PT Best Profit Futures Jambi

Tag Archives: Best Profit Futures

Pasar Glodok, Sentra Ekonomi Jakarta, Sekarat di Usia Senja

BEST PROFIT – Pada 1629, di masa Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) alias kongsi dagang Hindia Belanda, orang-orang Tionghoa mulai bermukim secara terpusat di Glodok. Mereka bagian dari minoritas yang kerap diawasi.

Keberadaan mereka justru menjadi pemicu gairah perekonomian—selain target diskriminasi dalam setiap pergolakan politik dari masa ke masa. Tak heran kawasan itu lantas berkembang dan identik sebagai sentra elektronik dan kuliner. Ia menyedot para migran ekonomi selama ratusan tahun untuk mengadu nasib sebagai pedagang, yang tersebar di Plaza Glodok, Pasar Glodok, Harco Glodok, dan Mangga Dua Square.

Pada 14 Mei 1998, gelombang kerusuhan melumpuhkan salah satu sentra ekonomi Jakarta tersebut. Barang dagangan di kawasan Glodok dijarah, lalu diluluhlantakkan dengan cara dibakar. Meninggalkan gedung-gedung gosong yang dibiarkan kosong—jejak dari prahara 1998. Namun, beberapa tahun kemudian, sebagian pedagang bersikukuh membuka lapak di area yang hangus terbakar tersebut. BESTPROFIT

Pada 2001, Pasar Glodok, yang juga dikenal sebagai Glodok City, diambil alih pemerintah daerah DKI Jakarta sebagai unit pasar besar untuk direkonstruksi. Pedagang Tionghoa ramai-ramai berpindah ke pasar itu. Sepasang Liong Samsi atau hewan singa dipajang di pintu masuk utama—menyiratkan simbol rasa aman dan nyaman. Bank DKI Jakarta menjadi satu-satunya penyewa besar.PT BESTPROFIT

Pada awal 2013, masih dalam bayangan horor 1998, Pasar Glodok kembali jadi target aksi teror oleh kelompok Aman Abdurrahman. Nama terakhir adalah pemimpin Jamaah Ansharut Daulah (JAD)—disebut-sebut berafiliasi dengan Negara Islam Irak (ISIS)—yang dibui pada 2010 atas keterlibatannya dalam jaringan teror di Aceh Besar dan baru-baru ini ditetapkan oleh kepolisian Indonesia atas perannya dalam serangan Thamrin, 14 Januari tahun lalu.

Aksi teror di Glodok, yang direncanakan oleh tiga belas orang, itu bisa ditangkal oleh Polri setelah bahan kimia racikan sebagai bom yang dipasang di beberapa titik strategis gagal meledak.

Hingga kini, Glodok tak lepas dari bayang-bayang teror. Menjadi hal lumrah jika lusinan pedagang Pasar Glodok, yang saya temui beberapa kali, memilih diam saat ditanya mengenai peristiwa kekerasan masa lalu.

Lepas dari aksi teror, dari tahun ke tahun, kawasan ekonomi Glodok tak pernah kembali mencapai kejayaannya seperti sebelum 1998. PT BEST PROFIT

Dedi, misalnya. Sejak menjadi pedagang Toko Game Astro di lantai 4 Pasar Glodok tak pernah mencicipi kejayaan penjualan lagi. Sebelumnya, ketika berjualan di Harco Glodok, Playstation dagangannya laku keras. Saat saya mendatangi kiosnya, tengah hari Selasa, 8 Agustus lalu, tak ada satu pun konsumen. Ia kini hanya mengandalkan konsumen yang loyal.

“Sepi. Tapi masih ada sajalah langganan,” ungkapnya.PT BESTPROFIT FUTURES

Begitu juga Akiong, 31 tahun, yang membuka kios ponsel dan aksesoris di lantai 1. Meski jual-beli kerap diiringi tawar-menawar, tapi dalam sehari, konsumen yang datang tak lebih dari lima orang.

Saman, bukan nama sebenarnya, sejak tiga tahun lalu merugi terus. Ia memiliki empas kios, letaknya di lantai II dan III. Ia membeli satu kios sekitar Rp165 juta. Kiosnya di lantai III tak lagi ada aktivitas dagang. Meski begitu, ia tetap harus membayar biaya listrik dan pemeliharaan saban bulan.

Biaya pemeliharaan itu dihitung Rp90 ribu tiap satu meter persegi, plus pajak Rp10 ribu. Untuk empat kios, ia harus merogoh kocek Rp2 juta per bulan. Dalam sebulan, ia membayar beban listrik sekitar Rp540 ribu.

