PT Best Profit Futures Jambi

Tag Archives: PT BPF

Bestprofit – Ambisi Jokowi di Balik Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung

Ambisi Jokowi di Balik Proyek Kereta Cepat Jakarta-BandungBestprofit – Satu siang, pertengahan Juli lalu, Jaja dan rekan-rekannya bergegas turun kembali ke parit. Ayunan tiga cangkul dan dua kantong goni membuka kegiatan mereka yang sudah dua pekan membuat parit.

Mereka mengenakan seragam oranye plus helm dan sepatu bot. Di dada kanan seragam tertulis HSRCC, kependekan dari High Speed Railway Contractor Consortium, gabungan 7 kontraktor yang mengerjakan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung sepanjang 142,3 kilometer bersama PT Kereta Cepat Indonesia China (KCIC) sebagai pengembang proyek.

Perusahaan-perusahaan itu sudah menekan kontrak senilai 4,7 miliar dolar AS pada April 2017 lalu untuk pengerjaan rekayasa, pengadaan, dan konstruksi. Perusahaan negara PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) adalah satu dari ke-7 kontraktor tersebut. Enam perusahaan lain dari Tiongkok: China Railway International, China Railway Group Ltd., Sinohydro Corporation Ltd, CRRC Qingdao Sifang Co. Ltd, China Railway Signal & Communication Corporation Co. Ltd, dan The Third Railway Survey Design Institute Group Corporation.

Dalam proyek tersebut, WIKA menggenggam porsi 30 persen dari nilai kontrak Kereta Cepat Jakarta-Bandung. Sisanya dibiayai oleh ke-6 perusahaan Cina tersebut. Mayoritas pembiayaan proyek akan dikucurkan lewat pinjaman dari Bank Pembangunan China (CDB), sementara empat perusahaan pelat merah lain dilibatkan buat menyediakan pembebasan lahan proyek.

Keempatnya—tergabung dalam konsorsium PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI)—terdiri PT WIKA, PT Kereta Api Indonesia, PT Perkebunan Nusantara VIII, dan PT Jasa Marga. Pembagian semula proyek ini: PT PSBI memiliki saham 60 persen dan China Railway Corporation memiliki saham 40 persen di PT KCIC.

Sampai kini proyek yang ditaksir semula menghabiskan duit 5,1 miliar dolar AS atau setara Rp70 triliun ini tidak jelas, molor, perhitungan biayanya membengkak, dan problem pelik lain seperti proses pembebasan lahan yang mandek.

Di lapangan, reporter Tirto mendatangi lokasi yang sedang dikerjakan Jaja dan rekan buruh lain. Mereka adalah sekrup kecil dari megaproyek tersebut, yang lebih menampakkan ambisi Presiden Joko Widodoketimbang hitungan cermat pemerintahannya yang getol menggenjot sejumlah proyek infrastruktur.

Jalur yang tengah dikerjakan Jaja dan rekan-rekannya berada di Desa Mandalasari, Bandung Barat. Desa ini pernah disambangi Jokowi pada 21 Januari 2016 dalam acara groundbreaking. Ia terletak di lokasi Perkebunan Walini yang disiapkan sebagai transit oriented development (TOD) kereta cepat seluas 2.800 hektare milik PTPN VIII.

“Di sini untuk stasiunnya, tetapi enggak tahu titiknya yang mana. Dengar-dengar juga harus selesai 2019. Ini sudah 2017. Enggak tahu nanti jadi enggak,” ucap salah satu rekan Jaja.

Di bagian lain, tampak tiga ekskavator, satu buldoser, satu loader, dan satu pemadat tanah. Namun tak semua alat berat itu dipakai. Usut punya usut, aktivitas ala kadar di tengah belantara hutan karet ini belum berjalan rutin. Beberapa kali kegiatan lapangan dihentikan dan alat berat dipindahkan.

Di sisi timur, berjarak belasan kilometer dari lokasi peletakan batu pertama proyek, ada lokasi batching plant kereta cepat seluas 3 ha di Kampung Cigentur. Lokasinya di pinggir Jalan Cikalongwetan, sekitar 200 meter dari Kantor Desa Mandalasari.

Dari pantauan kami, pertengahan Juli lalu, belum ada aktivitas kegiatan konstruksi yang penting sama sekali selain tumpukan material pasir dan batu di lokasi tersebut.

“Sekarang ada alat berat di TOD, ada sekitar 5 alat berat. Itu baru berjalan satu-dua bulan. Sebelumnya putus hingga empat bulan ke belakang sehingga pekerjaan berhenti,” kata Adey, kepala desa setempat, kepada kami.

Sembari tertawa, Adey hanya menduga-duga bahwa “mungkin uang belum cair” sehingga proyek berjalan putus-sambung. Itu juga yang bikin macet proses jual-beli lahan proyek seluas 4 hektare di desanya.

Setidaknya ada dua warga dari Kampung Cikuda yang belum sepakat soal biaya ganti rugi yang diberikan oleh PT Kereta Cepat Indonesia China. Begitu pula di Desa Cikalong, Desa Rende, dan Desa Puteran. Desa-desa ini berada di Kecamatan Cikalongwetan.

Mereka termasuk dari 17 desa di antara 4 kecamatan di Kabupaten Bandung Barat yang akan dilintasi oleh trase atau sumbu jalan kereta cepat Jakarta-Bandung.

