PT Best Profit Futures Jambi

Category Archives: Metropolitan

Perluasan Ganjil Genap Resmi Berlaku, Pelanggar Bisa Dihukum Penjara

Perluasan Ganjil Genap Resmi Berlaku, Pelanggar Bisa Dihukum Penjara

PT BESTPROFIT – Mulai hari ini, Senin (9/9/2019) perluasan sistem ganjil genap di 25 titik ruas jalan di Jakarta resmi berlaku. Tak main-main, polisi akan menilang para pelanggar dengan denda Rp 500 ribu.

Perluasan tersebut berlaku pada hari Senin hingga Jumat mulai pukul 06.00 WIB hingga pukul 10.00 WIB. Lalu pada sore hari mulai pukul 16.00 WIB hingga pukul 21.00 WIB. Hanya saja, untuk hari Sabtu, Minggu, dan libur nasional, aturan tersebut tidak berlaku. BEST PROFIT

“Pelanggar dikenakan sanksi dua bulan penjara atau denda administrasi sebesar maksimal Rp 500 ribu,” kata Kasubdit Gakkum Ditlantas Polda Metro Jaya, AKBP M. Nasir saat dikonfirmasi, Senin (9/9/2019)

Hukuman penjara maupun denda Rp 500 ribu tertuang pada Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan. BESTPROFIT

Berikut ini 25 rute ganjil-genap yang diperluas:

1. Jalan Pintu Besar Selatan
2. Jalan Gajah Mada
3. Jalan Hayam Wuruk
4. Jalan Majapahit
5. Jalan Medan Merdeka Barat
6. Jalan MH Thamrin
7. Jalan Jenderal Sudirman
8. Jalan Sisingamangaraja
9. Jalan Panglima Polim
10. Jalan Fatmawati (mulai dari simpang Jl Ketimun 1 sampai simpang Jl TB Simatupang)

11. Jalan Suryopranoto
12. Jalan Balikpapan
13. Jalan Kyai Caringin
14. Jalan Tomang Raya
15. Jalan S. Parman (mulai dari Simpang Jl Tomang Raya sampai Simpang Jl KS Tubun)
16. Jalan Gatot Subroto
17. Jalan MT Haryono
18. Jalan HR Rasuna Said
19. Jalan DI Panjaitan
20. Jalan Jenderal A Yani (mulai dari simpang Jl Perintis Kemerdekaan sampai simpang Jl Bekasi Timur Raya)

21. Jalan Pramuka
22. Jalan Selemba Raya sisi barat, Jalan Salemba Raya sisi timur
23. Jalan Kramat Raya
24. Jalan Stasiun Senen
25. Jalam Gunung Sahari

 

Sumber: suara.com

Jokowi Panggil Anies ke Istana Bahas Balapan Formula E di Jakarta 2020

Jokowi Panggil Anies ke Istana Bahas Balapan Formula E di Jakarta 2020

PT BESTPROFIT – Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan menemui Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Istana Kepresidenan, Jakarta, Selasa (13/8/2019). Anies datang melalui pintu Wisma Negara.

Untuk diketahui, setiap tamu undangan Jokowi biasanya masuk dari melalui Gedung Bina Graha, kemudian masuk lewat pintu di Istana Negara.

Usai menemui Jokowi, Anies mengatakan pertemuannya untuk melaporkan perkembangan tentang proses integrasi transportasi di Jakarta.

“Tadi pertemuan dengan pak presiden melaporkan perkembangan tentang proses integrasi transportasi di Jakarta. Langkah-langkah yang sudah kita lakukan, kami update ke presiden,” ujar Anies. BEST PROFIT

Tak hanya itu, Anies mengatakan dirinya juga menyampaikan tentang pelaksanaan balap mobil Formula E yang bakal dilaksanakan pada tahun 2020.

Terkait itu, Anies menyebut Kepala Negara mendukung Jakarta sebaga tuan rumah balap mobil Formula E.

“Beliau memberikan dukungan dan apresiasi, dan insya Allah akan kami finalisasikan. Dan tadi menceritakan prosesnya, kemudian juga dampak-dampak perekonomiannya,” kata Anies.

“Karena dari kegiatan ini kita akan bisa menggerakkan perekonomian Jakarta dengan efek yang cukup besar,” Anies menambahkan. BESTPROFIT

Balapan Formula E di Invalides Monument, Paris, Prancis pada, Sabtu (27/4/2019). [AFP/Kenzo Tribouillard]

Dalam pertemuan itu Anies juga menunjukan hasil study dari tim Formula E. Sebelumnya tim tersebut kata Anies, sudah melakukan study tentang pasar, termasuk efek pasar dan sekaligus hasil study mereka tentang rute yang akan digunakan.

Terkait rute balap mobil Formula E di Jakarta, Anies belum bisa menyampaikan trek mana yang akan dilalui. Sebab kata dia, hal tersebut harus dibicarakan final dengan tim di Formula E.

“Tapi tadi saya melaporkan itu dan Presiden berikan dukungan, pemerintah pusat akan memfasilitai. Karena nanti akan ada kendaraan-kendaraan formula yang masuk ke sini harus ada soal cukainya, soal imigrasinya, dan lain-lain itu tadi,” tandasnya.

