PT Best Profit Futures Jambi

Tag Archives: bestprofit jambi

Bestprofit – Main Tinder Saat Kamu Punya Pasangan: Selingkuh atau Bukan?

Main Tinder Saat Kamu Punya Pasangan: Selingkuh atau Bukan?Bestprofit – Arif, 28 tahun, belum lama ini berpacaran dengan Hesti yang ditemuinya dari aplikasi kencan Tinder. Ia lantas memulai perbincangan pada Maret 2016 setelah melihat profil Hesti yang dianggapnya menarik. Itu berlanjut ke percakapan yang lebih intens di WhatsApp.

Sekilas tidak ada yang ganjil dengan relasi yang Arif jalin dengan pacarnya saat ini, kecuali satu: Saat berkenalan dan kian dekat dengan Hesti, Arif tengah pacaran dengan Fia selama lebih dari tiga tahun.

Pada tahun kedua, Arif dan Fia sempat berhubungan jarak jauh lantaran Fia melanjutkan sekolah ke Amerika Serikat. Ketika itu, Arif maupun Fia mengaku memasang Tinder di ponsel mereka. Sejoli ini menyatakan bermain Tinder atas dasar mencari kesenangan semata, tanpa ada niatan untuk menceritakan lebih detail mengenai orang-orang yang ditemui di sana. Hingga Fia kembali ke Jakarta, ia dan Arif masih aktif menggunakan aplikasi ini dan tetap menjalankan hubungan layaknya pasangan lain.

Waktu berjalan dan Arif merasakan relasi yang terjalin dengan Hesti dari kencan online tak sekadar teman berbincang. Beberapa pertemuan langsung serta komunikasi yang terus dijaga tak pelak menumbuhkan ikatan emosional di antara keduanya. Dengan jujur, Arif menceritakan kepada Hesti soal hubungannya dengan Fia yang saat itu belum berakhir dan Hesti menerimanya tanpa banyak berharap.

Barulah, pada Maret 2017, Arif dan Fia sepakat menyudahi relasi romantis mereka—bukan dengan alasan Arif tertarik kepada perempuan lain—dan Arif memutuskan berpacaran dengan Hesti. Meski demikian, hingga kini Arif tetap mengaktifkan Tinder dan berinteraksi dengan perempuan-perempuan lain.

Pengalaman bermain Tinder saat masih berpacaran juga dialami oleh Chacha (32) dan Kika (25). Lantaran lingkaran pertemanan Chacha jamak menggunakan Tinder, ia pun tertarik menjajal aplikasi tersebut.

“Mulanya sih gue nganggap mainan Tinder itu lame banget. Tapi setelah gue coba, ternyata menarik juga karena gue bisa ketemu banyak orang di luar lingkaran gue,” kata Chacha. Saat memasang Tinder, Chacha masih berpacaran dengan seseorang dan sama seperti relasi Arif-Fia, pacar Chacha pun mengetahui hal ini.

Chacha tak menganggap bermain Tinder sebagai upaya berselingkuh lantaran ia tetap mengutamakan hubungannya dengan sang pacar. Kalaupun kontak fisik atau aktivitas seksual dilibatkan setelah bertemu dengan orang-orang di Tinder, Chacha cenderung lebih permisif terhadap hal ini.

“Bagi gue, selingkuh itu ada dua: selingkuh fisik sama selingkuh perasaan. Selingkuh fisik lebih bisa gue terima dan maafkan daripada selingkuh hati. Soalnya, gue melihat wajar kalau orang punya lust dan berkeinginan untuk berhubungan seks dengan orang di luar pasangannya,” ungkap perempuan yang bekerja di media ini.

Setali tiga uang dengan Chacha, Kika juga sempat mengaktifkan aplikasi kencan lain seperti OKCupid saat ia masih berpacaran. Bedanya, pacarnya tidak mengetahui aktivitas aplikasi kencan Kika. Ia mengatakan kerap mencari teman kencan di OKCupid lantaran mudah merasa bosan.

“Gue merasa enggak bisa monogami, tapi gue susah menemukan pasangan yang bisa open relationship dan cocok sama gue. Selain itu, gue juga tipe orang yang memisahkan love sama lust,” ungkapnya.

