PT Best Profit Futures Jambi

Category Archives: Bisnis

Bitcoin Makin Mahal, Apakah Investasinya Makin Aman?

BEST PROFIT – Ada berkah yang didapat para investor Bitcoin dari ketegangan di Asia. Tensi yang meninggi di Semenanjung Korea dan Selatan Cina membuat para investor di pasar keuangan mencari alternatif produk investasi yang bukannya lebih aman seperti emas atau obligasi pemerintah Amerika Serikat, melainkan Bitcoin, mata uang digital pertama yang ada di dunia.PT BESTPROFIT

BESTPROFIT Per akhir pekan lalu, nilai tukar Bitcoin mencapai angka tertinggi. Satu Bitcoin setara dengan 4.224 dolar atau sekitar Rp56 juta. Angka ini sudah melonjak berkali-kali lipat. Forbes mencatat, sejak sembilan bulan terakhir saja, kenaikannya mencapai 780 persen.PT BEST PROFIT 

Vinsensius Sitepu, pengamat dan praktisi mata uang digital, menilai naik daunnya Bitcoin disebabkan penggunaannya yang relatif mudah. Terutama ketika sejumlah negara yang sebelumnya menolak mentah-mentah Bitcoin, malah menerbitkan regulasi yang mendukung mudahnya penggunaan mata uang digital ini.

“Ada regulasi pemerintah sehingga (membuat) pengguna merasa aman,” menjadi salah satu alasan mengapa pengguna Bitcoin meningkat, kata Vinsensius.PT BESTPROFIT FUTURES

Salah satu contohnya adalah Jepang, seperti dilansir AntaraPemerintah mereka sempat tegas menolak Bitcoin dianggap sebagai mata uang. Namun, Februari lalu, pemerintahnya mulai mengakui keberadaan Bitcoin dan teknologi Blockchain.PT BEST PROFIT FUTURES

Bitcoin adalah uang elektronik yang ditransfer lewat internet.  Ia didistribusikan tanpa perlu melalui perantara apa-apa termasuk bank, langsung dari satu orang ke orang lain, sehingga biaya transaksi jadi jauh lebih murah. Itu artinya ia bisa ditransfer ke seluruh dunia, bahkan dengan waktu yang relatif jauh lebih singkat daripada transfer lewat bank. Akun Anda juga tak bisa dibekukan.BESTPROFIT FUTURES

Kemudahan-kemudahan ini yang kemudian juga mendukung naiknya pamor Bitcoin di dunia investasi.

“Mata uang virtual menganut paham pasar bebas. Supply and demandSupply sedikit dan demand-nya besar, maka harga naik,” kata Vinsen.BEST PROFIT FUTURES

Tak hanya di mata investor, di mata peretas kriminal, Bitcoin juga laris.

Bitcoin Makin Mahal, Apakah Investasinya Makin Aman?

Jejak Pasar Modal Indonesia dari Zaman Hindia Belanda

BESTPROFIT – Tanggal 10 Agustus 2017, merupakan peringatan 40 tahun diaktifkannya kembali pasar modal Indonesia. Sebenarnya, sejarah pasar modal sudah panjang di republik ini.

Bursa sudah ada sejak tahun 1912. Namun, jika dirunut lebih jauh,  sebenarnya perdagangan surat berharga sudah dimulai sejak tahun 1880 di Batavia. Hanya saja, perdagangan efek itu belum resmi dan tidak ada pencatatan yang rinci. Menurut beberapa sumber, pada tahun 1878 mulai terbentuk sekuritas pertama yaitu Dunlop & Koff. Sekuritas ini merupakan cikal bakal PT Perdana.PT BESTPROFIT

Transaksi surat berharga pertama kali yang terjadi adalah penjualan 400 saham dari perusahaan perkebunan yaitu Cultuur Maatchappij Goalpara. Sahamnya dijual seharga 500 gulden per saham. Selanjutnya pada tahun  1896 harian Het Centrum dari Djoejacarta menjual saham dengan harga perdana 100 gulden. Sayangnya tidak didapatkan keterangan apakah saham tersebut diperjualbelikan. Diperkirakan, yang diperjualbelikan adalah saham yang terdaftar di bursa Amsterdam tetapi investornya berada di Batavia, Surabaya dan Semarang.BEST PROFIT

