PT Best Profit Futures Jambi

Category Archives: Sport

Best Profit : Pengaruh Cina pada Masjid-masjid (Tua) di Jakarta

Best Profit : Di jantung kawasan pecinan Jakarta, berdiri sebuah masjid dengan bentuk bangunan mirip ruko, terdiri empat lantai, berbalut paduan warna merah, kuning, dan hijau. Ia dihiasi delapan lampion kecil. Namanya Masjid Lautze.

Bagi Anda yang menyempatkan diri berjalan-jalan santai selama Ramadan, Anda bisa mendatangi masjid tersebut di Jalan Karang Anyar, kawasan Sawah Besar. Kawasan ini, di masa kolonial Belanda, disebut Weltevreden, yang menjadi permukiman utama orang-orang Eropa di pinggiran Batavia, nama lama Jakarta. Kawasan ini pada masa Hindia Belanda dikenal berkat suasananya yang tenang dan menerbitkan kepuasan. Tentu saja kondisinya berbeda dengan sekarang.

Masjid Lautze sekilas seperti salah satu kelenteng, rumah ibadah umat Konghucu. Namun, jika Anda memasukinya, Anda segera melihat 15 kaligrafi yang memenuhi dinding masjid, berpadu dengan kaligrafi beraksara Han.

Ketua Yayasan Haji Karim Oei, H.M. Ali Karim Oei, mengatakan bahwa ide arsitektur atap masjid bercorak kelenteng lahir dari gagasan bahwa mereka berdakwah di lingkungan mayoritas Tionghoa. Arsitektur dan interior masjid semacam ungkapan mengakrabkan diri kepada warga peranakan Tionghoa setempat, yang gilirannya memudahkan pengurus masjid menjalankan dakwah Islam.

“Kalau kita bikin model kubah,” ujar Ali, “mungkin ada kekhawatiran orang pergi ke masjid. Kalau bentuknya seperti ini, mereka merasakan nyaman kayak rumah sendiri.”

Masjid Lautze berdiri pada 1991. Misinya tentu saja berdakwah, selain memberi tempat ibadah yang layak bagi muslim Tionghoa yang tinggal di lingkungan tersebut. Berdasarkan data Yayasan, sejak 1997 hingga April 2017, sudah 1.311 warga nonmuslim yang memutuskan masuk Islam, dan 95% di antaranya adalah Tionghoa peranakan.

Naga Kunadi, 41 tahun, salah satu peranakan, memutuskan mualaf pada 2002 saat usianya 26 tahun. Kunadi, yang memiliki nama Tionghoa, Qiu Xue Long, mengatakan sudah lama mempelajari Islam, dan mantap atas pilihan keyakinannya sesudah rutin mengunjungi Masjid Lautze.

“Banyak di antara teman-teman mualaf pandai membaca ayat suci Alquran dengan fasih. Sungguh menakjubkan dan mengharukan,” kata Kunadi.

Masjid Lautze tergolong modern untuk ukuran dakwah muslim Tionghoa-Indonesia. Namun, dalam pelbagai literatur sejarah, pengaruh Tionghoa dalam arsitektur masjid-masjid tua sudah setua usia perkembangan Islam di Nusantara.

Anda bisa menelusurinya di daerah Jakarta Barat. Di sini Anda bisa menjumpai Masjid Jami Angke, Masjid Jami Kebon Jeruk, Masjid Luar Batang, Masjid Langgar Tinggi—untuk menyebut beberapa—yang dibangun dan dipengaruhi oleh orang-orang Cina pada masa kolonial.

Masjid Jami Angke mungkin masjid kuno yang paling menarik, baik dari segi sejarah maupun arsitekturnya. Masjid yang terletak di Kampung Bali ini didirikan oleh orang Cina pada masa Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), maskapai multinasional pertama di dunia. VOC menguasai kerajaan-kerajaan di Nusantara, lewat jalan pedang dan meriam maupun misionaris, dengan pusat kegiatan ekonomi dan politik di Batavia.