“Bulan lalu saya tekor. Makan modal. Buat karyawan juga minus. Kalau operasional tertutup, ya masih mending. Sekarang kebanyakan minus untuk nutupi operasionalnya saja. Semua toko merasakan (hal sama),” tutur pria berusia 40 tahun ini.PT BEST PROFIT FUTURES

Kompetisi di dalam Pasar

Saman dan para pedagang kios lain juga bersaing dengan konter kecil. Konter itu berjumlah 18 unit, seukuran 1×0,5 meter persegi, berjajar mengelilingi ruang tengah. Biaya sewa per konter Rp700 ribu per bulan, termasuk biaya listrik dan pemeliharaan. Namun, konter-konter ini bisa menjual apa saja, dan barang yang dijual pun sama dengan pedagang kios.

Muhammad Ridwan, 41 tahun, pemilik warung makan Padang, menganggap PD Pasar Jaya yang mengelola Pasar Glodok menyalahi aturan soal kehadiran konter kecil yang menjual makanan.BESTPROFIT FUTURES

Saat kerusuhan 1998, dagangan Ridwan hangus. Mobil Kijang Grand Extra dan beras 2 ton miliknya dijarah. Kerugian yang ia derita nyaris Rp1 miliar. Namun, ia pantang menyerah. Usai dibangun, ia membeli lima kios di Pasar Glodok.

Lambat laun penghasilannya makin defisit. Hingga 2014, dalam sehari, rumah makannya menghabiskan 1 ton beras.

“Sekarang 5 karung paling-paling untuk 15 hari,” tuturnya.

Untuk menambah pemasukan, Ridwan menjual satu kios. Namun, orang yang membeli kiosnya bangkrut.

Setiap bulan Ridwan harus membayar biaya pemeliharaan sekitar Rp2 juta dan biaya listrik Rp700 ribu. Demi efisiensi, secara bertahap, ia mengurangi jumlah karyawan. Semula jumlah karyawan warung makannya ada 16 orang. Kini hanya dua karyawan.

“Karyawan saya tiap hari terima duit daripada pemiliknya,” ungkapnya.

Ridwan menilai, PD Pasar Jaya “sangat galak” menarik biaya pemeliharaan pasar. Jika telat sehari, tanpa peringatan lebih dulu, aliran listrik akan diputus. Namun, pihak manajemen minim inovasi, tak mau tahu bagaimana cara menarik banyak konsumen untuk datang, sehingga—harapan pedagang—pasar kembali ramai.

“Denda ada, setelah tanggal 25 sampai lewat bulan. (Denda) dihitung per bulan,” katanya.

Hal sama pernah diungkapkan oleh Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita. Ia menilai menurunnya pembeli di Pasar Glodok karena pihak manajemen “tidak inovatif.” BEST PROFIT FUTURES

“Maka, poin saya, pusat belanja harus inovatif. Kalau statis, dengan adanya kompetisi, pembeli akan pindah ke tempat lebih baik. Nah, itu dilihat dari volumenya. Kalau satu tempat ini volume penjualan meningkat, maka orang pasti akan lari ke situ,” kata Lukita.

Lukita menegaskan, untuk menarik pelanggan, mestinya pusat perbelanjaan membuat pelbagai bentuk promosi, acara, harga sewa lebih atraktif, dan menciptakan fasilitas yang membuat pengunjung nyaman.

Henry Manurung, Manajer PD Pasar Jaya untuk Pasar Glodok, membantah jika selama ini pihaknya kurang inovasi. Menurutnya, sepinya transaksi pembelian bukan terjadi di Pasar Glodok semata.

“Bukan kurang inovasi. Mana buruknya coba? Buruknya inovasi? Ini bukan bangunan baru, kok. Kalau kita menentukan sesuatu itu harus ada pembanding, bandingkan dengan yang di depan sana dan sebelahnya lagi. Semua juga sepi, kok,” ungkapnya.

Namun, Manurung melemparkan tanggung jawab ke PD Pasar Jaya pusat saat ditanya soal sejauh ini bentuk inovasi seperti apa yang sudah dieksekusi.

“Karena, kan, di sana ada kantor pemasarannya. Programnya dari kantor pusat. Kalau saya, kan, di sini operasional. Operasional, kan, enggak mengerjakan itu,” tuturnya.

Manurung mengatakan, total okupansi Pasar Glodok sebanyak 1.880 kios. Ia berkata, para pedagang yang masih aktif hanya 564 kios. Itu belum menghitung jumlah kios yang cuma buka sewaktu-waktu.

“Sekitar 70 persen yang aktif,” katanya.

Manurung beralasan, sepinya pembeli karena akses yang susah ke Pasar Glodok. Para calon pembeli lebih memilih ke tempat perbelanjaan lain ketimbang menembus kemacetan, ujarnya.BPF

Ia juga merespons celetukan Sandiaga Salahuddin Uno, wakil gubernur Jakarta terbaru yang dilantik Oktober mendatang, yang mengusulkan agar Pasar Glodok sebagai pusat olahraga dan “coworking space”.

“Glodok tidak lagi cocok untuk pedagang elektronik hari ini,” ujar Sandiaga, yang memancing respons kontroversial, pada Juli lalu.

