PT Best Profit Futures Jambi

Category Archives: Metropolitan

Memoar Aktivis 98 yang Diculik (2): Hendrawan dan Cerita Secangkir Kopi

Memoar Aktivis 98 yang Diculik (2): Hendrawan dan Cerita Secangkir Kopi

BEST PROFIT – Semua orang, jahat ataupun baik, kini bisa meneguk kebebasan yang dijanjikan oleh demokrasi. Namun, 21 tahun sebelumnya, sekelompok pemuda mahasiswa harus bersusah payah, mengorbankan nyawa, hingga tak diketahui rimbanya untuk merebut kebebasan tersebut.

Ketika rezim Soeharto berusaha mempertahankan kekuasaannya medio 90-an, 13 aktivis prodemokrasi yang rata-rata masih berusia awal 20 tahun hilang diculik. Hingga kekinian, mereka belum ditemukan.

Salah satu aktivis yang hingga kekinian dinyatakan hilang setelah diculik aparat pada medio 1990-an adalah mahasiswa universitas Airlangga bernama Herman Hendrawan.

Herman Hendrawan, hilang pada 12 Maret 1998. Ia terakhir terlihat di gedung Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI).

Adalah Lilik Hastuti Setyowatiningsih, seorang perempuan yang aktif menjadi aktivis Prodemokrasi pada era 1990-an, menceritakan sejumput kisah kenang-kenangannya dengan Hendrawan. Berikut kisahnya.

SOSOKNYA unik. Berkacamata tebal. Hem panjang dilipat di pergelangan. Rapi, tapi tak pernah ganti. Bajunya itu-itu saja. Kadang sampai tercetak hitam di lipatan tengkuknya.

Ia menjabat erat tanganku waktu aku pertama datang ke Surabaya. Kami bertemu di kontrakan buruh, mendiskusikan rencana pemogokan. BESTPROFIT

Logat Herman sangat khas, logat Bangka dengan cengkok Surabaya. Kadang terdengar aneh dan lucu, tapi ia pede saja. Ya, pede, itu nama tengah Herman.

Herman pernah menjadi ketua SMPT Unair, pengurus HMI, lalu menjadi salah satu pendiri SMID (Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi—ormas mahasiswa progresif yang dilarang Orde Baru) Surabaya.

Herman teman diskusi yang asyik. Teman berantem yang menarik. Saling mengolok, adalah hiburan kami kala lelah di Surabaya.

Tapi, ada satu yang tak kami suka, Herman joroknya minta ampun. Aku pernah kesal minta ampun. Pagi bangun tidur membuat kopi, itu satu kemewahan, apalagi sambil baca buku atau koran pagi. PT BESTPROFIT

Suatu hari, bangun tidur di sekretariat, aku cuma menemukan kopi setengah sendok di dapur. Aku menjerang air, untuk membuat kopi setengah gelas.

Kopinya cuma cukup untuk setengah. Kuseruput, ah, panasnya kurang ajar! Tukang koran melempar koran di depan pintu.

Aku bergegas menghampiri. Baca koran, sambil minum kopi. Kemewahan mana lagi bisa kaurasa pada zaman sedurjana sulitnya seperti saat itu?

Herman Hendrawan, hilang pada 12 Maret 1998. Ia terakhir terlihat di gedung Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI).

Tapi eh, di salah satu sudut sekretariat, kulihat Herman cengar-cengir sambil memegang gelas kopiku. Sudah tandas. Ya tandas! Dan aku menatap nanar.

“Man, jancok koennnnn!!!” dan Herman cuma cengar-cengir.

Lha enak. Bangun tidur, eh ada kopi panas!”

Aku gondok seubun-ubun. Koran kulempar dan tepat kena mukanya. Sedih sesedih-sedihnya.

Beli kopi lagi? Ha-ha-ha mana bisa. Uang seratus perak pun mendingan buat ongkos naik bemo ke basis buruh.

Berhari-hari kemudian, Herman datang dengan motor butut entah pinjaman siapa.

“Ayok mangan!”, ayo makan katanya.

