PT Best Profit Futures Jambi

Tag Archives: Best Pro

Best Profit – Mungkinkah Alfamart dan Indomaret Menjadi Seperti 7-Eleven?

Mungkinkah Alfamart dan Indomaret Menjadi Seperti 7-Eleven?Best Profit – Gerai 7-Eleven milik PT Modern Sevel Indonesia pernah berjaya, lalu kejayaannya memudar, dan akhirnya ia lenyap dari Indonesia. Sevel masuk ke Indonesia pada tahun 2008. Setiap tahun, ada sekitar 30 sampai 60 gerai Sevel baru dibuka di Jakarta. Ini membuat jumlah gerai Sevel terus bertambah. Tahun 2011, hanya ada 50-an gerai Sevel. Tahun 2012, jumlahnya bertambah hampir dua kali lipat. Cukup agresif.

Sampai tahun 2014, jumlah gerai Sevel di Jakarta sudah mencapai 190. Pada tahun itu juga, sebanyak 40 gerai baru Sevel dibuka. Penjualan bersih pun naik 24,5 persen menjadi Rp971,7 miliar dari tahun sebelumnya yang hanya Rp778,3 miliar. Tahun itu bisa disebut sebagai puncak kejayaan Sevel.

Tahun berikutnya, penjualan Sevel menurun, demikian pula dengan jumlah gerainya. Tahun 2015 itu, total penjualan bersih Sevel turun menjadi Rp886,84 miliar. Untuk pertama kalinya Sevel melakukan penutupan gerai. Tak tanggung-tanggung, 20 sekaligus. Sementara gerai baru yang dibuka hanya 18, angka terkecil penambahan gerai sejak 2011.

Pada 22 Juni tahun ini, Direktur PT Modern Sevel Indonesia Chandra Wijaya mengumumkan penutupan seluruh gerai Sevel secara resmi. Mulai tanggal 30 Juni, tak satu pun gerai Sevel di Indonesia beroperasi.

Alfamart, juga punya pola serupa seperti 7-Eleven. Meski masih terlalu jauh, tetapi jika tak diantisipasi, ia bisa saja bernasib sama. Tahun 2011, ia hanya punya 5.797 gerai. Lima tahun kemudian, jumlah gerainya lebih dari dua kali lipat, yakni mencapai 12.366 gerai.

“Ada ketidaksesuaian ekspektasi. Harapannya, ketika menambah gerai, pendapatan tentu bertambah, tetapi yang terjadi tidak demikian,” ujar Marolop Alfred Nainggolan, Analis Koneksi Kapital.

Alfred menjelaskan bahwa yang terjadi pada Alfamart adalah ketika membangun dan membuka gerai baru, uang yang dipakai biasanya uang yang berbunga seperti pinjaman bank atau penerbitan obligasi. Ekspektasinya, dari penambahan gerai tentu akan terjadi penambahan pendapatan. Ketika kenaikan pendapatan tak signifikan, maka laba akan tergerus karena perusahaan mempunyai biaya beban bunga yang harus terus dibayarkan.

Semester I tahun ini, laba PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk tergerus dari Rp83 miliar pada periode yang sama tahun lalu menjadi hanya Rp38,8 miliar. Pendapatan pada enam bulan pertama tahun ini sebenarnya tumbuh 13,5 persen jika dibandingkan dengan tahun lalu. Laba usahanya pun tumbuh 13 persen. Namun, laba bersihnya anjlok karena besarnya biaya bunga dan obligasi.

Berdasarkan laporan keuangannya, tahun ini emiten berkode AMRT itu membayarkan utang obligasi sebesar Rp1 triliun. Pembayaran untuk utang jangka panjangnya juga meningkat dari Rp208 miliar pada semester I tahun lalu menjadi Rp244 miliar tahun ini.

“Ia menambah gerai dari uang pinjaman, lalu pendapatannya tumbuh standar, sementara beban bunga membengkak. Alhasil, labanya drop,” begitu analisis Alfred terhadap laporan keuangan Alfamart.

Analisis serupa juga berlaku bagi Indomaret. Sejak Januari hingga Juni tahun ini, PT Indoritel Makmur Internasional Tbk—pemilik merek dagang Indomaret—hanya membukukan laba bersih Rp30,5 miliar. Padahal, pada periode yang sama tahun lalu, labanya mencapai Rp105,5 miliar.

