PT Best Profit Futures Jambi

Tag Archives: PT Bestpro

Best Profit – Mungkinkah Alfamart dan Indomaret Menjadi Seperti 7-Eleven?

Mungkinkah Alfamart dan Indomaret Menjadi Seperti 7-Eleven?Best Profit – Gerai 7-Eleven milik PT Modern Sevel Indonesia pernah berjaya, lalu kejayaannya memudar, dan akhirnya ia lenyap dari Indonesia. Sevel masuk ke Indonesia pada tahun 2008. Setiap tahun, ada sekitar 30 sampai 60 gerai Sevel baru dibuka di Jakarta. Ini membuat jumlah gerai Sevel terus bertambah. Tahun 2011, hanya ada 50-an gerai Sevel. Tahun 2012, jumlahnya bertambah hampir dua kali lipat. Cukup agresif.

Sampai tahun 2014, jumlah gerai Sevel di Jakarta sudah mencapai 190. Pada tahun itu juga, sebanyak 40 gerai baru Sevel dibuka. Penjualan bersih pun naik 24,5 persen menjadi Rp971,7 miliar dari tahun sebelumnya yang hanya Rp778,3 miliar. Tahun itu bisa disebut sebagai puncak kejayaan Sevel.

Tahun berikutnya, penjualan Sevel menurun, demikian pula dengan jumlah gerainya. Tahun 2015 itu, total penjualan bersih Sevel turun menjadi Rp886,84 miliar. Untuk pertama kalinya Sevel melakukan penutupan gerai. Tak tanggung-tanggung, 20 sekaligus. Sementara gerai baru yang dibuka hanya 18, angka terkecil penambahan gerai sejak 2011.

Pada 22 Juni tahun ini, Direktur PT Modern Sevel Indonesia Chandra Wijaya mengumumkan penutupan seluruh gerai Sevel secara resmi. Mulai tanggal 30 Juni, tak satu pun gerai Sevel di Indonesia beroperasi.

Alfamart, juga punya pola serupa seperti 7-Eleven. Meski masih terlalu jauh, tetapi jika tak diantisipasi, ia bisa saja bernasib sama. Tahun 2011, ia hanya punya 5.797 gerai. Lima tahun kemudian, jumlah gerainya lebih dari dua kali lipat, yakni mencapai 12.366 gerai.

“Ada ketidaksesuaian ekspektasi. Harapannya, ketika menambah gerai, pendapatan tentu bertambah, tetapi yang terjadi tidak demikian,” ujar Marolop Alfred Nainggolan, Analis Koneksi Kapital.

Alfred menjelaskan bahwa yang terjadi pada Alfamart adalah ketika membangun dan membuka gerai baru, uang yang dipakai biasanya uang yang berbunga seperti pinjaman bank atau penerbitan obligasi. Ekspektasinya, dari penambahan gerai tentu akan terjadi penambahan pendapatan. Ketika kenaikan pendapatan tak signifikan, maka laba akan tergerus karena perusahaan mempunyai biaya beban bunga yang harus terus dibayarkan.

Semester I tahun ini, laba PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk tergerus dari Rp83 miliar pada periode yang sama tahun lalu menjadi hanya Rp38,8 miliar. Pendapatan pada enam bulan pertama tahun ini sebenarnya tumbuh 13,5 persen jika dibandingkan dengan tahun lalu. Laba usahanya pun tumbuh 13 persen. Namun, laba bersihnya anjlok karena besarnya biaya bunga dan obligasi.

Berdasarkan laporan keuangannya, tahun ini emiten berkode AMRT itu membayarkan utang obligasi sebesar Rp1 triliun. Pembayaran untuk utang jangka panjangnya juga meningkat dari Rp208 miliar pada semester I tahun lalu menjadi Rp244 miliar tahun ini.

“Ia menambah gerai dari uang pinjaman, lalu pendapatannya tumbuh standar, sementara beban bunga membengkak. Alhasil, labanya drop,” begitu analisis Alfred terhadap laporan keuangan Alfamart.

