PT Best Profit Futures Jambi

PT Bestprofit – Hiperseks Butuh Terapi Kesembuhan, Bukan Stigma Negatif

PT Bestprofit – Yogya merupakan kota yang menyimpan banyak rahasia bagi D. Perempuan berusia 28 tahun itu kini telah kembali ke rumahnya di Kalimantan, tapi ia tak akan pernah melupakan pergaulan bebas yang ia lakukan bersama pacar-pacarnya selama kuliah. Gaya hidup itu ia tutup rapat-rapat dari orang tuanya, termasuk rahasia bahwa ia adalah seorang hiperseks.

D hanya berbagi kisah pada dua orang sahabat terbaiknya. Kepada Tirto, ia juga berkisah tentang hari-harinya selama menjalani pergaulan bebasnya itu. Dalam sehari, tuturnya, ia bisa berhubungan seksual minimal tiga kali. Kurang dari itu, ia jadi gelisah dan melampiaskannya lewat aktivitas masturbasi. Pacar-pacarnya awalnya kaget. Setelah beberapa waktu, ditambah sejumlah penjelasan, ada yang bisa bertahan agak lama, tetapi ada juga yang tak tahan dan kemudian memilih untuk mengakhiri hubungan.

D tak mau menyebutkan sejak kapan ia menderita hiperseksualitas, tapi ia menolak dengan tegas pandangan orang-orang bahwa menjadi pelaku hiperseksualitas itu menyenangkan (bagi diri sendiri dan pasangan). Efek negatif yang timbul rupanya mengganggu aktivitas utama D sehari-hari seperti bekerja dan kuliah. Pikirannya tak fokus. Libido yang meluap-luap membuatnya kerap kali bolos, demi bisa melampiaskannya sendiri maupun mengajak (baca: agak memaksa) sang pacar.

“Pernah aku ketinggalan pesawat sampai dua kali, juga telat untuk pertemuan penting, hanya gara-gara aku sibuk gituan sama pacarku. Pacarku lama-lama mengeluh juga, tapi ini aku juga sebenernya enggak menyukai kondisiku sendiri. Mau gimana, lagi, kayak kecanduan. Kalau enggak dilakukan tahu sendiri gimana rasanya, contohnya aja yang kecanduan ngerokok itu,” ungkapnya.

Satu lagi, D kerap dilanda perasaan bersalah yang amat-sangat usai beraktivitas seksual. Ia tak bisa mengendalikan gejolak birahinya. Itu yang ia sesalkan. Ia menyadari dirinya tak senormal orang-orang lain, tapi tak bisa berbuat apa-apa. Ia juga belum pernah mencoba berobat atau terapi, karena malu. Di satu titik ia juga tak bisa benar-benar menikmati aktivitas seksual itu sendiri sebab pada akhirnya jatuh sebagai rutinitas biasa.

Keinginan berhubungan seks secara berlebihan, seperti yang dialami D sudah berlangsung sejak lama. Pada tahun 1886 psikiater Jerman Kraft-Ebbing mendeskripsikan apa yang ia sebut dengan “hypersensuality” yang menjadi awal munculnya istilah dan studi atas kondisi hiperseksualitas. Fenomena tersebut kemudian menjadi tempat tersendiri untuk dikaji, demikian juga mendapat penamaan yang macam-macam: Don Juanisme, nymphomania, erotomania, atau sekskoholisme. Titik fokus kebanyakan studi memandang kondisi ini sebagai kecanduan seks.

Randy Gilliland dari Departemen Psikologi Universitas Young Birmingham pada 2010 silam menerbitkan tesis yang tujuan utamanya untuk membuktikan dua efek terbesar dari hiperseksualitas yang sebenarnya telah dikenal lama: malu dan rasa bersalah.

Keduanya rasa tersebut diakui muncul dalam diri sejumlah responden penelitian Gilliland, barisan para pecandu seks yang mau berbagi cerita dengannya. Hal ini menandakan bahwa penderita hiperseksualitas, sebagaimana kondisi kecanduan lain, juga ingin sembuh. Serupa pengakuan D, efek negatifnya cukup merepotkan dan melelahkan. Hiperseksualitas bukan kondisi yang mereka inginkan. Mereka ingin sembuh dan membangun hubungan yang lebih sehat bersama pasangan.

Demikian juga dalam ulasan kanal Hipersexual Disorders, hiperseksualitas itu lebih kompleks dari pandangan orang awam yang menilainya sebagai kondisi orang yang haus bercinta. Sebagaimana candu jenis lainnya, hiperseksualitas juga berangkat dari titik paling remehnya tetapi dilakukan berulang-ulang hingga akhirnya tak bisa untuk dihentikan (dengan mudah). Mulai dari kebiasaan masturbasi di depan video porno, misal, hingga akan gelisah luar biasa jika hari ini baru bercinta satu kali.

Otak seorang hiperseks menjadi kecanduan dopamin, zat yang bertanggung jawab atas kesenangan. “Ini berlaku untuk semua kecanduan: narkotika, alkohol, judi, seks, belanja. Mereka tak mampu untuk merasa cukup dan terlalu memaksa diri untuk merasakan hal yang bikin kecanduan itu,” kata Ethlie Ann Vare, penulis buku Love Addict: Sex, Romance, and Other Dangerous Drugs, kepada Medical Daily.