Menurutnya, jika tak menahan diri untuk terus menerus membuka gerai baru, Alfamart dan Indomaret mungkin bisa bernasib seperti 7-Eleven. “Secara teoritis, kalau mereka terus membuka gerai baru dengan pendanaan yang berbunga, bisa jadi perlahan akan berakhir sama seperti Sevel,” kata Alfred.

Dia menyarankan agar peritel modern tidak terlalu agresif. Karena ketika gerai ditambah, belum tentu pendapatan meningkat. Konsumen tidak menambah aktivitas belanjanya, mereka hanya memindahkan aktivitasnya.

Misal, ketika di ujung gang ada gerai ritel modern, masyarakat satu gang itu tentu akan berbelanja di toko ritel tersebut. Karena punya banyak pembeli, maka toko ritel itu membuka gerai baru sekitar 500 meter dari lokasinya semula. Gerai baru itu tentu tetap akan dikunjungi pembeli, tetapi mereka adalah pembeli yang sama dengan yang datang ke toko pertama. Alhasil, pendapatan sama saja atau berbeda sedikit, tetapi biaya beban karena membuka toko baru meningkat.

Mungkinkah Alfamart dan Indomaret Menjadi Seperti 7-Eleven?

Tak hanya Indomaret dan Alfamart yang melesu dan tergerus labanya. Industri ritel secara umum juga melambat. Tahun ini, Asosiasi Peritel Indonesia (Aprindo) sebenarnya menargetkan penjualan hingga Rp220 triliun atau tumbuh 10 persen dari penjualan tahun lalu. Namun, pada semester I tahun ini, industri hanya mencetak pertumbuhan 3,7 persen.

“Melihat apa yang dicapai pada semester I, saya kira target pertumbuhan 10 persen sampai akhir tahun akan sulit sekali dicapai,” ujar Roy Nicholas Mandey, Ketua Aprindo, Kamis (3/8).

Dia menilai ada perubahan perilaku konsumen dalam berbelanja di toko ritel. Kemudahan dan kemajuan zaman, kata Roy, membuat masyarakat memiliki banyak opsi dalam berbelanja. Masyarakat bisa membeli online atau lewat jasa Go-Jek. “Kalau mereka belanja dengan Go-Jek kan belum tentu itu barang dibelinya di toko ritel modern,” kata Roy.

Ketika pendapatan industri ritel lesu, perbankan malah kebanjiran dana. Jumlah dana pihak ketiga di tabungan maupun deposito pada Mei tahun ini melebihi Rp5.000 triliun. Angka tersebut tumbuh 11,18 persen dari periode yang sama tahun lalu.

Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), uang simpanan tabungan tercatat Rp1.571 triliun, tumbuh 9,7 persen dari periode yang sama tahun lalu. Sedangkan jumlah uang di deposito tumbuh 10 persen, menjadi Rp2.222 triliun.

Bhima Yudhistira, ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mengatakan ada dua hal yang terjadi. Pertama, masyarakat menengah ke bawah mengalami penurunan daya beli. “Dari inflasi yang rendah selama dua tahun terakhir, bisa dilihat kondisi daya beli kita,” kata Bhima.

Juli tahun lalu, inflasi inti berada di angka 0,34 persen. Sedangkan Juli tahun ini, hanya 0,26 persen. Rendahnya inflasi ini, menurut Bhima, menunjukkan permintaan secara agregat memang menurun.

Kedua, orang-orang kaya menahan konsumsinya dengan menyimpan uang di bank, baik dalam tabungan biasa maupun deposito. Orang-orang kaya ini mengantisipasi kondisi perekonomian sampai risiko politik menjelang pilpres 2019. “Bahasa sederhananya, orang kaya berjaga-jaga dari kondisi terburuk,” ujar Bhima.

Secara makro, lanjut Bhima, dua hal itu menunjukkan kondisi ekonomi yang kurang berkualitas. Serapan tenaga kerja juga turun pada semester I tahun ini, dari 680 ribu pada semester I 2016 menjadi 639 ribu. Kalau serapan tenaga kerja terus menurun, imbasnya akan ke daya beli hingga penerimaan pajak.

Bagi Alfamart dan Indomaret, ada dua persoalan yang sedang dihadapi. Selain persoalan strategi ekspansi yang dipaparkan Alfred, dua peritel ini juga dihantam penurunan daya beli seperti disebutkan Bhima. Best Profit

Best Profit – Ramai-Ramai Meninggalkan Mobil Bensin

Ramai-Ramai Meninggalkan Mobil BensinBest Profit –  Inggris baru saja mengumumkan akan melarang penjualan kendaraan berbahan bakar bensin dan diesel mulai pada 2040. Langkah itu diambil oleh pemerintah Inggris guna mengurangi emisi dengan target pengurangan hingga 80 persen di tahun 2050.