Menurut Manurung, ide Sandiaga itu logis. “Beberapa lantai yang enggak aktif bisa dipakai,” ucapnya.

Bagaimanapun, pada 2021, masa bangunan Pasar Glodok habis. Manurung “tidak tahu” akan bagaimana nasib pasar tersebut setelahnya.

Gagap Teknologi di Era Pasar Daring

Perdagangan daring, sejak era internet, adalah salah satu lahan bisnis yang gurih. Pertumbuhannya didulang berkat semakin meluas penggunaan telepon pintar dan akses internet.

Dari data Statista, pada 2016, bisnis daring menyumbang 8,6 persen terhadap penjualan ritel global. Pada 2017, pasar daring diproyeksikan meningkat menjadi 10,1 persen.

Selain metode transaksi yang mengandalkan jaringan internet itu, belanja via online pun sensitif terhadap harga. Pembeli misalnya dimanjakan lewat ongkos kirim gratis, diskon gila-gilaan, dan promosi lewat kupon.

Menengok keadaan pedagang di Pasar Glodok yang saya temui, sebaliknya mereka mengaku kurang mampu beradaptasi terhadap perkembangan media daring.

Yongki, misalnya, berkata tidak mencoba ke cara berjualan online. “Saya gaptek,” ujar pemilik kios Kharisma Game untuk menyebut kegagapannya dalam teknologi.BESTPRO

Alhasil, Yongki hanya menjadi distributor bagi para pedagang yang bergerak di sektor e-commerce. Maka, ia hanya membuka kios buat mengisi waktu senggang. Selebihnya, kios itu menjadi gudang penyimpanan.

“Ini, kan, gedung bekas kebakaran. Feng shui-nya jelek. Seharian ini, belum ada yang beli. Kalau dihitung, ya rugi, karena saya bayar karyawan. Ini usaha cuma untuk habisin waktu,” ujarnya.

Begitu juga Akiong, 43 tahun, pedagang Kios Fun’z Cellular di lantai I, yang sengaja memilih menghindari e-commerce. Alasannya, ia enggan ambil risiko.

“Kalau via online, barang rusak pas pengiriman, mau ngadu ke mana?” katanya.

Toh, ada juga pedagang seperti Dedi, pemilik Toko Game Astro di Lantai IV. Ia telah mencoba berdagangan via daring lewat Tokopedia, salah satu marketplace daring di Indonesia yang baru-baru ini mendapat suntikan modal dari Alibaba, perusahaan e-commerce asal Cina.

Tetapi, kata Dedi, saingan di pasar online pun keras. “Saingannya banyak,” keluhnya.

Roy Nicholas Mandey, Ketua Asosiasi Pedagang Ritel Indonesia (Aprindo), menilai salah satu faktor tumbangnya daya beli ialah ramainya bisnis e-commerce. Meski minim penjualan makanan, kosmetik, dan pakaian, tumbuhnya bisnis daring didukung kesemrawutan tata kota dan inovasi harga.

“Elektronik malah ada diskon di online. Otomatis mendingan beli online daripada di Glodok,” ungkap Mandey.

Ia mengatakan, generasi kekinian melek internet. Mereka bisa dengan mudah menelusuri pelbagai macam komoditas dan membandingkan harga ketimbang ke pasar konvensional yang harus mempertimbangkan ongkos akses dan parkir.

Merujuk perkembangan internet di Indonesia, tahun lalu ada 132,7 juta pengguna internet atau 51,5 persen dari populasi. Berdasarkan riset terbaru Nielsen mengenai tren konsumen digital, yang dirangkum enam bulan pertama 2017, jangkauan internet telah mencapai 44 persen atau sekitar 24,4 juta orang dari 53,3 juta penduduk di 11 kota. Angka ini melejit pesat dibanding lima tahun lalu yang cuma 26 persen.

Menurut riset TEMASEK dan Google tahun lalu mengenai pasar daring di Asia Tenggara, Indonesia tergolong paling cepat pertumbuhan internetnya di dunia. Pada 2020 mendatang, diprediksi ada 215 pengguna internet di Indonesia. Pada 2025 mendatang, 119 juta orang Indonesia diprediksi sebagai pembeli online, dengan total nilai 81 miliar dolar AS, menurut riset tersebut.

Di Glodok, perkembangan soal pasar internet itu terdengar asing bagi pedagang seperti Saman, yang lahir pada 1977. Ia besar pada era ketika mayoritas penduduk Indonesia mengandalkan informasi dari televisi pemerintah dan siaran radio.

Untuk ukuran usianya, Saman kesulitan menjajal usahanya untuk perlahan beralih ke pasar daring. Sambil lalu ia belajar berjualan via online dari anaknya.

“Ya saya akan jualan online,” ujarnya. “Sudah terdesak gini toko fisik. Parah luar biasa. Mau enggak mau harus ikutin zaman.”

Seberapa Kuat Perdagangan Indonesia – Malaysia?

