PT Best Profit Futures Jambi

Category Archives: Seks

Bestprofit : Pesta Sabu di Sel Mewah Seharga Rp36,6 Miliar Cipinang

Bestprofit : Nanti orang orang yang terlibat akan saya sanksi berat kemudian dipindah jauh-jauh. Saya sudah katakan enggak ada kompromi lagi,” ungkap Menteri Hukum dan Hak Asasi Manusia (Menkumham) Yasonna Hamonangan Laoly.

Yasonna mengakui narapidana narkoba Haryanto Chandra alias Gombak, menempati sel mewah di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IA Cipinang, Jakarta Timur. Dalam sel Haryanto terdapat laptop, iPad, empat unit ponsel, dan barang mewah lainnya.

“Di ruangan tersebut terdapat AC, CCTV yang bisa memonitor setiap orang yang datang, wifi, akuarium ikan arwana, dan menu makanan spesial,” kata  Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komjen Budi Waseso.

Temuan tersebut mengemuka saat BNN melakukan penggeledahan pada, 31 Mei 2017 yang lalu. Saat razia, penyidik BNN juga menemukan aktivitas para narapidana sedang menghisap sabu di dalam ruangan sel.

Ada 19 narapidana yang dipindah usai BNN melakukan sidak. Pada 31 Mei 2017, jumlah narapidana sebanyak 2856 jiwa. Kemudian pada 1 Juni 2017, jumlah narapidana berubah menjadi 2873 jiwa.

Berdasarkan putusan Pengadilan Negeri Jakarta Pusat bernomor, 1111/Pid.Sus/2013/PN.Jkt.Pst, Haryanto memiliki nama samaran lainnya yakni Yudi Prasetyo.

Haryanto ditangkap aparat kepolisian pada Jumat 13 Juli 2012 sekitar Jam 19.00 silam. Di dalam tas punggung hitam Haryanto ditemukan paket sabu 3 ribu gram. Di tas warna cokelat miliknya, terdapat sabu juga seberat 631 gram.

Jaksa penuntut umum sempat memberikan dakwaan pada Haryanto dengan pidana penjara 17 tahun pada, 8 Januari 2014. Tapi majelis hakim memvonis Haryanto dengan pidana penjara seumur hidup pada, 12 Maret 2014.

Sebelumnya, di Lapas yang sama pada 2013, narapidana narkoba yang sudah dihukum mati, Freddy Budiman dipergoki menempati sel mewah. Freddy juga menggelar pesta seks di Lapas. Freddy juga menjadikan Lapas Cipinang sebagai pabrik pengolahan sabu.

Temuan sel mewah tersebut muncul di antara riuhnya masalah klasik: jumlah penghuni Lapas yang melebihi kapasitas maksimal. Berdasarkan data  Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, pada 14 Juni 2017 jumlah keseluruhan narapidana dan tahanan mencapai 2926 — padahal kapasitas makmimal hanya untuk 880 orang.

Lapas yang dihuni Haryanto kelebihan kapasitas sebanyak 2.046 jiwa. Rincian klasifikasi kasus penghuni Lapas, dari data terakhir bulan April, terdapat 1563 jiwa bandar dan pengedar narkoba, 972 pengguna narkoba, 17 koruptor, 10 pelaku human trafficking, dan 9 pelaku tindak pidana pencucian uang.

Dari 9 Lapas dan Rutan di Jakarta, Lapas Cipinang menelan anggaran negara terbesar kedua. Lapas Cipinang mematok pagu anggaran setahun dari APBN sebesar Rp36,6 miliar. Sementara Rutan Kelas I Jakarta Pusat, memiliki pagu anggaran terbesar yakni Rp37,3 miliar.

Pemecatan dan Peningkatan Keamanan

Menkumham Yasonna Hamonangan Laoly menegaskan telah mencopot jabatan Kepala Lembaga Pemasyarakatan Cipinang, Petrus Kunto Wiryanto. Surat penonaktifan tugas Petrus sudah dia tanda tangani kemarin.

“Kepala Lapas-nya bilang enggak pernah lihat. Enggak benar, berarti dia tidak melakukan tugas dan fungsinya,” ungkap Yasonna di Kompleks Parlemen DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (14/6/2017).