Upaya inggris ini bukan tanpa alasan. Menurut laporan dari Vehicle Certification Agency Inggris, setiap tahunnya ada 29 ribu kematian karena polusi partikel halus yang disebabkan oleh particulate matter (PM) dari kendaraan bermotor terutama yang berbahan bakar minyak. 

PM sangat berbahaya karena dapat menyebabkan permasalahan pada pernafasan dan kardiovaskular. Selain PM ada juga CO atau karbon monoksida yang dapat memengaruhi aliran oksigen dalam darah sehingga dapat mengurangi ketersediaan oksigen dalam tubuh. Selain itu, gas berbahaya dari kendaraan bermotor juga ada hidrokarbon yang menyerang sistem pernapasan manusia.

Bahaya dari gas-gas ini menjadi salah satu faktor pendorong pemerintah Inggris untuk segera mengurangi jumlah kendaraan bermotor berbahan bakar minyak. Di sisi lain, pemerintah Inggris juga mendapat desakan dari para pegiat lingkungan untuk segera mencari solusi soal polusi dari kendaraan bermotor.

Laporan Environmental Protection UK menyebutkan, kendaraan di jalan raya Inggris adalah penyumbang 20 persen total emisi CO2 yang disebut sebagai penyebab utama dari perubahan iklim.

Tak hanya Inggris, larangan penjualan kendaraan berbahan bakar minyak juga dilakukan oleh Norwegia. Negara Skandinavia ini hanya akan menjual mobil-mobil listrik, hidrogen atau plug-in hybrid pada tahun 2025. Sejak 1990an, Norwegia sudah fokus dalam menanggulangi soal polusi, kemacetan dan kebisingan dari kendaraan bermotor. 

Perancis juga melakukan hal yang sama. Pemerintah Perancis mengumumkan akan mengakhiri penjualan kendaraan bermotor yang berbahan bakar bensin dan solar di tahun 2040. Sementara Belanda berencana menetapkan larangan penjualan kendaraan berbahan bakar bensin dan diesel pada 2025.

Di Asia, ada India yang hanya akan memperbolehkan penjualan mobil listrik di tahun 2030. Ini adalah salah satu langkah India untuk mengurangi polusi udara. Menurut laporan LSM lingkungan Greenpeace, polusi udara di India telah menyebabkan setidaknya 1,2 juta orang meninggal setiap tahun.Langkan pencegahan pun diambil salah satunya dengan mulai beralih ke mobil listrik.

Ramai-Ramai Meninggalkan Mobil Bensin

Era Mobil Listrik

Larangan penjualan kendaraan berbahan bakar minyak sudah pasti akan membuat negara-negara tersebut diserbu mobil listrik. Para produsen pun sudah mulai mengendus pangsa pasar yang cukup besar, sehingga ancang-ancang menggenjot produksi. 

Di Inggris, produsen mobil BMW sudah mengumumkan akan menggunakan pabriknya di Oxford, Inggris untuk memproduksi mobil listrik mulai 2019 mendatang. Ini merupakan keputusan berani BMW di tengah risiko Brexit sekaligus menegaskan terkait potensi pasar mobil listrik di Inggris.

Menurut analis dari Bloomberg New energy Finance, Albert Cheung pada  tahun 2040 mendatang, diprediksi sekitar 79 persen mobil di Inggris adalah mobil listrik. Pasar mobil listrik juga akan semakin menggiurkan karena harga baterai yang kian menurun. 

Di Norwegia, popularitas mobil listrik semakin cemerlang. Saat ini, dengan dengan populasi yang hanya berjumlah 5,2 juta orang, Norwegia sudah memiliki 135.276 kendaraan listrik yang mengaspal di jalanan. Mereka juga memiliki stasiun pengisian terbesar di dunia yang mampu menampung 28 kendaraan secara bersama-sama dan mampu mengisi penuh hanya dalam waktu setengah jam.

Negara tersebut berambisi untuk semakin menggenjot kendaraan listrik di jalan raya Norwegia. Kendaraan listrik di Norwegia seperti Tesla model S, Nissan Leaf, Mitsubishi Outlendar PHEVs, Tesla Model X dan BMW i3 pun laris manis di negara tersebut.

