PT Best Profit Futures Jambi

Category Archives: Uncategorized

Kisah Klasik Penumpang KRL se-Jabodetabek

PT BESTPROFIT – Suara hentakan kaki berderap-derap di lantai dua Stasiun Sudirman, Senin pekan lalu. Mereka berhamburan menuju peron dua stasiun saat pemberitahuan kereta komuter menuju Bogor tiba. Tak sedikit yang rela berlarian meski napas sudah ngos-ngosan. Sesudahnya, mayoritas pekerja kantoran di kawasan Sudirman- Thamrin ini harus berdesak-desakan di dalam kereta.

Mereka dalam situasi jam puncak: sejak pukul 5 sore hingga 8 malam, puluhan gerbong KRL bakal terus penuh penumpang. Berjejalan. Dorong-mendorong. Teriakan di sana-sini. Penuh keringat. Muka melas. Menjaga gravitasi tanpa pegangan agar tak sempoyongan mengikuti laju KRL dan desakan penumpang lain.

Pada jam puncak itulah realitas komuter berada dalam titik paling ekstrem. KRL yang normalnya muat 250 penumpang bisa naik hingga 2 sampai 3 kali lipat. Sesudah karavan manusia yang mengantre di bibir peron terangkut oleh tiga kereta dengan interval tiga menit sekali di Stasiun Sudirman, rombongan penumpang lain di belakang kembali mendesak dan mengisi peron yang semula kosong, dan butuh sekitar 10-an menit lagi KRL tiba menjemput mereka.

Bila cuaca hujan, situasinya kacau-balau. Sinyal rusak. Antrean lebih beringas. Gerbong licin.

Seluruh tenaga operasional PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) yang dikerahkan saban jam puncak harus waspada ekstra. Sesekali ada penumpang yang terjatuh, ada yang keseleo, ada juga yang pingsan. Bila sudah begitu, petugas pos kesehatan harus bekerja sigap. BEST PROFIT

Di antara penumpang itu, saya mengikuti Nurahman. Ia salah satu dari 1 juta penumpang KRL per hari. Kami berdesak-desakan dalam gerbong di Jalur Sudirman-Cakung sepanjang 14,7 kilometer, dengan waktu waktu tempuh 45-an menit.

Nurahman bekerja di Plaza Indonesia, salah satu pusat belanja paling beken di ibu kota Indonesia, dan ia bergabung dalam komunitas Jalur Bekasi (atau kerap disingkat JB). Mengenakan kemeja kotak-kotak cokelat, Nurahman menyampirkan tas punggung dia di depan dada, khas penumpang kereta komuter se-Jabodetabek.

Ia bicara panjang lebar soal pengalamannya sebagai komuter selama setahun terakhir.

Menurutnya, jarak tempuh Sudirman-Manggarai bisa 6-8 menit. Tetapi, bila ada gangguan, waktu tempuhnya bisa sampai satu jam. Biasanya kereta komuter menuju Manggarai tertahan di tiga titik: di samping halte Busway, di bekas Stasiun Mampang, dan terakhir di areal perumahan warga.

Nurahman berkata Jalur Bekasi terkenal paling “menyiksa” di antara jalur komuter lain. Muasalnya, trek ini harus berbagi dengan kereta jarak jauh antar-provinsi seperti Jakarta-Solo, yang bikin KRL—yang memang disetel untuk berhenti jarak pendek—harus mengalah sehingga bikin waktu perjalanannya bertambah.

Kondisi itu bakal lebih parah jika para komuter pulang di atas pukul 7 malam. Di jam-jam itu kereta jarak jauh sering melaju. Kereta-kereta ini diberi prioritas di Stasiun Jatinegara, di bekas Stasiun Cipinang, dan Stasiun Cakung.

“Kalau sudah berhenti di Cipinang, kita masuk sel,” kata Nurahman, akhir Oktober lalu, kepada saya.

“Masuk sel” adalah istilah komunitas komuter untuk KRL yang lajunya dihentikan seketika, bisa lima menit sampai setengah jam, untuk didahului oleh kereta-kereta jarak jauh.

