PT Best Profit Futures Jambi

Category Archives: Teknologi

Chatbot, Era Manusia Bercakap-cakap dengan Komputer

BEST PROFIT – “(Chat) bot adalah aplikasi baru.”

Satya Nadella, CEO Microsoft mengucapkan kalimat tersebut dalam sebuah konferensi Microsoft Build 2016 silam. Nadella seraya berpromosi mengatakan di masa depan akan dipenuhi dengan permintaan-permintaan konsumen untuk melakukan apapun dengan penggunaan bot salah satunya program chatbot.

Chatbot, merujuk apa yang disampaiakan Bayan Abu Shawar dan Eric Atwell dalam tulisannya berjudul Chatbots: Are they Really Useful? merupakan program komputer yang berinteraksi dengan pengguna memanfaatkan bahasa natural. Sementara itu, Jennifer Hill dalam Real Conversations With Artificial Intelligence: A Comparison Between Human-Human Online Conversation and Human-Chatbot Converation mengatakan bahwa chatbot merupakan mesin sistem percakapan.

Bot dalam kata Chatbot merupakan kata yang diambil dari “robot.” Philip Auslander dalam jurnalnya berjudul Live From Cyberspace: Or, I Was Sitting at My Computer This Guy Appeared He Thought I Was a Bot mengatakan bahwa terdapat banyak ragam “Bot” di ranah komputer, termasuk di antaranya warbots, channelbots, spambots, cancelbots, clonebots, collidebots, floodbots, gamebots, barbots, eggdrop bots, dan modbots.

Pelbagai bot ini merupakan robot yang dirancang untuk bekerja dengan tema tertentu. Chatbot, dengan kata lain, merupakan robot yang dirancang untuk berinteraksi atau bercakap-cakap dengan manusia.

Chatbot mulai dikembangkan sekitar dekade 1960-an. Awalnya, chatbot merupakan program komputer coba-coba tujuannya untuk memperdaya orang yang chatting seolah-olah dengan manusia padahal sesungguhnya dengan mesin. Berjalannya waktu, chatbot terus mengalami kemajuan.

Chatbot dikembangkan untuk bisa mensimulasi percakapan manusia sesungguhnya. Ini untuk menjawab keinginan manusia untuk bisa berbicara dengan komputer menggunakan bahasa yang digunakan oleh manusia.

Hingga 1966, Massachusetts Institute of Technology merilis sebuah chatbot bernama ELIZA. ELIZA dirancang sebagai chatbot yang memiliki tabiat sebagai seorang psikoterapis dalam berinteraksi atau ber-chatting dengan lawan bicara manusia. Setelah era ELIZA muncul dan sukses, kini bertebaran chatbot-chatbot lain seperti MegaHAL, CONVERSE, ELIZABETH, dan ALICE. BESTPROFIT

Dalam sejarahnya, selain ELIZA, terdapat beberapa chatbot yang sukses mendapatkan perhatian khalayak. Julia, sebuah chatbot yang dikembangkan pada 1990. Andrew Leonard, penulis buku Bots: The Origin of New Species mengatakan bahwa Julia memberikan sentuhan rasa pada dunia chatbot.

Selain Julia, kesuksesan lainnya diperoleh oleh Cleverbot, sebuah chatbot yang diluncurkan oleh Rollo Carpenter pada 1997. Cleverbot meraih sukses karena dapat memberikan tanggapan percakapan atas interaksi dengan manusia yang telah disimpan dan dipelajari. Cleverbot sempat disebut-sebut sebagai chatbot yang paling canggih memanipulasi percakapan seperti manusia pada umumnya.

Chatbot kini terus berkembang, apalagi selepas dunia komputer kini dapat melakukan penambangan data dengan lebih baik dan hadirnya machine learning. Microsoft, perusahaan yang dipimpin Nadella, merupakan salah satu perusahaan yang cukup serius menggarap teknologi chatbot. Microsoft baru saja memperkenalkan chatbot bernama Rinna. Sebuah chatbot yang berperan sebagai seorang perempuan berusia 19 tahun yang bisa diajak chatting melalui aplikasi Line dalam bahasa Indonesia.

