PT Best Profit Futures Jambi

Category Archives: IDUL FITRI

Best Profit : Kisah Lebaran Iqbal dan Mama yang Beda Agama

Kisah Lebaran Iqbal dan Mama yang Beda AgamaBest Profit : Pada suatu siang, Natalina sibuk di dapur. Potongan ayam dan bumbu-bumbu sudah disiapkan di meja makan. Ia mulai memasak opor dalam porsi besar. Besok, adalah hari raya Idul Fitri, ia menyiapkan hidangan spesial lebaran, opor ayam untuk keluarganya.

Sesungguhnya Natalina tidak benar-benar merayakan lebaran. Ia bahkan tidak berpuasa selama Ramadan. Itu semua memang tidak dilakukan Ina, begitu ia disapa, karena ia adalah seorang Kristen. Semua itu dilakukannya lantaran tugasnya sebagai seorang istri dan seorang ibu bagi suami dan anaknya yang seorang muslim.

Sepanjang siang hingga sore ia sibuk di dapur. Menjelang Magrib, keluarganya sudah berkumpul di ruang keluarga. Kusnandar, suaminya, serta Iqbal Syafii anak pertamanya sudah menunggu saat-saat berbuka puasa terakhir. Begitu opor matang, mereka langsung mengambil piring, nasi dan mulai makan. Sementara Ina melanjutkan tugas lainnya, ia menyiapkan baju dan alat salat untuk suami dan anaknya, karena keesokan paginya mereka akan melaksanakan salat Id.

“Aku menjalankan tugasku sebagai istri dan ibu, meski suami dan anak beda agama, ya aku tetap harus menyiapkan segala sesuatunya untuk mereka, dari menyiapkan baju buat salat ied sampai masak opor,” kata Ina.

Perihal kebiasaan masak opor saat lebaran itu sempat membuat Iqbal bertanya-tanya. Saat ia duduk di bangku SMP, terbersit dalam benaknya satu pertanyaan konyol: bagaimana bisa seorang Kristen bisa masak opor saat lebaran?

“Aku pikir orang Kristen enggak bisa masak opor, soalnya kan kalau Natalan enggak masak opor. Nah kalau pas lebaran memang biasanya makannya opor. Mamaku itu Kristen, bisa dan mau masak opor buatku dan papa yang muslim. Apa enggak aneh?” kata Iqbal mengingat masa kecilnya.

Pertanyaan itu tidak pernah ditanyakan Iqbal langsung pada ibunya. Ia menyimpannya dalam hati.
Ina justru mendapatkan pertanyaan yang tidak lebih konyol dari masak opor. Suatu sore, Ina berkunjung ke rumah guru mengaji Iqbal yang tinggal tak jauh dari rumah. Guru ngaji itu bercerita tentang Iqbal yang beberapa kali bertanya soal perbedaan agama dalam keluarga.

“Bu, mamaku itu Kristen, kalau saya puasa terus yang masak untuk buka dan sahur itu mama, apa puasa saya bisa batal?” kata Ina menirukan pertanyaan Iqbal pada guru mengajinya. Saat itu, Ina tertawa. “Ya, itu yang membuat aku terharu, momen paling aku ingat. Waktu itu Iqbal masih SD atau SMP begitu.”

Memiliki keluarga yang berbeda agama tidak serumit yang dibayangkan orang. Ina menganggap hal itu tidak ada bedanya dengan keluarga lainnya. Hal-hal yang dilakukannya, bagi Ina, memang sudah tugasnya sebagai ibu. Ia juga menyiapkan takjil untuk masjid dekat rumah kala kebagian giliran menyumbang. Di kampungnya, Klitren, Yogyakarta, ada kebiasaan selama bulan puasa masing-masing keluarga secara bergantian menyumbang takjil di masjid.

Tidak cuma menyiapkan takjil saja, Ina juga yang memaksa Iqbal untuk ikut kegiatan di Tempat Pengajian Alquran. Iqbal ingat, setiap sore ia selalu disuruh lekas mandi dan ikut mengaji di masjid. Iqbal menurut saja. “Kan, setiap sore itu memang ada TPA, ya walau beda agama, saya bawa Iqbal ke sana, biar dia bisa belajar agama,” ujar Ina.

