PT Best Profit Futures Jambi

Category Archives: Pancasila

PT Bestprofit : Mencari Berkah dengan Berziarah ke Makam Habib

Mencari Berkah dengan Berziarah ke Makam HabibPT Bestprofit – Sebelum direlokasi, Kawasan Kwitang terkenal sebagai pusat penjualan buku-buku tua di Jakarta. Pamornya kian menanjak setelah film Ada Apa Dengan Cinta? mengambil salah satu adegan di kawasan Senen tersebut. Tapi Kwitang bukan cuma tentang buku loak dan film remaja. Salah satu kawasan di Jakarta Pusat ini juga dikenal sebagai tujuan wisata religius penting bagi para peziarah.

Reputasi Kwitang sebagai kawasan religius tak terlepas dari keberadaan makam Habib Ali bin Abdurrahman Al Habsyi. Terletak di lingkungan Masjid Al-Riyadh, Jalan Kembang VI, makam tersebut telah menjadi magnet beragam orang dari pelbagai daerah untuk bertandang ke sana selama puluhan tahun.

“Di Jakarta yang mesti diziarahi di sini,” kata Nasrun, seorang peziarah asal Banjarmasin, Kalimantan Barat, akhir Mei lalu.

Malam telah melipat petang saat Nasrun datang. Bersama 12 saudara dan tetangganya, Nasrun khusyuk berdoa di makam Habib Ali. Ia mengecup nisan saat hendak meninggalkan makam. Nasrun berkata ia sudah berulangkali berziarah ke sini.

“Beliau ulama yang disegani. Beliau punya kasih sayang terhadap sesama muslim,” ujarnya.

Bagi Nasrun, Habib Ali adalah panutan. Nasrun berharap, dengan berziarah, ia bisa mengikuti jejak dakwah Habib Ali.

“Kami datang ke sini mudah-mudahan bisa mengikuti jejak beliau,” ujarnya, menambahkan bahwa ia selalu merasa kangen untuk kembali.

Habib Ali lahir di Jakarta pada 20 April 1879. Ia adalah salah satu tokoh penting dalam siar Islam di Jakarta pada abad 20. Salah satu peran Habib Ali adalah mendirikan Masjid Al-Riyadh. Di masjid ini Habib Ali menggelar majelis taklim atau tempat mengaji bagi murid-muridnya maupun penduduk sekitar.

Sejumlah murid Habib Ali kelak menjadi ulama kharismatik di tanah Betawi seperti K.H Abdullah Syafi’i (pendiri Majelis Taklim As Syafi’iyah), K.H Thahir Rohili (pendiri Majelis Taklim Attahiriyah), dan K.H Fathullah Harun (Melis Taklim Daarussalafie). Ia juga berdakwah hingga ke Brunei Darussalam, India, Malaysia, Pakistan, Singapura, dan Sri Lanka.

Ketika perang kemerdekaan berkecamuk, Masjid Al-Riyadh sempat digunakan sebagai tempat pertemuan para pejuang kemerdekaan. Hal ini tidak mengherankan. Sebab, selain dikenal sebagai juru dakwah, Habib Ali juga pejuang yang tergabung dalam tentara Hizbullah, Suara Jakarta, dan teman dekat Sukarno. Presiden pertama Indonesia itu bahkan turut meresmikan Islamic Center yang didirikan Habib Ali di dekat lokasi masjid pada 1960-an.

Pada 1968, Habib Ali meninggal dan dimakamkan di area Masjid Ar-Riyadh. Majelis taklim yang ia inisiasi masih bertahan sampai sekarang. Ribuan orang datang untuk mengikuti pengajian tersebut saban Ahad.

Makam Habib Ali juga tidak pernah sepi peziarah. Saban hari, tak peduli pagi, siang, sore, dan malam, ada saja peziarah datang silih berganti. Salah satu yang membuat sosok Habib Ali begitu dicintai adalah siar ceramahnya mengenai ketauhidan serta menekankan tingkah laku yang terpuji dan solidaritas sosial.

