PT Best Profit Futures Jambi

Category Archives: news

Buah Ciplukan yang Sedang Naik Daun

BESTPROFIT – Siapa yang suka memakan buah ciplukan? Rasanya kecut-manis, berwarna hijau-kuning, dan dibungkus kulit tipis. Buah ini dulu dikenal sebagai tanaman liar, tak punya nilai jual, dan dianggap hama. Namun kini, ia seakan naik kasta.

Ciplukan atau Physalis angulata L. lazim tumbuh di kebun, tegalan, tepi jalan, semak, atau hutan. Buah ini juga dikenal dengan sebutan morel berry di Inggris, ceplukan di Jawa, cecendet di Sunda, keceplokan di Bali, dan leletokan di Minahasa. Meski dulu hanya dikenal sebagai mainan anak-anak, kini ciplukan digemari dan dijual dengan harga tinggi.BEST PROFIT

Ia hadir di toko-toko buah besar, pasar swalayan, dan dijual online. Satu kemasan isi 100 gram dihargai Rp30 ribu. Harga jual per kilogramnya berkisar Rp250-500 ribu. Akibat harganya yang melangit, Juwita (27), salah satu pengusaha ciplukan mengaku meraup untung besar.PT BESTPROFIT

Usahanya dirintis sejak 2015 di Sumedang. Tahun itu ia terlebih dulu melakukan riset penanaman untuk menghasilkan kualitas buah premium. Penanaman pertama dimulai dengan lima biji ciplukan. Jumlah tersebut terus bertambah hingga mencapai tiga ribu pohon.

“Dari lima berkembang sepuluh, seratus, tiga ratus, delapan ratus, tiga ribu,” katanya kepada Tirto, Jumat (18/8/2017).

Juwita bercerita, usahanya tak langsung berbuah manis dan sempat pasang surut. Di tahun 2016, ia lebih dulu menjajakan ciplukan di salah satu pasar daerah Sumedang. Tapi sama sekali tak laku, padahal harga jualnya masih Rp5000 per 120 gram. Enam kali lebih murah dibanding harga saat ini.PT BEST PROFIT

Saat itu, per bulan, ia hanya mendapat laba sebesar Rp100 ribu. Tak patah arang, wanita ini mencoba peruntungan dengan berjualan online. Ciplukannya dijual seharga Rp150 ribu per kg. Sembari berjualan, Juwita memberi pemahaman tentang manfaat dan rasa ciplukan kepada calon pembeli.

“Itu perlu sebagai branding, sebab awalnya tidak laku karena orang belum tahu manfaatnya,” kata Juwita.

Dua tahun berjualan dan mengedukasi pembeli, Juwita untung besar. Kini, ia terus melakukan beragam inovasi produk ciplukan, misalnya sari buah ciplukan, kismis ciplukan, selai, dan saos ciplukan. Juwita juga melebarkan sayap sebagai pemasok ciplukan di hampir semua supermarket di Jakarta.PT BESTPROFIT FUTURES

“Saya sudah bisa kantongi laba Rp30 juta per bulan, salah satunya dengan memasok ke Rezeki Market, All Fresh, Total Buah, Jakarta Fruit, dan Koki Mart,” akunya.

Kandungan Ciplukan

Bukan tanpa alasan Juwita menjual ciplukan. Dulu, teman ayahnya menderita parkinson, yaitu degenerasi sel saraf pada otak yang membuat penderitanya mengalami tremor atau gemetaran. Sejak mengkonsumsi jus ciplukan, tremornya mereda.

Pengalaman lain juga dialami sang ayah yang menderita kolesterol. Kakinya sempat bengkak besar hingga tak bisa berjalan. Berkat rutin memakan ciplukan, bengkaknya perlahan kempes. Sejak itu, tekadnya makin kuat untuk memasarkan si buah kaya manfaat.PT BEST PROFIT FUTURES

“Warga di sini juga suka mengonsumsi ciplukan untuk penangkal flu dan batuk,” ujarnya.

Sejatinya, ciplukan adalah buah asli Amerika yang tersebar luas di daerah tropis dunia. Buah kaya manfaat ini biasa tumbuh di daerah dengan ketinggian antara 1-1550 mdpl. Penelitian lebih lanjut mengenai manfaat ciplukan dilakukan Mahalakshmi AM dan Ramesh B. Nidavani dalam Indo American Journal of Pharmaceutical Research, 2014. BESTPROFIT FUTURES

Ciplukan mengandung banyak zat bermanfaat, di antaranya karbohidrat, lipid, mineral, dan vitamin. Masyarakat biasa memanfaatkan daunnya secara tradisional untuk melawan radang kandung kemih, limpa dan hati. Mandi dengan air rebusan tanaman ciplukan baik untuk untuk meredakan peradangan pada kulit serta rematik.