Sebelum Microsoft merilis Rinna dalam bahasa Indonesia, chatbot dengan nama yang sama telah lebih dahulu menyapa publik Jepang. Chatbot Rinna dalam bahasa Jepang, kali pertama diperkenalkan oleh Microsoft pada 2015 melalui sebuah akun Twitter. Belakangan, Rinna juga dapat disapa publik Jepang melalui Line. Selain Rinna, Microsoft telah mengeluarkan serangkaian chatbot miliknya dari mulai yang penuh kontroversial hingga yang terbilang sukses.

Namun, ada dua chatbot Microsoft yang memiliki rekam jejak cukup memalukan bagi Microsoft, Tay dan Zo. Tay, merupakan chatbot yang berinteraksi melalui Twitter. Ia membuat malu Microsoft selepas mengeluarkan beberapa tweet yang bernada seksis, rasis, serta memuji apa yang dilakukan Hitler. Sedangkan Zo, berinteraksi dengan pengguna internet melalui aplikasi Facebook Messenger dan Kik.

Zo pernah mengatakan bahwa sistem operasi Windows bikinan Microsoft merupakan spyware. Dampak dari ucapan memalukan itu, Tay lantas dimatikan oleh Microsoft. Akun Twitternya, lantas digembok. Sedangkan Zo, meskipun membuat malu empunya, masih tetap dibiarkan hidup di Facebook Messenger maupun Kik.

Selebihnya ada kisah sukses Microsoft dengan chatbot bernama Xiaolce. Sebuah chatbot berbahasa Mandarin yang diperkenalkan pada 2014 dan berinteraksi dengan masyarakat internet melalui situsweb salinan Twitter versi Cina bernama Weibo. Dalam laporan Wired, setidaknya telah terjadi lebih dari 40 juta interaksi dalam bentuk candaan, pujian, dan kritik terhadap Xiaolce di Weibo.

Selain Microsoft, ada pula Google yang membenamkan asisten virtualnya, Google Assistant, menjadi seorang chatbot di aplikasi pesan instan miliknya, Allo. Melalui Allo, Google Assistant dapat ditanya apa pun oleh sang penggunanya.

Keseriusan Microsoft, Google, dan ragam perusahaan lain masuk ke dunia chatbot jelas bukan tanpa alasan. Chatbot, meskipun hadir pertama kali sejak 1960-an, merupakan penanda era baru di dunia teknologi kini. Terutama dalam menyongsong dunia artificial intelligence (AI) alias kecerdasan buatan.

Dalam pengembangan artificial intelligence, Hao Zhou dalam jurnalnya berjudul Emotional Chatting Machine: Emotional Conversation Generation with Internal and External Memory mengungkapkan agar chatbot bisa memahami manusia dan bertingkah seperti manusia, chatbot harus menyerap sebanyak-banyaknya informasi atau data tingkah laku manusia untuk bisa berinteraksi. Salah satu contoh yang nyata adalah chatbot bernama Tay. Tay memang sudah “dibunuh” oleh Microsoft  tapi ia sukses menyerap informasi dari para penggunanya meskipun informasi itu melenceng dari semestinya.

Andai saja Tay mampu bertemu dengan orang-orang yang baik dan mampu memberikan informasi yang benar, niscaya Tay akan berkembang ke arah yang lebih baik. Informasi yang sukses dihimpun chatbot, merupakan suatu big data yang berguna untuk teknologi AI.

Informasi dalam kerangka percakapan yang diperoleh mesin chatbot, berguna mengembangkan AI ke arah yang lebih baik. Salah satu contoh terbaik kasus pengumpulan data ini untuk menghasilkan tingkah baik adalah apa yang dilakukan Google melalui fitur Smart Reply di Gmail. Ulasan Wired, soal fitur itu bahwa Google mengumpulkan dan menganalisis jutaan pesan yang diterima si pengguna. PT BESTPROFIT

Pengguna yang mengaktifkan Smart Reply, maka ia akan disodorkan oleh pilihan membalas email yang diterimanya hanya dengan hanya klik, tanpa mengucapkan kata apapun. Kondisi demikian bisa terjadi pada chatbot. Saat seorang bisa bercakap-cakap dengan chatbot, chatbot mampu merekam dan menganalisis percakapan lawan bicaranya.

Chatbot bisa berguna sebagai gerbang pembelajaran untuk teknologi AI di masa depan. Chatbot pun memiliki fungsi praktis dan semakin dekat dengan khalayak. Laporan Business Insider, menunjukkan aplikasi pesan instan telah tumbuh mengalahkan aplikasi media sosial. Penggunaan chatbot, telah masuk ke dalam ranah bisnis dalam sebuah skema bernama conversational commerce. Chatbot, menawarkan pengalaman berbincang secara lebih personal bagi para penggunanya.