Muhammad Abyan Abdilah, pengurus Masjid Jami Angke, mengatakan bahwa selama ini orang meyakini masjid tersebut berdiri pada 2 April 1761. Namun, ada pula versi lain yang menyebut tahun 1751. Belakangan ada versi baru dari arsip foto dalam dokumen Belanda yang menyebutkan tahun 1712. Sangat mungkin kedua tahun yang disebutkan di awal itu merujuk waktu renovasi masjid.

Meski begitu, dalam banyak catatan sejarah dan penuturan, pengaruh arsitektur Cina di Masjid Angke terkait erat pada peristiwa pembantaian rasial terhadap orang-orang Cina di kota pelabuhan Batavia pada 1740.

Bernama Geger Pacinan, sekitar 10 ribu orang Tionghoa dibantai dalam salah satu peristiwa paling mencolok dalam kolonialisme abad 18. Ia merupakan puncak dari politik rasial dan represi pemerintahan kolonial serta dipicu harga gula yang anjlok. Warga Tionghoa yang selamat lantas mencari perlindungan di Kampung Bali, kini kelurahan Angke.

“Dengan tragedi itu, warga Cina dilindungi oleh pribumi Islam Banten. Mereka berdampingan dengan pribumi Bali, Jawa dan Moors (keturunan Arab Afrika). Tidak sedikit dari keturunan Cina berpindah keyakinan menjadi muslim,” kata Abdilah.

Singkatnya, Masjid Jami Angke lantas berdiri, yang memadukan arsitektur bercorak budaya Jawa, Bali, Cina, dan Eropa. Atapnya berbentuk tumpang susun, persis seperti Masjid Demak di Jawa Tengah, salah satu pusat penyebaran Islam pada abad 15. Mustaka alias kepala Masjid Jami Angke melambangkan kerukunan.

Adolf Heuken, seorang paderi Katolik kelahiran Jerman yang banyak menulis sejarah Jakarta, menyebutkan bahwa ada sedikitnya 14 masjid tua di Jakarta, dan tiga atau empat di antaranya dibangun oleh orang Tionghoa. Salah duanya, selain Masjid Jami Angke, adalah Masjid Kebon Jeruk, yang berdiri pada 1786.

Pertemuan Beragam Budaya

Menurut G.F. Pijper, sejarawan Belanda yang menulis Fragmenta Islamica, masjid di Jakarta tak cuma dibangun di atas fondasi yang padat, tetapi di atas tiang-tiang kolong, seperti Masjid Langgar Tinggi. Atap bangunannya tak hanya bertumpang; tapi ada juga beratap kubah.

Tawalinuddin Haris, dosen arkeologi Islam dari Universitas Indonesia, dalam Masjid-masjid Bersejarah di Jakarta (2010), menyebutkan salah satu ciri menonjol dari masjid-masjid ini adalah pengaruh budaya luar terutama dari Cina dan Eropa.

Pengaruh Cina, tulisnya, tampak pada jurai atap yang mencuat seperti pada kelenteng, sebagaimana terlihat pada Masjid Jami Angke. Demikian pula cat warna merah dan kuning-emas.

Adapun pengaruh Eropa terukir pada motif hias bergaya barok pada lubang angin di atas pintu, seperti pada Masjid Kebon Jeruk dan Masjid Jami Angke. Tiang-tiang bergaya dorik dan pemasang kusen pintu menonjol mengingatkan pada rumah Belanda.

Demikian pula terali jendela yang membuat bangunan masjid terlihat lega. Ini tampak pada Masjid Jami Angke, Masjid Al-Alam Marunda, Masjid Al-Alam Cilincing, Masjid Jami Tambora, dan Masjid Al-Manshur. Ciri ini mengingatkan pada rumah-rumah tua Belanda.

Sebaliknya, kehadiran atap kubah dan kaligrafi Arab bisa dipandang sebagai pengaruh Timur Tengah.

