PT Best Profit Futures Jambi

Category Archives: Teknologi

Best Profit – Ramai-Ramai Meninggalkan Mobil Bensin

Ramai-Ramai Meninggalkan Mobil BensinBest Profit –  Inggris baru saja mengumumkan akan melarang penjualan kendaraan berbahan bakar bensin dan diesel mulai pada 2040. Langkah itu diambil oleh pemerintah Inggris guna mengurangi emisi dengan target pengurangan hingga 80 persen di tahun 2050.

Upaya inggris ini bukan tanpa alasan. Menurut laporan dari Vehicle Certification Agency Inggris, setiap tahunnya ada 29 ribu kematian karena polusi partikel halus yang disebabkan oleh particulate matter (PM) dari kendaraan bermotor terutama yang berbahan bakar minyak. 

PM sangat berbahaya karena dapat menyebabkan permasalahan pada pernafasan dan kardiovaskular. Selain PM ada juga CO atau karbon monoksida yang dapat memengaruhi aliran oksigen dalam darah sehingga dapat mengurangi ketersediaan oksigen dalam tubuh. Selain itu, gas berbahaya dari kendaraan bermotor juga ada hidrokarbon yang menyerang sistem pernapasan manusia.

Bahaya dari gas-gas ini menjadi salah satu faktor pendorong pemerintah Inggris untuk segera mengurangi jumlah kendaraan bermotor berbahan bakar minyak. Di sisi lain, pemerintah Inggris juga mendapat desakan dari para pegiat lingkungan untuk segera mencari solusi soal polusi dari kendaraan bermotor.

Laporan Environmental Protection UK menyebutkan, kendaraan di jalan raya Inggris adalah penyumbang 20 persen total emisi CO2 yang disebut sebagai penyebab utama dari perubahan iklim.

Tak hanya Inggris, larangan penjualan kendaraan berbahan bakar minyak juga dilakukan oleh Norwegia. Negara Skandinavia ini hanya akan menjual mobil-mobil listrik, hidrogen atau plug-in hybrid pada tahun 2025. Sejak 1990an, Norwegia sudah fokus dalam menanggulangi soal polusi, kemacetan dan kebisingan dari kendaraan bermotor. 

Perancis juga melakukan hal yang sama. Pemerintah Perancis mengumumkan akan mengakhiri penjualan kendaraan bermotor yang berbahan bakar bensin dan solar di tahun 2040. Sementara Belanda berencana menetapkan larangan penjualan kendaraan berbahan bakar bensin dan diesel pada 2025.

Di Asia, ada India yang hanya akan memperbolehkan penjualan mobil listrik di tahun 2030. Ini adalah salah satu langkah India untuk mengurangi polusi udara. Menurut laporan LSM lingkungan Greenpeace, polusi udara di India telah menyebabkan setidaknya 1,2 juta orang meninggal setiap tahun.Langkan pencegahan pun diambil salah satunya dengan mulai beralih ke mobil listrik.

Ramai-Ramai Meninggalkan Mobil Bensin

Era Mobil Listrik

Larangan penjualan kendaraan berbahan bakar minyak sudah pasti akan membuat negara-negara tersebut diserbu mobil listrik. Para produsen pun sudah mulai mengendus pangsa pasar yang cukup besar, sehingga ancang-ancang menggenjot produksi. 

Di Inggris, produsen mobil BMW sudah mengumumkan akan menggunakan pabriknya di Oxford, Inggris untuk memproduksi mobil listrik mulai 2019 mendatang. Ini merupakan keputusan berani BMW di tengah risiko Brexit sekaligus menegaskan terkait potensi pasar mobil listrik di Inggris.

Menurut analis dari Bloomberg New energy Finance, Albert Cheung pada  tahun 2040 mendatang, diprediksi sekitar 79 persen mobil di Inggris adalah mobil listrik. Pasar mobil listrik juga akan semakin menggiurkan karena harga baterai yang kian menurun. 

Di Norwegia, popularitas mobil listrik semakin cemerlang. Saat ini, dengan dengan populasi yang hanya berjumlah 5,2 juta orang, Norwegia sudah memiliki 135.276 kendaraan listrik yang mengaspal di jalanan. Mereka juga memiliki stasiun pengisian terbesar di dunia yang mampu menampung 28 kendaraan secara bersama-sama dan mampu mengisi penuh hanya dalam waktu setengah jam.