Penumpang Pingsan

Berdasarkan data dari PT Kereta Api Indonesia Daerah Operasi 1 Jakarta, setiap hari ada 118 kereta jarak jauh dan 28 kereta barang dari 360 kereta yang melintasi Stasiun Cakung. Artinya setiap hari, kereta komuter berbagi jalur dengan sejumlah angkutan kereta lain tersebut.

Persoalan bertambah lagi ketika kereta komuter pagi yang berangkat pertama dari Stasiun Cikarang. Butuh waktu 30 menit untuk mencapai Stasiun Bekasi. Bahkan sangat sering para penumpang dari Stasiun Kranji, Cakung, dan Klender Baru tak bisa diangkut ke Manggarai karena di Stasiun Cibitung, Tambun, dan Bekasi Timur sudah padat penumpang.

Kepadatan kereta komuter memang lebih parah di pagi hari. Semua pekerja kantor memiliki jadwal masuk yang sama, sekitar pukul 8-9 pagi. Pada pukul 6-8 pagi, penumpang membeludak saban hari di Manggarai, stasiun transit dari banyak jalur KRL. Mereka yang pindah dari Bekasi ke Sudirman, Jakarta Kota, Bogor, Tangerang, Duri, dan Cikarang harus turun di Manggarai.

Saya kembali bertemu Nurahman untuk mengikutinya dalam perjalanan pagi dari Depok menuju Sudirman. Kondisinya nyaris sama sebagaimana yang diceritakan Nurahman beberapa waktu lalu.

Di dalam gerbong, saya melihat ada seorang ibu paruh baya yang tenggelam di tengah lautan manusia. Cuma terlihat kerudung biru, dan para penumpang lain saling berimpit. Ibu itu, bernama Fatimah, berupaya menggeser badan agar ia bisa sedikit menghirup udara dan tubuhnya tidak tergencet. Ia teriak-teriak agar penumpang di sekitarnya memberi sedikit ruang sembari bilang agar tidak mendorong-dorongnya. BESTPROFIT

Bagi komuter Jalur Bekasi seperti Nurahman, yang berhenti di peron satu saat tiba di Stasiun Manggarai, ia harus menuju peron tujuh untuk KRL tujuan Sudirman. Di momen inilah sebagian penumpang tak peduli atas keselamatan diri sendiri: mereka menerobos pagar pembatas agar segera terangkut.

“Setiap pagi, orang Bekasi olahraga dari ujung ke ujung di Manggarai untuk mendapat kereta ke Sudirman,” katanya.

Di Stasiun Sudirman, saya melihat seorang komuter perempuan yang bersandar di bangku jemuran peron setelah pingsan saking sesaknya lautan manusia.

Pantoni, seorang petugas stasiun, mengatakan perempuan tersebut korban ketiga yang pingsan hari ini. “Tadi ada ibu hamil juga yang pingsan,” katanya.

Ia berkata, jumlah penumpang yang sakit hari ini lebih sedikit dibanding hari kemarin. Pada Selasa, 24 Oktober lalu, ada lima penumpang yang pingsan di Sudirman.

“Biasanya stasiun besar ada pos kesehatan,” kata Pantoni.

 

‘Apa Perlu Saya Bawa Test Pack Setiap Hari?’

Bagi Anda yang memakai Jalur Jakarta–Bogor, dan memulainya dari Stasiun Jakarta Kota, Anda sangat mungkin merasakan situasi yang agak lega meski sudah memasuki jam pulang kerja. Namun, setelah kereta melewati tiga stasiun pertama—Jayakarta, Mangga Besar, dan Sawah Besar—Anda sudah mulai merasakan kepadatan yang menyiksa di dalam gerbong. Cerita berikutnya adalah kisah klasik para komuter: menguat-nguatkan perasaan dan kesabaran demi tiba di stasiun tujuan.

Di antara penumpang dalam gerbong yang saya temui adalah Fany. karyawan Bank DKI Jakarta ini naik dari Stasiun Juanda menuju lokasi tujuan di Stasiun Universitas Indonesia. Sudah tiga tahun ini ia pergi-pulang dengan KRL. Dan ia, seperti lazimnya cerita para penumpang lain, mengakrabi bermacam gangguan KRL, sehingga pelan-pelan ataupun secara terpaksa sudah dianggap sebagai kenormalan.

