PT Best Profit Futures Jambi

Category Archives: Politik

4 Peristiwa Penting di Pelantikan Anies-Sandi

4 Peristiwa Penting di Pelantikan Anies-Sandi

PT BESTPROFIT – Jakarta punya pemimpin baru. Anies Rasyid Baswedan dan Sandiaga Salahuddin Uno resmi menjadi Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta periode 2017-2022 setelah dilantik langsung oleh Presiden Joko Widodo di Istana Negara, Senin (16/10/2017).

Anies menganggap bahwa pelantikan hari ini tidak semata bagi dirinya sendiri, melainkan bagi seluruh warga Jakarta. “Saya merasa kali ini bukan sekadar pelantikan saya sebagai gubernur (DKI) dan Sandi sebagai wakil gubernur, tapi juga perayaan untuk warga Jakarta,” kata Anies di rumahnya, Lebak Bulus Dalam II, Jakarta Selatan.

Menengok kembali ke belakang, Anies-Sandi berhasil menang dalam Pilkada DKI Jakarta melalui proses yang cukup berliku. Meski awalnya sejumlah lembaga survei menyimpulkan bahwa pasangan kandidat ini tidak diunggulkan, mereka berhasil menjungkalkan pasangan Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni dan petahana Basuki Tjahaja Purnama (Ahok)-Djarot Saiful Hidayat.

Di putaran pertama, Anies-Sandi bisa mengalahkan Agus-Sylvi. Ketika itu Anies-Sandi memperoleh suara 39,95 persen. Sementara Ahok-Djarot berada di posisi teratas dengan perolehan 42,99 persen. Agus-Sylvi harus rela gugur dengan perolehan suara hanya 17,07 persen.

Setelah proses kampanye yang panjang, KPU DKI Jakarta akhirnya pada Minggu (30/4) dini hari mengesahkan hasil rekapitulasi penghitungan suara putaran kedua dan memutuskan Anies-Sandi menang dengan perolehan suara sebanyak 57,96 persen.

Ada sejumlah hal menarik yang terjadi sepanjang prosesi pelantikan ini, termasuk yang terjadi di Balai Kota, tempat dimana Anies-Sandi merayakan kemenangannya melalui pesta rakyat bertema Selametan Jakarta yang dihadiri oleh ratusan warga.

Djarot Tidak Datang

Di antara banyak pejabat yang datang dalam pelantikan Anies-Sandi di Istana Negara, yang tidak muncul batang hidungnya adalah rival saat Pilkada sekaligus mantan Gubernur DKI Jakarta, Djarot Saiful Hidayat. Sementara rival mereka, Agus Yudhoyono, menyempatkan hadir memberikan selamat. BEST PROFIT

Berdasarkan unggahan Instastory Instragam yang dilansir istri Djarot via akun @happydjarot, diketahui keduanya sedang di Labuan Bajo, sebuah lokasi wisata terkenal di Nusa Tenggara Timur. Djarot mengaku tidak ada undangan untuknya, namun berdasarkan surat pengundangan yang diterima Tirto, nama Djarot jelas terpampang sebagai salah satu undangan.

Menurut keterangan Antara, sebelum hari pelantikan, Djarot memang pernah berujar ia akan berlibur ke sana. “Kebetulan anak-anak belum pernah ke sana,” kata Djarot.

Dosen komunikasi politik Universitas Airlangga, Suko Widodo, mengatakan bahwa ketidakhadiran Djarot adalah sinyalemen negatif. Meski tidak salah secara hukum dan tidak ada sanksi apa pun, tetapi tetap saja absennya Djarot tidak lazim dalam suksesi pemerintahan.

“Secara etika komunikasi politik rasanya kurang elok,” kata Widodo kepada Tirto.

Tak Jadi Pidato di DPRD

Berdasarkan jadwal resmi yang dilansir sehari sebelum pelantikan, Anies-Sandi sedianya akan berpidato untuk pertama kalinya di DPRD pukul 19.00. Namun agenda itu urung terselenggara.