Aplikasi seperti WeChat dan Facebook Messenger contohnya. Dalam kedua aplikasi pesan instan ini telah memanfaatkan chatbot. Para pengguna bisa membeli sesuatu hanya dengan berbincang dengan sang chatbot. Di masa depan, era interaksi dan komunikasi manusia dengan komputer atau mesin bakal jadi hal yang umum dan sudah dimulai sejak sekarang.

 

Sumber: tirto.id

Seluk Beluk Teknologi CGI untuk Memoles Film

BESTPROFIT – Ucapan Bill Westenhofer, penasihat efek visual pada film Life of Pi, pada The New York Timesmengungkap alasan Ang Lee, sang sutradara film memilih menggunakan efek visual atau CGI.

Life of Pi merupakan sebuah film yang diangkat dari novel berjudul yang sama buah karya Yann Martel yang bercerita tentang seorang pemuda terombang-ambing dalam perahu kecil di tengah lautan beserta seekor harimau dengan segala fragmen menakjubkan. Melakukan syuting dengan menggunakan harimau asli, sudah tentu sangat berbahaya bagi sang aktor.PT BESTPROFIT

Life of Pi, memanfaatkan jasa rumah produksi khusus efek visual bernama Rhythm & Hues untuk mengerjakan adegan-adegan kekakuan hubungan antar Richard Parker (si harimau) dengan Pi Patel.

CGI merupakan pencitraan yang dihasilkan oleh komputer sebagai penerapan lanjutan dalam bidang komputer grafis. Secara sederhana, mengutip Business Insider, CGI serupa dengan teknik animasi tradisional. Dalam teknik animasi tradisional, suatu gerakan dibuat melalui rangkaian gambar-gambar yang saling bertautan. Umumnya, sebuah gambar bergerak tercipta dalam ritme 24fps (frame per second). BEST PROFIT

Artinya, dalam 1 detik, terdapat 24 gambar yang saling bertumpuk yang menciptakan satu harmoni gerak. Gambar-gambar itu, dalam konteks animasi tradisional, dibuat langsung oleh tangan si pembuat. CGI, dalam pengertian sederhana, mengerjakan proses tersebut dengan memanfaatkan kekuatan komputer. Pada akhirnya, teknik tradisional maupun memanfaatkan komputer, menghasilkan suatu efek ilusi yang sulit dicapai dengan cara normal.

Penggunaan CGI telah merentang cukup lama dalam dunia perfilman. Dua film yang menjadi patokan awal penggunaan CGi ialah Westworld dan Futureworld. Westworld merupakan film buatan 1973 yang pertama kali memanfaatkan animasi 2D bagi film itu. Sementara Futureworld, film yang dibuat pada 1976, tercatat sebagai film yang pertama kali menggunakan efek 3D. Di film itu, Ed Catmull dan Fred Parke dari University of Utah, sukses menciptakan tangan dan wajah “palsu.”PT BEST PROFIT

Dalam buku berjudul “Advanced RenderMan: Creating CGI for Motion Pictures” yang ditulis Anthony A. Apodaca, setidaknya ada dua film lain yang menjadi tonggak signifikan penggunaan efek visual komputer pada dunia perfilman. Film itu antara lain “Tron,” film besutan studio Disney pada1982 dan “The Last Starfighter,” film bikinan Universal Studios pada 1984. Sayangnya, kedua film itu gagal di pasaran. Kisah sukses penggunaan efek visual komputer akhirnya datang di 1989 dengan kemunculan “The Abyss.” PT BESTPROFIT FUTURES

Film garapan James Cameron itu, sukses memboyong Oscar dalam kategori “Best Visual Effect.” Efek visual di film itu, dikerjakan oleh rumah produksi efek visual bernama Industrial Light and Magic. Dalam dunia film, Industrial Light and Magic, memiliki jejak yang cukup memukau menggarap efek visual. Efek visual pada judul-judul film blockbuster seperti Back To The Future, Rogue One: A Star War Story, Captain America: Civil War, The Martian, dan The Revenant, digarap oleh perusahaan tersebut.PT BEST PROFIT FUTURES

Salah satu film lain yang menjadi titik penting capaian CGI dalam dunia film ialah sebuah film animasi berjudul “Toy Story” yang rilis di 1995. Toy Story, merupakan film animasi berkekuatan CGI berdurasi utuh (full-lenght) pertama.