Misalnya saja, saat kami menaiki KRL yang sama itu, kereta mendadak mogok di antara Stasiun Cawang dan Duren Kalibata, tepat saat pukul 18.10, dan kembali normal setelah lima menit.

Di antara jeda itu suasana dalam gerbong sontak riuh. Pendingin udara mati. Para penumpang sigap membuka jendela. Oksigen mendadak menipis. Panas luar biasa. Seorang penumpang, yang berdiri di dekat pintu, sigap membuka pintu darurat agar gerbong tak pengap. Dari pinggiran lintasan kereta, terdengar teriakan seorang pria menawarkan jasa ojek.

Penumpang lain yang saya temui bernama Fitriyani. Ia penglaju Jalur Bojonggede-Cikini. Fitriyani tengah hamil lima bulan, dan ia salah satu dari 72 persen penumpang komuter berusia 18-30 tahun. Ia seharusnya menempati bangku prioritas, meski faktanya berbeda.

“Saya masih heran, kenapa masih ada yang sering mempertanyakan kehamilan saya tiap meminta bangku prioritas? Apa perlu saya bawa-bawa test pack setiap hari?”

Menghindari Jalur Manggarai

Persoalan utama jalur KRL di Stasiun Manggarai sudah jadi rahasia umum. Dan karena itu para komuter lebih memilih menghindari stasiun transit tersebut.

Salah satu dari komuter yang selalu memilih jalur alternatif adalah Tika Oktavia, komuter Jalur Serpong-Jakarta Kota. Ia menghindari Jalur Manggarai demi menghindari antrean masuk stasiun. Ia semula menggunakan jalur Sudimara, Tanah Abang, Manggarai, lantas Jakarta Kota. Tetapi, belakangan, ia lebih memilih menunggu lama di stasiun sehingga perjalanannya kini adalah Sudimara, Tanah Abang, Kampung Bandan, dan Jakarta Kota.

Hal serupa diungkapkan Oskandar Bramanto Martha, komuter Jalur Depok. Ia lebih memilih turun di Stasiun Tebet karena kerap kali ia harus menunggu antrean 5 hingga 15 menit di Manggarai demi kereta jarak jauh melintasi lebih dulu.

Momok stasiun Manggarai sebenarnya sudah jadi perhatian Kementerian Perhubungan. Dan saat ini Stasiun Manggarai dalam tahap pembangunan 12 jalur lintasan. Enam lintasan di lantai pertama, enam lintasan di lantai dua.

Selain itu ada jalur penyeberangan bawah tanah, yang sudah dibuka meski belum rampung benar karena sebagian tangga untuk eskalator belum ada. Terowongan ini dibuat demi memudahkan komuter saat ada kereta transit menutupi peron lain. Manggarai juga diplot oleh manajemen PT KCI sebagai hub kereta Bandara dan LRT.

“Kuncinya di Stasiun Manggarai. Kalau stasiun selesai pada 2019, permasalahan antrean masuk bisa selesai,” kata Nurahman.

Sumber: tirto.id

Petani Tambak: Kami Terima Kasih Sekali Pak Jokowi…

Presiden Joko Widodo mengendarai sepeda motor trail saat kunjungan kerjanya ke Muara Gembong, Bekasi, Rabu (1/11/2017)

BESTPROFIT – Petani tambak udang dan bandeng di Kecamatan Muara Gembong, Bekasi, Jawa Barat, ketiban durian runtuh.

Pemerintah merevitalisasi tambak-tambak tradisional mereka menjadi modern dan berkapasitas besar.

Revitalisasi itu merupakan bagian dari program Perhutanan Sosial untuk Pemerataan Ekonomi, salah satu program prioritas nasional.

Salah seorang petani tambak, Nahar (42), mengungkapkan, sebelumnya dia mengelola tambak secara tradisional.

“Tradisional artinya, ya, tebar bibit, lalu didiamkan saja, dibiarkan tumbuh,” ujar Nahar ketika berbincang dengan Kompas.com di sela-sela peninjauan Presiden Joko Widodo di tambak itu, Rabu (1/11/2017).

Metode ini tidak cukup membawa Nahar dan petani tambak lain ke arah sejahtera. Satu hektar tambak hanya menghasilkan maksimal 50 kilogram udang.

