PT Best Profit Futures Jambi

Category Archives: Uncategorized

Menengok persiapan para Cagub Jabar hadapi debat perdana malam ini

BEST PROFIT – Para calon gubernur Jawa Barat akan melakoni debat publik perdana di Gedung Sabuga, Jalan Tamansari, Kota Bandung, Senin (12/3) pukul 19.30 WIB. Seluruh paslon dan tim pemenangan menilai hal ini menjadi momentum penting yang harus disikapi dengan optimisme tinggi.

Tim pemenangan TB Hasanuddin-Anton Charliyan (Hasanah) sudah menyiapkan segala sesuatu terkait debat publik. Mereka sudah menyiapkan simulasi dengan didampingi para akademisi.

Hal itu disampaikan ketua tim media Hasanah, Budiana saat ditemui di Jalan Riau, Kota Bandung, Senin (12/3).

“Kami sangat siap sekali. Secara teknis kami sudah melakukan latihan bersama tenaga ahli,” ucapnya.

“Kami tentu akan menyampaikan visi misi yang sudah disusun dengan banyak profesor, doktor,” tambahnya. BESTPROFIT

Debat calon ini dinilai penting dan akan berpengaruh pada elektabilitas 5-10 persen. Ia mengklaim, selama masa kampanye berlangsung, penerimaan publik terhadap pasangan yang diusung oleh PDIP ini sudah naik 50 persen dari presentase sebelumnya.

“Debat publik akan berpengaruh pastinya, minimal bisa naik 5-10 persen. Sekarang, posisi pasangan Hasanah sudah 14 persen. Itu hasil survei internal dan bahkan dari survei tim lain,” terangnya.

Dihubungi, TB Hasanuddin menyatakan akan mengedepankan program Nawacita seperti meningkatkan kualitas hidup rakyat, kehadiran negara di tengah persoalan rakyat hingga menyoroti persoalan kehidupan Bhineka Tunggal Ika.

Dia mengaku akan menyampaikan persoalan-persoalan yang ada di masyarakat hasil kunjungannya di 27 kabupaten kota belakangan ini. Sekaligus menyampaikan solusi yang akan ditawarkan.

“Saya tidak punya persiapan khusus ya, karena saya sudah keliling ke 27 kabupaten kota di Jabar. Jadi saya hanya mengingat-mengingat apa saja masalah yang ada di masyarakat. Itu yang saya akan sampaikan dalam debat itu,” tutur dia.

Sementara itu, Calon Wakil Gubernur yang berpasangan dengan Deddy Mizwar, Ahmad Syaikhu mengaku sudah mempelajari permasalahan yang ada di Jawa Barat untuk debat nanti.

“Persiapannya banyak belajar dan menguasai bahan terkait dengan visi, misi dan ke Jawa Baratan. Kalau masalah tegang atau grogi, Alhamdulillah, biasa saja,” ujarnya melalui pesan singkat.

Terpisah, Ridwan Kamil pun mengaku sudah siap untuk mengikuti rangkaian debat pemilihan kepala daerah Jawa Barat. Latihan yang dimaksud mulai dari materi debat, gaya bicara, hingga latihan gestur. PT BESTPROFIT

“Saya sudah latihan, setiap debat itu kan harus kuat mental,” katanya melalui siaran pers yang diterima, Jumat, (9/3).

“Mudah-mudahan dengan latihan ini pada saatnya lebih mudah dan tidak kagok. Insya Allah lancar seperti yang kita harapkan,” jelas Wali Kota Bandung nonaktif ini.

Selain berlatih debat, Ridwan Kamil juga mengaku berdoa dan meminta restu kepada orang tua. “Iya kan hidup ini kan dua, doa dan usaha. Usaha saja tanpa doa kan tidak barokah tapi kalau doa tanpa usaha juga kan gak ada ukuran kemajuannya,” ucapnya.

Sumber: merdeka.com

Kisah Klasik Penumpang KRL se-Jabodetabek

PT BESTPROFIT – Suara hentakan kaki berderap-derap di lantai dua Stasiun Sudirman, Senin pekan lalu. Mereka berhamburan menuju peron dua stasiun saat pemberitahuan kereta komuter menuju Bogor tiba. Tak sedikit yang rela berlarian meski napas sudah ngos-ngosan. Sesudahnya, mayoritas pekerja kantoran di kawasan Sudirman- Thamrin ini harus berdesak-desakan di dalam kereta.