Seorang penjaga makam, yang enggan disebutkan namanya, mengatakan peziarah tidak hanya datang dari Jakarta dan sekitarnya, tapi juga dari mancanegara. “Ada yang datang dari Malaysia, Singapura, Brunei, India, Timur Tengah,” katanya.

Saat ini makam dan majelis taklim Habib Ali dikelola oleh cucunya, yakni Habib Abdurrahman bin Muhammad bin Ali Al Habsyi. Susilo Bambang Yudhoyono diketahui bersahabat dan senang berkunjung ke kediaman Habib Abdurrahman persis di sisi masjid.

Keluarga Habib Abdurrahman mempersilahkan peziarah berdoa di makam. Tapi melarang mereka membakar kemenyan, menyiram makam dengan air, dan meletakkan uang di makam. Segala hal tersebut menurut penjaga makam dilakukan guna mencegah kesyirikan terhadap makam.

Habib Kuncung

Bergeser ke kawasan Jakarta Selatan ada kompleks pemakaman keramat Habib Ahmad bin Alwi Al Haddad alias Habib Kuncung. Kompleks pemakaman ini merupakan tanah milik Habib Abdullah bin Ja’far Al Haddad, kolega Habib Kuncung. Tidak diketahui pasti kapan area pemakaman di sini mulai ada. Tapi sejumlah catatan menyebut Habib Kuncung meninggal pada 1926 dalam usia 90-an.

Berbeda dengan Habib Ali, sosok Habib Kuncung lebih banyak diselubungi cerita mitos. Reputasinya dibentuk lewat cerita tentang kesederhanaan, kedermawanan, dan kesaktian.

Meski cerita tentang kesaktian Habib Kuncung sukar dibuktikan kebenarannya, tetapi hal itulah yang justru membuat para peziarah meyakini bahwa Habib Kuncung ialah Waliyullah. Sejumlah peziarah bahkan rela mengeluarkan biaya ekstra demi bisa datang ke sini.

“Saya dari Tambun Rengas, Cakung, Jakarta Timur, datang ke sini pakai mobil sewaan,” kata Jadidah, seorang peziarah.

Jadidah berkata sudah berziarah ke makam Habib Kuncung sejak masih kecil. Tradisi ziarah sudah diajarkan oleh orangtua dan para guru mengajinya. Bagi Jadidah, cerita kesaktian Habib Kuncung ialah berkah yang dimilikinya sebagai Wali Allah sekaligus keturunan Nabi Muhammad.

Salah satu alasan utama mengapa seseorang berziarah adalah untuk berdoa. Jadidah dan peziarah lain yang saya temui meyakini berdoa di makam seorang habib, wali, atau orang yang memiliki reputasi kesalehan, dapat membuat doa lebih mudah terkabul.

“Wali Allah itu, kan, setitik pun tidak ada dosa. Surganya sudah dijamin sama Allah. Makanya kita deketin, tuh. Nanti dengan doa beliau, (doa kita) diijabah langsung,” kata Jadidah.

Meski begitu, Jadidah dan peziarah lain mengatakan mereka tidak pernah berdoa atau memohon kepada makam. Menurutnya makam sebatas perantara. “Semua kita sih mintanya kepada Allah. Kita, kan, orang yang maha kotor. Dia, kan, bersih,” tambah Jadidah.

Di makam Habib Kuncung, para peziarah biasanya tidak hanya berdoa. Kebanyakan juga mencari air minum yang disimpan di dalam tiga buah gentong. Meski air yang diminum sebenarnya hanya air biasa, tetapi peziarah percaya air itu mengandung berkah karena disimpan di dalam gentong yang telah ada sejak area pemakaman Habib Kuncung berdiri. Pemakaman yang selalu ramai peziarah ini sekarang dikelola oleh keturunan Habib Abdullah bin Ja’far Al Haddad.

Habib Muhsin Condet

Di kawasan Condet, Cililitan, ada kompleks pemakaman Al-Hawi. Sejumlah habib kharismatik dimakamkan di sini seperti Habib Muhsin bin Muhammad Alatas, Habib Zain bin Abdullah Alaydrus, Habib Salim bin Jindan, Habib Ali bin Husein Alatas, dan Habib Umar bin Hud Alatas.