Minimal mati seluruhnya alias tidak ada yang hidup.

Pendapatan mereka tidak menentu. Jika sedang untung, Nahar mengantongi uang hingga Rp 3.500.000.

Namun, jika sedang buntung, pria yang sudah 13 tahun menjadi petani tambak itu terpaksa gigit jari karena merugi seluruhnya.

Kini pemerintah merevitalisasi 80 hektar tambak milik Nahar dan rekan-rekannya menjadi semi-intensif. Ada 40 petani tambak yang menerima program ini. PT BESTPROFIT

Pemerintah menyulap tambak Nahar dan rekan-rekan, mulai dari diberi alas untuk menjaga keasaman air, penempatan kincir sebagai penjaga kadar oksigen, pemberian mesin pemberi pakan yang bisa dikontrol dari jarak jauh, hingga pemberian bibit udang vaname.

“Kata pendamping dari KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan), sih, 1 hektar tambak ini bisa dapat sampai 7,5 ton udang per panen. Kan, panennya setiap dua sampai dua setengah bulan sekali,” ujar Nahar.

Artinya, Nahar dapat meraup untung hingga di atas Rp 500 juta sekali panen.

Apalagi, pemerintah telah menyediakan salah satu BUMN sebagai pembeli hasil petani tambak.

“Makanya saya semangat banget ngerjain ini. Kami terima kasih sekali sama Bapak Jokowi karena sudah diberikan semuanya ini,” ujarnya.

Ekspor udang

Presiden Joko Widodo yang meninjau area tambak itu menggunakan motor trail mengungkapan optimismenya atas masa depan tambak Muara Gembong.

Ia berharap produksi udang di sana tidak hanya untuk memenuhi pasar Indonesia, tetapi juga dapat diekspor.

Posisi Indonesia saat ini adalah pengekspor udang ketiga terbesar di dunia di bawah India dan Vietnam.

Jika produksi udang di tambak Muara Gembong ini baik, Presiden Jokowi yakin Indonesia bergeser ke posisi pertama.

BEST PROFIT “Kalau tambak-tambak di sini berjalan, tambak-tambak di Lampung juga, tambak-tambak di Kalimantan Utara, semuanya, ya, nomor satu,” ujar Presiden Jokowi.

Dampak lain yang diyakini Presiden Jokowi juga mampu mengangkat kesejahteraan petani tambak setempat adalah soal penyerapan tenaga kerja.

Sebab, 8.000 meter persegi tambak dapat menyerap hingga 50 pekerja.

“Coba itu kalikan saja dengan total semua (80 hektar) lahan. Berapa (tenaga kerja) yang terserap? Sangat banyak,” ujar Presiden Jokowi.

Sumber: kompas.com

Penyelenggara pemilu di Aceh diminta jangan latah gugat UU Pemilu

BEST PROFIT – Rencana sejumlah komisioner Komisi Independen Pemilihan (KIP) di Aceh secara personal menggugat Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum menuai kritik. Penyelenggara diminta agar tak latah menyikapi aturan tersebut.

Pengamat Politik Aceh Aryos Nivada menilai, bila gugatan dilayangkan bukan secara kelembagaan penyelenggara pemilu, dipastikan akan kandas.

“Jadi kuncinya kalau perkara ini mau dipersidangkan adalah lembaga KIP Aceh yang menggugat. Kalau person pasti ditolak. Karena ini menyangkut kelembagaan. KPU RI kemarin kan ketika uji materi gugat secara kelembagaan bukan personal,” kata Aryos Nivada, MA, Selasa (19/9) di Banda Aceh kepada merdeka.com.

Menurut Aryos, keberadaan pasal 557 yang disengketakan itu, Komisi Independen Pemilihan (KIP) di Aceh hirarkinya memang dari Komisi Pemilihan Umum (KPU). Akan menjadi aneh bila kemudian komisioner KIP secara personal mengguggat keberadaan lembaganya sendiri.

Aryos justru mengaprsiasi secara kelembagaan KIP Aceh tidak turut terjebak dalam polimik Undang-Undang Pemilu. Karena kelembagaan KIP, sebutnya, tidak dibenarkan untuk menafsirkan undang-undang.