BEST PROFIT – Hubungan Indonesia dan Malaysia kembali memanas. Ajang olahraga SEA Games yang sedianya ditujukan untuk mengakrabkan negara-negara di ASEAN, justru memantik keributan. Penyebabnya adalah kesalahan memasang bendera Merah Putih dalam buku panduan SEA Games 2017.

Menteri Pemuda dan Olahraga, Imam Nahrawi, melalui akun Twitter-nya, menuliskan “Pembukaan SEA Games 2017 yang bagus tapi tercederai dengan keteledoran fatal yang amat menyakitkan.” Hal ini dikarenakan pencetakan bendera Indonesia yang terbailk dalam buku panduan SEA Games 2017. Hal ini tentunya mengundang berbagai reaksi, baik dari warga Indonesia maupun Malaysia sendiri. Tak sedikit netizen Indonesia yang meminta Pemerintah Indonesia untuk bersikap tegas kepada Malaysia seperti yang dilakukan oleh Bung Karno pada 1963.BESTPROFIT

Menanggapi permasalahan ini, Presiden Jokowi memberikan responsnya. Ia meminta agar masyarakat tidak terlalu membesarkan masalah ini. “Kita sangat menyesalkan kejadian seperti itu, tetapi tidak usah dibesar-besarkan, kita menunggu permintaan maaf dari Pemerintah Malaysia dalam hal ini karena ini menyangkut sebuah kebanggaan nasionalisme dan bangsa kita Indonesia,” katanya di Gorontalo, Minggu (20/8/2017).PT BESTPROFIT

Hubungan dua negara tetangga yang sudah terjalin dengan baik selama bertahun-tahun memang mengalami naik turun. Relasi yang baik itu memang sudah seharusnya dijaga mengingat kedua negara saling membutuhkan satu sama lain. Hal itu salah satunya bisa dilihat dari transaksi perdagangan kedua negara yang cukup besar.PT BEST PROFIT

Dari sisi perdagangan, total perdagangan Indonesia dan Malaysia sejak 2012 hingga 2016 memang mengalami tren penurunan. Namun, hubungan perdagangan kedua negara masih memainkan peran yang cukup penting.

Jika dibandingkan dengan dunia, pada 2016, Malaysia menempati posisi ke lima negara tujuan ekspor utama Indonesia. Cina merupakan negara tujuan ekspor pertama Indonesia dengan nilai ekspornya yang mencapai $16,79 miliar pada 2016.PT BESTPROFIT FUTURES

Bagi Malaysia, Indonesia pun merupakan pasar besar bagi produknya. Pada 2016, Nilai ekspor Malaysia ke Indonesia tercatat senilai RM27,66 miliar atau setara dengan 3,5 persen dari total ekspornya. Nilai ini menempatkan Indonesia pada posisi mitra dagang terbesar ke delapan bagi Malaysia. Begitu pula pada 2015, dimana nilai ekspor Malaysia ke Indonesia mencapai RM29,1 miliar atau setara dengan 3,7 persen dari total ekspornya.PT BEST PROFIT FUTURES

Minyak bumi mentah dan hasil minyak merupakan beberapa komoditas utama ekspor Indonesia ke Malaysia. Pada 2016, nilai ekspor minyak bumi mentah ke Malaysia sebesar $617,5 juta atau meningkat 147,59 persen dibandingkan 2015. Sedangkan, eskpor hasil minyak pada 2016 bernilai $294,3 juta atau mengalami penurunan sebesar 66,08 persen dibandingkan 2015 yang bernilai $867,7 juta.

Selain hasil tambang, komoditas ekspor utama Indonesia ke Malaysia adalah kopi. Sejak 2012 hingga 2016, per tahunnya, rata-rata nilai ekspor Indonesia ke Malaysia sebesar $66,01 juta. Selain kopi, buah-buahan tahunan juga menjadi komoditas ekspor utama Indonesia ke Malaysia. Pada 2016, nilai ekspornya mencapai $118 juta atau meningkat 271,07 persen dibandingkan 2015 yang tercatat bernilai $31,86 juta.

Dari sisi impor, sejak 2012 hingga 2016, nilai impor Indonesia dari Malaysia menujukan trend yang menurun. Pada 2012, nilai impor Malaysia tercatat senilai $12,2 miliar dan menurun menjadi $7,2 miliar atau setara dengan 5,31 persen terhadap total impor Indonesia. Jika dibandingkan negara ASEAN, pada 2016, Malaysia menempati posisi ketiga importir terbesar bagi Indonesia. Singapura menempati posisi pertama negara asal impor barang bagi Indonesia dengan nilai sebesar $14,54 miliar pada 2016.BESTPROFIT FUTURES

Bagi Malaysia, Indonesia masih tetap menjadi mitra dagang utama. Pada 2016, impor Indonesia berkontribusi sebesar 4,2 persen terhadap total impor Malaysia atau setara dengan RM29,43 miliar. Indonesia menempati posisi ke delapan importir terbesar ke Malaysia pada periode yang sama. Tingginya kontribusi dan nilai dagang, baik ekspor maupun impor, Malaysia – Indonesia ini menunjukkan kuatnya hubungan perdagangan kedua negara.