Analisis serupa juga berlaku bagi Indomaret. Sejak Januari hingga Juni tahun ini, PT Indoritel Makmur Internasional Tbk—pemilik merek dagang Indomaret—hanya membukukan laba bersih Rp30,5 miliar. Padahal, pada periode yang sama tahun lalu, labanya mencapai Rp105,5 miliar.

Menurutnya, jika tak menahan diri untuk terus menerus membuka gerai baru, Alfamart dan Indomaret mungkin bisa bernasib seperti 7-Eleven. “Secara teoritis, kalau mereka terus membuka gerai baru dengan pendanaan yang berbunga, bisa jadi perlahan akan berakhir sama seperti Sevel,” kata Alfred.

Dia menyarankan agar peritel modern tidak terlalu agresif. Karena ketika gerai ditambah, belum tentu pendapatan meningkat. Konsumen tidak menambah aktivitas belanjanya, mereka hanya memindahkan aktivitasnya.

Misal, ketika di ujung gang ada gerai ritel modern, masyarakat satu gang itu tentu akan berbelanja di toko ritel tersebut. Karena punya banyak pembeli, maka toko ritel itu membuka gerai baru sekitar 500 meter dari lokasinya semula. Gerai baru itu tentu tetap akan dikunjungi pembeli, tetapi mereka adalah pembeli yang sama dengan yang datang ke toko pertama. Alhasil, pendapatan sama saja atau berbeda sedikit, tetapi biaya beban karena membuka toko baru meningkat.

Mungkinkah Alfamart dan Indomaret Menjadi Seperti 7-Eleven?

Tak hanya Indomaret dan Alfamart yang melesu dan tergerus labanya. Industri ritel secara umum juga melambat. Tahun ini, Asosiasi Peritel Indonesia (Aprindo) sebenarnya menargetkan penjualan hingga Rp220 triliun atau tumbuh 10 persen dari penjualan tahun lalu. Namun, pada semester I tahun ini, industri hanya mencetak pertumbuhan 3,7 persen.

“Melihat apa yang dicapai pada semester I, saya kira target pertumbuhan 10 persen sampai akhir tahun akan sulit sekali dicapai,” ujar Roy Nicholas Mandey, Ketua Aprindo, Kamis (3/8).

Dia menilai ada perubahan perilaku konsumen dalam berbelanja di toko ritel. Kemudahan dan kemajuan zaman, kata Roy, membuat masyarakat memiliki banyak opsi dalam berbelanja. Masyarakat bisa membeli online atau lewat jasa Go-Jek. “Kalau mereka belanja dengan Go-Jek kan belum tentu itu barang dibelinya di toko ritel modern,” kata Roy.

Ketika pendapatan industri ritel lesu, perbankan malah kebanjiran dana. Jumlah dana pihak ketiga di tabungan maupun deposito pada Mei tahun ini melebihi Rp5.000 triliun. Angka tersebut tumbuh 11,18 persen dari periode yang sama tahun lalu.

Menurut data Otoritas Jasa Keuangan (OJK), uang simpanan tabungan tercatat Rp1.571 triliun, tumbuh 9,7 persen dari periode yang sama tahun lalu. Sedangkan jumlah uang di deposito tumbuh 10 persen, menjadi Rp2.222 triliun.

Bhima Yudhistira, ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) mengatakan ada dua hal yang terjadi. Pertama, masyarakat menengah ke bawah mengalami penurunan daya beli. “Dari inflasi yang rendah selama dua tahun terakhir, bisa dilihat kondisi daya beli kita,” kata Bhima.

Juli tahun lalu, inflasi inti berada di angka 0,34 persen. Sedangkan Juli tahun ini, hanya 0,26 persen. Rendahnya inflasi ini, menurut Bhima, menunjukkan permintaan secara agregat memang menurun.