Negara tersebut berambisi untuk semakin menggenjot kendaraan listrik di jalan raya Norwegia. Kendaraan listrik di Norwegia seperti Tesla model S, Nissan Leaf, Mitsubishi Outlendar PHEVs, Tesla Model X dan BMW i3 pun laris manis di negara tersebut.

Secara global penjualan kendaraan listrik terus menunjukkan peningkatan. Dari 10 ribu unit di tahun 2010 menjadi lebih dari 550 unit pada 2015. Jumlah kendaraan listrik yang melaju di ruas jalan raya pada tahun 2016 menginjak angka 2 juta kendaraan dan naik 60 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Meskipun jumlah 2 juta kendaraan listrik itu baru mencapai 0,2 persen dari kendaraan yang ada di dunia, akan tetapi, adanya isu lingkungan dapat mengubah jumlah tersebut di masa depan. Apalagi Cina dan India, yang menjadi pasar terbesar kendaraan berbahan bakar minyak kini mulai beralih ke kendaraan listrik serta keputusan beberapa negara untuk mulai beralih ke mobil listrik.

Pemerintah India memiliki ambisi untuk menjual mobil listrik dan hybrid sebanyak 6 juta hingga 7 juta unit pada tahun 2020. Sedangkan berambisi untuk mengaspalkan 5 juta mobil listrik di tahun 2020. 

“Sejauh ini Cina merupakan pasar mobil listrik terbesar, dengan 40 persen mobil listrik yang terjual di dunia dan lebih dari dua kali liat jumlah yang terjual di Amerika Serikat,” tulus IEA seperti dikutip Bloomberg. “Tidak dapat dipungkiri bahwa serapan pasar mobil listrik saat ini sangat dipengaruhi oleh kebijakan terkait lingkungan.”

Dari sisi produsen, melihat adanya perubahan minat konsumen dari mobil diesel ke mobil listrik serta penjualan mobil diesel yang menurun, produsen mobil terbesar di dunia Volkswagen berencana meluncurkan empat jenis kendaraan listrik dalam beberapa tahun ke depan.

Mercedes-Benz juga akan memperkenalkan 10 jenis kendaraan listrik terbaru untuk bersaing di pasar kendaraan listrik. Sedangkan Tesla berusaha merebut hati konsumen dengan mulai memproduksi Tesla Model 3 dan menjualnya dengan harga murah.

Sehingga tak menutup kemungkinan, di masa yang akan datang, mobil listrik akan memimpin dan mobil diesel dan berbahan minyak akan mulai dilupakan. Best Profit

PT Bestprofit – Perlawanan Perusahaan Teknologi Terhadap Propaganda ISIS

Perlawanan Perusahaan Teknologi Terhadap Propaganda ISISPT Bestprofit – Kelompok teroris seperti ISIS diketahui menggunakan teknologi untuk menyebarkan propaganda mereka. Dari mulai layanan pesan instan yang terenkripsi seperti Telegram hingga media sosial seperti Facebook atau Twitter. Setidaknya, terdapat 5 narasi utama ISIS di media sosial yang patut diwaspadai. Pertama, mereka menarasikan ISIS akan membentuk pemerintahan yang baik kelak, yang berlandaskan hukum Syariah. Kedua, ISIS menyebarkan narasi-narasi bahwa militer mereka kuat. Ketiga, ISIS selalu mendengungkan legitimasi religius, mempropagandakan pembentukan kembali kekhalifahan. Keempat, melalui media sosial, ISIS memanggil para muslim untuk ikut serta bersama mereka melakukan jihad. Terakhir, ISIS menarasikan dirinya merupakan korban bersama-sama masyarakat muslim lainnya atas ketidakadilan yang menimpa dunia Islam.

Propaganda ISIS di media sosial sangat masif. Menurut laporan Brooking Institute, pada Desember 2014 terdapat 46.000 akun Twitter yang terafiliasi dengan ISIS. Merujuk J.M. Berger, paling ideal, ISIS menurutnya mengirimkan 200.000 pesan digital propaganda setiap harinya. Pesan propaganda tersebut, disebar baik melalui Twitter, Youtube, Facebook, blog, dan layanan-layanan lainnya.