BESTPROFIT “Hal itu sudah benar karena memang secara tupoksi KIP hanya berwenang dalam penyelenggara pemilu, yaitu pengendalian seluruh tahapan,” jelasnya.

Kendati demikian, secara personal Aryos Nivada menyebutkan itu hak kewarganegaraan mereka masing-masing dalam menyampaikan pendapat. Terlebih apabila mereka merasa bahwa akibat penerapan UU Pemilu tersebut merugikan hak konstitusionalnya secara langsung.

“Secara personal. Kedua Komisioner KIP Aceh sah-sah saja mendaftarkan gugatan terkait UU Pemilu. Kerugian itu harus jelas menimbulkan hubungan sebab akibat (causal verband ) antara kerugian dan berlakunya undang-undang yang dimohonkan untuk diuji. Hal itulah yang harus dibuktikan pihak pihak ini dalam persidangan di MK,” jelasnya.

Aryos mengaku heran dengan reaksi salah seorang anggota KIP yang merasa kecewa karena elemen sipil memberi masukan dan saran terhadap KIP Aceh apabila hendak menggugat UU Pemilu.

“Saya tidak tahu apakah beliau kurang ngopi atau piknik. Yang jelas dalam pernyataan kami tidak ada mengatakan KIP Aceh tidak independen selama menyelenggarakan pemilu,” sebutnya.

Adapun dua komisioner yang menggugat pasal 557 Undang-Undang Pemilu adalah Hendra Fauzi dan Robbi Syahputra yang merupakan komisioner KIP Aceh dan sejumlah komisioner KIP tingkat kabupaten/kota.

Hendra Fauzi mengaku, gugatan ini untuk mempertahankan regulasi kekhususan Aceh agar tidak tercabut satu persatu. Gugatan ini juga, Hendra mengaku bukan untuk kepentingan personal dirinya, tetapi untuk kepentingan martabat rakyat Aceh. PT BESTPROFIT

“Ini murni untuk kepentingan Aceh. Sekarang aturan pemilu tercabut, tak tertutup kemungkinan aturan lainnya satu per satu dicabut oleh pemerintah pusat,” tukasnya.

 

Sumber: merdeka.com

Pasar Glodok, Sentra Ekonomi Jakarta, Sekarat di Usia Senja

BEST PROFIT – Pada 1629, di masa Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) alias kongsi dagang Hindia Belanda, orang-orang Tionghoa mulai bermukim secara terpusat di Glodok. Mereka bagian dari minoritas yang kerap diawasi.

Keberadaan mereka justru menjadi pemicu gairah perekonomian—selain target diskriminasi dalam setiap pergolakan politik dari masa ke masa. Tak heran kawasan itu lantas berkembang dan identik sebagai sentra elektronik dan kuliner. Ia menyedot para migran ekonomi selama ratusan tahun untuk mengadu nasib sebagai pedagang, yang tersebar di Plaza Glodok, Pasar Glodok, Harco Glodok, dan Mangga Dua Square.

Pada 14 Mei 1998, gelombang kerusuhan melumpuhkan salah satu sentra ekonomi Jakarta tersebut. Barang dagangan di kawasan Glodok dijarah, lalu diluluhlantakkan dengan cara dibakar. Meninggalkan gedung-gedung gosong yang dibiarkan kosong—jejak dari prahara 1998. Namun, beberapa tahun kemudian, sebagian pedagang bersikukuh membuka lapak di area yang hangus terbakar tersebut. BESTPROFIT

Pada 2001, Pasar Glodok, yang juga dikenal sebagai Glodok City, diambil alih pemerintah daerah DKI Jakarta sebagai unit pasar besar untuk direkonstruksi. Pedagang Tionghoa ramai-ramai berpindah ke pasar itu. Sepasang Liong Samsi atau hewan singa dipajang di pintu masuk utama—menyiratkan simbol rasa aman dan nyaman. Bank DKI Jakarta menjadi satu-satunya penyewa besar.PT BESTPROFIT

Pada awal 2013, masih dalam bayangan horor 1998, Pasar Glodok kembali jadi target aksi teror oleh kelompok Aman Abdurrahman. Nama terakhir adalah pemimpin Jamaah Ansharut Daulah (JAD)—disebut-sebut berafiliasi dengan Negara Islam Irak (ISIS)—yang dibui pada 2010 atas keterlibatannya dalam jaringan teror di Aceh Besar dan baru-baru ini ditetapkan oleh kepolisian Indonesia atas perannya dalam serangan Thamrin, 14 Januari tahun lalu.

