PT Best Profit Futures Jambi

Tag Archives: PT Bestpro Jambi

Best Profit – Mungkinkah Alfamart dan Indomaret Menjadi Seperti 7-Eleven?

Mungkinkah Alfamart dan Indomaret Menjadi Seperti 7-Eleven?Best Profit – Gerai 7-Eleven milik PT Modern Sevel Indonesia pernah berjaya, lalu kejayaannya memudar, dan akhirnya ia lenyap dari Indonesia. Sevel masuk ke Indonesia pada tahun 2008. Setiap tahun, ada sekitar 30 sampai 60 gerai Sevel baru dibuka di Jakarta. Ini membuat jumlah gerai Sevel terus bertambah. Tahun 2011, hanya ada 50-an gerai Sevel. Tahun 2012, jumlahnya bertambah hampir dua kali lipat. Cukup agresif.

Sampai tahun 2014, jumlah gerai Sevel di Jakarta sudah mencapai 190. Pada tahun itu juga, sebanyak 40 gerai baru Sevel dibuka. Penjualan bersih pun naik 24,5 persen menjadi Rp971,7 miliar dari tahun sebelumnya yang hanya Rp778,3 miliar. Tahun itu bisa disebut sebagai puncak kejayaan Sevel.

Tahun berikutnya, penjualan Sevel menurun, demikian pula dengan jumlah gerainya. Tahun 2015 itu, total penjualan bersih Sevel turun menjadi Rp886,84 miliar. Untuk pertama kalinya Sevel melakukan penutupan gerai. Tak tanggung-tanggung, 20 sekaligus. Sementara gerai baru yang dibuka hanya 18, angka terkecil penambahan gerai sejak 2011.

Pada 22 Juni tahun ini, Direktur PT Modern Sevel Indonesia Chandra Wijaya mengumumkan penutupan seluruh gerai Sevel secara resmi. Mulai tanggal 30 Juni, tak satu pun gerai Sevel di Indonesia beroperasi.

Alfamart, juga punya pola serupa seperti 7-Eleven. Meski masih terlalu jauh, tetapi jika tak diantisipasi, ia bisa saja bernasib sama. Tahun 2011, ia hanya punya 5.797 gerai. Lima tahun kemudian, jumlah gerainya lebih dari dua kali lipat, yakni mencapai 12.366 gerai.

“Ada ketidaksesuaian ekspektasi. Harapannya, ketika menambah gerai, pendapatan tentu bertambah, tetapi yang terjadi tidak demikian,” ujar Marolop Alfred Nainggolan, Analis Koneksi Kapital.

Alfred menjelaskan bahwa yang terjadi pada Alfamart adalah ketika membangun dan membuka gerai baru, uang yang dipakai biasanya uang yang berbunga seperti pinjaman bank atau penerbitan obligasi. Ekspektasinya, dari penambahan gerai tentu akan terjadi penambahan pendapatan. Ketika kenaikan pendapatan tak signifikan, maka laba akan tergerus karena perusahaan mempunyai biaya beban bunga yang harus terus dibayarkan.

Semester I tahun ini, laba PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk tergerus dari Rp83 miliar pada periode yang sama tahun lalu menjadi hanya Rp38,8 miliar. Pendapatan pada enam bulan pertama tahun ini sebenarnya tumbuh 13,5 persen jika dibandingkan dengan tahun lalu. Laba usahanya pun tumbuh 13 persen. Namun, laba bersihnya anjlok karena besarnya biaya bunga dan obligasi.

Berdasarkan laporan keuangannya, tahun ini emiten berkode AMRT itu membayarkan utang obligasi sebesar Rp1 triliun. Pembayaran untuk utang jangka panjangnya juga meningkat dari Rp208 miliar pada semester I tahun lalu menjadi Rp244 miliar tahun ini.

