PT Best Profit Futures Jambi

Category Archives: Teknologi

Bagaimana Data Pengguna Memberi Untung Bagi Go-Jek

PT BESTPROFIT – Bagi pelanggan Go-Jek, setiap membuka aplikasi itu lalu memilih Go-Ride atau Go-Car, di kolom lokasi penjemputan seringkali sudah terisi alamat. Sementara di kolom tujuan, ada tiga alamat yang salah satunya adalah tujuan si pelanggan.

Isian pada kolom penjemputan dan tujuan itu biasanya tepat, meski sesekali keliru. Jika sudah tepat, si pelanggan tak perlu repot-repot memasukkan lagi secara manual. Ia cukup hanya menekan tombol pesan atau order.BESTPROFIT

Dari pola perjalanan dan pesanan yang setiap hari dilakukan si pelanggan, Go-Jek menganalisis dan menebak di mana lokasi si pelanggan saat itu, dan akan ke mana ia pergi. Go-Jek punya tim khusus yang pekerjaannya menganalisis data hingga tebakan bisa benar. “Untuk menebak itu saja kami punya depan orang, mahal-mahal lagi [gajinya],” kata Nadiem Makarim, pendiri sekaligus CEO Go-Jek, Rabu (9/8).

Go-Jek memiliki data sedemikian banyak yang mereka sebut big data. Ia berisi data pribadi, rekam jejak perjalanan, jenis makanan yang dibeli, daftar belanjaan, jenis obat yang digunakan, jadwal pijat, hingga jadwal mencuci kendaraan.BEST PROFIT

Data itu tentu saja tidak dibuang, sebab ia sangat berharga. Ia disimpan dan dimanfaatkan. Bisa “menebak” adalah salah satu manfaat big data bagi Go-Jek. Lalu, apa manfaatnya secara bisnis?

“Kalau kami bisa menebak, Anda enggak perlu banyak klik. Semakin sedikit klik, Anda makin senang dan semakin adiktif [dengan aplikasi Go-Jek],” jelas Nadiem.PT BEST PROFIT

Menebak lokasi dan tujuan, lanjut Nadiem, tak begitu rumit. Yang rumit adalah menebak pengguna aplikasi mau makan apa. Dengan memanfaatkan big data, Go-Jek bisa menebak penggunanya menyukai satu jenis makanan tertentu meskipun ia belum pernah mencoba makanan itu.

Nadiem menjelaskan dengan singkat cara kerjanya. Misalkan ada satu orang pengguna aktif Go-Food di Kemang yang sering sekali memesan ayam goreng KFC, Crepes, dan pisang goreng Bu Nani. Pelanggan lain yang tinggal di Kuningan juga sering sekali memesan tiga jenis makanan itu.PT BESTPROFIT FUTURES

Lalu suatu waktu, pelanggan di Kemang memesan jenis makanan baru dan dipesan cukup sering. Aktivitas satu jenis makanan yang cukup sering, menandakan seseorang menyukai makanan itu. Oleh karena pelanggan di Kemang itu suka jenis makanan baru itu, kemungkinan besar pelanggan di Kuningan juga menyukainya karena selama ini mereka menunjukkan pola selera yang serupa.

“Kalo saya bisa suggest makanan baru yang 90 persen Anda pasti suka, Anda akan anggap aplikasi saya teman yang merekomendasikan makanan kepada Anda, sehingga Anda enggan berpindah ke aplikasi lain,” ungkap Nadiem. Dengan memanfaatkan big data, Go-Jek menyasar loyalitas konsumen.PT BEST PROFIT FUTURES

Hal lain yang bisa dilakukan Go-Jek dengan big data yang berisi data behaviour konsumen adalah mengatur siapa mendapatkan pesanan apa. Nadiem menyadari, driver yang menjadi mitra Go-Jek kerap memilih-milih pesanan. Ada driver yang menghindari pesanan di restoran tertentu di jam-jam tertentu. Adapula yang kerap membatalkan pesanan jika mendapat pesanan ke arah tertentu.

Big data bisa digunakan untuk mengatur agar driver mendapatkan pesanan yang tidak akan dibatalkannya. Misal, driver A tidak pernah mau ambil pesanan di satu restoran pada jam 7-9 malam. Maka ke depan, driver itu tak akan diberikan lagi pesanan Go-Food di restoran itu.BESTPROFIT FUTURES

Selain tidak mengecewakan konsumen, dengan begitu, Go-Jek juga tak perlu terus-menerus mensubsidi driver untuk memotivasi mereka mengambil pesanan-pesanan yang mereka enggan. Ujung-ujungnya, efisiensi bagi keuangan Go-Jek.