Pemerintah Belanda lalu mulai membangun perkebunan besar-besaran di Indonesa. Salah satu pendanaan bersumber pengerahan dari simpanan orang Belanda dan Eropa lainnya. Sehingga pemerintah Belanda memutuskan untuk membuka pasar modal di Batavia yang merupakan cabang dari Amsterdamse Effectenbeueurs pada 14 Desember 1912.  Perdagangan surat berharga ketika itu diselenggarakan oleh Vereniging voor de Effectenhandel. Di kawasan Asia, bursa di Batavia ini merupakan bursa keempat setelah pendirian bursa Mumbai (1830), Hongkong (1847) dan Tokyo (1878).PT BEST PROFIT

Pada tahap awal ada 13 perusahaan sekuritas anggota bursa yang aktif bertransaksi yaitu Fa. Dunlop & Kolf; Fa. Gijselman & Steup; Fa. Monod & Co.; Fa. Adree Witansi & Co.; Fa. A.W. Deeleman; Fa. H. Jul Joostensz; Fa. Jeannette Walen; Fa. Wiekert & V.D. Linden; Fa. Walbrink & Co; Wieckert & V.D. Linden; Fa. Vermeys & Co juga  Fa. Cruyff dan Fa. Gebroeders. Pada awal berdirinya, bursa memperjualbelikan saham dan obligasi yang diterbitkan oleh perusahaan perkebunan Belanda di Indonesia.

Kekacauan politik dan ekonomi akibat Perang Dunia I membuat bursa ditutup, pada tahun 1914 lalu dibuka lagi pada tahun 1918. Keberadaan bursa ternyata menarik minat banyak pihak. Sehingga pada 11 Januari 1925 dibuka bursa lagi di Surabaya dan pada 1 Agustus 1925 dibuka juga bursa di Semarang.PT BESTPROFIT FUTURES

Masa keemasan bursa di Batavia, Surabaya dan Semarang tidak berlangsung lama. Perang Dunia II yang melanda serta resesi ekonomi membuat  bursa harus ditutup. Bursa Efek Surabaya dan Semarang ditutup terlebih dahulu pada tahun 1939. Lalu pada 10 Mei 1940 Bursa Efek Jakarta pun ditutup.

Barulah pada tahun 1952 Bursa Efek Jakarta diaktifkan kembali berdasarkan UU Darurat Pasar Modal 1951. UU ini dikeluarkan oleh Menteri Kehakiman Lukman Wiradinata dan Menteri Keuangan Prof DR Soemitro Djojohadikusumo. Setelah kemerdekaan, terjadi nasionalisasi perusahaan Belanda. Bursa semakin tidak efektif. Bursa pun tidak ada kegiatan hingga 10 Agustus 1977.PT BESTPROFIT FUTURES

Presiden Soeharto kembali meresmikan bursa. Bursa Efek Indonesia dijalankan di bawah Badan Pelaksana Pasar Modal. Tanggal itulah yang diperingati sebagai Hari Ulang Tahun Pasar Modal. Emiten pertama yang melantai di bursa adalah PT Semen Cibinong.

Jejak Pasar Modal Indonesia dari Zaman Hindia Belanda

Pihak yang Terlibat di Pasar Modal

Ada banyak pihak yang terlibat dalam pasar modal.  Pasar modal  berada di bawah Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Di bawahnya ada perusahaan swasta self regulatory organization yang atas PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI) dan Kustodian Sentral  efek Indonesia (KSEI).

Ada pula pelaku pasar modal seperti perusahaan efek. Izin operasional perusahaan efek bermacam-macam menurut layanannya seperti penjamin pelaksana emisi yaitu membantu perusahaan yang akan menerbitkan surat berharga seperti saham atau obligasi, pedagang perantara efek yaitu menjadi perantara penjualan dan pembelian saham antara investor  dan manajer investasi. Belakangan, ada ketentuan untuk memisahkan izin operasional sebagai manajer investasi dari perusahaan efek. Manajer investasi membuat produk bernama reksa dana. Pada perusahaan sekuritas dan manajer investasi, terdapat analis dan ekonom yang memberikan analisis mengenai saham maupun perekonomian. Informasi ini diperlukan oleh para investor agar dapat mengambil keputusan dalam berinvestasi.