Sebagaimana hasrat pecandu alkohol yang menginginkan botol selanjutnya, atau pecandu rokok yang tidak bisa untuk tidak menggenggam rokok yang terbakar, komitmen dari si pelaku untuk berhenti bisa terasa amat sangat susah. Tak semudah diucapkan, sebab aktivitas yang dilakukannya menjadikan luka hati, stres, kesepian, hingga kecemasan jadi hilang. Berganti dengan kesenangan sesaat, yang dalam tahap terekstremnya, bisa sampai membahayakan diri sendiri.

Dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan pada tahun 2014 di Jurnal PLOS ONE bertajuk “Neural Correlates of Sexual Cue Reactivity in Individuals with and without Compulsive Sexual Behaviour”, dibuktikan bahwa aktivitas di otak bagi orang yang kecanduan seks sama dengan pecandu narkotika.

Saat penderita hiperseksualitas diperlihatkan gambar sensual, tiga bagian otak yakni siatrum ventral, dorsal anterior cingulate, dan amigdala, aktif, sebagaimana respon otak pecandu narkotika yang diperlihatkan gambar obat-obatan terlarang.

Meski demikian, menyalahkan si penderita (apalagi murni memakai sudut pandang moral) bukan hal yang bijak. Ada banyak kasus yang menunjukkan bahwa asal muasal kecanduan bukan karena kebiasaan pribadi, tapi kondisi kesehatan yang kompleks. Akar persoalan yang membuat posisi si penderita justru menjadi seorang korban.

Penderita hiperseksualitas biasanya juga seorang penderita gangguan bipolar, demikian kata psikiater dari Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, dr. Natalia Widiasih, SpKJ (K), Mpd. Ked. Gangguan bipolar muncul karena ketidakseimbangan antara dopamin dan seratonin dalam otak. Salah satu efek yang kerap muncul adalah meningkatnya libido menjadi lebih tinggi dan tak terkontrol.

Dr. Natalia mengungkapkan bahwa 57 persen penderita gangguan bipolar bisa mengalami peningkatan gairah seksual. Saat dorongan seksual ini muncul maka norma sosial, moral, hilang. Si penderita bisa melakukan hubungan seksual dengan siapapun. Hal ini menjelaskan fenomena perselingkuhan yang tinggi di kalangan para hiperseks. Kebutuhannya bukan lagi seberapa banyak berhubungan seksual, tapi berharap menemukan sensasi yang beda dengan orang yang beda juga.

Pada tingkat pertama, kata Dr. Natalia, penderita akan mengalami suasana perasaan atau mood yang berubah drastis. Kemudian, pada fase kedua atau yang dikenal dengan fase mania, ia akan mengalami peningkatan energi dan peningkatan gairah serta dorongan seksual yang makin makin susah dikontrol.

Seorang hiperseks juga bisa karena terkena efek samping dari obat penyakit Parkinson yang dideritanya. Ada kemungkinan juga ia pernah menjalani terapi penyuntikan hormon testosteron atau estrogen namun sialnya mengalami malpraktek sebab dosis atau takarannya tak tepat.

Sejumlah riset menunjukkan hiperseksualitas dikaitkan dengan perubahan biokimia dan fisiologis akibat penyakit demensia. Gejalanya antara lain tidak bisa mengontrol impuls, tidak mampu membaca dan memahami isyarat sosial sesuai aturan dan norma masyarakat dalam komunikasi sehari-hari, tak mampu fokus dan tenang (sehingga bertindak hiperaktif), juga bersikeras untuk belajar perilaku seksual dan tak mau atau lupa cara kerja aktivitas lain (hanya fokus ke hal-hal seputar seks).

Lebih lanjut lagi, hiperseksualitas juga bisa muncul karena faktor psikologis. Ada hiperseks yang memiliki masa lalu yang agak parah sebab kekurangan afeksi dari orang terdekat juga lawan jenis, sehingga ia tumbuh menjadi seseorang yang sangat beringas namun menerjemahkannya murni untuk seks. Ada juga hiperseks yang dulu pernah
mengalami pelecehan seksual sehingga saat dewasa berusaha menyalurkan traumanya dengan seks yang tak terkontrol.

Menimbang berbagai faktor yang menyebabkan seseorang tumbuh menjadi hiperseks, terutama faktor-faktor yang berasal dari luar dirinya, penting untuk ditekankan bahwa yang bersangkutan itu perlu terapi penyembuhan, bukannya stigma negatif bermodal kacamata moral saja.

Posisikan dia sebagai pecandu narkoba misalnya, yang idealnya bukan untuk dikriminalisasi, melainkan untuk dibawa ke lembaga rehabilitasi yang layak agar apa yang dideritanya bisa pelan-pelan disembuhkan. Sebab kita pun tak tahu, alih-alih bangga, jangan-jangan si pecandu itu sebenarnya benci dengan kondisi dirinya sendiri. PT Bestprofit