Konsorsium BUMN Kewalahan Menalangi Proyek

Perkara pembebasan lahan yang macet adalah imbas dari pembiayaan proyek yang terhambat: dana pinjaman dari Bank Pembangunan China dan duit patungan dari konsorsium PT Pilar Sinergi BUMN Indonesia (PSBI).

Empat perusahaan negara di PT PSBI terseok-seok untuk menyetor dana. Keempatnya kesulitan memenuhi tambahan biaya buat membebaskan lahan, salah satunya PT KAI.

Menurut direktur keuangan Didiek Hartantyo, PT KAI—perusahaan negara yang berumur 71 tahun tersebut—belum mampu menyetor modal tahap kedua karena menunggu pendapatan dan pengerahan aset.

PT KAI telah menggelontorkan Rp478 miliar pada tahap pertama ke PT PSBI. Dana ini berasal dari pinjaman internal anak perusahaan. Pada awal pembentukan KCIC tahun 2015, empat perusahaan pelat merah dalam konsorsium kewalahan menyetor dana tunai patungan.

Pasalnya, dalam rencana bisnis megaproyek ini, mereka semula tidak memakai dana tunai. PT KAI, PT Jasa Marga, dan PTPN VIII memakai aset lahan sebagai lintasan kereta cepat.

Namun, karena ada perubahan sumbu jalan kereta cepat—semula dari Stasiun Gambir ke Stasiun Bandung diubah jadi Stasiun Halim Perdanakusuma ke Stasiun Bandung—nilai aset dalam penyertaan modal semakin kecil.

Karena perubahan itu, ujar Didiek, “Aset yang digunakan berkurang sehingga kita optimalkan dari aset Manggarai.”

PTPN VIII juga punya kesulitan modal tunai. Karena hal inilah akhirnya hanya PT KAI, PT WIKA, dan PT Jasa Marga yang menyetor modal tunai tambahan. Sebagai gantinya, PTPN VIII merelakan seluruh aset tanah di Walini sebagai bagian penyertaan modal. Kawasan Walini dikenal punya lanskap indah serta dalam perencanaan proyek kota baru oleh pemerintah Bandung Barat.

Pelbagai masalah ini memunculkan pertanyaan besar kepada PT KCIC sebagai pengembang megaproyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung.

Direktur Utama PT KCIC Hanggoro Budi Wiryawan irit bicara saat dikonfirmasi reporter Tirto, “Saya belum kasih rilis, saya harus menghormati perintah atasan.”

“Nanti pada saatnya saya akan sampaikan begitu kondisi sudah lebih kondusif. Tahun lalu juga begitu, jadi saya tidak perlu klarifikasi,” lanjut Hanggoro saat ditemui di lantai lima Gedung WIKA, beberapa waktu lalu.

Sementara Komisaris PT KCIC Sahala Lumban Gaol menyatakan “tidak ada hambatan” yang penting pada proyek tersebut. “Semua sesuai rencana,” klaim Sahala saat ditemui di lobi Kementerian BUMN.

Apa yang disampaikan oleh Sahala menafikan kondisi di lapangan sejak omong-omong proyek ini tercetus pada 2015 dan peletakan batu pertama proyek oleh Jokowi pada awal tahun 2016.

Baru-baru ini Presiden Jokowi menghendaki perubahan komposisi saham Cina di proyek tersebut. Perusahaan Tiongkok diharapkan meningkatkan komposisi saham hingga 90 persen, sementara BUMN hanya 10 persen. Langkah Jokowi ini lebih terlihat biar proyek kereta cepat tidak mangkrak berlarut-larut.

Di sisi lain, Menteri BUMN Rini Soemarno—yang diberi tugas untuk mengevaluasi pembiayaan proyek bersama Menteri Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Panjaitan—masih “optimistis” soal pencairan dana pinjaman dari China.

Dalam satu pernyataan di Istana Negara beberapa lalu, Soemarno mengatakan pembebasan lahan proyek kereta cepat baru 55 persen, tapi dengan capaian sebanyak itu, pinjaman tahap pertama sebesar 1 miliar dolar AS dari Bank Pembangunan China sudah bisa dicairkan.

“Jadi target kita untuk penarikan, kita harapkan bisa dilakukan di akhir minggu pertama bulan Agustus,” kata Rini.

Ambisi Jokowi di Balik Proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung

Tangan Jokowi di Kereta Cepat

Persoalan pinjaman memang jadi pelik dan berisiko gagal. Semula pemerintah tak mau ikut campur soal pembiayaan proyek. Namun, belakangan, Presiden Jokowi mengeluarkan beberapa regulasi yang bisa memberi ruang bagi pemerintah terlibat dalam proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung.

Regulasi itu termasuk Peraturan Presiden No. 3/2016 tentang proyek strategis nasional dan Perpres No. 107/2015 tentang proyek kereta cepat Jakarta-Bandung.

Kereta Cepat Jakarta-Bandung masuk di urutan 60 dari 225 proyek strategis nasional. Artinya, pembangunan kereta cepat memang sangat mungkin mendapat jaminan dan anggaran dari pemerintah. Padahal, di sisi lain, Perpres 2015 menegaskan proyek tersebut tak memakai APBN atau dana jaminan pemerintah.

“Dalam proyek strategis nasional (ada proyek kereta cepat) itu udah enggak benar. Ada upaya colongan. Diam-diam memasukkan kereta cepat dalam daftar proyek strategis nasional,” kata Azas Tigor Nainggolan yang konsen pada isu transportasi.

