PT Best Profit Futures Jambi

Category Archives: EID MUBARAQ

PT. BESTPROFIT FUTURES JAMBI Qurban Sapi pada Idul Adha 1438 H

IMG-20170901-WA0233BEST PROFIT, Jambi – PT. Bestprofit Futures Jambi selalu memiliki tradisi setiap menjelang hari raya Idul Adha 1438 H. Penyembelihan hewan kurban dilakukan setelah shalat jum’at  (1/9/2017).

Ibadah kurban hukumnya sunnah muakkadah (sunnah yang sangat dianjurkan). Bagi orang yang mampu melakukannya lalu ia meninggalkan hal itu, maka ia dihukumi makruh. Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim bahwa Nabi saw pernah berkurban dengan dua kambing kibasy yang sama-sama berwarna putih kehitam-hitaman dan bertanduk. Beliau sendiri yang menyembelih kurban tersebut, dan membacakan nama Allah serta bertakbir (waktu memotongnya).

Dari Ummu Salamah ra, Nabi saw bersabda, “Dan jika kalian telah melihat hilal (tanggal) masuknya bulan Dzul Hijjah, dan salah seorang di antara kamu ingin berkurban, maka hendaklah ia membiarkan rambut dan kukunya.” HR Muslim

Arti sabda Nabi saw, ” ingin berkorban” adalah dalil bahwa ibadah kurban ini sunnah, bukan wajib.

Diriwayatkan dari Abu Bakar dan Umar ra bahwa mereka berdua belum pernah melakukan kurban untuk keluarga mereka berdua, lantaran keduanya takut jika perihal kurban itu dianggap wajib.

Sapi yang disembelih merupakan sapi yang sudah disiapkan dari pihak Bestprofit, karena kegiatan pemotongan hewan qurban nerupakan agenda tahunan di BPF yang selalu dilakukan dalam memperingati hari raya Idul Adha.

Pemotongan hewan qurban dilaksanakan di halaman depan PT. Bestprofit futures jambi yang diahadiri Atasan, Karyawan serta disaksikan oleh Masyarakat sekitar.

“seluruh daging hasil Qurban dibagikan secara langsung kepada masyarakat sekitar dan Alhamdulillah, kami sekeluarga bisa kurban sapi pada tahun ini. Semoga, kegiatan berqurban selalu tetap dilaksanakan dan dapat berjalan dengan baik dan semoga hewan qurban yang dikurbankan bisa bertambah .” ujar Tri Noprianto selaku koordinator penyelenggara qurban. BESTPROFIT

Dari hasil wawancara kepada masyarakat sekitar, mereka mengatakan merasa senang sekali dan merasa terbantu dengan adanya kegiatan rutin ber-Qurban yang dilakukan oleh PT. Bestprofit Futures Jambi.

Penyaluran daging hewan Qurban ini tak lain sebagai bentuk syukur dari Bestprofit Futures Jambi kepada Allah SWT. atas tumpahan rahmat dan karunia yang terus diberikan, sehingga berbagai kegiatan yang dilaksanakan di PT. Bestprofit Futures Jambi  dapat berjalan dengan baik dan lancar.

Selain itu, hal ini dilakukan untuk menciptakan silaturahmi antar pihak Bestprofit Futures Jambi dengan masyarakat bisa berjalan dengan baik dan semoga pada hari raya Idul Adha  berikutnya BPF tetap menjalankan agenda rutin yang dilakukan setiap tahunnya dalam memperingati hari raya Idul Adha dan menambah jumlah hewan kurban yang akan dikurbankan. PT BESTPROFIT

PT Bestprofit : Mencari Berkah dengan Berziarah ke Makam Habib

Mencari Berkah dengan Berziarah ke Makam HabibPT Bestprofit – Sebelum direlokasi, Kawasan Kwitang terkenal sebagai pusat penjualan buku-buku tua di Jakarta. Pamornya kian menanjak setelah film Ada Apa Dengan Cinta? mengambil salah satu adegan di kawasan Senen tersebut. Tapi Kwitang bukan cuma tentang buku loak dan film remaja. Salah satu kawasan di Jakarta Pusat ini juga dikenal sebagai tujuan wisata religius penting bagi para peziarah.