Ada juga yang menggunakannya dalam pengobatan tradisional untuk mengatasi hepatitis, sakit tenggorokan, sakit perut, malaria, asma, ginjal, kandung kemih, penyakit kuning, asam urat, dan demam. Sementara, buahnya digunakan untuk mengobati bisul, luka, konstipasi, dan masalah pencernaan.

Di lembah Amazon, masyarakat menggunakan jus ciplukan sebagai obat penenang, depuratif (pembersih darah), anti-rematik, dan meredakan sakit telinga. Di Taiwan, ciplukan digunakan sebagai obat tradisional diabetes, hepatitis, asma, dan malaria. Penduduk pedesaan di Peru menggunakan daunnya untuk penyakit hati, malaria, dan hepatitis. Dan di Afrika Barat, mereka percaya ciplukan bisa menyembuhkan kanker.

Apakah semua khasiat itu bisa dijelaskan secara ilmiah? Menurut Mahalaksmi A.M. dan Ramesh Nivadani, berbagai studi dan penyelidikan menunjukkan bahwa ciplukan terutama terlibat dalam efek imunologis (sistem imunitas tubuh). Ia menjanjikan bagi gangguan-gangguan (penyakit) yang terkait dengan sistem kekebalan tubuh. Tentu tak semua penyakit yang disebutkan di atas termasuk ke dalam kategori ini.  BEST PROFIT FUTURES

BPF Penelitian Maya Fitria dkk juga menunjukkan hal yang menggembirakan. Peneliti mengeringkan ciplukan dan mengekstraksinya dengan etanol 70 persen. Hasilnya, ekstrak ciplukan tersebut memberikan dampak positif dan mampu menginduksi apoptosis (kematian) pada sel kanker payudara. Lagi-lagi, temuan ini juga tentu perlu penyelidikan lanjutan untuk bisa dikembangkan menjadi salah satu terapi kanker yang diakui.BESTPRO

Betapa Susah Belanda Mengakui Proklamasi 1945

BESTPROFIT – Bukan Ratu Beatrix yang datang ke Indonesia untuk menyampaikan penyesalan sekaligus pengakuan, terlebih memohon maaf. Bukan pula Perdana Menteri Jan Peter Balkenende.

Orang yang diperintahkan untuk mewakili “pengakuan” Belanda bahwa kemerdekaan Indonesia memang terjadi sejak 17 Agustus 1945 adalah Menteri Luar Negeri Belanda Bernard Bot.BEST PROFIT

Setelah 60 tahun berlalu, Belanda akhirnya bersedia secara resmi menerima kenyataan historis proklamasi kemerdekaan yang dibacakan Sukarno-Hatta atas nama rakyat Indonesia terjadi pada 17 Agustus 1945. Sebelum itu, Kerajaan Belanda tetap berkeyakinan bahwa Indonesia baru menjadi negara merdeka setelah penyerahan kedaulatan pada 27 Desember 1949.PT BESTPROFIT

Menteri Bot tiba di Jakarta pada 16 Agustus 2005. Ia menghadiri peringatan 60 tahun kemerdekaan Indonesia di Istana Negara (Pewarta Departemen Luar Negeri RI, 2006:139). Kehadiran utusan resmi Kerajaan Belanda ini adalah kali pertama dalam sejarah perayaan proklamasi kemerdekaan.

Basa-Basi ala Belanda

Sehari sebelum mengirim menteri luar negerinya ke Jakarta, Kerajaan Belanda menggelar peringatan berakhirnya pendudukan Jepang di Indonesia. Ratu Beatrix hadir dalam acara yang berlangsung di Den Haag itu. Namun, yang naik ke podium adalah Bernard Bot. Sang ratu tidak berpesan apa pun, hanya menyematkan karangan bunga pada penghujung acara.PT BEST PROFIT

Bot mengakui tugas yang diamanatkan kepadanya untuk menyampaikan pidato dalam acara itu cukup menguras perasaan, terlebih lagi ia orang Belanda yang lahir di Indonesia, tepatnya di Batavia (Jakarta) pada 21 November 1937.