Kika juga menyatakan tetap bersama pasangannya sekarang, tetapi ia pun tak memungkiri ada kebutuhan biologis yang sulit terpenuhi oleh hanya satu orang. Dengan bantuan OKCupid, ia bisa bertemu orang-orang baru dengan segmentasi tertentu dan memiliki irisan kesukaan yang sama.

Kika juga pernah terlibat hubungan dengan Barry yang mengaku menjalani open marriage di profil OKCupid-nya. Ini sempat membuatnya merasa bersalah sekalipun ia berkata sangat nyaman berelasi dengan Barry.

Baginya, bila masih di level pacaran, ia masih bisa berkompromi dengan batasan etis yang diamini orang-orang. Lain cerita bila status pasangan adalah suami perempuan lain. Perasaan rikuh kian menebal saat Kika datang ke rumah Barry saat istri Barry tak di sana. Singkat cerita, Kika menuntaskan relasinya dengan Barry.

Ketika ditanya apakah melakukan online dating termasuk berselingkuh, Kika menjawab, “Sebenarnya yang gue lakuin ini tergolong cheating, sih. Tapi, kalaupun ternyata pacar gue melakukan hal kayak gue, ketemu dan hookup sama orang lain, gue enggak begitu mempermasalahkan. Akan jadi masalah kalau udah melibatkan ikatan emosional.”

Lain lagi dengan pengalaman Putri (28) dan Satya (32). Mereka mengaku bertemu di OKCupid pada Maret silam dan mulai berkomunikasi secara intens, baik melalui aplikasi pesan Line maupun pertemuan-pertemuan langsung. Empat bulan kemudian, mereka kian intim dan tanpa perlu pernyataan lugas mereka menjalin hubungan romantis.

Berbeda dari kebanyakan relasi romantis lain, Putri dan Satya membebaskan satu sama lain untuk tetap menjalin hubungan dengan orang-orang lain alias memilih poliamori. Keduanya tetap mengaktifkan aplikasi kencan dan bersepakat untuk tidak mengamini batasan selingkuh yang banyak dipegang orang-orang: kontak fisik dan keterlibatan emosional.

Ketika saya menanyai alasan Satya memilih poliamori, ia menjawab, “Karena saya senang melihat pasangan saya senang bersama orang lain. Saya percaya, saya punya kapasitas menyayangi cukup besar sehingga saya bisa membagikan ke lebih dari satu orang. Dulu, saya sempat monogami dan merasa segala yang saya punya terserap hanya oleh satu orang. Sementara, saya senang membantu dan memberi kepada banyak orang.”

Satya menambahkan bahwa ia ingin menghindari “kesalahan” hanya berfokus kepada satu orang, dan karena itulah ia memilih jalan poliamori.

Sementara Putri mengatakan memilih poliamori lantaran ia sadar kebutuhan kontak fisik sulit terpenuhi hanya lewat satu laki-laki. Pengalaman berelasi lebih dari tiga tahun dengan beberapa pasangan sebelumnya membuat Putri paham, cepat atau lambat, ia akan terlumat rasa jenuh.

Tidak hanya itu, Putri merasa ia bisa jatuh hati bukan kepada satu orang atau satu persona saja. Serangkaian momen pun bisa membuatnya begitu intim dan tertarik kepada orang lain di luar pasangannya.

Menyadari hal-hal ini, Satya dan Putri tidak keberatan jika suatu hari melihat pasangannya mesra dengan orang lain yang ditemui, baik dari aplikasi kencan ataupun lingkaran pergaulan. Bahkan, bukan hal yang tabu bagi mereka untuk berkumpul bersama perempuan dan laki-laki lain yang tengah intim dengan mereka.

Main Tinder Saat Kamu Punya Pasangan: Selingkuh atau Bukan?

Omong perselingkuhan acapkali mendatangkan beragam tafsir. Beragam konteks—dari budaya, agama, hingga teknologi seperti aplikasi kencan—memengaruhi pemaknaan kita atas selingkuh. Hasil survei dari lembaga riset pasar asal Inggris YouGov menyebut 67% perempuan dan 43% laki-laki berpikir melakukan online dating lewat Tinder atau Match.com tergolong selingkuh.

Dalam Love Online: Emotions on the Internet (2004), Aaron Ben-Ze’ev memaparkan kemunculan aplikasi atau situs kencan online menggeser perilaku berelasi romantis seseorang dan bagaimana selingkuh dimaknai ulang.