James B. Comey, yang kala itu masih menjabat direktur FBI mengungkapkan, “jika kamu ingin berbicara dengan teroris, kamu tidak perlu mengirim email pada siapapun […] kamu hanya perlu mengikuti (follow) teroris tersebut di Twitter, dan kemudian mungkin (kamu) akan memperoleh pesan langsung dari teroris tersebut,” ucapnya pada The New York Times.

Propaganda melalui kanal-kanal yang lazim diisi anak muda yang masih melakukan pencarian jati diri tersebut jelas meresahkan. Tak terkecuali dengan perusahaan-perusahaan teknologi yang layanannya digunakan oleh ISIS untuk kepentingan propaganda mereka.

Salah satu perusahaan teknologi yang resah atas keberadaan ISIS di platform mereka adalah Youtube. Anak usaha milik Google yang menyediakan layanan media sosial berbasis video tersebut, melalui blog resmi perusahaan, mengumumkan bahwa mereka menambah fitur baru di platform video itu untuk membendung pengaruh ISIS dari penggunanya.

Fitur perlawanan balik Youtube terhadap ISIS tersebut bernama Redirect Method. Redirect Method merupakan suatu fitur teknologi yang menjauhkan orang-orang yang mencari konten video ISIS di Youtube. Cara kerjanya, saat seseorang mencari konten video ISIS di Youtube dengan mengetikkan kata kunci di search bar, alih-alih menampilkan konten video yang relevan sesuai kata kunci, pengguna malahan disajikan konten video yang bertentangan dengan propaganda ISIS.

Dalam proses kerjanya, Redirect Method memanfaatkan teknologi penargetan pemirsa dari AdWord, sebuah platform iklan milik Google. Memanfaatkan teknologi dari AdWord itu, Redirect Method bisa memilah pengguna Youtube yang paling rentang terpapar video propaganda dari ISIS dan mengganti tiap kata kunci berhubungan dengan ISIS, dengan konten-konten yang menentang kelompok teroris itu.

Redirect Method, merupakan suatu teknologi yang dikembangkan oleh Jigsaw dari Google dan Moonshot CVE. Kedua-duanya, merupakan startup yang mendedikasikan diri untuk membendung terorisme di dunia maya. Dalam proses ujicoba teknologi Redirect Method di tahun 2016 lalu, di dua bulan pertama, teknologi itu mampu mengalihkan 300.000 pengguna yang hendak mencari konten berbau ISIS ke konten-konten yang anti terhadap ISIS. Pada tahap ujicoba itu, Jigsaw memilih lebih dari 1.700 kata kunci pemicu Redirect Method bekerja dan mengarahkannya ke konten-konten anti-ISIS.

Selepas Redirect Method, rencana lain Youtube membendung konten-konten radikal di platform mereka adalah dengan memanfaatkan machine learning. Sayangnya, rincian penggunaan teknologi canggih itu, belum diungkap oleh Youtube.

Penggunaan Redirect Method, merupakan implementasi lanjutan Youtube dan Google untuk membendung terorisme yang memanfaatkan teknologi mereka. Sebelumnya, Google bekerja sama dengan 50 ahli dari LSM dan 63 organisasi untuk mengkurasi konten-konten radikal yang ada di platform milik mereka. Selain itu, Google pun disebut telah menolak beberapa konten berbau ekstremisme di Youtube untuk memperoleh pendapatan dari video yang diunggah. Diketahui, pengunggah video di Youtube memang bisa menghasilkan uang dari konten mereka.

Selain Youtube dan Google, perusahaan-perusahaan teknologi lain juga berupaya membendung ISIS dari dunia maya. Pada Februari 2016, melalui inisiasi Departemen Kehakiman Amerika Serikat, mereka membentuk sebuah proyek “dream team” bernama Madison Valleywood. Sesuai namanya, Madison Valleywood merupakan tim impian Amerika Serikat membendung ISIS dengan menggandeng perusahaan-perusahaan top dari segmen periklanan (Madison Group), teknologi (Silicon Valley), dan hiburan (Hollywood). Setidaknya, ada 50 perusahaan top yang tergabung di dalam proyek itu. Apple, Facebook, Twitter, Snapchat, dan Buzzfeed, merupakan nama-nama dari dunia teknologi yang terlibat dalam proyek pemerintah Amerika menghalau ISIS.