Kompleks pemakaman Al-Hawi selalu ramai pada bulan Syakban. Orang Betawi menyebutnya bulan ruwah. Orang-orang dari pelbagai daerah datang untuk berziarah. “Ada dari Kalimantan, Malaysia, Singapura,” kata Muhsin Alatas, cicit Habib Muhsin.

Muhsin berkata bahwa kakek buyutnya bukanlah seorang juru dakwah dan tidak memiliki satu pun majelis taklim. Namun, sang kakek diketahui senang mengaji agama kepada sejumlah habib tenar di Jakarta dan sekitarnya. Salah satunya kepada Habib Abdullah bin Muhsin Alatas di bilangan Empang, Bogor.

Semasa hidupnya Habib Muhsin dikenal dengan kesalehan sosial yang mau membantu siapa pun. Muhsin mengatakan, biasanya orang-orang datang kepada kakek buyutnya untuk berobat. Meski tidak memiliki rekam jejak ilmu pengobatan, orang-orang percaya bahwa air pemberian Habib Muhsin menyembuhkan penyakit. Tidak diketahui pasti kapan kompleks pemakaman Al-Hawi di Jakarta Timur ini berdiri. Namun Muhsin mengatakan kakek buyutnya adalah orang pertama yang dimakamkan di sini.

“Meninggalnya 1938. Saya belum lahir,” katanya.

Abdul Azis, peziarah asal Sukabumi, berkata sudah berziarah ke Kompleks Makam Al-Hawi sejak kecil. “Kalau ke Jakarta diajak ziarah ke sini. Kadang ke Kalibata (makam Habib Kuncung), Kwitang (makam Habib Ali), Kampung Banda, dan Luar Batang,” katanya.

Azis tidak memiliki hari atau alasan khusus untuk berziarah. Kapan hati memanggil saat itulah kakinya akan melangkah. Ia bisa menghabiskan tiga jam untuk berdoa di tempat ziarah. Biasanya Aziz banyak membaca istigfar dan salawat.

Seperti kebanyakan peziarah lain, Aziz percaya bahwa orang-orang saleh meski telah meninggal masih bisa memberi manfaat kepada mereka yang masih hidup. Salah satu manfaat itu adalah keberkahan.

“Pada dasarnya kita mengambil berkah saja. Orang saleh walau meninggal sebenarnya tidak meninggal,” katanya.  PT Bestprofit

Bestprofit : Dari Pejambon Lahir Pancasila

Bestprofit – Gedung dengan delapan pilar penyangga di muka beranda itu berdiri anggun menghadap Jalan Pejambon, Jakarta Pusat. Warna dindingnya putih bersih. Sebuah patung garuda berwarna emas terpatri di atapnya, menegaskan nama gedung tersebut: Gedung Pancasila.

Bukan tanpa alasan gedung yang kini menjadi bagian Kementerian Luar Negeri ini diberi nama Gedung Pancasila. Persis 72 tahun lalu, 1 Juni 1945, di dalam salah satu ruangan gedung inilah Sukarno berpidato menawarkan gagasan mengenai dasar negara Indonesia merdeka. Di hadapan sekitar 65 anggota sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK) Indonesia saat itu, untuk kali pertama Sukarno menawarkan istilah Pancasila sebagai dasar negara.

“Di situ ada yang namanya ruang konstitusi. Di situlah sebenarnya para pendiri republik memikirkan konstitusi kita. Lahirnya Pancasila di situ. Karena Pancasila bagian dari konstitusi kita maka disebut Gedung Pancasila,” kata Wakil Menteri Luar Negeri Abdurrahman Mohammad Fachir kepada Tirto, Jumat pekan lalu.