Reputasi Kwitang sebagai kawasan religius tak terlepas dari keberadaan makam Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi. Terletak di lingkungan Masjid Al-Riyadh, Jalan Kembang VI, makam tersebut telah menjadi magnet beragam orang dari pelbagai daerah untuk bertandang ke sana selama puluhan tahun.

“Di Jakarta yang mesti diziarahi di sini,” kata Nasrun, seorang peziarah asal Banjarmasin, Kalimantan Barat, akhir Mei lalu.

Malam telah melipat petang saat Nasrun datang. Bersama 12 saudara dan tetangganya, Nasrun khusyuk berdoa di makam Habib Ali. Ia mengecup nisan saat hendak meninggalkan makam. Nasrun berkata ia sudah berulangkali berziarah ke sini.

“Beliau ulama yang disegani. Beliau punya kasih sayang terhadap sesama muslim,” ujarnya.

Bagi Nasrun, Habib Ali adalah panutan. Nasrun berharap, dengan berziarah, ia bisa mengikuti jejak dakwah Habib Ali.

“Kami datang ke sini mudah-mudahan bisa mengikuti jejak beliau,” ujarnya, menambahkan bahwa ia selalu merasa kangen untuk kembali.

Habib Ali lahir di Jakarta pada 20 April 1879. Ia adalah salah satu tokoh penting dalam siar Islam di Jakarta pada abad 20. Salah satu peran Habib Ali adalah mendirikan Masjid Al-Riyadh. Di masjid ini Habib Ali menggelar majelis taklim atau tempat mengaji bagi murid-muridnya maupun penduduk sekitar.

Sejumlah murid Habib Ali kelak menjadi ulama kharismatik di tanah Betawi seperti K.H Abdullah Syafi’i (pendiri Majelis Taklim As Syafi’iyah), K.H Thahir Rohili (pendiri Majelis Taklim Attahiriyah), dan K.H Fathullah Harun (Melis Taklim Daarussalafie). Ia juga berdakwah hingga ke Brunei Darussalam, India, Malaysia, Pakistan, Singapura, dan Sri Lanka.

Ketika perang kemerdekaan berkecamuk, Masjid Al-Riyadh sempat digunakan sebagai tempat pertemuan para pejuang kemerdekaan. Hal ini tidak mengherankan. Sebab, selain dikenal sebagai juru dakwah, Habib Ali juga pejuang yang tergabung dalam tentara Hizbullah, Suara Jakarta, dan teman dekat Sukarno. Presiden pertama Indonesia itu bahkan turut meresmikan Islamic Center yang didirikan Habib Ali di dekat lokasi masjid pada 1960-an.

Pada 1968, Habib Ali meninggal dan dimakamkan di area Masjid Ar-Riyadh. Majelis taklim yang ia inisiasi masih bertahan sampai sekarang. Ribuan orang datang untuk mengikuti pengajian tersebut saban Ahad.

Makam Habib Ali juga tidak pernah sepi peziarah. Saban hari, tak peduli pagi, siang, sore, dan malam, ada saja peziarah datang silih berganti. Salah satu yang membuat sosok Habib Ali begitu dicintai adalah siar ceramahnya mengenai ketauhidan serta menekankan tingkah laku yang terpuji dan solidaritas sosial.

Seorang penjaga makam, yang enggan disebutkan namanya, mengatakan peziarah tidak hanya datang dari Jakarta dan sekitarnya, tapi juga dari mancanegara. “Ada yang datang dari Malaysia, Singapura, Brunei, India, Timur Tengah,” katanya.

Saat ini makam dan majelis taklim Habib Ali dikelola oleh cucunya, yakni Habib Abdurrahman bin Muhammad bin Ali Al Habsyi. Susilo Bambang Yudhoyono diketahui bersahabat dan senang berkunjung ke kediaman Habib Abdurrahman persis di sisi masjid.

Keluarga Habib Abdurrahman mempersilahkan peziarah berdoa di makam. Tapi melarang mereka membakar kemenyan, menyiram makam dengan air, dan meletakkan uang di makam. Segala hal tersebut menurut penjaga makam dilakukan guna mencegah kesyirikan terhadap makam.