Secara terpisah, upaya-upaya independen perusahaan teknologi menghalau layanannya digunakan oleh teroris terus dilakukan. Facebook misalnya, platfom media sosial paling populer itu, diketahui telah mengkurasi dan menghapus profil, halaman, atau grup yang terkait organisasi teroris di platfom-nya. “Tidak ada tempat bagi terorisme di Facebook,” ucap Andrew Souvall pada Wired. Souvall menambahkan, “kami bekerja secara agresif untuk memastikan bahwa kami tidak memiliki teroris atau grup peneror yang menggunakan situs kami, dan kami juga menghapus semua konten yang memuji atau mendukung terorisme.”

Selain Facebook, ada pula Twitter yang sejak pertengahan 2015 hingga Agustus 2016 kemarin, tercatat telah menghapus 360.000 akun yang ketahuan melakukan promosi dan dukungan terhadap terorisme. “Pekerjaan kami belumlah usai,” sebut Twitter dikutip dari Newsweek.

Selain nama-nama di atas, Telegram, layanan pesan instan berorientasi privasi, juga diketahui berupaya keras menghalau platformnya digunakan oleh kelompok teroris. Merujuk data yang dipublikasikan kanal ISIS Watch di platform itu, dari awal bulan Juli hingga tanggal 23 kemarin, tercatat telah memblokir 5.397 akun atau kanal yang terkait dengan ISIS.

Perlawanan Perusahaan Teknologi Terhadap Propaganda ISIS

Upaya-upaya tersebut di atas tentunya belum cukup. Apalagi, diketahui bahwa layanan-layanan yang disajikan perusahaan-perusahaan teknologi di atas, memanfaatkan teknologi enkripsi untuk melindungi privasi para penggunanya. Dengan memanfaatkan enkripsi, sangat sulit bagi penegak hukum, untuk melakukan pencegahan terhadap para teroris yang memanfaatkan dunia maya.

Mengutip artikel yang dimuat Time, salah satu upaya yang bisa dilakukan perusahaan teknologi untuk ikut serta menghalau terorisme dari platform mereka adalah dengan membuat backdoor di layanan milik mereka masing-masing.

Backdoor dalam dunia teknologi, merupakan suatu portal yang tidak terdokumentasi. Gunanya, portal itu digunakan administrator untuk memasuki sistem dari layanan atau aplikasi. Baik untuk melakukan pemeliharaan layanan atau aplikasi, maupun guna memecahkan masalah tertentu. Secara sederhana, backdoor merupakan jalan pintas administrator, untuk menembus sistem yang mereka buat, tanpa perlu repot-repot meretas sistem itu.

Tentu, membuka backdoor akan menimbulkan masalah serius pada layanan atau aplikasi. Membuka backdoor artinya sama dengan membuat percuma teknologi enkripsi yang dipasang dalam sistem itu. Kasus terkenal tentang backdoor adalah kasus iPhone di San bernardino. FBI, meminta Apple membuat backdoor untuk membuka iPhone milik seorang tersangka kasus pembunuhan menggunakan sejata api yang menewaskan 14 orang di San bernardino bernama Syed Farook. FBI, dikatakan kewalahan dan menyerah terhadap enkripsi di iPhone milik tersangka. Padahal, data-data di dalam iPhone itu, akan digunakan pihak FBI membongkar kasus tersebut secara keseluruhan.

Meskipun bertujuan untuk mengungkap kejahatan, Apple dengan tegas menolak permintaan tersebut. Membuatkan backdoor pada iPhone, sama artinya dengan membongkar atap rumah saat hujan deras tiba. Enkripsi yang mempu melindungi informasi penggunanya, seketika akan percuma apabila Apple mengiyakan permintaan FBI.

Tetapi jelas, dalam konteks terorisme, tanpa kehadiran backdoor, sulit bagi pihak-pihak yang berkepentingan membasmi terorisme dengan layanan atau aplikasi yang dari ujung ke ujung, telah dilengkapi teknologi enkripsi.

Maka demikian, memang sudah sepantasnya para perusahaan-perusahaan teknologi, beserta pihak terkait, memikirkan cara-cara untuk. PT Bestprofit, Bestprofit.