Keputusan Ina membawa Iqbal ke TPA menjadi hal yang disyukuri Iqbal ketika sudah dewasa. Iqbal sadar keluarganya bukanlah keluarga yang religius, sementara itu lingkungan tempat tinggalnya pun tidak sepenuhnya baik.

“Aku tahu mama pengin aku bisa ngaji, bisa jadi anak yang baik. Apalagi kalau lihat lingkungan sekitar, kalau tidak dibentengi agama, bisa repot,” beber Iqbal.

Tidak hanya urusan mengaji, Iqbal juga merasa bersyukur selama bulan puasa mamanya selalu menyiapkan hidangan buka dan sahur. “Kalau sahur mama bangunin, membelikan makanan kalau memang tidak masak. Ya apa yang dilakukan mama, itu yang membentuk saya sekarang,” ujar Iqbal.

Lebaran kemarin pun mereka rayakan bersama. Hari raya itu tidak berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Ina memasak opor ayam untuk keluarga, Iqbal yang sudah membangun keluarga sendiri pun pulang ke rumah. Tidak ada yang amat spesial dalam lebaran kali ini, seperti halnya ihwal perbedaan keyakinan antara ibu-anak Natalina dan Iqbal. Semuanya biasa saja. Best Profit

PT Bestprofit : Tren Mudik Kalangan Tajir di Indonesia

Tren Mudik Kalangan Tajir di IndonesiaPT Bestprofit : Menjelang lebaran tahun lalu, Maia Estianty bikin keramaian warganet. Ia dan anak-anaknya mudik dengan jet pribadi. Terlihat Maia, Al Ghazali, El Rumi, dan Dul Jaelani serta dua lelaki berpose di samping jet pribadi sebelum mudik ke Surabaya, Juli tahun lalu.

Ada pula foto Al, El, dan Dul di dalam kabin pesawat mewah. Dalam kabin pesawat itu ada enam kursi berbalut kulit berwana cokelat. Anak-anak Ahmad Dhani dan Maia itu duduk di kursi dengan sabuk pengaman sudah terpasang.

Tidak cuma keluarga Maia yang tahun lalu mudik dengan menggunakan pesawat pribadi sewaan. Seleb macam Syahrini pun mudik dengan menyewa sebuah helikopter. Dalam akun instagramnya, Syahrini memposting video berdurasi sekitar 60 detik saat hendak menaiki helikopter.

“Bye bye Sukabumi… Bye bye Macet. Sebelum terbang, wajib cium telapak tangan Mama dan memeluknya!,” tulis Syahrini, Juli tahun lalu. Sebelumnya, Syahrini sudah beberapa kali memamerkan liburannya menaiki jet pribadi.

Mudik mewah menggunakan jet atau helikopter sewaan menjadi tren baru bagi segelintir orang Indonesia. Selebritas seperti Maia, Syahrini, dan Deddy Corbuzier sempat memamerkan berpergian dengan menggunakan pesawat pribadi atau sewaan.

Sesungguhnya tren ini bukanlah barang baru. Sejumlah pejabat, politikus, dan pengusah sudah terlebih dulu melakukannya meski minim pemberitaan, tidak seperti para seleb yang doyan memamerkan aktivitasnya. Menteri Susi Pujiastuti, misalnya, hampir setiap mudik menggunakan pesawat pribadi. Susi bahkan menerbangkan sendiri pesawat itu dan turun di landasan miliknya di Pangandaran, Jawa Barat.

Lahan Bisnis buat Kaum Berduit

Mudik mewah menjadi bahan omongan ketika para seleb memopulerkannya. Sejumlah perusahaan sewa pesawat dan helikopter pribadi pun mulai menawarkan paket perjalanan mudik atau liburan mewah.