Wakil Ketua DPRD DKI Jakarta Abraham Lunggana atau yang akrab disapa Haji Lulung mengatakan bahwa agenda ini diundur karena DPRD belum menyelenggarakan rapat Badan Musyawarah untuk menetapkan Paripurna Istimewa dan undangan kepada seluruh anggota dewan.

“Kalau sekarang enggak sempat, kita undur jadi hari Rabu. Besok baru bisa kita bawa ke Bamus (Badan Musyawarah),” ungkapnya saat ditemui di Kementerian Sekretariat Negara, Jakarta.

Didemo untuk Pertama Kali

Ketika Anies-Sandi masih berada di istana, sejumlah orang yang tergabung dalam Koalisi Selamatkan Teluk Jakarta (KSTJ) melakukan demonstrasi di depan Balai Kota DKI. Demo yang diikuti oleh dua puluhan orang ini masih berlangsung ketika Anies-Sandi datang, sekitar pukul 17.30. Ini adalah demo pertama yang ditujukan ke gubernur-wakil gubernur terpilih.

Berbagai poster dan spanduk mereka bawa. Di antaranya berbunyi: “Reklamasi Untuk Siapa?,” “Kembalikan Pesisir Kami,” “Reklamasi Rusak Ekosistem Laut,” sampai “Menolak Reklamasi Menyengsarakan Anak-Anak Nelayan”. Dari poster ini kita tahu apa yang mereka tuntut.  BESTPROFIT

Janji menolak reklamasi memang salah satu dari 23 janji kampanye Anies-Sandi dalam Pilkada DKI Jakarta, selain KJP Plus, KJS Plus, DP rumah nol persen, dan OK OCE. Saat masa kampanye, Anies-Sandi pun melakukan pemboikotan wilayah reklamasi bersama warga Teluk Jakarta.

Hari ini Anies memang tidak secara eksplisit menyinggung itu. Ia hanya menyebut bahwa “pengelolaan air, pengelolaan tanah, pengelolaan teluk tidak boleh untuk kepentingan perseorangan.” Ia menyebut bahwa Teluk Jakarta adalah milik warga.

Sebelum bicara di Balai Kota, Anies juga sempat menegaskan perihal pemenuhan janji ini di rumahnya. “Setiap janji akan kami tepati,” kata Anies.

Menyinggung soal Pribumi

Omongan Anies soal reklamasi yang seakan mengakomodir keinginan warga tercoreng berkat pidatonya sendiri di Balai Kota. Ia mengatakan bahwa sejarah Jakarta adalah sejarah soal kolonialisme dan perlawanan dari masyarakat pribumi.

“Dulu kita semua, pribumi, ditindas dan dikalahkan. Saatnya kita menjadi tuan rumah di negeri kita sendiri. Jangan sampai Jakarta seperti dituliskan pepatah madura, ‘itik yang bertelur, ayam yang mengerami.’ Kita yang bekerja keras merebut kemerdekaan, kita yang harus merasakan manfaat kemerdekaan,” katanya di hadapan ratusan warga.

Warganet menanggapi pidato dengan riuh. Sampai berita ini dibuat, “Pribumi” berada di urutan teratas kata yang paling banyak digunakan di Twitter, dengan jumlah cuitan mencapai 24,5 ribu.

Selain soal penjajahan dan bagaimana pribumi terpinggirkan akan hal itu, Anies juga menyinggung soal ketuhanan, yang menurutnya layak jadi landasan kehidupan warga. Prinsip ini kemudian diejawantahkan dalam rasa kemanusiaan dan keadilan. “Tanpa ada yang terpinggirkan, terugikan, apalagi tidak dimanusiakan dalam kehidupannya,” kata Anies.

Sumber: tirto.id

Apakah Anies Berani Menutup Alexis?

Apakah Anies Berani Menutup Alexis?

BEST PROFIT – Bila Anda datang ke hotel Alexis di kawasan Ancol, Jakarta Utara, Anda akan disambut oleh resepsionis di balik meja yang melemparkan senyum profesional. Selanjutnya, Anda bisa langsung menuju lobi dengan penerangan remang dibalut interiornya yang serba hitam.