Meskipun Malaysia merupakan salah satu mitra dagang terbesar, akan tetapi Indonesia mengalami minus dari sisi neraca perdagangan. Berdasarkan data BPS, pada 2012, neraca perdagangan Indonesia-Malaysia menunjukkan nilai negatif yang berarti nilai impor lebih besar daripada ekspornya.

Pada 2012, neraca perdagangan Indonesia-Malaysia sebesar minus $965,24 juta dan meningkat 175,16 persen menjadi minus $2.655,9 juta pada 2013. Pada 2016, neraca perdagangan Indonesia-Malaysia masih belum menunjukkan nilai positif, di mana neraca perdagangannya senilai minus $79,28 juta. Pada periode Januari-Mei 2017, neraca perdagangan Indonesia-Malaysia menunjukkan angka minus $139,25 juta, yaitu nilai ekspor tercatat sebesar $3,56 miliar dan impor sebesar $3,7 miliar.BEST PROFIT FUTURES

Meskipun Malaysia salah satu pasar ekspor Indonesia, tetapi kontribusinya masih kecil dibandingkan negara lainnya sehingga masih bisa diabaikan sebagai tujuan ekspor. Dari sisi pemenuhan permintaan domestik yang dapat dilihat dari nilai impor pun, kontribusi Malaysia tidak besar, hanya sekitar 5 persen.BPF

Begitu pula kedudukan Indonesia bagi Malaysia. Neraca perdagangan pada dua tahun terakhir menunjukkan nilai negatif. Berdasarkan laporan Malaysia External Trade Development Corporation (Matrade), neraca perdagangan Malaysia dari perdagangan dengan Indonesia menunjukkan nilai defisit MYR 1,9 miliar pada 2015 dan MYR 1,77 miliar pada 2016. BESTPRO

Mencari Fulus saat Izin Meikarta Belum Terurus

BEST PROFIT – Tulisan memuat seruan membeli apartemen pada reklame besar itu terlihat mencolok bagi siapa saja yang baru keluar pintu Cibatu, Tol Jakarta-Cikampek. Sesudahnya Anda disambut beragam reklame di kawasan properti Lippo Cikarang tersebut. BESTPROFIT
Ada reklame berlogo “M”, “Lippo”, dan ilustrasi proyek di kanan-kiri jalan, membentuk lorong panjang menutupi lokasi proyek. Balon-balon udara bertuliskan “Meikarta” menghiasi sebentang langit di atas kawasan Kabupaten Bekasi tersebut.

Hutan crane, dari sudut mana pun, seakan ingin memberi pesan kepada para calon pembeli bahwa proyek “Kota Baru Meikarta” tengah dikerjakan. Namun, puluhan crane itu tak lebih sebagai pajangan. Tak ada kegiatan konstruksi. Yang ada baru sebatas penggalian tanah untuk dasar pondasi, dengan mengerahkan alat-alat berat.

“Bahwa ada crane segala macam, tentu crane dipasang untuk bekerja dong,” kata CEO Meikarta, Ketut Budi Widjaja, Kamis lalu (17/8).PT BESTPROFIT

Namun, proses pengecoran belum pula dikerjakan. Lippo tak mau gegabah atau coba-coba melakukannya karena bisa berujung pelanggaran. Hingga sekarang, proyek Meikarta masih menghadapi pelbagai perkara izin, termasuk izin peruntukan lahan dan mendirikan bangunan.PT BEST PROFIT

Menurut EY Taupik, Kepala Prasarana Wilayah dari Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Bekasi, duduk masalah proyek Meikarta bisa diurut sejak 1996.

Saat itu Lippo Group—perusahaan publik milik konglomerat Riady, salah satu keluarga superkaya di Indonesia—telah memiliki rancangan utama (masterplan) di kawasan tersebut lewat izin lokasi dari pemerintah Provinsi Jawa Barat. Izin ini sebagai bagian dari pengembangan Lippo Cikarang. Waktu itu belum ada istilah Meikarta, ujar Taupik.PT BESTPROFIT FUTURES

“Nah, setelah itu dia mengajukan sekarang, tapi karena sudah terlalu lama, ini ada yang sesuai, ada yang tidak sesuai dengan RTRW kita. Nah, yang tidak sesuai ini masih belum kita keluarkan izinnya,” tambahnya kepada Tirto saat ditemui di kantornya, beberapa waktu lalu.PT BEST PROFIT FUTURES

Taupik mengatakan, tak semua dari total lahan 360 hektare milik Lippo untuk proyek Meikarta memenuhi Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Bekasi. Kawasan itu ada yang memang untuk pengembangan kawasan hunian, tetapi ada sebagian lain untuk zona pengembangan kawasan industri.