PT BESTPROFIT FUTURES Dikutip dari NRC Handelsblad yang dimuat Nieuws Briefs edisi 15 Agustus 2005 (halaman 5), Bot berkata pada bagian awal pidatonya: “… kenangan datang pada hari ini—baik positif maupun negatif—dari Indonesia, melintasi 5 zona waktu dan berjarak 28.000 kilometer jauhnya dari tempat ini, tetapi belum begitu dekat secara emosional.”

Cukup panjang paparan yang disampaikan sang menteri. Sebagian di antaranya berkisah tentang penderitaan akibat pendudukan Jepang di Hindia (Indonesia). Bot seolah-olah hendak mengarahkan bahwa orang Belanda dan Indonesia senasib dan sepenanggungan; sama-sama pernah merana di bawah cengkeraman Dai Nippon.

Bot beberapa kali menekankan bahwa sejarah memang tak boleh dilupakan, tetapi alangkah lebih baik jika fokus menatap ke depan. PT BEST PROFIT FUTURES

“Pengetahuan sejarah memang tidak mewah, tapi (itu adalah) persyaratan untuk memandang lebih jelas tentang masa depan. Dan yang pasti, berlaku (juga) untuk hubungan antara Belanda dan Indonesia.”

Tidak ada kata maaf dalam pidato tersebut. Bot justru menyebut relasi Belanda-Indonesia baik-baik saja—tanpa menyinggung perasaan rakyat Indonesia selama dijajah Belanda—dan kedua negara akan terus bekerja sama di masa depan. BESTPROFIT FUTURES

“Banyak tantangan yang harus kita lakukan bersama, seperti memerangi intoleransi, ekstremisme, dan terorisme,” kata Bot.

Bot juga menyampaikan pidato tambahan bahwa ia akan segera terbang ke Jakarta untuk menghadiri peringatan kemerdekaan Indonesia ke-60. Tapi, lagi-lagi, tiada isyarat permohonan maaf dalam agenda kunjungan itu, atau Belanda bakal mengakui secara tegas bahwa 17 Agustus 1945 adalah hari kemerdekaan Indonesia.

Bot hanya mengatakan, “Saya akan menjelaskan kepada rakyat Indonesia bahwa kehadiran saya dapat dilihat sebagai penerimaan politik dan moral dari tanggal tersebut (17 Agustus).”BEST PROFIT FUTURES

Penyesalan tanpa Keikhlasan

Saat memberikan sambutan di Jakarta pada 16 Agustus 2005, Bernard Bot menegaskan ucapannya itu. Dikutip dari pidato lengkapnya yang tersedia di laman resmi Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia, Bot berkata:

“Ini adalah pertama kalinya sejak Indonesia mendeklarasikan kemerdekaannya bahwa seorang anggota pemerintah Belanda akan menghadiri perayaan tersebut. Dengan kehadiran saya, pemerintah Belanda mengekspresikan penerimaan politik dan moral.”

Selanjutnya, ia terkesan berputar-putar menjelaskan apa yang sesungguhnya dirasakan pemerintah Belanda setelah Sukarno-Hatta mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945, dan fakta-fakta pahit yang sebenarnya terjadi pada masa-masa itu.BPF

“Proklamasi, tanggal Republik Indonesia mengumumkan kemerdekaan. Hanya ketika seseorang berdiri di puncak gunung, dia bisa melihat jalan yang paling sederhana dan terpendek. Hal ini berlaku juga untuk orang-orang di pihak Belanda yang terlibat dalam keputusan yang diambil dari tahun 1945 dan seterusnya.”

“Hanya di belakang, menjadi jelas bahwa pemisahan antara Indonesia dan Belanda ditandai dengan lebih banyak kekerasan dan berlangsung lebih lama dari yang diperlukan,” lanjut Bot.

Pengakuan Kerajaan Belanda atas kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 lagi-lagi hanya diucapkan Bot secara tersirat. Ia justru meminjam kata-kata Ali Boediardjo yang mewakili Indonesia dalam upaya rekonsiliasi dengan Belanda pada 1990.BESTPRO

“Kami memiliki satu prinsip dasar yang sama, yaitu humanisme, yang berarti seseorang dapat memahami sesama dan dapat memaafkan yang jahat,” sebut Bot menirukan ucapan Boediardjo.

Apakah Belanda menyesal?

Bot memang mengakuinya. Tapi tidak secara gamblang dan menyeluruh bahwa Belanda telah mengakibatkan kerugian dan penderitaan bagi rakyat Indonesia selama bertahun-tahun.

