PT Best Profit Futures Jambi

Category Archives: Sepakbola

Tim Terbaik Piala Dunia 2018 Versi Bola.net

Tim Terbaik Piala Dunia 2018 Versi Bola.net

BEST PROFIT – Selama satu bulan ini, pecinta sepakbola dunia telah disuguhi pesta terbaik penuh kejutan di Piala Dunia 2018 Rusia. Satu bulan indah ini pun diakhiri dengan kemenangan Prancis atas Kroasia di partai final dengan skor 4-2.

Sebagaimana di setiap turnamen, selalu ada para pemain yang mampu tampil bagus memenuhi ekspektasi, hingga pemain yang dinilai gagal membawa tim yang dia bela berprestasi. Begitu juga di Piala Dunia 2018 tahun ini.

Dan berikut adalah tim terbaik yang berisi para pemain terbaik di tiap posisinya menurut Bola.net dalam formasi 4-3-3. Punya pilihan lain? Tulis di kolom komentar ya Bolaneters.

 

KIPER

KIPER

Thibaut Courtois

Ada beberapa kandidat untuk menjadi kiper terbaik turnamen. Jordan Pickford sudah brilian bersama Inggris, dan begitu juga dengan Hugo Lloris. Kiper Prancis itu sukses membawa Prancis juara dunia.

Namun, Thibaut Courtois sudah tampil begitu konsisten di Rusia selama satu bulan terakhir ini. Dia tampil luar biasa saat melawan Brasil di perempat final, membuat beberapa penyelamatan penting untuk membawa Belgia menembus semifinal. Tak ada kiper yang membuat penyelamatan lebih banyak dari kiper Chelsea tersebut (27).

 

PEMAIN BERTAHAN

PEMAIN BERTAHAN

Kieran Trippier
Trippier telah menjadi pemain terbaik Inggris di Rusia. Bek sayap Tottenham tersebut menjadi bagian penting dalam sistem serangan Inggris di sisi kanan. Selain itu, tendangan bebas yang dia eksekusi di semifinal melawan Kroasia, begitu indah dan menjadi nilai tambah untuknya.

Diego Godin
Kapten Uruguay tersebut tampil fantastis di turnamen empat tahunan tersebut. Godin membantu tim Amerika Selatan melewati penyisihan grup tanpa kebobolan. Sebuah batu karang kokoh i pertahanan dan seorang pemimpin pertahanan sejati. BESTPROFIT

Raphael Varane
Varane telah menjadi bek terbaik di Piala Dunia dan salah satu pemain terbaik di turnamen selama sebulan ini. Bintang Real Madrid tersebut menjadi salah satu alasan utama kenapa Prancis pada akhirnya mampu menjadi juara.

Lucas Hernandez
Bek sayap Prancis tersebut tampil solid dan spektakuler sepanjang turnamen. Sebagai bek sayap, torehan dua assist telah membuktikan bahwa Didier Deschamps tak salah lebih memilihnya daripada Benjamanin Mendy.

 

GELANDANG

GELANDANG

Paul Pogba
Spot ini sebelumnya ditujukan kepada N’Golo Kante, yang sudah begitu bagus di Rusia, bahkan jika dia tampil tidak dalam performa terbaiknya di partai final. Tapi ini juga sangat sulit untuk mengabaikan nama Paul Pogba.

Gelandang Manchester United tersebut terus berkembang sepanjang turnamen. Dia luar biasa di semifinal melawan Belgia, dan begitu juga di final. Selain sukses mengimbangi kekuatan fisik Kroasia, Pogba juga sukses mencetak satu gol untuk memberikan gelar Piala Dunia kedua bagi Les Bleus.

Luka Modric
Kapten Kroasia tersebut dianugerahi Golden Ball sebagai pemain terbaik turnamen, dan tak ada yang bisa membantah betapa briliannya Modric selama turnamen. Gelandang Real Madrid tersebut menjadi pemain kunci Kroasia hingga melaju ke partai final. Golnya saat melawan Argentina juga bisa menjadi salah satu gol terbaik di Piala Dunia 2018 tahun ini.