Kedua, orang-orang kaya menahan konsumsinya dengan menyimpan uang di bank, baik dalam tabungan biasa maupun deposito. Orang-orang kaya ini mengantisipasi kondisi perekonomian sampai risiko politik menjelang pilpres 2019. “Bahasa sederhananya, orang kaya berjaga-jaga dari kondisi terburuk,” ujar Bhima.

Secara makro, lanjut Bhima, dua hal itu menunjukkan kondisi ekonomi yang kurang berkualitas. Serapan tenaga kerja juga turun pada semester I tahun ini, dari 680 ribu pada semester I 2016 menjadi 639 ribu. Kalau serapan tenaga kerja terus menurun, imbasnya akan ke daya beli hingga penerimaan pajak.

Bagi Alfamart dan Indomaret, ada dua persoalan yang sedang dihadapi. Selain persoalan strategi ekspansi yang dipaparkan Alfred, dua peritel ini juga dihantam penurunan daya beli seperti disebutkan Bhima. Best Profit

Bestprofit – Konsumsi Medsos Membentuk Pola Makan Generasi Z

Konsumsi Medsos Membentuk Pola Makan Generasi Z Bestprofit – Lathifah Anggraheni, 27 tahun, punya adaptasi agak lambat dengan lingkungannya sejak menjalani studi di Yogyakarta delapan tahun silam. Ia kurang dekat dengan teman sekelas atau mahasiswa baru asal Lampung lain. Ia pun tak menolak digolongkan mahasiswi kupu-kupu—alias kuliah-pulang kuliah-pulang—karena tak punya referensi tempat makan atau tongkrongan yang memadai.

Adiknya, Neti Kusumawardani, usia 20 tahun, agak berbeda. Neti ikut kuliah di Yogyakarta sejak medio 2016. Mereka tinggal bareng di rumah kontrakan dan kakaknya menyebut Neti sebagai anak yang aktif banget.

Kebiasaan yang diperhatikan sang kakak adalah betapa sering Neti pergi keluar di malam hari atau di akhir pekan untuk berburu makanan bersama teman-teman satu geng. Tak hanya ke tempat yang sama, melainkan kerap menjajal tempat baru.

Mengapa demikian? “Aku enggak pegang smartphone. Zaman enggak enak,” katanya, terbahak.

“Dulu itu sampai aku semester 4 atau 5 masih pegang HP jadul, yang cuma bisa telepon dan sms itu. Lha, adikku aja dari pertama ke Yogya udah dibeliin HP Oppo sama bapak. Dia aktif banget di sosmed,” kata Lathifah.

Sejak menggenggam ponsel pintar, konsumsi Lathifah atas media sosial kian meninggi. Begitupun referensi soal tempat makan baru yang tersebar di sejumlah titik di area Kota Yogya dan pinggiran Sleman. Ia paham kemudian jika Instagram adalah sumber utama yang dipakai adik dan teman-teman sebayanya untuk mengakses info seputar wisata kuliner di Yogya.

Lathifah digolongkan sebagai Generasi Milenial, gerombolan anak muda kelahiran pertengahan 1980-an hingga medio 1990-an. Mereka adalah kelompok paling awal yang bersentuhan era penemuan ponsel pintar dan beragam aplikasi media sosial. Jadi wajar jika ada yang sebagian langsung ikut tren, dan sebagian lain ada yang terlambat.

Neti berbeda lagi. Ia dikategorikan sebagai Generasi Z atau mereka yang lahir pada medio 1990-an hingga 2010-an. Gengsi Neti dan kawan seangkatannya terletak pada kepemilikan ponsel pintar dan kebiasaan eksis di akun medsos. Saat beranjak kuliah, ponsel pintar bukan lagi dianggap elemen yang prestisius, tetapi menariknya turut membentuk kebiasaan makan.

Berkat media sosial, pendeknya, referensi tempat makan Generasi Z tambah luas.