Aksi teror di Glodok, yang direncanakan oleh tiga belas orang, itu bisa ditangkal oleh Polri setelah bahan kimia racikan sebagai bom yang dipasang di beberapa titik strategis gagal meledak.

Hingga kini, Glodok tak lepas dari bayang-bayang teror. Menjadi hal lumrah jika lusinan pedagang Pasar Glodok, yang saya temui beberapa kali, memilih diam saat ditanya mengenai peristiwa kekerasan masa lalu.

Lepas dari aksi teror, dari tahun ke tahun, kawasan ekonomi Glodok tak pernah kembali mencapai kejayaannya seperti sebelum 1998. PT BEST PROFIT

Dedi, misalnya. Sejak menjadi pedagang Toko Game Astro di lantai 4 Pasar Glodok tak pernah mencicipi kejayaan penjualan lagi. Sebelumnya, ketika berjualan di Harco Glodok, Playstation dagangannya laku keras. Saat saya mendatangi kiosnya, tengah hari Selasa, 8 Agustus lalu, tak ada satu pun konsumen. Ia kini hanya mengandalkan konsumen yang loyal.

“Sepi. Tapi masih ada sajalah langganan,” ungkapnya.PT BESTPROFIT FUTURES

Begitu juga Akiong, 31 tahun, yang membuka kios ponsel dan aksesoris di lantai 1. Meski jual-beli kerap diiringi tawar-menawar, tapi dalam sehari, konsumen yang datang tak lebih dari lima orang.

Saman, bukan nama sebenarnya, sejak tiga tahun lalu merugi terus. Ia memiliki empas kios, letaknya di lantai II dan III. Ia membeli satu kios sekitar Rp165 juta. Kiosnya di lantai III tak lagi ada aktivitas dagang. Meski begitu, ia tetap harus membayar biaya listrik dan pemeliharaan saban bulan.

Biaya pemeliharaan itu dihitung Rp90 ribu tiap satu meter persegi, plus pajak Rp10 ribu. Untuk empat kios, ia harus merogoh kocek Rp2 juta per bulan. Dalam sebulan, ia membayar beban listrik sekitar Rp540 ribu.

“Bulan lalu saya tekor. Makan modal. Buat karyawan juga minus. Kalau operasional tertutup, ya masih mending. Sekarang kebanyakan minus untuk nutupi operasionalnya saja. Semua toko merasakan (hal sama),” tutur pria berusia 40 tahun ini.PT BEST PROFIT FUTURES

Kompetisi di dalam Pasar

Saman dan para pedagang kios lain juga bersaing dengan konter kecil. Konter itu berjumlah 18 unit, seukuran 1×0,5 meter persegi, berjajar mengelilingi ruang tengah. Biaya sewa per konter Rp700 ribu per bulan, termasuk biaya listrik dan pemeliharaan. Namun, konter-konter ini bisa menjual apa saja, dan barang yang dijual pun sama dengan pedagang kios.

Muhammad Ridwan, 41 tahun, pemilik warung makan Padang, menganggap PD Pasar Jaya yang mengelola Pasar Glodok menyalahi aturan soal kehadiran konter kecil yang menjual makanan.BESTPROFIT FUTURES

Saat kerusuhan 1998, dagangan Ridwan hangus. Mobil Kijang Grand Extra dan beras 2 ton miliknya dijarah. Kerugian yang ia derita nyaris Rp1 miliar. Namun, ia pantang menyerah. Usai dibangun, ia membeli lima kios di Pasar Glodok.

Lambat laun penghasilannya makin defisit. Hingga 2014, dalam sehari, rumah makannya menghabiskan 1 ton beras.

“Sekarang 5 karung paling-paling untuk 15 hari,” tuturnya.

Untuk menambah pemasukan, Ridwan menjual satu kios. Namun, orang yang membeli kiosnya bangkrut.