Dari pintu lobi, Anda bisa langsung menuju lift di belakang resepsionis, bisa pula belok ke kiri menuju bar. Pintu masuk bar dijaga dua petugas keamanan. Seorang bertugas mempersilakan Anda melewati pintu pemindai logam, seorang lagi memastikan Anda tidak menggunakan telepon genggam untuk mengambil gambar, baik video atau foto. Tiap ponsel pengunjung ditempeli stiker pada bagian lensa kamera, depan dan belakang.

Cahaya di dalam bar lebih redup dari di lobi. Suara musik remix menggema, bikin orang-orang harus sedikit berteriak untuk mengobrol atau merapatkan bibir ke telinga kawan bicaranya. Tempat memesan minuman ada di seberang panggung. Di atas panggung, para sexy dancer meliuk-liuk mengikuti irama musik.

“Ramai nanti agak lebih malam lagi, Bos,” kata seorang petugas keamanan.

Para penari itu, dengan pakaian serba minim dan terbuka di bagian tertentu, bergantian grup penari lain. Dalam beberapa menit kemudian para penari melepaskan pakaian dan memperagakan gerakan lebih berani, ditingkahi musik yang terus bergema. Di pinggir panggung dan di dalam ruangan, para petugas keamanan mengawasi suasana.

Bar tempat tarian striptis ini dinamai 4Play, yang bisa diartikan secara seksual. Di lantai dua, ada restoran yang terlihat mewah dan tertata rapi dan lebih formal.

Lantai 3 dan 3A hotel Alexis adalah tempat karaoke yang dinamai XiS. Ada meja resepsionis di depan lift. Tidak seperti karaoke di tempat biasa seperti Happy Puppy atau Inul Vista, sebelum memutuskan karaoke, Anda diajak ke lantai 3A terlebih dulu. Di samping meja resepsionis ada ruangan yang tertutup tirai. Di dalamnya ada puluhan perempuan pemandu lagu terbalut pakaian seksi.

“Ayo duduk manis, senyum, ya,” kata salah seorang pemasaran XiS saat para tamu datang. Para pemandu lagu langsung sigap, beberapa memasukkan ponsel ke dalam tas, lalu memasang senyum terbaik mereka. Ada pula yang agresif menyapa tamu sembari melambaikan tangan.

Seorang pemandu lagu tidak hanya menemani pengunjung bernyanyi, tapi akan menari striptis, menurut si pemandu menerangkan aturan main, harga pemandu lagu, dan layanan yang didapatkan para tamu. Layanan lain adalah seks, dengan biaya tambahan.

“Kalau di sini, sekali bayar akan ditemani sampai tutup. Jadi bisa santai-santai dulu, enggak buru-buru main,” ujarnya.

Meski lebih dikenal tempat hiburan malam dengan konsep one stop entertainment, tetapi Alexis adalah hotel. Dan layaknya hotel, Alexis memiliki kamar untuk para tamu menginap, dengan 74 kamar di lantai 5 dan 6.

Di lantai 7 atau lantai paling atas ada Bathhouse Gentlemen Spa. Lantai inilah yang disebut-sebut Basuki ‘Ahok’ Tjahaja Purnama sebagai “surga.” Omongan Ahok ini adalah salah satu yang bikin ramai saat Pilkada DKI Jakarta. BESTPROFIT

Anies Rasyid Baswedan saat debat calon gubernur di Hotel Bidakara, 31 Januari lalu, sempat menyindir Ahok soal Alexis. “Untuk urusan penggusuran, kita tegas. Kalau soal prostitusi, Alexis, kita lemah,” kata Anies.

Tak hanya menyindir, Anies berjanji akan menutup Alexis jika terpilih. “Ya, komitmen kita melaksanakan perda. Jadi semua pelanggaran akan kita tindak dan perda itulah yang akan menjadi pegangan,” ujar Anies. Ahok pun menantang Anies merealisasikan janji tersebut.

Namun, apa saja yang ada di lantai 7 hotel Alexis sampai harus dijadikan adu janji para politisi itu?