Bagaimana Data Pengguna Memberi Untung Bagi Go-Jek

Bagaimana Data Pengguna Memberi Untung Bagi Go-Jekshare infografik

Go-Jek didirikan sejak tahun 2010. Per April tahun ini, total mitra driver Go-Jek mencapai sekitar 250 ribu. Agustus tahun lalu, perusahaan yang mengklaim aplikasinya diunduh 25 juta pengguna ini telah sah menjadi unicorn pertama di Indonesia setelah mendapat suntikan dana 550 juta dolar atau setara Rp7,2 triliun.

Nadiem punya rencana lebih besar lagi tentang penggunaan big data. Ke depan, Go-Jek bisa saja bekerja sama dengan bank atau fintech untuk menentukan seseorang layak menerima kredit atau tidak. Dari data behaviour seseorang, bisa ditelusuri, apakah ia sudah berkeluarga, penghasilannya berapa, dan apakah ia bertanggung jawab untuk mengembalikan uang. BPF

“Untuk tahu seseorang berkeluarga atau tidak sebenarnya bisa saja dilihat dari orderan Go-Food-nya,” kata Nadiem. Apabila seseorang memesan makanan dengan alamat tujuan di sebuah rumah, dan pesananannya selalu lebih dari satu atau dua porsi makanan, maka kemungkinan besar dia sudah menikah dan berkeluarga meskipun ada kemungkinan ia tinggal bersama orangtuanya.

Rencana Nadiem ini agak bertentangan dengan pernyataannya terkait dengan ajakan kerja sama dari Bank Indonesia dalam pemanfaatan big data. Bank sentral di Indonesia itu tengah menjajaki peluang kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk Go-Jek untuk bisa membuat satu big data yang kemudian akan digunakan BI sebagai salah satu acuan pertimbangan dalam membuat kebijakan.

Nadiem menyatakan menyatakan akan mendukung apapun rencana BI. Tetapi data yang akan dibagikannya adalah data agregat, bukan data individu, kecuali ada tindakan kriminal seperti pencucian uang.

Jika rencana Nadiem bekerja sama dengan bank dan fintech dalam membaca kelayakan menerima kredit itu benar terjalin, maka data yang akan dibagikan Go-Jek ke bank dan fintech tak lain adalah data personal, sebab penyaluran kredit sifatnya perorangan.

Benturan dengan Keamanan Data Pribadi
Penggunaan big data oleh Go-Jek tentu akan mempermudah konsumen dan menguntungkan perusahaan secara bisnis. Tetapi bagaimana dengan perlindungan data pribadi konsumen?

Nadiem mengklaim pihaknya tidak akan pernah menjual data konsumen. Semua data akan digunakan untuk meningkatkan pelayanan terhadap konsumen. Tetapi, apa jaminannya? Siapa yang tahu data pribadi konsumen aman atau tidak di tangan Go-Jek? Apakah konsumen dimintai persetujuan ketika Go-Jek hendak membagikan datanya ke pihak lain seperti perbankan?BESTPRO

Firdaus Cahyadi dari Satu Dunia menilai dari segi hubungan driver dan pengguna saja, Go-Jek dan layanan transportasi online lainnya tidak begitu tegas soal data pribadi. Para driver ini memiliki nomor handphone pengguna aplikasi. Kepemilikan no HP itu memang memudahkan komunikasi antara keduanya. Tetapi, di sisi lain, ia bisa saja disalahgunakan oleh kedua belah pihak, baik pengguna maupun driver. Tak sedikit kasus teror yang dihadapi pengguna aplikasi karena memberi peringkat buruk kepada driver.

Ia berbeda dengan model pemesanan taksi di masa lalu. Saat memesan taksi, pengguna menelepon operator, lalu memberitahu kepada pengguna estimasi ketibaan taksi. Si supir taksi tak tahu nomor telepon pengguna, begitu juga pengguna. Hanya operator yang tahu. Model pemesanan ini mungkin tampak tidak praktis, tetapi ia menjamin kerahasiaan data antara supir dan pengguna. Karena supir dalam model bisnis itu hanyalah mitra.

