PT Best Profit Futures Jambi

PT Bestprofit : Memaafkan tapi Tak Melupakan Prahara Mei 98 di Glodok

PT Bestprofit : Candra Jap tengah menuntaskan soal bahasa Inggris di hari terakhir EBTANAS. Usianya 15 tahun. Ia berada di lantai 3 Sekolah Kristen Kalam Kudus, Tangki Lio Timur, Jakarta Barat, sekira 400 meter dari Plaza Glodok.

Dari jendela kaca kelas, ia melihat asap hitam mengepul di atas Plaza Glodok. Suasana kelas berubah gaduh. Wakil kepala sekolah masuk ke kelasnya, meminta para siswa tetap tenang dan menyelesaikan ujian. Waktu itu masih sekitar jam 9.30.

Di Plaza Glodok, Muhammad Ridwan asik merampungkan masakannya. Di usia 41 tahun, ia memiliki Restoran Permata Bundo. Restoran itu menggabungkan empat ruko ukuran 5 x 5 meter persegi. Letaknya di bagian terluar Plaza Glodok, tepat di bawah jembatan yang kini menghubungkan Harco Glodok dan Glodok City.

Fokus Ridwan teralihkan pada sekelompok orang yang berteriak-teriak dan membakar sesuatu di jalanan. Mereka berada di Jalan Hayam Wuruk, tepat di depan restorannya.

Gerombolan massa itu bergerak sejak pagi. Berjalan kaki dari arah Grogol, melewati Jalan Kiai Tapa, Jalan Hasyim Ashary, Jalan Gajah Mada, lalu menuju arah Glodok.

Candra dan Ridwan sama-sama tahu, dua hari sebelumnya, 12 Mei 1998, ratusan mahasiswa di Universitas Trisakti diberondong peluru tajam. Empat mahasiswa ditembak mati dan 15 lain luka-luka. Sehari setelahnya, makin banyak mahasiswa yang turun ke jalan.

Saat asap membumbung dan sekelompok orang berteriak-teriak, pada 14 Mei 1998 itu, Candra dan Ridwan mulai paham bahwa kerusuhan tengah meluas.

Usai ujian, sekitar jam 10 pagi, Candra jalan kaki menuju rumahnya yang berjarak sekitar 400 meter dari sekolah.

Candra menghindari beberapa ruas jalan yang diblokir massa. Ketika melintas di kawasan Jalan Pangeran Jayakarta, ia menyaksikan gerombolan orang membawa gergaji kecil. Mereka berupaya merusak gembok pagar. Mereka ramai-ramai membobol teralis dan pintu geser. Beberapa mobil di dalam showroom dikeluarkan ke jalan raya, lalu dibakar. Ruko-ruko penyimpanan sembako dan barang elektronik dijarah.

Dari matanya yang sipit, Candra menyaksikan semua peristiwa itu selama 10 menit. Lalu tibalah ia di gang kawasan rumahnya. Di mulut gang, massa sibuk menyusun barikade. Mereka menumpuk gerobak hingga balok kayu lalu melilitkan kawat berduri.

“Bakar! Jarah! Bunuh! Abisin Cina!” ucap Candra menuturkan kepada saya, 19 tahun kemudian.

Di tempat yang berbeda, Ridwan melihat beberapa orang mulai memasuki ruko-ruko tetangganya. Mereka kalap menjarah. Ridwan meninggalkan masakannya, lalu bergegas menjauh dari restoran. Ia tak peduli bahwa masih ada jutaan rupiah yang disimpan di laci kasir.

Di Jalan Pintu Besar Selatan, rumah-rumah sudah dilempari batu. Petugas TNI dan Polri menyebar di beberapa titik. Masing-masing dari mereka memanggul senjata laras panjang. Tapi tak ada seorang pun yang mencegah massa menjarah dan merusak. Berbeda di Jayakarta Hotel and Resort, Jalan Hayam Wuruk, demikian Ridwan, jumlah personel TNI dan Polri yang berjaga banyak sekali. Setiap orang yang melintas akan ditanya arah tujuannya.

Ridwan berjalan kaki ke rumahnya di Cempaka Putih. Jaraknya sekitar 9,1 kilometer. Agar aman, ia menyatu bersama gerombolan massa. Jika mereka berteriak, Ridwan ikut. Tapi ketika massa melempar dan menjarah, ia tak berkutik.

Dari peristiwa itu ia memahami pada apa yang disebutnya “pola perusakan.” Kelompok orang berambut cepak, celana panjang, dan berusia muda selalu mengawali provokasi. Sebagian besar dari mereka bertelanjang dada, kaosnya diselempangkan di bahu. Setelah perintah menjarah, merusak, atau membakar, barulah orang-orang muda berambut panjang mengeksekusinya.

Di sepanjang jalan pulang Ridwan melihat mobil-mobil baru di showroom dikeluarkan ke jalan, lalu dibakar. Di tengah jalan juga banyak angkutan umum dan motor yang dibakar. Orang-orang lalu-lalang memikul sofa, elpiji, monitor, televisi, hingga beras.

Ridwan sempat malu melihat kerumunan warga membopong karung beras. Ia melenggang santai, pura-pura tak melihat kejadian itu. Sejenak ia terkekeh, lalu geleng-geleng kepala. Ia bilang, mereka semua ialah sekelompok tetangganya.

“Mereka ikut-ikutan. Bawa 50 kilogram, kan, berat, tapi diangkut saja,” kata Ridwan kepada saya, mengenang peristiwa 19 tahun lalu.

