PT Best Profit Futures Jambi

Pohon di Kalimantan Lebih Baik Dibanding Amazon

8304-0_663_382Tim ilmuwan menemukan kualitas pohon yang tumbuh di hutan Kalimantan lebih baik dari pohon di hutan Amazon, Brasil. Pohon di Kalimantan dianggap lebih berkontribusi dalam pengurangan karbon global di atmosfer.

Peneliti mendalami produksi kayu di atas tanah di hutan Kalimantan dengan pohon di Amazon. Melansir Science Daily, Jumat 9 Mei 2014, ternyata produksi kedua hutan tercatat memiliki perbedaan rata-rata 3,2 ton kayu per hektar per tahun. Artinya pohon di Kalimantan bagian Utara itu mendapatkan biomassa lebih banyak per pertumbuhan diameter per unit.

Produksi kayu di atas tanah merupakan jumlah biomassa yang diperoleh pada bagian kayu sebuah pohon. Peneliti memperkirakan jumlah biomassa dari pengukuran berulang pada diamater pohon dan perkiraan kepadatan kayu serta tinggi pohon. Peneliti membandingkan pohon terbesar dan tertinggi dari kedua wilayah itu.

“Di Kalimantan,  Dipterocarps (keluarga pohon besar dengan biji bersayap) menghasilkan kayu lebih cepat dari tetangga mereka. Ini berarti pohon Kalimantan berevolusi secara spesifik dan unik,” kata Dr Lindsay Banin, peneliti Pusat Hidrologi dan Ekologi Inggris.

Keluarga pohon Dipterocarps dikenal memiliki kaitan khusus dengan jamur di dalam tanah, kondisi ini memungkinkan pohon memanfaatkan sumber daya atau nutrisi langka. Hal inilah yang dipertimbangkan membuat pohon itu bisa tumbuh dibandingkan bagian tanaman lainnya.

Sementara rekan penulis, Profesor Oliver Phillips dari University of Leeds mengatakan masih ada pertanyaan apakah komposisi spesies tumbuhan dalam suatu hutan mendukung fungsi ekosistem dasar misalnya produktivitas atau penyimpanan karbon.

“Kenyataannya hutan yang didominasi dipterocarps mencapai pertumbuhan kayu lebih cepat dari pohon di hutan paling beragam di Amazon. Ini menunjukkan sejarah evolusi acak benua dapat menentukan seluruh ekologi mereka,” kata Phillips.

Penelitian ini meneliti data lebih dari 26 hektar hutan dengan 12 ribu pohon yang telah dipantau selama lebih dari dua dekade. Studi ini dilakukan gabungan peneliti dari Inggris, Asia, Amerika Selatan dan Amerika Serikat.

Peneliti mengharapkan adanya perbandingan lebih lanjut untuk seluruh daerah tropis guna menjelaskan sifat dan penyebab variasi pertumbuhan biomassa tanaman. Penelitian itu diterbitkan dalam Journal of Ecology