Kementerian Komunikasi dan Informatika telah memprakarsai dibuatnya Undang-undang tentang Perlindungan Data Pribadi. Ia masuk dalam proyek Program Legislasi Nasional Tahun 2015 – 2019. Rancangan undang-undangnya pun telah disiapkan.

Pasal 6 ayat (3) RUU Perlindungan Data Pribadi juga mengatur data pribadi yang bersifat spesifik seperti agama atau keyakinan, data kesehatan, biometik, genetika, kehidupan seksualitas, pandangan politik, catatan kejahatan, data anak, data keuangan pribadi, keterangan tentang kecacatan fisik dan mental. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sempat mengusulkan agar dimasukkan data pekerjaan.

Akan tetapi, sampai saat ini, saat data pribadi kita bertebaran di mana-mana dan terancam disalahgunakan, RUU itu belum disahkan.PT BESTPROFIT

 

Sumber : Tirto.id

Best Profit – Ramai-Ramai Meninggalkan Mobil Bensin

Ramai-Ramai Meninggalkan Mobil BensinBest Profit –  Inggris baru saja mengumumkan akan melarang penjualan kendaraan berbahan bakar bensin dan diesel mulai pada 2040. Langkah itu diambil oleh pemerintah Inggris guna mengurangi emisi dengan target pengurangan hingga 80 persen di tahun 2050.

Upaya inggris ini bukan tanpa alasan. Menurut laporan dari Vehicle Certification Agency Inggris, setiap tahunnya ada 29 ribu kematian karena polusi partikel halus yang disebabkan oleh particulate matter (PM) dari kendaraan bermotor terutama yang berbahan bakar minyak. 

PM sangat berbahaya karena dapat menyebabkan permasalahan pada pernafasan dan kardiovaskular. Selain PM ada juga CO atau karbon monoksida yang dapat memengaruhi aliran oksigen dalam darah sehingga dapat mengurangi ketersediaan oksigen dalam tubuh. Selain itu, gas berbahaya dari kendaraan bermotor juga ada hidrokarbon yang menyerang sistem pernapasan manusia.

Bahaya dari gas-gas ini menjadi salah satu faktor pendorong pemerintah Inggris untuk segera mengurangi jumlah kendaraan bermotor berbahan bakar minyak. Di sisi lain, pemerintah Inggris juga mendapat desakan dari para pegiat lingkungan untuk segera mencari solusi soal polusi dari kendaraan bermotor.

Laporan Environmental Protection UK menyebutkan, kendaraan di jalan raya Inggris adalah penyumbang 20 persen total emisi CO2 yang disebut sebagai penyebab utama dari perubahan iklim.

Tak hanya Inggris, larangan penjualan kendaraan berbahan bakar minyak juga dilakukan oleh Norwegia. Negara Skandinavia ini hanya akan menjual mobil-mobil listrik, hidrogen atau plug-in hybrid pada tahun 2025. Sejak 1990an, Norwegia sudah fokus dalam menanggulangi soal polusi, kemacetan dan kebisingan dari kendaraan bermotor. 

Perancis juga melakukan hal yang sama. Pemerintah Perancis mengumumkan akan mengakhiri penjualan kendaraan bermotor yang berbahan bakar bensin dan solar di tahun 2040. Sementara Belanda berencana menetapkan larangan penjualan kendaraan berbahan bakar bensin dan diesel pada 2025.

Di Asia, ada India yang hanya akan memperbolehkan penjualan mobil listrik di tahun 2030. Ini adalah salah satu langkah India untuk mengurangi polusi udara. Menurut laporan LSM lingkungan Greenpeace, polusi udara di India telah menyebabkan setidaknya 1,2 juta orang meninggal setiap tahun.Langkan pencegahan pun diambil salah satunya dengan mulai beralih ke mobil listrik.

Ramai-Ramai Meninggalkan Mobil Bensin

Era Mobil Listrik

Larangan penjualan kendaraan berbahan bakar minyak sudah pasti akan membuat negara-negara tersebut diserbu mobil listrik. Para produsen pun sudah mulai mengendus pangsa pasar yang cukup besar, sehingga ancang-ancang menggenjot produksi. 

Di Inggris, produsen mobil BMW sudah mengumumkan akan menggunakan pabriknya di Oxford, Inggris untuk memproduksi mobil listrik mulai 2019 mendatang. Ini merupakan keputusan berani BMW di tengah risiko Brexit sekaligus menegaskan terkait potensi pasar mobil listrik di Inggris.