Stacey Abbot dalam jurnalnya berjudul “Final Frontiers: Computer-Generated Imagery and the Science Fiction Film” mengutip daftar yang dibuat majalah SFX di 2005, mengungkapkan bahwa mayoritas film-film yang memanfaatkan efek visual komputer ialah film bertema fiksi sains. BESTPROFIT FUTURES

Abbot, mengutip Annette Kuhn, seorang peneliti yang fokus pada tema perfilman, mengungkapkan bahwa alasan banyaknya film bertema fiksi sains memanfaatkan efek visual komputer karena film demikian dituntut menghadirkan narasi futuristik.

“Penggunaan efek visual komputer pada film fiksi sains karena film-film itu sendiri umumnya menghadirkan imajinasi teknologi masa depan,” ungkap Kuhn sebagaimana dikutip Abbot.

Apa yang diungkap Abbot, senada dengan apa yang ditulis Sung Wook Ji dari Indiana University dalam tulisannya berjudul “Production Technology and Trends in Movie Content: An Empirical Study.

Dalam tulisannya itu, Ji mengidentifikasi jenis film yang banyak memalsukan unsur visual efek komputer pada daftar 50 film box office antara 1993 hingga 2005. Hasilnya, film berjenis “action,” “adventure,” “animation,” ”family,” “fantasy,” “musical” dan “sci-fi,” masuk daftar teratas jenis-jenis film yang menggunakan visual efek komputer. Sementara film berjenis “biography,” “comedy,” “crime,” “drama,” “music,” “romance” dan “sports,” merupakan jenis film yang jarang memanfaatkan efek visual komputer.BEST PROFIT FUTURES

Di Indonesia, penggunaan CGI dalam film juga bukan barang baru. Terbaru, film dengan judul nama anak kandung dari artis Raffi Ahmad, “Rafathar,” juga menggunakan teknologi CGI. Namun, penggunaan CGI di film-film Indonesia memiliki kendala dan keterbatasan.

Fajar Nugros, salah seorang sutradara Indonesia mengungkapkan, “CGI sudah banyak digunakan di Indonesia dan teknologinya bisa mengejar (kemampuan Hollywood) sebenarnya. Cuman film kita selalu waktunya mepet, jadi tim CGI kita yang pintar-pintar dan teknologinya mengejar ke Hollywood itu tidak bisa maksimal (mengerjakan efek visual).”

CGI Teknologi yang Mahal

CGI punya andil menentukan wajah sebuah film, tapi bukan sesuatu teknologi yang murah tapi bisa diandalkan terutama dalam pembuatan film animasi. Eksekutif Sony Pictures, Penny Finkelman Cox mengatakan dibutuhkan 400 pekerja visual (yang bekerja) selama empat tahun untuk membawa (film) 2D ke bioskop. Sedangkan dengan CGI hanya membutuhkan setengah dari angka itu dan hanya membutuhkan tiga tahun untuk membuat film yang memanfaatkan komputer. BPF

“Hasilnya, film digital umumnya membutuhkan biaya sebesar $80 juta, bandingkan dengan $150 juta (untuk membuat) film animasi tradisional,” ungkap Ji.

Dua poin yang membuat CGI mahal ialah biaya dari para pekerja efek visual. Untuk membuat efek visual komputer yang memukau, dibutuhkan waktu yang tidak sedikit. Lamanya produksi dan jumlah pekerja efek visual sehingga membutuhkan biaya yang semakin membengkak.

Mengutip pemberitaan Forbes, sebuah film dengan 150 hingga 250 efek visual dengan 1 efek visualnya berdurasi 5 detik, per 1 efek membutuhkan biaya antara $70 ribu hingga $100 ribu. Film Hollywood berjudul Pirates of the Caribbean: At World’s End, menghabiskan uang senilai $1 juta per menit untuk membiayai efek visual komputer.

Dave Clayton, penasihat animasi Weta Digital, sebuah rumah produksi efek visual, dalam sebuah wawancara dengan Gizmodo mengungkapkan bahwa dibutuhkan teknologi “raksasa” untuk membuat efek CGI. “Sekitar sepuluh tahun lalu dalam film Return of the King, WETA dalam memproses (efek CGI) membutuhkan sekitar 2.300 CPU (Central Processing Unit) dan RAM bertenaga 5 terabytes. Untuk memproses (efek CGI) Desolation of Smaug, kami mengandalkan 50.000 CPU dan RAM 170 terabytes. (Kekuatan CPU dan RAM tersebut) setara dengan (gabungan) 30.000 laptop standard.