Pada November 2015 Nielsen menerbitkan hasil riset yang melibatkan 30.000 partisipan dari 60 negara. Di dalamnya mencangkup perbandingan gaya hidup antara Silent Generation (di atas 65 tahun), Generasi Baby Boomers (usia 50-64), Generasi X (35-49), Generasi Milenial, dan Generasi Z.

Untuk urusan mengisi perut, Generasi Milenial dan Generasi Z adalah dua golongan yang paling sering makan di luar rumah. Persentase responden Silent Generation yang makan di luar setidaknya sekali dalam seminggu (26 persen), Baby Boomers 29 persen, dan Generasi X 44 persen. Persentase Generasi Milenial dan Generasi Z mencapai 58 persen dan 46 persen.

Riset Tirto, yang melibatkan 1.201 responden (usia 7-21 tahun) di Bandung, Denpasar, Jakarta, Surabaya, Tangerang, dan Yogyakarta, menunjukkan mayoritas Generasi Z memang masih sering makan di rumah. Namun, ada alasan-alasan khusus mengapa sebagian lain memilih hal tersebut. Temuan ini sekaligus menunjukkan pola hidup Generasi Z: mereka yang tinggal bersama orangtua dan tinggal sendiri (indekos, mengontrak, dsb).

Sementara para responden di Jawa-Bali yang memilih makan di luar rumah karena tak ada yang menyiapkan makanan (24,1 persen), lebih banyak aktivitas di luar tempat tinggal (20,6 persen), atau karena tinggal sendiri (19,8 persen). Hasil serupa didapatkan dari responden di Jakarta.

Sisanya responden menjawab karena tak punya kemampuan memasak, rasa makanan di luar yang lebih enak, pilihan menu lebih variatif, mencari suasana tempat makan, atau karena lebih praktis.

Restoran cepat saji jadi salah satu tujuan mereka. Survei Tirto menunjukkan jika Kentucky Fried Chicken (KFC) jadi restoran pilihan paling disukai generasi Z.

Tak heran pemasukan KFC pada 2015 sekitar Rp4,47 triliun. Hingga semester I-2016, si Kolonel Sanders mencatat kenaikan pendapatan 11 persen dan pertumbuhan labanya mencapai 55 persen dibanding periode yang sama pada 2015.

Di urutan kedua ada McDonalds (Jawa-Bali 23,1 persen, Jakarta 25,4 persen). Tempat lain yang dikunjungi Generasi Z meliputi restoran yang sudah punya nama dan termasuk perusahaan multinasional, antara lain Burger King, Pizza Hut, HokBen, dan A&W.

Apabila dicermati, rata-rata restoran cepat saji yang dipilih Generasi Z Indonesia adalah yang menyajikan menu nasi. Nasi masih menjadi makanan pokok bagi mayoritas masyarakat Indonesia. Konsumsi beras atau nasi di Indonesia termasuk tertinggi di Asia Pasifik, menempati posisi ketiga dengan konsumsi 163 kg per kapita per tahun.

Di Amerika Serikat, menurut laporan Time, Generasi Z sudah jadi sasaran konsumen berikutnya oleh restoran-restoran dan perusahaan makanan. Merujuk data Piper Jaffray, dunia kuliner makin dilihat sebagai pilihan untuk bersenang-senang oleh generasi kekinian, alih-alih pemenuh kebutuhan lapar dan dahaga semata.

Generasi Z AS pada tahun lalu tercatat menghabiskan 20 persen lebih banyak di restoran dibanding Generasi Milenial pada 2003. Dalam laporan Nation’s Restauran News, uang yang dihabiskan Generasi Z saat ke restoran kurang lebih 78 miliar dolar AS per Februari 2016. Menurut grup NPD, Generasi Z suka pelayanan serba cepat dan efektif saat makan di luar, sebagaimana kemauan Generasi Milenial dan Generasi X.