Menurut analis dari Bloomberg New energy Finance, Albert Cheung pada  tahun 2040 mendatang, diprediksi sekitar 79 persen mobil di Inggris adalah mobil listrik. Pasar mobil listrik juga akan semakin menggiurkan karena harga baterai yang kian menurun. 

Di Norwegia, popularitas mobil listrik semakin cemerlang. Saat ini, dengan dengan populasi yang hanya berjumlah 5,2 juta orang, Norwegia sudah memiliki 135.276 kendaraan listrik yang mengaspal di jalanan. Mereka juga memiliki stasiun pengisian terbesar di dunia yang mampu menampung 28 kendaraan secara bersama-sama dan mampu mengisi penuh hanya dalam waktu setengah jam.

Negara tersebut berambisi untuk semakin menggenjot kendaraan listrik di jalan raya Norwegia. Kendaraan listrik di Norwegia seperti Tesla model S, Nissan Leaf, Mitsubishi Outlendar PHEVs, Tesla Model X dan BMW i3 pun laris manis di negara tersebut.

Secara global penjualan kendaraan listrik terus menunjukkan peningkatan. Dari 10 ribu unit di tahun 2010 menjadi lebih dari 550 unit pada 2015. Jumlah kendaraan listrik yang melaju di ruas jalan raya pada tahun 2016 menginjak angka 2 juta kendaraan dan naik 60 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Meskipun jumlah 2 juta kendaraan listrik itu baru mencapai 0,2 persen dari kendaraan yang ada di dunia, akan tetapi, adanya isu lingkungan dapat mengubah jumlah tersebut di masa depan. Apalagi Cina dan India, yang menjadi pasar terbesar kendaraan berbahan bakar minyak kini mulai beralih ke kendaraan listrik serta keputusan beberapa negara untuk mulai beralih ke mobil listrik.

Pemerintah India memiliki ambisi untuk menjual mobil listrik dan hybrid sebanyak 6 juta hingga 7 juta unit pada tahun 2020. Sedangkan berambisi untuk mengaspalkan 5 juta mobil listrik di tahun 2020. 

“Sejauh ini Cina merupakan pasar mobil listrik terbesar, dengan 40 persen mobil listrik yang terjual di dunia dan lebih dari dua kali liat jumlah yang terjual di Amerika Serikat,” tulus IEA seperti dikutip Bloomberg. “Tidak dapat dipungkiri bahwa serapan pasar mobil listrik saat ini sangat dipengaruhi oleh kebijakan terkait lingkungan.”

Dari sisi produsen, melihat adanya perubahan minat konsumen dari mobil diesel ke mobil listrik serta penjualan mobil diesel yang menurun, produsen mobil terbesar di dunia Volkswagen berencana meluncurkan empat jenis kendaraan listrik dalam beberapa tahun ke depan.

Mercedes-Benz juga akan memperkenalkan 10 jenis kendaraan listrik terbaru untuk bersaing di pasar kendaraan listrik. Sedangkan Tesla berusaha merebut hati konsumen dengan mulai memproduksi Tesla Model 3 dan menjualnya dengan harga murah.

Sehingga tak menutup kemungkinan, di masa yang akan datang, mobil listrik akan memimpin dan mobil diesel dan berbahan minyak akan mulai dilupakan. Best Profit

PT Bestprofit – Perlawanan Perusahaan Teknologi Terhadap Propaganda ISIS

Perlawanan Perusahaan Teknologi Terhadap Propaganda ISISPT Bestprofit – Kelompok teroris seperti ISIS diketahui menggunakan teknologi untuk menyebarkan propaganda mereka. Dari mulai layanan pesan instan yang terenkripsi seperti Telegram hingga media sosial seperti Facebook atau Twitter. Setidaknya, terdapat 5 narasi utama ISIS di media sosial yang patut diwaspadai. Pertama, mereka menarasikan ISIS akan membentuk pemerintahan yang baik kelak, yang berlandaskan hukum Syariah. Kedua, ISIS menyebarkan narasi-narasi bahwa militer mereka kuat. Ketiga, ISIS selalu mendengungkan legitimasi religius, mempropagandakan pembentukan kembali kekhalifahan. Keempat, melalui media sosial, ISIS memanggil para muslim untuk ikut serta bersama mereka melakukan jihad. Terakhir, ISIS menarasikan dirinya merupakan korban bersama-sama masyarakat muslim lainnya atas ketidakadilan yang menimpa dunia Islam.

