PT Best Profit Futures Jambi

Mendaki Gunung Gede-Pangrango

AAhEZNW.imgBestprofit – Ada yang bilang Gunung Gede dan Pangrango adalah tempat pendakian yang cocok didaki oleh pendaki pemula. Saya setuju, namun juga tak setuju. Memang, jalur pendakian di Gede-Pangrango relatif aman.

Namun, perlu diingat, reporter sekaliguspetualang kesohor, Norman Edwin, pernah menurunkan artikel yang mengulas pendaki yang cedera, hilang, dan tewas di kawasan Taman Nasional Gunung Gede-Pangrango (TNGPP) di era 1970 hingga 1980-an.

Dalam liputannya itu, Norman menemukan bahwa kebanyakan dari korban tersebut adalah pendaki pemula. Minim pengetahuan dan persiapan jadi penyebab utamanya.

Temuan Norman diperkuat lagi oleh kejadian-kejadian terbaru. Paling anyar adalah kasus tewasnya seorang gadis berusia 16 tahun, Shizuko, asal Bekasi di awal 2014 lalu.

Pendakian Minim Modal

Mendaki gunung apa pun tanpa ditemani yang telah berpengalaman mendaki sebelumnya adalah perjudian. Pertimbangan itulah yang mendasari keputusan saya berani ikut dalam rombongan berisi 24 orang menuju Gede-Pangrango.

Gede-Pangrango sejatinya memang tujuan pendakian favorit. Lokasinya yang berdekatan dengan kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Bogor dan sekitarnya adalah salah satu faktor penyebab utamanya.

Tidak heran, dalam sehari, pihak TNGGP menerbitkan 600 Surat Izin Masuk Kawasan Konservasi. Alasan dekat ini pula yang meyakinkan kami semua “berpiknik” ke sana untuk mengisi libur antara Natal dan Tahun Baru. Pada hari keberangkatan, Minggu 27 Desember 2015, kami berkumpul di Depok, lebih tepatnya di kampus Universitas Indonesia.

Tak terasa, malam jatuh di Bogor saat kami semua menunggu angkutan carteran kami siap jalan. Dua angkot yang sudah kami nego selama menunggu hujan yang mengguyur semenjak siang sudah siap berangkat.

Sesaat mesin dinyalakan, rombongan langsung berjubel tidak karuan dalam angkot Carry yang sempitnya minta ampun. Demi hemat ongkos, melipat-lipat kaki selama 3,5 jam tak jadi masalah. Bukannya tanpa alasan kami rela bersempit ria seperti itu. Ongkos yang ditagih sang sopir mencapai 350 ribu rupiah per angkotnya. Menambah satu mobil lagi bukan pilihan yang bijak bagi kantong kami.

Singkat cerita, sampailah kami di basecamp Gunung Putri setelah menyambung angkot lagi dari persimpangan pasar Cipanas dengan biaya 350 ribu untuk tiga mobil. Turun dari mobil, kami langsung berhadapan dengan sebuah rumah tiga tingkat. Keberadaannya mencolok di antara bangunan sekitar. Ternyata, rumah inilah yang menjadi tempat kami menginap. Sang pemilik, bernama Haji Badin, mengizinkan kami menggunakan dua lantai teratas.

Saya melangkah ke atas duluan. Tiba di dalam rumah, saya terkejut rupa tempat menginap kami begitu nyamannya. “Kok rasanya seperti pelesir di villa Puncak ya?”, batin saya terheran kala itu. Kamar mandi bersih, dapur, karpet hangat, balkon dengan langit yang luas tersedia. Lebih terkejut lagi saat saya menemukan tungku perapian di sebelah kamar mandi. Perapian! Saya berani bertaruh, tempat Haji Badin ini merupakan yang terbaik di basecamp Gunung Putri. Apalagi saat tahu biaya menginap hanya sepuluh ribu per kepala. Aih, nikmatnya..