Secara global penjualan kendaraan listrik terus menunjukkan peningkatan. Dari 10 ribu unit di tahun 2010 menjadi lebih dari 550 unit pada 2015. Jumlah kendaraan listrik yang melaju di ruas jalan raya pada tahun 2016 menginjak angka 2 juta kendaraan dan naik 60 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Meskipun jumlah 2 juta kendaraan listrik itu baru mencapai 0,2 persen dari kendaraan yang ada di dunia, akan tetapi, adanya isu lingkungan dapat mengubah jumlah tersebut di masa depan. Apalagi Cina dan India, yang menjadi pasar terbesar kendaraan berbahan bakar minyak kini mulai beralih ke kendaraan listrik serta keputusan beberapa negara untuk mulai beralih ke mobil listrik.

Pemerintah India memiliki ambisi untuk menjual mobil listrik dan hybrid sebanyak 6 juta hingga 7 juta unit pada tahun 2020. Sedangkan berambisi untuk mengaspalkan 5 juta mobil listrik di tahun 2020. 

“Sejauh ini Cina merupakan pasar mobil listrik terbesar, dengan 40 persen mobil listrik yang terjual di dunia dan lebih dari dua kali liat jumlah yang terjual di Amerika Serikat,” tulus IEA seperti dikutip Bloomberg. “Tidak dapat dipungkiri bahwa serapan pasar mobil listrik saat ini sangat dipengaruhi oleh kebijakan terkait lingkungan.”

Dari sisi produsen, melihat adanya perubahan minat konsumen dari mobil diesel ke mobil listrik serta penjualan mobil diesel yang menurun, produsen mobil terbesar di dunia Volkswagen berencana meluncurkan empat jenis kendaraan listrik dalam beberapa tahun ke depan.

Mercedes-Benz juga akan memperkenalkan 10 jenis kendaraan listrik terbaru untuk bersaing di pasar kendaraan listrik. Sedangkan Tesla berusaha merebut hati konsumen dengan mulai memproduksi Tesla Model 3 dan menjualnya dengan harga murah.

Sehingga tak menutup kemungkinan, di masa yang akan datang, mobil listrik akan memimpin dan mobil diesel dan berbahan minyak akan mulai dilupakan. Best Profit

PT Bestprofit – Ironi Pemberantasan Narkoba Era Jokowi

Ironi Pemberantasan Narkoba Era JokowiPT Bestprofit – Brigadir Jenderal Eko Daniyanto meminta anak buahnya mengambil sebuah pistol saat kami mewawancarainya, beberapa hari lalu. Tak lama, pistol itu diantar ke ruangannya. Pistol itu kecil, berwarna hitam doff, dengan peluru berbentuk oval. Ia mencoba memasukkannya ke sebuah sarung. Sayang, pistol itu tak muat.

“Tidak ada Glock?” tanya Eko seraya menyebut merek pistol kepada anak buahnya.

“Tidak ada,” jawab anak buahnya.

Siang itu Eko memberi bocoran kepada kami soal operasi penggerebekan narkoba di satu tempat di Jakarta. Isyarat itu ia lontarkan bahkan saat kami memasuki ruangannya. Seraya menunjuk kaos bertuliskan ‘Turn Back Crime’ yang ia kenakan, Eko berkata jika seragam itu pertanda ia akan ke lapangan.

Sebelum bergegas menuju target lokasi penggerebekan, ia menyempatkan untuk berbincang dengan kami mengenai penanganan narkoba. Menurutnya, tak ada problem penanganan narkoba yang di bawah kendalinya di Direktorat Tindak Pidana Narkoba Markas Besar Polri.

“Tidak ada masalah dalam hal penindakan, pengungkapan, sampai penyidikan,” ujar Eko.

Eko tak menyebut lokasi yang bakal digerebek, tetapi ia menjelaskan operasi ini digelar bersama Bea Cukai dan Badan Narkotika Nasional. Karena pistolnya tak muat ke dalam sarung, Eko menyelipkan senjata api itu ke pinggang kiri.

“Sudah begini saja,” katanya sembari mondar-mandir ruangan.

Dua pekan ini, setelah pengungkapan peredaran narkoba jenis sabu seberat satu ton menjadi topik perbincangan di media, penangkapan demi penangkapan semakin intens dilakukan kepolisian termasuk BNN. Lantaran pengungkapan sabu satu ton itu Presiden Joko Widodo kembali melontarkan mengejutkan di depan publik saat ia menghadiri acara sebuah partai politik, 21 Juli lalu. (Baca: Tim Gabungan Gerebek Pengedar Ratusan Kilo Sabu)

Dalam pidatonya, Jokowi secara lisan memerintahkan tembak mati bagi para bandar narkoba berkewarganegaraan asing. Alasannya, Indonesia sudah dalam tahap “darurat narkoba.”