Agaknya Ahok berlebihan menyebut lantai tujuh adalah surga. Sebab di sana tak ubahnya sebuah pemandian. Ada tiga kolam kecil: dua kolam air hangat dan satu kolam air dingin. Di dekat kolam ada ruang sauna dan spa. Di sekitar kolam ada bale-bale terbuka dan kursi malas untuk para tamu bersantai.

Bagian yang membuat ini semua spesial adalah layanan para terapis perempuan. Di kolam, para tamu bisa bermesraan dengan para terapis. Ada pula yang hanya memijat tamu sambil berbincang-bincang.

Di sisi lain ruang kolam, ada lounge dan bar kecil. Musiknya lebih rileks, berbeda dari bar di 4play yang lebih bising. Ada lima blok di lounge itu, masing-masing diisi para terapis asal Indonesia, Thailand, Vietnam, dan Tiongkok, serta yang lebih khusus adalah terapis dari Uzbekistan dan Rusia.

Salah seorang pemasaran Bathhouse menjelaskan tugas para terapis adalah menemani, memijat, dan memberi layanan seks kepada tamu selama 90 menit. Harganya variatif, dari yang termurah terapis asal Indonesia dan termahal dari Uzbekistan dan Rusia.

“Aturannya 90 menit, 30 menit ke kolam, 60 menit bisa langsung eksekusi di kamar,” katanya.

 

Siapa Pemilik Alexis?

Bisnis hotel Alexis disebut-sebut milik seorang pengusaha bernama Alex Tirta. Alex merupakan ketua Persatuan Bulu Tangkis Seluruh Indonesia DKI Jakarta. Dalam satu wawancara dengan liputan6.compada Februari 2016, Alex menolak berkomentar terkait tudingan ada praktik prostitusi di Alexis.

Berdasarkan data Pemda DKI Jakarta yang dirilis 2014, hotel Alexis adalah lini usaha PT Grand Ancol Hotel, dengan penanggungjawabnya bernama Djoko Sardjono.

Dalam dokumen PT Grand Ancol Hotel, nama direkturnya bernama Andris Tanjaya, dengan komisaris bernama Sudarto. Hotel ini merupakan perusahaan modal asing dengan total saham Rp33,2 miliar. Saham tersebut dimiliki dua perusahaan, Gold Square Enterprises Limited dan Sension Overseas Limited, masing-masing memegang Rp16,6 miliar. Sementara direktur dan komisaris tidak punya saham di sana.

Dua perusahaan pemilik saham di PT Grand Ancol hotel itu perusahaan cangkang yang beralamat di tempat yang sama, yakni Palm Grove House PO BOX 438, Road Town Tortola, British Virgin Islands. Berdasarkan data Offshore Leaks Database yang dihimpun International Consortium of Investigative Journalist, alamat ini memang menjadi alamat 38 perusahaan cangkang, tetapi dua perusahaan ini tidak terdaftar di alamat tersebut.

Selain kejanggalan tentang kepemilikan saham, ada juga kejanggalan mengenai direktur PT Grand Ancol Hotel, Andris Tanjaya. Dalam dokumen perusahaan, Andris tercatat bertempat tinggal di Jalan Kelapa Hibrida Raya PE 10/26, Jakarta Utara. Dari penelusuran reporter Tirto, alamat ini adalah alamat dari Edelweiss Health Message dan Spa, sebuah usaha yang tidak jauh berbeda dengan Alexis.

 

Mencari Alasan Menutup Alexis

Menutup Alexis tidak semudah Anies mengucap janji. Janji ibarat kata adalah utang yang harus dibayar. Utang itulah yang juga ditagih oleh Gerakan Relawan Jakarta Utara yang mendesak Anies menutup Alexis setelah dilantik. Dalam pesan yang disebarkan, gerakan itu menuding ada praktik prostitusi di Alexis.

Rencananya gerakan ini akan melakukan aksi di Balai Kota pada Senin, 16 Oktober 2017, tepat di hari pelantikan Anies Baswedan-Sanidaga Uno. Sayangnya koordinator gerakan tersebut, Alfian Nur Fitroh, tidak menjawab saat dihubungi reporter Tirto soal rencana aksi ini. PT BESTPROFIT

Sementara Alex Tirta saat dihubungi reporter Tirto menolak berkomentar soal desakan menutup Alexis. “Waduh saya lagi sibuk, saya lagi ada acara di Yogya. Ini saya lagi rapat juga, mohon maaf,” kata Alex, kemarin.