Selain itu, ada pula lembaga penunjang antara lain biro administrasi efek yang mencatat dan mengadministrasikan efek emite. Ada pula bank kustodian yaitu bank yang menampung rekening dana investor, wali amanat dan pemeringkat efek.BESTPROFIT FUTURES

Ada pula profesi penunjang seperti notaris, akuntan, konsultan hukum, dan penilai. Sementara investor terbagi menjadi dua, investor asing dan investor domestik. Baik investor asing dan domestik, terdiri atas investor institusi seperti perusahaan pengelola dana pensiun, perusahaan  asuransi, manajer investasi. Ada pula investor ritel yaitu investor perorangan.

Tantangan

Ke depan, pasar modal sangat diharapkan menjadi penyedia sumber pendanaan selain perbankan. Kebutuhan dana jangka panjang diharapkan dapat dipenuhi dari pasar modal, terutama untuk proyek infrastruktur. Pendanaan infrastruktur  yang berjangka panjang lebih cocok didanai dari pasar modal, seperti penerbitan obligasi atau reksa dana penyertaan terbatas untuk infrastruktur.BEST PROFIT FUTURES

Dana perbankan, lebih cocok digunakan untuk mendanai keperluan jangka pendek. Simpanan deposito di bank paling lama bertenor 1 tahun. Sedangkan tenor obligasi dapat lebih panjang, hingga puluhan tahun, sesuai dengan kebutuhan jangka panjang.

“Usia 40 tahun adalah usia matang. Diharapkan Pasar modal jadi intermediasi untuk pembangunan di pasar modal. Saat ini, bank masih lebih dominan, sementara proyek infrastruktur memerlukan dana jangka panjang. Perusahaan yang menangani infra pada saat ini masih dalam proses untuk mengeluarkan surat berharga di pasar modal. Cepat atau lambat harus dilakukan supaya mendapatkan dana menengah dan jangka panjang dari pasar modal,” kata Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan Wimboh Santoso.BPF

 

Perkembangan pasar modal Indonesia memang sudah pesat. Pada tahun 1977, posisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berada di level 98,00, sementara per 11 Agustus 2017 IHSG sudah berada di level 5.766. Artinya ada peningkatan sebesar 5.000 persen.

Sementara itu, nilai kapitalisasi pasar modal Indonesia pada tahun 1977 sebesar Rp 2,73 miliar, sedangkan per 11 Agustus 2017 nilai kapitalisasinya sudah mencapai Rp6.319,55 triliun.

Selain meningkatkan peran pasar modal dalam pembangunan infrastruktur, diperlukan pula pendalaman pasar modal dengan cara memperbanyak instrumen. Saat ini, instrumen untuk lindung nilai dianggap sangat kurang sehingga perlu dibuat berbagai instrumen untuk dapat memenuhi kebutuhan investor.

Per 7 Juni, data dari PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) mencatat ada 1.000.289 investor. Investor tersebut merupakan gabungan dari pemilik saham, surat utang, reksa dana, surat berharga negara dan efek lain. Dari jumlah tersebut, sebagian besar  adalah investor saham, sebanyak 580.685 dan investor reksa dana sebanyak 523.309 investor. Sementara investor pemilik surat berharga atau surat berharga negara sebanyak 117.816 investor dan pemilik saham warkat sebanyak 1.638 investor.

Investor lokal menguasai 51,14 persen portofolio dan 48,86 persen lainnya adalah investor asing.Menurut  Direktur Utama KSEI, Friderica Widyasari Dewi, jumlah investor yang telah melebihi satu juta tersebut merupakan pencapaian yang luar biasa bagi pasar modal di Indonesia.BESTPRO

Berbagai cara dilakukan untuk menarik minat investor, seperti membuka Galeri Investasi, sudah 300 dibuka hingga 13 Agustus ini. Terbaru ,bursa juga bekerja sama dengan BRI dalam program Desa Nabung Saham. “Nanti BRI dapat menggunakan fasilitas yang dimiliki BEI seperti kantor cabang dan 300 Galeri Investasi,” kata Direktur Utama BEI Tito Sulistio.

Diharapkan berbagai program ini dapat meningkatkan literasi masyarakat tentang pasar modal dan meningkatkan jumlah investor di bursa saham.

Dirgahayu pasar modal Indonesia.

 

Sumber : Tirto.id

KURS RUPIAH 10 AGUSTUS: Pukul 08.55 WIB Spot Melemah 6 Poin ke 13.339

BEST PROFIT – JAKARTA — Ikuti pergerakan rupiah hari ini pasca melemah dalam perdagangan kemarin.