Apa yang diungkap Clayton, diakui oleh Jean S. Borman dalam tulisannya di blog resmi Sandisk, sebuah perusahaan yang terkenal membuat media penyimpanan. Merujuk Bozman, di 1997, James Cameron membutuhkan prosesor SGI sebanyak 350 keping, 200 keping prosesor DEC Alpha, serta media penyimpanan sebesar 5 terabyte untuk memproses efek CGi di film yang ia garap.BESTPRO

Teknologi CGI bukanlah perkara mudah dan murah. Namun, film-film Hollywood tetap memakai CGI termasuk beberapa film di Indonesia. CGI memang mahal, tapi ada harapan dengan fragmen-fragmen film yang memukau para penonton, sebuah film bisa mendulang sukses di pasar.

Bagaimana Data Pengguna Memberi Untung Bagi Go-Jek

PT BESTPROFIT – Bagi pelanggan Go-Jek, setiap membuka aplikasi itu lalu memilih Go-Ride atau Go-Car, di kolom lokasi penjemputan seringkali sudah terisi alamat. Sementara di kolom tujuan, ada tiga alamat yang salah satunya adalah tujuan si pelanggan.

Isian pada kolom penjemputan dan tujuan itu biasanya tepat, meski sesekali keliru. Jika sudah tepat, si pelanggan tak perlu repot-repot memasukkan lagi secara manual. Ia cukup hanya menekan tombol pesan atau order.BESTPROFIT

Dari pola perjalanan dan pesanan yang setiap hari dilakukan si pelanggan, Go-Jek menganalisis dan menebak di mana lokasi si pelanggan saat itu, dan akan ke mana ia pergi. Go-Jek punya tim khusus yang pekerjaannya menganalisis data hingga tebakan bisa benar. “Untuk menebak itu saja kami punya depan orang, mahal-mahal lagi [gajinya],” kata Nadiem Makarim, pendiri sekaligus CEO Go-Jek, Rabu (9/8).

Go-Jek memiliki data sedemikian banyak yang mereka sebut big data. Ia berisi data pribadi, rekam jejak perjalanan, jenis makanan yang dibeli, daftar belanjaan, jenis obat yang digunakan, jadwal pijat, hingga jadwal mencuci kendaraan.BEST PROFIT

Data itu tentu saja tidak dibuang, sebab ia sangat berharga. Ia disimpan dan dimanfaatkan. Bisa “menebak” adalah salah satu manfaat big data bagi Go-Jek. Lalu, apa manfaatnya secara bisnis?

“Kalau kami bisa menebak, Anda enggak perlu banyak klik. Semakin sedikit klik, Anda makin senang dan semakin adiktif [dengan aplikasi Go-Jek],” jelas Nadiem.PT BEST PROFIT

Menebak lokasi dan tujuan, lanjut Nadiem, tak begitu rumit. Yang rumit adalah menebak pengguna aplikasi mau makan apa. Dengan memanfaatkan big data, Go-Jek bisa menebak penggunanya menyukai satu jenis makanan tertentu meskipun ia belum pernah mencoba makanan itu.

Nadiem menjelaskan dengan singkat cara kerjanya. Misalkan ada satu orang pengguna aktif Go-Food di Kemang yang sering sekali memesan ayam goreng KFC, Crepes, dan pisang goreng Bu Nani. Pelanggan lain yang tinggal di Kuningan juga sering sekali memesan tiga jenis makanan itu.PT BESTPROFIT FUTURES

Lalu suatu waktu, pelanggan di Kemang memesan jenis makanan baru dan dipesan cukup sering. Aktivitas satu jenis makanan yang cukup sering, menandakan seseorang menyukai makanan itu. Oleh karena pelanggan di Kemang itu suka jenis makanan baru itu, kemungkinan besar pelanggan di Kuningan juga menyukainya karena selama ini mereka menunjukkan pola selera yang serupa.