Philippe Coutinho
Ini mungkin tampak seperti keanehan namanya muncul, tapi Coutinho sudah brilian untuk Brasil sebelum mereka tersingkir di perempat final melawan Belgia. Gelandang Barcelona itu mencetak gol pertama negaranya di turnamen itu dengan sebuah tembakan sensasional melawan Swiss. Dia kemudian mencetak gol yang menentukan dalam kemenangan atas Kosta Rika dan memberi assist pada Paulinho dengan umpan indah dalam kemenangan atas Serbia. Dalam lima pertandingan, ia mencetak dua gol dan membuat dua assist.

 

PENYERANG

PENYERANG

Kylian Mbappe
Mbappe bahkan belum genap berusia 20 tahun, tapi dia sudah siap menjadi seorang juara Piala Dunia dan menjadi salah satu pemain terbaik di dunia. Dia tampil sensasional ketika menyingkirkan Argentina, ketika dia mencetak dua gol dan memulangkan Lionel Messi, dan gol keempatnya di turnamen ini dia cetak di partai final. Sebuah talenta yang sangat luar biasa. PT BESTPROFIT

Eden Hazard
Kapten Belgia tersebut sudah sangat luar biasa selama turnamen. Hazard membuat tiga gol dan dua assist dalam enam penampilannya di Rusia. Dia juga tampil fenomenal saat menyingkirkan Brasil, sebuah penampilan yang mengingatkan banyak orang pada sosok Zinedine Zidane bersama Prancis melawan Brasil di Piala Dunia 12 tahun lalu. Meskipun Belgia dikalahkan Prancis di semifinal, Hazard tetap salah satu pemain terbaik di lapangan.

Romelu Lukaku
Lukaku telah memiliki turnamen yang sangat bagus. Dia mencetak empat gol di penyisihan grup dan meskipun tak mencetak gol di babak knock out, performanya di babak tersebut juga tetap kuat. Melawan Jepang, dia membantu Nacir Chadli mencetak gol penentu kemenangan di menit terakhir. Di perempat final, Lukaku memainkan peran penting di gol Kevin De Bruyne yang membawa Belgia menembus semifinal. Dia tak terlibat banyak di semifinal atau saat perebutan tempat ketiga, namun Lukaku masih bisa bahagia dengan penampilannya di Rusia.

Di posisi yang sama memang ada nama Harry Kane, yang meraih Golden Boot dengan torehan enam gol, namun secara keseluruhan performanya tak begitu brilian  dan itu yang membuat Lukaku terpilih dalam tim terbaik versi Bola.net ini.

Sumber: bola.net

Comeback sensasional Belgia, sinyal calon juara dunia?

BEST PROFIT – Belgia menunjukkan kekuatan mereka di babak 16 besar Piala Dunia 2018 dengan sangat luar biasa. Menghadapi Jepang, Eden Hazard dkk menang tipis 3-2 setelah sempat tertinggal dua gol lebih dahulu.

Pasukan Roberto Martinez tertinggal 0-2 ketika sang pelatih memutuskan untuk memasukkan Marouane Fellaini dan Nacer Chadli di menit ke-65, Fellaini mencetak gol penyama skor sebelum Chadli mencetak gol kemenangan di menit keempat injury time.

Sekarang mereka akan menghadapi Brasil di perempat final.

Jepang terlihat berada di jalur untuk membuat kejutan dan kemenangan yang akan dikenang di Rostov setelah Genki Haraguchi mampu mengejar umpan panjang Gaku Shibasaki, di mana Jan Vertonghen melakukan kesalahan antisipasi untuk membuka skor bagi Negeri Sakura.

Takashi Inui membuat skor berubah menjadi 2-0 untuk keunggulan Jepang ketika tembakannya dari jarak 25 yard tak mampu dibendung Thibaut Courtois. Skor 2-0 ini membuka asa bagi wakil Asia tersebut untuk menembus perempat final pertama mereka.

Tertinggal dua gol dan performa tim yang mengecewakan, Roberto Martinez memilih memasukkan Fellaini dan winger West Brom, Nacer Chadli.

Peruntungan mereka berubah setelah Jan Vertonghen mencetak gol sundulan untuk membawa Belgia kembali ke permainan.