“Karena betul-betul kita ini ada pada posisi yang darurat di dalam urusan narkoba,” kata Jokowi, disambut tepuk tangan khalayak.

Apa yang dikatakan Presiden Jokowi sebetulnya bukan kali pertama dilontarkan. Sejak dikritik karena pelaksanaan hukuman mati, Presiden Jokowi gemar berujar “darurat narkoba di Indonesia”.

Sayangnya, pernyataan ini sama sekali tak diiringi langkah-langkah penguatan rehabilitasi bagi para pencandu narkoba. Alhasil, semakin tinggi angka penyalahgunaan narkoba khususnya di kalangan pelajar hingga mahasiswa.

Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintahan (LAKIP) BNN menguatkan hal tersebut.

Meski ada tren menurun penyalahgunaan narkoba pada pelajar dan mahasiswa selama sepuluh tahun terakhir (2006-2016), tetapi jumlahnya naik jika diklasifikasi.

Misalnya, tersangka narkoba pada tingkat pendidikan tahap pertama (SLTP) sebesar 8.262 orang pada 2010 meningkat menjadi 12.765 orang pada 2015. Juga pada tingkat atas (SLTA): 20.280 orang pada 2010 meningkat jadi 30.055 orang pada 2015. Sementara tersangka narkoba pada usia mahasiswa: 943 orang pada 2010 meningkat jadi 1.367 orang pada 2015.

Rehabilitasi, Bukan Penahanan

Adrianus Eliasta Meliala, kriminolog dan komisioner Ombudsman RI, mengkritisi kebijakan berat sebelah penanggulangan bahaya narkoba saat ini.

Ia menyebut, pemberantasan narkoba di bawah BNN kini berubah haluan saat berganti pimpinan. Dulu, sebelum Inspektur Jenderal Budi Waseso menjabat Kepala BNN, lembaga negara ini berfokus pada upaya rehabilitasi.

Namun, BNN kini dinilai tidak lagi menguatkan perannya pada rehabilitasi melainkan penindakan untuk mengungkap peredaran narkoba.

“Kenapa ketika zaman Irjen Anang Iskandar, BNN konsen di pencegahan, di rehabilitasi, sekarang tidak?” kata Adrianus kepada reporter Tirto di ruang kerjanya.

“Kita, kan, orang (yang memakai) data. Tetapi jika berdasarkan kepada kesukaan saja, dulu Pak Anang suka kepada rehabilitasi, dan Pak Budi Waseso suka menangkap. Ini uangnya terlalu besar,” kata Adrianus.

Jika kebijakan ini tetap dilakukan, ia menilai target untuk merehabilitasi pencandu narkoba yang ditetapkan pemerintah bisa jadi tak tercapai. “Makanya, target yang ditetapkan oleh negara lewat terus, kan. Semua bikin target tapi lewat semua.”

Namun, kritik kebijakan berat sebelah terhadap BNN diluruskan oleh Inspektur Jenderal Gatot Subiyaktoro, sekretaris utama BNN. Ia berkata BNN telah melakukan upaya penindakan dan pencegahan, beriringan langkah mencegah penyalahgunaan dan peredaran narkotika di Indonesia. Di gedung parlemen, ia mengutip hasil survei BNN yang mengungkapkan prevalensi alias tren angka penyalahgunaan narkoba menurun.

Tren angka penyalahgunaan yang disebut Gatot berdasarkan hasil survei BNN dan Pusat Penelitian Kesehatan UI yang dirilis pada Februari 2017. Survei itu menyasar responden dari kalangan pelajar dan mahasiswa di 18 provinsi. Survei tak mencantumkan data detail korban penyalahgunaan narkoba.

Namun, berdasarkan pernyataan Irjen Budi Waseso, jumlah pengguna narkoba di Indonesia terus meningkat. Ia menyebut, misalnya, jumlahnya mencapai 5,9 juta orang pada awal 2016. Angka ini meningkat secara fantastis sejak Juni 2015.

Klaim angka pengguna narkoba meningkat di Indonesia itu sejalan langkah penindakan BNN, yang dilakukan pula oleh Polri melalui Direktorat Tindak Pidana Narkoba. Angka pemakai narkoba bisa disebut “meningkat” karena banyak pengguna harus menjalani hukuman.