PT Bestprofit – Lolos Sensor Dengan VPN

Lolos Sensor Dengan VPNPT Bestprofit – Di dunia maya hingga hari ini, terdapat lebih dari 1 miliar situsweb yang bisa diakses pengguna internet. Jumlah pengguna internet sendiri, per akhir Maret 2017, lebih dari 3,7 miliar. Dunia maya bukan hanya tempat bagi situsweb semata. Aplikasi ponsel pintar, juga mengambil tempat di dunia virtual tersebut. Data terbaru, ada lebih dari 3 juta aplikasi yang mendiami toko aplikasi Google Play bagi perangkat Android. Baik situsweb maupun aplikasi ponsel pintar yang ada, jelas menawarkan layanan berbeda-beda untuk dinikmati penggunanya.

Sayangnya, tidak semua situsweb dan aplikasi di dunia maya itu bisa digunakan layanannya karena adanya sensor. Di beberapa negara, sejumlah situsweb dan aplikasi penting bahkan tidak bisa diakses karena adanya pembatasan dari pemerintah.

Secara lebih luas, merujuk data yang dipublikasikan VPNMentor, Korea Utara didaulat sebagai negara dengan tingkat penyensoran atau pemblokiran situsweb tertinggi di dunia. Selanjutnya, berturut-turut, Somalia, Iran, Cina, Eritrea, Suriah, Guinea Khatulistiwa, Uzbekistan, Vietnam, dan Arab Saudi masuk ke dalam 10 besar negara dengan tingkat pemblokiran tertinggi di seluruh dunia. Negara-negara yang masuk ke 10 besar sebagai negara yang melakukan sensor tertinggi tersebut, diberi rating 1 dari 10. Semakin kecil rating, semakin tinggi tingkat penyensoran.

Berbanding terbalik dengan negara-negara di atas, dari riset yang sama, Estonia, sebuah negara yang berbatasan langsung dengan laut Baltik, didaulat sebagai negara dengan tingkat penyensoran atau pemblokiran terkecil. Berturut-turut, negara-negara seperti Islandia, Kanada, Jerman, Amerika Serikat, Australia, Jepang, Inggris Raya, Perancis, dan Portugal, masuk ke dalam 10 besar sebagai negara dengan tingkat penyensoran atau pemblokiran terkecil. Negara-negara tersebut, menerima rating 10 atas kenyataan bahwa di negara-negara tersebut, minim terjadi penyensoran.

Dari kedua data yang saling bertolak belakang tersebut, negara-negara yang sering melakukan sensor atau blokir, sebagian besar berada di wilayah Asia. Sementara negara-negara dengan tingkat sensor atau blokir paling minim, sebagian besar berada di wilayah Eropa.

Lolos Sensor Dengan VPN

Indonesia ternyata tidak termasuk negara yang ekstrem dalam artian banyak memblokir atau terlalu bebas. Pemerintah Indonesia memberlakukan aturan pemblokiran melalui UU ITE. Yang terbaru, pemerintah memblokir 11 Domain Name Server (DNS) yang terkait dengan Telegram. Dengan pemblokiran tersebut, masyarakat Indonesia tidak bisa mengakses domain-domain tersebut. Selain Telegram, setidaknya ada 2 layanan internet yang cukup besar yang tidak bisa dinikmati warganet Indonesia. Kedua layanan tersebut adalah Vimeo serta Reddit. Baik Vimeo maupun Reddit, keduanya diblokir di tahun 2014 lalu.

Secara menyeluruh, hingga akhir 2015 kemarin, Pemerintah Indonesia melalui Kominfo telah memblokir 766.394 situsweb. Merujuk data VPNMentor, Indonesia diberi rating 3,4, tepat berada di bawah Singapura dengan rating 3,5.

Dalam urusan pemblokiran situsweb, ada cukup banyak alasan digunakan. Mulai dari suatu layanan internet mengandung konten pornografi, SARA, pembajakan, hingga berupa perlindungan pemerintah terhadap pemain-pemain lokal. Untuk alasan terakhir, Cina merupakan negara yang diketahui melakukan pemblokiran, salah satunya sebagai upaya melindungi layanan-layanan berbasis lokal yang mereka miliki. Di negara tirai bambu itu, hingga 2010, Cina telah memblokir 1,3 juta situsweb. Hampir segala layanan internet terkenal yang umum dikunjungi masyarakat internet dunia, memiliki versi Cina-nya di sana. Dari mulai Baidu yang merupakan kembaran Google, hingga Alibaba yang merupakan oposisi Amazon.