Bagi sebagian masyarakat konservatif, aktivitas seksual atau kontak fisik seseorang dengan orang yang bukan pasangannya adalah perselingkuhan. Sekadar jalan atau menghabiskan waktu berduaan dengan yang bukan pasangan pun bisa dibilang oleh sebagian pihak sebagai tindakan serong. Bahkan, ada yang menganggap menonton porno dan bermasturbasi saat seseorang memiliki pasangan tergolong selingkuh. Lantas, bagaimana berinteraksi di ranah online dating?

Ada sejumlah argumen yang Ben-Ze’ev kutip dalam tulisannya. Secara khusus, ia membahas mengenai percakapan yang berkonten seksual pada aktivitas online dating dan cybersex. Tidak sedikit orang yang menggunakan aplikasi kencan untuk membicarakan hal-hal terkait seks, tetapi menurut Ben-Ze’ev, tidak semua percakapan tentangnya setara dengan seks itu sendiri. Bisa saja perbincangan mengarah pada aspek psikologis, bahkan filosofis, tentang seksualitas.

Bagi beberapa orang, percakapan atau aktivitas seksual dengan perempuan atau laki-laki lain selama masih berstatus sebagai pasangan seseorang, bukanlah tindakan selingkuh asalkan memenuhi satu syarat: diketahui dan diterima oleh pasangannya.

Ini jamak ditemukan pada konteks open relationship, open marriage, atau poliamori. Tidak boleh ada pihak yang merasa ditipu karena pasangannya menjalin relasi intim dengan orang lain. Pandangan semacam ini masih kalah populer di mata masyarakat lantaran, dari masa ke masa, monogami dinilai sebagai kebenaran tunggal dengan segala macam pertimbangan moral, ekonomi, legal, kesehatan, dan lain sebagainya.

Sejumlah orang lain, tambah Ben-Ze’ev, melanjutkan interaksinya di aplikasi kencan ke aktivitas seksual virtual alias cybersex. Ini kerap dilakukan lantaran lebih rendah risiko ketahuannya dan beban moralnya tak seberat di dunia nyata. Alasan lain, seperti diungkapkan oleh Ceilidhe Wynn, matchmaker asal Ottawa, Kanada: Anonimitas lebih tinggi di dunia online dating telah membuat mereka merasa leluasa mengekspresikan diri dan menyalurkan hasratnya kepada orang-orang asing.

Bila interaksi sudah dirasa menyebalkan, mereka bisa menghentikannya sewaktu-waktu tanpa perlu merasa rikuh atau khawatir akan bertemu dengan si lawan bicara di kehidupan nyata. Alih-alih menganggap perbincangan di aplikasi kencan sebagai aksi selingkuh, banyak orang memandangnya sebagai sarana yang membantu memperbaiki relasinya dengan pasangan di kehidupan nyata.

Logika yang mendasarinya: ada kala kejenuhan menghampiri hubungan. Dengan bertemu orang baru, tanpa melulu harus berhubungan badan, mereka bisa menemukan kembali relasi bergairah dengan pasangan.

Tentu saja argumen ini bukan tanpa bantahan. Ben-Ze’ev mencatat tentang pengalaman perempuan yang menilai suaminya sudah jenuh berhubungan lantaran telah banyak menghabiskan waktu dengan pasangan cybersex. Saat kepentingan pasangan di dunia nyata dikesampingkan, intimasi mulai tergerus, dan perhatian justru diarahkan ke satu orang yang sama, alih-alih ke beberapa orang, di dunia dating online, saat itulah seseorang menganggap pasangannya selingkuh.

Bincang-Bincang di Aplikasi Kencan Selalu Berintensi Seksual?

Meski kerap diasosiasikan dengan kepentingan seksual, ada orang-orang yang memanfaatkan aplikasi kencan hanya untuk menambah teman, wawasan, bahkan mendapat kesempatan kerja dari orang-orang yang ditemuinya.

Kika berkata, meski kerapkali menemukan teman mesra dari aplikasi kencan, tujuannya memakai Tinder maupun OKCupid tak melulu untuk kebutuhan seksual. Ia lebih senang saat bertemu orang-orang yang bisa diajak berbincang seputar hal-hal yang ia geluti atau isu sosial-politik yang jadi topik kegemarannya.