Propaganda ISIS di media sosial sangat masif. Menurut laporan Brooking Institute, pada Desember 2014 terdapat 46.000 akun Twitter yang terafiliasi dengan ISIS. Merujuk J.M. Berger, paling ideal, ISIS menurutnya mengirimkan 200.000 pesan digital propaganda setiap harinya. Pesan propaganda tersebut, disebar baik melalui Twitter, Youtube, Facebook, blog, dan layanan-layanan lainnya.

James B. Comey, yang kala itu masih menjabat direktur FBI mengungkapkan, “jika kamu ingin berbicara dengan teroris, kamu tidak perlu mengirim email pada siapapun […] kamu hanya perlu mengikuti (follow) teroris tersebut di Twitter, dan kemudian mungkin (kamu) akan memperoleh pesan langsung dari teroris tersebut,” ucapnya pada The New York Times.

Propaganda melalui kanal-kanal yang lazim diisi anak muda yang masih melakukan pencarian jati diri tersebut jelas meresahkan. Tak terkecuali dengan perusahaan-perusahaan teknologi yang layanannya digunakan oleh ISIS untuk kepentingan propaganda mereka.

Salah satu perusahaan teknologi yang resah atas keberadaan ISIS di platform mereka adalah Youtube. Anak usaha milik Google yang menyediakan layanan media sosial berbasis video tersebut, melalui blog resmi perusahaan, mengumumkan bahwa mereka menambah fitur baru di platform video itu untuk membendung pengaruh ISIS dari penggunanya.

Fitur perlawanan balik Youtube terhadap ISIS tersebut bernama Redirect Method. Redirect Method merupakan suatu fitur teknologi yang menjauhkan orang-orang yang mencari konten video ISIS di Youtube. Cara kerjanya, saat seseorang mencari konten video ISIS di Youtube dengan mengetikkan kata kunci di search bar, alih-alih menampilkan konten video yang relevan sesuai kata kunci, pengguna malahan disajikan konten video yang bertentangan dengan propaganda ISIS.

Dalam proses kerjanya, Redirect Method memanfaatkan teknologi penargetan pemirsa dari AdWord, sebuah platform iklan milik Google. Memanfaatkan teknologi dari AdWord itu, Redirect Method bisa memilah pengguna Youtube yang paling rentang terpapar video propaganda dari ISIS dan mengganti tiap kata kunci berhubungan dengan ISIS, dengan konten-konten yang menentang kelompok teroris itu.

Redirect Method, merupakan suatu teknologi yang dikembangkan oleh Jigsaw dari Google dan Moonshot CVE. Kedua-duanya, merupakan startup yang mendedikasikan diri untuk membendung terorisme di dunia maya. Dalam proses ujicoba teknologi Redirect Method di tahun 2016 lalu, di dua bulan pertama, teknologi itu mampu mengalihkan 300.000 pengguna yang hendak mencari konten berbau ISIS ke konten-konten yang anti terhadap ISIS. Pada tahap ujicoba itu, Jigsaw memilih lebih dari 1.700 kata kunci pemicu Redirect Method bekerja dan mengarahkannya ke konten-konten anti-ISIS.

Selepas Redirect Method, rencana lain Youtube membendung konten-konten radikal di platform mereka adalah dengan memanfaatkan machine learning. Sayangnya, rincian penggunaan teknologi canggih itu, belum diungkap oleh Youtube.

Penggunaan Redirect Method, merupakan implementasi lanjutan Youtube dan Google untuk membendung terorisme yang memanfaatkan teknologi mereka. Sebelumnya, Google bekerja sama dengan 50 ahli dari LSM dan 63 organisasi untuk mengkurasi konten-konten radikal yang ada di platform milik mereka. Selain itu, Google pun disebut telah menolak beberapa konten berbau ekstremisme di Youtube untuk memperoleh pendapatan dari video yang diunggah. Diketahui, pengunggah video di Youtube memang bisa menghasilkan uang dari konten mereka.