Usai ada peraturan soal proyek yang dinilai “strategis” dalam skala nasional, di hari yang sama, 8 Januari 2016, Jokowi menginstruksikan kepada kejaksaan agung, menteri, kepolisian, dan pejabat lain untuk “mengambil langkah agar proyek strategis nasional berjalan dengan cepat.” Artinya, ada keistimewaan bagi proyek tersebut termasuk Kereta Cepat Jakarta-Bandung.

Kepala Staf Kepresidenan Teten Masduki pernah menyatakan khusus proyek kereta cepat Jakarta-Bandung tak akan memakai anggaran negara dan jaminan pemerintah, sebagaimana disebutkan lewat Perpres 107/2015.

Namun, dalih macam itu bisa dipatahkan karena Indonesia juga punya peraturan pemerintah—notabene lebih tinggi kedudukan hukumnya ketimbang Perpres—mengenai badan usaha milik negera. Dalam PP No. 45/2005 ada pasal yang menyebut pemerintah bisa menugaskan BUMN untuk memberi ganti rugi atas semua biaya jika secara keuangan tidak menguntungkan.

“Lebih tinggi PP daripada Perpres. Masa enggak terbalik cara berpikirnya,” tegas Tigor.

Selain itu, Jokowi juga telah mengelurkan perubahan aturan atas Perpres No. 58/2017, isinya termasuk menambahkan sejumlah proyek infrastruktur baru, dan menetapkan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung di urutan ke-82 dari 248 proyek strategis nasional.

Perpres itu mengatur, salah satunya, proyek strategis nasional—yang bersumber dari anggaran pemerintah maupun nonpemerintah—harus dipercepat pelaksanaannya. Ia juga menegaskan bahwa Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) bisa ditunjuk sebagai koordinator untuk mengusulkan perubahan proyek strategis nasional yang bersumber dari non pembiayaan negara.

Lagak tergesa-gesa demi mengamankan proyek Kereta Cepat Jakarta-Bandung oleh Jokowi ini mengesankan cara pemerintahan sekarang yang ingin serba cepat tetapi luput perhitungan yang riil.

Itu dikemukakan oleh Djoko Setijowarno, akademisi teknik sipil dari Unika Soegijapranata, yang pernah menjadi pengurus Masyarakat Transportasi Indonesia. Keterlibatan negara luar, dalam hal ini perusahaan negara Cina semakin besar justru ketika proyek macam ini diklaim pemerintah punya nilai “strategis” secara nasional.

“Saya sudah beri masukan sejak awal. Harusnya kita siap dulu,” kata Setijowarno, “Jadi jangan membikin groundbreaking dahulu sementara tidak jelas perjanjiannya.”

“Akhirnya, kan, seperti ini … Sudah salah langkah. Yang rugi kita sendiri … Kita sudah keluarkan duit sementara yang janji (perusahaan negara Cina), satu Yuan pun belum keluar.” Bestprofit.

Bestprofit – Main Tinder Saat Kamu Punya Pasangan: Selingkuh atau Bukan?

Main Tinder Saat Kamu Punya Pasangan: Selingkuh atau Bukan?Bestprofit – Arif, 28 tahun, belum lama ini berpacaran dengan Hesti yang ditemuinya dari aplikasi kencan Tinder. Ia lantas memulai perbincangan pada Maret 2016 setelah melihat profil Hesti yang dianggapnya menarik. Itu berlanjut ke percakapan yang lebih intens di WhatsApp.

Sekilas tidak ada yang ganjil dengan relasi yang Arif jalin dengan pacarnya saat ini, kecuali satu: Saat berkenalan dan kian dekat dengan Hesti, Arif tengah pacaran dengan Fia selama lebih dari tiga tahun.

Pada tahun kedua, Arif dan Fia sempat berhubungan jarak jauh lantaran Fia melanjutkan sekolah ke Amerika Serikat. Ketika itu, Arif maupun Fia mengaku memasang Tinder di ponsel mereka. Sejoli ini menyatakan bermain Tinder atas dasar mencari kesenangan semata, tanpa ada niatan untuk menceritakan lebih detail mengenai orang-orang yang ditemui di sana. Hingga Fia kembali ke Jakarta, ia dan Arif masih aktif menggunakan aplikasi ini dan tetap menjalankan hubungan layaknya pasangan lain.

Waktu berjalan dan Arif merasakan relasi yang terjalin dengan Hesti dari kencan online tak sekadar teman berbincang. Beberapa pertemuan langsung serta komunikasi yang terus dijaga tak pelak menumbuhkan ikatan emosional di antara keduanya. Dengan jujur, Arif menceritakan kepada Hesti soal hubungannya dengan Fia yang saat itu belum berakhir dan Hesti menerimanya tanpa banyak berharap.

Barulah, pada Maret 2017, Arif dan Fia sepakat menyudahi relasi romantis mereka—bukan dengan alasan Arif tertarik kepada perempuan lain—dan Arif memutuskan berpacaran dengan Hesti. Meski demikian, hingga kini Arif tetap mengaktifkan Tinder dan berinteraksi dengan perempuan-perempuan lain.

Pengalaman bermain Tinder saat masih berpacaran juga dialami oleh Chacha (32) dan Kika (25). Lantaran lingkaran pertemanan Chacha jamak menggunakan Tinder, ia pun tertarik menjajal aplikasi tersebut.

“Mulanya sih gue nganggap mainan Tinder itu lame banget. Tapi setelah gue coba, ternyata menarik juga karena gue bisa ketemu banyak orang di luar lingkaran gue,” kata Chacha. Saat memasang Tinder, Chacha masih berpacaran dengan seseorang dan sama seperti relasi Arif-Fia, pacar Chacha pun mengetahui hal ini.