“Bagi gue, Barry itu mentor yang menyenangkan. Gue juga dapat banyak insight dari orang-orang yang sempat gue temui di OKCupid. Pemenuhan intelektual itu yang menurut gue lebih menarik sih dari pengalaman berinteraksi di aplikasi kencan,” katanya.

Pengalaman Kika merefleksikan satu hal. Sulit sekali menemukan laki-laki atau perempuan yang ibarat “paket lengkap”: memenuhi semua gagasan ideal pasangan, punya kecenderungan yang persis sama, atau selalu bisa menawarkan hal baru.

Pasti ada pertimbangan tertentu mengapa ia memutuskan untuk berpacaran dengan hanya satu orang. Kendati demikian, penggunaan aplikasi kencan seperti yang dilakukan Kika membuktikan bahwa intensi memenuhi beberapa kebutuhan—seperti aktualisasi diri atau intelektualitas—bukanlah cuma angan kosong. Bestprofit, PT bestprofit.

Bestprofit – ISI Yogyakarta Cegah Pengaruh HTI ke Mahasiswa

ISI Yogyakarta Cegah Pengaruh HTI ke Mahasiswa Bestprofit – Dalam dua tahun terakhir, seiring menguat dan meluas pengaruh Hizbut Tahrir Indonesia ke kampus, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta membuat aksi kecaman terhadap HTI.

Pada 17 Juni 2016, ratusan mahasiswa dan alumni kampus ini menggelar aksi menolak keberadaan HTI di sana. Aksi di depan Rektorat ISI itu didukung oleh petinggi kampus.

Aksi serupa muncul pada 22 Mei 2017. Kelompok atas nama Kesatuan Aksi Alumni-Mahasiswa Institut Seni Indonesia mendeklarasikan petisi yang mendesak pemecatan dosen, karyawan, dan mahasiswa ISI Yogyakarta yang menjadi simpatisan, anggota, dan pengurus HTI. Aksi ini juga mendukung rencana pemerintah membubarkan HTI.

Tindakan ini sebagian didorong rasa terkejut bahwa bahkan di kampus yang didominasi komunitas seniman dan tak punya kedekatan dengan sejarah panjang tradisi gerakan Islam kampus, bisa “disusupi” oleh organisasi politik yang mengusung ide khilafah.

Meski demikian, Pembantu Rektor ISI Bidang Kemahasiswaan, Anusapati, mengatakan tipis kemungkinan Rektorat ISI menuruti desakan tersebut. Langkah itu, katanya, terlalu jauh.

“Mereka juga, kan, teman-teman kita sendiri. Kalau statusnya PNS juga jadi urusan pemerintah pusat,” ujarnya di Gedung Rektorat ISI Yogyakarta, Kamis kemarin.

Anusapati menegaskan Rektorat ISI lebih berfokus membatasi kegiatan HTI agar pengaruh pahamnya tidak meluas di kalangan mahasiswa.

“Sebenarnya, setelah ada keputusan pemerintah, langkah kami pada 2016 mendapatkan dasar lebih kuat. Tapi, sampai sekarang, kami belum membahas rencana baru terkait HTI di ISI,” katanya.

Anusapati membenarkan sejumlah dosen ISI menjadi anggota HTI. Sebagiannya menjadi pengurus lembaga seni bernama Khilafah Arts Network (KHAT), yang berdiri di Yogyakarta pada medio 2016.

Deni Junaedi, yang menolak diwawancara, adalah ketua Khilafah Arts Network. Dalam satu tulisan yang membahas retrospeksi karyanya lewat KHAT, Deni berkata ia aktif dalam organisasi politik HTI sejak 2008.

Anusapati menjelaskan, sebelum ada aksi penolakan HTI pada 2016, Rektorat ISI telah menerbitkan Surat Keputusan (SK) Rektor tentang larangan organisasi masyarakat “berpaham radikal” dan partai politik masuk ke kampus. SK Rektor itu terbit pada 16 Juni 2017.

“Kami tidak secara khusus menyebut melarang HTI, sebab tak ada dasarnya. SK Rektor itu secara umum melarang semua ormas berpaham radikal masuk ke kampus kami,” kata Anusapati.

Namun, Anusapati membenarkan sasaran SK Rektor itu mengarah pada HTI. Aturan ini muncul sebab pimpinan kampus ISI mengklaim telah menerima “banyak laporan” yang mengeluhkan aktivitas HTI.