Padahal, menurut Adrianus, penanganan bagi pengguna atau pencandu seharusnya tidak pada tindakan hukum. Untuk membuat jera, ia harus menjalani rehabilitasi.

“Ia orang sakit, bukan orang yang bersalah,” ujar Adrianus, menambahkan bahwa untuk menekan angka tinggi pencandu narkoba, perlu ada revisi kebijakan pemerintah soal korban penyalahgunaan narkotika.

Brigadir Jenderal Eko Daniyanto tak menampik jika penanganan narkoba di kepolisian lebih diutamakan pada penindakan. Namun, ia menegaskan, jika ada tersangka menjadi korban penyalahgunaan narkotika, ia direkomendasikan untuk menjalani rehabilitasi usai mendapatkan penilaian dari Badan Narkotika Nasional.

“Manakala kita menemukan di lapangan di bawah pasal pengguna, kita langsung proses kerja sama dengan BNN untuk assessment. Bukan langsung rehabilitasi,” ujar Eko.

Ironi Pemberantasan Narkoba Era Jokowi

Tembak Mati Bukan Solusi

Segera setelah instruksi tembak mati dilontarkan Presiden Joko Widodo, Kepala Polri Jenderal Tito Karnavian memerintah bawahannya. Instruksi itu diamini Brigjen Eko Daniyanto. Menurutnya, perintah itu tindakan tegas untuk memberantas peredaran narkotika, khususnya bandar dari luar negeri.

“Kapolri, kan, perintah kepada saya. Saya perintahkan lagi ke bawah untuk mengambil tindakan tegas, enggak usah ragu, saya di depan,” ujar Eko.

Ia menilai tindakan tembak di tempat bagi para bandar narkoba berkewarganegaraan asing dinilai efektif untuk memberantas peredaran narkotika. Namun, seberapa jauh efektifitas tindakan itu, ia bilang harus “dilihat dari sindikat yang masuk.”

“Masa kita korbankan masyarakat dan generasi ke depan. Kita harus berani ambil tindakan,” dalih Eko.

Langkah ini menuai kritik dari pelbagai kalangan.

Ricky Gunawan, Direkur Lembaga Bantuan Hukum Masyarakat, menilai langkah pemerintah menginstruksikan tembak di tempat bagi para bandar justru menambah problem darurat narkoba yang digadang-gadang tak akan pernah selesai.

Masalahnya, kata dia, kebijakan itu bikin permintaan narkoba makin meningkat seiring bertambahnya jumlah pencandu yang angkanya ikut menanjak setiap tahun.

“Tembak mati justru akan buat harga lebih tinggi karena taruhannya besar,” ujar Ricky. Ia menyebut tindakan tembak di tempat itu memunculkan pasar baru narkotika dari dalam lembaga pemasyarakatan.

Ricky bukan sekali ini saja mengkritik langkah koboi pemerintahan Jokowi dalam kasus narkoba. Pada September tahun lalu, sesudah hukuman mati terhadap napi narkoba, muncul dugaan maladministrasi, termasuk praktik penyiksaan terhadap tersangka narkoba agar mau mengaku. Temuan lain: eksekusi mati itu berbiaya mahal. PT Bestprofit.

PT Bestprofit – Yusuf Mansur Dituduh Menebar Kisah Fiktif untuk Pikat Jemaah

Yusuf Mansur Dituduh Menebar Kisah Fiktif untuk Pikat JemaahPT Bestprofit – Jam’an Nurchotib Mansur alias Yusuf Mansur Alias Yusuf Mansur dianggap bermasalah dalam hal metode dakwahnya. Untuk memancing jemaah bersedekah, ia membangun narasi “dramatik” yang diduga fiktif.

Hal ini diungkapkan Darso Arief Bakuama, penulis Yusuf Mansur Menebar Cerita Fiktif, Menjaring Harta Umat dan Banyak Orang Bilang: Yusuf Mansur Menipu. Kedua buku itu diterbitkan Teras Publishing pada 2016.

Darso menganalisis ceramah Yusuf Mansur secara langsung maupun lewat video yang diunggah di YouTube.

“Saya berkesimpulan ada pola Yusuf Mansur dalam pengumpulan sedekah. Itu dalam setiap ceramah dia, memotivasi orang untuk mengeluarkan uang, harta, asetnya untuk diserahkan ke dia dengan judul sedekah. Itu dibangun dengan cerita-cerita yang menurut saya fiktif,” kata Darso kepada reporter Tirto, 2 Juli lalu.