Habib Kuncung

Bergeser ke kawasan Jakarta Selatan ada kompleks pemakaman keramat Habib Ahmad bin Alwi Al Haddad alias Habib Kuncung. Kompleks pemakaman ini merupakan tanah milik Habib Abdullah bin Ja’far Al Haddad, kolega Habib Kuncung. Tidak diketahui pasti kapan area pemakaman di sini mulai ada. Tapi sejumlah catatan menyebut Habib Kuncung meninggal pada 1926 dalam usia 90-an.

Berbeda dengan Habib Ali, sosok Habib Kuncung lebih banyak diselubungi cerita mitos. Reputasinya dibentuk lewat cerita tentang kesederhanaan, kedermawanan, dan kesaktian.

Meski cerita tentang kesaktian Habib Kuncung sukar dibuktikan kebenarannya, tetapi hal itulah yang justru membuat para peziarah meyakini bahwa Habib Kuncung ialah Waliyullah. Sejumlah peziarah bahkan rela mengeluarkan biaya ekstra demi bisa datang ke sini.

“Saya dari Tambun Rengas, Cakung, Jakarta Timur, datang ke sini pakai mobil sewaan,” kata Jadidah, seorang peziarah.

Jadidah berkata sudah berziarah ke makam Habib Kuncung sejak masih kecil. Tradisi ziarah sudah diajarkan oleh orangtua dan para guru mengajinya. Bagi Jadidah, cerita kesaktian Habib Kuncung ialah berkah yang dimilikinya sebagai Wali Allah sekaligus keturunan Nabi Muhammad.

Salah satu alasan utama mengapa seseorang berziarah adalah untuk berdoa. Jadidah dan peziarah lain yang saya temui meyakini berdoa di makam seorang habib, wali, atau orang yang memiliki reputasi kesalehan, dapat membuat doa lebih mudah terkabul.

“Wali Allah itu, kan, setitik pun tidak ada dosa. Surganya sudah dijamin sama Allah. Makanya kita deketin, tuh. Nanti dengan doa beliau, (doa kita) diijabah langsung,” kata Jadidah.

Meski begitu, Jadidah dan peziarah lain mengatakan mereka tidak pernah berdoa atau memohon kepada makam. Menurutnya makam sebatas perantara. “Semua kita sih mintanya kepada Allah. Kita, kan, orang yang maha kotor. Dia, kan, bersih,” tambah Jadidah.

Di makam Habib Kuncung, para peziarah biasanya tidak hanya berdoa. Kebanyakan juga mencari air minum yang disimpan di dalam tiga buah gentong. Meski air yang diminum sebenarnya hanya air biasa, tetapi peziarah percaya air itu mengandung berkah karena disimpan di dalam gentong yang telah ada sejak area pemakaman Habib Kuncung berdiri. Pemakaman yang selalu ramai peziarah ini sekarang dikelola oleh keturunan Habib Abdullah bin Ja’far Al Haddad.

Habib Muhsin Condet

Di kawasan Condet, Cililitan, ada kompleks pemakaman Al-Hawi. Sejumlah habib kharismatik dimakamkan di sini seperti Habib Muhsin bin Muhammad Alatas, Habib Zain bin Abdullah Alaydrus, Habib Salim bin Jindan, Habib Ali bin Husein Alatas, dan Habib Umar bin Hud Alatas.

Kompleks pemakaman Al-Hawi selalu ramai pada bulan Syakban. Orang Betawi menyebutnya bulan ruwah. Orang-orang dari pelbagai daerah datang untuk berziarah. “Ada dari Kalimantan, Malaysia, Singapura,” kata Muhsin Alatas, cicit Habib Muhsin.

Muhsin berkata bahwa kakek buyutnya bukanlah seorang juru dakwah dan tidak memiliki satu pun majelis taklim. Namun, sang kakek diketahui senang mengaji agama kepada sejumlah habib tenar di Jakarta dan sekitarnya. Salah satunya kepada Habib Abdullah bin Muhsin Alatas di bilangan Empang, Bogor.