Dalam pidato yang sekarang dikenang sebagai Hari Lahir Pancasila, Sukarno berusaha menyatukan perdebatan yang meruyak di antara para anggota BPUPKI mengenai dasar negara merdeka. Sukarno menawarkan lima sila yang terdiri: Kebangsaan Indonesia; Internasionalisme atau Peri Kemanusiaan; Mufakat atau Demokrasi; Kesejahteraan Sosial; dan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Selain Sukarno, Ketua BPUPKI Radjiman Wediodiningrat menyampaikan pandangan mengenai dasar negara. Ada juga M. Yamin dan Soepomo yang memaparkan pandangan mereka. Namun, pidato Sukarno yang dianggap paling pas dijadikan rumusan dasar negara Indonesia.

“Pidato itu disambut hampir semua anggota dengan tepuk tangan riuh. Tepuk tangan yang riuh sebagai suatu persetujuan,” kenang Mohammad Hatta dalam Menuju Gerbang Kemerdekaan (2010).

Gedung Pejambon

Gedung Pancasila, berdiri sekitar tahun 1830, semula menjadi kediaman Hertog Bernhard (1792-1862), bangsawan Jerman yang menjadi panglima tentara Belanda di Batavia (1829). Menurut Alwi Shabab dalam esai “Gedung Lahirnya Pancasila, UUD 1945, dan Piagam Jakarta,” gedung bersejarah ini semula tanah pertanian milik Anthony Chastelein, putra Cornelis Chastelein (1657-1714), seorang tuan tanah di daerah Depok pada masa awal kolonialisasi VOC di Jawa.

Karena itu, tulis Alwi, nama Hertog pernah diabadikan sebagai nama jalan dan nama taman di kawasan yang kini disebut Pejambon. “Zaman dulu terdapat “Hertog Park” (Lapangan Hertog). Bahkan, jalan itu … bernama “Hertog Laan” (Jalan Hertog),” tulisnya dalam esai “Arsenal dan Batavia yang Hilang,” seperti terangkum dalam buku Betawi: Queen of The East (2002).

Menurut Alwi, Pejambon sudah menjadi salah satu kawasan penting di Batavia sejak Willem Herman Daendles menjadi Gubernur Jendral Hindia Belanda (1808-1811). Hal ini berdasarkan peta Batavia (1853) koleksi Allgemen Rijksarchief Den Haag, yang menyebut bahwa di belakang Pejambon, persisnya di dekat RSPAD Gatot Subroto dan samping Hotel Borobudur sekarang, pernah ada kawasan bernama Arsenal. Dalam bahasa Belanda maupun Inggris, Arsenal berarti gudang peluru atau pangkalan persenjataan.

“Waktu itu Gubernur Jenderal Willem Herman Daendels (1808-1811) memang sudah memindahkan Kota Lama, Oud Batavia, ke Weltevreden di sekitar Lapangan Banteng, Senen, dan Pasar Baru. Di tempat ini Daendels membangun tangsi-tangsi militer,” tulis Alwi.

Hertog diperkirakan berdiam di kawasan Pejambon sampai tahun 1916 seiring dipindahkannya Departemen Urusan Peperangan Hindia Belanda ke Bandung pada 1914-1917.

Gedung Pejambon ini lantas digunakan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada Mei 1918 sebagai Gedung Volksraad (Dewan Rakyat). Pemerintah juga pernah menggunakannya sebagai kantor Raad van Indie (Dewan Pemerintahan Hindia Belanda), sebelum akhirnya mendirikan kantor khusus di Jalan Pejambon No. 2 sekarang.

Menjadi Gedung BPUPKI

Maret 1942, Jepang menaklukkan tentara Hindia Belanda tanpa syarat. Pada 1943, serdadu Jepang menjadikan gedung Volksraad sebagai gedung Chuo Sangi In/ Tyuuo Sangi In—semacam dewan pertimbangan, yang bertugas memberikan nasihat dan usulan politik kepada Pemerintahan Militer Jepang di Hindia Belanda.

“Setiap anggota Chuo Sangi-in memperoleh uang jabatan f.3.600/tahun, dan jika bersidang menerima uang saku f.15/hari serta uang penginapan f30/malam,” tulis Darul Aqsha dalam Kiai Haji Mas Mansur, 1896-1946: Perjuangan dan Pemikiran (2005).