“Ia menambah gerai dari uang pinjaman, lalu pendapatannya tumbuh standar, sementara beban bunga membengkak. Alhasil, labanya drop,” begitu analisis Alfred terhadap laporan keuangan Alfamart.

Analisis serupa juga berlaku bagi Indomaret. Sejak Januari hingga Juni tahun ini, PT Indoritel Makmur Internasional Tbk—pemilik merek dagang Indomaret—hanya membukukan laba bersih Rp30,5 miliar. Padahal, pada periode yang sama tahun lalu, labanya mencapai Rp105,5 miliar.

Menurutnya, jika tak menahan diri untuk terus menerus membuka gerai baru, Alfamart dan Indomaret mungkin bisa bernasib seperti 7-Eleven. “Secara teoritis, kalau mereka terus membuka gerai baru dengan pendanaan yang berbunga, bisa jadi perlahan akan berakhir sama seperti Sevel,” kata Alfred.

Dia menyarankan agar peritel modern tidak terlalu agresif. Karena ketika gerai ditambah, belum tentu pendapatan meningkat. Konsumen tidak menambah aktivitas belanjanya, mereka hanya memindahkan aktivitasnya.

Misal, ketika di ujung gang ada gerai ritel modern, masyarakat satu gang itu tentu akan berbelanja di toko ritel tersebut. Karena punya banyak pembeli, maka toko ritel itu membuka gerai baru sekitar 500 meter dari lokasinya semula. Gerai baru itu tentu tetap akan dikunjungi pembeli, tetapi mereka adalah pembeli yang sama dengan yang datang ke toko pertama. Alhasil, pendapatan sama saja atau berbeda sedikit, tetapi biaya beban karena membuka toko baru meningkat.

Mungkinkah Alfamart dan Indomaret Menjadi Seperti 7-Eleven?

Tak hanya Indomaret dan Alfamart yang melesu dan tergerus labanya. Industri ritel secara umum juga melambat. Tahun ini, Asosiasi Peritel Indonesia (Aprindo) sebenarnya menargetkan penjualan hingga Rp220 triliun atau tumbuh 10 persen dari penjualan tahun lalu. Namun, pada semester I tahun ini, industri hanya mencetak pertumbuhan 3,7 persen.

“Melihat apa yang dicapai pada semester I, saya kira target pertumbuhan 10 persen sampai akhir tahun akan sulit sekali dicapai,” ujar Roy Nicholas Mandey, Ketua Aprindo, Kamis (3/8).

Dia menilai ada perubahan perilaku konsumen dalam berbelanja di toko ritel. Kemudahan dan kemajuan zaman, kata Roy, membuat masyarakat memiliki banyak opsi dalam berbelanja. Masyarakat bisa membeli online atau lewat jasa Go-Jek. “Kalau mereka belanja dengan Go-Jek kan belum tentu itu barang dibelinya di toko ritel modern,” kata Roy.

Ketika pendapatan industri ritel lesu, perbankan malah kebanjiran dana. Jumlah dana pihak ketiga di tabungan maupun deposito pada Mei tahun ini melebihi Rp5.000 triliun. Angka tersebut tumbuh 11,18 persen dari periode yang sama tahun lalu.

Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), uang simpanan tabungan tercatat Rp1.571 triliun, tumbuh 9,7 persen dari periode yang sama tahun lalu. Sedangkan jumlah uang di deposito tumbuh 10 persen, menjadi Rp2.222 triliun.

Bhima Yudhistira, ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mengatakan ada dua hal yang terjadi. Pertama, masyarakat menengah ke bawah mengalami penurunan daya beli. “Dari inflasi yang rendah selama dua tahun terakhir, bisa dilihat kondisi daya beli kita,” kata Bhima.

Juli tahun lalu, inflasi inti berada di angka 0,34 persen. Sedangkan Juli tahun ini, hanya 0,26 persen. Rendahnya inflasi ini, menurut Bhima, menunjukkan permintaan secara agregat memang menurun.