Aku tertegun, “Wis talah. Onok sego bebek enak…”, baiklah ada nasi bebek yang enak.

Herman Hendrawan, hilang pada 12 Maret 1998. Ia terakhir terlihat di gedung Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI).

Akhirnya, siang itu, gondok seubun-ubun yang kurasakan gara-gara kopi itu musnah dibayar sepiring besar nasi bebek pinggiran kali Kedung Tarukan.

Aku tak pernah lupa, Herman memegang toa, memimpin barisan ketika aksi pemogokan buruh Tandes 8-9 Juli 1996. Suaranya menggelegar. Keringat berlelehan. Mukanya merah padam ditimpa panas matahari.

Lalu aksi diserang. Dibubarkan. Puluhan kami ditangkapi. Menginap di polres, polda, dan kami masih tertawa-tawa.

Tahu apa asyiknya digelandang ke polda beramai-ramai? Karena kami bisa makan sebungkus nasi Padang!

Tanggal 22 Juli 1996 Partai Rakyat Demokratik dideklarasikan di Jakarta. Kami mendengar kabar dengan hati girang.

Partai yang kami bangun bertahun-tahun, di tengah situasi represif, di tengah undang-undang organisasi massa yang tidak memungkinkan partai lain selain Golkar, PDI dan PPP, akhirnya bisa berdiri dan deklarasi.

Manifesto politik dibacakan. “Tidak ada demokrasi di Indonesia…”, begitu pada alinea pertama manifesto kami. Dada kami menggembung bangga. Meski hanya membaca lewat kabar semata. Tapi itu pun tak lama. Pecah peristiwa 27 Juli 1996. Teror menyapu penjuru kota.

Setelahnya, Herman diinstruksikan ke Jakarta. Dari sekretariat kami di Surabaya, aku masih persis mengingat adegan itu.

Surat laporan bawan tanah yang ditulis oleh Herman Hendrawan.

 

Herman dan Rendro pergi, hendak naik kereta ke Jakarta. Herman mengenakan hem panjang warna merah. Menyandang tas hitam besar berisi pakaian. Dua bungkus nasi—isi telor dadar, udang goreng dan sambal—jadi bekal mereka.

Aku masih mengenang ketika badannya yang besar melangkah menuju jalan besar. Bahunya kukuh. Langkahnya lebar.

Ia menengok, tertawa-tawa kecil, sambil membenarkan letak kacamata tebal yang melorot ke hidungnya. Ia meninggalkan Surabaya dalam situasi genting. Ia berpesan untuk menjaga kawan-kawan.

Aku tak pernah lupa adegan itu. Menjaga kawan, itu doktrin kami nomor satu. Hingga kini, doktrin itu masih menndarah daging. Merasuk hingga tulang sumsum dan barangkali akan kupegang hingga mati.

Tanggal 12 Maret 1998, Komite Nasional Perjuang Demokrasi (organisasi yang juga dinyatakan terlarang oleh Soeharto) menggelar konferensi pers di kantor YLBHI. Konferensi pers KNPD itu sebagai respons pidato pertanggungjawaban Soeharto di hadapan sidang MPR.

Kala itu, aku bertemu Herman di Lorong kecil depan toilet di YLBHI. Menyapa sebentar. Situasi tak cukup aman.

Lalu kami tak lagi bertemu, hingga hari ini. Ia hilang diculik!

Seusai acara di YLBHI, bersama Raharja Waluya Jati dan Faisol Riza, Hendrawan diculik. Jati dan Riza dipulangkan. Mereka mengakui sempat bertemu Herman di kamp penyiksaan. Tapi Herman tetap tak pulang.

Man, aku kangen senandung lagu Widurimu. Aku kangen umpatan jancok-mu yang agak ganjil dan aneh dengan logat Bangka-mu itu.

Jika hari ini kau masih bersama-sama kami, berapa gelas kopi milikku yang kauhabiskan pun, aku ikhlas, Man. Aku tak akan gondok dan menimpukmu dengan koran lagi!