Pergerakann nilai tukar rupiah berakhir melemah pada perdagangan Rabu (9/8/2017).

Rupiah ditutup melemah 0,15% atau 20 poin di Rp13.333 per dolar AS, setelah dibuka dengan pelemahan 0,11% atau 15 poin di Rp13.328.

Sepanjang perdagangan kemarin rupiah bergerak di kisaran Rp13.320 – Rp13.343 per dolar AS.PT BESTPROFIT

Adapun pada perdagangan Selasa (8/8), rupiah ditutup menguat 0,06% atau 8 poin di posisi 13.313 per dolar AS.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan kurs dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama hari ini terpantau turun 0,08% atau 0,073 poin ke 93,574 pada pukul 17.01 WIB.BESTPROFIT

PT BEST PROFIT Sebelumnya indeks dolar dibuka dengan pelemahan 0,10% atau 0,096 poin di level 93,551, setelah pada perdagangan Selasa (8/8) berakhir menguat di posisi 93,647.PT BESTPROFIT FUTURES

Para investor saat ini fokus pada data inflasi Amerika Serikat (AS) yang akan dirilis pada Jumat pekan ini demi melihat potensi kebijakan moneter The Fed.

PT BEST PROFIT FUTURES “Para pedagang cenderung tidak mungkin memberikan gambaran besar menjelang rilis data inflasi AS pada Jumat,” ujar Stephen Innes, head of Asia-Pacific trading di Oanda in Singapore, dikutip dari Bloomberg.BESTPROFIT FUTURES

Nilai tukar rupiah melemah terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini di saat mata uang lainnya di Asia terpantau bergerak variatif.BEST PROFIT FUTURES

BPF Yen Jepang dan renminbi China yang masing-masing terapresiasi 0,48% dan 0,42% memimpin penguatan, sedangkan won Korea Selatan mengalami pelemahan tertajam di Asia sebesar 0,88%.

Penguatan yen didorong oleh meningkatnya ketegangan seputar program nuklir Korea Utara. Daya tarik yen sebagai aset safe haven cenderung naik di tengah meningkatnya tensi global yang mendorong investor menghindari aset berisiko.

Indeks Nikkei Stock Average Volatility melonjak 38% setelah Presiden AS Donald Trump bersumpah bahwa ancaman Korea Utara akan direspon dengan kemarahan yang dahsyat. Komentar itu muncul setelah kabar Korut berhasil mengembangkan hulu ledak nuklir miniatur yang kompatibel dengan rudal. BESTPRO

Agus Marto Bicara Pemanfaatan Big Data & Transformasi Kebijakan Moneter BI

BEST PROFIT – JAKARTA – Perkembangan Internet yang pesat menjadi tantangan tersendiri bagi semua pihak, termasuk bagi para pengambil kebijakan dalam mengelola data dan informasi di era Big Data saat ini.

Tantangan pada era Big Data ini meliputi pemerolehan, kurasi, penyimpanan, penelusuran (search), pembagian, pemindahan, analisis, dan visualisasi data. Tren kian membesarnya himpunan data terjadi akibat bertambahnya informasi dari himpunan-himpunan besar yang saling terkait, dibandingkan dengan himpunan-himpunan kecil lain dengan jumlah total data yang sama.

Korelasi baru dapat ditemukan dalam analisis himpunan data guna “mencermati tren bisnis, menentukan kualitas penelitian, mencegah penyakit, melawan tindak pidana, dan mengetahui kondisi lalu lintas jalan raya secara waktu nyata (Wikipedia).BESTPROFIT

Pada hari ini, Rabu 9 Agustus 2017, dilaksanakan Seminar Nasional Big Data yang dalam kesempatan itu, Gubernur Bank Indonesia Agus D.W Martowardojo hadir secara khusus menyampaikan Keynote Speech dalam seminar yang bertajuk “Globalisasi Digital: Optimalisasi Pemanfaatan Big Data untuk Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi”

Dalam pemaparannya, Agus Marto menyoroti era revolusi digital dewasa ini menurutnya terdapat 3 faktor utama pendorong dari gelombang revolusi industri keempat itu. Pertama, perkembangan telepon seluler.. Kedua, Internet of Things (IoT). Ketiga, Big Data yang didukung oleh kemampuan komputer melakukan analisis yang kompleks (advance analytics).