Pemda DKI Jakarta selama ini nyaris tidak punya alasan untuk menutup tempat hiburan malam. Tidak cuma Alexis, beberapa tempat hiburan malam lain, yang ditengarai melakukan penyimpangan izin, sulit untuk ditutup lantaran minim bukti.

Kepala Dinas Pariwisata DKI Jakarta, Tinia Budiati, mengatakan pernah bertandang ke Alexis. Namun, ia tidak menemukan seperti apa yang dibicarakan orang-orang tentang praktik prostitusi dan kegiatan “asusila” di sana.

“Kalau kita datang untuk pengawasan, mereka akan terbuka, ‘Ya silakan saja, lihat saja.’ Kalau kita mau menutup itu, kan, harus ada bukti. Ya itu tidak mungkin, dia tahu nih kita mau pengawasan, ya mana mungkin ada,” kata Tinia kepada Tirto, awal Oktober lalu.

Paling tidak untuk menutup Alexis, Anies harus membuktikan memang ada pelanggaran terhadap peraturan daerah, yakni perda tahun 2007 tentang ketertiban umum dan perda tahun 2015 tentang kepariwisataan.

Kalau pun terbukti, pemerintahan Anies tidak serta merta bisa menutup Alexis. Berdasarkan perda itu, pemerintah harus memberikan teguran terlebih dulu. Jika teguran pertama diabaikan, birokrasinya harus menunggu ada pelanggaran serupa dan membuktikannya lagi, sehingga baru bisa menutupnya dengan mencabut izin usaha.

Penutupan ini juga harus mempertimbangkan aspek lain. Salah satunya pertimbangan nasib orang-orang yang bekerja di sana. Jumlahnya tidak sedikit. Berdasarkan pengamatan reporter Tirto, petugas keamanan di Alexis saja minimal ada 50 orang. Ini belum menghitung pegawai lain, dari petugas kebersihan, pramuniaga, penari, hingga terapis.

Pertimbangan lain adalah pendapatan daerah dari sektor pariwisata. Tren PAD di Jakarta dari sektor ini sejak 2012 hingga 2016 terus meningkat. Masing-masing Rp2,6 triliun pada 2012, Rp3,1 triliun (2013), Rp3,7 triliun (2014), Rp4,3 triliun (2015), Rp4,7 triliun (2016), dan Rp2,02 triliun (Januari-Mei 2017).

Pertanyaannya: Apakah Anies berani melunasi janjinya dengan mengabaikan pendapatan asli daerah dan bersiap puluhan hingga ratusan warga kehilangan pekerjaan?

Dalam wawancara dengan Tirto tentang janji-janji Anies, Sudirman Said, ketua tim sinkronisasi pasangan terpilih, menjawabnya datar saja.

“Hal-hal di atas semuanya memerlukan persiapan. Dari mulai landasan hukum, anggaran, personalia pelaksana, sampai pada kelembagaan. Sosialisasi juga tidak kalah penting. Jadi satu per satu apa yang sudah dijanjikan akan ditunaikan, dengan tahapan yang baik. Sesuai dengan asas good governance,” kata Sudirman.

Sumber: tirto.id

Gejolak Partai Golkar kembali memakan korban

PT BESTPROFIT – Gejolak di internal Partai Golkar semakin dinamis. Kubu pro dan kontra Ketua Umum Golkar Setya Novanto semakin nampak ke permukaan.

Kubu kontra Novanto secara terang-terangan meminta agar ketua DPR itu mundur atau dilengserkan. Strategi dilancarkan dengan cukup terkonsep.

13 September Tim Pengkajian yang dipimpin Yorrys Raweyai dibentuk. Tim ini dibuat saat Novanto terbaring lemah di rumah sakit. DPP Golkar saat itu langsung dipimpin oleh ketua harian Nurdin Halid.