Bot hanya menyatakan penyesalan terkait Agresi Militer Belanda I yang dilancarkan setelah Indonesia merdeka. Itu pun ia masih berkelit bahwa pihak Belanda juga mengalami kerugian. Bot sama sekali enggan menyinggung insiden-insiden sebelum atau setelahnya yang memang terjadi dan telah merugikan Indonesia.

“Jelas bahwa pengerahan pasukan militer berskala besar pada 1947 menempatkan Belanda pada sisi sejarah yang salah. Hampir 6.000 militer Belanda gugur dalam pertempuran, banyak yang cacat atau menjadi korban trauma psikologis,” ucap Bot.

“Fakta bahwa tindakan militer diambil dan banyak orang di kedua belah pihak kehilangan nyawa mereka atau terluka adalah kenyataan yang keras dan pahit, terutama bagi Anda, orang-orang Republik Indonesia. Sejumlah besar orang Anda diperkirakan telah meninggal akibat tindakan yang diambil oleh Belanda.”

“Atas nama pemerintah Belanda, saya ingin mengungkapkan penyesalan mendalam atas semua penderitaan itu,” sebut Bot tanpa mengucapkan kata-kata maaf dan hanya memungkasi sambutannya dengan berkata, “Mari kita menyongsong masa depan bersama-sama dengan penuh keyakinan.”

Susah Mengakui & Meminta Maaf

Pemaparan Bernard Bot atas apa yang terjadi antara Belanda dan Indonesia di masa silam itu barangkali sudah cukup memuaskan bagi pemerintah RI. Menteri Luar Negeri RI kala itu, Hassan Wirajuda, tak ingin terlalu ngotot mendesak Belanda meminta maaf dan mengakui bahwa Indonesia merdeka sejak 17 Agustus 1945.

“Kami menerima pernyataan penyesalan dari pemerintah Belanda. Kita sudah dengar sendiri dari Menlu Bot. Ini adalah pernyataan yang sensitif. Di Belanda pun untuk menyatakan penyesalan ini menjadi perdebatan sejumlah pihak. Kita harus menghargai sikap Belanda,” kata Wirajuda (Detik, 16 Agustus 2005).

Alih-alih meminta maaf, Belanda bahkan terlalu lama untuk mengakui kemerdekaan RI: butuh waktu 60 tahun—itu pun disampaikan secara berbelit-belit dan tak langsung dengan tegas ke pokok persoalan, seperti yang telah dipaparkan Bot. Mengapa bisa begitu?

Seperti kata Wirajuda, apa yang diucapkan Bot sebelumnya telah memicu perdebatan keras terkait apakah Belanda perlu meminta maaf dan mengakui kemerdekaan Indonesia atau tidak. Harga diri orang-orang Belanda, terutama kaum veteran, agaknya terlalu tinggi untuk mengatakan bahwa mereka pernah menyebabkan penderitaan yang besar kepada rakyat dan bangsa Indonesia.

Rosihan Anwar, satu-satunya wartawan Indonesia yang meliput Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag pada akhir 1949, juga sepakat dengan itu; bahwa tindakan Bot sebetulnya sudah cukup mewakili pengakuan dan permintaan maaf Belanda kepada bangsa Indonesia.

“Bot yang lahir di Jakarta, masuk kamp interniran di zaman Jepang, berani datang ke Jakarta dan dengan melawan sikap kaum veteran Belanda yang berperang di Indonesia, memberitahukan kepada Negeri Belanda pada saat Aksi Polisionil (agresi militer) telah berdiri aan de verkeerde kant van de geschiedenis (di tempat yang keliru dari sejarah),” sebut Rosihan Anwar dalam Napak Tilas ke Belanda: 60 Tahun Perjalanan Wartawan KMB 1949 (2010:18).

Pro-Kontra Dugaan Kejahatan Perang

Belanda melepas Indonesia setelah penyerahan kedaulatan pada akhir 1949. Itu pun karena desakan internasional dan masih berbuntut pembentukan Republik Indonesia Serikat (RIS) dari semula negara merdeka berdaulat berubah bentuk negara federasi. Belanda menganggap secara hukum internasional masih sebagai tuan dan penguasa atas Indonesia (Rosihan Anwar, 2010:18).

Setelah RIS dibubarkan pada 17 Agustus 1950 dan Indonesia mulai benar-benar menapaki perannya sebagai negara baru yang berdaulat, pro dan kontra di Belanda terkait tuntutan pengakuan dan permintaan maaf mulai berlangsung, dan api dalam sekam itu terus terpelihara hingga berpuluh-puluh tahun.