Sidang pertama Chuo Sangi-In berlangsung pada 16-20 Oktober 1943. Ia membahas tentang upaya memenangkan Perang Pasifik. Namun, seiring melemahnya kekuatan militer Jepang dalam babak terakhir Perang Dunia Kedua itu, Perdana Menteri Koiso mulai menjanjikan kemerdekaan untuk Indonesia dalam sidang istimewa Parlemen Jepang ke-85 di Tokyo, 7 September 1944.

Janji tersebut direalisasikan pada 1 Maret 1945 dengan membentuk Dokuritsu Zyunbi Tjooosakai (BPUPK) dan menyetujui pembentukan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada 7 Agustus 1945. Kedua badan tersebut bekerja di gedung Chuo Sangi In.

Tugas pokok kedua badan itu menyiapkan tata pemerintahan, tata hukum, dan tata ekonomi seandainya Indonesia merdeka di kemudian hari. Selama kurun persiapan itu, dan hari-hari menjelang proklamasi kemerdekaan, Gedung Pancasila menjadi saksi bagaimana para pendiri bangsa bersidang menyiapkan dan menyepakati dasar-dasar kemerdekaan Indonesia.

Gedung dengan delapan pilar penyangga di muka beranda itu berdiri anggun menghadap Jalan Pejambon, Jakarta Pusat. Warna dindingnya putih bersih. Sebuah patung garuda berwarna emas terpatri di atapnya, menegaskan nama gedung tersebut: Gedung Pancasila.

Bukan tanpa alasan gedung yang kini menjadi bagian Kementerian Luar Negeri ini diberi nama Gedung Pancasila. Persis 72 tahun lalu, 1 Juni 1945, di dalam salah satu ruangan gedung inilah Sukarno berpidato menawarkan gagasan mengenai dasar negara Indonesia merdeka. Di hadapan sekitar 65 anggota sidang Badan Penyelidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan (BPUPK) Indonesia saat itu, untuk kali pertama Sukarno menawarkan istilah Pancasila sebagai dasar negara.

“Di situ ada yang namanya ruang konstitusi. Di situlah sebenarnya para pendiri republik memikirkan konstitusi kita. Lahirnya Pancasila di situ. Karena Pancasila bagian dari konstitusi kita maka disebut Gedung Pancasila,” kata Wakil Menteri Luar Negeri Abdurrahman Mohammad Fachir kepada Tirto, Jumat pekan lalu.

Dalam pidato yang sekarang dikenang sebagai Hari Lahir Pancasila, Sukarno berusaha menyatukan perdebatan yang meruyak di antara para anggota BPUPKI mengenai dasar negara merdeka. Sukarno menawarkan lima sila yang terdiri: Kebangsaan Indonesia; Internasionalisme atau Peri Kemanusiaan; Mufakat atau Demokrasi; Kesejahteraan Sosial; dan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Selain Sukarno, Ketua BPUPKI Radjiman Wediodiningrat menyampaikan pandangan mengenai dasar negara. Ada juga M. Yamin dan Soepomo yang memaparkan pandangan mereka. Namun, pidato Sukarno yang dianggap paling pas dijadikan rumusan dasar negara Indonesia.

“Pidato itu disambut hampir semua anggota dengan tepuk tangan riuh. Tepuk tangan yang riuh sebagai suatu persetujuan,” kenang Mohammad Hatta dalam Menuju Gerbang Kemerdekaan (2010).

Gedung Pejambon

Gedung Pancasila, berdiri sekitar tahun 1830, semula menjadi kediaman Hertog Bernhard (1792-1862), bangsawan Jerman yang menjadi panglima tentara Belanda di Batavia (1829). Menurut Alwi Shabab dalam esai “Gedung Lahirnya Pancasila, UUD 1945, dan Piagam Jakarta,” gedung bersejarah ini semula tanah pertanian milik Anthony Chastelein, putra Cornelis Chastelein (1657-1714), seorang tuan tanah di daerah Depok pada masa awal kolonialisasi VOC di Jawa.