Konsumsi Medsos Membentuk Pola Makan Generasi Z

Gen Z dan Bisnis Layanan Antar-Pesan Makanan

Hal lain yang sering dilakukan kakak-adik Lathifah Anggraheni dan Neti Kusumawardani sejak bergantung tinggi dengan ponsel adalah memesan makanan via Go-Food, layanan dari perusahaan fintech Go-Jek.

Dalam observasi Tirto, layanan beli dan antar makanan online tergolong tinggi peminat terutama dari kalangan Generasi Z yang beririsan dekat dengan usia Milenial (rata-rata sudah mandiri secara finansial). Aplikasi pemesanan dan pengantar makanan-minuman online adalah kemewahan bagi kedua generasi ini.

Moda transportasi online makin berperang penting di kota-kota besar di Indonesia. Peluang yang dilirik Go-Food sebagai fitur baru Go-Jek yang diluncurkan sejak 2015, misalnya, berasal dari sikap generasi muda kekinian yang makin malas mengangkat pantat tetapi sekaligus memiliki akses gampang ke internet maupun medsos.

Pembahasan tentang Generasi Milenial barangkali sudah overrated mengingat jumlah anak muda dalam kategori Generasi Z di tingkat global juga telah melampauinya. Di Indonesia, menurut sensus BPS 2010, jaraknya tinggal kurang lebih 10 juta. Peluang bagi pengusaha bidang kuliner pun masih terbuka lebar, asal kenal karakter Generasi Z itu seperti apa. Bestprofit.

PT Bestprofit – Nasib Sial Pemegang Polis Saat Izin Asuransi Dicabut

Nasib Sial Pemegang Polis Saat Izin Asuransi DicabutPT Bestprofit – “Halo!” suara seorang perempuan mengangkat telepon dengan suara latar agak riuh.

“Halo, apa benar ini dengan Asuransi Raya?” tanya si penelepon.

Perempuan penerima telepon bukannya menjawab malah terdiam sesaat. Setelah itu, seketika telepon ditutup. Upaya Tirto kembali menelepon berkali-kali hasilnya nihil. Percakapan sangat singkat dalam sambungan telepon ke nomor perusahaan Asuransi Raya ini menggambarkan kondisi perusahaan asuransi terkini. Sementara itu, situs resminya, www.asuransiraya.com sudah tak bisa dibuka. Akun twitternya terakhir aktif akhir tahun lalu. PT Asuransi Raya seperti perusahaan yang tidak bisa diakses lagi.

Pada 25 Juli lalu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menutup izin usaha PT Asuransi Raya karena gagal memenuhi ketentuan permodalan. Rasio solvabilitas atau risk based capital (RBC) perusahaan sampai akhir 2016 hanya 70 persen. Padahal, OJK mematok RBC minimal 120 persen dari modal bagi perusahaan asuransi. RBC adalah indikator kesehatan perusahaan asuransi, semakin besar angkanya, semakin sehat pula perusahaan asuransi tersebut.

Sebelum izin usahanya dicabut, Asuransi Raya memang sudah kesulitan membayar klaim. Berbagai peringatan telah diterima perusahaan asuransi umum itu. Dalam keputusan Dewan Komisioner OJK, disebutkan bahwa pada 13 Desember 2016, Asuransi Raya gagal membayar jaminan uang muka kepada Kantor Pusat Perbendaharaan Negara (KPPN) Jakarta VII.

Pada 30 Januari 2017, Asuransi Raya mendapat peringatan ketiga karena memperlambat proses penyelesaian klaim KMShinpo18. OJK juga sempat lebih dulu melayangkan peringatan pertama pada 11 Januari 2017 terkait dengan kegagalan Asuransi Raya memenuhi RBC minimum. Peringatan juga kembali diberikan karena perusahaan tak dipenuhinya ketentuan modal minimum. Perusahaan asuransi ini pernah mendapat peringatan yang lainnya karena tak menyampaikan rencana bisnis 2017.