Pemicu apinya bernama Joop Hueting, mantan tentara yang sudah cukup lama berupaya mengungkap kejahatan perang oleh militer Belanda—menurut pengalamannya—semasa ditugaskan di Hindia Belanda. Namun, nyaris tidak ada yang bersedia mendengarkan suaranya.

Baru pada 1969, Hueting berkesempatan untuk menyampaikan apa yang selama ini menghantui hati nuraninya. VARA, salah satu stasiun televisi di Belanda, memberikan panggung kepada Hueting melalui program bertajuk “Achter het Nieuws” (Frans Glissenaar, Indie Verloren, Rampspoed Geboren, 2003:86). Di situlah, mantan serdadu tersebut mengisahkan kebiadaban tentara Belanda di tanah jajahan, Indonesia.

Apa yang diungkapkan Hueting tak pelak membuat gempar seisi negeri Belanda. Mulai muncul pro dan kontra terkait dugaan kejahatan perang yang sebenarnya sangat mungkin dilakukan tentara Belanda di Hindia. Ada yang menyerukan agar pemerintah Belanda meminta maaf secara resmi kepada Indonesia, tetapi banyak pula yang tidak sepakat, terutama dari sebagian besar kalangan veteran.

Mulai terjadi diskusi-diskusi sengit antara kedua kubu, juga perdebatan di Majelis Rendah (Tweede Kamer), hingga digelar penelitian—kendati terkesan terburu-buru—dari komite resmi pemerintah. Mereka yang menolak minta maaf berkeyakinan bahwa pasukan Belanda tak pernah melanggar batas saat bertugas di Indonesia.

Salah satu pentolan dari kubu ini adalah Perdana Menteri Belanda Piet de Jong (menjabat 1967-1971). De Jong, jebolan angkatan laut Belanda, menegaskan bahwa meski dulu mungkin terjadi dampak yang kini disesalkan, tapi para militer di pihak Belanda saat itu pada umumnya telah bertindak menurut garis aturan.

“Pemerintah menyesalkan telah terjadi ekses-ekses, tetapi pemerintah mempertahankan pandangannya bahwa seluruh angkatan perang Belanda di Indonesia telah berperilaku benar. Data-data yang dikumpulkan menegaskan bahwa di masa itu tidak ada tindakan kekejaman manusia,” tandas de Jong dalam suratnya kepada Majelis Rendah bertanggal 29 Januari 1969 (Gert Oostindie, Serdadu Belanda di Indonesia 1945-1950, 2016:21).

Istilah “ekses-ekses” yang digunakan de Jong itu kemudian mendominasi versi resmi pemerintah Belanda. Butuh waktu yang lama istilah “ekses-ekses” itu mulai digantikan oleh istilah yang lebih jujur: kejahatan perang.

Hingga kini pun Belanda lebih mengakui “ekses-ekses” yang sifatnya terbatas, untuk kasus-kasus tertentu, seperti di Rawagede, dan bukan “kejahatan perang” yang berlangsung meluas dan sistematis.

Belajar Memaafkan yang Jahat

Pro-kontra tentang perlu atau tidak digelar penyelidikan secara mendalam dan menyeluruh terkait dugaan kejahatan perang di Indonesia—juga apakah pemerintah Belanda harus meminta maaf kepada rakyat dan pemerintah Indonesia— masih bergulir dari waktu ke waktu, tanpa pernah ada kepastian meskipun masing-masing kubu masih bersikeras dengan keyakinannya masing-masing.

Ketika Ratu Beatrix ingin menghadiri perayaan 50 tahun kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1995, ribut-ribut muncul lagi. Sang ratu sebenarnya sudah terbang menuju Jakarta, tetapi penolakan tajam terutama dari kalangan veteran yang didukung Perdana Menteri Belanda Willem Cockless alias Wim Kok (1994-2002), membuat sang ratu terpaksa singgah di Singapura. Ratu Beatrix baru ke Indonesia beberapa hari setelah perayaan 17 Agustus.

Meski tetap datang ke Indonesia, tetapi tidak ada pernyataan apa pun dari Ratu Belanda, baik pengakuan terhadap kemerdekaan Indonesia maupun permintaan maaf. Ratu Beatrix mengalihkan tujuannya dengan sekadar berkunjung demi menghindari perdebatan yang lebih besar dan keras di negerinya.