Semasa hidupnya Habib Muhsin dikenal dengan kesalehan sosial yang mau membantu siapa pun. Muhsin mengatakan, biasanya orang-orang datang kepada kakek buyutnya untuk berobat. Meski tidak memiliki rekam jejak ilmu pengobatan, orang-orang percaya bahwa air pemberian Habib Muhsin menyembuhkan penyakit. Tidak diketahui pasti kapan kompleks pemakaman Al-Hawi di Jakarta Timur ini berdiri. Namun Muhsin mengatakan kakek buyutnya adalah orang pertama yang dimakamkan di sini.

“Meninggalnya 1938. Saya belum lahir,” katanya.

Abdul Azis, peziarah asal Sukabumi, berkata sudah berziarah ke Kompleks Makam Al-Hawi sejak kecil. “Kalau ke Jakarta diajak ziarah ke sini. Kadang ke Kalibata (makam Habib Kuncung), Kwitang (makam Habib Ali), Kampung Banda, dan Luar Batang,” katanya.

Azis tidak memiliki hari atau alasan khusus untuk berziarah. Kapan hati memanggil saat itulah kakinya akan melangkah. Ia bisa menghabiskan tiga jam untuk berdoa di tempat ziarah. Biasanya Aziz banyak membaca istigfar dan salawat.

Seperti kebanyakan peziarah lain, Aziz percaya bahwa orang-orang saleh meski telah meninggal masih bisa memberi manfaat kepada mereka yang masih hidup. Salah satu manfaat itu adalah keberkahan.

“Pada dasarnya kita mengambil berkah saja. Orang saleh walau meninggal sebenarnya tidak meninggal,” katanya.  PT Bestprofit

Best Profit : Kisah Lebaran Iqbal dan Mama yang Beda Agama

Kisah Lebaran Iqbal dan Mama yang Beda AgamaBest Profit : Pada suatu siang, Natalina sibuk di dapur. Potongan ayam dan bumbu-bumbu sudah disiapkan di meja makan. Ia mulai memasak opor dalam porsi besar. Besok, adalah hari raya Idul Fitri, ia menyiapkan hidangan spesial lebaran, opor ayam untuk keluarganya.

Sesungguhnya Natalina tidak benar-benar merayakan lebaran. Ia bahkan tidak berpuasa selama Ramadan. Itu semua memang tidak dilakukan Ina, begitu ia disapa, karena ia adalah seorang Kristen. Semua itu dilakukannya lantaran tugasnya sebagai seorang istri dan seorang ibu bagi suami dan anaknya yang seorang muslim.

Sepanjang siang hingga sore ia sibuk di dapur. Menjelang Magrib, keluarganya sudah berkumpul di ruang keluarga. Kusnandar, suaminya, serta Iqbal Syafii anak pertamanya sudah menunggu saat-saat berbuka puasa terakhir. Begitu opor matang, mereka langsung mengambil piring, nasi dan mulai makan. Sementara Ina melanjutkan tugas lainnya, ia menyiapkan baju dan alat salat untuk suami dan anaknya, karena keesokan paginya mereka akan melaksanakan salat Id.

“Aku menjalankan tugasku sebagai istri dan ibu, meski suami dan anak beda agama, ya aku tetap harus menyiapkan segala sesuatunya untuk mereka, dari menyiapkan baju buat salat ied sampai masak opor,” kata Ina.

Perihal kebiasaan masak opor saat lebaran itu sempat membuat Iqbal bertanya-tanya. Saat ia duduk di bangku SMP, terbersit dalam benaknya satu pertanyaan konyol: bagaimana bisa seorang Kristen bisa masak opor saat lebaran?

“Aku pikir orang Kristen enggak bisa masak opor, soalnya kan kalau Natalan enggak masak opor. Nah kalau pas lebaran memang biasanya makannya opor. Mamaku itu Kristen, bisa dan mau masak opor buatku dan papa yang muslim. Apa enggak aneh?” kata Iqbal mengingat masa kecilnya.

Pertanyaan itu tidak pernah ditanyakan Iqbal langsung pada ibunya. Ia menyimpannya dalam hati.
Ina justru mendapatkan pertanyaan yang tidak lebih konyol dari masak opor. Suatu sore, Ina berkunjung ke rumah guru mengaji Iqbal yang tinggal tak jauh dari rumah. Guru ngaji itu bercerita tentang Iqbal yang beberapa kali bertanya soal perbedaan agama dalam keluarga.