Untuk mengetahui lebih jauh tentang pemaparan Gubernur BI tentang tantangan dan pemanfaatan Big Data bagi otoritas moneter dalam menentukan arah kebijakannya, Bisnis.com menyajikan khusus materi Keynote Speech tersebut secara lengkap berikut ini. Selamat menyimak.

Yang kami hormati:

– Para Anggota Dewan Gubernur Bank Indonesia – Kepala Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan
– Ketua dan anggota Badan Supervisi Bank Indonesia (BSBI)
– Gubernur Provinsi DKI Jakarta, Bpk. Djarot Saiful Hidayat
– Walikota Makassar, Bpk. M. Ramdhan Pomanto
– Para Panelis dan Moderator Seminar
– Bapak/Ibu, Hadirin sekalian yang berbahagia

Assalamu’alaikum Wr Wb
Selamat Pagi dan Salam Sejahtera bagi kita semua,

Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, karena hanya atas perkenan-Nya kita semua dapat hadir dalam keadaan sehat dan baik untuk bersama-sama mengikuti Seminar Nasional Big Data dengan tema “Globalisasi Digital: Optimalisasi Pemanfatan Big Data untuk Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi”PT BESTPROFIT

Bapak/Ibu, hadirin yang kami hormati,
Saat ini kita memasuki era revolusi digital, yang juga disebut sebagai revolusi industri keempat. Jika revolusi industri pertama ditandai dengan lahirnya mesin uap, revolusi industri kedua dengan munculnya elektrifikasi dan produksi massal, dan revolusi industri ketiga ditandai dengan munculnya teknologi internet, maka revolusi industri keempat adalah fase dimana hampir semua sendi kehidupan kita telah tersentuh layanan digital. Pada fase ini layanan digital telah mempengaruhi cara kita membuat keputusan, cara kita berinteraksi dengan orang lain, dan sekaligus telah mendorong munculnya model-model bisnis baru yang jauh lebih efisien dan inovatif.

Kami mencermati paling tidak terdapat 3 faktor utama pendorong gelombang revolusi digital. Pertama, perkembangan telepon seluler. Dewasa ini, telepon seluler telah menjadi perangkat utama untuk mengakses internet. Mayoritas lalu lintas online dunia saat ini berasal dari perangkat telepon seluler.

Kedua, Internet of Things (IoT). Di 2016, mengutip data Statista, perusahaan penyedia data statistik online berpusat di Jerman, hampir 18 miliar piranti berbasis internet telah saling terkoneksi yang mengakibatkan terciptanya konsep-konsep inovatif seperti smart homes.PT BESTPROFIT FUTURES

Ketiga, Big Data yang didukung oleh kemampuan komputer melakukan analisis yang kompleks (advance analytics). Di 2016, lalu lintas internet global setidaknya telah mencapai 1,2 zetabyte atau 1,2 triliun gigabytes (Cisco 2016),yang terutama dipicu oleh peningkatan tren penggunaan media sosial melalui perangkat gawai (gadget). Pada 2013 saja terdapat setidaknya 1,85 miliar pengguna aktif media sosial, yang kemudian meningkat menjadi 2,8 miliar pada 2016, mengutip We are Social (2017) sebuah global agency di bidang sosial media, berpusat di New York.

Aktivitas media sosial dan layanan digital yang makin meluas tersebut telah mendorong terciptanya data baru secara masif. Data yang berjumlah sangat besar, bervariasi dan dihasilkan secara sangat cepat (real time) inilah yang dikenal sebagai Big Data. Seiring dengan perkembangan teknologi komputasi yang pesat, saat ini kita telah dapat menyaring informasi dan melakukan analisa yang mendalam (advance analytics) terhadap data tersebut, sehingga dapat digunakan untuk keperluan yang produktif.

Ketiga faktor di atas merupakan bagian dari fenomena terobosan teknologi yang dikenal dengan nama disruptive technologies. Fenomena ini menggambarkan bagaimana terobosan teknologi mampu merubah banyak hal dalam kehidupan masyarakat.BEST PROFIT FUTURES

Munculnya berbagai aplikasi sosial media misalnya, telah menyebabkan perubahan dalam cara manusia berinteraksi, e-commerce telah menggeser preferensi masyarakat dari berbelanja di pusat perbelanjaan menjadi belanja secara online, teknologi cloud computing telah merubah metode penyimpanan data secara konvensional, dan lain sebagainya. Secara bersama-sama, disruptive technologies inilah yang menjadi motor penggerak utama bergulirnya revolusi digital secara global.