Tim Pengkajian memiliki waktu 10 hari untuk melihat elektabilitas Golkar jelang Pemilu 2019. Hasilnya, elektabilitas Golkar merosot, hal ini diyakini karena keterlibatan Novanto dalam kasus e-KTP. Tim pun merekomendasikan Novanto nonaktif.

Suara-suara miring pada Novanto pun mulai ramai diutarakan kader Golkar. Semisal, Ahmadi Noor Supit dan Kahar Muzakir. Supit sepakat, Golkar harus ganti kepemimpinan.

Rapat pleno bahas rekomendasi penonaktifan Novanto semula dijadwalkan pada 29 September. Namun dibatalkan, dengan alasan ruang DPP Golkar dipakai untuk nonton bareng film G30S PKI. Sehingga dijadwal ulang pada Senin 2 Oktober. BEST PROFIT

Tapi lagi-lagi, rapat pleno batal digelar. Golkar lebih memilih rapat tentang Pilkada serentak 2018 yang dipimpin langsung Sekjen Golkar Idrus Marham dan Nurdin Halid.

Nasib rekomendasi Tim Pengkajian semakin tak jelas. Apalagi, putusan praperadilan Novanto menyatakan penetapan tersangka batal. Hakim Cepi Iskandar menilai, KPK menyalahi prosedur dalam proses penetapan tersangka Setya Novanto. Angin segar berbalik.

Novanto pun yang sudah dua minggu dirawat di rumah sakit, memilih pulang pada Senin (2/10) kemarin. Kondisi kesehatan Novanto dinyatakan telah membaik.

Yorrys Raweyai yang pimpin Tim Pengkajian malah kena batunya. Novanto dan Idrus Marham meneken surat keputusan pencopotan Yorrys sebagai koordinator bidang Polhukam Partai Golkar.

“Beliau diganti sejak kemarin sore, surat ditanda tangani langsung oleh ketua umum dan sekjen,” kata Ketua DPP Golkar bidang pemenangan pemilu wilayah Indonesia Timur, Aziz Samual saat dihubungi merdeka.com, Selasa (3/10).

Aziz menilai, Yorrys dianggap telah melakukan banyak persoalan yang membuat internal Golkar gaduh. Sehingga, posisinya sebagai Koordinator bidang Polhukam digantikan oleh Letjen (purn) Eko Widyatmoko.

BESTPROFIT “Alasannya Pak Yorrys sudah buat masalah, tidak sesuai aturan Partai Golkar, melebihi kewajaran, diputuskan untuk diganti yang gantikan Letjen (purn) Eko Widyatmoko,” kata Aziz.

Terkait hal itu, Yorrys mengaku sampai saat ini belum tahu atas keputusan tersebut.

“Ya kalau sekarang ini, kita sendiri mau dengar info atau bagimana. Saya sendiri tidak tahu,” kata Yorrys saat dihubungi, Selasa (3/10).

Yorrys hanya mengingatkan, pencopotan kader dari struktur partai seharusnya mengikuti aturan yang berlaku. Sehingga partai tidak bisa asal memecat atau mencopot kader.

“Iya dong, masa main pecat-pecat, emang perusahaan,” kata dia.

Sumber: merdeka.com

Cara Jonru Mencintai Prabowo dengan Mengkritik Jokowi & Ahok

BESTPROFIT – “Saya menyesal, karena tidak percaya pada ucapan orang-orang bahwa Prabowo itu sangat otoriter, penculik sadis, Orde Baru Jilid Dua,” tulis Jon Riah Ukur membuka tulisannya dalam satu postingan pertengahan Juli lalu.

“Era Prabowo jauh lebih sadis ketimbang Orde Baru. Masa ormas dibubarkan dengan sangat sewenang-wenang dan media sosial katanya mau diblokir semua? Sungguh era Prabowo adalah rezim paling otoriter sepanjang masa!” ia melanjutkan.

Dari Medan, Sumatera Utara, sebagaimana lokasi tulisan itu diklaim dibuat, Jon Riah Ukur, pemilik nama beken Jonru Ginting, mengunggah tulisan dalam Fanpage Facebook miliknya, berjudul “Saya Menyesal Memilih Prabowo.”