Selain Youtube dan Google, perusahaan-perusahaan teknologi lain juga berupaya membendung ISIS dari dunia maya. Pada Februari 2016, melalui inisiasi Departemen Kehakiman Amerika Serikat, mereka membentuk sebuah proyek “dream team” bernama Madison Valleywood. Sesuai namanya, Madison Valleywood merupakan tim impian Amerika Serikat membendung ISIS dengan menggandeng perusahaan-perusahaan top dari segmen periklanan (Madison Group), teknologi (Silicon Valley), dan hiburan (Hollywood). Setidaknya, ada 50 perusahaan top yang tergabung di dalam proyek itu. Apple, Facebook, Twitter, Snapchat, dan Buzzfeed, merupakan nama-nama dari dunia teknologi yang terlibat dalam proyek pemerintah Amerika menghalau ISIS.

Secara terpisah, upaya-upaya independen perusahaan teknologi menghalau layanannya digunakan oleh teroris terus dilakukan. Facebook misalnya, platfom media sosial paling populer itu, diketahui telah mengkurasi dan menghapus profil, halaman, atau grup yang terkait organisasi teroris di platfom-nya. “Tidak ada tempat bagi terorisme di Facebook,” ucap Andrew Souvall pada Wired. Souvall menambahkan, “kami bekerja secara agresif untuk memastikan bahwa kami tidak memiliki teroris atau grup peneror yang menggunakan situs kami, dan kami juga menghapus semua konten yang memuji atau mendukung terorisme.”

Selain Facebook, ada pula Twitter yang sejak pertengahan 2015 hingga Agustus 2016 kemarin, tercatat telah menghapus 360.000 akun yang ketahuan melakukan promosi dan dukungan terhadap terorisme. “Pekerjaan kami belumlah usai,” sebut Twitter dikutip dari Newsweek.

Selain nama-nama di atas, Telegram, layanan pesan instan berorientasi privasi, juga diketahui berupaya keras menghalau platformnya digunakan oleh kelompok teroris. Merujuk data yang dipublikasikan kanal ISIS Watch di platform itu, dari awal bulan Juli hingga tanggal 23 kemarin, tercatat telah memblokir 5.397 akun atau kanal yang terkait dengan ISIS.

Perlawanan Perusahaan Teknologi Terhadap Propaganda ISIS

Upaya-upaya tersebut di atas tentunya belum cukup. Apalagi, diketahui bahwa layanan-layanan yang disajikan perusahaan-perusahaan teknologi di atas, memanfaatkan teknologi enkripsi untuk melindungi privasi para penggunanya. Dengan memanfaatkan enkripsi, sangat sulit bagi penegak hukum, untuk melakukan pencegahan terhadap para teroris yang memanfaatkan dunia maya.

Mengutip artikel yang dimuat Time, salah satu upaya yang bisa dilakukan perusahaan teknologi untuk ikut serta menghalau terorisme dari platform mereka adalah dengan membuat backdoor di layanan milik mereka masing-masing.

Backdoor dalam dunia teknologi, merupakan suatu portal yang tidak terdokumentasi. Gunanya, portal itu digunakan administrator untuk memasuki sistem dari layanan atau aplikasi. Baik untuk melakukan pemeliharaan layanan atau aplikasi, maupun guna memecahkan masalah tertentu. Secara sederhana, backdoor merupakan jalan pintas administrator, untuk menembus sistem yang mereka buat, tanpa perlu repot-repot meretas sistem itu.

Tentu, membuka backdoor akan menimbulkan masalah serius pada layanan atau aplikasi. Membuka backdoor artinya sama dengan membuat percuma teknologi enkripsi yang dipasang dalam sistem itu. Kasus terkenal tentang backdoor adalah kasus iPhone di San bernardino. FBI, meminta Apple membuat backdoor untuk membuka iPhone milik seorang tersangka kasus pembunuhan menggunakan sejata api yang menewaskan 14 orang di San bernardino bernama Syed Farook. FBI, dikatakan kewalahan dan menyerah terhadap enkripsi di iPhone milik tersangka. Padahal, data-data di dalam iPhone itu, akan digunakan pihak FBI membongkar kasus tersebut secara keseluruhan.

Meskipun bertujuan untuk mengungkap kejahatan, Apple dengan tegas menolak permintaan tersebut. Membuatkan backdoor pada iPhone, sama artinya dengan membongkar atap rumah saat hujan deras tiba. Enkripsi yang mempu melindungi informasi penggunanya, seketika akan percuma apabila Apple mengiyakan permintaan FBI.

Tetapi jelas, dalam konteks terorisme, tanpa kehadiran backdoor, sulit bagi pihak-pihak yang berkepentingan membasmi terorisme dengan layanan atau aplikasi yang dari ujung ke ujung, telah dilengkapi teknologi enkripsi.