“Mereka menjaring banyak mahasiswa baru. Kami tak mau mahasiswa baru terkena brain wash paham mereka,” ujarnya.

Anusapati menambahkan, setelah SK Rektor itu terbit, Rektorat ISI merombak kepengurusan masjid kampus. Ini lantaran mereka menerima “banyak keluhan” soal masjid kampus ISI menjadi markas kegiatan HTI.

Selain kerap menjadi lokasi penyebaran buletin dan diskusi soal gagasan HTI, para khatib Jumat di masjid kampus ISI terindikasi berafiliasi dengan organisasi politik tersebut.

“Setelah kepengurusan masjid dirombak, tak ada lagi selebaran, diskusi, dan materi khotbah berisi gagasan mereka. Kami membatasi kegiatannya saja. Kalau pemikiran, tak mungkin dibatasi,” katanya.

Anusapati mengatakan Rektorat ISI berupaya hati-hati dalam membatasi pengaruh HTI agar “tidak mengarah pada upaya memberangus kebebasan.” Karena itu, mayoritas bentuk pembatasan kegiatan disandarkan dari adanya laporan.

Misalnya, pada 2016, Rektorat ISI menyadari basis HTI di kampus berakar pada organisasi intrakampus bernama Keluarga Mahasiswa Islam (KMI) ISI. Tahun lalu, organisasi itu mengalami pergantian pengurus. Hingga sekarang, Rektorat ISI menolak mengesahkan kepengurusan baru ini.

“Soalnya ada masalah. Pemilihan kepengurusan baru itu diprotes mahasiswa lain, BEM juga menolaknya. Jadi kepengurusan baru tidak kami sahkan dulu,” kata Anusapati.

Ia menduga KMI ISI sejak lama menjadi alat HTI membangun basis simpatisan di ISI. “Sepertinya sudah mengakar, dari angkatan-angkatan sebelumnya,” tambahnya.

SK badan hukum HTI dicabut oleh Kementerian Hukum dan HAM pada Rabu lalu, 19 Juli, menyusul terbitnya Perppu Ormas 2/2017 pada pertengahan pekan lalu. Kepolisian mengatakan melarang kegiatan dakwah HTI, termasuk aktivisnya tidak boleh lagi memakai nama, lambang, bendera atau atribut HTI.

“Kalau dakwahnya jelas-jelas anti-Pancasila, anti-NKRI, akan kami tertibkan dan amankan,” kata Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Setyo Wasisto.

Pihak HTI tengah menimbang untuk melakukan gugatan hukum setelah organisasinya dibubarkan.

Menjelang dan setelah HTI dibekukan, beredar dokumen yang belum sepenuhnya terverifikasi yang memuat daftar nama pengurus, anggota, dan simpatisan HTI dari kalangan aparatur sipil negara, termasuk dari akademisi, di 34 provinsi. Dokumen itu salah satunya mencantumkan dua nama dosen dari ISI Yogyakarta. Bestprofit, PT Bestprofit.

Best Profit : Menko Darmin Klaim Kelapa Sawit Tetap Bernilai Strategis

Menko Darmin Klaim Kelapa Sawit Tetap Bernilai StrategisBest Profit – Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution mengklaim sektor kelapa sawit merupakan bisnis yang strategis bagi perekonomian nasional secara umum. Menurut Darmin, sawit memiliki keunikannya tersendiri, selain juga terbukti mampu mengurangi ketimpangan regional.

“Ini satu-satunya komoditas perkebunan, dimana peran swasta, BUMN (Badan Usaha Milik Negara), dan masyarakat masing-masingnya besar serta cukup signifikan. Ini tentu beda dengan karet, kelapa, kopi, dan cokelat yang sebagian besar punya rakyat,” kata Darmin di Gedung Parlemen, Jakarta pada Senin (17/7/2017) sore.

Darmin menyatakan kelapa sawit dapat disebut sebagai bahan baku apabila mengacu pada Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2014 tentang Perindustrian. Pasalnya dalam UU tersebut dituliskan bahan baku memiliki definisi sebagai bahan mentah, barang setengah jadi, atau barang jadi yang dapat diolah menjadi barang setengah jadi atau barang jadi yang mempunyai nilai ekonomi lebih tinggi.

“Kelapa sawit itu produktivitasnya bukan main. Oleh karena itu, pemerintah memang bertekad untuk mempromosikan sawit guna mendukung kehidupan rakyat,” ujar Darmin lagi.