Chacha tak menganggap bermain Tinder sebagai upaya berselingkuh lantaran ia tetap mengutamakan hubungannya dengan sang pacar. Kalaupun kontak fisik atau aktivitas seksual dilibatkan setelah bertemu dengan orang-orang di Tinder, Chacha cenderung lebih permisif terhadap hal ini.

“Bagi gue, selingkuh itu ada dua: selingkuh fisik sama selingkuh perasaan. Selingkuh fisik lebih bisa gue terima dan maafkan daripada selingkuh hati. Soalnya, gue melihat wajar kalau orang punya lust dan berkeinginan untuk berhubungan seks dengan orang di luar pasangannya,” ungkap perempuan yang bekerja di media ini.

Setali tiga uang dengan Chacha, Kika juga sempat mengaktifkan aplikasi kencan lain seperti OKCupid saat ia masih berpacaran. Bedanya, pacarnya tidak mengetahui aktivitas aplikasi kencan Kika. Ia mengatakan kerap mencari teman kencan di OKCupid lantaran mudah merasa bosan.

“Gue merasa enggak bisa monogami, tapi gue susah menemukan pasangan yang bisa open relationship dan cocok sama gue. Selain itu, gue juga tipe orang yang memisahkan love sama lust,” ungkapnya.

Kika juga menyatakan tetap bersama pasangannya sekarang, tetapi ia pun tak memungkiri ada kebutuhan biologis yang sulit terpenuhi oleh hanya satu orang. Dengan bantuan OKCupid, ia bisa bertemu orang-orang baru dengan segmentasi tertentu dan memiliki irisan kesukaan yang sama.

Kika juga pernah terlibat hubungan dengan Barry yang mengaku menjalani open marriage di profil OKCupid-nya. Ini sempat membuatnya merasa bersalah sekalipun ia berkata sangat nyaman berelasi dengan Barry.

Baginya, bila masih di level pacaran, ia masih bisa berkompromi dengan batasan etis yang diamini orang-orang. Lain cerita bila status pasangan adalah suami perempuan lain. Perasaan rikuh kian menebal saat Kika datang ke rumah Barry saat istri Barry tak di sana. Singkat cerita, Kika menuntaskan relasinya dengan Barry.

Ketika ditanya apakah melakukan online dating termasuk berselingkuh, Kika menjawab, “Sebenarnya yang gue lakuin ini tergolong cheating, sih. Tapi, kalaupun ternyata pacar gue melakukan hal kayak gue, ketemu dan hookup sama orang lain, gue enggak begitu mempermasalahkan. Akan jadi masalah kalau udah melibatkan ikatan emosional.”

Lain lagi dengan pengalaman Putri (28) dan Satya (32). Mereka mengaku bertemu di OKCupid pada Maret silam dan mulai berkomunikasi secara intens, baik melalui aplikasi pesan Line maupun pertemuan-pertemuan langsung. Empat bulan kemudian, mereka kian intim dan tanpa perlu pernyataan lugas mereka menjalin hubungan romantis.

Berbeda dari kebanyakan relasi romantis lain, Putri dan Satya membebaskan satu sama lain untuk tetap menjalin hubungan dengan orang-orang lain alias memilih poliamori. Keduanya tetap mengaktifkan aplikasi kencan dan bersepakat untuk tidak mengamini batasan selingkuh yang banyak dipegang orang-orang: kontak fisik dan keterlibatan emosional.

Ketika saya menanyai alasan Satya memilih poliamori, ia menjawab, “Karena saya senang melihat pasangan saya senang bersama orang lain. Saya percaya, saya punya kapasitas menyayangi cukup besar sehingga saya bisa membagikan ke lebih dari satu orang. Dulu, saya sempat monogami dan merasa segala yang saya punya terserap hanya oleh satu orang. Sementara, saya senang membantu dan memberi kepada banyak orang.”

Satya menambahkan bahwa ia ingin menghindari “kesalahan” hanya berfokus kepada satu orang, dan karena itulah ia memilih jalan poliamori.

Sementara Putri mengatakan memilih poliamori lantaran ia sadar kebutuhan kontak fisik sulit terpenuhi hanya lewat satu laki-laki. Pengalaman berelasi lebih dari tiga tahun dengan beberapa pasangan sebelumnya membuat Putri paham, cepat atau lambat, ia akan terlumat rasa jenuh.

Tidak hanya itu, Putri merasa ia bisa jatuh hati bukan kepada satu orang atau satu persona saja. Serangkaian momen pun bisa membuatnya begitu intim dan tertarik kepada orang lain di luar pasangannya.

Menyadari hal-hal ini, Satya dan Putri tidak keberatan jika suatu hari melihat pasangannya mesra dengan orang lain yang ditemui, baik dari aplikasi kencan ataupun lingkaran pergaulan. Bahkan, bukan hal yang tabu bagi mereka untuk berkumpul bersama perempuan dan laki-laki lain yang tengah intim dengan mereka.

Main Tinder Saat Kamu Punya Pasangan: Selingkuh atau Bukan?

Omong perselingkuhan acapkali mendatangkan beragam tafsir. Beragam konteks—dari budaya, agama, hingga teknologi seperti aplikasi kencan—memengaruhi pemaknaan kita atas selingkuh. Hasil survei dari lembaga riset pasar asal Inggris YouGov menyebut 67% perempuan dan 43% laki-laki berpikir melakukan online dating lewat Tinder atau Match.com tergolong selingkuh.