Maka demikian, memang sudah sepantasnya para perusahaan-perusahaan teknologi, beserta pihak terkait, memikirkan cara-cara untuk. PT Bestprofit, Bestprofit.

PT Bestprofit – Lolos Sensor Dengan VPN

Lolos Sensor Dengan VPNPT Bestprofit – Di dunia maya hingga hari ini, terdapat lebih dari 1 miliar situsweb yang bisa diakses pengguna internet. Jumlah pengguna internet sendiri, per akhir Maret 2017, lebih dari 3,7 miliar. Dunia maya bukan hanya tempat bagi situsweb semata. Aplikasi ponsel pintar, juga mengambil tempat di dunia virtual tersebut. Data terbaru, ada lebih dari 3 juta aplikasi yang mendiami toko aplikasi Google Play bagi perangkat Android. Baik situsweb maupun aplikasi ponsel pintar yang ada, jelas menawarkan layanan berbeda-beda untuk dinikmati penggunanya.

Sayangnya, tidak semua situsweb dan aplikasi di dunia maya itu bisa digunakan layanannya karena adanya sensor. Di beberapa negara, sejumlah situsweb dan aplikasi penting bahkan tidak bisa diakses karena adanya pembatasan dari pemerintah.

Secara lebih luas, merujuk data yang dipublikasikan VPNMentor, Korea Utara didaulat sebagai negara dengan tingkat penyensoran atau pemblokiran situsweb tertinggi di dunia. Selanjutnya, berturut-turut, Somalia, Iran, Cina, Eritrea, Suriah, Guinea Khatulistiwa, Uzbekistan, Vietnam, dan Arab Saudi masuk ke dalam 10 besar negara dengan tingkat pemblokiran tertinggi di seluruh dunia. Negara-negara yang masuk ke 10 besar sebagai negara yang melakukan sensor tertinggi tersebut, diberi rating 1 dari 10. Semakin kecil rating, semakin tinggi tingkat penyensoran.

Berbanding terbalik dengan negara-negara di atas, dari riset yang sama, Estonia, sebuah negara yang berbatasan langsung dengan laut Baltik, didaulat sebagai negara dengan tingkat penyensoran atau pemblokiran terkecil. Berturut-turut, negara-negara seperti Islandia, Kanada, Jerman, Amerika Serikat, Australia, Jepang, Inggris Raya, Perancis, dan Portugal, masuk ke dalam 10 besar sebagai negara dengan tingkat penyensoran atau pemblokiran terkecil. Negara-negara tersebut, menerima rating 10 atas kenyataan bahwa di negara-negara tersebut, minim terjadi penyensoran.

Dari kedua data yang saling bertolak belakang tersebut, negara-negara yang sering melakukan sensor atau blokir, sebagian besar berada di wilayah Asia. Sementara negara-negara dengan tingkat sensor atau blokir paling minim, sebagian besar berada di wilayah Eropa.

Lolos Sensor Dengan VPN

Indonesia ternyata tidak termasuk negara yang ekstrem dalam artian banyak memblokir atau terlalu bebas. Pemerintah Indonesia memberlakukan aturan pemblokiran melalui UU ITE. Yang terbaru, pemerintah memblokir 11 Domain Name Server (DNS) yang terkait dengan Telegram. Dengan pemblokiran tersebut, masyarakat Indonesia tidak bisa mengakses domain-domain tersebut. Selain Telegram, setidaknya ada 2 layanan internet yang cukup besar yang tidak bisa dinikmati warganet Indonesia. Kedua layanan tersebut adalah Vimeo serta Reddit. Baik Vimeo maupun Reddit, keduanya diblokir di tahun 2014 lalu.

Secara menyeluruh, hingga akhir 2015 kemarin, Pemerintah Indonesia melalui Kominfo telah memblokir 766.394 situsweb. Merujuk data VPNMentor, Indonesia diberi rating 3,4, tepat berada di bawah Singapura dengan rating 3,5.

Dalam urusan pemblokiran situsweb, ada cukup banyak alasan digunakan. Mulai dari suatu layanan internet mengandung konten pornografi, SARA, pembajakan, hingga berupa perlindungan pemerintah terhadap pemain-pemain lokal. Untuk alasan terakhir, Cina merupakan negara yang diketahui melakukan pemblokiran, salah satunya sebagai upaya melindungi layanan-layanan berbasis lokal yang mereka miliki. Di negara tirai bambu itu, hingga 2010, Cina telah memblokir 1,3 juta situsweb. Hampir segala layanan internet terkenal yang umum dikunjungi masyarakat internet dunia, memiliki versi Cina-nya di sana. Dari mulai Baidu yang merupakan kembaran Google, hingga Alibaba yang merupakan oposisi Amazon.

