PT Best Profit Futures Jambi

Kutu Loncat, Tak Susah bagi Ahok Tinggalkan Relawan

AAhHHGJ.imgBestprofit – Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama selama ini selalu menjadikan relawan TemanAhok sebagai tameng untuk menepis isu maju pilkada lewat jalur partai politik.

Pria yang akrab disapa Ahok itu berkilah tidak mau mengecewakan kelompok yang telah berjuang agar dirinya bisa maju lewat jalur independen tersebut.

Namun peneliti Senior Indonesia Public Institute (IPI) Karyono Wibowo meyakini, Ahok tak akan berpikir dua kali untuk meninggalkan para relawan itu ketika tawaran yang lebih baik dari partai politik datang. Pasalnya, sepanjang karir politiknya, mantan bupati Belitung Timur itu sudah biasa berpindah-pindah kubu.

“Apa yang terjadi ke depan bisa kita lihat dari rekam je­jaknya. Dulu, Ahok meninggalkan Belitung Timur demi maju di pilgub. Kemudian, jadi anggota DPR lewat Golkar. Tahun 2012 melompat ke Gerindra demi Pilgub DKI,” kata Karyono.

Kemudian, lanjutnya, tahun 2014 Ahok keluar dari Gerindra dan dilantik jadi gubernur lewat dukungan PDI Perjuangan. Sekarang, Ahok meninggalkan PDIP dan bersiap maju lewat jalur independen bermodalkan KTP yang dikumpulkan komunitas TemanAhok.

“Jadi buat Ahok parpol atau relawan itu cuma alat saja, kalau tidak ber­guna ditinggalkan,” jelasnya.

Apalagi, sambung Karyono, saat ini Ahok sudah memiliki kendaraan politik yakni dukun­gan dari Partai Golkar, Nasdem dan Hanura. Jika diakumulasi, jumlah kursi di DPRD ketiga partai itu adalah 24 kursi. Hal itu cukup untuk mendaftarkan calon Gubernur-Wakil Gubernur yang syaratnya hanya 22 kursi di DPRD.

Menurutnya, saat ini Ahok tengah mencari jalan yang mulus untuk menyingkirkan TemanAhok. Tujuannya tentu saja agar bisa kembali ke pelukan partai politik.

“Menyerang TemanAhok den­gan isu aliran uang, manipulasi KTP itu saya kira bagian dari skenario besar untuk memuluskan Ahok maju lewat jalur par­tai,” pungkasnya. (rmol/dil/jpnn)