Karena itu, tulis Alwi, nama Hertog pernah diabadikan sebagai nama jalan dan nama taman di kawasan yang kini disebut Pejambon. “Zaman dulu terdapat “Hertog Park” (Lapangan Hertog). Bahkan, jalan itu … bernama “Hertog Laan” (Jalan Hertog),” tulisnya dalam esai “Arsenal dan Batavia yang Hilang,” seperti terangkum dalam buku Betawi: Queen of The East (2002).

Menurut Alwi, Pejambon sudah menjadi salah satu kawasan penting di Batavia sejak Willem Herman Daendles menjadi Gubernur Jendral Hindia Belanda (1808-1811). Hal ini berdasarkan peta Batavia (1853) koleksi Allgemen Rijksarchief Den Haag, yang menyebut bahwa di belakang Pejambon, persisnya di dekat RSPAD Gatot Subroto dan samping Hotel Borobudur sekarang, pernah ada kawasan bernama Arsenal. Dalam bahasa Belanda maupun Inggris, Arsenal berarti gudang peluru atau pangkalan persenjataan.

“Waktu itu Gubernur Jenderal Willem Herman Daendels (1808-1811) memang sudah memindahkan Kota Lama, Oud Batavia, ke Weltevreden di sekitar Lapangan Banteng, Senen, dan Pasar Baru. Di tempat ini Daendels membangun tangsi-tangsi militer,” tulis Alwi.

Hertog diperkirakan berdiam di kawasan Pejambon sampai tahun 1916 seiring dipindahkannya Departemen Urusan Peperangan Hindia Belanda ke Bandung pada 1914-1917.

Gedung Pejambon ini lantas digunakan oleh Pemerintah Hindia Belanda pada Mei 1918 sebagai Gedung Volksraad (Dewan Rakyat). Pemerintah juga pernah menggunakannya sebagai kantor Raad van Indie (Dewan Pemerintahan Hindia Belanda), sebelum akhirnya mendirikan kantor khusus di Jalan Pejambon No. 2 sekarang.

Menjadi Gedung BPUPKI

Maret 1942, Jepang menaklukkan tentara Hindia Belanda tanpa syarat. Pada 1943, serdadu Jepang menjadikan gedung Volksraad sebagai gedung Chuo Sangi In/ Tyuuo Sangi In—semacam dewan pertimbangan, yang bertugas memberikan nasihat dan usulan politik kepada Pemerintahan Militer Jepang di Hindia Belanda.

“Setiap anggota Chuo Sangi-in memperoleh uang jabatan f.3.600/tahun, dan jika bersidang menerima uang saku f.15/hari serta uang penginapan f30/malam,” tulis Darul Aqsha dalam Kiai Haji Mas Mansur, 1896-1946: Perjuangan dan Pemikiran (2005).

Sidang pertama Chuo Sangi-In berlangsung pada 16-20 Oktober 1943. Ia membahas tentang upaya memenangkan Perang Pasifik. Namun, seiring melemahnya kekuatan militer Jepang dalam babak terakhir Perang Dunia Kedua itu, Perdana Menteri Koiso mulai menjanjikan kemerdekaan untuk Indonesia dalam sidang istimewa Parlemen Jepang ke-85 di Tokyo, 7 September 1944.

Janji tersebut direalisasikan pada 1 Maret 1945 dengan membentuk Dokuritsu Zyunbi Tjooosakai (BPUPK) dan menyetujui pembentukan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) pada 7 Agustus 1945. Kedua badan tersebut bekerja di gedung Chuo Sangi In.

Tugas pokok kedua badan itu menyiapkan tata pemerintahan, tata hukum, dan tata ekonomi seandainya Indonesia merdeka di kemudian hari. Selama kurun persiapan itu, dan hari-hari menjelang proklamasi kemerdekaan, Gedung Pancasila menjadi saksi bagaimana para pendiri bangsa bersidang menyiapkan dan menyepakati dasar-dasar kemerdekaan Indonesia. Bestprofit