Setiap pengendara motor diberhentikan massa. “Kalau orang Tionghoa, motornya dibakar, terus orangnya disuruh jalan,” tuturnya.

JANDI MUKIANTO saat prahara Mei 1998 itu masih bocah kelas empat Sekolah Dasar. Sore itu ia bersepeda di Jalan Gajah Mada. Ia bukan peranakan Tionghoa yang berduit.

Jandi melihat banyak koridor toko dan gerbang rumah ditulisi ‘Milik Pribumi’. Ia melenggang di antara warga yang menjarah kulkas dan televisi. Jandi tetap mengayuh sepedanya. Tiba-tiba ia diteriaki.

“Mereka bilang: ‘Cina! Cina!’ Kemudian saya diberhentikan. Mereka minta duit, saya enggak ada duit, terus saya dipukulin,” tuturnya kepada saya. Jandi merasa kecil. Negara sama sekali tak melindungi warganya, batin dia. Rumah orangtuanya juga dilempari batu.

Budi Santoso Tanuwibowo saat aksi pembakaran dan penjarahan di kawasan Glodok itu berusia 38 tahun. Ia menginap di kantornya, di daerah Jalan Gajah Mada. Di dalam kantor, ia melihat pantulan api. Ia mendengar suara orang merusak dan berteriak sepanjang malam.

Candra Jap tak boleh keluar rumah oleh keluarganya. Dari jendela rumah, ia melihat warga kampungnya meronda. Mereka membawa beragam senjata sebagai alat pertahanan diri, dari pentungan, tongkat bisbol, golok, hingga samurai.

“Semakin malam asap dari pertokoan Plaza Glodok makin menghitam dan mengepul,” kata Candra.

MUHAMMAD RIDWAN tiba di rumah pada petang hari, sekitar pukul 18.30. Setelah berjumpa dengan keluarga, ia bergabung dengan warga untuk berjaga-jaga di ujung gang. Pelantang suara masjid mengumumkan bahwa ruko-ruko di kawasannya milik pribumi dan dicegah agar tak dibakar atau dijarah. Meski setelah itu tak ada penjarahan dan perusakan, Ridwan tetap berjaga-jaga sampai pagi.

Masih belum tidur, Jumat, 15 Mei 1998, sekitar pukul 9 pagi, Ridwan berjalan kaki menuju restorannya. Sesampainya di Plaza Glodok, ia tak boleh mendekat oleh aparat keamanan. Ridwan melihat dari kejauhan, restorannya sudah hangus. Pintu geser rontok.

Keesokan harinya ia memasuki restoran. Saat itulah ia baru menyadari mobil Kijang Grand Extra dan beras 2 ton di lantai dasar miliknya hilang.

“Ada sekitar Rp1 miliar yang hangus. Saya trauma, tapi anak saya ada empat, waktu itu masih kecil semua, butuh biaya,” ujar Ridwan.

Ridwan tenang menghadapi semua itu. Hari itu juga ia berinisiatif ke Perusahaan Daerah Pasar Jaya Unit Pasar Besar Glodok. Ridwan meminta izin agar para pedagang bisa membangun tenda di halaman Plaza Glodok. Ia mendapat izin itu dan banyak orang yang kembali berdagang dari beragam etnis.

“Saya buka kaki lima di situ buat nyambung hidup,” tuturnya.

Setahun berlalu, Plaza Glodok direnovasi. Ridwan meminta izin lagi agar bisa membangun tenda di halaman terluar. Permintaannya direstui kembali. Sekitar tahun 2002, Ridwan menempati satu ruko berukuran sekitar 5×5 meter di Glodok City. Hingga kini ia membuka lapak kecil masakan Padang di situ.

“Sampai sekarang pengunjungnya enggak seperti sebelum kerusuhan Mei,” keluhnya.

SAYA MENEMUI lusinan pedagang etnis Tionghoa di Glodok City. Tapi mereka enggan bertutur soal kisah personal mereka di hari-hari prahara Mei 1998. Mereka memendam getir. Seorang pedagang obat yang kerap dipanggil Koh Akin berkata seluruh dagangannya cuma tinggal abu. Saat itu sebagian warga peranakan Tionghoa memilih untuk menutup toko.

“Sakit waktu itu, sakit,” katanya. “Saya bukan enggak mau cerita, tapi cuma buat apa saya bongkar luka lama itu.”

Usai peristiwa yang membakar kawasan Glodok, Candra Jap menjadi paranoid. Hampir selama 2 tahun ia selalu ketakutan jika melihat orang-orang berkerumun. Beberapa tahun setelahnya, ia baru menambahkan marga ‘Jap’ di belakang namanya. Bagi Candra, cara terbaik agar peristiwa Mei 1998 tak terulang ialah dengan terus mengingatnya.

“Jangan pernah lupa kalau peristiwa ini pernah terjadi. Memaafkan sudah, tapi teruslah mengingat supaya jangan sampai terulang,” kata Candra Jap.

Sedangkan Budi Santoso Tanuwibowo kini menjadi Sekretaris Jenderal Pusat Perhimpunan Indonesia Tionghoa (Inti). Organisasi tersebut didirikan pada 1999. Saat ini telah memiliki 12 cabang di tingkat provinsi dan 38 di kabupaten dan kota. Perhimpunan Inti kerap menguatkan pesan keberagaman.

“Bangsa Indonesia,” tutur Budi, “bukankah bangsa yang lahir karena kesamaan etnis atau agama. Tetapi karena kesamaan cita-cita ingin lepas dari penjajahan dan penindasan.”

PT Bestprofit.