Dari jumlah itu, Lippo mengajukan izin seluas 140 hektare. Tapi yang lolos untuk izin peruntukan lahan hanya 84 ha.

Dalam brosur iklan—dan ragam promosi lain—Lippo memakai angka 500 ha untuk kawasan apa yang mereka sebut “Kota Baru Meikarta.”

Taupik menyebut angka itu keliru. Luas lahan yang diajukan Lippo Group sejak awal hanya 360 hektare—setara 4,5 kali luas taman monumen nasional (Monas).

“Jadi kalau katanya Meikarta itu (luasnya) 500 hektare, terdiri dari ini dan itu—ini kayak yang saya bilang tadi: jualan aja,” kata Taupik.BESTPROFIT FUTURES

Di sisi lain, dengan hanya bermodal izin peruntukan penggunaan tanah seluas 84 ha, Lippo dengan jualan merek “Meikarta” tak bisa langsung menggarap bangunan fisik, baik untuk sentra permukiman maupun bisnis, karena harus mengantongi izin lain, di antaranya, izin lingkungan, lalu lintas, air, limbah, hingga izin konstruksi.

Semua izin ini masih dalam proses evaluasi di tangan Pemkab Bekasi, dan menunggu rekomendasi dari Pemprov Jabar karena proyek ini dianggap “strategis.”BEST PROFIT FUTURES

“Sertifikat tanah (keseluruhan) sudah dikuasai, tapi (Lippo) tidak ada de jure (kekuatan hukum) untuk membangun,” kata Taupik.

Selain luas lahan yang digelembungkan, nama megaproyek “Kota Baru Meikarta” pun jadi perkara.

Lippo Group, menurut Taupik, hanya memakai bendera Lippo, bukan secara terang-terangan menyebut “Kota Baru Meikarta”—sebagaimana dalam iklan mereka—saat mengajukan izin peruntukan lahan dan konstruksi.

Pemkab Bekasi sempat kaget saat tahu ada pembangunan proyek bernama Meikarta di daerahnya. Sampai-sampai mereka ditegur oleh Pemprov Jawa Barat.

“Kenapa investasi segitu gedenya Jawa Barat enggak dilaporin? Siapa itu Meikarta?” ujar Taupik menirukan teguran tersebut. BPF

CEO Meikarta Ketut Budi Widjaja mengamini bahwa baru 84 ha yang baru dikantongi untuk izin peruntukan lahan. Namun, ia menepis anggapan bila klaim luas Meikarta sampai 500 hektare—seperti tertera dalam iklan atau brosur—adalah pembohongan publik.

Ketut beralasan, pembangunan Meikarta memang dilakukan bertahap—per blok atau tidak sekaligus—sehingga nanti total luasnya 500 ha.

“Yang kita jual (ke konsumen), kan, yang 84 hektare. Perizinan secara bertahap kita lakukan,” kata Ketut.

Jualan Jalan Terus

Sejak dipasarkan pada 13 Mei 2017 sampai memicu polemik izin dari Wakil Gubernur Jawa Barat Deddy Mizwar, pemasaran Meikarta tetap lanjut. Padahal sudah ada imbauan untuk menghentikan penjualan.

“Saya mohon hentikan sementara (pemasaran). Jangan takut miskin!” kata Deddy. BESTPRO 

Bila mendengar, Deddy barangkali kaget bahwa pemasaran Meikarta hingga peluncuran utama pada 17 Agustus lalu masih terus membuka nomor urut pemesanan untuk unit apartemen. Lippo mengklaim sudah ada 99.300 antrean pemesan. Bila dikonversi dalam bentuk menara, dengan rata-rata satu menara ada 500 unit, konsumen Meikarta sudah memesan 200 menara.

Respons gila-gilaan konsumen ini boleh jadi karena kelihaian Lippo di bawah komando James Riady—putra Mochtar Riady—yang jorjoran menjual megaproyek tersebut.

Kawasan Meikarta—yang diproyeksikan menelan investasi Rp278 triliun—dijual dengan klaim “kota mandiri”, yang akan dipenuhi ragam akses sehingga bisa memudahkan dan menguntungkan investasi para penghuninya kelak.

Jual kecap itu seperti bakal ada monorel, kereta ringan alias light rapid transit  (LRT), kereta cepat Jakarta-Bandung, jalan tol layang Jakarta-Cikampek, Bandara Internasional Kertajati di Kabupaten Majalengka, dan Pelabuhan Patimban di Kabupaten Subang.

Lokasi yang strategis bagi Meikarta ini memunculkan pertanyaan: Apakah Lippo melakukan lobi kepada pemerintah untuk menguntungkan proyek Meikarta?

Menanggapi ini, bantahan langsung disampaikan oleh CEO Lippo Group, James Riady, di sela peluncuran utama Meikarta di Cikarang. James menegaskan bahwa Lippo Group hanya fokus pada pembangunan proyek Meikarta dan tak terlibat langsung pada investasi keenam infrastruktur pemerintah.