Namun, terlepas dari pengakuan atau permintaan maaf Belanda yang terus saja dipersoalkan, yang jelas Indonesia sudah merdeka sejak 17 Agustus 1945. Kemudian ditegaskan dengan hasil KMB pada 2 November 1949 dan segera ditindaklanjuti penyerahan kedaulatan pada akhir tahun itu.

Sang proklamator Mohammad Hatta selaku wakil Indonesia di KMB pun sudah merasa puas dengan keputusan yang dihasilkan di Den Haag tersebut, sebagaimana yang diucapkannya dengan lantang dan bangga dalam upacara penyerahan kedaulatan, yang didengar langsung oleh Rosihan Anwar:

“Rakyat Indonesia sudah merasa lega dengan lenyapnya kolonialisme di Indonesia dan dengan susunan hukum baru berdasarkan Pancasila.”

Sejak itu persoalan ini mestinya sudah dianggap selesai meski tanpa pengakuan tegas dan permohonan maaf secara menyeluruh, termasuk kehadiran Bernard Bot di Istana Negara RI tepat 60 tahun setelah Indonesia merdeka.

Dan, seperti kata Ali Boediardjo yang dipinjam Bot, hubungan Belanda dan Indonesia ada baiknya dimaknai dengan prinsip humanisme: “… bahwa seseorang dapat memahami sesama dan memaafkan (pihak) yang jahat.”

Tapi bisakah itu dilakukan jika salah satu pihak, misalnya Belanda, tidak sepenuhnya jujur mengakui kesalahan-kesalahannya?

 

Sumber : Tirto.id

Alasan Perusahaan Jamu Nyonya Meneer Dinyatakan Pailit

Alasan Perusahaan Jamu Nyonya Meneer Dinyatakan PailitPT Bestprofit – Perusahaan jamu legendaris PT Nyonya Meneer dinyatakan pailit oleh Pengadilan Negeri Semarang pada Jumat lalu, Gabungan Pengusaha Jamu menyampaikan keprihatinan atas kabar tersebut.

Perusahaan jamu PT Nyonya Meneer dinyatakan pailit oleh Pengadilan Negeri Semarang karena tidak sanggup membayar utang. Gabungan Pengusaha Jamu menyampaikan keprihatinan atas keputusan pengadilan tersebut.

“Keprihatinan yang sedalam-dalamnya di industri Jamu atas musibah yg menimpa NM (Nyonya Meneer). Siapapun bisa mengalami kejadian serupa. Mudah-mudahan ada hikmah dari kejadian ini,” kata Ketua GP Jamu Dwi Ranny Pertiwi Zarman saat dihubungi dari Jakarta, Jumat (4/8/2017). PT BESTPROFIT

Dwi mengatakan, kepailitan Nyonya Meneer dinilai tidak akan berdampak buruk bagi industri jamu nasional lainnya.

Dwi menambahkan, pihaknya yakin Nyonya Meneer akan kembali berproduksi, karena merupakan salah satu perusahaan legendaris di Indonesia.

“Insyaallah tidak berdampak buruk. Dan saya yakin NM kelak akan berdiri lagi. Karena salah satu ikon sejarah jamu Indonesia ya NM ini. Dan harus tetap ada entah bagaimana pun caranya,” pungkas Dwi.BESTPROFIT

Untuk diketahui, pada 8 Juni 2015 Pengadilan Negeri Semarang sempat mengesahkan proposal perdamaian yang diajukan pabrik jamu legendaris PT Nyonya Meneer untuk membayar utang terhadap semua kreditornya. Proposal itu disahkan dalam persidangan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU).

Dalam amar putusannya, majelis hakim yang dipimpin hakim Dwiarso Budi Santiarto saat itu meneruskan upaya yang dilakukan para pihak, baik debitor, kreditor, tim pengurus, maupun hakim pengawas. Para pihak saat itu bersepakat terkait kewajiban utang yang harus dibayarkan debitor yakni PT Nyonya Meneer kepada 35 kreditor.

Pihak PT Nyonya Meneer pun berkewajiban untuk membayar seluruh utang yang telah diajukan.BEST PROFIT

Hingga gugatan pailit diajukan oleh salah satu kreditor asal Kabupaten Sukoharjo yang bernama Hendrianto Bambang Santoso dan dikabulkan oleh PN Semarang pada Kamis (3/8/2017).