Bapak/Ibu, hadirin yang kami hormati,
Revolusi digital tak dapat dihindari juga telah melanda Indonesia. Dalam beberapa tahun terakhir, kita melihat pertumbuhan perusahaan-perusahaan start-ups berbasis digital yang luar biasa, baik di perdagangan barang dan jasa (e-commerce), moda pembayaran, maupun pembiayaan. Jumlah pengguna internet yang berbelanja secara online di tanah air pada 2016 telah mencapai 24,74 juta orang (Statista 2016).BPF

Selama setahun terakhir, para pengguna internet tersebut telah membelanjakan uang sekitar USD5,6 miliar (sekitar Rp75 triliun) di berbagai e-commerce. Dengan kata lain, setiap pengguna e-commerce di Indonesia rata-rata membelanjakan Rp3 juta per tahun. Aktivitas belanja online yang tinggi ini sejalan dengan keaktifan orang Indonesia di berbagai media sosial. Jakarta bahkan dikenal sebagai “Twitter capital of the world”.

Selain e-commerce, revolusi digital di Indonesia juga telah menyentuh sektor keuangan. Hal ini antara lain terlihat dari jumlah fintech player di Indonesia yang dalam 2 tahun terakhir (2015-2016) tumbuh pesat sebesar 78%.

Bapak/Ibu, hadirin yang kami hormati,
Potensi besar Indonesia dalam memanfaatkan era digital ini sayangnya masih belum kita optimalkan. Hal ini mengingat penetrasi internet/rasio antara jumlah pengguna internet dan jumlah penduduk di Indonesia tergolong masih cukup rendah, yaitu sekitar 51% pada 2016 (sumber We are Social 2017). Angka ini masih relatif jauh dibawah negara-negara tetangga kita, seperti Malaysia (71%) dan Thailand (67%). Sebagai perbandingan, angka penetrasi internet di negara seperti Inggris dan Jepang sudah mencapai di atas 90%.

Persoalan utama yang menyebabkan belum optimalnya pemanfaatan teknologi digital di Indonesia berasal dari kualitas layanan internet yang relatif masih tertinggal dibandingkan negara lain. Hambatan lain adalah pengeluaran investasi di bidang teknologi informasi (TI) yang juga relatif tertinggal dibanding negara lain.

Investasi TI di sektor-sektor utama pemberi kontribusi ke pertumbuhan ekonomi seperti manufaktur dan pertambangan relatif masih rendah, bahkan cenderung lebih rendah dibandingkan negara-negara dalam kelompok yang sama. Namun investasi yang cukup tinggi tercatat di sektor tersier seperti e-commerce dan fintech yang pada 2016 diperkirakan mencapai sebesar USD1,7 miliar.PT BEST PROFIT FUTURES

Apabila hambatan-hambatan dalam pemanfaatan teknologi digital tersebut dapat diatasi, maka diperkirakan bahwa digitalisasi ekonomi mampu memberikan nilai tambah sebesar USD150 miliar terhadap PDB Indonesia pada 2025 (sekitar 10% terhadap PDB), yang dibarengi dengan peningkatan penyerapan tenaga kerja mencapai hampir 4 juta orang (Studi Mc Kinsey Indonesia: McKinsey Indonesia-2016, Unlocking Indonesia’s Digital Opportunity)

Revolusi digital yang memicu aktivitas berbasis digital yang makin meluas telah menciptakan ledakan informasi maupun banjir data. Selain jumlahnya yang sangat besar dan dihasilkan dengan sangat cepat, variasi data yang tercipta juga sangat beragam, sehingga Big Data memiliki karakteristik yang dikenal dengan 3V, yaitu : volume, variety, dan velocity. Karakteristik ini kemudian berkembang menjadi 5V, dengan tambahan value dan veracity (keyakinan terhadap kebenaran data).

Data yang berjumlah sangat besar ini sayangnya masih sangat sedikit yang telah termanfaatkan. Studi oleh IBM menunjukkan bahwa 80% dari semua data di dunia baik yang berupa teks, gambar, video ataupun suara, belum dapat dimanfaatkan, terutama karena sifatnya yang tidak terstruktur. Di sisi lain, disadari bahwa data yang sangat besar tersebut sesungguhnya menyimpan begitu banyak informasi dan pengetahuan yang lebih dalam, yang apabila diolah dengan baik, dapat memberikan manfaat yang luar biasa.