“Kalo saya bisa suggest makanan baru yang 90 persen Anda pasti suka, Anda akan anggap aplikasi saya teman yang merekomendasikan makanan kepada Anda, sehingga Anda enggan berpindah ke aplikasi lain,” ungkap Nadiem. Dengan memanfaatkan big data, Go-Jek menyasar loyalitas konsumen.PT BEST PROFIT FUTURES

Hal lain yang bisa dilakukan Go-Jek dengan big data yang berisi data behaviour konsumen adalah mengatur siapa mendapatkan pesanan apa. Nadiem menyadari, driver yang menjadi mitra Go-Jek kerap memilih-milih pesanan. Ada driver yang menghindari pesanan di restoran tertentu di jam-jam tertentu. Adapula yang kerap membatalkan pesanan jika mendapat pesanan ke arah tertentu.

Big data bisa digunakan untuk mengatur agar driver mendapatkan pesanan yang tidak akan dibatalkannya. Misal, driver A tidak pernah mau ambil pesanan di satu restoran pada jam 7-9 malam. Maka ke depan, driver itu tak akan diberikan lagi pesanan Go-Food di restoran itu.BESTPROFIT FUTURES

Selain tidak mengecewakan konsumen, dengan begitu, Go-Jek juga tak perlu terus-menerus mensubsidi driver untuk memotivasi mereka mengambil pesanan-pesanan yang mereka enggan. Ujung-ujungnya, efisiensi bagi keuangan Go-Jek.

Bagaimana Data Pengguna Memberi Untung Bagi Go-Jek

Bagaimana Data Pengguna Memberi Untung Bagi Go-Jekshare infografik

Go-Jek didirikan sejak tahun 2010. Per April tahun ini, total mitra driver Go-Jek mencapai sekitar 250 ribu. Agustus tahun lalu, perusahaan yang mengklaim aplikasinya diunduh 25 juta pengguna ini telah sah menjadi unicorn pertama di Indonesia setelah mendapat suntikan dana 550 juta dolar atau setara Rp7,2 triliun.

Nadiem punya rencana lebih besar lagi tentang penggunaan big data. Ke depan, Go-Jek bisa saja bekerja sama dengan bank atau fintech untuk menentukan seseorang layak menerima kredit atau tidak. Dari data behaviour seseorang, bisa ditelusuri, apakah ia sudah berkeluarga, penghasilannya berapa, dan apakah ia bertanggung jawab untuk mengembalikan uang. BPF

“Untuk tahu seseorang berkeluarga atau tidak sebenarnya bisa saja dilihat dari orderan Go-Food-nya,” kata Nadiem. Apabila seseorang memesan makanan dengan alamat tujuan di sebuah rumah, dan pesananannya selalu lebih dari satu atau dua porsi makanan, maka kemungkinan besar dia sudah menikah dan berkeluarga meskipun ada kemungkinan ia tinggal bersama orangtuanya.

Rencana Nadiem ini agak bertentangan dengan pernyataannya terkait dengan ajakan kerja sama dari Bank Indonesia dalam pemanfaatan big data. Bank sentral di Indonesia itu tengah menjajaki peluang kerja sama dengan berbagai pihak, termasuk Go-Jek untuk bisa membuat satu big data yang kemudian akan digunakan BI sebagai salah satu acuan pertimbangan dalam membuat kebijakan.

Nadiem menyatakan menyatakan akan mendukung apapun rencana BI. Tetapi data yang akan dibagikannya adalah data agregat, bukan data individu, kecuali ada tindakan kriminal seperti pencucian uang.

Jika rencana Nadiem bekerja sama dengan bank dan fintech dalam membaca kelayakan menerima kredit itu benar terjalin, maka data yang akan dibagikan Go-Jek ke bank dan fintech tak lain adalah data personal, sebab penyaluran kredit sifatnya perorangan.

Benturan dengan Keamanan Data Pribadi
Penggunaan big data oleh Go-Jek tentu akan mempermudah konsumen dan menguntungkan perusahaan secara bisnis. Tetapi bagaimana dengan perlindungan data pribadi konsumen?

Nadiem mengklaim pihaknya tidak akan pernah menjual data konsumen. Semua data akan digunakan untuk meningkatkan pelayanan terhadap konsumen. Tetapi, apa jaminannya? Siapa yang tahu data pribadi konsumen aman atau tidak di tangan Go-Jek? Apakah konsumen dimintai persetujuan ketika Go-Jek hendak membagikan datanya ke pihak lain seperti perbankan?BESTPRO

Firdaus Cahyadi dari Satu Dunia menilai dari segi hubungan driver dan pengguna saja, Go-Jek dan layanan transportasi online lainnya tidak begitu tegas soal data pribadi. Para driver ini memiliki nomor handphone pengguna aplikasi. Kepemilikan no HP itu memang memudahkan komunikasi antara keduanya. Tetapi, di sisi lain, ia bisa saja disalahgunakan oleh kedua belah pihak, baik pengguna maupun driver. Tak sedikit kasus teror yang dihadapi pengguna aplikasi karena memberi peringkat buruk kepada driver.