Selain itu, Kepala Kesatuan Pengamanan Lapas Cipinang (KPLP) Sugeng Hardono juga dicopot jabatannya. Sedangkan Haryanto, akan dipindah ke Lapas pinggiran setelah perkaranya usai ditangani BNN.

“Si (Haryanto) Chandra itu nanti dipindahin ke Nusakambangan, di sel khusus, sesudah BNN kembalikan ke kami,” tuturnya.

Yasonna sudah meminta bawahannya untuk melayangkan surat ke BNN. Surat itu berisi permintaan daftar nama penghuni Lapas yang ditengarai memiliki jaringan narkoba yang kuat. Dia juga tengah memeriksa beberapa pegawai Lapas Cipinang yang diduga terkait dengan kasus mengistimewakan sel Haryanto.

Peristiwa ini terjadi saat Direktur Jenderal Pemasyarakatan, I Wayan Kusmiantha Dusak akan pensiun 2 bulan lagi. Wayan menganggap dalam kasus pengistimewaan narapidana tersebut, ada petugas Lapas yang terlibat.

“Kalau orang dalam main, kami sulit,” ungkapnya di Kompleks Parlemen DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (14/6/2017).

Wayan mengakui, penghuni Lapas yang membandel kerap kucing-kucingan dengan pengawas Lapas. Dia pun berjanji akan memperketat pengawasan. “Pengawasan ini harus kita tingkatkan,” tuturnya. Bestprofit

PT Bestprofit – Hiperseks Butuh Terapi Kesembuhan, Bukan Stigma Negatif

PT Bestprofit – Yogya merupakan kota yang menyimpan banyak rahasia bagi D. Perempuan berusia 28 tahun itu kini telah kembali ke rumahnya di Kalimantan, tapi ia tak akan pernah melupakan pergaulan bebas yang ia lakukan bersama pacar-pacarnya selama kuliah. Gaya hidup itu ia tutup rapat-rapat dari orang tuanya, termasuk rahasia bahwa ia adalah seorang hiperseks.

D hanya berbagi kisah pada dua orang sahabat terbaiknya. Kepada Tirto, ia juga berkisah tentang hari-harinya selama menjalani pergaulan bebasnya itu. Dalam sehari, tuturnya, ia bisa berhubungan seksual minimal tiga kali. Kurang dari itu, ia jadi gelisah dan melampiaskannya lewat aktivitas masturbasi. Pacar-pacarnya awalnya kaget. Setelah beberapa waktu, ditambah sejumlah penjelasan, ada yang bisa bertahan agak lama, tetapi ada juga yang tak tahan dan kemudian memilih untuk mengakhiri hubungan.

D tak mau menyebutkan sejak kapan ia menderita hiperseksualitas, tapi ia menolak dengan tegas pandangan orang-orang bahwa menjadi pelaku hiperseksualitas itu menyenangkan (bagi diri sendiri dan pasangan). Efek negatif yang timbul rupanya mengganggu aktivitas utama D sehari-hari seperti bekerja dan kuliah. Pikirannya tak fokus. Libido yang meluap-luap membuatnya kerap kali bolos, demi bisa melampiaskannya sendiri maupun mengajak (baca: agak memaksa) sang pacar.

“Pernah aku ketinggalan pesawat sampai dua kali, juga telat untuk pertemuan penting, hanya gara-gara aku sibuk gituan sama pacarku. Pacarku lama-lama mengeluh juga, tapi ini aku juga sebenernya enggak menyukai kondisiku sendiri. Mau gimana, lagi, kayak kecanduan. Kalau enggak dilakukan tahu sendiri gimana rasanya, contohnya aja yang kecanduan ngerokok itu,” ungkapnya.

Satu lagi, D kerap dilanda perasaan bersalah yang amat-sangat usai beraktivitas seksual. Ia tak bisa mengendalikan gejolak birahinya. Itu yang ia sesalkan. Ia menyadari dirinya tak senormal orang-orang lain, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Ia juga belum pernah mencoba berobat atau terapi, karena malu. Di satu titik ia juga tak bisa benar-benar menikmati aktivitas seksual itu sendiri sebab pada akhirnya jatuh sebagai rutinitas biasa.