Sehat dan bahagia kamu, ya Man, di mana pun kamu berada.

Sumber: suara.com

 

 

Mengintip Bioskop Rakyat Pasar Teluk Gong, Harga Tiket Cuma Rp 15.000

Mengintip Bioskop Rakyat Pasar Teluk Gong, Harga Tiket Cuma Rp 15.000

PT BESTPROFIT – Bioskop Rakyat bernama Indiskop atau Bioskop Independen tengah dibangun di Pasar Teluk Gong, Penjaringan, Jakarta Utara. Bioskop ini digadang-gadang akan menjadi bioskop murah yang terjangkau bagi warga Ibu Kota.

Bioskop Rakyat di Jakarta. (Suara.com/Tyo)

Berdasarkan pantauan Suara.com, bioskop rakyat yang terletak di lantai 3 Pasar Teluk Gong ini memiliki dua studio dengan masing-masing studio berkapasitas 128 kursi dengan 6 speaker, 3 pendingin ruangan (AC) dan 1 proyektor. BEST PROFIT

Bioskop Rakyat di Jakarta. (Suara.com/Tyo)

 

Sementara untuk harga tiket Bioskop Rakyat, pihak PD Pasar Jaya selaku pemilik Pasar Teluk Gong masih meramunya bersama pengelola Bioskop Rakyat yakni PT. Kreasi Anak Bangsa (KEANA FILMS) yang didirikan oleh aktris, Marcella Zalianty. BESTPROFIT

Bioskop Rakyat di Jakarta. (Suara.com/Tyo)

 

“Harga tiketnya kurang lebih di angka Rp 15.000 sampai Rp 20.000, kurang lebih angkanya segitu, kami masih memastikan angka itu bisa terjangkau oleh masyarakat,” ujar Arief saat dikonfirmasi, Jumat (3/5/2019).

Bioskop Rakyat di Jakarta. (Suara.com/Tyo)

 

Di luar studio, calon penonton bioskop rakyat nantinya akan dimanjakan dengan 12 tenant yang menjual makanan dan minuman khas nusantara.

Bioskop Rakyat di Jakarta. (Suara.com/Tyo)

 

Untuk diketahui, mulai Jumat (3/5/2019) hari ini, bioskop rakyat memulai percobaan penayangan film perdananya dengan memutar film “Keluarga Cemara” dan disaksikan oleh 210 siswa SMK dan SMA se- Penjaringan, Jakarta Utara.

Sumber: suara.com

 

Caleg PSI Digugat Karena Kasus Kematian Bocah SD

Caleg PSI Digugat Karena Kasus Kematian Bocah SD

BEST PROFIT – Asip orang tua dari Gabriella Sheril Howard (Gaby) siswa kelas tiga SD yang tewas di kolam renang Global Sevila School (GSS) di Puri Indah, Kembangan Jakarta Barat pada 17 September 2015 silam menuntut perdata Ronaldo Laturette selaku guru olahraga yang dahulu mendampingi Gaby saat mengikuti pelajaran renang.

Diketahui, Ronaldo saat ini mencalonkan diri sebagai caleg DPRD Kabupaten Tengerang dapil 4 dari Partai Solidaritas Indonesia atau PSI. Ronaldo digugat atas statusnya dalam putusan Mahkamah Agung (MA) tingkat kasasi pada tanggal 25 September 2018.

Dalam putusan MA itu, Ronaldo terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana karena kesalahannya (kealpaannya) menyebab kematian. Ronaldo dijatuhkan pidana lima bulan penjara dengan masa percobaan selama 10 bulan. BESTPROFIT

“Karena sudah ada putusan Mahkamah Agung yang menyatakan kelalaian terdakwa ini, kami ajukan gugatan perdata. Tentu saja kedua orang tua korban ini sangat menderita kerugian anak yang mereka lahirkan, yang diharapkan masa depannya cerah, panjang umurnya, biaya pendidikan, merawatnya, kesehatannya dan sebagainya, itu kerugian-kerugian yang dialami tergugat sehingga diajukan gugatan ini,” ujar Tommy Sihotang selaku kuasa hukum di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Selasa (9/4/2019).

