PT Best Profit Futures Jambi

Perang Melawan Produk Bajakan

kodak - PT BestprofitPT BESTPROFIT – Lupakan sejenak jejak kejayaan Eastman Kodak Co. atas produk kamera filmnya karena masa itu telah berlalu. Kini dengan sisa-sisa kejayaannya, Kodak mulai merintis bisnis baru yang akan batu loncatan seusai mengalami kebangkrutan.

Sejak menyatakan pailit pada 2012, perusahaan yang didirikan pada 1888 ini perlahan mulai menggeliat. Perusahaan yang berbasis di Rochester, New York itu belajar bahwa mereka tak boleh lagi mengulangi kesalahan yang sama pada masa lalu yakni ter lambat menyiasati perkembangan digital.

Kodak kini melihat celah bisnis baru. Perusahaan ini tak lagi kolot dengan perkembangan teknologi. Sebaliknya, mereka justru menjadi salah satu perintis bisnis berbasis tek nologi baru yakni penanda digital untuk membedakan produk asli dan bajakan.

Bekerja sama dengan Alibaba Group Holdig Ltd., Kodak merintis perusahaan baru yang bergerak di bidang penyedia penanda digital bagi produk-produk orisinil. Perusahaan tersebut adalah eApeiron, yang diluncurkan pada bulan lalu.

Nama eApeiron terinspirasi dari bahasa Yunani yang memiliki arti kekal. Kodak berusaha mengincar perusahaan e-commerce sebagai pelanggan utamanya. Pasalnya sektor ter sebut menjadi yang paling terdampak oleh isu distribusi produk palsu di seluruh dunia.

BACA JUGA : Pokemon GO Telah Diunduh 10 Juta Kali Di Perangkat Android

Organisasi untuk Kerja sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) menyebutkan bahwa selama 2011- 2013, aktivitas impor barang bajakan dan palsu dilaporkan telah mencapai US$500 miliar per tahunnya.

Jumlah ter sebut setara dengan 2,5% dari to tal aktivitas impor global pada periode yang sama. OECD dalam laporannya yang bertajuk Trade in Counterfeit and Pirated Goods: Mapping the Economic Impact menyebutkan bahwa produk tas, parfum, komponen mesin dan sepatu menempati peringkat teratas dari barang yang dibajak atau dipalsukan.

China, Hong Kong dan negaranegara berkembang dengan jumlah masyarakat berpenghasilan menengah terbesar, tecatat menjadi peng ekspor terbesar barang bajakan dan palsu tersebut. Total, 84% barang palsu yang disita pada periode tersebut berasal dari China dan Hong Kong.

Sementara itu, perusahaan e-commerce terutama yang berasal dari Negeri Panda,dituding menjadi distributor utama barang-barang palsu tersebut. Anak usaha Ali baba, yakni Taobao bahkan telah dimasukkan kembali ke daftar bermasalah oleh Pemerintah Amerika Serikat karena gagal menghentikan penjualan barang-barang palsu pada Oktober 2015.

“Semua orang tahu aktivitas ini mendatangkan masalah. Jika Anda memiliki tanggung jawab atas perlindungan merek Anda dari serbuan para pemalsu, maka yang dibutuhkan adalah alat baru untuk melindungi produk orisinal Anda, dan bisnis inilah yang sedang kita geluti,” kata CEO Kodak Jeff Clarke.

Clarke mengatakan, eApeiron yang berbasis di Miami ini akan terus mengembangkan penelitian dan rekayasa dalam pembuatan label digital produk-produk ori sinal. Dalam hal ini eApeiron akan memanfaatkan laboratorium teknologi Kodak di Rochester dan juga di Shanghai serta Tel Aviv.

Sejak dirilis pada bulan lalu, startup ini telah memiliki 50 orang karya wan yang dipimpin oleh Charles Fernandez sebagai CEO. Fernandez me nolak untuk menyebutkan target pen dapatannya dalam beberapa tahun ke depan. \

Hal sebaliknya justru di ungkapkan oleh Kodak. eApeiron ditargetkan akan meraih keuntungan dua hingga tiga kali lipat pada 2017 dan 2018 dari perolehannya pada tahun ini.

Berkat keputusannya dalam mendirikan eApeiron nilai saham Kodak berhasil naik 35% pada tahun ini. Namun, para pengamat memperkirakan, ambisi Kodak dan eApeiron ini tidak akan diraih dengan mudah.

Pasalnya, perusahaan lain yang membuat produk keamanan serupa seperti VerifyMe Inc. telah lebih dahulu menjalin kerja sama strategis dengan HP Inc. pada Mei 2016.

Senada, YPB Group Ltd. yang berbasis di Australia juga telah mem buat penanda keaslian elektronik pada produk buatan mereka sendiri selama beberapa tahun terakhir.

Menanggapi hal tersebut, Clarke tak khawatir. Dia ingin menyasar perusahaan besar yang memproduksi barang mewah untuk menggunakan produk keamanannya. Selain itu, dia juga telah mendata calon pelanggan potensial yang berasal dari perusahaan pembuat barang-barang ber bahaya seperti obat-obatan, rokok, mainan dan suku cadang kenda raan bermotor.

“Melalui produk kami, masyarakat akan bisa menelusuri keaslian, rantai pasokan, hingga tanggal kadaluwarsa yang akan tertanam di barang yang mereka beli,” katanya.

Berkat inovasinya ini nilai saham Kodak berhasil naik 35% pada tahun ini. Para pengamat meyakini, terobosan baru dari Kodak ini telah memulihkan kepercayaan para investor pada Kodak setelah sempat terpukul pada 2012 lalu, akibat kebangkrutan.

Analis di Morningstar Inc. RJ Hot tovy mengatakan, Alibaba memiliki peran yang cukup besar dalam bisnis baru dari Kodak ini. Menurutnya, perusahaan yang didirikan oleh Jack Ma ini membutuhkan medium untuk memulihkan citra perusahaan aki bat tudingan penjualan barang-barang palsu. Tak heran jika Ma mau menginvestasikan dananya ke eApeiron, meskipun dengan persentase saham yang kecil.

(Sdq – PT Bestprofit )