Guna mengakali pemblokiran suatu situsweb atau aplikasi ponsel pintar, VPN alias Virtual Private Network, hadir sebagai penyelamat.

Secara sederhana, VPN merupakan suatu koneksi privat yang berjalan di atas koneksi publik yang disediakan oleh perusahaan provider internet. Secara teknis, VPN menempatkan server lain antara perangkat yang digunakan pengguna internet untuk terhubungan ke suatu layanan internet, dengan server tempat layanan internet bersemayam. Dengan demikian, secara sederhana, penggunaan VPN bisa “menyembunyikan” identitasnya atas apa yang ia lakukan dan kunjungi di internet.

Merujuk data yang dirilis Statista, pada tahun 2015, 27 persen pengguna internet dunia menggunakan VPN untuk bisa mengakses situs yang diblokir oleh pemerintah.

Dengan memanfaatkan VPN, pengguna internet bisa leluasa mengakses layanan-layanan berbasis internet yang diblokir oleh pemerintah.

Selain untuk meloloskan diri dari sensor pemerintah, VPN juga diketahui dimanfaatkan untuk lolos dari pemblokiran suatu situsweb atau layanan internet di tempat kerja. Diketahui, 26 persen pengguna internet dunia, memanfaatkan VPN untuk tujuan demikian. Memang, di beberapa perusahaan, mengakses Facebook, Twitter, atau Youtube, merupakan hal terlarang bagi seorang pekerja, terutama pada jam kerja.

Sejumlah 31 persen pengguna internet dunia juga memanfaatkan VPN untuk tujuan privasi. Diketahui, informasi pribadi pengguna internet, sangat sering dikumpulkan perusahaan internet guna kepentingannya sendiri. Menyembunyikan diri melalui VPN untuk privasi, jelas merupakan langkah baik untuk terhindar dari jebakan perusahaan-perusahaan demikian.

Sayangnya, meskipun VPN seakan memberikan angin segar bagi privasi, merujuk Wired, dari penelitian yang dilakukan Australia Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization, diketahui bahwa 80 persen VPN, terutama VPN mobile (VPN yang khusus dibuat untuk perangkat bergerak seperti ponsel pintar) memiliki masalah perihal enkripsi. Sebanyak 80 persen dari 283 VPN tersebut, diketahui tidak melakukan enkripsi sama sekali atas layanan yang mereka tawarkan.

Lebih parahnya, aplikasi VPN mobile yang diteliti tersebut, 82 persennya meminta akses pada informasi pribadi pada perangkat milik si pengguna. Hal tersebut jelas merupakan kasus privasi yang cukup serius yang harus segera ditangani. Mengingat, secara umum, masyarakat menyangka bahwa VPN merupakan kata lain dari perlindungan privasi. Merujuk pada salah seorang peneliti, VPN-VPN yang mereka teliti, “digunakan oleh sepuluh juta pengguna di seluruh dunia.”

Salah satu alasan mengapa banyak VPN yang tidak benar-benar memberikan aspek privasi bagi penggunanya adalah fakta bahwa VPN yang tersedia di pasaran, mengusung dua pendekatan berbeda. Pertama, VPN berbayar. Kedua, VPN gratisan. Padahal, mengelola sebuah VPN jelas membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Narseo Vallina-Rodriguez, peneliti dari International Computer Science Institute mengungkapkan, “(secara aspek) ekonomi (VPN gratis) tidak masuk akal, karena ketika kamu mulai melihat aplikasi ini, kebanyakan dari aplikasi tersebut tersedia secara gratis, tapi memelihara infrastruktur online sebenarnya sangat mahal.”

Tentu, mengakali agar bisa mengakses suatu layanan berbasis internet atau mencoba melindungi privasi dengan VPN bukanlah pilihan yang baik. Memperjuangkan kebebasan berinternet dengan melakukan edukasi pada pihak-pihak terkait, meskipun tentu saja harus melalui jalan berliku, merupakan suatu langkah yang jauh lebih baik.

PT Bestprofit, Bestprofit.

Best Profit : Pengaruh Cina pada Masjid-masjid (Tua) di Jakarta

Best Profit : Di jantung kawasan pecinan Jakarta, berdiri sebuah masjid dengan bentuk bangunan mirip ruko, terdiri empat lantai, berbalut paduan warna merah, kuning, dan hijau. Ia dihiasi delapan lampion kecil. Namanya Masjid Lautze.