“Sedekah dia bermasalah, orang yang mengadu ke dia (tentang) masalah kehidupan, dimintanya sedekah,” lanjut Darso. “Sampai-sampai ada yang datang bawa mobil suruh tinggalin mobilnya. Ada yang bawa motor butut sekalipun diminta motornya.”

Darso mencotohkan salah satu kisah yang diduga fiktif dalam ceramah Yusuf Mansur di Masjid Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada 2 Mei 2013.

Kala itu Yusuf Mansur bercerita bahwa ia bertemu teman perempuannya yang sudah rampung sarjana strata satu di Amerika Serikat dan pascasarjana di Perancis. Perempuan itu kaya raya dan cantik tetapi mau menikah seorang laki-laki miskin yang badannya hanya separuh. Alasannya, kata Mansur, si perempuan ingin ibadah dan yang dilakukannya itu kehendak Allah.

Mansur lalu mengunggah laki-laki yang badannya separuh itu melalui akun Instagramnya (per 17 Juli memiliki 1,6 juta pengikut). Darso menemui laki-laki yang bernama Muhammad Wahyono itu.

Wahyono membantah dilamar oleh wanita cantik, kaya, dan terpelajar seperti yang diceritakan Mansur. “Cerita itu tidak benar. Enggak ada itu. Lha, wong saya tahun ini saja baru 18 tahun. Kalau normal sekalipun saya belum pantas kawin,” kata Wahyono, seperti dikutip dalam buku Darso.

Dalam acara yang lain, bertajuk Kuliah Tauhid bersama Yusuf Mansur, di Gedung Islamic Center, Bojonegoro pada Senin 9 Juli 2012, Mansur bercerita tentang teori The Power of Believe. Menurut Mansur, teori tersebut dari “Barat”—tak jelas teori dari siapa—tetapi yang ingin ditekankannya kita tak perlu bantuan Tuhan dan kerja keras untuk mendapatkan barang impian.

Ia mencontohkan soal motor, yang bila kita elus-elus terus tiap hari dengan harapan berubah jadi mobil, motor itu akan berubah jadi mobil. Kisah ini untuk meyakinkan pendengarnya—jemaah dalam acara tersebut—bahwa umat muslim bisa mendapatkan lebih dari itu bila mau bersedekah.

Kemudian Yusuf Mansur membeberkan cerita tentang seorang perempuan yang ingin menikah. Si perempuan ini datang sebelum pesta pernikahan lalu duduk di kursi pelaminan seolah ia yang akan dinikahkan.

Dengan begitu ia akan enteng jodoh. Tentu, katanya, harus dengan diiringi salat duha dan doa bahwa dialah yang berada di pelaminan tersebut. Sebagai pelengkap, si perempuan yang dikisahkan Mansur tersebut mencopot cincin dan gelang, “Rab, ini buatmu, ganti saya dengan jodoh yang saleh,” kata Mansur dengan nada yang dibuat dramatis.

Secara ajaib, si keluarga laki-laki tak melihat kedatangan keluarga perempuan. Tiba-tiba terdengar informasi ternyata keluarga perempuan membatalkan. Sementara undangan sudah tersebar.

Diumumkanlah di masjid tersebut, bagi siapa yang belum menikah, dipersilakan maju untuk dinikahkan.

“Demi Allah, cerita semacam ini banyak,” kata Mansur, bersemangat. “Saya enggak mau bohong, Pak, Bu. Banyak sekali. Oh, benar, Pak. Saya enggak mau bohong urusan begini. Setidak-tidaknya teman saya pribadi, (ada) dua yang begini, kejatuhan semangka banget!

“Tinggal masuk, semua sudah jadi, sudah disewain segala macam. Subhanallah. Bahkan salah satu pasangan yang seperti itu barusan berangkat umrah bersama saya. Dia sudah punya anak 3,” terang Yusuf Mansur.

Cerita itu tak terdengar rancu karena disampaikan secara lisan dan diiringi sumpah Yusuf Mansur untuk meyakinkan pendengarnya. Tetapi, bila kita agak kritis, ada sejumlah bolong cerita di sana.

Misalnya, di tempat mana si perempuan itu harus berdoa: di lokasi pernikahan atau di masjid? Kedua, soal latar cerita: kejadiannya di mana?

Hal begitu agaknya tidak membuat jemaah Yusuf Mansur meragukan. Jemaahnya terbuai.

Tak lama, seorang perempuan maju. Perempuan itu memberikan cincinnya dan minta dia didoakan agar anaknya menjadi pribadi yang saleh.