Nyonya Meneer dinyatakan pailit dalam persidangan yang dipimpin hakim Nani Indrawati dalam amar putusan perkara permohonan pembatalan perdamaian antara perusahaan dan kreditur tersebut. Perusahaan jamu legendaris itu dinyatakan pailit karena terbukti tidak sanggup membayar utang.

Best Profit – Mungkinkah Alfamart dan Indomaret Menjadi Seperti 7-Eleven?

Mungkinkah Alfamart dan Indomaret Menjadi Seperti 7-Eleven?Best Profit – Gerai 7-Eleven milik PT Modern Sevel Indonesia pernah berjaya, lalu kejayaannya memudar, dan akhirnya ia lenyap dari Indonesia. Sevel masuk ke Indonesia pada tahun 2008. Setiap tahun, ada sekitar 30 sampai 60 gerai Sevel baru dibuka di Jakarta. Ini membuat jumlah gerai Sevel terus bertambah. Tahun 2011, hanya ada 50-an gerai Sevel. Tahun 2012, jumlahnya bertambah hampir dua kali lipat. Cukup agresif.

Sampai tahun 2014, jumlah gerai Sevel di Jakarta sudah mencapai 190. Pada tahun itu juga, sebanyak 40 gerai baru Sevel dibuka. Penjualan bersih pun naik 24,5 persen menjadi Rp971,7 miliar dari tahun sebelumnya yang hanya Rp778,3 miliar. Tahun itu bisa disebut sebagai puncak kejayaan Sevel.

Tahun berikutnya, penjualan Sevel menurun, demikian pula dengan jumlah gerainya. Tahun 2015 itu, total penjualan bersih Sevel turun menjadi Rp886,84 miliar. Untuk pertama kalinya Sevel melakukan penutupan gerai. Tak tanggung-tanggung, 20 sekaligus. Sementara gerai baru yang dibuka hanya 18, angka terkecil penambahan gerai sejak 2011.

Pada 22 Juni tahun ini, Direktur PT Modern Sevel Indonesia Chandra Wijaya mengumumkan penutupan seluruh gerai Sevel secara resmi. Mulai tanggal 30 Juni, tak satu pun gerai Sevel di Indonesia beroperasi.

Alfamart, juga punya pola serupa seperti 7-Eleven. Meski masih terlalu jauh, tetapi jika tak diantisipasi, ia bisa saja bernasib sama. Tahun 2011, ia hanya punya 5.797 gerai. Lima tahun kemudian, jumlah gerainya lebih dari dua kali lipat, yakni mencapai 12.366 gerai.

“Ada ketidaksesuaian ekspektasi. Harapannya, ketika menambah gerai, pendapatan tentu bertambah, tetapi yang terjadi tidak demikian,” ujar Marolop Alfred Nainggolan, Analis Koneksi Kapital.

Alfred menjelaskan bahwa yang terjadi pada Alfamart adalah ketika membangun dan membuka gerai baru, uang yang dipakai biasanya uang yang berbunga seperti pinjaman bank atau penerbitan obligasi. Ekspektasinya, dari penambahan gerai tentu akan terjadi penambahan pendapatan. Ketika kenaikan pendapatan tak signifikan, maka laba akan tergerus karena perusahaan mempunyai biaya beban bunga yang harus terus dibayarkan.

Semester I tahun ini, laba PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk tergerus dari Rp83 miliar pada periode yang sama tahun lalu menjadi hanya Rp38,8 miliar. Pendapatan pada enam bulan pertama tahun ini sebenarnya tumbuh 13,5 persen jika dibandingkan dengan tahun lalu. Laba usahanya pun tumbuh 13 persen. Namun, laba bersihnya anjlok karena besarnya biaya bunga dan obligasi.

Berdasarkan laporan keuangannya, tahun ini emiten berkode AMRT itu membayarkan utang obligasi sebesar Rp1 triliun. Pembayaran untuk utang jangka panjangnya juga meningkat dari Rp208 miliar pada semester I tahun lalu menjadi Rp244 miliar tahun ini.

“Ia menambah gerai dari uang pinjaman, lalu pendapatannya tumbuh standar, sementara beban bunga membengkak. Alhasil, labanya drop,” begitu analisis Alfred terhadap laporan keuangan Alfamart.

Analisis serupa juga berlaku bagi Indomaret. Sejak Januari hingga Juni tahun ini, PT Indoritel Makmur Internasional Tbk—pemilik merek dagang Indomaret—hanya membukukan laba bersih Rp30,5 miliar. Padahal, pada periode yang sama tahun lalu, labanya mencapai Rp105,5 miliar.