Adapun saat disinggung mengenai perkembangan bisnis sawit di Indonesia saat ini, Darmin memberikan pandangannya.

“Setelah el-nino tahun lalu, mungkin ini memang bukan tahun ideal buat kelapa sawit. Tapi secara umum, oke. Ekspor kita mungkin agak sedikit melambat karena kita memang makin banyak mengolahnya menjadi biodiesel, dan itu ikut mendorong harganya menjadi lebih baik,” jelas Darmin.

“Seandainya biodiesel kita yang B20 itu tidak ada, maka harga dunia nggak mungkin seperti sekarang. Itu adalah upaya sangat strategis, yang dilakukan oleh Indonesia. Kita pun minta supaya negara lain, seperti Malaysia, untuk ikut melakukannya,” tambah Darmin.

Terkait sikap parlemen Uni Eropa yang dinilai bertindak diskriminatif terhadap produk sawit Indonesia pun, Darmin sempat mengindikasikan ketidaksetujuannya akan hal itu.

“Jangan lah dianggap, orang-orang Eropa bilang itu yang menyebabkan lingkungan di Indonesia rusak, yang benar saja? Satu komoditi kok dipakai jadi alasan,” ungkap Darmin.

Oleh karena itu, pemerintah saat ini tengah menyiapkan proyek awalan peremajaan (replanting pilot project) terhadap 30.000 hektar lahan perkebunan kelapa sawit. Seperti diungkapkan Darmin, proyek dibentuk guna meningkatkan produktivitas tanaman serta menghindari persoalan yang semakin rumit.

“Untuk peremajaan sawit, kita akan lebih mengandalkan dari Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS). Sehingga ini sudah tuntas, karena ada dananya. Sementara buat karet masih belum (tuntas), karena kita nggak punya dana. BPDP itu dana sawit, kita nggak boleh pakai untuk yang lain,” kata Darmin.

Di tempat terpisah, Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR) Sofyan Djalil sempat mengatakan bahwa pendanaan dari BPDP-KS jumlahnya diperkirakan mencapai Rp25 juta per hektar. Selain itu, ada pula peran dari dana kredit usaha rakyat (KUR) maupun pengusaha sebagai pembeli (off-taker).

“Kami berikan bantuan replanting dari BPDP, diberikan pinjaman, dan sertifikat. Tahap pertama 30.000 hektar. Kalau berhasil, tahun depan akan ditambah untuk me-replanting kebun rakyat. Yang perlu dijamin adalah bibit dan bantuan teknis,” ucap Sofyan di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, pada Senin (17/7) malam. Best Profit, PT Bestprofit

PT Bestprofit – Yusuf Mansur Dituduh Menebar Kisah Fiktif untuk Pikat Jemaah

Yusuf Mansur Dituduh Menebar Kisah Fiktif untuk Pikat JemaahPT Bestprofit – Jam’an Nurchotib Mansur alias Yusuf Mansur Alias Yusuf Mansur dianggap bermasalah dalam hal metode dakwahnya. Untuk memancing jemaah bersedekah, ia membangun narasi “dramatik” yang diduga fiktif.

Hal ini diungkapkan Darso Arief Bakuama, penulis Yusuf Mansur Menebar Cerita Fiktif, Menjaring Harta Umat dan Banyak Orang Bilang: Yusuf Mansur Menipu. Kedua buku itu diterbitkan Teras Publishing pada 2016.

Darso menganalisis ceramah Yusuf Mansur secara langsung maupun lewat video yang diunggah di YouTube.

“Saya berkesimpulan ada pola Yusuf Mansur dalam pengumpulan sedekah. Itu dalam setiap ceramah dia, memotivasi orang untuk mengeluarkan uang, harta, asetnya untuk diserahkan ke dia dengan judul sedekah. Itu dibangun dengan cerita-cerita yang menurut saya fiktif,” kata Darso kepada reporter Tirto, 2 Juli lalu.

“Sedekah dia bermasalah, orang yang mengadu ke dia (tentang) masalah kehidupan, dimintanya sedekah,” lanjut Darso. “Sampai-sampai ada yang datang bawa mobil suruh tinggalin mobilnya. Ada yang bawa motor butut sekalipun diminta motornya.”