Bagi Anda yang menyempatkan diri berjalan-jalan santai selama Ramadan, Anda bisa mendatangi masjid tersebut di Jalan Karang Anyar, kawasan Sawah Besar. Kawasan ini, di masa kolonial Belanda, disebut Weltevreden, yang menjadi permukiman utama orang-orang Eropa di pinggiran Batavia, nama lama Jakarta. Kawasan ini pada masa Hindia Belanda dikenal berkat suasananya yang tenang dan menerbitkan kepuasan. Tentu saja kondisinya berbeda dengan sekarang.

Masjid Lautze sekilas seperti salah satu kelenteng, rumah ibadah umat Konghucu. Namun, jika Anda memasukinya, Anda segera melihat 15 kaligrafi yang memenuhi dinding masjid, berpadu dengan kaligrafi beraksara Han.

Ketua Yayasan Haji Karim Oei, H.M. Ali Karim Oei, mengatakan bahwa ide arsitektur atap masjid bercorak kelenteng lahir dari gagasan bahwa mereka berdakwah di lingkungan mayoritas Tionghoa. Arsitektur dan interior masjid semacam ungkapan mengakrabkan diri kepada warga peranakan Tionghoa setempat, yang gilirannya memudahkan pengurus masjid menjalankan dakwah Islam.

“Kalau kita bikin model kubah,” ujar Ali, “mungkin ada kekhawatiran orang pergi ke masjid. Kalau bentuknya seperti ini, mereka merasakan nyaman kayak rumah sendiri.”

Masjid Lautze berdiri pada 1991. Misinya tentu saja berdakwah, selain memberi tempat ibadah yang layak bagi muslim Tionghoa yang tinggal di lingkungan tersebut. Berdasarkan data Yayasan, sejak 1997 hingga April 2017, sudah 1.311 warga nonmuslim yang memutuskan masuk Islam, dan 95% di antaranya adalah Tionghoa peranakan.

Naga Kunadi, 41 tahun, salah satu peranakan, memutuskan mualaf pada 2002 saat usianya 26 tahun. Kunadi, yang memiliki nama Tionghoa, Qiu Xue Long, mengatakan sudah lama mempelajari Islam, dan mantap atas pilihan keyakinannya sesudah rutin mengunjungi Masjid Lautze.

“Banyak di antara teman-teman mualaf pandai membaca ayat suci Alquran dengan fasih. Sungguh menakjubkan dan mengharukan,” kata Kunadi.

Masjid Lautze tergolong modern untuk ukuran dakwah muslim Tionghoa-Indonesia. Namun, dalam pelbagai literatur sejarah, pengaruh Tionghoa dalam arsitektur masjid-masjid tua sudah setua usia perkembangan Islam di Nusantara.

Anda bisa menelusurinya di daerah Jakarta Barat. Di sini Anda bisa menjumpai Masjid Jami Angke, Masjid Jami Kebon Jeruk, Masjid Luar Batang, Masjid Langgar Tinggi—untuk menyebut beberapa—yang dibangun dan dipengaruhi oleh orang-orang Cina pada masa kolonial.

Masjid Jami Angke mungkin masjid kuno yang paling menarik, baik dari segi sejarah maupun arsitekturnya. Masjid yang terletak di Kampung Bali ini didirikan oleh orang Cina pada masa Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC), maskapai multinasional pertama di dunia. VOC menguasai kerajaan-kerajaan di Nusantara, lewat jalan pedang dan meriam maupun misionaris, dengan pusat kegiatan ekonomi dan politik di Batavia.

Muhammad Abyan Abdilah, pengurus Masjid Jami Angke, mengatakan bahwa selama ini orang meyakini masjid tersebut berdiri pada 2 April 1761. Namun, ada pula versi lain yang menyebut tahun 1751. Belakangan ada versi baru dari arsip foto dalam dokumen Belanda yang menyebutkan tahun 1712. Sangat mungkin kedua tahun yang disebutkan di awal itu merujuk waktu renovasi masjid.

Meski begitu, dalam banyak catatan sejarah dan penuturan, pengaruh arsitektur Cina di Masjid Angke terkait erat pada peristiwa pembantaian rasial terhadap orang-orang Cina di kota pelabuhan Batavia pada 1740.