Mencermati fenomena, ini maka seminar kali ini secara khusus mengangkat tema: “Globalisasi Digital: Optimalisasi Pemanfaatan Big Data untuk Akselerasi Pertumbuhan Ekonomi”.

Dalam pengamatan kami, pemanfaatan Big Data di Tanah Air dalam 5 tahun terakhir telah semakin meluas. Industri komersial, termasuk di dalamnya industri sektor keuangan, relatif telah lebih dahulu memanfaatkan Big Data guna mendukung aktivitas bisnisnya, antara lain untuk meningkatkan pelayanan kepada pelanggan secara lebih efisien dan efektif, mengurangi biaya distribusi serta memperkuat analisis risiko bisnis di sektor keuangan.

Beberapa instansi pemerintah/otoritas di Indonesia juga sudah mulai menggunakan Big Data dalam pengambilan kebijakan ataupun mendukung proses kerjanya. Pemerintah daerah melalui aplikasi smart city juga secara proaktif telah mulai memanfaatkan Big Data bagi peningkatan kualitas layanan publik seperti pendidikan, kesehatan, transportasi dan keamanan kota.

Maraknya pengembangan smart city di berbagai kota memunculkan pula sumber data yang potensial dimanfaatkan lebih lanjut. Apabila data yang tersimpan pada setiap smart city dapat saling terhubung, bisa jadi persoalan di satu kota ditemukan solusinya di kota lain. Contohnya, pemetaan secara cermat mengenai data surplus atau defisit komoditas antar kota dapat disinergikan untuk mengurangi volatilitas pasokan dan ketimpangan harga.

Sementara itu, kalangan Bank Sentral, termasuk Bank Indonesia, dalam beberapa tahun terakhir juga sudah mulai memanfaatkan Big Data guna mendukung proses pengambilan keputusan.

 

Bapak/Ibu, hadirin yang kami hormati,
Pemanfaatan Big Data di Bank Indonesia dimulai pada bulan Oktober 2014, sejalan dengan dicanangkannya Program Transformasi Menuju Bank Indonesia 2024. Salah satu tema transformasi tersebut adalah state of the art technology, yang pada intinya adalah mendorong Bank Indonesia untuk memanfaatkan teknologi dan pendekatan mutakhir yang akan membantu Bank Indonesia dalam mencapai visi dan misinya secara efektif dan efisien.

Secara khusus, pemanfaatan Big Data di Bank Indonesia diharapkan dapat memperkuat proses pengambilan keputusan di sektor Moneter, Pasar Keuangan, Stabilitas Sistem Keuangan (SSK), Sistem Pembayaran dan Pengelolaan Uang Rupiah (SP-PUR).

Melalui pengamatan yang mendalam, manfaat Big Data bagi Bank Indonesia setidaknya akan diperoleh dari beberapa area sebagai berikut:

Tersedianya indikator-indikator baru secara lebih cepat dan lebih sering (high frequency) untuk mengatasi isu data lag yang seringkali dihadapi dalam perumusan kebijakan.
Keterkaitan antar pelaku keuangan (termasuk di dalamnya bank, lembaga keuangan non bank, maupun korporasi) dapat dipetakan secara lebih baik melalui penguatan network analytics guna memitigasi risiko sistemik.

Persepsi publik atas kebijakan Bank Indonesia dapat dipantau secara lebih akurat melalui sentiment analysis guna perbaikan strategi komunikasi kebijakan Bank Indonesia. Kami merumuskan pengembangan Big Data di Bank Indonesia menjadi tiga fase, yaitu (i) establishing foundation 2015-2018, (ii) empowering 2019-2021 dan (iii) executing innovative use 2022 – dst.

Dalam proses membangun pondasi yang kokoh untuk pemanfaatan Big Data, Bank Indonesia telah melaksanakan sejumlah pilot projects yang menghasilkan sejumlah indikator baru yang bersumber dari berbagai portal online, seperti indeks job vacancy dan indeks harga properti.

Selain itu, Big Data analytics mulai digunakan secara rutin sebagai bagian dari asesmen framework pengawasan sistem pembayaran. Untuk mendukung itu semua, terus dibangun kapabilitas baru untuk mengolah dan menganalisis Big Data.BESTPRO

Pada fase terakhir (mulai 2022), pemanfaatan Big Data di Bank Indonesia diharapkan telah bersifat real time sehingga dapat mendukung terciptanya inovasi penyediaan data/indikator baru dengan memanfaatkan sumber data yang lebih bervariasi sehingga dapat mendukung proses pengambilan keputusan yang berkualitas tinggi.