Pengaruh arsitektur Jawa tergambar pada atap tumpang susun. Ciri ini terdapat pada Masjid Jami Angke, Masjid Mangga Dua, Masjid Jami Tambora, Masjid Krukut, Masjid Kampung Baru, Masjid As Salafiyah, Masjid Al-Alam Marunda, Masjid Al-Alam Clincing, dan Masjid Jami Kebon Jeruk. Sementara motif bunga pada lubang angin di atas pintu berwarna keemasan adalah pengaruh budaya Bali.

Menurut Haris, masjid-masjid di Nusantara menyimpan sejarah panjang persinggungan budaya antara masyarakat setempat dan bangsa-bangsa lain, seperti India, Arab, Cina, dan Eropa. Persinggungan itu bisa bermula dari motif dagang, bisa pula dari motif penaklukan alias kolonialisasi.

“Munculnya pelbagai unsur Hindu, Jawa, Arab, Cina, India pada seni bangunan masjid di Nusantara, dapat dipandang sebagai bentuk kearifan dan kegeniusan lokal,” kata Haris. “Ia mewujudkan sebuah bangunan ibadah yang sarat makna filosofis dan indah.” Best Profit

Bestprofit : “Sekarang Yogya bukan Kota Pelajar, tapi Kota Mal dan Hotel”

Bestprofit : Perubahan sosial besar-besaran tengah dihadapi Yogyakarta. Dalam beberapa tahun terakhir, mal, hotel, dan apartemen terus tumbuh, di sebuah provinsi dengan upah minimum provinsi tak lebih antara Rp1,3 juta hingga Rp1,5 juta per bulan.

Perubahan gentrifikasi ini sebagian besar untuk melayani para turis, serta para mahasiswa yang setiap tahun mengalir ke Kota Pelajar. Harga rumah-rumah sewa merentang dan bervariasi, dari termurah hingga termahal, begitupun biaya makan. Ada juga indekos yang menyandang predikat “eksklusif” dengan menawarkan kenyamanan ala hotel atau apartemen, dengan biaya sewa paling kecil Rp2 juta per bulan.

Survei Bank Indonesia wilayah Yogyakarta menunjukkan bahwa biaya hidup dan konsumsi mahasiswa setiap tahun terus meningkat. Ia ekuivalen dengan tingkat inflasi, yang menyebabkan kenaikan bahan makanan, makanan jadi, dan biaya sewa tempat tinggal. Semakin lokasinya dekat kampus, semakin mahal biaya sewanya. Rumah kontrakan, bila terletak di dekat kampus atau perkotaan, bisa di atas Rp15 juta per tahun.

Ada sisi kelam dari perubahan ini. Ketika hotel-hotel baru menjamur, setinggi enam hingga 18 lantai, seketika permukiman warga setempat mengalami penyusutan air tanah di musim kemarau, sesuatu yang baru kali pertama terjadi di Yogyakarta dan jadi keprihatinan meluas, sampai-sampai ada kampanye “Jogja Ora Didol” (Yogya Tidak untuk Dijual). Aksi kekerasan pelajar bergaya preman marak. Rasisme terhadap mahasiswa dari Indonesia wilayah timur menguat. Aksi bergaya eksekusi pernah terjadi di sebuah lembaga pemasyarakatan sipil. Di perdesaan seperti di Kulon Progo maupun Gunungkidul, para petani dan warga tengah menghadapi konflik agraria.

Akhmad Muawal Hasan dari Tirto mewawancarai Ardito Bhinadi dari pusat studi ekonomi, keuangan, dan industri UPN Veteran Yogyakarta, yang melakukan survei bersama Bank Indonesia mengenai biaya hidup mahasiswa di Yogyakarta. Pembahasan utama seputar pola perubahan sosial dan ruang hidup provinsi Yogyakarta.

Apa faktor yang menyebabkan pengeluaran mahasiswa di Yogyakarta naik dari 2008-2012?

Pengeluaran yang terbesar itu tetap makanan dan minuman, lalu kedua untuk pondokan. Yang lainnya relatif terdistribusi.