Kedua, orang-orang kaya menahan konsumsinya dengan menyimpan uang di bank, baik dalam tabungan biasa maupun deposito. Orang-orang kaya ini mengantisipasi kondisi perekonomian sampai risiko politik menjelang pilpres 2019. “Bahasa sederhananya, orang kaya berjaga-jaga dari kondisi terburuk,” ujar Bhima.

Secara makro, lanjut Bhima, dua hal itu menunjukkan kondisi ekonomi yang kurang berkualitas. Serapan tenaga kerja juga turun pada semester I tahun ini, dari 680 ribu pada semester I 2016 menjadi 639 ribu. Kalau serapan tenaga kerja terus menurun, imbasnya akan ke daya beli hingga penerimaan pajak.

Bagi Alfamart dan Indomaret, ada dua persoalan yang sedang dihadapi. Selain persoalan strategi ekspansi yang dipaparkan Alfred, dua peritel ini juga dihantam penurunan daya beli seperti disebutkan Bhima. Best Profit

Best Profit – Ramai-Ramai Meninggalkan Mobil Bensin

Ramai-Ramai Meninggalkan Mobil BensinBest Profit –  Inggris baru saja mengumumkan akan melarang penjualan kendaraan berbahan bakar bensin dan diesel mulai pada 2040. Langkah itu diambil oleh pemerintah Inggris guna mengurangi emisi dengan target pengurangan hingga 80 persen di tahun 2050.

Upaya inggris ini bukan tanpa alasan. Menurut laporan dari Vehicle Certification Agency Inggris, setiap tahunnya ada 29 ribu kematian karena polusi partikel halus yang disebabkan oleh particulate matter (PM) dari kendaraan bermotor terutama yang berbahan bakar minyak. 

PM sangat berbahaya karena dapat menyebabkan permasalahan pada pernafasan dan kardiovaskular. Selain PM ada juga CO atau karbon monoksida yang dapat memengaruhi aliran oksigen dalam darah sehingga dapat mengurangi ketersediaan oksigen dalam tubuh. Selain itu, gas berbahaya dari kendaraan bermotor juga ada hidrokarbon yang menyerang sistem pernapasan manusia.

Bahaya dari gas-gas ini menjadi salah satu faktor pendorong pemerintah Inggris untuk segera mengurangi jumlah kendaraan bermotor berbahan bakar minyak. Di sisi lain, pemerintah Inggris juga mendapat desakan dari para pegiat lingkungan untuk segera mencari solusi soal polusi dari kendaraan bermotor.

Laporan Environmental Protection UK menyebutkan, kendaraan di jalan raya Inggris adalah penyumbang 20 persen total emisi CO2 yang disebut sebagai penyebab utama dari perubahan iklim.

Tak hanya Inggris, larangan penjualan kendaraan berbahan bakar minyak juga dilakukan oleh Norwegia. Negara Skandinavia ini hanya akan menjual mobil-mobil listrik, hidrogen atau plug-in hybrid pada tahun 2025. Sejak 1990an, Norwegia sudah fokus dalam menanggulangi soal polusi, kemacetan dan kebisingan dari kendaraan bermotor. 

Perancis juga melakukan hal yang sama. Pemerintah Perancis mengumumkan akan mengakhiri penjualan kendaraan bermotor yang berbahan bakar bensin dan solar di tahun 2040. Sementara Belanda berencana menetapkan larangan penjualan kendaraan berbahan bakar bensin dan diesel pada 2025.

Di Asia, ada India yang hanya akan memperbolehkan penjualan mobil listrik di tahun 2030. Ini adalah salah satu langkah India untuk mengurangi polusi udara. Menurut laporan LSM lingkungan Greenpeace, polusi udara di India telah menyebabkan setidaknya 1,2 juta orang meninggal setiap tahun.Langkan pencegahan pun diambil salah satunya dengan mulai beralih ke mobil listrik.