Darso mencotohkan salah satu kisah yang diduga fiktif dalam ceramah Yusuf Mansur di Masjid Al-Azhar, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada 2 Mei 2013.

Kala itu Yusuf Mansur bercerita bahwa ia bertemu teman perempuannya yang sudah rampung sarjana strata satu di Amerika Serikat dan pascasarjana di Perancis. Perempuan itu kaya raya dan cantik tetapi mau menikah seorang laki-laki miskin yang badannya hanya separuh. Alasannya, kata Mansur, si perempuan ingin ibadah dan yang dilakukannya itu kehendak Allah.

Mansur lalu mengunggah laki-laki yang badannya separuh itu melalui akun Instagramnya (per 17 Juli memiliki 1,6 juta pengikut). Darso menemui laki-laki yang bernama Muhammad Wahyono itu.

Wahyono membantah dilamar oleh wanita cantik, kaya, dan terpelajar seperti yang diceritakan Mansur. “Cerita itu tidak benar. Enggak ada itu. Lha, wong saya tahun ini saja baru 18 tahun. Kalau normal sekalipun saya belum pantas kawin,” kata Wahyono, seperti dikutip dalam buku Darso.

Dalam acara yang lain, bertajuk Kuliah Tauhid bersama Yusuf Mansur, di Gedung Islamic Center, Bojonegoro pada Senin 9 Juli 2012, Mansur bercerita tentang teori The Power of Believe. Menurut Mansur, teori tersebut dari “Barat”—tak jelas teori dari siapa—tetapi yang ingin ditekankannya kita tak perlu bantuan Tuhan dan kerja keras untuk mendapatkan barang impian.

Ia mencontohkan soal motor, yang bila kita elus-elus terus tiap hari dengan harapan berubah jadi mobil, motor itu akan berubah jadi mobil. Kisah ini untuk meyakinkan pendengarnya—jemaah dalam acara tersebut—bahwa umat muslim bisa mendapatkan lebih dari itu bila mau bersedekah.

Kemudian Yusuf Mansur membeberkan cerita tentang seorang perempuan yang ingin menikah. Si perempuan ini datang sebelum pesta pernikahan lalu duduk di kursi pelaminan seolah ia yang akan dinikahkan.

Dengan begitu ia akan enteng jodoh. Tentu, katanya, harus dengan diiringi salat duha dan doa bahwa dialah yang berada di pelaminan tersebut. Sebagai pelengkap, si perempuan yang dikisahkan Mansur tersebut mencopot cincin dan gelang, “Rab, ini buatmu, ganti saya dengan jodoh yang saleh,” kata Mansur dengan nada yang dibuat dramatis.

Secara ajaib, si keluarga laki-laki tak melihat kedatangan keluarga perempuan. Tiba-tiba terdengar informasi ternyata keluarga perempuan membatalkan. Sementara undangan sudah tersebar.

Diumumkanlah di masjid tersebut, bagi siapa yang belum menikah, dipersilakan maju untuk dinikahkan.

“Demi Allah, cerita semacam ini banyak,” kata Mansur, bersemangat. “Saya enggak mau bohong, Pak, Bu. Banyak sekali. Oh, benar, Pak. Saya enggak mau bohong urusan begini. Setidak-tidaknya teman saya pribadi, (ada) dua yang begini, kejatuhan semangka banget!

“Tinggal masuk, semua sudah jadi, sudah disewain segala macam. Subhanallah. Bahkan salah satu pasangan yang seperti itu barusan berangkat umrah bersama saya. Dia sudah punya anak 3,” terang Yusuf Mansur.

Cerita itu tak terdengar rancu karena disampaikan secara lisan dan diiringi sumpah Yusuf Mansur untuk meyakinkan pendengarnya. Tetapi, bila kita agak kritis, ada sejumlah bolong cerita di sana.

Misalnya, di tempat mana si perempuan itu harus berdoa: di lokasi pernikahan atau di masjid? Kedua, soal latar cerita: kejadiannya di mana?

Hal begitu agaknya tidak membuat jemaah Yusuf Mansur meragukan. Jemaahnya terbuai.

Tak lama, seorang perempuan maju. Perempuan itu memberikan cincinnya dan minta dia didoakan agar anaknya menjadi pribadi yang saleh.

Sambil memberikan cincin, si perempuan itu bercerita anaknya bekerja di Pontianak. Perempuan itu mengambil uang Rp500 ribu lalu menyerahkan kepada Mansur.