Sundulan Fellaini memanfaatkan umpan tarik Eden Hazard membuat skor menjadi imbang 2-2 sebelum Chadli mencetak gol kemenangan memanfaatkan umpan Thomas Meunier dari sebuah situasi serangan balik. Gol itu pun menghindarkan The Red Devils menjadi korban kejutan-kejutan di Piala Dunia 2018.

Pertunjukan Mental Pemenang Belgia
Belgia memiliki nama-nama pemain seperti Eden Hazard, Kevin De Bruyne, Romelu Lukaku hingga Thibaut Courtois yang bermain di Premier League dan tak perlu lagi diragukan kebintangan mereka. Sekarang mereka tak terkalahkan dalam 23 pertandingan, tapi selalu ada pertanyaan yang mengiringi mereka terutama pertanyaan mengenai seberapa cerdas mereka secara taktik atau bagaimana generasi emas itu tak bisa menduplikasi mental pemenang mereka ketika memperkuat tim nasional. BESTPROFIT

Martinez dan para pemainnya akan merasa setelah ini bahwa mereka sebagian sudah menjawabnya, menjawab keraguan, dan mendapatkan sebuah kemenangan sejati, setelah tampak mati dan terkubur setelah satu jam.

Selama 60 menit di Rostov, Eden Hazard dkk memang seperti dibuat mati kutu ketika harus dihadapkan pada tembok pertahanan kokoh yang dibangun oleh Jepang.

Namun sebuah sundulan jauh dari Vertonghen yang membuat skor menjadi 1-2 merupakan titik balik permainan Setan Merah. Sundulan Vertonghen dari jarak 20 meter itu menjadi gol sundulan terjauh di Piala Dunia yang tercatat di buku rekor sejak 1966.

Kemudian para pengganti unjuk gigi. Fellaini, yang baru saja menandatangani kesepakatan baru bersama Manchester United pekan lalu, mampu menyongsong umpan Hazard untuk menyamakan skor setelah 74 menit.

Dan gol penentu kemenangan adalah sebuah upaya tim yang nyata. Kiper Courtois menggulirkan bola ke De Bruyne, yang kesulitan selama 90 menit tetapi memberikan hidupnya ketika negaranya membutuhkannya.

Playmaker Manchester City membawa bola sejauh 60 yards sebelum memberi umpan pada Meunier, yang selanjutnya umpan silangnya dilangkahi oleh Lukaku, dan Chadli berada di sana untuk mengarahkannya ke gawang tanpa kesulitan.

Lukaku telah mencetak 17 gol dalam 11 pertandingan Belgia sebelumnya, tetapi keputusannya untuk tidak menembak pada kesempatan ini mungkin terbukti lebih penting daripada yang lainnya.

Bisakah Belgia sekarang memenangkan Piala Dunia?
Setelah kemenangan dramatis ini, Belgia diyakini akan menunjukkan semangat dan tekad besar mereka di turnamen besar.

Dua turnamen terakhir mereka -Piala Dunia 2014 dan Euro 2016- keduanya berakhir di perempat final. Setan Merah, yang belum pernah memenangkan turnamen besar, akan bertekad untuk setidaknya melangkah satu langkah lebih jauh saat ini. Tetapi ada satu masalah besar.

Pertandingan mereka berikutnya adalah melawan favorit untuk memenangkan turnamen, pemilik lima trofi Piala Dunia, Brasil, pada hari Jumat di Kazan. Pemenang pertandingan itu akan menghadapi juara dunia 1998 Prancis atau pemilik dua trofi juara, Uruguay untuk berebut tempat di final.

Belgia sendiri tak harus mengeluh atau mengingat-ingat andai mereka tak menang di pertandingan terakhir penyisihan grup melawan Inggris, mereka akan memiliki rute yang lebih mudah. Karena, bila ingin menjadi juara, Belgia harus menggali diri lebih dalam, melawan tim terbaik dan mewujudkan ekspektasi publik kepada generasi emas mereka. PT BESTPROFIT

“Belgia harus menggali lebih dalam dari dalam dan mereka melakukannya dengan sangat baik,” kata Chris Sutton dari BBC Radio 5 live seusai pertandingan melawan Jepang.

Tak ada keluhan lebih banyak dari pelatih Roberto Martinez usai pertandingan. “Tak ada yang negatif hari ini, ini adalah tentang melaju ke babak selanjutnya.”