Faktornya, yang jelas, setiap tahun terjadi inflasi sehingga menyebabkan kenaikan bahan makanan, makanan jadi, pondokan. Tiap tahun, lebih banyak mahasiswa yang masuk ke Yogya daripada yang keluar. Sehingga permintaan naik. Biaya-biaya juga naik setiap tahun.

Gaya hidup juga mempengaruhi terutama yang dibawa dari mahasiswa pendatang. Makin banyak resto, kafe, yang harganya bisa tiga, empat, bahkan lima kali lipat harga makanan di warung makan biasa. Itu juga yang membuat rata-rata biaya pengeluaran makan mahasiswa naik.

Akibatnya, ketimpangan antara mahasiswa dengan pengeluaran tinggi dan rendah semakin lebar.

Kalau melihat angka rata-rata (pengeluaran) mungkin Yogya terlihat makin menakutkan bagi calon mahasiswa dari kalangan bawah. Rata-rata itu, kan, mencakup semuanya, dan terdongkrak dari yang pengeluarannya tinggi. Menakutkan karena sekarang sudah di atas satu juta rupiah per bulan. Padahal mahasiswa itu masih ada yang pengeluarannya 500 ribu rupiah per bulan.

Tapi Yogya memang unik. Pangsa pasar dari kalangan atas sampai bawah. Itu yang membuat Yogya masih bisa disebut kota pendidikan. Beda dari kota lain. Di sini masih bisa kita temukan makanan dengan harga lima ribu rupiah.

Bagaimana dengan nasib warung makan murah?

Ini tugas pemerintah daerah sebenarnya. Beberapa tempat makan murah sudah tergusur. Misalnya, dulu di Jalan Gejayan (dekat Selokan Mataram UGM), banyak warung makan murah. Lalu dipindah di taman kuliner Condongcatur (Concat) sebagai pusat kuliner, dekat terminal, tapi, kan, lama-lama mati.

Sekarang, yang masih terlihat, contohnya di daerah Babarsari. Tapi warung-warung tenda itu kalau tidak dilindungi oleh pemda bisa tergusur oleh keberadaan kafe-kafe dan restoran yang makin menjamur. Dan itu tentu akan merugikan mahasiswa kelas menengah ke bawah.

Cara melindunginya?

Pemerintah bisa menyediakan kawasan seperti pujasera. Ambil contoh di lembah UGM yang cukup berhasil. Dulu banyak warung gerobak dan kaki lima di sepanjang jalan dan bunderan UGM. Lalu disediakan pusatnya di lembah, jadi cukup berhasil. Sayangnya, yang di Concat tak berhasil.

Tren penggusuran warung kaki lima kira-kira sejak kapan?

Sudah lama. Saya lihat dalam kurun waktu 2012 mulai sepi. Dalam sepuluh tahun terakhir, keberadaan mereka makin berkurang sebab “dibersihkan”. Dulu di sekitar stasiun kereta api itu banyak dan sering dipakai mahasiswa untuk jajan. Tanpa perlindungan, mahasiswa kelas bawah akan makin kesusahan cari makan.

Bagaimana sikap pemerintah Yogya?

Saya belum melihat usaha yang sungguh-sungguh untuk memberikan perlindungan jangka panjang. Jika tak disediakan lahan, sementara lahan di Yogya semakin sempit, baik untuk perumahan, hotel, maupun mal. Saya pikir pemerintah daerah perlu bekerjasama dengan kampus untuk hal ini.

Kalo masalah ini tak disikapi serius, lama-kelamaan Yogya tak akan ramah lagi bagi mahasiswa kelas bawah.

Kok biaya hidup tetap naik walaupun Yogya dinamis soal inflasi maupun deflasi?

Itu, kan, data bulan per bulan. Coba tahun per tahun. Bandingkan April 2016 ke April 2017. Naik atau turun, dan cenderung naik.

Kontribusi mahasiswa di Yogya itu cukup besar karena menggerakkan ekonomi mikro dan kecil. Sayangnya juga, di dekat kampus, sekarang banyak mal. Saya terus terang tak setuju di dekat kampus ada banyak mal. Perlu ada pengaturan. Ada Hartono, J-Walk, ada Transmart.