Apabila hambatan-hambatan dalam pemanfaatan teknologi digital tersebut dapat diatasi, maka diperkirakan bahwa digitalisasi ekonomi mampu memberikan nilai tambah sebesar USD150 miliar terhadap PDB Indonesia pada 2025

Bapak/Ibu, hadirin yang kami hormati,
Kami memandang bahwa secara umum terdapat 3 tantangan utama yang dihadapi dalam pemanfaatan Big Data. Pertama, ketersediaan dan akses terhadap sumber data. Ketersediaan akses data secara real-time merupakan basis bagi perumusan kebijakan yang mampu menjawab situasi terkini.

Di sisi lain, aksesibilitas data juga sering berbenturan dengan aspek kerahasiaan data. Oleh karena itu, perlu dibangun sebuah mekanisme yang dapat menjembatani kepentingan pemilik data agar bersedia untuk sharing data tanpa menimbulkan kekuatiran akan aspek kerahasiaannya.

Tantangan kedua adalah kualitas data. Salah satu karakteristik Big Data yaitu veracity (keyakinan akan kebenaran data), mengingat informasi yang terkandung dalam Big Data adalah data mentah yang masih banyak mengandung “noise”. Proses data cleansing dengan demikian menjadi hal yang kritikal guna memastikan data yang diperoleh bernilai untuk dianalisis lebih lanjut.

Tantangan selanjutnya adalah keterbatasan SDM dengan kualifikasi data scientist. Revolusi digital ternyata belum diimbangi dengan kecukupan keluaran perguruan tinggi yang memiliki keahlian memroses Big Data. Untuk itu, diperlukan kolaborasi erat dengan dunia akademisi agar kapabilitas Big Data dapat juga dibangun secara bertahap di internal institusi.

Kami meyakini bahwa revolusi digital yang tengah berlangsung ini, apabila dapat dimanfaatkan dengan baik, akan mampu membawa Indonesia pada lintasan pertumbuhan ekonomi sekitar 7% per tahun. World Bank (2016) menggambarkan hal ini dengan menggunakan terminologi digital dividens, di mana digitalisasi perekonomian diyakini mampu memberikan terobosan dalam bentuk peningkatan efisiensi di berbagai sektor ekonomi yang lahir dari target maupun keputusan-keputusan bisnis yang lebih akurat, mendorong terciptanya inovasi-inovasi baru, sembari menciptakan ekosistem perekonomian yang lebih inklusif.

Kesemuanya ini pada akhirnya akan meningkatan produktivitas perekonomian secara signifikan, yang pada gilirannya akan membawa perekonomian kepada lintasan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan berkesinambungan, yang diiringi dengan peningkatan kesempatan kerja dan pelayanan publik yang lebih baik.

Terobosan ekonomi digital guna peningkatan kesempatan kerja dan produktivitas merupakan pekerjaan rumah bersama. Dalam hal ini, pengampu kebijakan publik, pelaku usaha, dan akademisi sangat penting untuk saling berkolaborasi.

Sebagai penutup, melalui seminar ini kami ingin mengajak semua elemen masyarakat untuk saling berbagi pengetahuan dan pengalaman dalam hal pemanfaatan Big Data yang merupakan fenomena tak terpisahkan dari perekonomian digital, sekaligus mendorong terciptanya kolaborasi antar institusi guna mendorong pemanfaatan Big Data secara lebih optimal.

Seminar nasional ini juga merupakan persembahan “Karya Nyata BI di Setiap Makna Indonesia” dalam rangka menggelorakan semangat gotong royong untuk membangun Indonesia yang lebih baik ke depan, sejalan dengan tema peringatan Hari Ulang Tahun ke-72 Kemerdekaan RI yaitu “Indonesia Kerja Bersama”.

Hal ini untuk memastikan potensi digital Indonesia yang sangat besar dapat ditransformasikan untuk pada akhirnya berkontribusi secara konkrit dalam akselerasi pertumbuhan ekonomi nasional.PT BEST PROFIT

Sekian dan terima kasih
Wassalamu’alaikum Wr Wb

Agus D.W. Martowardojo
Gubernur Bank Indonesia