Tulisan itu mendapat 44 ribu likers dan dibagikan 11.964 kali dengan merebut 9.000 komentar warganet.

Jonru, dalam tulisan itu, sebenarnya bukanlah mengkritik Prabowo Subianto, calon presiden yang pernah ia dukung dan dua kali gagal dalam pemilihan presiden. Namun, tulisan itu ditujukan kepada Presiden Joko Widodo karena telah memblokir Telegram, sebuah layanan pesan instan terenkripsi buatan pengusaha Rusia Pavel Durov, yang ikut berdampak pada saluran miliknya.

Pada 14 Juli lalu memang Kementerian Komunikasi dan Informatika sempat memblokir Telegram karena dinilai mengandung konten ilegal dengan menganjurkan perbuatan teror seperti membuat bom. Sikap sepihak kementerian itu mendapat tanggapan dari pelbagai kalangan, tak terkecuali oleh Jonru, orang yang rajin mengkritik presiden Joko Widodo sejak pemilihan presiden 2014.

Bukan hanya pemblokiran aplikasi Telegram, dalam tulisan tersebut, Jonru mengkritisi langkah pemerintah membubarkan Hizbut Tahrir Indonesia, menuduh bahwa “aroma PKI semakin terasa … dan masih banyak kejadian sadis lainnya.” PT BESTPROFIT

Postingan Jonru memang kerap mengaduk-aduk emosi bagi lawan politiknya. Namun, meski diserang balik di media sosial dan tak jarang pula memuat fitnah terhadapnya, Jonru tetaplah Jonru; ia sukses meraup likers di akun Fanpage Facebooknya (hingga kini nyaris 1,5 juta).

Jonru memang mengumumkan diri pada Pemilihan Presiden 2014 sebagai pendukung pasangan Prabowo Subianto dan Hatta Rajasa. Karena dukungan itu pula, pada 2014 Fanpage Facebook Jonru disukai 100 ribu akun.

“Kenapa belakangan ini saya banyak menulis tentang politik, khususnya pilpres? Tak lain dan tak bukan karena lagi tren. Besok ketika pilpres sudah berlalu dan orang-orang sudah melupakannya, saya pun akan berhenti bicara politik. Dan ketika ada momen politik lagi, saya akan kembali membicarakan politik,” tulis Jonru, 11 Juli 2014.

 

Menyerang Ahok dan Jokowi

Jonru Ginting menggenapkan janjinya. Ia makin getol menggunjingkan isu politik, terutama terhadap orang yang duduk di Balai Kota Jakarta dan orang yang duduk di Istana Presiden. Timbunan postingannya soal Jokowi, Ahok, Prabowo, ‘Umat Islam’ dan sejenisnya telah menutupi predikatnya sebagai blogger sehat yang pernah diraihnya pada 2010.

Dua tahun sebelum panggung Pilkada DKI Jakarta 2017 mengoyak ikatan saudara dan kian mempolarisasi sentimen politik, Jonru sudah mengkritik Basuki “Ahok” Tjahaja Purnama.

Dalam satu postingan pada 9 Maret 2015, Jonru nyinyir kepada Ahok karena sering melontarkan ucapan-ucapan kasar.

“Ahok berteriak “PDAM bajingan” dan berbagai macam makian lain, para pemujanya tetap setia membela. Tapi ketika ada makian “Ahok anjing” satu kali saja, pelakunya langsung di-bully habis-habisan oleh pemuja Ahok,” tulis Jonru.

Komentar kritis, nyinyir, dan benci kepada Ahok terus berlanjut. Pada 2016, misalnya, Jonru mengunggah berita yang ditulis kompas.com mengenai pernyataan Ahok soal bir. Ia mengaitkan pernyataan Ahok dengan isu keterlibatannya dalam kasus pembelian tanah Rumah Sakit Sumber Waras: “DICARI: Seorang pria yang dulu berkata bir tidak berbahaya.”

“Di mana ya sekarang orangnya? Apa masih sibuk mengurus Sumber Waras dan Podomoro?” tulis Jonru pada 9 Mei 2016. Kritik itu kemudian dibalas beragam tanggapan dari warganet yang menyerang balik Jonru oleh para pendukung Ahok.