Keinginan berhubungan seks secara berlebihan, seperti yang dialami D sudah berlangsung sejak lama. Pada tahun 1886 psikiater Jerman Kraft-Ebbing mendeskripsikan apa yang ia sebut dengan “hypersensuality” yang menjadi awal munculnya istilah dan studi atas kondisi hiperseksualitas. Fenomena tersebut kemudian menjadi tempat tersendiri untuk dikaji, demikian juga mendapat penamaan yang macam-macam: Don Juanisme, nymphomania, erotomania, atau sekskoholisme. Titik fokus kebanyakan studi memandang kondisi ini sebagai kecanduan seks.

Randy Gilliland dari Departemen Psikologi Universitas Young Birmingham pada 2010 silam menerbitkan tesis yang tujuan utamanya untuk membuktikan dua efek terbesar dari hiperseksualitas yang sebenarnya telah dikenal lama: malu dan rasa bersalah.

Keduanya rasa tersebut diakui muncul dalam diri sejumlah responden penelitian Gilliland, barisan para pecandu seks yang mau berbagi cerita dengannya. Hal ini menandakan bahwa penderita hiperseksualitas, sebagaimana kondisi kecanduan lain, juga ingin sembuh. Serupa pengakuan D, efek negatifnya cukup merepotkan dan melelahkan. Hiperseksualitas bukan kondisi yang mereka inginkan. Mereka ingin sembuh dan membangun hubungan yang lebih sehat bersama pasangan.

Demikian juga dalam ulasan kanal Hipersexual Disorders, hiperseksualitas itu lebih kompleks dari pandangan orang awam yang menilainya sebagai kondisi orang yang haus bercinta. Sebagaimana candu jenis lainnya, hiperseksualitas juga berangkat dari titik paling remehnya tetapi dilakukan berulang-ulang hingga akhirnya tak bisa untuk dihentikan (dengan mudah). Mulai dari kebiasaan masturbasi di depan video porno, misal, hingga akan gelisah luar biasa jika hari ini baru bercinta satu kali.

Otak seorang hiperseks menjadi kecanduan dopamin, zat yang bertanggung jawab atas kesenangan. “Ini berlaku untuk semua kecanduan: narkotika, alkohol, judi, seks, belanja. Mereka tak mampu untuk merasa cukup dan terlalu memaksa diri untuk merasakan hal yang bikin kecanduan itu,” kata Ethlie Ann Vare, penulis buku Love Addict: Sex, Romance, and Other Dangerous Drugs, kepada Medical Daily.

Sebagaimana hasrat pecandu alkohol yang menginginkan botol selanjutnya, atau pecandu rokok yang tidak bisa untuk tidak menggenggam rokok yang terbakar, komitmen dari si pelaku untuk berhenti bisa terasa amat sangat susah. Tak semudah diucapkan, sebab aktivitas yang dilakukannya menjadikan luka hati, stres, kesepian, hingga kecemasan jadi hilang. Berganti dengan kesenangan sesaat, yang dalam tahap terekstremnya, bisa sampai membahayakan diri sendiri.

Dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2014 di Jurnal PLOS ONE bertajuk “Neural Correlates of Sexual Cue Reactivity in Individuals with and without Compulsive Sexual Behaviour”, dibuktikan bahwa aktivitas di otak bagi orang yang kecanduan seks sama dengan pecandu narkotika.

Saat penderita hiperseksualitas diperlihatkan gambar sensual, tiga bagian otak yakni siatrum ventral, dorsal anterior cingulate, dan amigdala, aktif, sebagaimana respon otak pecandu narkotika yang diperlihatkan gambar obat-obatan terlarang.

Meski demikian, menyalahkan si penderita (apalagi murni memakai sudut pandang moral) bukan hal yang bijak. Ada banyak kasus yang menunjukkan bahwa asal muasal kecanduan bukan karena kebiasaan pribadi, tapi kondisi kesehatan yang kompleks. Akar persoalan yang membuat posisi si penderita justru menjadi seorang korban.