Mereka dalam situasi jam puncak: sejak pukul 5 sore hingga 8 malam, puluhan gerbong KRL bakal terus penuh penumpang. Berjejalan. Dorong-mendorong. Teriakan di sana-sini. Penuh keringat. Muka melas. Menjaga gravitasi tanpa pegangan agar tak sempoyongan mengikuti laju KRL dan desakan penumpang lain.

Pada jam puncak itulah realitas komuter berada dalam titik paling ekstrem. KRL yang normalnya muat 250 penumpang bisa naik hingga 2 sampai 3 kali lipat. Sesudah karavan manusia yang mengantre di bibir peron terangkut oleh tiga kereta dengan interval tiga menit sekali di Stasiun Sudirman, rombongan penumpang lain di belakang kembali mendesak dan mengisi peron yang semula kosong, dan butuh sekitar 10-an menit lagi KRL tiba menjemput mereka.

Bila cuaca hujan, situasinya kacau-balau. Sinyal rusak. Antrean lebih beringas. Gerbong licin.

Seluruh tenaga operasional PT Kereta Commuter Indonesia (KCI) yang dikerahkan saban jam puncak harus waspada ekstra. Sesekali ada penumpang yang terjatuh, ada yang keseleo, ada juga yang pingsan. Bila sudah begitu, petugas pos kesehatan harus bekerja sigap. BEST PROFIT

Di antara penumpang itu, saya mengikuti Nurahman. Ia salah satu dari 1 juta penumpang KRL per hari. Kami berdesak-desakan dalam gerbong di Jalur Sudirman-Cakung sepanjang 14,7 kilometer, dengan waktu waktu tempuh 45-an menit.

Nurahman bekerja di Plaza Indonesia, salah satu pusat belanja paling beken di ibu kota Indonesia, dan ia bergabung dalam komunitas Jalur Bekasi (atau kerap disingkat JB). Mengenakan kemeja kotak-kotak cokelat, Nurahman menyampirkan tas punggung dia di depan dada, khas penumpang kereta komuter se-Jabodetabek.

Ia bicara panjang lebar soal pengalamannya sebagai komuter selama setahun terakhir.

Menurutnya, jarak tempuh Sudirman-Manggarai bisa 6-8 menit. Tetapi, bila ada gangguan, waktu tempuhnya bisa sampai satu jam. Biasanya kereta komuter menuju Manggarai tertahan di tiga titik: di samping halte Busway, di bekas Stasiun Mampang, dan terakhir di areal perumahan warga.

Nurahman berkata Jalur Bekasi terkenal paling “menyiksa” di antara jalur komuter lain. Muasalnya, trek ini harus berbagi dengan kereta jarak jauh antar-provinsi seperti Jakarta-Solo, yang bikin KRL—yang memang disetel untuk berhenti jarak pendek—harus mengalah sehingga bikin waktu perjalanannya bertambah.

Kondisi itu bakal lebih parah jika para komuter pulang di atas pukul 7 malam. Di jam-jam itu kereta jarak jauh sering melaju. Kereta-kereta ini diberi prioritas di Stasiun Jatinegara, di bekas Stasiun Cipinang, dan Stasiun Cakung.

“Kalau sudah berhenti di Cipinang, kita masuk sel,” kata Nurahman, akhir Oktober lalu, kepada saya.

“Masuk sel” adalah istilah komunitas komuter untuk KRL yang lajunya dihentikan seketika, bisa lima menit sampai setengah jam, untuk didahului oleh kereta-kereta jarak jauh.

Penumpang Pingsan

Berdasarkan data dari PT Kereta Api Indonesia Daerah Operasi 1 Jakarta, setiap hari ada 118 kereta jarak jauh dan 28 kereta barang dari 360 kereta yang melintasi Stasiun Cakung. Artinya setiap hari, kereta komuter berbagi jalur dengan sejumlah angkutan kereta lain tersebut.

Persoalan bertambah lagi ketika kereta komuter pagi yang berangkat pertama dari Stasiun Cikarang. Butuh waktu 30 menit untuk mencapai Stasiun Bekasi. Bahkan sangat sering para penumpang dari Stasiun Kranji, Cakung, dan Klender Baru tak bisa diangkut ke Manggarai karena di Stasiun Cibitung, Tambun, dan Bekasi Timur sudah padat penumpang.

Kepadatan kereta komuter memang lebih parah di pagi hari. Semua pekerja kantor memiliki jadwal masuk yang sama, sekitar pukul 8-9 pagi. Pada pukul 6-8 pagi, penumpang membeludak saban hari di Manggarai, stasiun transit dari banyak jalur KRL. Mereka yang pindah dari Bekasi ke Sudirman, Jakarta Kota, Bogor, Tangerang, Duri, dan Cikarang harus turun di Manggarai.