Bagi James, gagasan awal proyek Meikarta ialah salah satu upaya “menyelesaikan defisit perumahan” di Indonesia.

“Itu yang utama, itu hati kita,” ujar James.

Berdasarkan perhitungannya, saat ini ada 8 juta orang yang memiliki pekerjaan tapi tidak bisa memiliki rumah karena harganya tak terjangkau.

“Semoga bisa ada 100 pengembang seperti Meikarta, yang dibangun untuk menyelesaikan defisit perumahan,” ujarnya.

James boleh saja beralibi bahwa langkah Lippo dalam megaproyek Meikarta adalah mendukung warga tuna papan, di mana harga unit apartemen termurah Meikarta dibanderoli Rp126 juta.

Namun, persoalan izin yang belum tuntas menjadi tanda tanya besar bagi nasib konsumen yang sudah memesan atau membeli unit apartemen di Meikarta.

Nasib Konsumen di Meikarta

Proyek Meikarta dikemas sedemikian rupa, dari promosi yang gencar dan pemasaran yang masif, target pembangunan yang cepat, hingga James Riyadi sendiri yang turun tangan.

Namun, kekecewaan dan kekhawatiran konsumen tak bisa disembunyikan.

Berdasarkan pantauan reporter Tirto di Maxxbox—lokasi penjualan properti Lippo Cikarang—pada 17 Agustus lalu, ada antrean panjang di Layanan Konsumen Meikarta. Mayoritas dari mereka meminta pengembalian biaya pemesanan atau refund unit apartemen sebesar Rp2 juta.

Pelbagai alasan pun diungkapkan. Salah satunya oleh Andri. Pria yang saat ditemui tengah mengantre bersama istrinya itu berkata tidak jadi pesan unit apartemen di Meikarta karena tak sesuai janji orang pemasaran. Keterangan tertulis, Lippo menjanjikan apartemen Meikarta baru mulai dihuni pada Desember 2018.

“Karena ini pembangunannya cukup lama, sementara kami terburu-buru. Waktu itu sales-nya janji dua bulan sudah jadi (unitnya). Ternyata masih begini. Ini mah bisa 2-3 tahun,” ujar Andri.

Ada juga konsumen seperti Bengar—ia hanya ingin dipanggil dengan nama tersebut—yang sengaja datang ke acara peluncuran Meikarta karena ingin tahu lebih banyak soal pembangunan proyek tersebut. Ia mulai bimbang apakah meneruskan pembelian atau minta Rp2 juta dikembalikan, apalagi banyak pemberitaan soal izin Meikarta yang belum beres.

“Saya mulai ragu dengan proyek ini. Kakak saya bilang, ‘Kamu anggap saja uang Rp2 juta hilang,’” ujar Bengar, seorang karyawan swasta.

Menanggapi persoalan refund, CEO Meikarta Ketut Budi Widjaja menilai masalah itu hal biasa. Menurut Ketut, paling banyak alasan pengembalian uang muka karena unit yang diinginkan calon pembeli sudah tak tersedia.

Sumber : Tirto.id

Buah Ciplukan yang Sedang Naik Daun

BESTPROFIT – Siapa yang suka memakan buah ciplukan? Rasanya kecut-manis, berwarna hijau-kuning, dan dibungkus kulit tipis. Buah ini dulu dikenal sebagai tanaman liar, tak punya nilai jual, dan dianggap hama. Namun kini, ia seakan naik kasta.

Ciplukan atau Physalis angulata L. lazim tumbuh di kebun, tegalan, tepi jalan, semak, atau hutan. Buah ini juga dikenal dengan sebutan morel berry di Inggris, ceplukan di Jawa, cecendet di Sunda, keceplokan di Bali, dan leletokan di Minahasa. Meski dulu hanya dikenal sebagai mainan anak-anak, kini ciplukan digemari dan dijual dengan harga tinggi.BEST PROFIT

Ia hadir di toko-toko buah besar, pasar swalayan, dan dijual online. Satu kemasan isi 100 gram dihargai Rp30 ribu. Harga jual per kilogramnya berkisar Rp250-500 ribu. Akibat harganya yang melangit, Juwita (27), salah satu pengusaha ciplukan mengaku meraup untung besar.PT BESTPROFIT

Usahanya dirintis sejak 2015 di Sumedang. Tahun itu ia terlebih dulu melakukan riset penanaman untuk menghasilkan kualitas buah premium. Penanaman pertama dimulai dengan lima biji ciplukan. Jumlah tersebut terus bertambah hingga mencapai tiga ribu pohon.

“Dari lima berkembang sepuluh, seratus, tiga ratus, delapan ratus, tiga ribu,” katanya kepada Tirto, Jumat (18/8/2017).