Menurutnya, jika tak menahan diri untuk terus menerus membuka gerai baru, Alfamart dan Indomaret mungkin bisa bernasib seperti 7-Eleven. “Secara teoritis, kalau mereka terus membuka gerai baru dengan pendanaan yang berbunga, bisa jadi perlahan akan berakhir sama seperti Sevel,” kata Alfred.

Dia menyarankan agar peritel modern tidak terlalu agresif. Karena ketika gerai ditambah, belum tentu pendapatan meningkat. Konsumen tidak menambah aktivitas belanjanya, mereka hanya memindahkan aktivitasnya.

Misal, ketika di ujung gang ada gerai ritel modern, masyarakat satu gang itu tentu akan berbelanja di toko ritel tersebut. Karena punya banyak pembeli, maka toko ritel itu membuka gerai baru sekitar 500 meter dari lokasinya semula. Gerai baru itu tentu tetap akan dikunjungi pembeli, tetapi mereka adalah pembeli yang sama dengan yang datang ke toko pertama. Alhasil, pendapatan sama saja atau berbeda sedikit, tetapi biaya beban karena membuka toko baru meningkat.

Mungkinkah Alfamart dan Indomaret Menjadi Seperti 7-Eleven?

Tak hanya Indomaret dan Alfamart yang melesu dan tergerus labanya. Industri ritel secara umum juga melambat. Tahun ini, Asosiasi Peritel Indonesia (Aprindo) sebenarnya menargetkan penjualan hingga Rp220 triliun atau tumbuh 10 persen dari penjualan tahun lalu. Namun, pada semester I tahun ini, industri hanya mencetak pertumbuhan 3,7 persen.

“Melihat apa yang dicapai pada semester I, saya kira target pertumbuhan 10 persen sampai akhir tahun akan sulit sekali dicapai,” ujar Roy Nicholas Mandey, Ketua Aprindo, Kamis (3/8).

Dia menilai ada perubahan perilaku konsumen dalam berbelanja di toko ritel. Kemudahan dan kemajuan zaman, kata Roy, membuat masyarakat memiliki banyak opsi dalam berbelanja. Masyarakat bisa membeli online atau lewat jasa Go-Jek. “Kalau mereka belanja dengan Go-Jek kan belum tentu itu barang dibelinya di toko ritel modern,” kata Roy.

Ketika pendapatan industri ritel lesu, perbankan malah kebanjiran dana. Jumlah dana pihak ketiga di tabungan maupun deposito pada Mei tahun ini melebihi Rp5.000 triliun. Angka tersebut tumbuh 11,18 persen dari periode yang sama tahun lalu.

Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), uang simpanan tabungan tercatat Rp1.571 triliun, tumbuh 9,7 persen dari periode yang sama tahun lalu. Sedangkan jumlah uang di deposito tumbuh 10 persen, menjadi Rp2.222 triliun.

Bhima Yudhistira, ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mengatakan ada dua hal yang terjadi. Pertama, masyarakat menengah ke bawah mengalami penurunan daya beli. “Dari inflasi yang rendah selama dua tahun terakhir, bisa dilihat kondisi daya beli kita,” kata Bhima.

Juli tahun lalu, inflasi inti berada di angka 0,34 persen. Sedangkan Juli tahun ini, hanya 0,26 persen. Rendahnya inflasi ini, menurut Bhima, menunjukkan permintaan secara agregat memang menurun.

Kedua, orang-orang kaya menahan konsumsinya dengan menyimpan uang di bank, baik dalam tabungan biasa maupun deposito. Orang-orang kaya ini mengantisipasi kondisi perekonomian sampai risiko politik menjelang pilpres 2019. “Bahasa sederhananya, orang kaya berjaga-jaga dari kondisi terburuk,” ujar Bhima.

Secara makro, lanjut Bhima, dua hal itu menunjukkan kondisi ekonomi yang kurang berkualitas. Serapan tenaga kerja juga turun pada semester I tahun ini, dari 680 ribu pada semester I 2016 menjadi 639 ribu. Kalau serapan tenaga kerja terus menurun, imbasnya akan ke daya beli hingga penerimaan pajak.

Bagi Alfamart dan Indomaret, ada dua persoalan yang sedang dihadapi. Selain persoalan strategi ekspansi yang dipaparkan Alfred, dua peritel ini juga dihantam penurunan daya beli seperti disebutkan Bhima. Best Profit