Sekarang Yogya bukan Kota Pelajar, tapi Kota mal dan Hotel. Dulu ke mana-mana di Yogya ketemu kampus. Sekarang sudah dikepung oleh hotel.

Tapi, kan, untuk mendukung visi jadi kota wisata?

Kota wisata apa kota belanja? Harus ada bedanya. Tingkat okupasi hotel enggak sampai dua hari. Kenapa? Karena orang hanya melihat objek wisata satu dua jam, dan pulang. Berbeda dengan di Bali. Kenapa? Sebab akomodasi dibangun di sekitar objek wisata. Yogya malah di tengah kota. Sehingga orang tak ingin berlama-lama di pantai.

Proyeksi ke depan soal kenaikan biaya hidup mahasiswa bagaimana?

Ke depan, biaya hidup naik itu jelas. Saya sudah pernah berbicara soal ketimpangan tertinggi di Yogya. Ketimpangannya itu tak akan mudah selesai di Yogya karena Yogya itu kota pendatang dengan membawa gaya hidup dari kota-kota besar lain.

Ketimpangan itu, kan, diukur dari pengeluaran. Ketimpangan di DIY ini cermin dari ketimpangan mahasiswanya. Karena dengan adanya mahasiswa kaya itulah orangtuanya beli apartemen, beli properti, datang ke Yogya dengan uangnya, harga di Yogya pakai standar Jakarta, biaya hidup di Yogya pakai standar Kalimantan Timur. Ini yang ditangkap oleh industri kuliner sampai hiburan di Yogya.

Jika Yogya tak memberikan perlindungan yang jelas pada industri kecil, lama-kelamaan mereka habis. Yogya tak lagi ramah bagi mahasiswa kelas menengah ke bawah.

Termasuk indekos. Orang, kan, sekarang cenderung membangun indekos yang eksklusif. Ini kan tempat tinggal yang tak ramah bagi mahasiswa yang uang sakunya sedikit. Maka, saya pernah bilang bahwa indekos eksklusif itu perlu diterapkan pajak juga. Mereka sengaja membangun indekos eksklusif di bawah 10 kamar soalnya, menurut peraturan, jika di atas itu akan kena pajak seperti hotel. Bestprofit

Bestprofit : Mengenang Kembali Kemenangan Hebat Nicky Hayden

Bestprofit : Dunia balap motor kehilangan salah satu pembalap terbaiknya. Juara Dunia MotoGP musim 2006, Nicky Hayden, meninggal dunia di rumah sakit Cesena, Italia pada Senin (22/5/) waktu setempat.
Hayden sempat kritis selama beberapa hari lantaran mengalami cedera otak akibat ditabrak mobil saat bersepeda di Rimini, pekan lalu. Selain cedera otak, kecelakaan itu menyebabkan Hayden mengalami luka parah pada bagian kepala, dada, dan tulang pelvis.

Hayden meninggal dalam usia yang relatif muda, 35 tahun.  Kabar meninggalnya Hayden adalah duka bagi dunia balap motor Amerika Serikat. Hayden adalah pembalap asal AS terakhir yang bisa meraih gelar juara dunia MotoGP, tepatnya pada 2006 silam. Kala itu, Hayden berhasil mengungguli pembalap jagoan Yamaha, Valentino Rossi, yang sedang di puncak kejayaannya.

Persaingan Rossi dan Heyden pada 2006 ini begitu dramatis. Sampai seri terakhir MotoGP 2006 yang berlangsung di Valencia, Rossi unggul 8 poin di atas Hayden. Banyak pihak memprediksikan Rossi akan kembali juara dunia untuk enam kali berturut-turut.

Namun siapa sangka, Rossi mengalami nasib yang mungkin paling sial dalam kariernya. Memegang pole position, dia malah melorot ke posisi tujuh setelah start. Petaka bagi Rossi terjadi pada lap ke 5. Motor yang ia kendarai terguling di sebuah tikungan. Alhasil motornya pun terseret ke gravel.