Juwita bercerita, usahanya tak langsung berbuah manis dan sempat pasang surut. Di tahun 2016, ia lebih dulu menjajakan ciplukan di salah satu pasar daerah Sumedang. Tapi sama sekali tak laku, padahal harga jualnya masih Rp5000 per 120 gram. Enam kali lebih murah dibanding harga saat ini.PT BEST PROFIT

Saat itu, per bulan, ia hanya mendapat laba sebesar Rp100 ribu. Tak patah arang, wanita ini mencoba peruntungan dengan berjualan online. Ciplukannya dijual seharga Rp150 ribu per kg. Sembari berjualan, Juwita memberi pemahaman tentang manfaat dan rasa ciplukan kepada calon pembeli.

“Itu perlu sebagai branding, sebab awalnya tidak laku karena orang belum tahu manfaatnya,” kata Juwita.

Dua tahun berjualan dan mengedukasi pembeli, Juwita untung besar. Kini, ia terus melakukan beragam inovasi produk ciplukan, misalnya sari buah ciplukan, kismis ciplukan, selai, dan saos ciplukan. Juwita juga melebarkan sayap sebagai pemasok ciplukan di hampir semua supermarket di Jakarta.PT BESTPROFIT FUTURES

“Saya sudah bisa kantongi laba Rp30 juta per bulan, salah satunya dengan memasok ke Rezeki Market, All Fresh, Total Buah, Jakarta Fruit, dan Koki Mart,” akunya.

Kandungan Ciplukan

Bukan tanpa alasan Juwita menjual ciplukan. Dulu, teman ayahnya menderita parkinson, yaitu degenerasi sel saraf pada otak yang membuat penderitanya mengalami tremor atau gemetaran. Sejak mengkonsumsi jus ciplukan, tremornya mereda.

Pengalaman lain juga dialami sang ayah yang menderita kolesterol. Kakinya sempat bengkak besar hingga tak bisa berjalan. Berkat rutin memakan ciplukan, bengkaknya perlahan kempes. Sejak itu, tekadnya makin kuat untuk memasarkan si buah kaya manfaat.PT BEST PROFIT FUTURES

“Warga di sini juga suka mengonsumsi ciplukan untuk penangkal flu dan batuk,” ujarnya.

Sejatinya, ciplukan adalah buah asli Amerika yang tersebar luas di daerah tropis dunia. Buah kaya manfaat ini biasa tumbuh di daerah dengan ketinggian antara 1-1550 mdpl. Penelitian lebih lanjut mengenai manfaat ciplukan dilakukan Mahalakshmi AM dan Ramesh B. Nidavani dalam Indo American Journal of Pharmaceutical Research, 2014. BESTPROFIT FUTURES

Ciplukan mengandung banyak zat bermanfaat, di antaranya karbohidrat, lipid, mineral, dan vitamin. Masyarakat biasa memanfaatkan daunnya secara tradisional untuk melawan radang kandung kemih, limpa dan hati. Mandi dengan air rebusan tanaman ciplukan baik untuk untuk meredakan peradangan pada kulit serta rematik.

Ada juga yang menggunakannya dalam pengobatan tradisional untuk mengatasi hepatitis, sakit tenggorokan, sakit perut, malaria, asma, ginjal, kandung kemih, penyakit kuning, asam urat, dan demam. Sementara, buahnya digunakan untuk mengobati bisul, luka, konstipasi, dan masalah pencernaan.

Di lembah Amazon, masyarakat menggunakan jus ciplukan sebagai obat penenang, depuratif (pembersih darah), anti-rematik, dan meredakan sakit telinga. Di Taiwan, ciplukan digunakan sebagai obat tradisional diabetes, hepatitis, asma, dan malaria. Penduduk pedesaan di Peru menggunakan daunnya untuk penyakit hati, malaria, dan hepatitis. Dan di Afrika Barat, mereka percaya ciplukan bisa menyembuhkan kanker.

Apakah semua khasiat itu bisa dijelaskan secara ilmiah? Menurut Mahalaksmi A.M. dan Ramesh Nivadani, berbagai studi dan penyelidikan menunjukkan bahwa ciplukan terutama terlibat dalam efek imunologis (sistem imunitas tubuh). Ia menjanjikan bagi gangguan-gangguan (penyakit) yang terkait dengan sistem kekebalan tubuh. Tentu tak semua penyakit yang disebutkan di atas termasuk ke dalam kategori ini.  BEST PROFIT FUTURES

BPF Penelitian Maya Fitria dkk juga menunjukkan hal yang menggembirakan. Peneliti mengeringkan ciplukan dan mengekstraksinya dengan etanol 70 persen. Hasilnya, ekstrak ciplukan tersebut memberikan dampak positif dan mampu menginduksi apoptosis (kematian) pada sel kanker payudara. Lagi-lagi, temuan ini juga tentu perlu penyelidikan lanjutan untuk bisa dikembangkan menjadi salah satu terapi kanker yang diakui.BESTPRO