Selama industri asuransi berada di bawah pengawasan OJK, setidaknya ada empat perusahaan asuransi yang sudah dicabut izinnya. Dua di antaranya telah dinyatakan pailit. Pada 2013, OJK mencabut izin usaha PT Bumi Asih Jaya dan PT Asuransi Jiwa Nusantara. Kedua perusahaan asuransi jiwa itu kini telah dinyatakan pailit. Kemudian OJK mencabut izin operasional PT Asuransi Jiwa Bakrie. Saat ini perusahaan milik Bakrie Group itu belum pailit. OJK masih menunggu iktikad baik perseroan untuk menyelesaikan pembayaran klaim kepada nasabah.

Bagaimana nasib pemegang polis ketika perusahaan asuransinya bermasalah hingga dicabut izinnya? Nasib pemegang polis asuransi umum tentu akan berbeda dengan pemegang polis asuransi jiwa. Masa pertanggungan asuransi umum biasanya cenderung lebih singkat, hanya satu tahun. Ia bisa juga lebih panjang dari itu, tetapi tak sepanjang masa pertanggungan asuransi jiwa, apalagi produk unit linkedyang melibatkan investasi.

Dari apa yang terjadi dengan para pemegang polis Bumi Asih, Bakrie Life, dan AJN, uang mereka belum kembali. Bumi Asih dan AJN bahkan sudah dinyatakan pailit dan hingga saat ini, nasabah belum menerima haknya.

Bagi pemegang polis perusahaan asuransi yang belum dinyatakan pailit, sebenarnya masih ada harapan untuk menerima pembayaran yang ditunggu nasabah atau pemegang polis. Terlebih jika perusahaan asuransinya memiliki iktikad baik untuk menyelesaikan kewajiban dan memenuhi ketentuan OJK agar izin usahanya kembali diberikan.

Ketika pailit pun, pemegang polis masih bisa mendapatkan haknya. Namun memang sulit. Dalam banyak kasus pailit, aset debitur seringkali tak cukup untuk membayar seluruh utang kepada para kreditur atau nasabah.

Misalnya, sampai akhir 2012, aset Bumi Asih tercatat hanya Rp522 miliar padahal utang klaimnya saja lebih dari Rp3 triliun. Dari sini sudah tampak jelas bahwa kalaupun seluruh aset berhasil dijual oleh tim kurator, nilainya tak akan mampu membayar seluruh nilai tanggungan aktif klaim para pemegang polis.

Nasib Sial Pemegang Polis Saat Izin Asuransi Dicabut

Untuk kasus Asuransi Raya, Direktur Eksekutif Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Julian Noor mengharapkan pihak Asuransi Raya segera mengalihkan portofolio para pemegang polis aktif ke perusahaan lain. Namun, jika pihak asuransi tak menjalankan ini, ia menyarankan para pemegang polis untuk segera membeli polis baru.

Menurutnya, hal itu lebih untuk menjamin risiko daripada berharap pada perusahaan asuransi yang sudah dicabut izinnya. “Karena kalau tidak, dan tiba-tiba di masa transisi itu terjadi klaim, maka pemegang polis akan rugi dan lebih direpotkan,” kata Julian.

Bagi pemegang polis yang sudah mengajukan klaim, sambung Julian, mau tak mau harus menunggu iktikad baik atau menunggu perusahaan itu dinyatakan pailit.

Dari kacamata asosiasi, banyaknya perusahaan asuransi yang dicabut izinnya sebenarnya hal yang merugikan industri asuransi. Julian mengatakan selama ini industri asuransi susah mencari dan meyakinkan masyarakat bahwa asuransi itu penting dan dibutuhkan.

Kenyataan bahwa ada asuransi yang bangkrut dan merugikan nasabah akan menggerus kepercayaan konsumen terhadap industri asuransi secara keseluruhan. Dan kondisi semacam ini menjadi bukti nyata bahwa seperti perbankan yang memiliki Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), industri asuransi juga membutuhkan Lembaga Penjamin Polis.