“Ini adalah sebuah hari di mana saya sangat bangga kepada para pemain ini. Tetap percaya pada Belgia. Di Piala Dunia anda ingin sempurna, tapi ini soal melaju, ini soal kemenangan,” tutupnya.

Setelah ini, semua terserah pada Belgia bagaimana mereka melanjutkan momentum ini. Mampukah Belgia?.

Sumber: merdeka.com

Perang Saudara Bikin Sepakbola Suriah Berantakan

Perang Saudara Bikin Sepakbola Suriah Berantakan

PT BESTPROFIT – Setahun setelah menjalani laga pertama melawan Afghanistan, perjalanan tim nasional Suriah menuju Piala Dunia 2018 kandas di Sidney, Rabu (10/10/2017). Timnas Australia yang dipimpin Tim Cahlill memenangi laga dengan skor 2-1. Skor totalnya 3-2 setelah pada laga pertama hasilnya imbang 1-1. Pasukan Elang Qasioun pun tertunduk lemas, demikian pula jutaan pendukung timnas Suriah baik di dalam negeri maupun yang jadi imigran di negara lain.

2017 menjadi tahun keenam berlangsungnya perang sipil di Suriah antara rezim Bazhar al-Assad dan sekutunya melawan beragam faksi oposisi. Setidaknya 470.000 penduduk Suriah tewas dan harapan hidup di negara tersebut telah turun dari 70 tahun menjadi 55. Dua belas juta orang, atau setengah dari total populasi, telah menjadi imigran di negeri orang.

Situasinya amat pelik. Hampir seluruh bidang kehidupan warga Suriah disusupi kepentingan politik, terutama oleh pemerintahan Assad, tak terkecuali di bidang olahraga paling populer di muka bumi: sepakbola. Pasukan oposisi tiba-tiba memiliki basis pendukung di sejumlah tim lokal, dan pertandingannya akan berjalan seru saat bertemu tim lokal lain yang menjadi basis pendukung Bashar al-Assad.

Timnas Suriah ikut menjadi medan pertempuran politik antara para pengikut dan penentang Assad. Pemain, pelatih, hingga pendukung timnas terbelah dua: mereka yang bekerja mendukung timnas sebagaimana lazimnya, dan mereka yang antipati karena kini timnas dianggap sebagai representasi rezim penguasa. Akibat dualisme ini pula timnas Suriah tak mampu memanfaatkan momentum untuk bisa lolos ke Piala Dunia tahun depan, sebuah cita-cita yang sesungguhnya telah dipendam sejak lama.

Dibunuh karena Jadi Oposisi

Timnas semestinya bertindak sebagai wadah netral yang menyatukan seluruh penduduk dalam sebuah negara. Sembari mengesampingkan ego politik, rakyat diajak untuk benar-benar bersatu saat mendukung perjuangan para pemain di kompetisi tingkat kawasan apalagi level dunia.

Namun, merujuk hasil investigasi selama tujuh bulan yang dijalankan oleh Outside the Lines dan ESPN, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa Assad menjadikan timnas Suriah sebagai alat propaganda untuk menyokong kekuasaan rezim, dan secara diam-diam didukung oleh Federasi Sepakbola Internasional (FIFA).

Investigasi ESPN meliputi wawancara dengan para mantan pemain timnas Suriah, mantan pejabat sepak bola Suriah, plus teman-teman serta kerabat korban represi Assad. Ada pula ulasan berdasarkan studi kasus dan video yang telah dikonfirmasi kebenarannya oleh pemantau hak asasi manusia. Wawancara berlangsung antara bulan September 2016 dan Maret 2017 di Malaysia, Jerman, Turki, Swedia, Kuwait dan Korea Selatan. BEST PROFIT

Pemerintah Suriah dilaporkan telah menembak, membom, dan menyiksa hingga mati kurang lebih 38 pemain sepakbola dari dua divisi tertinggi di liga profesional Suriah dan beberapa lusin lainnya di divisi yang lebih rendah. Semua karena para korban mendukung kelompok oposisi, demikian menurut kompilasi catatan Anas Ammo, mantan penulis olahraga dari Aleppo yang dihubungi oleh Steve Fainaru untuk kepentingan laporan mendalam untuk ESPN tersebut.