“Bu, mamaku itu Kristen, kalau saya puasa terus yang masak untuk buka dan sahur itu mama, apa puasa saya bisa batal?” kata Ina menirukan pertanyaan Iqbal pada guru mengajinya. Saat itu, Ina tertawa. “Ya, itu yang membuat aku terharu, momen paling aku ingat. Waktu itu Iqbal masih SD atau SMP begitu.”

Memiliki keluarga yang berbeda agama tidak serumit yang dibayangkan orang. Ina menganggap hal itu tidak ada bedanya dengan keluarga lainnya. Hal-hal yang dilakukannya, bagi Ina, memang sudah tugasnya sebagai ibu. Ia juga menyiapkan takjil untuk masjid dekat rumah kala kebagian giliran menyumbang. Di kampungnya, Klitren, Yogyakarta, ada kebiasaan selama bulan puasa masing-masing keluarga secara bergantian menyumbang takjil di masjid.

Tidak cuma menyiapkan takjil saja, Ina juga yang memaksa Iqbal untuk ikut kegiatan di Tempat Pengajian Alquran. Iqbal ingat, setiap sore ia selalu disuruh lekas mandi dan ikut mengaji di masjid. Iqbal menurut saja. “Kan, setiap sore itu memang ada TPA, ya walau beda agama, saya bawa Iqbal ke sana, biar dia bisa belajar agama,” ujar Ina.

Keputusan Ina membawa Iqbal ke TPA menjadi hal yang disyukuri Iqbal ketika sudah dewasa. Iqbal sadar keluarganya bukanlah keluarga yang religius, sementara itu lingkungan tempat tinggalnya pun tidak sepenuhnya baik.

“Aku tahu mama pengin aku bisa ngaji, bisa jadi anak yang baik. Apalagi kalau lihat lingkungan sekitar, kalau tidak dibentengi agama, bisa repot,” beber Iqbal.

Tidak hanya urusan mengaji, Iqbal juga merasa bersyukur selama bulan puasa mamanya selalu menyiapkan hidangan buka dan sahur. “Kalau sahur mama bangunin, membelikan makanan kalau memang tidak masak. Ya apa yang dilakukan mama, itu yang membentuk saya sekarang,” ujar Iqbal.

Lebaran kemarin pun mereka rayakan bersama. Hari raya itu tidak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Ina memasak opor ayam untuk keluarga, Iqbal yang sudah membangun keluarga sendiri pun pulang ke rumah. Tidak ada yang amat spesial dalam lebaran kali ini, seperti halnya ihwal perbedaan keyakinan antara ibu-anak Natalina dan Iqbal. Semuanya biasa saja. Best Profit

Bestprofit : KIS dan Kisah Melewati Lebaran di Rumah Sakit

KIS dan Kisah Melewati Lebaran di Rumah SakitBestprofit – Usai salat Id, Karti (56) langsung bergegas pulang ke rumah. Warga Pasar Minggu ini terburu-buru saat menghabiskan makan paginya. Ia membungkus nasi, opor ayam dan kerupuk dalam rantang untuk anaknya, Mulyanih (42) yang kini sedang terbaring di Rumah Sakit Umum Daerah Pasar Minggu, Jakarta Selatan. Perjalanan dari rumah Karti ke rumah sakit hanya sekitar 10 menit, ia naik motor membonceng cucunya yang sudah berusia 18 tahun. Sampai di parkiran, ia langsung buru-buru naik ke lantai enam RSUD.

“Ayo buruan, kasian emak mu, belum makan,” kata Karti sambil berjalan menenteng rantang. Mulyanih anak pertamanya itu baru saja melahirkan putra keduanya pada Kamis 22 Juni kemarin. Namun karena kelahiran prematur, Mulyanih dan bayinya terpaksa dirawat lebih lama di rumah sakit. Sang bayi yang belum diberi nama itu kini sedang ada di ICU, sementara itu Mulyanih sudah diperbolehkan pulang lebih cepat.