Dalam Love Online: Emotions on the Internet (2004), Aaron Ben-Ze’ev memaparkan kemunculan aplikasi atau situs kencan online menggeser perilaku berelasi romantis seseorang dan bagaimana selingkuh dimaknai ulang.

Bagi sebagian masyarakat konservatif, aktivitas seksual atau kontak fisik seseorang dengan orang yang bukan pasangannya adalah perselingkuhan. Sekadar jalan atau menghabiskan waktu berduaan dengan yang bukan pasangan pun bisa dibilang oleh sebagian pihak sebagai tindakan serong. Bahkan, ada yang menganggap menonton porno dan bermasturbasi saat seseorang memiliki pasangan tergolong selingkuh. Lantas, bagaimana berinteraksi di ranah online dating?

Ada sejumlah argumen yang Ben-Ze’ev kutip dalam tulisannya. Secara khusus, ia membahas mengenai percakapan yang berkonten seksual pada aktivitas online dating dan cybersex. Tidak sedikit orang yang menggunakan aplikasi kencan untuk membicarakan hal-hal terkait seks, tetapi menurut Ben-Ze’ev, tidak semua percakapan tentangnya setara dengan seks itu sendiri. Bisa saja perbincangan mengarah pada aspek psikologis, bahkan filosofis, tentang seksualitas.

Bagi beberapa orang, percakapan atau aktivitas seksual dengan perempuan atau laki-laki lain selama masih berstatus sebagai pasangan seseorang, bukanlah tindakan selingkuh asalkan memenuhi satu syarat: diketahui dan diterima oleh pasangannya.

Ini jamak ditemukan pada konteks open relationship, open marriage, atau poliamori. Tidak boleh ada pihak yang merasa ditipu karena pasangannya menjalin relasi intim dengan orang lain. Pandangan semacam ini masih kalah populer di mata masyarakat lantaran, dari masa ke masa, monogami dinilai sebagai kebenaran tunggal dengan segala macam pertimbangan moral, ekonomi, legal, kesehatan, dan lain sebagainya.

Sejumlah orang lain, tambah Ben-Ze’ev, melanjutkan interaksinya di aplikasi kencan ke aktivitas seksual virtual alias cybersex. Ini kerap dilakukan lantaran lebih rendah risiko ketahuannya dan beban moralnya tak seberat di dunia nyata. Alasan lain, seperti diungkapkan oleh Ceilidhe Wynn, matchmaker asal Ottawa, Kanada: Anonimitas lebih tinggi di dunia online dating telah membuat mereka merasa leluasa mengekspresikan diri dan menyalurkan hasratnya kepada orang-orang asing.

Bila interaksi sudah dirasa menyebalkan, mereka bisa menghentikannya sewaktu-waktu tanpa perlu merasa rikuh atau khawatir akan bertemu dengan si lawan bicara di kehidupan nyata. Alih-alih menganggap perbincangan di aplikasi kencan sebagai aksi selingkuh, banyak orang memandangnya sebagai sarana yang membantu memperbaiki relasinya dengan pasangan di kehidupan nyata.

Logika yang mendasarinya: ada kala kejenuhan menghampiri hubungan. Dengan bertemu orang baru, tanpa melulu harus berhubungan badan, mereka bisa menemukan kembali relasi bergairah dengan pasangan.

Tentu saja argumen ini bukan tanpa bantahan. Ben-Ze’ev mencatat tentang pengalaman perempuan yang menilai suaminya sudah jenuh berhubungan lantaran telah banyak menghabiskan waktu dengan pasangan cybersex. Saat kepentingan pasangan di dunia nyata dikesampingkan, intimasi mulai tergerus, dan perhatian justru diarahkan ke satu orang yang sama, alih-alih ke beberapa orang, di dunia dating online, saat itulah seseorang menganggap pasangannya selingkuh.

Bincang-Bincang di Aplikasi Kencan Selalu Berintensi Seksual?

Meski kerap diasosiasikan dengan kepentingan seksual, ada orang-orang yang memanfaatkan aplikasi kencan hanya untuk menambah teman, wawasan, bahkan mendapat kesempatan kerja dari orang-orang yang ditemuinya.

Kika berkata, meski kerapkali menemukan teman mesra dari aplikasi kencan, tujuannya memakai Tinder maupun OKCupid tak melulu untuk kebutuhan seksual. Ia lebih senang saat bertemu orang-orang yang bisa diajak berbincang seputar hal-hal yang ia geluti atau isu sosial-politik yang jadi topik kegemarannya.

“Bagi gue, Barry itu mentor yang menyenangkan. Gue juga dapat banyak insight dari orang-orang yang sempat gue temui di OKCupid. Pemenuhan intelektual itu yang menurut gue lebih menarik sih dari pengalaman berinteraksi di aplikasi kencan,” katanya.

Pengalaman Kika merefleksikan satu hal. Sulit sekali menemukan laki-laki atau perempuan yang ibarat “paket lengkap”: memenuhi semua gagasan ideal pasangan, punya kecenderungan yang persis sama, atau selalu bisa menawarkan hal baru.

Pasti ada pertimbangan tertentu mengapa ia memutuskan untuk berpacaran dengan hanya satu orang. Kendati demikian, penggunaan aplikasi kencan seperti yang dilakukan Kika membuktikan bahwa intensi memenuhi beberapa kebutuhan—seperti aktualisasi diri atau intelektualitas—bukanlah cuma angan kosong. Bestprofit, PT bestprofit.