Ramai-Ramai Meninggalkan Mobil Bensin

Era Mobil Listrik

Larangan penjualan kendaraan berbahan bakar minyak sudah pasti akan membuat negara-negara tersebut diserbu mobil listrik. Para produsen pun sudah mulai mengendus pangsa pasar yang cukup besar, sehingga ancang-ancang menggenjot produksi. 

Di Inggris, produsen mobil BMW sudah mengumumkan akan menggunakan pabriknya di Oxford, Inggris untuk memproduksi mobil listrik mulai 2019 mendatang. Ini merupakan keputusan berani BMW di tengah risiko Brexit sekaligus menegaskan terkait potensi pasar mobil listrik di Inggris.

Menurut analis dari Bloomberg New energy Finance, Albert Cheung pada  tahun 2040 mendatang, diprediksi sekitar 79 persen mobil di Inggris adalah mobil listrik. Pasar mobil listrik juga akan semakin menggiurkan karena harga baterai yang kian menurun. 

Di Norwegia, popularitas mobil listrik semakin cemerlang. Saat ini, dengan dengan populasi yang hanya berjumlah 5,2 juta orang, Norwegia sudah memiliki 135.276 kendaraan listrik yang mengaspal di jalanan. Mereka juga memiliki stasiun pengisian terbesar di dunia yang mampu menampung 28 kendaraan secara bersama-sama dan mampu mengisi penuh hanya dalam waktu setengah jam.

Negara tersebut berambisi untuk semakin menggenjot kendaraan listrik di jalan raya Norwegia. Kendaraan listrik di Norwegia seperti Tesla model S, Nissan Leaf, Mitsubishi Outlendar PHEVs, Tesla Model X dan BMW i3 pun laris manis di negara tersebut.

Secara global penjualan kendaraan listrik terus menunjukkan peningkatan. Dari 10 ribu unit di tahun 2010 menjadi lebih dari 550 unit pada 2015. Jumlah kendaraan listrik yang melaju di ruas jalan raya pada tahun 2016 menginjak angka 2 juta kendaraan dan naik 60 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Meskipun jumlah 2 juta kendaraan listrik itu baru mencapai 0,2 persen dari kendaraan yang ada di dunia, akan tetapi, adanya isu lingkungan dapat mengubah jumlah tersebut di masa depan. Apalagi Cina dan India, yang menjadi pasar terbesar kendaraan berbahan bakar minyak kini mulai beralih ke kendaraan listrik serta keputusan beberapa negara untuk mulai beralih ke mobil listrik.

Pemerintah India memiliki ambisi untuk menjual mobil listrik dan hybrid sebanyak 6 juta hingga 7 juta unit pada tahun 2020. Sedangkan berambisi untuk mengaspalkan 5 juta mobil listrik di tahun 2020. 

“Sejauh ini Cina merupakan pasar mobil listrik terbesar, dengan 40 persen mobil listrik yang terjual di dunia dan lebih dari dua kali liat jumlah yang terjual di Amerika Serikat,” tulus IEA seperti dikutip Bloomberg. “Tidak dapat dipungkiri bahwa serapan pasar mobil listrik saat ini sangat dipengaruhi oleh kebijakan terkait lingkungan.”

Dari sisi produsen, melihat adanya perubahan minat konsumen dari mobil diesel ke mobil listrik serta penjualan mobil diesel yang menurun, produsen mobil terbesar di dunia Volkswagen berencana meluncurkan empat jenis kendaraan listrik dalam beberapa tahun ke depan.

Mercedes-Benz juga akan memperkenalkan 10 jenis kendaraan listrik terbaru untuk bersaing di pasar kendaraan listrik. Sedangkan Tesla berusaha merebut hati konsumen dengan mulai memproduksi Tesla Model 3 dan menjualnya dengan harga murah.

Sehingga tak menutup kemungkinan, di masa yang akan datang, mobil listrik akan memimpin dan mobil diesel dan berbahan minyak akan mulai dilupakan. Best Profit