Di sisi lain, Hayden tetap menggeber motornya dengan stabil dan sukses finish di posisi tiga. Hasil ini sudah cukup menjadikannya juara dunia dengan 262 poin, unggul lima angka dari Rossi, yang hari itu finis di tempat ke-13.

Hayden tampak sangat emosional menyambut kemenangan tersebut. Setelah turun dari motornya, ia berlutut dan menangis. Capaiannya pada musim 2006 ini tentu amat fantastis dan cukup aneh. Hayden adalah satu-satunya pembalap yang meraih gelar juara dunia dengan hanya memenangi dua seri lomba, tepatnya pada GP Assen, Belanda dan GP Amerika Serikat.

Hasil tidak terduga di GP Valencia membikin Dorna, selaku penyelenggara MotoGP menjadikan pembalap berjuluk “The Kentucky Kid” sebagai legenda MotoGP pada 2015 silam. Status dari Dorna ini membuatnya sama seperti peraih juara dunia MotoGP terbanyak seperti Giacomo Agostini, Mick Doohan dan Geoff Duke.

Kepada wartawan, usia dinobatkan jadi juara dunia pasca GP Valencia 2006 silam, Hayden menuturkan bahwa dalam dunia balap motor rasa pesimisme mesti dibuang jauh-jauh.  “Kupikir kejuaraan ini akan berakhir di awal lap. Namun hal itu terjadi (Rossi terjatuh). Selama kita terus berusaha, maka hal baik akan terjadi pada orang baik,” ucapnya.

Hayden meninggal dunia akibat kerusakan otak beberapa hari setelah ia ditabrak mobil saat bersepeda di timur Italia, demikian diumumkan tim Honda World Superbike dalam pernyataan, Senin (22/5/2017).

“Red Bull Honda sangat bersedih … harus mengumumkan bahwa Nicky Hayden telah menyerah atas luka-luka yang dialami dalam kecelakaan saat bersepeda hari Rabu lalu,” ungkap tim tersebut.

“Nicky tutup usia pukul 19.09 waktu setempat di Rumah Sakit Maurizio Bufalini, saat terakhirnya dia didampingi tunangan, Jackie; ibunda, Rose; dan saudaranya Tommy,” jelas tim tersebut.

Buletin medis terkini dari rumah sakit tersebut, tertanggal 20 Mei, mengatakan Hayden masih berada dalam kondisi kritis. Rumah sakit sebelumnya telah mengatakan ia mengalami kerusakan otak serius akibat kecelakaan ini.

Para dokter menempatkan juara MotoGP 2006 ini, yang memiliki julukan “The Kentucky Kid,” dalam kondisi koma.

Tunangan Hayden, Jackie, telah mendampingi  bersama saudara kandungnya Tommy dan ibunya Rose yang terbang dari AS.

Sejumlah surat kabar Italia melaporkan pada Senin bahwa para penyelidik telah menemukan video kecelakaan itu dari kamera di sebuah rumah yang menghadap ke jalan. Mereka mengatakan gambar-gambar yang ada mengindikasikan Hayden tidak dapat berhenti di persimpangan jalan dan terhantam mobil yang sedang melaju.

Bestprofit

PT Bestprofit : Ander Herrera, Anak Basque yang Berkilau di Old Trafford

PT Bestprofit : Pelan tapi pasti, sejak menjadi rekrutan pertama era Louis van Gaal pada musim 2014-15, kilau Ander Herrera semakin benderang.  di bawah kepemimpinan Jose Mourinho. Apa yang dia tampilkan di atas lapangan merefleksikan hasrat besarnya mengabdi sepenuh hati kepada ‘Setan Merah’.

Momen tersungkurnya Sergio Aguero setelah “ditanduk” Marouane Fellaini di menit ke-84 menjadi kontroversi pada laga derbi Manchester, Jumat (28/4). Selepas peluit akhir pertandingan, ada adegan menarik yang melibatkan rekan setim Fellaini, Ander Herrera dengan Aguero. Dia menghampiri Aguero untuk berbicara banyak tentang kontroversi tandukan yang membuat Fellaini diusir wasit. Aguero memang seperti bermain peran saat Fellaini mendekatkan keningnya ke kepala Aguero.