Jonru juga lihai menerapkan peribahasa ‘sekali merengkuh dayung, dua tiga pulau terlampau. Postingan berjudul “Ahok yang Bikin Ulah, Eh… Justru Jokowi yang Repot,” pada 1 November 2016, ia menyerang Ahok sambil menyeret Jokowi dengan mengaitkan kasus dugaan penistaan agama yang menjerat Ahok yang bikin “repot” Jokowi.

Jokowi, seperti ditulis Jonru, harus “mendatangi Prabowo ke Hambalang, mengadakan pertemuan dengan Pemred media massa, menyiapkan pasukan keamanan, mengundang MUI, NU, dan Muhammadiyah, dan beberapa aksi lainnya.”

“DUH, REPOT AMAT PAK!!!” tulis Jonru, sembari menyematkan foto kedua politikus itu dikerubungi para wartawan demi menambah unsur dramatisasi.

 

Mendukung Anies-Sandiaga

Apa yang dilakukan Jonru mengkritik Jokowi dan Ahok pun tergambar dari sikap politiknya pada pemilihan Gubernur DKI Jakarta 2017.

Dalam postingannya pada 23 September 2016, berjudul “Mendukung Anies Baswedan Sungguhlah Berat!”, Jonru berbagi alasannya mendukung kandidat yang diusung Partai Gerindra dan Partai Keadilan Sejahtera tersebut.

Duh, rasanya sungguhlah berat jika saya harus mendukung Anies Baswedan,” tulis Jonru. “Untungnya, tiba-tiba saya ingat sesuatu: Ketika masih menjabat sebagai menteri, prestasi beliau sungguh luar biasa. Pak Anies Baswedan sempat membuat kebijakan menghapus MOS, dan beberapa kebijakan lain yang positif dan mendapat pujian khalayak ramai.

Lalu tiba-tiba beliau dipecat oleh Jokowi. Sebuah tindakan yang saat itu sangat disayangkan oleh banyak pihak, termasuk oleh para pendukung Jokowi sendiri.

“Anies Baswedan sudah berubah.” Itulah kesan yang saya tangkap dari rangkaian cerita di atas. Dan saya berharap semoga itu benar,” tulis Jonru. BEST PROFIT

“Mungkin beliau telah menyesal karena dulu jadi timses Jokowi,” tulis Jonru, lagi.

Pada unggahan lain bertanggal 28 September 2016, Jonru makin bulat mendukung pasangan yang memenangkan konsetasi Pilkada Jakarta itu karena didukung oleh para “ulama” seperti Bachtiar Nasir, Al Khaththath, dan Zaitun Rasmin, dengan menyelipkan foto mereka bersanding dengan Anies Baswedan dan Sandiaga Uno.

Jonru juga mengklaim alasan mendukung Anies-Sandiaga karena kedua politisi ini didukung oleh dua partai yang setia mengawal Koalisi Merah Putih (KMP), sebuah koalisi di parlemen untuk partai-partai pendukung Prabowo dalam Pilpres 2014.

“Pasangan mana pun yang Anda pilih, apakah Anies-Uno atau Agus-Sylviana, tugas utama kita adalah mengusir pemimpin zalim dari DKI Jakarta,” tulis Jonru.

Seiring kemenangan Anies-Sandiaga, dan pemberitaan (elite) politik apa pun yang terus mengisi halaman muka layar gawai Anda—dari pemblokiran, pengusutan polisi atas tertuduh makar, pembubaran HTI, hingga aksi-aksi “bela Islam” dan persekusi atas kaum muslim Rohingya—Jonru selalu ada buat Anda.

Kini, akibat tulisan di media sosial, Jonru ditetapkan tersangka karena ujaran kebencian. Sebelum ia akhirnya ditahan pada Sabtu, 30 September lalu, Jonru menulis mengenai film Pengkhianatan G30S PKI. Ia setuju dengan usulan Presiden Jokowi buat membuat ulang film itu dalam versi terbaru.

Sumber: tirto.id