PT Best Profit Futures Jambi

PALM Raup Rp2,7 Triliun

Bestprofit – Emiten perkebunan PT Provident Agro Tbk. bakal menjual saham yang digengam pada empat entitas anak dengan total nilai indikatif sebesar Rp2,7 triliun kepada PT Galanggang Maju Bersama dan PT Mandhala Cipta Purnama.

Berdasarkan prospektus yang diterbitkan emiten berkode saham PALM ini, empat entitas anak yang sahamnya akan dijual, yakni PT Global Kalimantan Makmur Rp1,525 triliun, PT Semai Lestari Rp600 miliar, PT Nusaraya Permai Rp75 miliar, dan PT Saban Sawit Subur senilai Rp500 miliar.

Saham PT Global Kalimantan Makmur dan PT Semai Lestari akan dilepas PALM kepada PT Galanggang Maju Bersama. Adapun saham PT Nusaraya Permai dan PT Saban Sawit Subur akan dijual kepada PT Mandhala Cipta Purnama. Perjanjian pengikatan jual beli saham bersyarat itu telah ditandatangani pada 24 Juni 2016.

“Transaksi tersebut dilaksanakan dengan pertimbangan bahwa penjualan saham merupakan kesempatan yang baik untuk dapat memberikan hasil investasi yang optimal dan dipercaya akan memberikan manfaat dan dampak positif bagi perseroan, pemangku kepentingan, dan pemegang saham perseroan,” tulis manajemen PALM dalam prospektus, Selasa (12/7).

Dampak atas dilakukannya transaksi terhadap kondisi keuangan PALM, antara lain penurunan proforma aset perseroan sebesar 17,57%, penurunan proforma liablitas perseroan sebesar 34,52%, dan peningkatan proforma ekuitas sebesar 6,36%.

Proforma laba rugi perseroan pun diproyeksi membaik pascatransaksi penjualan saham empat entitas anak milik PALM. Proforma pendapatan bersih diperkirakan naik 1.059% menjadi Rp833,19 miliar dan laba komprehensif periode berjalan naik 39,31% menjadi Rp246,82 miliar.

Rencana transaksi tersebut bukan merupakan transaksi afiliasi. Pasalnya, dua perusahaan yang akan membeli saham anak perusahaan PALM tidak memiliki keterkaitan dengan emiten yang bergerak pada kegiatan pengembangan dan pengoperasian perkebunan sawit, pengolahan minyak kelapa sawit, serta perdagangannya.

Sebelumnya, Direktur Provident Agro Devin Antonio Ridwan menuturkan hingga kuartal I/2016, PALM membukukan kenaikan pendapatan dari Rp239,34 miliar menjadi Rp255,28 miliar. Laba bruto turut terkerek sekitar 33% menjadi Rp63,43 miliar dibandingkan kuartal I/2015.

Kendati demikian, perseroan masih membukukan rugi periode berjalan Rp21,45 miliar pada akhir April 2016 akibat beban biaya pendanaan.

“Produksi TBS inti diproyeksi 500.000 ton tahun ini. Produksi CPO menjadi sekitar 200.000 ton seiring beroperasinya dua pabrik baru perusahaan,” ujar Devin.

 

Sebelumnya,  untuk mendongkrak kinerja tahun ini emiten perkebunan kelapa sawit PALM menganggarkan belanja modal hingga Rp200 miliar.

Devin mengatakan anggaran belanja modal tersebut untuk keperluan jaga dan rawat tanaman serta pembangunan infrastruktur penunjang di perkebunan. Dia menyebut, anggaran belanja modal itu akan berasal dari kas perusahaan.

Dengan anggaran belanja modal tersebut diharapkan dapat mendorong peningkatan produksi perseroan pada 2016. Targetnya, pada tahun ini perseroan dapat memproduksi hingga 500.000 ton tandan buah segar dan 200.000 ton crude palm oil (CPO).

Target produksi tandan buah segar emiten bersandi PALM itu naik sekitar 11,33% dari tahun lalu yang sebanyak 449.080 ton. Adapun target produksi CPO pada 2016 tersebut naik sekitar 63,20% dari tahun lalu yang hanya 122.544 ton. Menurutnya, target pertumbuhan produksi itu menggambarkan visi perseroan untuk menggenjot kinerja keuangan pada 2016.

“Yang jelas dari tahun ke tahun kami terus tingkatkan produksi untuk menumbuhkan kinerja keuangan. Tapi untuk target pertumbuhan kinerja keuangan sulit dikatakan karena tergantung harga komoditas dan kondisi ekonomi, kami hanya bisa katakan pertumbuhan produksi,” katanya, Selasa (21/6).

Raihan produksi pada 2015 itu pun meningkat jika dibandingkan dengan 2014. Produksi CPO pada 2015 itu naik 20% dari tahun sebelumnya yang sebanyak 102.176 ton. Adapun produksi tandan buah segar pada 2015 meningkat sekitar 25% dari 2014 yang mencapai 359.692 ton.

Menilik laporan keuangan perseroan pada 2015 membukukan pendapatan Rp1,04 triliun dengan rugi Rp55,2 miliar. Pendapatan tersebut, menurun hampir 1% dari tahun sebelumnya yang mencapai Rp1,05 triliun. Adapun pada 2014 perseroan membukukan laba Rp168,11 miliar.

Sementara itu, pendapatan perseroan pada kuartal I/2016 mencapai Rp255,27 miliar dengan rugi Rp19,83 miliar. Pendapatan itu naik sekitar 6,66% dari periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai Rp239,33 miliar. Adapun rugi perseroan pada kuartal I/2015 mencapai Rp61,63 miliar.

Melihat raihan pada kuartal I/2016 tersebut pihaknya optimistis membukukan kinerja yang lebih baik dari tahun lalu. Terlebih, tahun ini perseroan disokong dua pabrik baru yang diperkirakan bisa beroperasi penuh setelah diresmikan pada pertengahan dan akhir tahun lalu.

Sehingga saat ini kinerja perseroan disokong oleh lima pabrik dengan kapasitas produski CPO total mencapai 195 ton per jam. Dia menambahkan, tahun ini perseroan ditunjang oleh kebun kelapa sawit seluas 46.663 hektare.

Saat ini perseroan masih memiliki land bank yang belum ditanami kelapa sawit seluas 18.000 hektar di Gorontalo. Menurutnya, land bank tersebut akan menunjang kinerja perseroan ke depan. Namun, land bank tersebut belum berencana ditanami tahun ini. – Bestprofit