Bernama Geger Pacinan, sekitar 10 ribu orang Tionghoa dibantai dalam salah satu peristiwa paling mencolok dalam kolonialisme abad 18. Ia merupakan puncak dari politik rasial dan represi pemerintahan kolonial serta dipicu harga gula yang anjlok. Warga Tionghoa yang selamat lantas mencari perlindungan di Kampung Bali, kini kelurahan Angke.

“Dengan tragedi itu, warga Cina dilindungi oleh pribumi Islam Banten. Mereka berdampingan dengan pribumi Bali, Jawa dan Moors (keturunan Arab Afrika). Tidak sedikit dari keturunan Cina berpindah keyakinan menjadi muslim,” kata Abdilah.

Singkatnya, Masjid Jami Angke lantas berdiri, yang memadukan arsitektur bercorak budaya Jawa, Bali, Cina, dan Eropa. Atapnya berbentuk tumpang susun, persis seperti Masjid Demak di Jawa Tengah, salah satu pusat penyebaran Islam pada abad 15. Mustaka alias kepala Masjid Jami Angke melambangkan kerukunan.

Adolf Heuken, seorang paderi Katolik kelahiran Jerman yang banyak menulis sejarah Jakarta, menyebutkan bahwa ada sedikitnya 14 masjid tua di Jakarta, dan tiga atau empat di antaranya dibangun oleh orang Tionghoa. Salah duanya, selain Masjid Jami Angke, adalah Masjid Kebon Jeruk, yang berdiri pada 1786.

Pertemuan Beragam Budaya

Menurut G.F. Pijper, sejarawan Belanda yang menulis Fragmenta Islamica, masjid di Jakarta tak cuma dibangun di atas fondasi yang padat, tetapi di atas tiang-tiang kolong, seperti Masjid Langgar Tinggi. Atap bangunannya tak hanya bertumpang; tapi ada juga beratap kubah.

Tawalinuddin Haris, dosen arkeologi Islam dari Universitas Indonesia, dalam Masjid-masjid Bersejarah di Jakarta (2010), menyebutkan salah satu ciri menonjol dari masjid-masjid ini adalah pengaruh budaya luar terutama dari Cina dan Eropa.

Pengaruh Cina, tulisnya, tampak pada jurai atap yang mencuat seperti pada kelenteng, sebagaimana terlihat pada Masjid Jami Angke. Demikian pula cat warna merah dan kuning-emas.

Adapun pengaruh Eropa terukir pada motif hias bergaya barok pada lubang angin di atas pintu, seperti pada Masjid Kebon Jeruk dan Masjid Jami Angke. Tiang-tiang bergaya dorik dan pemasang kusen pintu menonjol mengingatkan pada rumah Belanda.

Demikian pula terali jendela yang membuat bangunan masjid terlihat lega. Ini tampak pada Masjid Jami Angke, Masjid Al-Alam Marunda, Masjid Al-Alam Cilincing, Masjid Jami Tambora, dan Masjid Al-Manshur. Ciri ini mengingatkan pada rumah-rumah tua Belanda.

Sebaliknya, kehadiran atap kubah dan kaligrafi Arab bisa dipandang sebagai pengaruh Timur Tengah.

Pengaruh arsitektur Jawa tergambar pada atap tumpang susun. Ciri ini terdapat pada Masjid Jami Angke, Masjid Mangga Dua, Masjid Jami Tambora, Masjid Krukut, Masjid Kampung Baru, Masjid As Salafiyah, Masjid Al-Alam Marunda, Masjid Al-Alam Clincing, dan Masjid Jami Kebon Jeruk. Sementara motif bunga pada lubang angin di atas pintu berwarna keemasan adalah pengaruh budaya Bali.

Menurut Haris, masjid-masjid di Nusantara menyimpan sejarah panjang persinggungan budaya antara masyarakat setempat dan bangsa-bangsa lain, seperti India, Arab, Cina, dan Eropa. Persinggungan itu bisa bermula dari motif dagang, bisa pula dari motif penaklukan alias kolonialisasi.

“Munculnya pelbagai unsur Hindu, Jawa, Arab, Cina, India pada seni bangunan masjid di Nusantara, dapat dipandang sebagai bentuk kearifan dan kegeniusan lokal,” kata Haris. “Ia mewujudkan sebuah bangunan ibadah yang sarat makna filosofis dan indah.” Best Profit