Ammo selama ini dikenal sebagai penulis yang aktif mengungkap pelanggaran hak asasi manusia di kalangan atlet Suriah. Dalam temuannya, ada 13 pemain lain yang masih hilang. Meskipun manuver kelompok oposisi juga merenggut nyawa sebagian kecil pemain sepakbola Suriah lain, yang Ammo kaitkan dengan ISIS, Jaringan Suriah untuk Hak Asasi Manusia menyatakan pemerintahan Assad telah “menggunakan atlet dan aktivitas olahraga untuk mendukung praktik opresinya yang brutal.”

Pemerintah Suriah juga menjadikan stadion sepakbola sebagai pangkalan militer untuk melancarkan serangan pada kelompok oposisi yang kemudian turut mengorbankan warga sipil. Sejak awal perang sipil, kata Ammo, banyak pemain yang dipaksa untuk mendukung Assad. Caranya macam-macam. Kadang mereka diminta membawa spanduk atau mengenakan kaos dengan gambar wajah sang presiden saat mengikuti acara tertentu, terutama yang ada peliputan oleh media.

Pada bulan November 2015 di Singapura, pelatih kepala, seorang pemain dan juru bicara timnas Suriah mengadakan konferensi pers perdana dengan mengenakan kaos bergambar foto Assad. Dalam komentar yang beredar luas di kalangan pengungsi Suriah, pelatih kepala timnas, Fajer Ebrahim, juga menggunakan platform Piala Dunia untuk memberitakan Assad sebagai “orang terbaik di dunia”.

“Assad sangat antusias saat berusaha menunjukkan kepada orang-orang bahwa atlet dan seniman di Suriah sangat mendukungnya sebab orang-orang inilah yang punya pengaruh besar di jalanan. Pawai-pawai dukungan kepada rezim yang diikuti dua golongan itu adalah kewajiban di sana,” lanjut Ammo.

FIFA Dianggap Munafik

FIFA kemudian dikecam karena memilih diam. Pada 2015, muncul tuntutan pengusutan atas berbagai pelanggaran aturan tentang netralitas dalam sepakbola (yang dibuat oleh FIFA sendiri) di Suriah. FIFA menegakkan aturan yang sama dalam beberapa dekade terakhir. Paling sering dengan menangguhkan sebuah timnas dalam pertandingan resmi skala internasional. Namun dalam kasus Suriah ketegasan yang sama tak berlaku.

Dalam dokumen setebal 20 halaman yang berjudul “Kejahatan Perang terhadap Pemain Sepakbola Suriah” itu, FIFA hanya berkomentar “keadaannya tragis.. jauh melampaui wilayah keolahragaan” dan menyimpulkan bahwa kasus tersebut berada di luar kontrol FIFA. Ayman Zurich, mantan pemain Suriah yang menyerahkan dokumen tersebut ke markas FIFA di Zurich, Swiss, berkata pada ESPN bahwa FIFA bersikap munafik.

“Mereka mengeluarkan perintah untuk membekukan sebuah federasi karena campur tangan politik, sementara pada saat bersamaan ada perang habis-habisan yang terjadi di negara di mana stadion digunakan untuk menyimpan peralatan militer, anak-anak dan pemain sepak bola berusia di bawah 18 tahun sekarat, dan pemain sepak bola dilempar ke dalam penjara. Semua ini terjadi dan ada banyak bukti, tapi di mana keputusannya?”

Mark Afeeva, pengacara asal London yang selama ini mendalami undang-undang olahraga serta mempelajari tingkat independensi FIFA, setuju bahwa kasus di Suriah mewakili “kasus yang jelas-jelas menyodorkan adanya campur tangan negara secara sistemik di ranah sepak bola domestik dan internasional, namun FIFA telah memilih untuk tidak bertindak.”

Sementara itu, Fadi Dabbas, wakil presiden Asosiasi Sepak Bola Suriah dan kepala delegasi untuk timnas Suriah, menyesali dokumen tersebut dengan mengatakan isinya “tidak benar sama sekali”. Ia juga mengatakan bahwa dokumen tersebut dibuat oleh para pemain yang diasingkan karena menentang Assad. “Rezim melindungi orang-orang Suriah, dan masalahnya mereka itu berada di luar Suriah dan hanya mewakili diri mereka sendiri,” kata Dabbas.