Penderita hiperseksualitas biasanya juga seorang penderita gangguan bipolar, demikian kata psikiater dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, dr. Natalia Widiasih, SpKJ (K), Mpd. Ked. Gangguan bipolar muncul karena ketidakseimbangan antara dopamin dan seratonin dalam otak. Salah satu efek yang kerap muncul adalah meningkatnya libido menjadi lebih tinggi dan tak terkontrol.

Dr. Natalia mengungkapkan bahwa 57 persen penderita gangguan bipolar bisa mengalami peningkatan gairah seksual. Saat dorongan seksual ini muncul maka norma sosial, moral, hilang. Si penderita bisa melakukan hubungan seksual dengan siapapun. Hal ini menjelaskan fenomena perselingkuhan yang tinggi di kalangan para hiperseks. Kebutuhannya bukan lagi seberapa banyak berhubungan seksual, tapi berharap menemukan sensasi yang beda dengan orang yang beda juga.

Pada tingkat pertama, kata Dr. Natalia, penderita akan mengalami suasana perasaan atau mood yang berubah drastis. Kemudian, pada fase kedua atau yang dikenal dengan fase mania, ia akan mengalami peningkatan energi dan peningkatan gairah serta dorongan seksual yang makin makin susah dikontrol.

Seorang hiperseks juga bisa karena terkena efek samping dari obat penyakit Parkinson yang dideritanya. Ada kemungkinan juga ia pernah menjalani terapi penyuntikan hormon testosteron atau estrogen namun sialnya mengalami malpraktek sebab dosis atau takarannya tak tepat.

Sejumlah riset menunjukkan hiperseksualitas dikaitkan dengan perubahan biokimia dan fisiologis akibat penyakit demensia. Gejalanya antara lain tidak bisa mengontrol impuls, tidak mampu membaca dan memahami isyarat sosial sesuai aturan dan norma masyarakat dalam komunikasi sehari-hari, tak mampu fokus dan tenang (sehingga bertindak hiperaktif), juga bersikeras untuk belajar perilaku seksual dan tak mau atau lupa cara kerja aktivitas lain (hanya fokus ke hal-hal seputar seks).

Lebih lanjut lagi, hiperseksualitas juga bisa muncul karena faktor psikologis. Ada hiperseks yang memiliki masa lalu yang agak parah sebab kekurangan afeksi dari orang terdekat juga lawan jenis, sehingga ia tumbuh menjadi seseorang yang sangat beringas namun menerjemahkannya murni untuk seks. Ada juga hiperseks yang dulu pernah
mengalami pelecehan seksual sehingga saat dewasa berusaha menyalurkan traumanya dengan seks yang tak terkontrol.

Menimbang berbagai faktor yang menyebabkan seseorang tumbuh menjadi hiperseks, terutama faktor-faktor yang berasal dari luar dirinya, penting untuk ditekankan bahwa yang bersangkutan itu perlu terapi penyembuhan, bukannya stigma negatif bermodal kacamata moral saja.

Posisikan dia sebagai pecandu narkoba misalnya, yang idealnya bukan untuk dikriminalisasi, melainkan untuk dibawa ke lembaga rehabilitasi yang layak agar apa yang dideritanya bisa pelan-pelan disembuhkan. Sebab kita pun tak tahu, alih-alih bangga, jangan-jangan si pecandu itu sebenarnya benci dengan kondisi dirinya sendiri. PT Bestprofit

Bestprofit : Mengapa Tak Semua Korban Perkosaan Bisa Bereaksi Langsung?

Bestprofit – Apa yang terlintas di kepala saat membayangkan adegan perkosaan? Korban pasti akan berteriak, menangis, dan meronta sekuat tenaga saat serangan terjadi? Bisa jadi inilah yang melekat di benak Derek G. Johnson, hakim Pengadilan Tinggi Orange County, California, saat memimpin sidang perkara perkosaan pada 2008 silam.

Adalah Metin Gurel, laki-laki yang menjadi terdakwa kasus perkosaan, kekerasan domestik, penguntitan, dan intimidasi terhadap mantan pacarnya. Dilansir Huffingtonpost, jaksa menuntut hukuman 16 tahun penjara atas perbuatan Gurel ini. Alih-alih mengikuti tuntutan jaksa, Johnson malah memangkas 10 tahun hukumannya.