Saya kembali bertemu Nurahman untuk mengikutinya dalam perjalanan pagi dari Depok menuju Sudirman. Kondisinya nyaris sama sebagaimana yang diceritakan Nurahman beberapa waktu lalu.

Di dalam gerbong, saya melihat ada seorang ibu paruh baya yang tenggelam di tengah lautan manusia. Cuma terlihat kerudung biru, dan para penumpang lain saling berimpit. Ibu itu, bernama Fatimah, berupaya menggeser badan agar ia bisa sedikit menghirup udara dan tubuhnya tidak tergencet. Ia teriak-teriak agar penumpang di sekitarnya memberi sedikit ruang sembari bilang agar tidak mendorong-dorongnya. BESTPROFIT

Bagi komuter Jalur Bekasi seperti Nurahman, yang berhenti di peron satu saat tiba di Stasiun Manggarai, ia harus menuju peron tujuh untuk KRL tujuan Sudirman. Di momen inilah sebagian penumpang tak peduli atas keselamatan diri sendiri: mereka menerobos pagar pembatas agar segera terangkut.

“Setiap pagi, orang Bekasi olahraga dari ujung ke ujung di Manggarai untuk mendapat kereta ke Sudirman,” katanya.

Di Stasiun Sudirman, saya melihat seorang komuter perempuan yang bersandar di bangku jemuran peron setelah pingsan saking sesaknya lautan manusia.

Pantoni, seorang petugas stasiun, mengatakan perempuan tersebut korban ketiga yang pingsan hari ini. “Tadi ada ibu hamil juga yang pingsan,” katanya.

Ia berkata, jumlah penumpang yang sakit hari ini lebih sedikit dibanding hari kemarin. Pada Selasa, 24 Oktober lalu, ada lima penumpang yang pingsan di Sudirman.

“Biasanya stasiun besar ada pos kesehatan,” kata Pantoni.

 

‘Apa Perlu Saya Bawa Test Pack Setiap Hari?’

Bagi Anda yang memakai Jalur Jakarta–Bogor, dan memulainya dari Stasiun Jakarta Kota, Anda sangat mungkin merasakan situasi yang agak lega meski sudah memasuki jam pulang kerja. Namun, setelah kereta melewati tiga stasiun pertama—Jayakarta, Mangga Besar, dan Sawah Besar—Anda sudah mulai merasakan kepadatan yang menyiksa di dalam gerbong. Cerita berikutnya adalah kisah klasik para komuter: menguat-nguatkan perasaan dan kesabaran demi tiba di stasiun tujuan.

Di antara penumpang dalam gerbong yang saya temui adalah Fany. karyawan Bank DKI Jakarta ini naik dari Stasiun Juanda menuju lokasi tujuan di Stasiun Universitas Indonesia. Sudah tiga tahun ini ia pergi-pulang dengan KRL. Dan ia, seperti lazimnya cerita para penumpang lain, mengakrabi bermacam gangguan KRL, sehingga pelan-pelan ataupun secara terpaksa sudah dianggap sebagai kenormalan.

Misalnya saja, saat kami menaiki KRL yang sama itu, kereta mendadak mogok di antara Stasiun Cawang dan Duren Kalibata, tepat saat pukul 18.10, dan kembali normal setelah lima menit.

Di antara jeda itu suasana dalam gerbong sontak riuh. Pendingin udara mati. Para penumpang sigap membuka jendela. Oksigen mendadak menipis. Panas luar biasa. Seorang penumpang, yang berdiri di dekat pintu, sigap membuka pintu darurat agar gerbong tak pengap. Dari pinggiran lintasan kereta, terdengar teriakan seorang pria menawarkan jasa ojek.

Penumpang lain yang saya temui bernama Fitriyani. Ia penglaju Jalur Bojonggede-Cikini. Fitriyani tengah hamil lima bulan, dan ia salah satu dari 72 persen penumpang komuter berusia 18-30 tahun. Ia seharusnya menempati bangku prioritas, meski faktanya berbeda.

“Saya masih heran, kenapa masih ada yang sering mempertanyakan kehamilan saya tiap meminta bangku prioritas? Apa perlu saya bawa-bawa test pack setiap hari?”

Menghindari Jalur Manggarai

Persoalan utama jalur KRL di Stasiun Manggarai sudah jadi rahasia umum. Dan karena itu para komuter lebih memilih menghindari stasiun transit tersebut.

