila Anda biasa meminum kopi di pagi hari sebelum melakukan beragam aktivitas, maka sebaiknya mulai berpikir ulang. Steven Miller, Neuroscientist di Uniformed Services University of the Health Sciences di Maryland, mengatakan bahwa waktu minum kopi yang paling bagus adalah setelah hormon kortisol melewati masa puncaknya atau setelah pukul 9 pagi.

“Di pagi hari, kopi paling efektif dinikmati antara pukul 09.30 hingga 11.30, saat kadar kortisol Anda menurun sebelum setelahnya naik lagi,” katanya dikutip dari Telegraph.

Alasannya, bila seseorang minum kopi ketika hormon tersebut masih tinggi maka dapat menyebabkan tubuh meningkatkan toleransi terhadap kafein. Artinya, seseorang akan membutuhkan jumlah kafein yang lebih banyak setiap pagi untuk mendapatkan efek yang sama. Takaran kopi yang sama setiap paginya lama-lama menjadi tak efektif.

Resistensi ini dianalogikan seperti konsumsi pada obat saat sakit. Ketika tubuh mengonsumsi obat pada kondisi normal, maka tubuh akan mengembangkan toleransi (resistensi) terhadap obat tersebut. Sehingga tubuh meminta dosis yang lebih besar untuk menciptakan efek yang sama.

“Ini karena produksi kortisol sangat berkaitan erat dengan tingkat kewaspadaan,” tambah Miller.

Namun, siklus kadar kortisol pada setiap orang bisa jadi berbeda. Seseorang yang terbiasa bangun lebih awal setiap harinya, bisa memiliki siklus rendah kortisol lebih dini dari orang lain yang bangun lebih siang. Apakah Anda termasuk yang minum kopi pagi hari? Best Profit