Sumber: suara.com

 

Lawan Persib di SUGBK, PNS DKI Belum Kenakan Baju Persija

Lawan Persib di SUGBK, PNS DKI Belum Kenakan Baju Persija

BESTPROFIT – Pegawai Negeri Sipil (PNS) DKI Jakarta belum mengenakan seragam Persija saat saat bersamaan dengan laga Persija kontra Persib yang akan digelar di Stadion Utama Gelora Bung Karno (SUGBK), Kamis (10/7/2019).

Menurut salah satu PNS Balai Kota Jakarta, Dadit, belum ada instruksi secara resmi untuk mengenakan baju Persija untuk pertandingan hari ini. Karena itu ia masih menggunakan pakaian dinas hariannya.

“Belum ya, enggak dapat instruksi,” ujar Dadit di Balai Kota.

Dadit yang juga penggemar Persija ini juga belum mengetahui adanya isu untuk menggunakan baju Persija. Namun jika ada instruksi tersebut, ia akan dengan senang hati mengenakan baju Persija. PT BESTPROFIT

“Kalau ada perintah sih pasti kita ikutin semua,” kata Dadit.

Sebelumnya, Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan berencana membuat kebijakan baru untuk PNS di lingkungan Pemprov DKI Jakarta. Kebijakan tersebut adalah, mewajibkan PNS DKI mengenakan baju klub sepak bola Persija Jakarta saat tim berjuluk Macan Kemayoran itu bertanding.

Wacana tersebut sepertinya serius akan direalisasikan Anies karena saat ini Pemprov DKI sedang membuat desain baju bertemakan Persija Jakarta untuk PNS DKI. BEST PROFIT

“Nanti kalau sudah resmi baru (diumumkan). Jadi gini, kalau Persija ada pertandingan baru kita pakai baju Persija. Kalau hari itu Persija tanding, kita akan mendukung dengan memakai kostum Persija,” kata Anies saat ditemui di DPRD DKI Jakarta, Senin (1/7/2019).

Sumber: suara.com

Memoar Aktivis 98 yang Diculik (2): Hendrawan dan Cerita Secangkir Kopi

Memoar Aktivis 98 yang Diculik (2): Hendrawan dan Cerita Secangkir Kopi

BEST PROFIT – Semua orang, jahat ataupun baik, kini bisa meneguk kebebasan yang dijanjikan oleh demokrasi. Namun, 21 tahun sebelumnya, sekelompok pemuda mahasiswa harus bersusah payah, mengorbankan nyawa, hingga tak diketahui rimbanya untuk merebut kebebasan tersebut.

Ketika rezim Soeharto berusaha mempertahankan kekuasaannya medio 90-an, 13 aktivis prodemokrasi yang rata-rata masih berusia awal 20 tahun hilang diculik. Hingga kekinian, mereka belum ditemukan.

Salah satu aktivis yang hingga kekinian dinyatakan hilang setelah diculik aparat pada medio 1990-an adalah mahasiswa universitas Airlangga bernama Herman Hendrawan.

Herman Hendrawan, hilang pada 12 Maret 1998. Ia terakhir terlihat di gedung Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI).

Adalah Lilik Hastuti Setyowatiningsih, seorang perempuan yang aktif menjadi aktivis Prodemokrasi pada era 1990-an, menceritakan sejumput kisah kenang-kenangannya dengan Hendrawan. Berikut kisahnya.

SOSOKNYA unik. Berkacamata tebal. Hem panjang dilipat di pergelangan. Rapi, tapi tak pernah ganti. Bajunya itu-itu saja. Kadang sampai tercetak hitam di lipatan tengkuknya.

Ia menjabat erat tanganku waktu aku pertama datang ke Surabaya. Kami bertemu di kontrakan buruh, mendiskusikan rencana pemogokan. BESTPROFIT

Logat Herman sangat khas, logat Bangka dengan cengkok Surabaya. Kadang terdengar aneh dan lucu, tapi ia pede saja. Ya, pede, itu nama tengah Herman.

Herman pernah menjadi ketua SMPT Unair, pengurus HMI, lalu menjadi salah satu pendiri SMID (Solidaritas Mahasiswa Indonesia untuk Demokrasi—ormas mahasiswa progresif yang dilarang Orde Baru) Surabaya.

Herman teman diskusi yang asyik. Teman berantem yang menarik. Saling mengolok, adalah hiburan kami kala lelah di Surabaya.

Tapi, ada satu yang tak kami suka, Herman joroknya minta ampun. Aku pernah kesal minta ampun. Pagi bangun tidur membuat kopi, itu satu kemewahan, apalagi sambil baca buku atau koran pagi. PT BESTPROFIT

Suatu hari, bangun tidur di sekretariat, aku cuma menemukan kopi setengah sendok di dapur. Aku menjerang air, untuk membuat kopi setengah gelas.

Kopinya cuma cukup untuk setengah. Kuseruput, ah, panasnya kurang ajar! Tukang koran melempar koran di depan pintu.