Protes Herrera untuk Aguero menunjukkan besarnya ikatan emosional dengan Manchester United dan tingginya hasrat untuk meraih kemenangan. Inilah yang membuat para pendukung United semakin menyukai Herrera.

Pembelian yang Berliku

United memerlukan lebih dari sekadar uang untuk mendapatkan Herrera. Berkali-kali United melayangkan tawaran hanya untuk ditolak Los Rojiblancos. Penawaran 24 juta euro pada Agustus 2013 ditolak. Setahun berselang, Bilbao lagi-lagi menolak tawaran MU senilai 36 juta euro sekalipun jumlah uang tersebut sukses mengaktifkan klausul kontrak sang pemain.

Kebijakan Bilbao yang hanya bisa diperkuat pemain beretnis Basque memang memaksa klub berusaha sekuat tenaga menjaga pemain terbaik mereka agar tidak pindah. Tidak mudah tentu saja menjalankan kebijakan saklek itu di era sepakbola modern.

Herrera yang kelewat ngebet main di Old Trafford akhirnya mengaktifkan klausul kontraknya sendiri dengan membayar 36 juta euro kepada federasi sepak bola Spanyol, RFEF, agar bisa hengkang. Sebuah manuver yang tidak bisa lagi dihalangi Bilbao, sekalipun presiden klub, Josu Urrutia, kecewa berat.

Tanggal 26 Juni 2014 menjadi hari Ander Herrera secara sah berseragam MU. Dia menjadi rekrutan pertama United di musim panas yang sibuk bagi pelatih anyar Louis van Gaal untuk menghabiskan uang.

Kisah Herrera jatuh hati kepada United bermula saat dirinya bersama Athletic Bilbao menjalani laga tandang ke Old Trafford di fase 16 besar Europa League 2011-12. Di bawah asuhan manajer kharismatik Marcelo Bielsa, Herrera turut berkontribusi menundukkan klubnya di masa depan, 3-2. Ia menyimpan decak kagum atas kemegahan Old Trafford. Mulai dari situ, dia menggantungkan cita-cita bermain untuk MU segera mungkin.

“Saya ingat saya melihat seisi stadion dan berpikir (saya tidak mengucapkannya kepada siapapun), ‘Mestinya bagus untuk bermain di depan para penggemar ini setiap pekan’. Hari itu saya yakin suatu saat nanti hal ini bakal kejadian: saya mengenakan seragam merah dan menikmati Old Trafford,” katanya kepada Unscriptd.

Laga-Laga Penting Ander Herrera

Musim pertamanya berjalan impresif dengan sumbangsih enam gol plus empat asis, jumlah gol tertinggi yang pernah dia cetak sepanjang karier. Paul Scholes memilihnya sebagai pembelian terbaik MU di musim tersebut, bukan Angel Di Maria, Falcao, Luke Shaw, dan Marcos Rojo. Musim kedua peran individunya sedikit tereduksi karena kolektivitas yang yang diterapkan van Gaal. Sekalipun sebagai gelandang tengah tidak bertugas utama menjaringkan gol, jumlah golnya menyusut menjadi empat gol sekalipun tampil 10 laga lebih banyak dari musim perdana di semua ajang.

Namun catatan itu sama sekali tidak bisa mencerminkan intensitas dan kesungguhan yang dia tunjukkan. Gol dan asis yang Herrera torehkan kerap hadir di laga penting, seperti menyajikan asis untuk Juan Mata yang mencetak gol kemenangan MU melawan Liverpool di Anfield pada musim perdananya. Laga itu cukup monumental bagi karier Steven Gerrard yang mesti dapat kartu merah hanya beberapa menit setelah masuk ke lapangan di Derby of London terakhirnya karena menginjak Herrera.