Keluarga Karti pada lebaran kali ini terpaksa merayakan lebaran di rumah sakit. Semula Mulayanih, suami dan anaknya berencana mudik ke Semarang pada Jumat kemarin. Namun, semuanya batal karena Mulyanih melahirkan. Karti sempat bercerita tentang keluarganya yang belakangan ini sering berurusan dengan rumah sakit.

“Bulan Maret kemarin, adiknya Mulyanih, si Agus, amputasi jari kakinya di rumah sakit Fatmawati. Sakit gula, busuk jari kakinya satu,” ujar Karti, sambil membuka rantang berisi nasi dan opor ayam.

Saat Mulyanih dan suaminya menyantap opor, Karti turun ke lobi untuk menanyakan urusan administrasi persalinan Mulyanih. Ruang tunggu bagian administrasi itu sepi, hanya ada lima orang saja yang mengantre. Dua petugas bagian administrasi tampak santai melayani keluarga pasien. Karti duduk menunggu antrean. Tangannya memegang sejumlah dokumen kesehatan dan indentitas anaknya.

“Khawatir ya kalau harus bayar,” katanya gusar.

Karti dan keluarganya sudah memiliki Kartu Indonesia Sehat (KIS), termasuk Mulyanih. Dengan kartu tersebut seharusnya orang bisa mendapatkan pelayanan kesehatan secara gratis, tapi ia tidak yakin biaya persalinan sang anak bisa ditanggung dengan kartu jaminan sosial itu.

“Cucu saya kan yang baru lahir juga belum punya, harus diurus dulu. Khawatir kalau harus bayar,” kata Karti cemas.

Namun, setelah setelah bertemu dengan petugas bagian administrasi rumah sakit, ia menjadi lega. “Kalau pakai KIS, sudah ditanggung semua, jadi tidak bayar lagi,” tutur Karti yang baru saja mendapat cucu ketiganya.

Untuk mengurus KIS menurut Karti tidak susah. Semula, saat mengetahui ada program BPJS Kesehatan, ia meminta anak-anaknya mengurusnya. “Bayar pun nggak masalah, kan murah juga,” ujarnya.

Namun saat hendak mendaftar, Karti justru mendapat informasi dari kelurahan bahwa ia dan keluarganya terdaftar sebagai penerima KIS, ia pun merasa gembira.

“Seingat saya dulu cuma bawa KTP dan Kartu Keluarga saja,” ujarnya.

Secara umum untuk mendapatkan KIS ini tidak memerlukan banyak dokumen, cukup dengan Kartu Keluarga, KTP anggota keluarga, Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) dari RT/RW dan kelurahan setempat serta surat surat pengantar dari Puskesmas. Warga pun tidak perlu memiliki rekening bank karena semua iuran untuk KIS ini sudah ditanggung oleh pemerintah–bagi mereka kategori yang tidak mampu. Karti sudah beberapa kali memanfaatkan KIS untuk berobat.

“Saya juga sering pakai, karena saya itu vertigo, kemarin juga pas puasa berobat pakai KIS juga gratis,” kata Karti.

Anak keduanya, Agus saat menjalani operasi amputasi jari kaki di RS Fatmawati juga tidak mengeluarkan biaya sepeser pun. Bahkan untuk perawatan dan kontrol di Puskesmas juga diperoleh Agus secara gratis.

“Agus itu juga gratis, tapi kan saya belum pernah mengurus orang melahirkan, kalau harus bayar kan repot. Sudah lebaran di rumah sakit, harus mikir biaya lagi,” katanya.

Usai memastikan bahwa semua layanan kesehatan itu diperoleh anak dan cucunya secara gratis, Karti lantas kembali ke lantai enam menemui anaknya. Ia melihat anak dan menantunya sedang makan opor ayam bersama. Ia merasa bersyukur, meski lebaran kali ini dilewatkan di rumah sakit, tapi keluarganya masih bisa berkumpul.

“Nggak masalah lebaran di rumah sakit, biaya sudah ditanggung pemerintah. Orang tua seperti saya kan bahagianya kalau lihat anak cucu sehat saja. Sudah begitu,” katanya. Bestprofit