Undang-undang tentang Perasuransian yang baru direvisi pada 2014 lalu sebenarnya sudah mengamanatkan pembentukan lembaga penjamin polis itu. Pasal 53 ayat 1 UU No. 40/2014 itu berbunyi, “Perusahaan asuransi dan perusahaan asuransi syariah wajib menjadi peserta program penjaminan polis.”

Akan tetapi, UU menyatakan bahwa penyelenggaraan program penjaminan polis ini akan diatur dalam undang-undang yang baru. Pengesahan UU yang baru itu harus dilakukan paling lama tiga tahun sejak UU Perasuransian diundangkan.

Itu artinya, paling lama tahun ini, UU yang mengatur penjaminan polis harus sudah ada. OJK dan DPR punya waktu hanya sekitar lima bulan lagi untuk menyelesaikan UU baru itu. Para pemegang polis di perusahaan asuransi yang bermasalah tentu tak ada perlindungan dan dirugikan. PT Bestprofit.

Best Profit – Ramai-Ramai Meninggalkan Mobil Bensin

Ramai-Ramai Meninggalkan Mobil BensinBest Profit –  Inggris baru saja mengumumkan akan melarang penjualan kendaraan berbahan bakar bensin dan diesel mulai pada 2040. Langkah itu diambil oleh pemerintah Inggris guna mengurangi emisi dengan target pengurangan hingga 80 persen di tahun 2050.

Upaya inggris ini bukan tanpa alasan. Menurut laporan dari Vehicle Certification Agency Inggris, setiap tahunnya ada 29 ribu kematian karena polusi partikel halus yang disebabkan oleh particulate matter (PM) dari kendaraan bermotor terutama yang berbahan bakar minyak. 

PM sangat berbahaya karena dapat menyebabkan permasalahan pada pernafasan dan kardiovaskular. Selain PM ada juga CO atau karbon monoksida yang dapat memengaruhi aliran oksigen dalam darah sehingga dapat mengurangi ketersediaan oksigen dalam tubuh. Selain itu, gas berbahaya dari kendaraan bermotor juga ada hidrokarbon yang menyerang sistem pernapasan manusia.

Bahaya dari gas-gas ini menjadi salah satu faktor pendorong pemerintah Inggris untuk segera mengurangi jumlah kendaraan bermotor berbahan bakar minyak. Di sisi lain, pemerintah Inggris juga mendapat desakan dari para pegiat lingkungan untuk segera mencari solusi soal polusi dari kendaraan bermotor.

Laporan Environmental Protection UK menyebutkan, kendaraan di jalan raya Inggris adalah penyumbang 20 persen total emisi CO2 yang disebut sebagai penyebab utama dari perubahan iklim.

Tak hanya Inggris, larangan penjualan kendaraan berbahan bakar minyak juga dilakukan oleh Norwegia. Negara Skandinavia ini hanya akan menjual mobil-mobil listrik, hidrogen atau plug-in hybrid pada tahun 2025. Sejak 1990an, Norwegia sudah fokus dalam menanggulangi soal polusi, kemacetan dan kebisingan dari kendaraan bermotor. 

Perancis juga melakukan hal yang sama. Pemerintah Perancis mengumumkan akan mengakhiri penjualan kendaraan bermotor yang berbahan bakar bensin dan solar di tahun 2040. Sementara Belanda berencana menetapkan larangan penjualan kendaraan berbahan bakar bensin dan diesel pada 2025.

Di Asia, ada India yang hanya akan memperbolehkan penjualan mobil listrik di tahun 2030. Ini adalah salah satu langkah India untuk mengurangi polusi udara. Menurut laporan LSM lingkungan Greenpeace, polusi udara di India telah menyebabkan setidaknya 1,2 juta orang meninggal setiap tahun.Langkan pencegahan pun diambil salah satunya dengan mulai beralih ke mobil listrik.