PT Bestprofit – Perlawanan Perusahaan Teknologi Terhadap Propaganda ISIS

Perlawanan Perusahaan Teknologi Terhadap Propaganda ISISPT Bestprofit – Kelompok teroris seperti ISIS diketahui menggunakan teknologi untuk menyebarkan propaganda mereka. Dari mulai layanan pesan instan yang terenkripsi seperti Telegram hingga media sosial seperti Facebook atau Twitter. Setidaknya, terdapat 5 narasi utama ISIS di media sosial yang patut diwaspadai. Pertama, mereka menarasikan ISIS akan membentuk pemerintahan yang baik kelak, yang berlandaskan hukum Syariah. Kedua, ISIS menyebarkan narasi-narasi bahwa militer mereka kuat. Ketiga, ISIS selalu mendengungkan legitimasi religius, mempropagandakan pembentukan kembali kekhalifahan. Keempat, melalui media sosial, ISIS memanggil para muslim untuk ikut serta bersama mereka melakukan jihad. Terakhir, ISIS menarasikan dirinya merupakan korban bersama-sama masyarakat muslim lainnya atas ketidakadilan yang menimpa dunia Islam.

Propaganda ISIS di media sosial sangat masif. Menurut laporan Brooking Institute, pada Desember 2014 terdapat 46.000 akun Twitter yang terafiliasi dengan ISIS. Merujuk J.M. Berger, paling ideal, ISIS menurutnya mengirimkan 200.000 pesan digital propaganda setiap harinya. Pesan propaganda tersebut, disebar baik melalui Twitter, Youtube, Facebook, blog, dan layanan-layanan lainnya.

James B. Comey, yang kala itu masih menjabat direktur FBI mengungkapkan, “jika kamu ingin berbicara dengan teroris, kamu tidak perlu mengirim email pada siapapun […] kamu hanya perlu mengikuti (follow) teroris tersebut di Twitter, dan kemudian mungkin (kamu) akan memperoleh pesan langsung dari teroris tersebut,” ucapnya pada The New York Times.

Propaganda melalui kanal-kanal yang lazim diisi anak muda yang masih melakukan pencarian jati diri tersebut jelas meresahkan. Tak terkecuali dengan perusahaan-perusahaan teknologi yang layanannya digunakan oleh ISIS untuk kepentingan propaganda mereka.

Salah satu perusahaan teknologi yang resah atas keberadaan ISIS di platform mereka adalah Youtube. Anak usaha milik Google yang menyediakan layanan media sosial berbasis video tersebut, melalui blog resmi perusahaan, mengumumkan bahwa mereka menambah fitur baru di platform video itu untuk membendung pengaruh ISIS dari penggunanya.

Fitur perlawanan balik Youtube terhadap ISIS tersebut bernama Redirect Method. Redirect Method merupakan suatu fitur teknologi yang menjauhkan orang-orang yang mencari konten video ISIS di Youtube. Cara kerjanya, saat seseorang mencari konten video ISIS di Youtube dengan mengetikkan kata kunci di search bar, alih-alih menampilkan konten video yang relevan sesuai kata kunci, pengguna malahan disajikan konten video yang bertentangan dengan propaganda ISIS.

Dalam proses kerjanya, Redirect Method memanfaatkan teknologi penargetan pemirsa dari AdWord, sebuah platform iklan milik Google. Memanfaatkan teknologi dari AdWord itu, Redirect Method bisa memilah pengguna Youtube yang paling rentang terpapar video propaganda dari ISIS dan mengganti tiap kata kunci berhubungan dengan ISIS, dengan konten-konten yang menentang kelompok teroris itu.

Redirect Method, merupakan suatu teknologi yang dikembangkan oleh Jigsaw dari Google dan Moonshot CVE. Kedua-duanya, merupakan startup yang mendedikasikan diri untuk membendung terorisme di dunia maya. Dalam proses ujicoba teknologi Redirect Method di tahun 2016 lalu, di dua bulan pertama, teknologi itu mampu mengalihkan 300.000 pengguna yang hendak mencari konten berbau ISIS ke konten-konten yang anti terhadap ISIS. Pada tahap ujicoba itu, Jigsaw memilih lebih dari 1.700 kata kunci pemicu Redirect Method bekerja dan mengarahkannya ke konten-konten anti-ISIS.

Selepas Redirect Method, rencana lain Youtube membendung konten-konten radikal di platform mereka adalah dengan memanfaatkan machine learning. Sayangnya, rincian penggunaan teknologi canggih itu, belum diungkap oleh Youtube.

Penggunaan Redirect Method, merupakan implementasi lanjutan Youtube dan Google untuk membendung terorisme yang memanfaatkan teknologi mereka. Sebelumnya, Google bekerja sama dengan 50 ahli dari LSM dan 63 organisasi untuk mengkurasi konten-konten radikal yang ada di platform milik mereka. Selain itu, Google pun disebut telah menolak beberapa konten berbau ekstremisme di Youtube untuk memperoleh pendapatan dari video yang diunggah. Diketahui, pengunggah video di Youtube memang bisa menghasilkan uang dari konten mereka.