Jadi, Mau Main di Timnas atau Tidak?

Di satu sisi, melenggangnya Suriah di sepanjang kualifikasi Piala Dunia Rusia membuat rakyat Suriah yang bosan berperang jadi punya alasan untuk bergembira. Namun di sisi lain, keikutsertaan Suriah dalam ajang yang penting itu juga menimbulkan konflik moral bagi para pemain top nasional. Ikut timnas berarti siap dihujat oposisi. Menolak ikut berarti dianggap sebagai pengkhianat negara. Dilema ini dialami salah satunya oleh Firas al-Khatib.

Khatib adalah pemain andalan timnas Suriah sejak satu dekade belakangan. Di timnas senior kehadirannya amat menunjang pencapaian tim. Namun sejak lima tahun belakangan ia memboikot timnas Suriah untuk memprotes kediktatoran Assad yang membom serta melahirkan bencana kelaparan di kampung halamannya. Sejak saat itu ia pindah untuk bermain ke liga Kuwait dan hidup enak. Lalu kualifikasi Piala Dunia 2018 datang, Suriah punya peluang besar, dan Khatib kembali pusing bukan kepalang.

Di satu sisi ia ingin membela tanah kelahirannya. Ia diproyeksikan akan jadi kapten tim jika hal tersebut terwujud. Tapi pemboikotannya selama ini juga telah melahirkan basis pembenci yang kerap mengirimkan intimidasi serta ancaman lewat pesan pribadi Facebook. Pesan tersebut bisa berjumlah hingga ratusan per hari. Beberapa teman baik pun akhirnya memusuhinya. BESTPROFIT
Jika kembali ke Suriah, bisa jadi ia akan menghadapi nasib buruk yang dilancarkan oleh kelompok oposisi radikal. Kondisi yang bagi Khatib amat memuakkan, sebab pilihan politik kini jadi sesuatu yang mengancam nyawa.

“Di Suriah ada banyak pembunuh, bukan hanya satu dan dua. Dan aku benci mereka semua. Apapun keputusannya, 12 juta orang akan mencintaiku, 12 juta lainnya ingin membunuhku,” ungkapnya.

Setelah perenungan panjang, Khatib akhirnya memutuskan kembali berseragam timnas Suriah. Namun kesediaan ini bukan tanpa syarat. Ia mau membantu timnas Suriah untuk lolos ke ajang Piala Dunia untuk pertama kalinya dalam sejarah, tapi ia meminta Assad untuk berhenti membunuhi rakyat sipil.

Kabar kembalinya Khatib memunculkan reaksi beragam. Khatib mengklaim 80 persen pendukung timnas menerimanya dengan gembira. Namun, tentu saja, oposisi ganti mengecamnya lewat pesan Facebook. Salah satunya berbunyi:

“Bagaimana rasanya saat Anda mengkhianati negara dan bangsamu? Bagaimana rasanya ketika Anda mengkhianati Homs, di mana orang-orangnya melarikan diri dari kondisi mengerikan, sementara Anda memutuskan untuk pergi dan berdiri di bawah kekuasaan rezim? Yang paling tidak dapat Anda katakan tentang Anda adalah bahwa Anda adalah pengkhianat. ”

Barangkali akhir-akhir ini Khatib sedang menyesali keputusannya karena dua hal. Pertama, Suriah gagal melaju ke fase grup Piala Dunia tahun depan di Rusia. Kedua, Assad tetap brutal meski Khatib telah pulang kampung.

Pada tanggal 4 April 2017, atau satu minggu usai Khatib berpartisipasi di laga kualifikasi antara Suriah dan Korea Selatan, serangan udara dengan menggunakan senjata kimia di Kota Khan Shaykhun, Idlib, Suriah. Diduga keras serangan dilakukan oleh pasukan Assad dan aliansinya. Sedikitnya 50 orang tewas dan 300 lainnya luka-luka. Dunia, seperti biasa, mengecamnya, dan pemerintah Suriah, seperti biasa, menyangkalnya.

Sumber: tirto.id