Salah satu dari komuter yang selalu memilih jalur alternatif adalah Tika Oktavia, komuter Jalur Serpong-Jakarta Kota. Ia menghindari Jalur Manggarai demi menghindari antrean masuk stasiun. Ia semula menggunakan jalur Sudimara, Tanah Abang, Manggarai, lantas Jakarta Kota. Tetapi, belakangan, ia lebih memilih menunggu lama di stasiun sehingga perjalanannya kini adalah Sudimara, Tanah Abang, Kampung Bandan, dan Jakarta Kota.

Hal serupa diungkapkan Oskandar Bramanto Martha, komuter Jalur Depok. Ia lebih memilih turun di Stasiun Tebet karena kerap kali ia harus menunggu antrean 5 hingga 15 menit di Manggarai demi kereta jarak jauh melintasi lebih dulu.

Momok stasiun Manggarai sebenarnya sudah jadi perhatian Kementerian Perhubungan. Dan saat ini Stasiun Manggarai dalam tahap pembangunan 12 jalur lintasan. Enam lintasan di lantai pertama, enam lintasan di lantai dua.

Selain itu ada jalur penyeberangan bawah tanah, yang sudah dibuka meski belum rampung benar karena sebagian tangga untuk eskalator belum ada. Terowongan ini dibuat demi memudahkan komuter saat ada kereta transit menutupi peron lain. Manggarai juga diplot oleh manajemen PT KCI sebagai hub kereta Bandara dan LRT.

“Kuncinya di Stasiun Manggarai. Kalau stasiun selesai pada 2019, permasalahan antrean masuk bisa selesai,” kata Nurahman.

Sumber: tirto.id

Petani Tambak: Kami Terima Kasih Sekali Pak Jokowi…

Presiden Joko Widodo mengendarai sepeda motor trail saat kunjungan kerjanya ke Muara Gembong, Bekasi, Rabu (1/11/2017)

BESTPROFIT – Petani tambak udang dan bandeng di Kecamatan Muara Gembong, Bekasi, Jawa Barat, ketiban durian runtuh.

Pemerintah merevitalisasi tambak-tambak tradisional mereka menjadi modern dan berkapasitas besar.

Revitalisasi itu merupakan bagian dari program Perhutanan Sosial untuk Pemerataan Ekonomi, salah satu program prioritas nasional.

Salah seorang petani tambak, Nahar (42), mengungkapkan, sebelumnya dia mengelola tambak secara tradisional.

“Tradisional artinya, ya, tebar bibit, lalu didiamkan saja, dibiarkan tumbuh,” ujar Nahar ketika berbincang dengan Kompas.com di sela-sela peninjauan Presiden Joko Widodo di tambak itu, Rabu (1/11/2017).

Metode ini tidak cukup membawa Nahar dan petani tambak lain ke arah sejahtera. Satu hektar tambak hanya menghasilkan maksimal 50 kilogram udang.

Minimal mati seluruhnya alias tidak ada yang hidup.

Pendapatan mereka tidak menentu. Jika sedang untung, Nahar mengantongi uang hingga Rp 3.500.000.

Namun, jika sedang buntung, pria yang sudah 13 tahun menjadi petani tambak itu terpaksa gigit jari karena merugi seluruhnya.

Kini pemerintah merevitalisasi 80 hektar tambak milik Nahar dan rekan-rekannya menjadi semi-intensif. Ada 40 petani tambak yang menerima program ini. PT BESTPROFIT

Pemerintah menyulap tambak Nahar dan rekan-rekan, mulai dari diberi alas untuk menjaga keasaman air, penempatan kincir sebagai penjaga kadar oksigen, pemberian mesin pemberi pakan yang bisa dikontrol dari jarak jauh, hingga pemberian bibit udang vaname.

“Kata pendamping dari KKP (Kementerian Kelautan dan Perikanan), sih, 1 hektar tambak ini bisa dapat sampai 7,5 ton udang per panen. Kan, panennya setiap dua sampai dua setengah bulan sekali,” ujar Nahar.

Artinya, Nahar dapat meraup untung hingga di atas Rp 500 juta sekali panen.

Apalagi, pemerintah telah menyediakan salah satu BUMN sebagai pembeli hasil petani tambak.

“Makanya saya semangat banget ngerjain ini. Kami terima kasih sekali sama Bapak Jokowi karena sudah diberikan semuanya ini,” ujarnya.

Ekspor udang

Presiden Joko Widodo yang meninjau area tambak itu menggunakan motor trail mengungkapan optimismenya atas masa depan tambak Muara Gembong.

Ia berharap produksi udang di sana tidak hanya untuk memenuhi pasar Indonesia, tetapi juga dapat diekspor.