Ramai-Ramai Meninggalkan Mobil Bensin

Era Mobil Listrik

Larangan penjualan kendaraan berbahan bakar minyak sudah pasti akan membuat negara-negara tersebut diserbu mobil listrik. Para produsen pun sudah mulai mengendus pangsa pasar yang cukup besar, sehingga ancang-ancang menggenjot produksi. 

Di Inggris, produsen mobil BMW sudah mengumumkan akan menggunakan pabriknya di Oxford, Inggris untuk memproduksi mobil listrik mulai 2019 mendatang. Ini merupakan keputusan berani BMW di tengah risiko Brexit sekaligus menegaskan terkait potensi pasar mobil listrik di Inggris.

Menurut analis dari Bloomberg New energy Finance, Albert Cheung pada  tahun 2040 mendatang, diprediksi sekitar 79 persen mobil di Inggris adalah mobil listrik. Pasar mobil listrik juga akan semakin menggiurkan karena harga baterai yang kian menurun. 

Di Norwegia, popularitas mobil listrik semakin cemerlang. Saat ini, dengan dengan populasi yang hanya berjumlah 5,2 juta orang, Norwegia sudah memiliki 135.276 kendaraan listrik yang mengaspal di jalanan. Mereka juga memiliki stasiun pengisian terbesar di dunia yang mampu menampung 28 kendaraan secara bersama-sama dan mampu mengisi penuh hanya dalam waktu setengah jam.

Negara tersebut berambisi untuk semakin menggenjot kendaraan listrik di jalan raya Norwegia. Kendaraan listrik di Norwegia seperti Tesla model S, Nissan Leaf, Mitsubishi Outlendar PHEVs, Tesla Model X dan BMW i3 pun laris manis di negara tersebut.

Secara global penjualan kendaraan listrik terus menunjukkan peningkatan. Dari 10 ribu unit di tahun 2010 menjadi lebih dari 550 unit pada 2015. Jumlah kendaraan listrik yang melaju di ruas jalan raya pada tahun 2016 menginjak angka 2 juta kendaraan dan naik 60 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Meskipun jumlah 2 juta kendaraan listrik itu baru mencapai 0,2 persen dari kendaraan yang ada di dunia, akan tetapi, adanya isu lingkungan dapat mengubah jumlah tersebut di masa depan. Apalagi Cina dan India, yang menjadi pasar terbesar kendaraan berbahan bakar minyak kini mulai beralih ke kendaraan listrik serta keputusan beberapa negara untuk mulai beralih ke mobil listrik.

Pemerintah India memiliki ambisi untuk menjual mobil listrik dan hybrid sebanyak 6 juta hingga 7 juta unit pada tahun 2020. Sedangkan berambisi untuk mengaspalkan 5 juta mobil listrik di tahun 2020. 

“Sejauh ini Cina merupakan pasar mobil listrik terbesar, dengan 40 persen mobil listrik yang terjual di dunia dan lebih dari dua kali liat jumlah yang terjual di Amerika Serikat,” tulus IEA seperti dikutip Bloomberg. “Tidak dapat dipungkiri bahwa serapan pasar mobil listrik saat ini sangat dipengaruhi oleh kebijakan terkait lingkungan.”

Dari sisi produsen, melihat adanya perubahan minat konsumen dari mobil diesel ke mobil listrik serta penjualan mobil diesel yang menurun, produsen mobil terbesar di dunia Volkswagen berencana meluncurkan empat jenis kendaraan listrik dalam beberapa tahun ke depan.

Mercedes-Benz juga akan memperkenalkan 10 jenis kendaraan listrik terbaru untuk bersaing di pasar kendaraan listrik. Sedangkan Tesla berusaha merebut hati konsumen dengan mulai memproduksi Tesla Model 3 dan menjualnya dengan harga murah.

Sehingga tak menutup kemungkinan, di masa yang akan datang, mobil listrik akan memimpin dan mobil diesel dan berbahan minyak akan mulai dilupakan. Best Profit