Ia berbeda dengan model pemesanan taksi di masa lalu. Saat memesan taksi, pengguna menelepon operator, lalu memberitahu kepada pengguna estimasi ketibaan taksi. Si supir taksi tak tahu nomor telepon pengguna, begitu juga pengguna. Hanya operator yang tahu. Model pemesanan ini mungkin tampak tidak praktis, tetapi ia menjamin kerahasiaan data antara supir dan pengguna. Karena supir dalam model bisnis itu hanyalah mitra.

Kementerian Komunikasi dan Informatika telah memprakarsai dibuatnya Undang-undang tentang Perlindungan Data Pribadi. Ia masuk dalam proyek Program Legislasi Nasional Tahun 2015 – 2019. Rancangan undang-undangnya pun telah disiapkan.

Pasal 6 ayat (3) RUU Perlindungan Data Pribadi juga mengatur data pribadi yang bersifat spesifik seperti agama atau keyakinan, data kesehatan, biometik, genetika, kehidupan seksualitas, pandangan politik, catatan kejahatan, data anak, data keuangan pribadi, keterangan tentang kecacatan fisik dan mental. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sempat mengusulkan agar dimasukkan data pekerjaan.

Akan tetapi, sampai saat ini, saat data pribadi kita bertebaran di mana-mana dan terancam disalahgunakan, RUU itu belum disahkan.PT BESTPROFIT

 

Sumber : Tirto.id

Best Profit – Ramai-Ramai Meninggalkan Mobil Bensin

Ramai-Ramai Meninggalkan Mobil BensinBest Profit –  Inggris baru saja mengumumkan akan melarang penjualan kendaraan berbahan bakar bensin dan diesel mulai pada 2040. Langkah itu diambil oleh pemerintah Inggris guna mengurangi emisi dengan target pengurangan hingga 80 persen di tahun 2050.

Upaya inggris ini bukan tanpa alasan. Menurut laporan dari Vehicle Certification Agency Inggris, setiap tahunnya ada 29 ribu kematian karena polusi partikel halus yang disebabkan oleh particulate matter (PM) dari kendaraan bermotor terutama yang berbahan bakar minyak. 

PM sangat berbahaya karena dapat menyebabkan permasalahan pada pernafasan dan kardiovaskular. Selain PM ada juga CO atau karbon monoksida yang dapat memengaruhi aliran oksigen dalam darah sehingga dapat mengurangi ketersediaan oksigen dalam tubuh. Selain itu, gas berbahaya dari kendaraan bermotor juga ada hidrokarbon yang menyerang sistem pernapasan manusia.

Bahaya dari gas-gas ini menjadi salah satu faktor pendorong pemerintah Inggris untuk segera mengurangi jumlah kendaraan bermotor berbahan bakar minyak. Di sisi lain, pemerintah Inggris juga mendapat desakan dari para pegiat lingkungan untuk segera mencari solusi soal polusi dari kendaraan bermotor.

Laporan Environmental Protection UK menyebutkan, kendaraan di jalan raya Inggris adalah penyumbang 20 persen total emisi CO2 yang disebut sebagai penyebab utama dari perubahan iklim.

Tak hanya Inggris, larangan penjualan kendaraan berbahan bakar minyak juga dilakukan oleh Norwegia. Negara Skandinavia ini hanya akan menjual mobil-mobil listrik, hidrogen atau plug-in hybrid pada tahun 2025. Sejak 1990an, Norwegia sudah fokus dalam menanggulangi soal polusi, kemacetan dan kebisingan dari kendaraan bermotor. 

Perancis juga melakukan hal yang sama. Pemerintah Perancis mengumumkan akan mengakhiri penjualan kendaraan bermotor yang berbahan bakar bensin dan solar di tahun 2040. Sementara Belanda berencana menetapkan larangan penjualan kendaraan berbahan bakar bensin dan diesel pada 2025.