Pemeriksaan Kelengkapan Peralatan yang Ketat

Ditunjang tempat tidur yang nyaman, pagi-pagi sekali saya bisa bangun. Saya pun bisa menyempatkan diri menikmati udara segar pagi itu dengan berjalan di sekitar permukiman warga sembari memandangi gunung-gunung yang mengitari desa kami tinggal. Persiapan begitu lancar hingga rombongan kami memulai pendakian pada pukul 09.00.

Sepuluh menit pendakian, kami sampai di pos resort TNGGP.

Di sana, kami memperlihatkan Simaksi yang telah kami tebus dua hari sebelumnya dengan biaya 22.500 rupiah per dua hari satu malam. Kami berencana berkemah dua malam sehingga membayar dua kalinya. Petugas resort juga memeriksa kelengkapan peralatan dan barang-barang yang dilarang masuk kawasan TNGGP. Dalam upaya penjagaan, manajemen TNGGP memang terkenal ketat, layaknya sebuah kedutaan besar negara adidaya.

Ketatnya pengecekan dan sistem pengajuan izin mendaki justru membuat saya begitu gembira. Sebab, itu artinya manajemen TNGGP sadar betul dengan ancaman yang mengintai ekosistem taman nasional bila pengawasan kendor. Dan, sepengetahuan saya, dari sejumlah situs pendakian di Indonesia, TNGGP memang selangkah lebih maju dalam pengelolaan wisata dan pelestarian ekosistemnya.

Lepas dari pengecekan, rombongan memulai perjalanannya. Kebun dan ladang-ladang kecil yang kebanyakan ditanami bawang, kentang, dan kol milik warga mendominasi pemandangan. Jalur Gunung Putri dikenal sedikit lebih sulit ketimbang Cibodas. Di Putri, tak ada tangga setapak yang terbuat dari batu kali seperti di Cibodas. Akar dan batang pohon yang mengapit jalur pendakian lah yang membantu kaki memijak.

Tak jarang pula, akar dan batang pohon itu yang justru memaksa tubuh bergerak lebih liat dari biasanya. Suasana yang timbul di jalur ini juga terasa lebih hening. Monyet, burung, dan gemericik air yang saya alami sewaktu mendaki lewat Cibodas tak hadir di sini. Seakan tanah dan pepohonan di Putri dapat menyerap segala kebisingan dan sebaliknya, menghadirkan ketenangan.

Dalam tenang yang ajeg itu, konsentrasi menggapai batas tertingginya. Irama langkah saya terjaga dengan baik, tidak begitu cepat namun tidak lambat. Setelah beberapa jam, saya berada di baris kedua bersama seorang kawan dekat saya. Di depan kami berdua, sekitar 20 menit jaraknya terdapat tiga kawan lain di barisan terdepan.

Saat itu, rombongan kami memang sudah terpecah menjadi beberapa kelompok kecil. Cuaca yang begitu cerah di awal pendakian perlahan bergeser sedikit kelabu. Beruntung sebelum tiba di Suryakencana, langit masih berbaik hati dengan gerimis kecilnya saja.

Surya Tenggelam di Suryakencana

Lewat tiga sore, saya tiba di tujuan tempat kami berkemah nanti. Itu pertama kalinya saya menginjakkan kaki di tanah Suryakencana yang legendaris itu. Tanahnya yang datar sempurna, Edelweiss ramai di kanan-kiri, dan langit terhampar jelas seolah tanpa ujung. Alun-alun ini memang begitu luas.

Saking luasnya, sempat terpikir untuk mengembangkan peternakan kuda di sana. Kuda-kuda itu nantinya akan jadi daya tarik wisata baru di kawasan TNGGP. Memang kalau lelah, daya khayal bisa sedemikian liarnya.

Kembali menapak jalan yang datar di Suryakencana yang mahaluas ini justru terasa lebih melelahkan ketimbang saat naik. Rasanya rasa lelah tiba-tiba menggelayut dan menggerayangi sekujur otot tubuh. Apalagi di alun-alun seluas 50 hektar ini kesadaran bahwa manusia begitu mungil di hadapan alam sekitarnya meletup-letup di benak kepala. Di Suryakencana inilah kami semua akhirnya mendirikan tenda untuk memulihkan tenaga menghadapi hari pendakian kedua. – Bestprofit.