Laga versus Liverpool semusim berselang turut dia warnai dengan kesuksesan mengeksekusi penalti dalam kemenangan 3-1. Saat Marcus Rashford menggila di laga debut Liga Primer dengan sumbangsih dwigol, Herrera turut melengkapinya dengan gol kemenangan MU atas Arsenal 3-2. Sumbangsih besar Herrera lainnya di musim keduanya ialah saat memberi asis gol kemenangan MU yang dibuat Anthony Martial untuk menaklukan Everton 2-1 di semifinal Piala FA. Di akhir kompetisi, United meraih gelar Piala FA kedua belas mereka dan itulah satu-satunya gelar yang — sejauh ini– diperoleh Herrera bersama MU.

Herrera sempat gundah gulana sampai tidak bisa tidur karena penguatan lini tengah yang dilakukan MU di bursa transfer musim ini. Masuknya Paul Pogba dan Henrikh Mkhitaryan semakin mengancam menit bermainnya yang, sejak era van Gaal pun, sebenarnya tidak banyak. Namun siapa sangka, kepercayaan Mourinho dan kerja kerasnya menampilkan kerja-kerja maksimal memberikannya musim terbaik dalam karier. Sebanyak 25 laga dia jalani sebagai pemain utama, berbanding hanya 17 kali pada musim sebelumnya.

Situs statistik Whoscored memberinya rating 7,49 poin, hanya kalah dari Paul Pogba (7,71 poin) berkat penobatan Man of the Match sebanyak lima kali (terbanyak, sama seperti Ibrahimovich). Torehan golnya memang hanya sebutir, tapi jumlah asisnya mencapai enam, catatan tertinggi dibanding pemain lain di skuat. Namun memang kontribusinya sebagai gelandang tengah tidak bisa diukur dari dua variabel itu saja.

Melampaui N’Golo Kante

Dibanding peraih PFA Player of The Year, N’Golo Kante, Herrera unggul terkait intersepsi (2,9 kali per laga), jumlah operan (72,1 kali per laga), pembuatan peluang (1,35 kali per laga), dan kemenangan duel (47%). Kante hampir punya tugas seperti Herrera, tapi dalam empat penilaian statistik itu nyatanya dia masih kalah bersaing dengan jumlah intersepsi (2,4 kali perlaga), jumlah operan (61,3 perlaga), pembuatan peluang (0,58 kali perlaga), dan persentase menang duel 40%. Herrera terbukti unggul terkait tugasnya menghentikan serangan lawan, sekaligus mengalirkan bola untuk membangun serangan.

Laga melawan Chelsea di Old Trafford musim ini menjadi panggung penting dalam perkembangan karier Herrera berbaju United. Dia yang kerap dilabeli terlalu pasif pada era van Gaal, tampil begitu enerjik. Eden Hazard dia tempel kemana pun dia pergi, sehingga gelandang Belgia itu tidak bisa sekalipun sukses menggiring bola melewati lawan. Laga itu memperlihatkan kelas Herrera dalam bertahan di lini tengah, sekaligus dalam menyerang. Satu asis indah yang dia berikan untuk Marcus Rashford disempurnakan dengan golnya yang mengunci kemenangan. Penampilan gemilang nan krusial dalam menjaga asa United lolos ke Liga Champions musim depan.

Dari itu semua, Ander Herrera telah memberikan identitas dalam kehidupan MU pasca era Sir Alex Ferguson. Antusiasmenya tidak pernah hilang saat berbicara sepakbola: tentang Manchester United yang ingin dia bela sampai pensiun, Nicky Butt dan Paul Scholes yang dia panuti, dan kumpulan penggemar yang suatu saat dia ingin bergabung guna menonton laga bersama.

“Saya mencintai sepakbola. Saya cinta profesi saya. Apa yang tidak suka adalah kasus di mana pemilik klub memprioritaskan kepentingan pribadi di atas klub. Sepakbola tidak semata-mata tentang keuntungan. Saya agak sepakat dengan (gagasan) ‘Against Modern Football’,” katanya lagi.

PT Bestprofit