Tahun ini, Bank Negara Indonesia (BNI) menawarkan layanan mudik mewah bagi nasabah BNI Emerald, yakni nasabah dengan saldo tabungan sebesar Rp1 miliar, untuk bisa menikmati layanan penyewaan pesawat dengan cara lebih gampang melalui BNI.

Layanan mudik via pesawat jet pribadi ini memiliki sembilan kota tujuan: Yogyakarta, Cilacap, Solo, Surabaya, Pangkalan Bun (Medan), Denpasar, Lombok, Ujung Pandang, dan Selatar (Singapura). Semuanya berangkat dari Bandara Halim Perdana Kusuma, Jakarta.

Pesawat jet yang disediakan oleh BNI adalah Phenom 300 dengan kapasitas enam penumpang dan Hacker 900 XP dengan kapasitas delapan penumpang. Layanan ini menyasar kaum tajir. Tarifnya antara Rp151,2 juta dan Rp411,7 juta.

Whitesky Aviaton, perusahaan jasa penyewaan pesawat pribadi, menawarkan paket mudik Heli City dengan rute Jakarta-Bandung sejak dua tahun terakhir. Pejabat eksekutif tertinggi (CEO) PT Whitesky Aviation Denon Prawiraatmadja mengklaim bahwa banyak respons begitu program itu dilansir.

“Tahun lalu kita bisa support 30 flight dari 600 penelepon. Untuk mudik tahun ini saya belum cek, tapi tahun lalu 30 trip dalam 10 hari, lumayan ramai,” ujarnya kepada Tirto.

Mereka memasang tarif Rp14 juta untuk helikopter berkapasitas enam penumpang dengan rute Jakarta-Bandung. Whitesky Aviation mengklaim bahwa pesanan untuk perjalanan mudik tahun ini sudah penuh dari 17 Juni hingga 30 Juni.

“Dalam sehari ada empat penerbangan pergi-pulang dari Jakarta-Bandung-Jakarta,” kata direktur pemasaran Whitesky Aviation Ari Nurwanda.

Tak Cuma Para Seleb

Indra Wahyudi, pengusaha distributor oli di Jakarta, tidak melewatkan kesempatan menikmati mudik mewah. Pada 2016 lalu ia mengajak keluarganya ke Bandung dengan menyewa helikopter dari Whitesky Aviation. Indra berangkat dari Waduk Pluit dan mendarat di Pasar Apung, Bandung.

“Tahun lalu saya, tiga anak saya, istri saya dan ibu mertua saya. Ya pengin merasakan saja sensasi berbeda naik helikopter. Itu menjadi pengalaman buat saya,” kata Indra kepada Tirto.

Keluarga Indra mengatakan “sangat antusias” selama perjalanan 45 menit. Mereka terus-menerus berdecak kagum bisa menghindari macet di ibukota, tidak seperti mayoritas pemudik. Indra antusias bisa mengobrol dengan pilot selama penerbangan.

“Kalau pesawat biasa kita tidak bisa ngobrol sama pilotnya. Kalau ini bisa. Kita bisa tanya-tanya, seru sekali,” katanya. “Tidak kena macet juga. Cepat juga.”

Saat Indra mengunggah pengalamannya di akun media sosial, muncul beragam komentar dari rekan-rekannya. Sebagian rekannya, yang berduit tentu saja, menganggap pengalaman Indra cukup seru apalagi tarif penerbangannya terjangkau. Namun, ada pula komentar miring dengan membandingkan mudik lewat jalur darat yang lebih murah.

“Ada pendapat beda itu enggak masalah. Tapi sebagian besar justru bilang seru, ingin juga mencoba pengalaman,” ujar Indra.

Indra kini berencana mencoba sesuatu yang berbeda jika memiliki kesempatan dan rezeki. Ia ingin menyewa jet pribadi untuk berlibur bersama keluarga.

“Pertama, karena belum pernah juga, jadi penasaran. Kedua, harus ada rute yang berbeda—kalau cuma ke Bandung, itu sudah sering. Kalau ada rute lain pasti seru,” kata Indra. PT Bestprofit