PT Best Profit Futures Jambi

Tsunami Corona India ‘Bahaya Besar’ bagi Dunia, Ini Alasannya

FILE - In this April 24, 2021, file photo, a COVID-19 patient sits inside a car and breathes with the help of oxygen provided by a Gurdwara, a Sikh house of worship, in New Delhi, India. India crossed a grim milestone Wednesday, April 28, 2021 of 200,000 people lost to the coronavirus as a devastating surge of new infections tears through dense cities and rural areas alike and overwhelms health care systems on the brink of collapse. (AP Photo/Altaf Qadri)

 PT BESTPROFIT FUTURES JAMBI – Ledakan kasus infeksi Covid-19 di India telah mengundang atensi besar dunia. Pasalnya negara itu mencatatkan kasus harian lebih dari 300 ribu.

Bila dihitung dalam interval satu minggu, maka negara yang beribukota di New Delhi itu mendapatkan lebih dari 2 juta kasus, hanya dalam jangka waktu tujuh hari saja. Gelobang infeksi ini membuat fasilitas kesehatan di negara itu ambruk dengan kurangnya tempat tidur dan oksigen.

Tak hanya negara, raksasa industri global juga ikut memberikan uluran tangannya bagi negara dengan populasi 1,3 miliar jiwa itu. Amazon.com, Intel, dan Google, serta perusahaan India Tata Sons, Reliance Industries dan JSW Steel bergabung.

Tsunami besar Covid-19 nyatanya telah menjadi atensi dunia. Ada penyebab besar mengapa banyak pihak internasional “turun gunung” menolong India.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) hal ini diakibatkan oleh kemampuan virus itu yang mampu menular ke negara lainnya. Ini memberikan bahaya, ancaman baru bagi dunia.

“Virus tidak menghormati perbatasan, atau kebangsaan, atau usia, atau jenis kelamin atau agama,” kata Kepala Ilmuan WHO Dr Soumya Swaminathan ditulis BBC International.

“Dan sayangnya, apa yang sedang diputar di India sekarang telah dimainkan di negara lain.”

Bahkan dengan pembatasan perjalanan, beberapa tes dan karantina, infeksi masih bisa tembus. Jika seorang pelancong datang dari suatu tempat di mana virus itu sangat umum, mereka memiliki peluang lebih tinggi untuk membawa virus itu bersama mereka.

Dalam penerbangan baru-baru ini dari New Delhi ke Hong Kong misalnya. Sekitar 50 penumpang dinyatakan positif Covid-19.

Sebab kedua, yaitu mutasi baru B.1617. Virus ini membawa strain ganda campuran tiga mutasi corona yang terjadi sebelumnya.

Ini membawa ketakutan publik. Apalagi, varian itu dikabarkan juga bahwa virus ini kebal vaksin.

Lebih lanjut, dalam kondisi India saat ini, ilmuwan memperkirakan bahwa Covid-19 akan lebih mudah bermutasi di negara-negara dengan jumlah kasus yang luar biasa besar.

“Cara untuk membatasi varian virus yang muncul pertama kali adalah dengan mencegah virus berkembang biak di dalam diri kita,” jelas Prof Sharon Peacock, Direktur konsorsium Covid-19 Genomics Inggris

“Jadi cara terbaik untuk mengendalikan varian sebenarnya dengan mengendalikan jumlah global penyakit yang kita miliki saat ini.”

Alasan terakhir adalah titel yang disandang India sebagai produsen vaksin Covid-19 terbesar di dunia. Dengan adanya infeksi ini, suplai vaksin global terganggu. BESTPROFIT

Pada bulan Maret, ketika infeksi mulai meningkat, pihak berwenang menghentikan ekspor besar vaksin Oxford-AstraZeneca. Itu termasuk vaksin untuk skema Covax yang didukung PBB untuk negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Aliansi Vaksin Global (Gavi), yang merupakan mitra dalam skema tersebut, mengatakan sedang menunggu kapan pasokan dari India akan dilanjutkan. Hal ini tentunya berdampak pada peluncuran vaksinasi di banyak negara.

Akan lebih banyak vaksin India dialihkan untuk penggunaan domestik. Dengan situasi India yang mengerikan, para ilmuwan mengatakan ini adalah prioritas.

Melansir Worldometers, Kamis (29/4/2021), sudah 18,3 juta warga India terinfeksi corona dengan 204 ribu kematian. ‘Kegilaan’ virus corona India bukan hanya masalah sosial dan kemanusiaan tapi juga ekonomi.

Sejak awal bulan ini, rupee melemah 1,85% di hadapan dolar AS. Dalam bulan terakhir, depresiasinya lebih dari 2%. Di sektor riil, perlambatan pun terasa. Aktivitas manufaktur yang dicerminkan oleh Purchasing Managers’ Index (PMI) pada Maret 2021 berada di 55,4 turun dari 57,5.

Ledakan kasus ini akhirnya mengundang keprihatinan dunia. Ramai-ramai negara seperti Jerman, Singapura, Arab Saudi, Uni Emirat Arab (UEA), Rusia, dan Amerika Serikat (AS) telah mengirimkan bantuan. PT BESTPROFIT FUTURES
BPF

SUMBER : Jakarta, CNBC Indonesia