Sambil memberikan cincin, si perempuan itu bercerita anaknya bekerja di Pontianak. Perempuan itu mengambil uang Rp500 ribu lalu menyerahkan kepada Mansur.

Mansur berkata, “Ayo, Ibu-ibu, siap-siap. Bapak-bapak, siap-siap. Sudah dibawa, kan?”

Setelah itu ada sebentuk ancaman atau memojokkan jemaah. “Yang punya cincin, gelang, dan belum tergerak buat disedekahin, saya bilang, ‘Enggak usah.’ Tapi nanti Asar, lihatin lagi tangannya, cincin itu tetap segitu, kalung itu tetap segitu? Itulah yang terjadi gara-gara kita tidak sedekahin, 10 tahun lagi pun segitu?” kata Yusuf Mansur.

Ia melanjutkan, “Tapi kalau kita sedekahin—masyaallah—Asar nanti lihat, pasti enggak ada karena sudah disedekahin. Tapi 2, 3, 4 tahun kemudian, saudara beli berapa gram pun bisa. Sebab cabang soto-nya sudah 20 cabang, punya laundry sudah 17 cabang, punya showroom motor sudah 3-4 cabang. Subhanallah!”

Acara itu diselenggarakan Program Pembibitan Penghafal Al-Qur’an (PPPA) Darul Qu’ran Bojonegoro bekerjasama dengan PPPA Darul Qur’an Surabaya dan Toko Buku Togamas Bojonegoro. Usai Mansur dan panitia menutup acara itu, tiada penjelasan berapa total uang dan barang berharga yang diserahkan jemaah dan digunakan untuk apa “sedekah” tersebut.

Pembukuan Sedekah Tanpa Transparansi

PPPA Darul Qur’an membuka banyak rekening dengan beragam bentuk sedekah. Dari untuk sedekah wakaf, untuk kemanusiaan, kegiatan, untuk makan santri, cetak Alquran hingga sawah. Bahkan ada juga program bernama jemput sedekah.

Dalam laporan keuangan PPPA Daarul Qur’an, pada 2015 terkumpul sedekah sekitar Rp24,8 miliar. Pada 2016 sebanyak Rp38,3 miliar. Namun, tidak ada rincian dana itu dari mana dan siapa saja serta dialokasikan ke mana atau untuk apa saja.

Ismail, yang tinggal di Klaten, Jawa Tengah, berkata terpaksa memberikan harta senilai Rp5 juta kepada Yusuf Mansur. Itu sesudah ia mengikuti agenda dakwah dan terpikat oleh jurus kisah sukses bersedekah ala Yusuf Mansur yang membius jemaah rela memberikan harta.

“Saya merasa terpaksa saja. Karena saat itu saya di depan umum,” kata Ismail, 12 Juli lalu.

Ismail dijanjikan bahwa apa yang ia sedekahkan akan berlipat ganda. Ismail saat itu sangat percaya jika Mansur mampu menunaikan amanat. Tapi dugaannya tak sepenuhnya benar.

“Ada janji yang tidak ditepati. Intinya, tidak sesuai dengan akad semula. Makanya saya minta (harta saya) kembali,” ungkap Ismail.

Saat reporter Tirto mengonfirmasikan soal metode dakwahnya, terutama lagi soal pembukuan sedekah jemaah tanpa transparansi, Yusuf Mansur enggan memberi penjelasan.

“Enggak usah diluruskan. Saya salah. Insyaallah saya perbaiki. Saya penuh dengan tidak ketidaktahuan,” kata Mansur, 7 Juli lalu. “Insyaaallah saya akan belajar terus. Jadi, saya tidak akan bela diri. Saya minta maaf saja. Sebagai ustaz, sudah banyak menyusahkan.”

Mansur juga enggan merespons pertanyaan yang bisa berdampak pidana terhadapnya. Misalnya, kami bertanya bagaimana ia dapat menjamin bahwa dana yang disedekahkan itu tak bermasalah di kemudian hari. Misalnya, ternyata uang atau harta sedekah jemaah berasal dari keuangan negara.

Hal semacam itu memungkinkan sebab pihak Yusuf Mansur minim merinci sumber dana yang diperolehnya. Indonesia mengenal UU Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. Pasal 3 dan Pasal 5 menyebutkan ancaman pidana penjara paling lama 20 tahun dan 5 tahun.

Lagi-lagi Yusuf Mansur enggan menanggapi lebih lanjut perkara tersebut. PT Bestprofit, Bestprofit