Di Asia, ada India yang hanya akan memperbolehkan penjualan mobil listrik di tahun 2030. Ini adalah salah satu langkah India untuk mengurangi polusi udara. Menurut laporan LSM lingkungan Greenpeace, polusi udara di India telah menyebabkan setidaknya 1,2 juta orang meninggal setiap tahun.Langkan pencegahan pun diambil salah satunya dengan mulai beralih ke mobil listrik.

Ramai-Ramai Meninggalkan Mobil Bensin

Era Mobil Listrik

Larangan penjualan kendaraan berbahan bakar minyak sudah pasti akan membuat negara-negara tersebut diserbu mobil listrik. Para produsen pun sudah mulai mengendus pangsa pasar yang cukup besar, sehingga ancang-ancang menggenjot produksi. 

Di Inggris, produsen mobil BMW sudah mengumumkan akan menggunakan pabriknya di Oxford, Inggris untuk memproduksi mobil listrik mulai 2019 mendatang. Ini merupakan keputusan berani BMW di tengah risiko Brexit sekaligus menegaskan terkait potensi pasar mobil listrik di Inggris.

Menurut analis dari Bloomberg New energy Finance, Albert Cheung pada  tahun 2040 mendatang, diprediksi sekitar 79 persen mobil di Inggris adalah mobil listrik. Pasar mobil listrik juga akan semakin menggiurkan karena harga baterai yang kian menurun. 

Di Norwegia, popularitas mobil listrik semakin cemerlang. Saat ini, dengan dengan populasi yang hanya berjumlah 5,2 juta orang, Norwegia sudah memiliki 135.276 kendaraan listrik yang mengaspal di jalanan. Mereka juga memiliki stasiun pengisian terbesar di dunia yang mampu menampung 28 kendaraan secara bersama-sama dan mampu mengisi penuh hanya dalam waktu setengah jam.

Negara tersebut berambisi untuk semakin menggenjot kendaraan listrik di jalan raya Norwegia. Kendaraan listrik di Norwegia seperti Tesla model S, Nissan Leaf, Mitsubishi Outlendar PHEVs, Tesla Model X dan BMW i3 pun laris manis di negara tersebut.

Secara global penjualan kendaraan listrik terus menunjukkan peningkatan. Dari 10 ribu unit di tahun 2010 menjadi lebih dari 550 unit pada 2015. Jumlah kendaraan listrik yang melaju di ruas jalan raya pada tahun 2016 menginjak angka 2 juta kendaraan dan naik 60 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Meskipun jumlah 2 juta kendaraan listrik itu baru mencapai 0,2 persen dari kendaraan yang ada di dunia, akan tetapi, adanya isu lingkungan dapat mengubah jumlah tersebut di masa depan. Apalagi Cina dan India, yang menjadi pasar terbesar kendaraan berbahan bakar minyak kini mulai beralih ke kendaraan listrik serta keputusan beberapa negara untuk mulai beralih ke mobil listrik.

Pemerintah India memiliki ambisi untuk menjual mobil listrik dan hybrid sebanyak 6 juta hingga 7 juta unit pada tahun 2020. Sedangkan berambisi untuk mengaspalkan 5 juta mobil listrik di tahun 2020. 

“Sejauh ini Cina merupakan pasar mobil listrik terbesar, dengan 40 persen mobil listrik yang terjual di dunia dan lebih dari dua kali liat jumlah yang terjual di Amerika Serikat,” tulus IEA seperti dikutip Bloomberg. “Tidak dapat dipungkiri bahwa serapan pasar mobil listrik saat ini sangat dipengaruhi oleh kebijakan terkait lingkungan.”

Dari sisi produsen, melihat adanya perubahan minat konsumen dari mobil diesel ke mobil listrik serta penjualan mobil diesel yang menurun, produsen mobil terbesar di dunia Volkswagen berencana meluncurkan empat jenis kendaraan listrik dalam beberapa tahun ke depan.

Mercedes-Benz juga akan memperkenalkan 10 jenis kendaraan listrik terbaru untuk bersaing di pasar kendaraan listrik. Sedangkan Tesla berusaha merebut hati konsumen dengan mulai memproduksi Tesla Model 3 dan menjualnya dengan harga murah.

Sehingga tak menutup kemungkinan, di masa yang akan datang, mobil listrik akan memimpin dan mobil diesel dan berbahan minyak akan mulai dilupakan. Best Profit