Aku bergegas menghampiri. Baca koran, sambil minum kopi. Kemewahan mana lagi bisa kaurasa pada zaman sedurjana sulitnya seperti saat itu?

Herman Hendrawan, hilang pada 12 Maret 1998. Ia terakhir terlihat di gedung Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI).

Tapi eh, di salah satu sudut sekretariat, kulihat Herman cengar-cengir sambil memegang gelas kopiku. Sudah tandas. Ya tandas! Dan aku menatap nanar.

“Man, jancok koennnnn!!!” dan Herman cuma cengar-cengir.

Lha enak. Bangun tidur, eh ada kopi panas!”

Aku gondok seubun-ubun. Koran kulempar dan tepat kena mukanya. Sedih sesedih-sedihnya.

Beli kopi lagi? Ha-ha-ha mana bisa. Uang seratus perak pun mendingan buat ongkos naik bemo ke basis buruh.

Berhari-hari kemudian, Herman datang dengan motor butut entah pinjaman siapa.

“Ayok mangan!”, ayo makan katanya.

Aku tertegun, “Wis talah. Onok sego bebek enak…”, baiklah ada nasi bebek yang enak.

Herman Hendrawan, hilang pada 12 Maret 1998. Ia terakhir terlihat di gedung Yayasan Lembaga Bantuan Hukum Indonesia (YLBHI).

Akhirnya, siang itu, gondok seubun-ubun yang kurasakan gara-gara kopi itu musnah dibayar sepiring besar nasi bebek pinggiran kali Kedung Tarukan.

Aku tak pernah lupa, Herman memegang toa, memimpin barisan ketika aksi pemogokan buruh Tandes 8-9 Juli 1996. Suaranya menggelegar. Keringat berlelehan. Mukanya merah padam ditimpa panas matahari.

Lalu aksi diserang. Dibubarkan. Puluhan kami ditangkapi. Menginap di polres, polda, dan kami masih tertawa-tawa.

Tahu apa asyiknya digelandang ke polda beramai-ramai? Karena kami bisa makan sebungkus nasi Padang!

Tanggal 22 Juli 1996 Partai Rakyat Demokratik dideklarasikan di Jakarta. Kami mendengar kabar dengan hati girang.

Partai yang kami bangun bertahun-tahun, di tengah situasi represif, di tengah undang-undang organisasi massa yang tidak memungkinkan partai lain selain Golkar, PDI dan PPP, akhirnya bisa berdiri dan deklarasi.

Manifesto politik dibacakan. “Tidak ada demokrasi di Indonesia…”, begitu pada alinea pertama manifesto kami. Dada kami menggembung bangga. Meski hanya membaca lewat kabar semata. Tapi itu pun tak lama. Pecah peristiwa 27 Juli 1996. Teror menyapu penjuru kota.

Setelahnya, Herman diinstruksikan ke Jakarta. Dari sekretariat kami di Surabaya, aku masih persis mengingat adegan itu.

Surat laporan bawan tanah yang ditulis oleh Herman Hendrawan.

 

Herman dan Rendro pergi, hendak naik kereta ke Jakarta. Herman mengenakan hem panjang warna merah. Menyandang tas hitam besar berisi pakaian. Dua bungkus nasi—isi telor dadar, udang goreng dan sambal—jadi bekal mereka.

Aku masih mengenang ketika badannya yang besar melangkah menuju jalan besar. Bahunya kukuh. Langkahnya lebar.

Ia menengok, tertawa-tawa kecil, sambil membenarkan letak kacamata tebal yang melorot ke hidungnya. Ia meninggalkan Surabaya dalam situasi genting. Ia berpesan untuk menjaga kawan-kawan.

Aku tak pernah lupa adegan itu. Menjaga kawan, itu doktrin kami nomor satu. Hingga kini, doktrin itu masih menndarah daging. Merasuk hingga tulang sumsum dan barangkali akan kupegang hingga mati.

Tanggal 12 Maret 1998, Komite Nasional Perjuang Demokrasi (organisasi yang juga dinyatakan terlarang oleh Soeharto) menggelar konferensi pers di kantor YLBHI. Konferensi pers KNPD itu sebagai respons pidato pertanggungjawaban Soeharto di hadapan sidang MPR.

Kala itu, aku bertemu Herman di Lorong kecil depan toilet di YLBHI. Menyapa sebentar. Situasi tak cukup aman.

Lalu kami tak lagi bertemu, hingga hari ini. Ia hilang diculik!

Seusai acara di YLBHI, bersama Raharja Waluya Jati dan Faisol Riza, Hendrawan diculik. Jati dan Riza dipulangkan. Mereka mengakui sempat bertemu Herman di kamp penyiksaan. Tapi Herman tetap tak pulang.

Man, aku kangen senandung lagu Widurimu. Aku kangen umpatan jancok-mu yang agak ganjil dan aneh dengan logat Bangka-mu itu.

Jika hari ini kau masih bersama-sama kami, berapa gelas kopi milikku yang kauhabiskan pun, aku ikhlas, Man. Aku tak akan gondok dan menimpukmu dengan koran lagi!

Sehat dan bahagia kamu, ya Man, di mana pun kamu berada.

Sumber: suara.com