Guna mengakali pemblokiran suatu situsweb atau aplikasi ponsel pintar, VPN alias Virtual Private Network, hadir sebagai penyelamat.

Secara sederhana, VPN merupakan suatu koneksi privat yang berjalan di atas koneksi publik yang disediakan oleh perusahaan provider internet. Secara teknis, VPN menempatkan server lain antara perangkat yang digunakan pengguna internet untuk terhubungan ke suatu layanan internet, dengan server tempat layanan internet bersemayam. Dengan demikian, secara sederhana, penggunaan VPN bisa “menyembunyikan” identitasnya atas apa yang ia lakukan dan kunjungi di internet.

Merujuk data yang dirilis Statista, pada tahun 2015, 27 persen pengguna internet dunia menggunakan VPN untuk bisa mengakses situs yang diblokir oleh pemerintah.

Dengan memanfaatkan VPN, pengguna internet bisa leluasa mengakses layanan-layanan berbasis internet yang diblokir oleh pemerintah.

Selain untuk meloloskan diri dari sensor pemerintah, VPN juga diketahui dimanfaatkan untuk lolos dari pemblokiran suatu situsweb atau layanan internet di tempat kerja. Diketahui, 26 persen pengguna internet dunia, memanfaatkan VPN untuk tujuan demikian. Memang, di beberapa perusahaan, mengakses Facebook, Twitter, atau Youtube, merupakan hal terlarang bagi seorang pekerja, terutama pada jam kerja.

Sejumlah 31 persen pengguna internet dunia juga memanfaatkan VPN untuk tujuan privasi. Diketahui, informasi pribadi pengguna internet, sangat sering dikumpulkan perusahaan internet guna kepentingannya sendiri. Menyembunyikan diri melalui VPN untuk privasi, jelas merupakan langkah baik untuk terhindar dari jebakan perusahaan-perusahaan demikian.

Sayangnya, meskipun VPN seakan memberikan angin segar bagi privasi, merujuk Wired, dari penelitian yang dilakukan Australia Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization, diketahui bahwa 80 persen VPN, terutama VPN mobile (VPN yang khusus dibuat untuk perangkat bergerak seperti ponsel pintar) memiliki masalah perihal enkripsi. Sebanyak 80 persen dari 283 VPN tersebut, diketahui tidak melakukan enkripsi sama sekali atas layanan yang mereka tawarkan.

Lebih parahnya, aplikasi VPN mobile yang diteliti tersebut, 82 persennya meminta akses pada informasi pribadi pada perangkat milik si pengguna. Hal tersebut jelas merupakan kasus privasi yang cukup serius yang harus segera ditangani. Mengingat, secara umum, masyarakat menyangka bahwa VPN merupakan kata lain dari perlindungan privasi. Merujuk pada salah seorang peneliti, VPN-VPN yang mereka teliti, “digunakan oleh sepuluh juta pengguna di seluruh dunia.”

Salah satu alasan mengapa banyak VPN yang tidak benar-benar memberikan aspek privasi bagi penggunanya adalah fakta bahwa VPN yang tersedia di pasaran, mengusung dua pendekatan berbeda. Pertama, VPN berbayar. Kedua, VPN gratisan. Padahal, mengelola sebuah VPN jelas membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Narseo Vallina-Rodriguez, peneliti dari International Computer Science Institute mengungkapkan, “(secara aspek) ekonomi (VPN gratis) tidak masuk akal, karena ketika kamu mulai melihat aplikasi ini, kebanyakan dari aplikasi tersebut tersedia secara gratis, tapi memelihara infrastruktur online sebenarnya sangat mahal.”

Tentu, mengakali agar bisa mengakses suatu layanan berbasis internet atau mencoba melindungi privasi dengan VPN bukanlah pilihan yang baik. Memperjuangkan kebebasan berinternet dengan melakukan edukasi pada pihak-pihak terkait, meskipun tentu saja harus melalui jalan berliku, merupakan suatu langkah yang jauh lebih baik.

PT Bestprofit, Bestprofit.