Setiap bulan Ridwan harus membayar biaya pemeliharaan sekitar Rp2 juta dan biaya listrik Rp700 ribu. Demi efisiensi, secara bertahap, ia mengurangi jumlah karyawan. Semula jumlah karyawan warung makannya ada 16 orang. Kini hanya dua karyawan.

“Karyawan saya tiap hari terima duit daripada pemiliknya,” ungkapnya.

Ridwan menilai, PD Pasar Jaya “sangat galak” menarik biaya pemeliharaan pasar. Jika telat sehari, tanpa peringatan lebih dulu, aliran listrik akan diputus. Namun, pihak manajemen minim inovasi, tak mau tahu bagaimana cara menarik banyak konsumen untuk datang, sehingga—harapan pedagang—pasar kembali ramai.

“Denda ada, setelah tanggal 25 sampai lewat bulan. (Denda) dihitung per bulan,” katanya.

Hal sama pernah diungkapkan oleh Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita. Ia menilai menurunnya pembeli di Pasar Glodok karena pihak manajemen “tidak inovatif.” BEST PROFIT FUTURES

“Maka, poin saya, pusat belanja harus inovatif. Kalau statis, dengan adanya kompetisi, pembeli akan pindah ke tempat lebih baik. Nah, itu dilihat dari volumenya. Kalau satu tempat ini volume penjualan meningkat, maka orang pasti akan lari ke situ,” kata Lukita.

Lukita menegaskan, untuk menarik pelanggan, mestinya pusat perbelanjaan membuat pelbagai bentuk promosi, acara, harga sewa lebih atraktif, dan menciptakan fasilitas yang membuat pengunjung nyaman.

Henry Manurung, Manajer PD Pasar Jaya untuk Pasar Glodok, membantah jika selama ini pihaknya kurang inovasi. Menurutnya, sepinya transaksi pembelian bukan terjadi di Pasar Glodok semata.

“Bukan kurang inovasi. Mana buruknya coba? Buruknya inovasi? Ini bukan bangunan baru, kok. Kalau kita menentukan sesuatu itu harus ada pembanding, bandingkan dengan yang di depan sana dan sebelahnya lagi. Semua juga sepi, kok,” ungkapnya.

Namun, Manurung melemparkan tanggung jawab ke PD Pasar Jaya pusat saat ditanya soal sejauh ini bentuk inovasi seperti apa yang sudah dieksekusi.

“Karena, kan, di sana ada kantor pemasarannya. Programnya dari kantor pusat. Kalau saya, kan, di sini operasional. Operasional, kan, enggak mengerjakan itu,” tuturnya.

Manurung mengatakan, total okupansi Pasar Glodok sebanyak 1.880 kios. Ia berkata, para pedagang yang masih aktif hanya 564 kios. Itu belum menghitung jumlah kios yang cuma buka sewaktu-waktu.

“Sekitar 70 persen yang aktif,” katanya.

Manurung beralasan, sepinya pembeli karena akses yang susah ke Pasar Glodok. Para calon pembeli lebih memilih ke tempat perbelanjaan lain ketimbang menembus kemacetan, ujarnya.BPF

Ia juga merespons celetukan Sandiaga Salahuddin Uno, wakil gubernur Jakarta terbaru yang dilantik Oktober mendatang, yang mengusulkan agar Pasar Glodok sebagai pusat olahraga dan “coworking space”.

“Glodok tidak lagi cocok untuk pedagang elektronik hari ini,” ujar Sandiaga, yang memancing respons kontroversial, pada Juli lalu.

Menurut Manurung, ide Sandiaga itu logis. “Beberapa lantai yang enggak aktif bisa dipakai,” ucapnya.

Bagaimanapun, pada 2021, masa bangunan Pasar Glodok habis. Manurung “tidak tahu” akan bagaimana nasib pasar tersebut setelahnya.

Gagap Teknologi di Era Pasar Daring

Perdagangan daring, sejak era internet, adalah salah satu lahan bisnis yang gurih. Pertumbuhannya didulang berkat semakin meluas penggunaan telepon pintar dan akses internet.

Dari data Statista, pada 2016, bisnis daring menyumbang 8,6 persen terhadap penjualan ritel global. Pada 2017, pasar daring diproyeksikan meningkat menjadi 10,1 persen.