Selain Youtube dan Google, perusahaan-perusahaan teknologi lain juga berupaya membendung ISIS dari dunia maya. Pada Februari 2016, melalui inisiasi Departemen Kehakiman Amerika Serikat, mereka membentuk sebuah proyek “dream team” bernama Madison Valleywood. Sesuai namanya, Madison Valleywood merupakan tim impian Amerika Serikat membendung ISIS dengan menggandeng perusahaan-perusahaan top dari segmen periklanan (Madison Group), teknologi (Silicon Valley), dan hiburan (Hollywood). Setidaknya, ada 50 perusahaan top yang tergabung di dalam proyek itu. Apple, Facebook, Twitter, Snapchat, dan Buzzfeed, merupakan nama-nama dari dunia teknologi yang terlibat dalam proyek pemerintah Amerika menghalau ISIS.

Secara terpisah, upaya-upaya independen perusahaan teknologi menghalau layanannya digunakan oleh teroris terus dilakukan. Facebook misalnya, platfom media sosial paling populer itu, diketahui telah mengkurasi dan menghapus profil, halaman, atau grup yang terkait organisasi teroris di platfom-nya. “Tidak ada tempat bagi terorisme di Facebook,” ucap Andrew Souvall pada Wired. Souvall menambahkan, “kami bekerja secara agresif untuk memastikan bahwa kami tidak memiliki teroris atau grup peneror yang menggunakan situs kami, dan kami juga menghapus semua konten yang memuji atau mendukung terorisme.”

Selain Facebook, ada pula Twitter yang sejak pertengahan 2015 hingga Agustus 2016 kemarin, tercatat telah menghapus 360.000 akun yang ketahuan melakukan promosi dan dukungan terhadap terorisme. “Pekerjaan kami belumlah usai,” sebut Twitter dikutip dari Newsweek.

Selain nama-nama di atas, Telegram, layanan pesan instan berorientasi privasi, juga diketahui berupaya keras menghalau platformnya digunakan oleh kelompok teroris. Merujuk data yang dipublikasikan kanal ISIS Watch di platform itu, dari awal bulan Juli hingga tanggal 23 kemarin, tercatat telah memblokir 5.397 akun atau kanal yang terkait dengan ISIS.

Perlawanan Perusahaan Teknologi Terhadap Propaganda ISIS

Upaya-upaya tersebut di atas tentunya belum cukup. Apalagi, diketahui bahwa layanan-layanan yang disajikan perusahaan-perusahaan teknologi di atas, memanfaatkan teknologi enkripsi untuk melindungi privasi para penggunanya. Dengan memanfaatkan enkripsi, sangat sulit bagi penegak hukum, untuk melakukan pencegahan terhadap para teroris yang memanfaatkan dunia maya.

Mengutip artikel yang dimuat Time, salah satu upaya yang bisa dilakukan perusahaan teknologi untuk ikut serta menghalau terorisme dari platform mereka adalah dengan membuat backdoor di layanan milik mereka masing-masing.

Backdoor dalam dunia teknologi, merupakan suatu portal yang tidak terdokumentasi. Gunanya, portal itu digunakan administrator untuk memasuki sistem dari layanan atau aplikasi. Baik untuk melakukan pemeliharaan layanan atau aplikasi, maupun guna memecahkan masalah tertentu. Secara sederhana, backdoor merupakan jalan pintas administrator, untuk menembus sistem yang mereka buat, tanpa perlu repot-repot meretas sistem itu.

Tentu, membuka backdoor akan menimbulkan masalah serius pada layanan atau aplikasi. Membuka backdoor artinya sama dengan membuat percuma teknologi enkripsi yang dipasang dalam sistem itu. Kasus terkenal tentang backdoor adalah kasus iPhone di San bernardino. FBI, meminta Apple membuat backdoor untuk membuka iPhone milik seorang tersangka kasus pembunuhan menggunakan sejata api yang menewaskan 14 orang di San bernardino bernama Syed Farook. FBI, dikatakan kewalahan dan menyerah terhadap enkripsi di iPhone milik tersangka. Padahal, data-data di dalam iPhone itu, akan digunakan pihak FBI membongkar kasus tersebut secara keseluruhan.

Meskipun bertujuan untuk mengungkap kejahatan, Apple dengan tegas menolak permintaan tersebut. Membuatkan backdoor pada iPhone, sama artinya dengan membongkar atap rumah saat hujan deras tiba. Enkripsi yang mempu melindungi informasi penggunanya, seketika akan percuma apabila Apple mengiyakan permintaan FBI.

Tetapi jelas, dalam konteks terorisme, tanpa kehadiran backdoor, sulit bagi pihak-pihak yang berkepentingan membasmi terorisme dengan layanan atau aplikasi yang dari ujung ke ujung, telah dilengkapi teknologi enkripsi.

Maka demikian, memang sudah sepantasnya para perusahaan-perusahaan teknologi, beserta pihak terkait, memikirkan cara-cara untuk. PT Bestprofit, Bestprofit.

Bestprofit – ISI Yogyakarta Cegah Pengaruh HTI ke Mahasiswa

ISI Yogyakarta Cegah Pengaruh HTI ke Mahasiswa Bestprofit – Dalam dua tahun terakhir, seiring menguat dan meluas pengaruh Hizbut Tahrir Indonesia ke kampus, Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta membuat aksi kecaman terhadap HTI.

Pada 17 Juni 2016, ratusan mahasiswa dan alumni kampus ini menggelar aksi menolak keberadaan HTI di sana. Aksi di depan Rektorat ISI itu didukung oleh petinggi kampus.

Aksi serupa muncul pada 22 Mei 2017. Kelompok atas nama Kesatuan Aksi Alumni-Mahasiswa Institut Seni Indonesia mendeklarasikan petisi yang mendesak pemecatan dosen, karyawan, dan mahasiswa ISI Yogyakarta yang menjadi simpatisan, anggota, dan pengurus HTI. Aksi ini juga mendukung rencana pemerintah membubarkan HTI.