Sementara itu, Asip ayah dari Gaby mengatakan, gugatan tersebut ia ajukan semata-mata memperjuangkan keadilan bagi almarhum putri tercintanya. Sekaligus agar kejadian serupa tidak terulang kembali. PT BESTPROFIT

“Supaya buat pembelajaran, khususnya sekolah-sekolah yang pengantar Bahasa Inggris itu menjaga anak itu hati-hati bahwa anak itu kan amanah. Supaya mereka, anak itu yang dititipkan orang tua ke sekolah mereka, jadi profesional hati-hati menjaga bahwa anak itu bukan barang,” kata Asip.

“Jadi itu yang kami harapkan, supaya mereka itu buat pembelajaran bahwa kasus Gaby itu bisa menjadi sekolah-sekolah lain khususnya sekolah internasional hati-hati,” imbuh dia.

Sumber: suara.com

Ngaku Sunan dan Kebal Peluru, Perusak Musala Sempat Buat Warga Ketakutan

Musala Roudhatul Falah yang sempat dirusak Ari Agus Trian. (Suara.com/Novian Ardiansyah)

PT BESTPROFIT – Ari Agus Trian sempat berteriak mengaku sunan sesaat sebelum melakukan perusakan terhadap Musala Roudhatul Falah di Jalan Pedati, Jatinegara, Jakarta Timur, Senin (25/2/2019) dini hari. Tak hanya mengaku sunan, sepanjang melakukan ulahnya itu Ari juga kerap bercerita soal kesaktiannya.

Sambil mengaku-ngaku diri sebagai sunan, Ari pun kerap berdzikir dan takbir di sekitaran Musala. Warga yang mendengar teriakan pelaku pun sempat ketakutan.

“Kejadian jam empat pagi kan, anak saya lagi beres-beres mau dagang kedengeran suara orang ngoceh-ngoceh ngaku sunan. Ngaku kalau dia Sunan Gunung Jati. Di warteg kan tutup anak saya juga ngumpet karena takut,” kata Ketua pengurus Musala Roudhatul Falah, M Toha Setiawan yang rumahnya berada di seberang Musala Roudhatul Falah, Selasa (26/2/2019). BEST PROFIT

Pengakuan Ari bahwa dirinya seorang sunan juga didengar langsung Ikrar, Ketua RW 010 Kelurahan Bidara Cina.  Saat itu, Ari berteriak mengaku sebagai Syekh Siti Jenar setelah tangannya diikat dengan tali tambang oleh polisi.

Ari bahkan sempat menantang polisi untuk menembakan timas panas ke badannya. Tantangan yang dilontarkan oleh Ari, kata Ikrar, dengan laga seperti orang sakti dan kerasukan.

“Selama di sini cerita sunan, saya ini Syekh Siti Jenar, ngaku syekh terus, enggak lepas dari salawat dan istigfar. Dia juga nantang tembak saya tapi yang mati bukan saya, bapak yang mati,” kata Ikrar mengulang perkataan Ari.

Meski tertangkap melakukan aksi perusakan terhadap musala, polisi tak memproses hukum terkait perbuatan yang telah dilakukan Ari. Alasannya, aksi perusakan itu dilakukan secara tidak sadar alias kerasukan. BESTPROFIT

Sebelumnya, Kapolsek Jatinegara, Kompol Rudy Haryanto menyampaikan, setelah menjalani pemeriksaan, Ari telah diserahkan polisi ke Departemen Sosial untuk mendapatkan penanganan psikologi.

“Saya serahkan ke Depsos karena tidak mungkin diproses dan dia tidak sadar juga. Kita serahkan ke Depsos,” kata Rudy saat dikonfirmasi wartawan.

Dia juga mengatakan, Ari juga akan dikembalikan kepada keluarganya jika penaganan kejiwaan itu sudah selesai dilakukan. “Kalau kejiwaannya cukup ya di kembalikan ke keluarganya,” kata dia.

Sumber: suara.com