Selain metode transaksi yang mengandalkan jaringan internet itu, belanja via online pun sensitif terhadap harga. Pembeli misalnya dimanjakan lewat ongkos kirim gratis, diskon gila-gilaan, dan promosi lewat kupon.

Menengok keadaan pedagang di Pasar Glodok yang saya temui, sebaliknya mereka mengaku kurang mampu beradaptasi terhadap perkembangan media daring.

Yongki, misalnya, berkata tidak mencoba ke cara berjualan online. “Saya gaptek,” ujar pemilik kios Kharisma Game untuk menyebut kegagapannya dalam teknologi.BESTPRO

Alhasil, Yongki hanya menjadi distributor bagi para pedagang yang bergerak di sektor e-commerce. Maka, ia hanya membuka kios buat mengisi waktu senggang. Selebihnya, kios itu menjadi gudang penyimpanan.

“Ini, kan, gedung bekas kebakaran. Feng shui-nya jelek. Seharian ini, belum ada yang beli. Kalau dihitung, ya rugi, karena saya bayar karyawan. Ini usaha cuma untuk habisin waktu,” ujarnya.

Begitu juga Akiong, 43 tahun, pedagang Kios Fun’z Cellular di lantai I, yang sengaja memilih menghindari e-commerce. Alasannya, ia enggan ambil risiko.

“Kalau via online, barang rusak pas pengiriman, mau ngadu ke mana?” katanya.

Toh, ada juga pedagang seperti Dedi, pemilik Toko Game Astro di Lantai IV. Ia telah mencoba berdagangan via daring lewat Tokopedia, salah satu marketplace daring di Indonesia yang baru-baru ini mendapat suntikan modal dari Alibaba, perusahaan e-commerce asal Cina.

Tetapi, kata Dedi, saingan di pasar online pun keras. “Saingannya banyak,” keluhnya.

Roy Nicholas Mandey, Ketua Asosiasi Pedagang Ritel Indonesia (Aprindo), menilai salah satu faktor tumbangnya daya beli ialah ramainya bisnis e-commerce. Meski minim penjualan makanan, kosmetik, dan pakaian, tumbuhnya bisnis daring didukung kesemrawutan tata kota dan inovasi harga.

“Elektronik malah ada diskon di online. Otomatis mendingan beli online daripada di Glodok,” ungkap Mandey.

Ia mengatakan, generasi kekinian melek internet. Mereka bisa dengan mudah menelusuri pelbagai macam komoditas dan membandingkan harga ketimbang ke pasar konvensional yang harus mempertimbangkan ongkos akses dan parkir.

Merujuk perkembangan internet di Indonesia, tahun lalu ada 132,7 juta pengguna internet atau 51,5 persen dari populasi. Berdasarkan riset terbaru Nielsen mengenai tren konsumen digital, yang dirangkum enam bulan pertama 2017, jangkauan internet telah mencapai 44 persen atau sekitar 24,4 juta orang dari 53,3 juta penduduk di 11 kota. Angka ini melejit pesat dibanding lima tahun lalu yang cuma 26 persen.

Menurut riset TEMASEK dan Google tahun lalu mengenai pasar daring di Asia Tenggara, Indonesia tergolong paling cepat pertumbuhan internetnya di dunia. Pada 2020 mendatang, diprediksi ada 215 pengguna internet di Indonesia. Pada 2025 mendatang, 119 juta orang Indonesia diprediksi sebagai pembeli online, dengan total nilai 81 miliar dolar AS, menurut riset tersebut.

Di Glodok, perkembangan soal pasar internet itu terdengar asing bagi pedagang seperti Saman, yang lahir pada 1977. Ia besar pada era ketika mayoritas penduduk Indonesia mengandalkan informasi dari televisi pemerintah dan siaran radio.

Untuk ukuran usianya, Saman kesulitan menjajal usahanya untuk perlahan beralih ke pasar daring. Sambil lalu ia belajar berjualan via online dari anaknya.

“Ya saya akan jualan online,” ujarnya. “Sudah terdesak gini toko fisik. Parah luar biasa. Mau enggak mau harus ikutin zaman.”