Posisi Indonesia saat ini adalah pengekspor udang ketiga terbesar di dunia di bawah India dan Vietnam.

Jika produksi udang di tambak Muara Gembong ini baik, Presiden Jokowi yakin Indonesia bergeser ke posisi pertama.

BEST PROFIT “Kalau tambak-tambak di sini berjalan, tambak-tambak di Lampung juga, tambak-tambak di Kalimantan Utara, semuanya, ya, nomor satu,” ujar Presiden Jokowi.

Dampak lain yang diyakini Presiden Jokowi juga mampu mengangkat kesejahteraan petani tambak setempat adalah soal penyerapan tenaga kerja.

Sebab, 8.000 meter persegi tambak dapat menyerap hingga 50 pekerja.

“Coba itu kalikan saja dengan total semua (80 hektar) lahan. Berapa (tenaga kerja) yang terserap? Sangat banyak,” ujar Presiden Jokowi.

Sumber: kompas.com

Penyelenggara pemilu di Aceh diminta jangan latah gugat UU Pemilu

BEST PROFIT – Rencana sejumlah komisioner Komisi Independen Pemilihan (KIP) di Aceh secara personal menggugat Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2017 tentang Pemilihan Umum menuai kritik. Penyelenggara diminta agar tak latah menyikapi aturan tersebut.

Pengamat Politik Aceh Aryos Nivada menilai, bila gugatan dilayangkan bukan secara kelembagaan penyelenggara pemilu, dipastikan akan kandas.

“Jadi kuncinya kalau perkara ini mau dipersidangkan adalah lembaga KIP Aceh yang menggugat. Kalau person pasti ditolak. Karena ini menyangkut kelembagaan. KPU RI kemarin kan ketika uji materi gugat secara kelembagaan bukan personal,” kata Aryos Nivada, MA, Selasa (19/9) di Banda Aceh kepada merdeka.com.

Menurut Aryos, keberadaan pasal 557 yang disengketakan itu, Komisi Independen Pemilihan (KIP) di Aceh hirarkinya memang dari Komisi Pemilihan Umum (KPU). Akan menjadi aneh bila kemudian komisioner KIP secara personal mengguggat keberadaan lembaganya sendiri.

Aryos justru mengaprsiasi secara kelembagaan KIP Aceh tidak turut terjebak dalam polimik Undang-Undang Pemilu. Karena kelembagaan KIP, sebutnya, tidak dibenarkan untuk menafsirkan undang-undang.

BESTPROFIT “Hal itu sudah benar karena memang secara tupoksi KIP hanya berwenang dalam penyelenggara pemilu, yaitu pengendalian seluruh tahapan,” jelasnya.

Kendati demikian, secara personal Aryos Nivada menyebutkan itu hak kewarganegaraan mereka masing-masing dalam menyampaikan pendapat. Terlebih apabila mereka merasa bahwa akibat penerapan UU Pemilu tersebut merugikan hak konstitusionalnya secara langsung.

“Secara personal. Kedua Komisioner KIP Aceh sah-sah saja mendaftarkan gugatan terkait UU Pemilu. Kerugian itu harus jelas menimbulkan hubungan sebab akibat (causal verband ) antara kerugian dan berlakunya undang-undang yang dimohonkan untuk diuji. Hal itulah yang harus dibuktikan pihak pihak ini dalam persidangan di MK,” jelasnya.

Aryos mengaku heran dengan reaksi salah seorang anggota KIP yang merasa kecewa karena elemen sipil memberi masukan dan saran terhadap KIP Aceh apabila hendak menggugat UU Pemilu.

“Saya tidak tahu apakah beliau kurang ngopi atau piknik. Yang jelas dalam pernyataan kami tidak ada mengatakan KIP Aceh tidak independen selama menyelenggarakan pemilu,” sebutnya.

Adapun dua komisioner yang menggugat pasal 557 Undang-Undang Pemilu adalah Hendra Fauzi dan Robbi Syahputra yang merupakan komisioner KIP Aceh dan sejumlah komisioner KIP tingkat kabupaten/kota.

Hendra Fauzi mengaku, gugatan ini untuk mempertahankan regulasi kekhususan Aceh agar tidak tercabut satu persatu. Gugatan ini juga, Hendra mengaku bukan untuk kepentingan personal dirinya, tetapi untuk kepentingan martabat rakyat Aceh. PT BESTPROFIT

“Ini murni untuk kepentingan Aceh. Sekarang aturan pemilu tercabut, tak tertutup kemungkinan aturan lainnya satu per satu dicabut oleh pemerintah pusat,” tukasnya.

 

Sumber: merdeka.com