Tindakan ini sebagian didorong rasa terkejut bahwa bahkan di kampus yang didominasi komunitas seniman dan tak punya kedekatan dengan sejarah panjang tradisi gerakan Islam kampus, bisa “disusupi” oleh organisasi politik yang mengusung ide khilafah.

Meski demikian, Pembantu Rektor ISI Bidang Kemahasiswaan, Anusapati, mengatakan tipis kemungkinan Rektorat ISI menuruti desakan tersebut. Langkah itu, katanya, terlalu jauh.

“Mereka juga, kan, teman-teman kita sendiri. Kalau statusnya PNS juga jadi urusan pemerintah pusat,” ujarnya di Gedung Rektorat ISI Yogyakarta, Kamis kemarin.

Anusapati menegaskan Rektorat ISI lebih berfokus membatasi kegiatan HTI agar pengaruh pahamnya tidak meluas di kalangan mahasiswa.

“Sebenarnya, setelah ada keputusan pemerintah, langkah kami pada 2016 mendapatkan dasar lebih kuat. Tapi, sampai sekarang, kami belum membahas rencana baru terkait HTI di ISI,” katanya.

Anusapati membenarkan sejumlah dosen ISI menjadi anggota HTI. Sebagiannya menjadi pengurus lembaga seni bernama Khilafah Arts Network (KHAT), yang berdiri di Yogyakarta pada medio 2016.

Deni Junaedi, yang menolak diwawancara, adalah ketua Khilafah Arts Network. Dalam satu tulisan yang membahas retrospeksi karyanya lewat KHAT, Deni berkata ia aktif dalam organisasi politik HTI sejak 2008.

Anusapati menjelaskan, sebelum ada aksi penolakan HTI pada 2016, Rektorat ISI telah menerbitkan Surat Keputusan (SK) Rektor tentang larangan organisasi masyarakat “berpaham radikal” dan partai politik masuk ke kampus. SK Rektor itu terbit pada 16 Juni 2017.

“Kami tidak secara khusus menyebut melarang HTI, sebab tak ada dasarnya. SK Rektor itu secara umum melarang semua ormas berpaham radikal masuk ke kampus kami,” kata Anusapati.

Namun, Anusapati membenarkan sasaran SK Rektor itu mengarah pada HTI. Aturan ini muncul sebab pimpinan kampus ISI mengklaim telah menerima “banyak laporan” yang mengeluhkan aktivitas HTI.

“Mereka menjaring banyak mahasiswa baru. Kami tak mau mahasiswa baru terkena brain wash paham mereka,” ujarnya.

Anusapati menambahkan, setelah SK Rektor itu terbit, Rektorat ISI merombak kepengurusan masjid kampus. Ini lantaran mereka menerima “banyak keluhan” soal masjid kampus ISI menjadi markas kegiatan HTI.

Selain kerap menjadi lokasi penyebaran buletin dan diskusi soal gagasan HTI, para khatib Jumat di masjid kampus ISI terindikasi berafiliasi dengan organisasi politik tersebut.

“Setelah kepengurusan masjid dirombak, tak ada lagi selebaran, diskusi, dan materi khotbah berisi gagasan mereka. Kami membatasi kegiatannya saja. Kalau pemikiran, tak mungkin dibatasi,” katanya.

Anusapati mengatakan Rektorat ISI berupaya hati-hati dalam membatasi pengaruh HTI agar “tidak mengarah pada upaya memberangus kebebasan.” Karena itu, mayoritas bentuk pembatasan kegiatan disandarkan dari adanya laporan.

Misalnya, pada 2016, Rektorat ISI menyadari basis HTI di kampus berakar pada organisasi intrakampus bernama Keluarga Mahasiswa Islam (KMI) ISI. Tahun lalu, organisasi itu mengalami pergantian pengurus. Hingga sekarang, Rektorat ISI menolak mengesahkan kepengurusan baru ini.

“Soalnya ada masalah. Pemilihan kepengurusan baru itu diprotes mahasiswa lain, BEM juga menolaknya. Jadi kepengurusan baru tidak kami sahkan dulu,” kata Anusapati.

Ia menduga KMI ISI sejak lama menjadi alat HTI membangun basis simpatisan di ISI. “Sepertinya sudah mengakar, dari angkatan-angkatan sebelumnya,” tambahnya.

SK badan hukum HTI dicabut oleh Kementerian Hukum dan HAM pada Rabu lalu, 19 Juli, menyusul terbitnya Perppu Ormas 2/2017 pada pertengahan pekan lalu. Kepolisian mengatakan melarang kegiatan dakwah HTI, termasuk aktivisnya tidak boleh lagi memakai nama, lambang, bendera atau atribut HTI.

“Kalau dakwahnya jelas-jelas anti-Pancasila, anti-NKRI, akan kami tertibkan dan amankan,” kata Kepala Divisi Humas Mabes Polri Irjen Setyo Wasisto.

Pihak HTI tengah menimbang untuk melakukan gugatan hukum setelah organisasinya dibubarkan.

Menjelang dan setelah HTI dibekukan, beredar dokumen yang belum sepenuhnya terverifikasi yang memuat daftar nama pengurus, anggota, dan simpatisan HTI dari kalangan aparatur sipil negara, termasuk dari akademisi, di 34 provinsi. Dokumen itu salah satunya mencantumkan dua nama dosen dari ISI Yogyakarta. Bestprofit, PT Bestprofit.