Vonis akhir ini hanya satu bagian dari tindakan Johnson yang mengundang kontroversi. Pernyataan-pernyataannya seputar perkosaan lebih membuat mata publik membelalak, bahkan mengecamnya.

“Korban dalam kasus perkosaan ini, meskipun dia tidak menginginkannya juga, dia tidak melakukan perlawanan,” demikian salah satu ujaran Johnson terkait kasus yang ditanganinya. Ia juga mengungkapkan bahwa bila seseorang tidak ingin melakukan hubungan seks, maka tubuhnya tidak akan “mengizinkan” hal tersebut terjadi. Atas ucapan-ucapannya tak sensitif dan biasnya tersebut, Johnson mendapat peringatan dari Commision of Judicial Performance California.

Tindakan Johnson ini hanya satu dari sederetan tindakan penyalahan korban serangan seksual yang terjadi di berbagai tempat. Langgengnya kerangka berpikir yang keliru seputar perkosaan menjadi para korbannya terus menerima perlakuan tak adil.

Baru-baru ini, peneliti dari Swedia merilis hasil riset mereka yang mematahkan salah satu mitos perkosaan: korban akan berupaya melawan dan jika hal ini tak dilakukan, maka hubungan seks yang terjadi tidak bisa dikatakan sebagai perkosaan. Dr. Anna Moller, salah satu peneliti yang terlibat dalam riset tersebut menemukan ada gejala kelumpuhan sementara yang dialami sebagian korban perkosaan ketika mereka diserang pelaku. Gejala kelumpuhan ini disebut dengan tonic immobility.

Diwartakan oleh Live Science, kelumpuhan sementara yang dialami korban perkosaan menurut Moller merupakan reaksi defensif dari tubuh yang bersifat alami. Biasanya, reaksi yang tidak disengaja ini terjadi saat seseorang merasakan ketakutan luar biasa. Dalam riset Moller et. al. (2017), kelumpuhan sementara ini dikatakan mirip dengan kondisi katatonia, yakni keadaan di mana seseorang tidak bisa bergerak, berbicara, dan merespons stimulasi apa pun yang diterima tubuhnya.

Kelumpuhan sementara yang dialami sebagian korban perkosaan berhubungan dengan aktivasi hormon tertentu, demikian dijabarkan oleh Arkansas Coalition Against Sexualt Assault (ACASA). Pada sebagian korban, aktivasi hormon corticostereoid mengambil peran besar dalam mereduksi energi yang mereka miliki. Hal inilah yang menyebabkan tubuh mereka kaku seutuhnya.

Bukan hanya kondisi kelumpuhan sementara pada korban perkosaan yang ditemukan oleh Moller et. al. Mereka juga melihat lebih besarnya potensi depresi akut, bahkan gangguan stres pascatrauma yang dimiliki para korban yang mengalami kondisi kelumpuhan sementara dibanding mereka yang tidak mengalaminya.

Karena banyak korban yang tidak menyadari bahwa kelumpuhan sementara bersifat alami dan spontan, penyalahan diri sendiri menjadi hal yang tidak terhindarkan. Mereka lebih enggan lagi untuk melaporkan pengalaman pahit itu kepada orang terdekat atau pihak berwajib lantaran besar kemungkinannya mereka berhadapan dengan pertanyaan, “Mengapa kamu tidak melawan?” atau “Mengapa kamu tidak berusaha lari?”.

Kondisi kekakuan tubuh korban yang mengalami perkosaan rupanya bukan fenomena anyar. Para peneliti Swedia ini mendapatkan temuan bahwa 7 dari 10 perempuan korban perkosaan yang mereka teliti merasakan kelumpuhan sementara saat kejadian. Sederetan penelitian dari negara-negara lain dan rentang waktu berbeda pun menunjukkan fenomena serupa. Namun sayang, hasil temuan mereka belum jamak disosialisasikan dan terinternalisasi dalam pikiran masyarakat, sehingga stigmatisasi dan penyalahan korban masih terus berlangsung.

Bestprofit