Mansur berkata, “Ayo, Ibu-ibu, siap-siap. Bapak-bapak, siap-siap. Sudah dibawa, kan?”

Setelah itu ada sebentuk ancaman atau memojokkan jemaah. “Yang punya cincin, gelang, dan belum tergerak buat disedekahin, saya bilang, ‘Enggak usah.’ Tapi nanti Asar, lihatin lagi tangannya, cincin itu tetap segitu, kalung itu tetap segitu? Itulah yang terjadi gara-gara kita tidak sedekahin, 10 tahun lagi pun segitu?” kata Yusuf Mansur.

Ia melanjutkan, “Tapi kalau kita sedekahin—masyaallah—Asar nanti lihat, pasti enggak ada karena sudah disedekahin. Tapi 2, 3, 4 tahun kemudian, saudara beli berapa gram pun bisa. Sebab cabang soto-nya sudah 20 cabang, punya laundry sudah 17 cabang, punya showroom motor sudah 3-4 cabang. Subhanallah!”

Acara itu diselenggarakan Program Pembibitan Penghafal Al-Qur’an (PPPA) Darul Qu’ran Bojonegoro bekerjasama dengan PPPA Darul Qur’an Surabaya dan Toko Buku Togamas Bojonegoro. Usai Mansur dan panitia menutup acara itu, tiada penjelasan berapa total uang dan barang berharga yang diserahkan jemaah dan digunakan untuk apa “sedekah” tersebut.

Pembukuan Sedekah Tanpa Transparansi

PPPA Darul Qur’an membuka banyak rekening dengan beragam bentuk sedekah. Dari untuk sedekah wakaf, untuk kemanusiaan, kegiatan, untuk makan santri, cetak Alquran hingga sawah. Bahkan ada juga program bernama jemput sedekah.

Dalam laporan keuangan PPPA Daarul Qur’an, pada 2015 terkumpul sedekah sekitar Rp24,8 miliar. Pada 2016 sebanyak Rp38,3 miliar. Namun, tidak ada rincian dana itu dari mana dan siapa saja serta dialokasikan ke mana atau untuk apa saja.

Ismail, yang tinggal di Klaten, Jawa Tengah, berkata terpaksa memberikan harta senilai Rp5 juta kepada Yusuf Mansur. Itu sesudah ia mengikuti agenda dakwah dan terpikat oleh jurus kisah sukses bersedekah ala Yusuf Mansur yang membius jemaah rela memberikan harta.

“Saya merasa terpaksa saja. Karena saat itu saya di depan umum,” kata Ismail, 12 Juli lalu.

Ismail dijanjikan bahwa apa yang ia sedekahkan akan berlipat ganda. Ismail saat itu sangat percaya jika Mansur mampu menunaikan amanat. Tapi dugaannya tak sepenuhnya benar.

“Ada janji yang tidak ditepati. Intinya, tidak sesuai dengan akad semula. Makanya saya minta (harta saya) kembali,” ungkap Ismail.

Saat reporter Tirto mengonfirmasikan soal metode dakwahnya, terutama lagi soal pembukuan sedekah jemaah tanpa transparansi, Yusuf Mansur enggan memberi penjelasan.

“Enggak usah diluruskan. Saya salah. Insyaallah saya perbaiki. Saya penuh dengan tidak ketidaktahuan,” kata Mansur, 7 Juli lalu. “Insyaaallah saya akan belajar terus. Jadi, saya tidak akan bela diri. Saya minta maaf saja. Sebagai ustaz, sudah banyak menyusahkan.”

Mansur juga enggan merespons pertanyaan yang bisa berdampak pidana terhadapnya. Misalnya, kami bertanya bagaimana ia dapat menjamin bahwa dana yang disedekahkan itu tak bermasalah di kemudian hari. Misalnya, ternyata uang atau harta sedekah jemaah berasal dari keuangan negara.

Hal semacam itu memungkinkan sebab pihak Yusuf Mansur minim merinci sumber dana yang diperolehnya. Indonesia mengenal UU Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang. Pasal 3 dan Pasal 5 menyebutkan ancaman pidana penjara paling lama 20 tahun dan 5 tahun.

Lagi-lagi Yusuf Mansur enggan menanggapi lebih lanjut perkara tersebut. PT Bestprofit, Bestprofit